Stefanus, Martir Pertama
Published by Stanley Pouw in 2016 · 1 May 2016
Kisah Para Rasul 6:8-15
Masih ingat bahwa KPR 6 membuka dengan masalah di gereja mula-mula? Masalah itu karena ada janda-janda orang Yahudi Yunani yang percaya kepada Yesus Kristus dan sekarang menjadi bagian gereja namun mereka datang dari negara-negara Yunani dan bukan dari Israel, mereka tidak kebagian makanan sehari-hari yang dibagi-bagikan kepada orang-orang. Untuk memastikan bahwa mereka akan disediakan kebutuhan mereka, mereka memilih tujuh orang yang reputasinya baik, yang dipenuhi Roh dan dipenuhi kebijaksanaan untuk memimpin tugas ini.
Orang pertama di daftar itu dan satu-satunya dimana kami diberitahu sesuatu adalah seseorang bernama Stefanus, yang penuh beriman dan dipenuhi Roh Kudus. Dia adalah tokoh utama sepanjang sisa KPR 6 dan 7. Stefanus adalah orang percaya Yesus Kristus yang berbahasa Yunani yang dulunya adalah anggota rumah ibadat Yahudi di negara asing. Dia bersama semua orang lain dipilih untuk memelihara janda-janda yang berbahasa Yunani.
Ayat 8-11, “Stefanus, penuh anugerah dan kekuatan, mengadakan banyak keajaiban dan hal-hal luar biasa di antara masyarakat. 9 Tetapi ada orang-orang yang menentang dia; mereka adalah anggota-anggota rumah ibadat orang-orang Bebas dan juga ada orang-orang Yahudi dari Kirene dan Aleksandria dan mereka dari Kilikia dan Asia yang berdebat dengan Stefanus. 10 Tetapi mereka tidak bisa membantah apa yang dikatakan Stefanus, karena dia berbicara dengan Roh Allah dan kebijaksanaan. 11 Oleh sebab itu mereka diam-diam menghasut beberapa orang untuk berkata, “Kami mendengar orang ini menghina Musa dan Allah!”
Ayat 12-15, “Begitulah mereka menghasut orang-orang, dan penatua serta ahli-ahli Taurat. Lalu mereka pergi menangkap Stefanus, kemudian membawa dia menghadap Mahkamah Agama. 13 Dan mereka menghadapkan juga saksi-saksi palsu yang mengatakan, "Orang ini selalu menghina Rumah Tuhan yang suci dan menghina Hukum Taurat. 14 Kami sudah mendengar ia berkata, bahwa Yesus dari Nazaret itu akan meruntuhkan Rumah Tuhan ini, lalu mengubah semua adat istiadat yang diturunkan Musa kepada kita!" 15 Semua orang yang hadir dalam sidang Mahkamah Agama itu memandang Stefanus dan melihat muka Stefanus seperti muka malaikat.”
Stefanus adalah orang yang luar biasa. Dia bukan diaken namun dia bertanggung jawab untuk melayani meja-meja. Dia bukan rasul namun dia melakukan tanda-tanda dan mujizat-mujizat. Kuasa ajaib yang diberikan kepada para rasul juga diberikan kepadanya dan juga kepada pemimpin lain yang bernama Filipus. Dia bukan nabi namun dia adalah pengkhotbah besar. Dia orangnya sangat unik. Dia berdiri diantara para rasul dan struktur gereja mula-mula.
Dia yang menurut semua orang adalah pembantu, namun juga seorang pekerja mujizat dan pengkhotbah dan martir Kristen pertama. Menurut setiap ukuran ilahi dia adalah orang besar. Dia adalah orang transisi diantara Petrus dan Paulus, seperti suatu jembatan. Dia dipilih Petrus dan para rasul dan dia dimartir oleh tangan Paulus. Dia tidak melayani orang Yahudi Israel atau orang non-Yahudi asing namun dia melayani orang-orang Yahudi asing. Dan karena dia dimartir dan dianiaya, itu menyebabkan orang-orang percaya tercerai-berai.
Dan itulah tujuan Allah dalam kemartirannya karena Yesus telah mengatakan di KPR 1:8, “Dan kalian akan menjadi saksi-saksi untuk-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea, di Samaria, dan sampai ke ujung bumi.” Apakah yang akan mengirim mereka ke Yudea? Apakah yang akan mengirim mereka ke Samaria? Apakah yang akan mengirim mereka ke ujung bumi? Bukan suatu misi misionaris, namun penganiayaan, kemartiran dan ancaman kematian.
