Khotbah Stefanus yang Kuat
Published by Stanley Pouw in 2016 · 22 May 2016
Kisah Para Rasul 7:18-53
Pada saat kita tiba di KPR 7, Stefanus sedang diadili di hadapan Mahkamah Agama Israel. Dia berdiri sendiri tanpa pengacara disampingnya untuk membela dirinya melawan empat tuduhan penghujatan itu. Namun dia tidak puas untuk hanya membela dirinya, dia akan menuduh mereka. Dia akan menyalahkan Mahkamah Sanhedrin Israel dan dia akan dibunuh karena itu.
Gereja sudah memproklamirkan bahwa Kristus hidup, dan Dia adalah sang Mesias dan Juruselamat. Dan sekarang pengetahuan itu sudah disebarkan diseluruh kota melampaui Yesus dan kesebelas murid-murid-Nya. Secara harfiah kabar itu ada dimana-mana di Yerusalem dan mereka memakai tempat ibadah sebagai tempat pertemuan. Orang-orang Yahudi sudah berkali-kali mencoba untuk membungkamkan orang Kristen itu. Mereka sudah berusaha sekuat mungkin dan sekarang mereka akan membunuh untuk hal itu.
Namun Stefanus melihat sidang ini sebagai kesempatan untuk berdiri dihadapan badan pemimpin agama yang tertinggi di Israel, Sanhedrin itu, dan berbicara kebenaran kepada mereka. Dan untuk membalikkan tuduhan-tuduhan itu dan menyalahkan mereka sebagai penghujat nyata. Jadi pada waktu dia berbicara dengan orang-orang Yahudi dia mulai dengan Perjanjian Lama. Dan dia membangun seluruh pembelaannya dan tuduhannya berdasarkan sejarah Perjanjian Lama.
Stefanus membela dirinya dalam empat kategori: Allah, Musa, Hukum Taurat dan tempat Ibadah. Jadi di permulaan KPR 7:2 dia mengatakan, “Saudara-saudara dan Bapak-bapak! Coba dengarkan saya,” dan dia menyebut Allah sebagai, “Allah yang mulia.” Dia menceritakan Allah memperlihatkan diri-Nya kepada Abraham waktu di Mesapotamia, dan dia menceritakan sejarah dimana Allah menjanjikan Abraham tanah dan suatu bangsa melalui perjanjian Abraham itu.
Dan dia mengingatkan mereka bahwa bahkan nenek moyang mereka sendiri menolak pemimpin yang diberi Allah. Mereka menolak Yusuf yang diberikan kepada mereka sebagai pemimpin. Jadi penghujat-penghujat di zaman dulu itu adalah nenek moyang mereka sendiri yang menolak Yusuf. Saudara-saudaranya menjualnya sebagai budak dan setelah itu datang dan menolak dia lagi. Sejarah penolakan itu memang adalah bagian dari sejarah bapak-bapak leluhur Israel.
Jadi di ayat 17, “Ketika sudah hampir waktunya.” Pada waktu akhir 400 tahun yang telah ditentukan itu, sudah tiba waktunya untuk masuk ke Tanah Perjanjian. Semua patriark sudah meninggal. Ini sesuai dengan Ibrani 11:13, “Semua orang itu tetap beriman sampai mati tanpa menerima hal-hal yang dijanjikan Allah.” Namun sekarang sudah tiba waktunya Allah akan menggenapkan janji-Nya. Mereka sudah menjadi komunitas besar dan mereka menjadi ancaman serius.
Ayat 18 mengatakan, “Akhirnya seorang raja lain yang tidak mengenal Yusuf, memerintah di Mesir.” Dia tidak tahu betapa besar Yusuf itu, dan betapa baik dia sebagai pemimpin, dan betapa terhormat dia itu. Sampai dia menentukan untuk menjadikan mereka budak saja karena dia takut mereka menjadi ancaman besar. Karena dia ketakutan, dia memakai semua cara licik yang mungkin untuk memusnahkan mereka.
