The Gracious Hand of God Behind Courage

PERSEKUTUAN INDONESIA RIVERSIDE
Go to content

The Gracious Hand of God Behind Courage

Persekutuan Indonesia Riverside
Published by Olwin Gosal in 2026 · 19 April 2026
The Gracious Hand of God Behind Courage


Saudaraku, minggu yang lalu kita sudah renungkan mengenai hati yang hancur, dan hari ini kita mau lanjutkan dengan dengan Nehemia 2:1-8, mari kita buka Alkitab kita.

1. Beban hati dan keberanian (1-3)

Pada bulan Nisan tahun kedua puluh pemerintahan raja Artahsasta. Nehemia mendengar kabar tentang Yerusalem pada bulan Kislew, dan ia baru menghadap raja pada bulan Nisan, jarak waktunya adalah sekitar 4 bulan. Dalam rentang waktu inilah Nehemia terus berkabung, berdoa dan berpuasa untuk beban yang Tuhan taruh dalam hatinya. Nehemia berdoa dalam jangka waktu yang lama, meskipun dia terus menerus melayani raja namun dia tidak langsung mengungkapkan beban hatinya. Nehemia bergumul dan menyerahkan semuanya terlebih dahulu kepada Allah, karena dia sadar bahwa hanya Allah yang dapat menggerakkan hati seseorang.

Mengapa mukamu muram, walaupun engkau tidak sakit? Engkau tentu sedih hati? Lalu aku menjadi sangat takut. Nehemia pasti selalu terlihat ceria dihadapan raja, tapi kali ini dia tidak dapat menyembunyikan kesediahan dalam hatinya. Nehemia tahu ini sangat berbahaya karena menunjukkan muka muram dihadapan raja bisa dianggap sebagai suatu penghinaan. Ditengah ketakutan Nehemia diberikan keberanian untuk mengungkapkan beban dalam hatinya, yang sudah ia doakan empat bulan lamanya. Ayat 3, Jawabku kepada raja: ”Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram, kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?”

Saudaraku, beban apa yang yang ada dalam hati kita setiap hari? Apakah kita memikul beban yang kudus demi nama Tuhan? Apakah kita memikul beban yang kudus demi jiwa-jiwa yang tersesat, yang dalam kesusahan besar? atau kita justru lebih memilih dan tinggal di zona nyaman?

2. Doa di detik penentuan

Ayat 4, “Lalu kata raja kepadaku: ”Jadi, apa yang kauinginkan?” Maka aku berdoa kepada Allah semesta langit,”. Ini adalah momen yang sangat menentukan, bisa saja Nehemia panik dan salah berbicara, tapi dia berdoa terlebih dahulu dihadapan Allah. Ini bukan doa yang panjang, bukan juga ditempat yang khusus, tapi doa yang singkat dalam kemurnian hati dan kebergantungan kepada Allah. Nehemia tidak mau mengandalkan kemampuan berpikirnya, kefasihannya dalam berbicara, perencanaan matang yang sudah dibuatnya. Nehemia mau untuk selalu terhubung dengan Allah, karena ia percaya bahwa Allah yang berdaulat dan mengontrol segala sesuatu.

Bagian ini mengingatkan kepada kita bahwa orang yang memiliki hubungan dekat dengan Tuhan dalam doa pasti akan tetap mencari Allah ketika ada dalam situasi-situasi yang menegangkan.

3. Persiapan dan keberanian (5-8)

Berdoa dihadapan Tuhan, memohon pertolongan dan hikmat, harus disertai dengan persiapan yang matang. Nehemia diberikan keberanian untuk berbicara mengenai apa yang dia inginkan, dan dia menjelaskan dengan detail. Hal ini tidak mungkin baru terpikirkan di depan raja, namun Nehemia sudah memikirkan dan mempersiapkan hal-hal penting apa yang harus dia sampaikan kepada raja dan rencana apa yang akan dia lakukan untuk pemulihan Yerusalem.

Ayat 5, “kemudian jawabku kepada raja: ”Jika raja menganggap baik dan berkenan kepada hambamu ini, utuslah aku ke Yehuda, ke kota pekuburan nenek moyangku, supaya aku membangunnya kembali.” Ini adalah satu permohonan untuk pengutusan. Nehemia sadar bahwa hal yang paling dibutuhkan saat itu adalah adanya pribadi yang terbeban, pribadi yang hancur hati melihat Yerusalem dan siap untuk membangun. Nehemia tidak terpikir untuk menunjuk orang lain, karena dia sadar bahwa Allah menaruh panggilan itu dalam dirinya.

