Membangun Tembok Tanpa Menghancurkan Sesama
Published by Olwin Gosal in 2026 · 17 May 2026
Membangun Tembok Tanpa Menghancurkan Sesama
Saudaraku dalam pasal 4 kita sudah renungkan bahwa ada tantangan dari luar yang dihadapi ketika orang-orang Yerusalem sedang membangun namun mereka hadapi dengan doa, iman dan keyakinan bahwa Allah yang maha besar dan dasyat akan berperang bagi mereka sehingga mereka dapat kembali membangun. Dalam pasal 5 ini mereka menghadapi tantangan dari dalam. Mari kita membaca terlebih dahulu pasal 5:1-19.
Ada praktik-pratik ketidakadilan yang merajalela dalam kehidupan masyarakat Yahudi. Ada keluhan dari rakyat miskin bahwa mereka kelaparan, mereka terpaksa mengadaikan tanah dan rumah, namun itu belum cukup untuk kebutuhan sehingga mereka harus meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi. Tidak hanya sampai disitu, mereka terpaksa membiarkan anak-anak yang mereka kasih menjadi budak, hal ini kemungkinan karena mereka tidak sanggup lagi untuk membayar hutang. Kondisi ini terjadi karena ada para pemuka dan penguasa yang berusaha mencari keuntungan dan memaksa mereka melakukan semuanya itu.
Saudaraku, jika kita melihat dalam kehidupan kita masa kini, kadang gereja, keluarga, persekutuan, pelayanan tidak hancur karena tantangan yang datang dari luar, tetapi karena masalah dari dalam, seperti konflik, hilangnya kasih, egoisme, iri hati, kepentingan diri sendiri dan segala hal lainnya yang tidak diselesaikan, semuanya itu merusak persatuan. Coba kita renungkan dan evaluasi gereja dan pribadi kita hari ini, adakah tantangan dan masalah dari dalam yang menggorogoti persatuan kita? Sudahkah kita selesaikan itu?
Selanjutnya dalam ayat 6 dikatakan, “Maka sangat marahlah aku, ketika kudengar keluhan mereka dan berita-berita itu.” Mengapa Nehemia sangat marah? pertama: karena mereka tidak punya kasih dan kepedulian kepada sesama orang Yahudi, karena seharusnya mereka berusaha menebus jika ada saudaranya yang menjadi budak, tapi malah mereka yang menjual mereka menjadi budak. Kedua, mereka tidak takut akan Allah. Mereka tidak menghormati Allah dan firman-Nya. Ini adalah dosa keserakahan dan pemerasan yang dilakukan dimasa-masa yang sulit.
Dalam Imamat 25:35-36, ”Apabila saudaramu jatuh miskin, sehingga tidak sanggup bertahan di antaramu, maka engkau harus menyokong dia sebagai orang asing dan pendatang, supaya ia dapat hidup di antaramu. 36Janganlah engkau mengambil bunga uang atau riba dari padanya, melainkan engkau harus takut akan Allahmu, supaya saudaramu dapat hidup di antaramu.” Seorang yang takut akan Allah adalah seorang yang menunjukkan belas kasihan dan kepedulian kepada saudaranya yang miskin atau menderita, bukan sebalinya malah mencari keuntungan dan mempersulit orang yang miskin. Dalam Amsal 28:27 dikatakan, “siapa memberi kepada orang yang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup mata akan sangat dikutuki.” Menutup mata artinya tidak peduli dan tidak berbuat sesuatu, itu saja seorang sudah terkutuk apalagi jika menindas dan mencari keuntungan. Nehemia marah bukan tanpa alasan, tapi ini adalah satu kemarahan yang kudus karena ada orang-orang yang tidak takut akan Allah, ada orang-orang yang tidak peduli dan tidak mengasihi sesamanya yang kesusahan, dia marah karena kesedihan mendalam melihat orang-orang miskin tertindas. Meskipun dia sangat marah namun dia memikirkan segala sesuatu dengan matang (ay.7)
Saudaraku, coba kita bertanya kepada diri kita sendiri? apakah kita mengasihi Tuhan? apakah kita takut akan Tuhan? Jika ya, apa yang sudah kita lakukan kepada saudara seiman kita yang dalam kesusahan? tindakan sederhana apa yang kita lakukan kepada orang-orang yang kesusahan disekitar kita? apakah kita meringakan beban mereka atau malah memperburuk keadaan mereka? Bacalah Matius 25:31-46!
Nehemia bukan hanya menunjukkan kesedihan dan kemarahan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan orang Yahudi saat itu namun dalam ayat 14-19 Nehemia menunjukkan teladan sebagai seorang pemimpin yang takut akan Allah, dia tidak mau bersenang-senang diatas penderitaan rakyat. Ay.14, “aku dan saudara-saudaraku tidak pernah mengambil pembagiaan yang menjadi hak bupati”. Ay.16, “Aku pun memulai pekerjaan tembok itu, walaupun aku tidak memperoleh ladang.” Nehemia datang ke Yerusalem bukan untuk mencari keuntungan, bukan untuk mengumpulkan harta tapi sungguh-sungguh tulus hati mengerjakan visi Allah dalam pengorbanan. Dia bukan hanya tidak menerima apa yang menjadi bagiannya, namun dengan rela hati dia menyediakan makan bagi banyak orang, dikatakan dalam ayat 18, “Yang disediakan sehari atas tanggunganku ialah: seekor lembu, enam ekor kambing domba yang terpilih dan beberapa ekor unggas, dan bermacam-macam anggur dengan berlimpah-limpah setiap sepuluh hari”
Dalam ayat 19, “Ya Allahku, demi kesejahteraanku, ingatlah segala yang kubuat untuk bangsa ini.” Ini adalah doa Nehemia dalam perjalanannya melayani Tuhan, ia melakukan dengan tulus, berkorban, memimpin dengan takut akan Allah. Nehemia tidak mengejar pujian manusia, tidak berpikir mengumpulkan harta namun dia bermohon kepada Allah untuk mengingat akan kesetiaannya. Bagian ini mau mengingatkan kepada kita bahwa Tuhan akan selalu mengingat setiap orang yang setia mengikut, melayani-Nya. Karena itu teruslah lakukan yang terbaik buat Tuhan.
Dari bagian ini kita belajar bahwa ketika kita mengikut, melayani Tuhan tujuan utamanya bukan apa keuntungan yang dapat saya terima, namun apa yang saya bisa berikan dan korbankan untuk visi Allah dapat terlaksana?