Ayat 19, “Raja itu mempermainkan bangsa kita dan kejam terhadap nenek moyang kita. Ia memaksa mereka membuang bayi-bayi mereka yang baru lahir supaya terlantar dan mati.” Firaun itu menentukan bahwa cara terbaik untuk memperlambat pertumbuhan mereka adalah dengan membunuh semua bayi-bayi mereka. Semua informasi itu terdapat di Keluaran 1. Keluaran 1:22, “Tiap anak laki-laki orang Ibrani yang baru lahir harus dibuang ke dalam Sungai Nil.”
Namun rencana Allah itu berbeda. Ayat 20-23, “Pada masa itulah Musa lahir; ia bayi yang bagus sekali. Tiga bulan lamanya ia dipelihara di rumah bapaknya, 21 dan setelah ia dibuang, putri Firaun mengambil dia, lalu memelihara dia sebagai anaknya sendiri. 22 Segala ilmu bangsa Mesir diajarkan kepadanya dan ia menjadi orang yang sangat berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. 23 Waktu Musa berumur empat puluh tahun, timbullah keinginan dalam hatinya untuk pergi melihat keadaan bangsanya orang Israel.”
Jadi saat Musa usianya hampir 40, Allah menggerakkan hatinya. Dia tahu dia berasal dari mana. Kakak Musa telah mengatur baginya untuk dirawat oleh ibunya sendiri, yang memastikan dia belajar mengenal Allah Israel yang benar dan darimana dia berasal sebenarnya dan milik siapakah dia pada akhirnya. Dan sekarang pada umur 40 dia mengingat nasib bangsanya yang sedang dilecehkan Firaun.
Ayat 24, “Lalu ia melihat seorang dari mereka dianiaya oleh seorang Mesir; maka ia membela orang yang dianiaya itu dengan membunuh orang Mesir itu.” Bahkan bukan saja Musa membunuhnya, dia menguburnya di pasir. Disini ada seorang pembela Israel yang ingin menjadi pembebas Israel untuk menghilangkan kesakitan dan penderitaan mereka dan untuk menolong mereka dalam kesusahan mereka. Namun bukan itu tanggapan mereka.
Ayat 25, “Musa menyangka bangsanya akan mengerti bahwa Allah sedang memakai dia untuk membebaskan mereka. Tetapi ternyata mereka tidak mengerti.” Jadi yang tidak mengerti Allah adalah orang-orang Israel. Merekalah yang memberontak melawan Allah. Mereka yang telah membunuh utusan-utusan Allah itu. Mereka menolak Yusuf pada mulanya, dan mereka menolak Musa pada mulanya sama seperti mereka menolak Yesus pada mulanya. Jadi tuduhan bahwa dia menghujat Musa tidak masuk akal.
Kemudian dia membalikkan tuduhan mereka dan menyalahkan Israel karena mereka melakukan hal yang sama yang dilakukan terhadap Yusuf, yaitu menolak pembebas-pembebas dari Allah. Ayat 26, “Besoknya ia melihat pula dua orang Israel berkelahi, lalu ia berusaha mendamaikan mereka. Ia berkata, 'Kalian ini bersaudara mengapa kalian berkelahi?” Dia benar-benar seorang pembebas. Inilah yang dapat diharapkan seorang pemimpin, seseorang yang sanggup mengalahkan dan mengubur musuh dan mendatangkan damai. Namun lihatlah tanggapan mereka.
Ayat 27-28, “Tetapi orang yang memukul kawannya itu mendorong Musa ke pinggir lalu berkata, 'Siapa yang mengangkat kau menjadi pemimpin dan hakim kami? 28 Apa kau mau membunuh saya juga seperti kau membunuh orang Mesir itu kemarin?” Inilah budak yang menyingkirkan Musa. Musa itu ditolak. Dia telah menyelamatkan satu jiwa. Dia datang sebagai pendamai namun sekarang dia diperhadapkan sebagai seorang kriminal. Tentu saja, dia ingin menyembunyikan kejadian itu. Karena itu dia mengubur mayat itu. Nah sekarang umatnya sendiri menyebarkan kenyataan itu. Musa tidak ada pilihan lain.