Dan itulah yang terjadi pada Stefanus di KPR 7:54-58, “Begitu anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya yang dikatakan oleh Stefanus, mereka sakit hati dan marah sekali kepadanya. 55 Tetapi Stefanus yang dikuasai oleh Roh Allah, memandang ke langit. Ia melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di tempat berkuasa di sebelah kanan Allah. 56 "Lihat," kata Stefanus, "saya melihat surga terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah!" 57 Anggota-anggota mahkamah itu menutup telinga mereka sambil berteriak-teriak, lalu serentak menyerang Stefanus. 58 Mereka menyeret dia ke luar kota kemudian mereka membunuhnya dengan melempar batu.”
Kematian Stefanus itulah yang menjadi katalis untuk memenuhi janji Yesus di KPR 1:8 sebelum kenaikan-Nya. Dia mengambil langkah pertama melampaui orang Yahudi untuk menjangkau orang-orang non-Yahudi. Kewajiban dan tugas itu diberikan Stefanus kepada Paulus, yang adalah salah satu musuhnya yang terbesar pada saat itu. Stefanus adalah esensial untuk penginjilan dunia dalam rencana Allah. Kemartirannya itulah yang meluncurkan gereja di dunia.
Yang kita tahu tentang dia adalah semuanya tercantum di dalam bagian Firman ini. Kita tahu apa yang dipentingkan di dalam kehidupannya yaitu keberanian ini yang luar biasa. Karena keberaniannya dia menempatkan dirinya dalam keadaan dimana ia kehilangan nyawanya, namun itu adalah rencana Allah. Dia adalah martir Kristen pertama, namun kemungkinan dia dipenjarakan dan ancaman-ancaman kematian tidak mempengaruhinya karena dia berkomitmen total untuk setia.
Kita baru belajar bahwa gereja itu dimurnikan oleh Tuhan sendiri. Allah membunuh satu pasangan yang berbohong kepada Roh Kudus yang menyebabkan jemaat gereja itu takut. Untuk menjadi anggota harganya tinggi. Hanya orang-orang yang ingin dosa mereka diselesaikan dan ingin hidup dalam kebenaran mau masuk. Mereka terorganisir dan mengumpulkan pria-pria ilahi yang disebut di KPR 6:5 untuk melayani mereka.
Stefanus berarti “Mahkota pemenang” dan dia benar-benar menang nama itu pada waktu dia dimartir. Jadi waktu Stefanus dipilih, itu menetapkan pada permulaan keunikannya dan kebesarannya. Dari ribuan orang, dia adalah yang pertama dari daftar tujuh orang itu. Khususnya dikatakan tentang dia di ayat 5, “Dia adalah orang yang penuh iman,” jadi hidupnya mengutamakan iman. Jika dia penuh iman, apakah yang dia percaya?
Dengarkanlah KPR 7:2-3, “Saudara-saudara dan Bapak-bapak, coba dengarkan saya! Sebelum nenek moyang kita Abraham pindah ke Haran, pada waktu ia masih tinggal di Mesopotamia, Allah yang mulia datang kepadanya 3 dan berkata, 'Tinggalkanlah negerimu dan sanak keluargamu. Pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Dia mengutip Kejadian 12: 4-5, “Maka Abraham meninggalkan negeri Kasdim, lalu pindah ke Haran. Sesudah ayah Abraham meninggal, Allah membuat Abraham pindah ke negeri ini yang Saudara-saudara dan Bapak-bapak sekalian diami sekarang ini. 5 Namun tidak ada sebagian pun dari negeri ini yang Allah berikan kepada Abraham untuk menjadi milik Abraham; setapak pun tidak diberi kepadanya. Tetapi Allah berjanji bahwa Ia akan memberi-kannya kepada Abraham untuk menjadi miliknya serta keturunannya, meskipun waktu itu Abraham tidak mempunyai anak.”
Sekali lagi dia mengutip Kejadian 12 dan 13. Hal pertama yang kita tahu adalah bahwa dia percaya Perjanjian Lama. Dia juga percaya bahwa Allah menentukan dan memerintah sejarah. Sejarah itu semuanya adalah wahyu karakter Allah, tujuan Allah dan rencana Allah. Dia percaya Allah yang dinyatakan di dalam Perjanjian Lama dan dia menerangkan hal itu sepanjang khotbahnya.
Di KPR 7:52, “Apa ada nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Mereka membunuh utusan-utusan dari Allah yang dahulu kala sudah mengumumkan bahwa Hamba Allah yang benar itu akan datang. Dan sekarang kalian mengkhianati dan membunuh Hamba Allah itu.” Dia percaya bahwa Yesus adalah Mesias. Dan dia percaya bahwa kematian-Nya adalah titik penting dimana sejarah berubah. Dia juga percaya bahwa Yesus benar-benar bangkit. Ayat 55, “Tetapi Stefanus yang dikuasai oleh Roh Allah, memandang ke langit. Ia melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di tempat berkuasa di sebelah kanan Allah.”
