Konsekuen Dosa di Gereja
Published by Stanley Pouw in 2016 · 20 March 2016
Kisah Para Rasul 5:5-14
Kisah Para Rasul 5:5-14 mengatakan, “Begitu Ananias mendengar kata-kata itu, ia jatuh, lalu mati. Semua orang yang mendengar tentang kejadian itu menjadi takut. 6 Maka orang-orang muda datang membungkus mayat Ananias, lalu membawanya ke luar untuk menguburkannya. 7 Kira-kira tiga jam kemudian istrinya masuk. Ia tidak tahu apa yang baru terjadi. 8 Petrus berkata kepadanya, "Coba beritahukan kepada saya: Apakah tanah yang engkau dan suamimu jual itu, sebanyak ini harganya?" “Betul, itu harganya," jawab istri Ananias. 9 Lalu Petrus berkata kepadanya, “Mengapa engkau dan suamimu sepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Dengarlah! Orang-orang yang menguburkan suamimu sudah kembali. Mereka akan membawa engkau ke luar juga."
“10 Saat itu juga istri Ananias itu jatuh dan mati di depan Petrus. Dan waktu orang-orang muda itu masuk, mereka menemukan dia sudah mati. Lalu mereka membawa mayatnya ke luar dan menguburkannya di samping suaminya. 11 Maka semua orang-orang percaya itu dan orang-orang lainnya, yang mendengar tentang peristiwa itu, menjadi takut. 12 Karena pelayanan rasul-rasul maka banyak keajaiban dan hal-hal luar biasa terjadi di antara masyarakat. Dengan sehati semua orang percaya berkumpul di Serambi Salomo di Rumah Tuhan. 13 Dan orang luar tidak ada yang berani datang berkumpul dengan orang-orang percaya itu. Tetapi orang-orang percaya itu sangat dihormati oleh masyarakat. 14 Dan makin lama makin bertambah banyak orang-orang yang percaya kepada Tuhan--baik laki-laki maupun wanita.”
Membunuh orang pada waktu persembahan, menakutkan orang di gereja dan menakutkan orang-orang diluar gereja kedengarannya aneh. Namun ternyata, tindakan ilahi macam itu dimana ada penghakiman di gereja, malah dipakai Allah untuk menambahkan lebih banyak orang percaya. Ini kejadian berdosa pertama dalam sejarah gereja, Namun ini bukan dosa pertama. Selalu ada dosa sejak hari Pentakosta meskipun mereka telah ditebus, mereka tetap orang berdosa. Namun ini dosa pertama yang tercatat di KPR.
Gereja didirikan di hari Pentakosta. Allah sedang bekerja dan sesuatu yang luar biasa terjadi. Pada mulanya ada 120 orang percaya. Kemudian itu menjadi 3000 dan setelah Petrus berkhotbah lagi Allah menambahkan lagi 5000 lelaki. Ditambah wanita dan anak-anak itu berarti gereja sekarang sebesar 20,000 orang, dan keadaannya semua berkembang dan penuh sukacita. KPR 4:32-37 berakhir dengan kesatuan yang luar biasa di gereja itu. Mereka semua satu hati dan satu jiwa. Semua orang rela untuk menjual milik mereka. Ayat 34 mengatakan, “Dan tidak ada seorangpun dari antara mereka yang kekurangan apa-apa.”
Dengan latar belakang pekerjaan Allah yang menakjubkan di gereja mula-mula ini terjadilah hari Minggu yang menakutkan itu. Karena sifatnya dosa kemunafikan itulah gereja selalu harus mengingat hal itu. Itu dibukakan karena Tuhan membukakannya. Biasanya kemunafikan itu berlangsung lama sekali. Bahkan dalam beberapa kasus, itu tidak pernah ketahuan karena kemunafikan itu dipelihara dengan baik. Berdasarkan sifatnya, kemunafikan itu tersembunyi, itu menyamar. Namun Allah membenci kemunafikan, bahkan juga ditahun-tahun pertama sejarah manusia.
Kemunafikan harus diekspos, dan itu harus dihakimi, demi orang munafik itu dan demi gereja. Banyak tempat yang menamakan diri gereja sekarang mengundang banyak orang yang berpura-pura tertarik akan Yesus Kristus dan tidak pernah memperingati mereka akan kemunafikan. Ide masa kini adalah supaya setiap orang merasa nyaman dan mengundang mereka yang ingin tahu Yesus secara dangkal. Namun sikap Allah terhadap kemunafikan tidak seperti itu. Kemunafikan itu harus dibukakan demi kesehatan gereja.
Memiliki orang-orang di gereja yang hanya pura-pura berkomitmen itu merugikan. Mungkin itu terasa baik, namun hal ini tidak menolong gereja. Ini menyebabkan injil tidak diberitakan secara efektif karena orang-orang bingung apakah kekristenan itu sebenarnya. Apa yang tidak terlihat jauh lebih bahaya dari pada apa yang terlihat. Dan kemunafikan itu benar-benar menghilangkan kuasa dan kesaksian dari gereja itu, karena melalui rancangan itu tidak kelihatan.
