Everyone on the Wall

PERSEKUTUAN INDONESIA RIVERSIDE
Go to content

Everyone on the Wall

Persekutuan Indonesia Riverside
Published by Olwin Gosal in 2026 · 3 May 2026
Everyone on the Wall


Dalam bagian sebelumnya di pasal 2:18 dikatakan “kami siap untuk membangun!” dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu. Dalam pasal 3:1-32 ini mencatat para peserta pembangunan, mereka melakukan perbaikan, mengambil bagian mereka masing-masing, mereka berusaha sekuat tenaga. Mari kita renungakan beberapa prinsip penting ketika mereka membangun kembali Yerusalem:

1. Unity

Jika kita membaca dengan seksama maka kita akan menemukan bahwa ada banyak sekali orang yang terlibat dalam pembangunan, mereka berasal dari profesi yang berbeda, ada para iman, penguasa, tukang emas, juru campur rempah-rempah, perempuan-perempuan, para pedagang. Mereka juga berasal dari keluarga yang berbeda-beda, namun mereka bersama-sama ada untuk membangun tembok Yerusalem.

Dalam ayat 1 dikatakan, “Maka bersiaplah imam besar Elyasib dan para imam, saudara-saudaranya, lalu membangun kembali pintu gerbang Domba. Mereka mentahbiskannya dan memasang pintu-pintunya. Mereka mentahbiskannya sampai menara Mea, menara Hananeel.” Hal ini memiliki makna penting bahwa pemimpin spiritual yang catat terlebih dahulu dan mereka memulai pekerjaan pembangunan, mereka tidak hanya tinggal diam di bait Allah dan membiarkan keruntuhan namun turun tangan secara langsung melakukan pekerjaan fisik. Menunjukkan bahwa pembangunan dimulai dengan tanggung jawab dan kepemimpinan spiritual. Dikatakan bahwa mereka membangun kembali pintu gerbang domba, kemungkinan besar gerbang ini terhubung langsung dengan ibadah dan persembahan kurban kepada Allah. Kita melihat bahwa pembangunan dimulai dengan sesuatu yang akan membawa orang-orang di Yerusalem untuk kembali beribadah dan memprioritaskan Tuhan dalam kehidupan mereka.

Dikatakan bahwa “mereka mentahbiskan” artinya menyucikan, mengkhususkan dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menempatkan Allah sebagai yang utama dan pusat dari apa yang mereka mau lakukan. Hal ini menjadi simbol dari satu pertobatan umat yang sudah hidup jauh dari Allah. Allah merindukan bahwa yang menjadi prioritas bagi mereka akan membangun kembali hubungan dengan Allah, kembali berdamai dengan Allah yang telah memilih mereka sebagai umat-Nya.

Mereka sudah tercerai berai namun dalam peristiwa ini Allah mau mereka kembali bersatu. Dan kita melihat meskipun mereka ada dalam berbagai kesibukkan, namun mereka punya hati untuk bersama-sama sehati mengerjakan tujuan Allah. Saudaraku, dibalik kesatuan hati ada harapan untuk bangkit dan melakukan visi Allah, karena itu juga Tuhan Yesus berdoa dalam Yohanes 17:11b, “Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Karena tanpa kesatuan hati tidak mungkin dapat melakukan visi dan misi Allah.

2. Pengorganisasian dan kepemilikan

Dalam pasal ini berkali kali disebut kalimat “berdekatan dengan mereka” dan “di sampingnya”. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang atau kelompok ditugaskan mengerjakan bagian tertentu dari dinding tersebut. Artinya bahwa ketika mereka berkata “kami siap membangun” maka mereka tidak mungkin menganggur karena meskipun tidak tertulis secara langsung namun pastilah Nehemia mengorganisir dengan baik dan membagi-bagi pekerjaan perbaikan ini. Bahkan beberapa kali bahwa mereka mengerjakan “di samping atau di depan rumahnya”. Hal ini seakan menggambarkan bahwa ada rasa kepemilikan dalam hati sehingga mereka mengambil bagian untuk mengerjakan sekitar rumah mereka. Kita melihat bahwa ketika semua berada di depan tembok, dengan hati yang hancur, dengan kesatuan hati maka mereka dapat melakukan bagian mereka masing-masing.

Saudaraku, seorang dapat mengerti bagian yang akan dipercayakan Tuhan kepadanya ketika dia bergabung dalam pekerjaan Tuhan. Seorang dapat mengerti karunia yang Tuhan berikan kepadanya ketika dia ada dalam pelayanan. Dalam Roma 12:6-8, “Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. 7Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; 8jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.” Setiap orang yang percaya kepada Kristus pasti diberikan karunia rohani oleh Roh Kudus untuk melayani Tuhan, untuk membangun tubuh Kristus. Dikatakan dalam 1 Korintus 12:7, “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama”. Melalui karunia rohani setiap orang saling memberkati, membangun dan mendukung satu dengan yang lain. 1 Korintus 12:27, “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”

Saudaraku, bertanya, bergumul dihadapan Tuhan dan temukan bagian apa yang Allah mau anda kerjakan bagi-Nya? Karunia apa yang Roh Kudus berikan kepadamu?

3. Spiritual and practical work

Dalam pasal ini orang-orang di Yerusalem bekerja keras, mereka memperbaiki tembok, memasang pintu-pintu gerbang, menyusun kembali batu-batu. Sepertinya terlihat ini hanyalah aktivitas fisik yang tidak ada kaitannya dengan kerohanian. Namun ternyata ini bukan sekedar proyek pembangunan fisik, karena itupun bukan tujuan utama dan akhir Allah bagi umat-Nya. Tetapi dibalik semua itu Allah sedang mengerjakan sesuatu yang jauh lebih dalam yaitu pemulihan umat-Nya. Perkerjaan membangun tembok menjadi sarana Tuhan menyatukan umat-Nya, memulihkan komitmen mereka dihadapan-Nya, dan membentuk hati mereka untuk hidup dalam tujuan-Nya.

Saudaraku, dalam perjalanan setiap hari, baik dalam keluarga, pekerjaan, pergaulan, bahkan dalam kesendiriaan kita sering sekali Allah mau membangun sesuatu dalam hati kita, baik itu untuk membawa kita kembali kepada Dia, mengasihi Dia, mengutamakan Dia, mengerti tujuanNya. Sehingga kita perlu bergumul untuk diberikan kepekaan oleh Roh Kudus sehingga kita dapat mengerti semuanya itu, sehingga semuanya tidak hanya menjadi aktivitas atau pengalaman hidup biasa, tetap setiap perjalanan hidup kita dapat menjadi perjalanan rohani bersama dengan Tuhan, menjadi perjalanan dimana Tuhan membentuk hati kita serupa dengan Dia.

Setiap orang percaya harus sadar bahwa tidak ada hal apapun dalam dunia ini yang dapat dilepaskan dari Tuhan, karena itu Paulus katakan dalam Kolose 3:23, “apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”. Dengan demikian dalam segala hal yang kita lakukan, kita akan melihat bahwa Allah berkarya dengan begitu ajaib untuk menuntun kita hidup dalam tujuan-Nya yang mulia.



JOIN OUR MAILING LIST:

© 2017 Ferdy Gunawan
ADDRESS:

2401 Alcott St.
Denver, CO 80211
WEEKLY PROGRAMS

Service 5:00 - 6:30 PM
Children 5:30 - 6:30 PM
Fellowship 6:30 - 8:00 PM
Bible Study (Fridays) 7:00 PM
Phone (720) 338-2434
Email Address: Click here
Back to content