Pertobatan Paulus
Published by Stanley Pouw in 2016 · 26 June 2016
Kisah Para Rasul 9:1–9
Selain dari Tuhan Yesus Kristus sendiri, yang paling banyak mempengaruhi hidup saya adalah Paulus. Dia adalah pengarang 13 buku Perjanjian Baru dan tokoh dominan kebanyakan Kisah Para Rasul dan pemimpin utama di panggung setelah Tuhan kita naik kembali ke surga. Dia adalah penulis terinspirasi buku-buku Perjanjian Baru itu yang membentuk semua teologi kami dan pengertian Injil itu.
Konversinya adalah salah satu kisah yang terbesar di dalam sejarah manusia. Dan selagi kita datang ke Kisah Para Rasul 9, kita melihat apa yang dilakukan Allah terhadap seseorang bernama Saulus, yang namanya akhirnya dirubah menjadi Paulus. Transformasinya begitu besar sampai itu perlu dicerminkan dalam namanya. Dan kita diberitahu di KPR 13:9 bahwa namanya dirubah menjadi Paulus. Dan konversinya begitu penting sehingga hal itu menempati kebanyakan isi buku KPR. Pertobatannya diulangi di Kisah 22 pada waktu dia memberi kesaksiannya sendiri, kemudian itu diulangi lagi di KPR 26.
Pertobatan Paulus itu adalah penting sekali bagi masa depan gereja, dan itu memang tepat karena dia adalah individu yang sangat unik: oleh kelahiran, orang Yahudi; oleh keyakinan, orang Farisi; menurut kewarganegaraan, orang Romawi; menurut pendidikan, orang Yunani; kemudian oleh anugerah, orang Kristen. Dia menjadi seorang misionaris, orang teologia, seorang penginjil, pendeta, guru, pengkhotbah, pemimpin, pemikir, negarawan, pejuang dan kekasih, semuanya pada saat yang sama.
Kita bertemu dengan dia di KPR 7:58, setelah Stefanus memberitakan khotbah yang indah melalui sejarah Perjanjian Lama dan berpuncak pada kedatangan Mesias, Tuhan Yesus Kristus yang telah dikhianati dan dibunuh orang-orang Yahudi. Mereka menyerang Stefanus dan melempar batu sampai dia mati; dan sebelum mereka melempar batu itu, ayat 58 mengatakan, “Dan saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang muda yang bernama Saulus.” Dan KPR 8:1 mulai dengan, “Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh.”
Berikut ada beberapa informasi tentang Saulus. Rumahnya adalah di Tarsus, tepat di perbatasan Suriah. Sekarang itu letaknya di perbatasan Suriah dan Turki. Kota Tarsus itu terkenal karena pendidikan tingginya, karena mereka memiliki salah satu dari tiga universitas di dunia kuno itu. Yang lain ada di Athena dan di Alexandria di Mesir. Dan dermaga-dermaga mereka ramai sekali di sungai Sidonis yang menyebabkan itu adalah kota kosmopolitan yang penuh kesibukan.
Ayah Saulus adalah warganegara Romawi, namun juga orang Yahudi yang mewariskan Yudaisme dan kewarganegaraan Romawi kepada anaknya. Saulus benar-benar orang Yahudi sehingga ia mengatakan di Filipi 3:5-6, “disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, 6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.” Dia orang Yahudi yang saleh.
Setiap anak lelaki Yahudi yang masih muda diharuskan belajar sebuah perdagangan, dan Saulus muda itu diajarkan menenun kain dari bulu kambing hitam dan menjadikannya strip-strip yang dapat dijahit menjadi satu untuk membuat tenda. Pada umur 13 ketika anak lelaki Yahudi itu secara sah menjadi anak hukum, kemungkinan besar Saulus itu dikirim ke Yerusalem. Karena keluarganya ingin dia belajar Yudaisme yang tinggi dibawah pimpinan seorang guru terkenal bernama Gamaliel.