Jadi marilah kita melihat dulu kepada berpura-pura yang penuh dosa, KPR 5:1-2, “Tetapi ada seorang laki-laki bernama Ananias. Ia dengan istrinya bernama Safira, menjual juga sebidang tanah kepunyaan mereka. 2 Uang dari penjualan itu sebagiannya ia tahan untuk diri sendiri dan yang lainnya ia serahkan kepada rasul-rasul. Ia lakukan itu dengan setahu istrinya.” Didepan keindahan yang terjadi sebelumnya ada kata “tetapi”. Dua orang percaya dari gereja itu berbohong kepada Roh Kudus. Mereka orang percaya munafik.
Ada pujian yang diberikan kepada orang-orang yang berkorban dan Ananias dan Safira juga ingin mendapatkan pujian itu. Jadi mereka memutuskan untuk menjual sebidang tanah dan mereka mengatakan kepada orang-orang bahwa mereka akan memberi seluruh hasil penjualan itu kepada Allah, namun ini seluruhnya hanya pura-pura saja. Mereka seperti orang Farisi di Matius 6:1, “Ingatlah, jangan kalian melakukan kewajiban agama di depan umum supaya dilihat orang. Kalau kalian berbuat begitu, kalian tidak akan diberi upah oleh Bapamu di surga.” Dosa itu bukan karena mereka tidak memberi seluruhnya. Tidak perlu diberi semuanya. Namun jika berbohong mengenai hal itu, ya itu dosa.
Mereka sudah bersumpah kepada Roh Kudus untuk memberi seluruhnya, dan ini hanya suatu tipuan didepan jemaat dan para rasul sambil mereka diam-diam hanya memberi sebagian saja. Mereka menginginkan status spiritual. Mereka ingin dipuji-puji dan dihargai seperti orang lain yang telah melakukan itu. Mereka cari martabat. Mereka ingin orang menganggap mereka saleh dan murah hati dan berkorban, namun mereka hanya ingin supaya kelihatannya mereka telah mengorbankan semuanya.
Ini mencoba untuk menciptakan kesan bahwa Anda sesuatu yang bukan Anda. Anda melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dilakukan, Anda memberi sesuatu yang Anda tidak memberi. Jadi apakah Iblis mulai merubah penganiayaan dari luar menjadi penganiayaan dari dalam? Apakah hasilnya penganiayaan terhadap gereja itu? Itu malah memberi kekuatan kepada gereja dan memperbesar gereja. Ada pepatah lama yang mengatakan, “darah para martir membangun gereja,” dan memang itu benar sekali.
Jadi penganiayaan gereja bagi Iblis itu kontraproduktif. Dia pasti akan melakukan itu lagi dan dia telah melakukan itu sepanjang sejarah, namun gereja yang dianiaya adalah gereja yang murni, dan gereja murni adalah gereja yang kuat dan gereja yang bertumbuh. Jadi Setan memutuskan bahwa penganiayaan dari luar tidak menghasilkan banyak, jadi dia masuk ke dalam gereja supaya merusak gereja itu dari dalam. Yang dibenci Allah adalah dosa kemunafikan oleh orang percaya.
Jadi kita melihat orang-orang yang pura-pura berrohani di dua ayat pertama. Kemudian kita melihat ada persepsi rohani yang datang cepat di ayat 3 dan 4, “Maka Petrus berkata kepadanya, "Ananias, mengapa kaubiarkan Iblis menguasai hatimu, sampai kau berdusta kepada Roh Allah, dengan diam-diam menahan untuk dirimu sendiri sebagian dari uang penjualan tanah itu? 4 Tanah itu engkau punya sebelum engkau menjualnya. Dan sesudah tanah itu dijual pun, uangnya masih engkau punya juga. Jadi mengapa ada maksud di dalam hatimu untuk berbuat yang seperti itu? Bukan manusia yang engkau dustai, tetapi Allah!”
Petrus langsung tahu ada penipuan. Bagaimana dia tahu hal itu? Roh Kudus sedang bekerja disini dan dia diberi kemampuan untuk mengetahui hal itu. Petrus itu sangat berani karena keadaannya di gereja sedang berlangsung baik. Mungkin saja Petrus berpikir, “Sebenarnya lebih baik mereka menjual tanah itu dan kita dapat apa yang kita dapat. Memang Ananias dan Safira adalah angota jemaat yang cukup kaya. Kita ingin menghargai mereka.” Namun itulah pikiran orang yang berkompromi dan yang mencari-cari dalih.
Orang Kristen tidak dapat dikuasai setan dalam arti kata bahwa setan-setan itu dapat tinggal di dalam mereka secara permanen, namun mereka bisa dipengaruhi kuasa gelap atau dipengaruhi Iblis. Paulus mengatakan di Efesus 6:11-12, “Pakailah seluruh perlengkapan perang yang diberikan Allah kepadamu, 12 Sebab kita berjuang bukannya melawan manusia, melainkan melawan kekuatan segala setan-setan yang menguasai zaman yang jahat ini. Kita melawan kekuatan roh-roh jahat yang menguasai ruang angkasa.”