Jadi ayat 29, “Ketika Musa mendengar apa yang dikatakan oleh orang itu, Musa lari dari Mesir lalu tinggal di negeri Midian. Di sana ia mendapat dua orang anak.” Mereka tidak menerima dia sebagai seorang pembebas. Tujuan Stefanus adalah bahwa Israel selalu menolak. Yang menghujat adalah Israel. Sekali lagi Israel menolak pembebas yang diurapi Allah sama seperti pada waktu Yusuf. Dan itu terjadi lagi pada waktu mereka menolak Yang Benar di ayat 51. Jadi Musa meninggalkan mereka dan 40 tahun berlalu.
Ayat 30, “Empat puluh tahun kemudian seorang malaikat datang kepada Musa di padang gurun dekat Gunung Sinai. Malaikat itu datang di dalam api pada belukar yang sedang menyala.” Karena itu sesudah semuanya selesai ada total 430 tahun. Israel menghujat Musa dan karena itu juga menghujat Allah sehingga penebusan itu ditunda selama 40 tahun lagi. Jadi apakah dilakukan Musa selama 40 tahun itu? Nah dia bertemu dengan anak perempuan Jetro yang namanya adalah Zipora. Dia menikah dan memiliki keluarga disana. Kemudian datanglah malaikat itu pada saat ada belukar menyala di Keluaran 3 dan dia ditugaskan kembali.
Ayat 31-34, “Musa heran melihat hal itu, sehingga ia pergi dekat-dekat untuk mengetahui apa itu. Lalu ia mendengar suara Tuhan berkata, 32 'Akulah Allah nenek moyangmu; Aku Allah dari Abraham, Ishak, dan Yakub.' Musa gemetar ketakutan sehingga tidak berani lagi melihat kepada belukar itu. 33 Kemudian Tuhan berkata pula, 'Lepaskan sandal yang kaupakai itu, sebab tanah di tempat kau berdiri itu adalah tanah yang suci. 34 Aku sudah melihat dan memperhatikan pahitnya penderitaan umat-Ku di Mesir. Aku sudah mendengar keluhan mereka dan Aku turun untuk membebaskan mereka. Sekarang, mari! Aku akan mengutus engkau kembali ke Mesir.”
Allah selalu setia dan Dia akan membebaskan umat-Nya. Dan tempat itu kudus karena Allah ada disitu. Stefanus mengatakan di ayat 35, “Musa inilah Musa yang tidak diakui oleh bangsa Israel dan yang ditolak dengan perkataan ini, 'Siapa yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim kami?' Tetapi justru dialah orang yang diutus Allah untuk menjadi pemimpin dan penyelamat, dengan bantuan dari malaikat yang datang kepadanya di belukar yang menyala itu.” Mereka menolak Yusuf pada pertama kalinya dan dia datang sebagai pembebas pada saat kedua. Mereka menolak Musa dan dia datang untuk kedua kalinya sebagai pembebeas. Mereka menolak Kristus pada mulanya dan Dia akan kembali sebagai Juruselamat.
Ayat 36, “Musa itulah yang memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dengan melakukan keajaiban-keajaiban dan hal-hal luar biasa di Mesir, di Laut Merah dan di padang gurun selama empat puluh tahun.” Stefanus menunjukkan kepada orang-orang Yahudi bahwa pola mereka terus menerus adalah menolak pembebas-pembebas Allah. Mereka bangga dalam kasih mereka terhadap nenek moyang mereka, namun bapak-bapak leluhur mereka justru telah menolak Yusuf dan Musa langsung. Dan Stefanus menyalahkan mereka karena penolakan itu.