Saudaraku, terkadang ada banyak orang yang melihat dan tahu bahwa ada keruntuhan terjadi tapi belum tentu tergerak hati dan siap untuk membangun? Demikian juga dalam persekutuan gereja kita, kita tahu mungkin ada kemerosotan rohani, kita tahu bahwa seakan kita tidak bertumbuh dalam Kristus tapi kita hanya memilih bungkam, kita memilih pesimis, atau hanya saling mempersalahkan dan tidak bertindak apa-apa.  

Selanjutnya Nehemia menyampaikan jangka waktu yang dia butuhkan untuk pergi membangun Yerusalem. Dengan menanyakan “berapa lama engkau dalam perjalanan dan bilakah engkau kembali”? Ini menunjukkan bahwa raja sungguh mengharapkan Nehemia untuk kembali ke istana. Ia menjawab pertanyaan ini dengan sangat baik sehingga raja berkenan mengutusnya. Selanjutnya Nehemia memohon untuk dibuatkan surat kepada bupati-bupati di seberang Sungai Efrat supaya dia dapat lewat disana, Nehemia tahu bahwa ada orang-orang yang tidak senang dan bisa menghambat Pembangunan Yerusalem, namun dengan surat resmi dari raja Artahsasta hambatan itu dapat diminimalisir. Selanjutnya Nehemia meminta kayu kepada raja, bahan utama yang ia butuhkan untuk membangun kembali tembok bait suci, tembok kota dan rumah yang akan dia diami.

Ayat 9b, “Dan raja mengabulkan permintaanku itu, karena tangan Allahku yang murah melindungi aku.” Bahkan Allah bekerja dalam hati seorang raja yang tidak mengenal Dia untuk melakukan lebih dari apa yang Nehemia minta, dikatakan ayat 9 “Dan raja menyuruh panglima-panglima perang dan orang-orang berkuda menyertai aku.” Ini menegaskan kepada orang-orang yang akan ditemui Nehemia bahwa apa yang dia lakukan sungguh-sungguh adalah pengutusan dan perintah dari raja. Ini adalah satu perlakukan yang sangat istimewa dari raja kepada Nehemia, ini menunjukkan bahwa Nehemia sangat dipercaya dan dikasihi oleh raja. Mengindikasikan kepada kita bahwa Nehemia sungguh-sungguh adalah seorang yang bertanggung jawab dan berdedikasi tinggi dalam pekerjaanya. Nehemia adalah seorang yang percaya kepada Allah sehingga pasti dalam semua pekerjaanya dia persembahkan kepada Allah, karena percaya bahwa pekerjaan itu adalah kepercayaan dan berkat dari Allah.

Pernyataan Nehemia bahwa tangan Allah yang murah menyertai aku, menunjukkan bahwa Nehemia sadar semuanya yang dia lewati itu mustahil bagi manusia, mustahil untuk raja mengabulkan semua permintaanya, apalagi raja Artahsasta adalah seorang yang tidak mengenal Allah. Karena itulah ia sadar bahwa ketika raja mengabulkan semua permintaanya, itu bukan karena kemampuan perencanaannya, bukan karena kefasihannya berbicara, bukan karena raja Artahsasta memang murah hati tapi semua terjadi karena tangan Allah yang pemurah dan berkuasa bisa mengendalikan semuanya.

Saudaraku, seorang yang hidup dalam panggilan Allah adalah seorang yang akan dibentuk untuk memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa semua keberhasilan yang dicapainya adalah karena tangan Allah yang pemurah. Seorang yang percaya pada Allah menyadari bahwa semua pekerjaanya harus untuk Allah. Jika kita bertanya pada diri kita sendiri saat ini, apakah pekerjaan kita saat ini adalah pekerjaan Allah?



JOIN OUR MAILING LIST:

© 2017 Ferdy Gunawan
ADDRESS:

2401 Alcott St.
Denver, CO 80211
WEEKLY PROGRAMS

Service 5:00 - 6:30 PM
Children 5:30 - 6:30 PM
Fellowship 6:30 - 8:00 PM
Bible Study (Fridays) 7:00 PM
Phone (720) 338-2434
Email Address: Click here
Back to content