Vision and Faith
Published by Olwin Gosal in 2026 · 26 April 2026
Vision and Faith
Setiap pekerjaan bagi Tuhan dimulai dengan dua hal: visi yang jelas dan iman yang teguh. Tanpa visi, kita tidak tahu kemana harus melangkah dan apa yang harus dilakukan. Tanpa iman, kita tidak punya keberanian untuk melangkah. Banyak orang hidup, melayani, beribadah tapi tanpa visi. Mereka berjalan, tapi tidak tahu arah. Mereka melihat masalah, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Atau sebaiknya, punya keinginan besar, tapi tidak punya keberanian untuk melangkah karena takut, ragu dan merasa tidak mampu. Hari ini kita akan merenungkan tema “Visi dan Iman”. Mari kita buka Alkitab Nehemia 2:11-20.
1. Mendalami visi dari Allah (11-15)
Ayat 11, “Maka tibalah aku di Yerusalem. Sesudah tiga hari aku di sana, 12bangunlah aku pada malam hari bersama-sama beberapa orang saja yang menyertai aku. Aku tidak beritahukan kepada siapa pun rencana yang akan kulakukan untuk Yerusalem, yang diberikan Allahku dalam hatiku. Juga tak ada lain binatang kepadaku kecuali yang kutunggangi.” Ini adalah pertama kali Nehemia datang ke Yerusalem, karena memang dia lahir di tanah pembuangan dan menjadi pelayan di Istana raja Persia. Nehemia tidak pernah melihat kondisi Yerusalem sebelumnya. Dikatakan, “sesudah tiga hari aku di sana”, Nehemia menempuh perjalanan darat yang sangat panjang dari puri susan sampai ke Yerusalem sekitar 900 – 1000 Mil, perjalanan ini memakan sekitar dua sampai tiga bulan. Sehingga ketika tiba Nehemia tidak langsung melakukan apapun namun dia mengambil waktu untuk beristirahat, ia tidak mau melakukan segala sesuatu dengan terburu-buru. Ini memberikan gambaran kepada kita bahwa untuk seorang mengerjakan visi Allah yang besar harus dalam kondisi tubuh yang fit, karena sering sekali jika dalam kondisi tubuh yang sangat lelah seorang mudah sekali mengambil keputusan-keputusan yang tidak tepat.
Setelah Nehemia beristirahat barulah mulai berkeliling untuk melihat kondisi keruntuhan Yerusalem. Dikatakan, “Aku tidak beritahukan kepada siapa pun rencana yang akan kulakukan untuk Yerusalem”, hal ini seolah menggambarkan bahwa visi dari Tuhan sering kali didapat, terbentuk dan dimatang dalam kesendirian terlebih dahulu baru akhirnya dibukakan kepada orang banyak. Karena itu Nehemia memulai dalam kesenyapan dan tidak langsung mengumumkan apa yang hendak ia lakukan. Meskipun dalam keadaan hancur hati namun Nehemia tetap bersikap tenang dan tidak mau banyak berbicara.
Dikatakan dalam ayat 13b, “Aku menyelidiki dengan seksama tembok-tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya yang habis dimakan api.” Nehemia menyelidiki terlebih dahulu segala kerusakan yang ada sehingga dia bisa tahu apa saja yang perlu diperbaiki, apa saja yang dibutuhkan untuk memperbaiki, berapa kemungkinan biaya yang dibutuhkan. Dia tidak mengabaikan apapun, ia memeriksa segalanya dengan cermat. Ini menggambarkan bahwa Nehemia mau melakukan visi dari Allah tidak secara sembarangan atau asal-asalan, ia mencurahkan segenap hati dan jiwanya. Visi dari Allah dapat selesai dengan baik apabila pada awalnya dipertimbangkan dengan baik.
Apa visi yang Allah berikan kepada anda? sudahkah anda mencermati visi dari Allah dengan seksama? Anda tidak mungkin bisa menuntun orang lain menuju suatu visi yang belum Anda tinjau dan nilai sendiri.
2. Membagikan visi dari Allah (17-18)
Dalam ayat 17, “Berkatalah aku kepada mereka: ”Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.”