Ayat 37, “Dialah juga Musa yang berkata kepada bangsa Israel, 'Allah akan memberikan kepadamu seorang nabi yang dipilih dari antaramu sendiri, sama seperti Ia memilih aku.” Mereka semua tahu nubuatan Mesias dari Ulangan 18:15. Musa adalah pembebas bagi umatnya sendiri, demikian pula Yesus. Musa turun dari kedudukan di istana dan menjadi budak untuk menyelamatkan budak, demikian juga Yesus. Musa mengorbankan diri dan ditolak, demikian pula Yesus.
Musa kembali untuk kedua kalinya untuk menebus umatnya dan menuntun mereka ke Tanah Perjanjian, dan Yesus akan melakukan hal yang sama. Stefanus sebagai orang yang percaya Yesus Kristus, menghormati Musa lebih dari pada orang lain. Stefanus dengan demikian menjawab tuduhan bahwa dia menghujat Musa. Dia malah memuji Musa dan menghormati Musa. Namun yang paling penting dia percaya orang Yang dibicarakan Musa itu.
Tuduhan ketiga adalah bahwa dia menghujat Hukum Taurat. Setelah mereka meninggalkan Mesir, setelah Musa memimpin mereka menyeberang Laut Merah, dan masuk padang gurun selama empat puluh tahun, disitulah Musa menerima hukum Taurat itu. Ayat 38, “Musalah yang di tengah-tengah bangsa Israel di padang pasir, menjadi perantara untuk malaikat yang berbicara kepadanya di Gunung Sinai dan dengan nenek moyang kita. Dialah yang menerima dari Allah berita yang hidup untuk disampaikan kepada kita.” Itu ada di Keluaran 19.
Apakah artinya ‘oracle’ itu? Itu pernyataan dari Allah. Mengapa dikatakan itu hidup? Karena Ibrani 4:12 mengatakan, “Perkataan Allah adalah perkataan yang hidup dan kuat; lebih tajam dari pedang bermata dua. Perkataan itu menusuk sampai ke batas antara jiwa dan roh; sampai ke batas antara sendi-sendi dan tulang sumsum, sehingga mengetahui sedalam-dalamnya pikiran dan niat hati manusia.” Hukum yang datang kepada Musa di Sinai adalah wahyu spiritual dari surga. Stefanus mengerti bahwa Allah adalah pengarangnya, malaikat adalah para penengah dan Musa adalah penerima.
Dia mengatakan bahwa Lima Kitab Musa itu dituliskan Musa melalui inspirasi dan kebenaran itu semua datang dari Allah. Ini adalah hukum Allah dan itu hidup dan berkuasa. Dia bukan penghujat Hukum Taurat, Dan disini datanglah lagi tuduhna terhadap mereka lagi di ayat 39-40, “Sekalipun begitu nenek moyang kita tidak mau taat kepadanya. Mereka menolak dia dan ingin kembali ke Mesir. 40 Mereka berkata kepada Harun, 'Buatlah dewa-dewa untuk kami, supaya dewa-dewa itu memimpin kami. Sebab kami sudah tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan si Musa itu yang membawa kami keluar dari Mesir!”
Nenek moyang kita yang tidak mau taat kepada Musa, dan dalam hati mereka sudah berbalik kepada Mesir. Apakah mereka sudah lupa bahwa Allah menyediakan jalan ditengah lautan dan menenggelamkan seluruh pasukan tentara Mesir? Baru saja Musa naik ke gunung dan mereka sudah melupakannya dan mereka ingin kembali kepada penyembahan berhala mereka. Jadi siapakah para penghujat sebenarnya? Ya mereka adalah orang-orang yang tidak taat, yang hati mereka berpaling ke Mesir.
Disitulah di kaki gunung Sinai dimana mereka mulai sejarah penyembahan berhala mereka. Mereka menunjukkan sampai dimana mereka peduli hukum Taurat itu. Apakah yang diperintahkan Hukum Taurat itu? Keluaran 20:3, “Jangan menyembah ilah-ilah lain. Sembahlah Aku saja.” dan apakah yang mereka perbuat? Ayat 41, “Lalu pada waktu itu mereka membuat sebuah patung anak lembu, kemudian mereka mempersembahkan kurban kepada patung itu dan mengadakan pesta untuk memuja barang buatan mereka sendiri.”