Dia percaya Roh Kudus. Di ayat 51 dia mengatakan, “Kalian yang keras kepala dan yang belum disunat dalam hati dan kuping, selalu melawan Roh Kudus!” Dia dipenuhi iman dan dia percaya semua kenyataan spiritual yang besar sehingga dia menjelaskan semua itu dalam khotbahnya yang indah ini. Dia begitu percaya kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus itu sehingga dia rela mati dilempar batu-batu.
Kembali ke KPR 6:3, inilah seseorang yang penuh kebijaksanaan. Bahkan kebijaksanaannya begitu hebat sehingga pada saat dia berbicara tidak ada yang dapat membantah, musuh-musuhnya tidak sanggup melawan perkataannya. Dan mereka membunuhnya penuh amarah karena mereka tidak dapat menjawab argumen-argumennya. Seterusnya di KPR 6:8 dikatakan, dia dipenuhi anugerah. Ini tidak membicarakan kasih karunia yang dia terima, ini adalah anugerah yang dia berikan.
Darimana kita tahu hal itu? Lihatlah KPR 7:59-60, “Sementara mereka membunuh Stefanus dengan batu, 60 ia berlutut dan berteriak dengan suara yang keras, "Tuhan, janganlah dosa ini ditanggungkan mereka!” Kelemah lembutan macam apakah ini? Tidak ada amarah, tidak ada balas dendam dan tidak ada kekerasan. Anugerah seperti ini datang dari iman sejati dan adalah hasil pekerjaan Roh Kudus.
Kemudian di KPR 6:8 dikatakan bahwa Stefanus penuh kekuatan. Inilah akibatnya dia dipenuhi Roh sampai dia diberi kuasa yang sama seperti para rasul. Dia melakukan keajaiban besar dan tanda-tanda dan mujizat-mujizat diantara orang-orang. Ini terjadi untuk mengesahkannya sebagai seseorang yang berbicara untuk Allah. Ini terjadi sebelum ada Perjanjian Baru. Seorang pembicara untuk Allah memiliki kekuatan ajaib.
Lihatlah sekarang keberaniannya. Orang ini dipenuhi Roh Kudus, dipenuhi iman, dipenuhi kebijaksanaan, dipenuhi kekuatan dan penuh anugerah langsung menghadapi dunia yang bermusuhan itu. Dia memberitakan Yesus sebagai Mesias kepada orang-orang Yahudi Yunani. Ayat 9, “Tetapi ada orang-orang yang menentang dia; mereka adalah anggota-anggota rumah ibadat orang-orang Bebas dan juga ada orang-orang Yahudi dari Kirene dan Aleksandria dan mereka dari Kilikia dan Asia yang berdebat dengan Stefanus.”
Inilah ladang misi dia. Para rasul menginjili orang-orang Yahudi di Yerusalem. Paulus kemudian akan pergi ke orang-orang non-Yahudi. Namun Stefanus berada disitu untuk menginjili orang Yahudi dari negara-negara non-Yahudi. Dia mulai di Yerusalem dimana ada rumah-rumah ibadat bagi komunitas orang Yahudi Yunani yang telah kembali ke tanah Israel. Dan rumah-rumah ibadat itu berfungsi dalam bahasa negara orang yang mendirikannya. Karena dia adalah salah satu dari orang Yahudi Yunani yang disebut di ayat 5.
Jadi dia pergi ke sinagog dimana dia bisa bertemu dengan orang-orangnya. Pada zaman para rasul, komunitas Yahudi yang bukan dari Yerusalem dapat mendirikan rumah-rumah ibadat mereka sendiri dimana orang Yahudi asing dapat berkumpul. Sejarawan memberitahukan kami bahwa ada hampir 500 sinagog di Yerusalem. Dan banyak sinagog di Yerusalem pada waktu itu adalah bagi orang Yahudi asing yang perlu bergaul dengan orang sesamanya.
Nah, sinagog orang Bebas, apakah itu? Pompei, jenderal Romawi itu, telah membawa banyak orang Yahudi sebagai tawanan ke Roma. Dia mengangkut orang Yahudi itu pergi di waktu 63 SM dan menjual mereka sebagai budak, Kebanyakan dari mereka pada akhirnya dibebaskan dan mereka kembali ke tanah air mereka. Jadi sinagog orang bebas itu pada dasarnya dibangun oleh budak-budak Romawi yang dibebaskan yang telah kembali ke kota mereka sendiri untuk beribadah.
Juga disebut orang-orang Kirene, yaitu orang-orang dari satu kota di daerah Libia. Disitu ada suatu koloni Yahudi besar. Mereka juga ikut serta di sinagog di Yerusalem. Kemudian ada orang Aleksandria dari ibu kota Mesir yang didirikan Aleksander Besar. Disitu ada komunitas Yahudi yang besar sekali dan ada perpustakaan penuh buku-buku sarjana-sarjana Yahudi. Juga disebut Kilikia, suatu pemukiman Yahudi besar di Asia Kecil dekat Suriah.