Jadi Saulus itu menjadi ahli dalam agama Yahudi dan di dalam Perjanjian Lama. Dan pada waktunya Stefanus, Paulus itu ada di Yerusalem. Dan kita tahu dia sangat geram dan marah karena dia juga adalah orang Yahudi Yunani dari luar Yerusalem sama seperti Stefanus. Dan orang ini telah mengunjungi banyak sinagog Yunani di Yerusalem dan memberitakan Yesus Kristus. Dan Stefanus ini sanggup mengumpulkan banyak orang Yahudi Yunani untuk datang dan mendengar tentang Kristus.
Dan orang-orang percaya baru yang percaya kepada Yesus mengatakan bahwa Dia mati untuk menebus dosa-dosa kita, dan Dia bangkit dari antara orang mati untuk memberi keselamatan, jadi mereka berkhotbah tentang Kristus yang sudah bangkit. Gereja itu memperluas diri dan seolah-olah meledak dengan ribuan orang baru dan Saulus itu marah sekali. Mungkin saja dia berdebat dengan mereka di dalam sinagog, namun dia benar-benar membungkamkan Stefanus, bukan melalui perdebatan, namun dengan pembunuhan. Kemudian dia menjadi pemimpin gerakan untuk membasmi Kekristenan.
Bertahun-tahun kemudian dia berkata di KPR 26:9-11, “Bagaimanapun juga, aku sendiri pernah menyangka, bahwa aku harus keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret. 10 Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. 11 Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing."
Setelah membersihkan Yerusalem dari mereka yang dia pikir adalah orang bidah, Saulus sendiri memutuskan untuk mengejar mereka. Dia dengar bahwa ada sekelompok yang telah melarikan diri ke Damsyik dan dia diberi izin dari pemimpin-pemimpin agama untuk pergi ke Damsyik. Bacalah sekarang KPR 9:1-2, “Sementara itu berkobar-kobar hati Saulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, 2 dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.”
“Berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh pengikut-pengikut Tuhan Yesus,” berarti keinginan utama Saulus adalah untuk menangkap dan membunuh orang-orang Kristen. Dan inilah yang menyebabkan dia pergi ke Damsyik dan perjalanan itu merubahkan dunia. Imam Besar itu, pemimpin Sanhedrin, adalah kepala negara Yahudi dalam semua hal-hal internal dan dia bertindak sesuai dengan otoritas mutlak itu untuk memberi izin kepada Saulus. Dan dengan otoritas itu dia menuju ke Damsyik.
Damaskus di zaman kuno disebut, “segenggam mutiara dan piala zamrud.” Karena itu merupakan kota putih yang indah diantara lapangan-lapangan dan pohon-pohon hijau. Orang Asia biasanya memanggil Damaskus, “Firdaus di bumi.” Ada komunitas orang Yahudi besar di situ, tepat di sudut Mediterania dimana Suriah bertemu Turki sekarang. Dan diperkirakan para sejarawan bahwa ada puluhan ribu orang Yahudi disitu di tahun 66 setelah Masehi dan 20.000 orang dari mereka dibunuh.
Paulus tahu ada orang Kristen di Damsyik. Di ayat 2 mereka disebut, “laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan.” Kemungkinan besar itu sebutan sinis karena orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan kepada Allah. Masih ingat perkataan Tuhan kita di Yohanes 14:6, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Siapapun yang berhubungan dengan Yesus adalah bagi Paulus tanda mereka adalah musuh dan harus dipenjarakannya.
Dari Yerusalem ke Damsyik arahnya pada dasarnya ke utara. Sejarawan mengatakan perjalanan seperti itu membutuhkan waktu kira-kira enam hari. Kemudian ayat 3-6, “Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. 4 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" 5 Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu. 6 Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat."
Ayat 7-9, “Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun. 8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. 9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.”