Ayat 42, “Maka Allah meninggalkan mereka dan membiarkan mereka menyembah bintang-bintang di langit. Itu sesuai dengan apa yang tertulis dalam buku nabi-nabi. Begini, 'Hai orang-orang Israel! Bukannya untuk Aku kamu menyembelih dan mengurbankan binatang selama empat puluh tahun di padang pasir.” Ayat 43 menyimpulkan semua itu, “Kemah berhala Molokhlah yang kamu bawa-bawa bersama-sama dengan patung bintang berhalamu, yaitu Refan; itulah patung yang kamu buat untuk disembah. Oleh sebab itu Aku akan membuang kamu sampai jauh ke seberang di negeri Babel.”
Dan akhirnya dia menjawab tuduhan bahwa dia menghujat tempat ibadah itu. Mulai di ayat 44-47, “Kemah tempat Allah datang kepada manusia terdapat pada nenek moyang kita di padang gurun. Kemah itu dibuat atas perintah dari Allah kepada Musa dan menurut contoh yang diperlihatkan Allah kepada Musa. 45 Kemudian kemah itu dibawa selanjutnya oleh nenek moyang kita pada waktu mereka dengan Yosua pergi merebut negeri kita ini dari kekuasaan bangsa-bangsa yang diusir Allah di hadapan mereka. Kemah itu berada di situ sampai zaman Daud. 46 Daud menyenangkan hati Allah dan minta kepada-Nya supaya ia diizinkan membuat suatu rumah untuk Allah yang disembah Yakub itu. 47 Tetapi Salomolah yang mendirikan rumah untuk Allah.”
Ayat 48, “Namun Allah Yang Mahatinggi tidak tinggal di dalam rumah yang dibuat manusia; sebab di dalam buku nabi tertulis begini.” Dan dia mengutip Yesaya 66:1-2 di ayat 49-50, “'Langit adalah takhta-Ku, dan bumi alas kaki-Ku. Rumah apakah hendak kamu dirikan untuk Aku? Di manakah tempat untuk Aku beristirahat? 50 Bukankah Aku sendiri yang menjadikan segala sesuatu?”
Pada waktunya Stefanus menghadap Sanhedrin, mereka menyembah gedungnya dan bukan Allah. Tempat-tempat ibadah selalu sementara saja. Pada permulaan ada kemah, kemudian ada bait Salomo, kemudian ada bait Zerubabel kemudian ada bait Herodes dan setelah itu dikutuk Yesus itu juga dihancurkan. Jadi Stefanus akhirnya menyalahkan mereka karena mereka membunuh Mesias.
Ayat 51-53, “Bukan main keras kepala Saudara-saudara dan begitu sukar taat kepada Allah! Kupingmu tuli sekali terhadap perkataan Allah! Kalian sama dengan nenek moyangmu; selalu melawan Roh Allah! 52 Apa ada nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Mereka membunuh utusan-utusan dari Allah yang dahulu kala sudah mengumumkan bahwa Hamba Allah yang benar itu akan datang. Dan sekarang kalian mengkhianati dan membunuh Hamba Allah itu. 53 Malaikat-malaikat sudah menyampaikan perintah-perintah Allah kepadamu tetapi kalian tidak menurutinya!”
Jika pengkhotbah seperti Stefanus, yang hanya menjadi orang percaya Yesus Kristus selama beberapa bulan saja, dapat berkhotbah dengan keberanian seperti itu, moga-moga Tuhan memberikan generasi ini banyak orang seperti Stefanus. Perjanjian Baru bukanlah Yudaisme, ini sesuatu yang baru. Allah harus disembah dalam roh dan kebenaran, dimana saja, oleh siapa saja dan kapan saja. Marilah kita berdoa.