Kemudian ada juga orang-orang dari Asia, yaitu bagian barat dari Asia Kecil. Kota utama disitu adalah Efesus. Jadi ada lima kelompok. Mungkin saja ada tiga sinagog yang tercampur dan bahasa Yunani mereka cukup baik sehingga mereka dapat bergaul. Ya kita tidak tahu, namun kepada merekalah Stefanus pergi. dan apakah yang dia lakukan? Dia berdiri dan berbicara. Dia tidak diundang untuk berbicara di konperensi akhir pekan.
Dia berbicara dengan mereka dan mereka membantah. Ayat 10, “Tetapi mereka tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Stefanus, karena Roh Allah memberikan kepadanya kebijaksanaan untuk berbicara.” Mungkin itu perbincangan antara perjanjian lama dan perjanjian baru. Atau perdebatan mengenai identitas Yesus sang Mesias, Anak Allah. Atau suatu diskusi tentang penyelamatan oleh anugerah, dan Stefanus menang karena dia dipenuhi Roh Kudus.
Ayat 11, “Oleh sebab itu mereka menyuap beberapa orang untuk berkata, "Kami mendengar orang itu menghina Musa dan Allah!” Stefanus berdebat melawan salah tafsiran dari Hukum Musa. Dan dia juga menganjurkan dengan kuat bahwa Kristus adalah Allah. Karena dia mengatakan bahwa Hukum Musa itu tidak dapat menyelamatkan, dia dianggap menghujat Musa. Dan dengan menyatakan bahwa Yesus adalah Allah, dalam pikiran mereka dia menghujat Allah.
Dengan mengatakan bahwa Yesus adalah sama dengan Allah, bagi orang Yahudi itu menghujat Musa dan menghujat Allah. Ayat 12, “Begitulah mereka menghasut orang-orang, dan pemimpin-pemimpin Yahudi, serta guru-guru agama. Lalu mereka pergi menangkap Stefanus, kemudian membawa dia menghadap Mahkamah Agama.” Orang Yahudi Yunani menyebarkan berita bahwa Stefanus adalah penghujat. Sampai saatnya mereka datang dan menangkap Stefanus dan menyeretnya datang ke Mahkamah Agama mereka.
Disinilah muncul saksi-saksi palsu. Ayat 13, “Dan mereka menghadapkan juga saksi-saksi yang memberi keterangan-keterangan yang tidak benar tentang Stefanus. Saksi-saksi itu berkata, "Orang ini selalu menghina Rumah Tuhan yang suci dan menghina perintah-perintah Allah yang disampaikan oleh Musa.” Nah ini memberitakan kita sesuatu tentang perdebatan ini. Pastilah dia memberitakan pada mereka bahwa tujuan Hukum Taurat adalah untuk menentukan dosa, bukan untuk menyelamatkan. Ayat 14, “Kami sudah mendengar ia berkata, bahwa Yesus dari Nazaret itu akan meruntuhkan Rumah Tuhan ini, lalu mengubah semua adat istiadat yang diturunkan Musa kepada kita!”
Jadi Stefanus berkhotbah tentang perjanjian lama yang hanya mencerminkan sifat Allah dan yang tidak menyelamatkan, dan kedatangan perjanjian baru dengan Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat yaitu Mesias. Namun ini keberanian besar dan Stefanus tahu apakah yang mereka telah lakukan terhadap Tuhan. Dia juga tahu bahwa mereka telah memenjarakan dan mencambuk para rasul. Dia tahu bahwa orang Yahudi itulah yang akan menganiaya dia. Namun keberaniannya tidak berkurang.
KPR 6:15, “Semua orang yang hadir dalam sidang Mahkamah Agama itu memandang Stefanus. Dan pada waktu itu muka Stefanus kelihatan seperti muka malaikat.” Semua anggota Sanhedrin menuduh dia menghujat. Namun dia tampaknya seperti mengatasi semua itu. Semua kekuatan dari Roh Kudus dan semua imannya kelihatan di mukanya. Hanya sekali dalam sejarah, Allah telah menempatkan kemuliaan-Nya di muka orang. Yaitu di Keluaran 33 di muka Musa. Dia waktu itu mencerminkan kemuliaan Allah.
Dan pada akhir kehidupannya, Stefanus melihat kemuliaan Allah di KPR 7:55-56, “Ia melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di tempat berkuasa di sebelah kanan Allah.” 56 "Lihat," kata Stefanus, "saya melihat surga terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah!" Allah masih menunggukan pria dan wanita seperti Stefanus yang dapat melayani Dia penuh iman, anugerah, kebijaksanaan dan penuh Roh Kudus yang memiliki keberanian tanpa batas. Marilah kita berdoa.