Marilah kita mempertimbangkan empat peristiwa sederhana. Pertama, ada kontak ilahi, kemudian ada keyakinan ilahi, dan pertobatan ilahi dan akhirnya persekutuan ilahi. Kontak ilahi itu datangnya di ayat 3 dimana Saulus tiba-tiba melihat sinar dari langit. Disini terdapat ilustrasi lain bahwa Roh Kudus menyebabkan semua itu terjadi sesuai dengan kehendak Allah. Sekali lagi, beginilah terjadi penyelamatan. Ini adalah tindakan berdaulat dari Allah terhadap Saulus. Nah tidak semua orang yang diselamatkan mengalami pengalaman seperti itu.
Allah biasanya memanggil dengan suara kecil dan halus, namun dalam kasus Saulus, Dia memanggil dengan penampilan yang bernyala-nyala. Nah ayat 3 disini sangat singkat. Tetapi ada lebih banyak detail dalam KPR 22 dan 26 dimana Paulus memberi kesaksiannya ketika dia menghadap ke pengadilan. Pasal-pasal itu memberitakan bahwa waktu kejadian itu di sekitar tengah hari, langsung di bawah matahari terik. Namun ada sesuatu yang luar biasa karena kita baca bahwa sinar Allah itu jauh lebih terang dari matahari.
Mereka sekelompok semua jatuh ke tanah dalam ketakutan. KPR 22:9 mengatakan, “Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka mengerti.” Ini hampir sama dengan Yohanes 12:29, “Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata: "Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia." Allah disitu berbicara dengan Kristus dan orang-orang mendengar suara itu namun tidak dapat mengerti itu.
Dan karena mereka tidak mengerti, pengalaman mereka sangat berbeda dengan Paulus. Ayat 7, “Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun.” Namun lihatlah apa yang terjadi dengan Paulus. Lihat ayat 17, “Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”
Paulus melihat Tuhan Yesus. Jadi, apakah artinya itu? Di 1 Korintus 15:8, dia mengatakan, “Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.” Dia sempat melihat Kristus yang telah dimuliakan itu ditengah sinar yang sangat terang itu. Ini adalah lanjutan mulia dari kisah Stefanus ketika dia melihat surga terbuka dan Yesus berdiri disebelah tangan kanan Allah. Dan doa Stefanus dijawab ketika dia mengatakan di KPR 7:60, “"Tuhan, janganlah dosa ini ditanggungkan ke atas mereka!"
Kemudian kita melihat di ayat 4, ada keyakinan ilahi. Dalam membawa orang kepada keselamatan, ada kontak permulaan yang dimulai Allah, kemudian ada keyakinan akan dosa. Dan ayat 4 mengatakan, “Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" Sudah terang dia tidak tahu apa yang menimpa dia. Dalam tulisan Lukas, jika nama diulangi seperti ini, itu menyiratkan teguran atau peringatan: “Marta, Marta.” “Yerusalem, Yerusalem.” “Simon, Simon.” Disini, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?”
Mengapa Yesus mengatakan itu? Bahkan Yesus sudah bukan di dunia lagi, Dia sudah naik ke surga. Namun Tuhan kita mengajarkan realitas penting ini kepada kita, yaitu bahwa penganiayaan umat-Nya sama dengan penganiayaan Dia sendiri, karena Dia tidak dapat dipisahkan dari umat-Nya. Dia terikat bersama-sama dengan semua anggota tubuh-Nya sehingga setiap pukulan yang ditujukan terhadap kita adalah pukulan yang jatuh pada-Nya. Menganiaya kami adalah menganiaya Dia.
Di kemudian hari Paulus mengatakan di Kolose 1:24, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Saulus belajar kebenaran besar yang dia ajarkan dan hidup, bahwa setiap anggota tubuh Kristus bersatu dengan Kristus, yang adalah kepala mulia dari tubuh itu. Begitulah caranya kita di identifikasi-kan dengan Dia. Yesaya 53:4, “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya, dan kesengsaraan kita yang dipikul-Nya.”
Ada banyak macam dosa di dunia, namun dosa yang paling mengerikan adalah penolakan Yesus Kristus. 1 Korintus 16:22, “Siapa yang tidak mengasihi Tuhan, terkutuklah ia.” Inilah dosa yang tidak dapat diampuni dan pelanggaran yang tidak dapat diampuni. Dan Saulus secara harfiah dihancurkan dengan dakwaan itu, “Nah sekarang itu menyebabkan ada pertobatan ilahi di ayat 5, “Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu.”