Setelah Nehemia meninjau secara langsung dan dengan teliti semua kondisi Yerusalem baru dia membagikan visi yang Allah berikan kepadanya. Nehemia bukan bertujuan untuk menjadi pemimpin diantara orang-orang yang ada di Yehuda saat itu, tidak pula dia menyuruh atau berlagak memerintah mereka walaupun dia punya surat perintah dari raja, bahkan tidak berpikir untuk membangun sendiri supaya dia dihormati sebagai seorang pahlawan. Sebaliknya dengan cara bersahabat dan rendah hati dia mencoba menyadarkan mereka kembali akan kondisi mereka dan kondisi Yerusalam yang telah runtuh. Menyadarkan kemalangan dan kehinaan yang mereka alami, bahkan begitu mudahnya mereka menjadi mangsa dari musuh karena tidak ada tembok pelindung lagi bagi mereka. Nehemia membagikan visi dan beban yang Allah taruh dalam hatinya, dan itu jugalah yang mereka lihat dan alami setiap hari. Ia berusaha membangun komunikasi dari hati ke hati, ia merangkul, mereka merasa menjadi bagian dari tim dan memiliki rasa kepemilikan terhadap visi yang akan dikerjakan.
Dalam ayat 18, “Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: ”Kami siap untuk membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu.” Nehemia bukan hanya membagikan visi Allah, namun ia juga menyaksikan bagaimana karya Allah ketika dia mulai menjalankan visi tersebut. Hal ini mau meyakinkan semua orang yang mendengarnya bahwa Nehemia tidak berjalan sendiri, namun Allah yang telah membukakan setiap pintu-pintu yang seakan mustahil.
Saudaraku, visi dari Allah tidak dapat anda lakukan seorang diri, sehingga anda harus membagikan dengan rendah hati dan ketulusan kepada orang lain. Apakah Anda cukup berani untuk menyatakan apa yang menjadi panggilan Allah bagi Anda? Baik itu di tempat kerja, dalam persekutuan gereja, maupun di dalam keluarga Anda — menyatakannya dengan lantang merupakan sebuah langkah iman.
3. Tantangan dan iman kepada Allah (19-20)
Ayat 19, “Ketika Sanbalat, orang Horon, dan Tobia, orang Amon, pelayan itu, dan Gesyem, orang Arab, mendengar itu, mereka mengolok-olokkan dan menghina kami. Kata mereka: ”Apa yang kamu lakukan itu? Apa kamu mau berontak terhadap raja?” Jika kita kembali ke ayat 10, maka kita menemukan disana bahwa semenjak awal Sanbalat dan Tobia sangat kesal dengan apa yang mau dilakukan Nehemia untuk membangun kembali Yerusalem. Dan dalam ayat 19 ini mereka semakin aktif dalam menentang apa yang Nehemia lakukan dengan langsung bersuara, mengolok-olok dan menghina. Mereka mau berusaha melemahkan Nehemia untuk mengerjakan visi Allah dan melemahkan orang-orang yang telah siap membangun bersamanya. Melalui bagian ini kita dapat mengerti bahwa untuk mengerjakan visi Allah maka kita akan selalu diperhadapkan dengan tantangan dari orang-orang yang tidak setuju dengan apa yang akan kita lakukan.
Namun Nehemia katakana dalam ayat 20, “Aku menjawab mereka, kataku: ”Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil! Kami, hamba-hamba-Nya, telah siap untuk membangun. Tetapi kamu tak punya bagian atau hak dan tidak akan diingat di Yerusalem!” Ini adalah satu pernyataan iman bahwa Allah yang akan berkarya melalui mereka. “Allah semesta langit” ini sebuah pernyataan iman bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatu adalah Allah yang sama yang akan memberikan keberhasilan pada apa yang akan mereka lakukan. Karena apa yang akan mereka lakukan bukan kemauan mereka sendiri tapi itu adalah visi dan panggilan dari Allah. Jadi keberhasilan itupun bukan karena mereka punya kemampuan fisik, bukan karena perencanaan matang, bukan mereka bisa mendapat semua material yang dibutuhkan namun keberhasilan itu datang dari Allah.
Allah yang memberikan visi dan panggilan kepada Nehemia, Allah yang telah memelihara dia dihadapan raja dan memelihara dia selama dalam perjalanan, Allah yang telah berkarya dalam hati orang-orang yang mendengar Nehemia ketika membagikan visi Allah, adalah Allah yang sama yang akan memelihara mereka sampai berhasil menyelesaikan pekerjaan yang baik untuk pemulihan Yerusalem. Allah yang memulai, Allah yang mengotrol segala prosesnya dan Allah yang juga akan menyelesaikan sampai akhirnya.
Saudaraku, apakah yang anda kerjakan saat ini adalah visi dan panggilan Allah? Kenyamanan vs panggilan – Banyak orang mengejar karier, uang, dan stabilitas — bukan karena mereka dipanggil untuk itu, melainkan karena hal-hal tersebut terasa nyaman. Ini mungkin merupakan dosa utama yang mencirikan generasi kita saat ini. Visi pribadi vs visi Allah – Bahaya dari sekadar membubuhkan doa pada rencana-rencana pribadi Anda, lalu mengklaimnya sebagai kehendak Allah. Nehemia tidak melakukan hal itu.