Saulus benar mengerti injil Kekristenan. Namun karena dia pikir itu suatu penghujatan dia membunuh orang-orang itu. Dia tahu bahwa mereka memproklamirkan Yesus sebagai Mesias, orang ini sebagai Anak Allah. Orang ini dipilih Allah sebagai pengorbanan bagi dosa. Orang ini bangkit dari antara orang mati. Dan Saulus tidak lupa perkataan Stefanus bahwa mereka telah membunuh Orang yang Benar, judul Mesias, dan bahwa Stefanus melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah."
Dan sekarang Paulus tahu bahwa Yesus hidup. Dia adalah Mesias. Dia adalah Yang berdiri disebelah tangan kanan Allah. Hati Saulus patah, dia berbaring memerlukan belas kasihan dibawah Kristus yang menaklukannya. Hatinya penuh pertobatan dan kesedihan, namun pada saat yang sama hatinya disembuhkan oleh iman. Konversinya tiba-tiba dan mengejutkan. Semua keraguan itu hilang dan Saulus langsung tahu kebenaran.
Pertempuran itu sudah berakhir. Ini peperangan sulit bagi Saulus, Dia telah menendang paku. Apakah artinya? Goad itu seperti paku yang dipakai untuk menusuk atau menikan kerbau supaya dia terus bergerak. Artinya dengan meneruskan apa yang telah dilakukan itu hanya menyebabkan Anda menyakiti diri. Tidak mungkin kita berperang dengan Allah tanpa mengalami kesakitan. Jadi ini hanya menggambarkan perasaan Saulus dalam pertemuan yang luar biasa ini.
Bukti ada pertobatan itu datang cepat sekali. Bagaimana kita tahu bahwa dia benar-benar di konversi disitu? Dalam kesaksiannya di KPR 22:10 Saulus menjawab dan berkata, “Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku: Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu.” Tanggapan pertama konversi tulen adalah penyerahan dan pengakuan Dia sebagai Tuhan. Saulus sekarang memiliki Tuan yang baru, “Tuan, Tuhan apakah yang harus kuperbuat?”
KPR 9:7-9, “Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun. 8 Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. 9 Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.” Dia patah hati, merasa hancur, tunduk dan taat. Itulah tanda-tanda keselamatan.
Dan ada lagi satu komponen akhir, yaitu persekutuan ilahi. Apakah yang dilakukannya selama tiga hari itu? Saulus berkomunikasi dengan Tuannya yang baru. Hal terakhir yang dia lihat sebelumnya menjadi buta adalah kehadiran berkobar dari kemuliaan Yesus. Dia dibebani perasaan bersalah besar. Dia tidak tahu apa yang harus diperbuat, segala sesuatu yang dia pertimbangkan sebelumnya sekarang semua menjadi sampah. Keselamatan itu datang tiba-tiba, namun pendalaman itu dialami perlahan-lahan. Sekarang dia merasa bingung, tidak berdaya dan tanpa teman. Dia memiliki teman yang sekarang menjadi musuhnya, dan musuh yang belum tahu mereka sebenarnya teman. Selama tiga hari dia bersekutu dengan Tuhannya.
Ini gambar keselamatan yang megah dengan segala keindahannya dan kemuliaannya. Ini terjadi tiba-tiba, dan ini seperti ledakan, suatu mujizat dalam sekejap mata. Dan ini mewujudkan pekerjaan berdaulat itu, keyakinan bahwa penolakan Kristus adalah dosa besar, dan pertobatan dengan penyerahan sambil berkata, “Tuhan, apakah yang harus kulakukan?” Kemudian renungan itu dan persekutuan yang mendalami mujizat ini. Iya, ini hanya permulaan saja. Bahkan masih banyak lagi tentang pertemuan ini yang dapat kita belajar nanti. Marilah kita berdoa.