Ananias dan Safira telah memberi tempat kepada Iblis. Mereka mementingkan uang dan mereka serakah dan mereka juga pembohong. Namun sebenarnya mereka adalah pencari kemuliaan, dan itu buruk. Orang yang mencari kemuliaan mengotori gereja. Jujurlah sebaiknya. Ketiga, akan datang penghukuman langsung. Allah bergerak cepat untuk mengadakan operasi. Potonglah kanker munafik itu dari penciptaan indah ini, yaitu tubuh Kristus. Penghakiman itu cepat dan terminal.
KPR 5:5, “Begitu Ananias mendengar kata-kata itu, ia jatuh, lalu mati. Semua orang yang mendengar tentang kejadian itu menjadi takut.” Boleh dibilang dia mati karena serangan jantung atau boleh dibilang Allah membunuh dia, namun apapun juga yang terjadi dia pasti ketakutan sekali pada saat itu sehingga dia langsung meninggal. Safira tidak ada disitu, Dia tidak muncul sampai tiga jam kemudian. Ayat 6, “Maka orang-orang muda datang membungkus mayat Ananias, lalu membawanya ke luar untuk menguburkannya.”
Inilah ilustrasi bagaimana orang Yahudi memperlakukan mayat. Orang-orang muda membawa dia kepada tempat yang sudah ditentukan dan mereka menguburnya. Hal itu makan waktu kira-kira tiga jam dan isterinya masuk tanpa tahu apa yang telah terjadi. Ayat 7-8, “Kira-kira tiga jam kemudian istrinya masuk. Ia tidak tahu apa yang baru terjadi. 8 Petrus berkata kepadanya, "Coba beritahukan kepada saya: Apakah tanah yang engkau dan suamimu jual itu, sebanyak ini harganya?" "Betul, itu harganya," jawab istri Ananias.”
Kemudian Petrus mengatakan kepadanya di ayat 9-10, “Mengapa engkau dan suamimu sepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Dengarlah! Orang-orang yang menguburkan suamimu sudah kembali. Mereka akan membawa engkau ke luar juga." 10 Saat itu juga istri Ananias itu jatuh dan mati di depan Petrus. Dan waktu orang-orang muda itu masuk, mereka menemukan dia sudah mati. Lalu mereka membawa mayatnya ke luar dan menguburkannya di samping suaminya.”
Perhatikanlah pertanyaan itu di ayat 9, “Mengapa engkau dan suamimu sepakat untuk mencobai Roh Tuhan?” Apakah Anda memikir Anda dapat menipu Roh Kudus, Roh Allah? Dari permulaan hari Pentakosta, ketika Roh Allah itu datang, ada kenyataan-kenyataan yang kelihatan dari kuasa Roh itu. Berbagai bahasa diucapkan orang yang tidak diketahui. Ada suara keras seperti angin badai. Ada gempa bumi. Ada tanda-tanda ajaib dan mujizat-mujizat yang dilakukan oleh para rasul. Sudah jelas sekali bahwa Roh Kudus itu hadir dan kuat sekali.
Mungkin orang bisa berkata, Yah ini akhirnya. Tidak ada harapan lagi bagi gereja ini. Orang-orang pasti pada lari. Mereka akan menjauhkan diri.” Apakah Anda tahu bahwa perintah pertama bagi gereja adalah untuk menghadapi dosa? Proses itu dibicarakan di Matius 18. Namun sedikit sekali gereja melakukan hal itu karena mereka mengatakan bahwa orang-orang akan meninggalkan gereja itu. Jika kita menghadapi dosa orang-orang akan lari dan siapakah kita untuk menghakimi mereka? Tetapi 1 Korintus 5:6 mengatakan jika kita tidak melakukan itu, “Ragi yang sedikit membuat seluruh adonan mengembang!”
Jadi kita belajar ada ‘berpura-pura yang berdosa’ yang diikuti ‘persepsi rohani ‘ dari Petrus yang mengakibatkan ‘hukuman langsung’ yang menghasilkan sekarang hal keempat, yaitu ‘pembersihan serius.’ Di ayat 5 dikatakan “Semua orang yang mendengar tentang kejadian itu menjadi takut.” Takut besar kepada Allah. Dan di ayat 11 dikatakan, “Maka semua orang-orang percaya itu dan orang-orang lainnya, yang mendengar tentang peristiwa itu, menjadi takut.” Jadi dua kali hal yang sama dikatakan di ayat 5 dan ayat 11. Ini adalah ketakutan ilahi akan Allah.
Apakah yang kita belajar dari kejadian ini? Allah benci dosa dari umat-Nya. Mereka mengkorup gereja-Nya. Allah benci kemunafikan. Allah benci dusta dan Allah menghukum dosa. Ada orang yang mati saat ada Perjamuan Kudus. Ada dosa yang mengakibatkan orang langsung mati. Kemurnian itu kritis bagi gereja dan kritis untuk kekuatan di gereja dan kesaksian dari gereja. Memang kita bukan orang sempurna, namun janganlah kita munafik.
Tuhan akan membukakan dosa dan kita semua karus ikut dalam hal itu. Jika saudara seimanmu berdosa, pergilah kepada dia, bawalah dua tau tiga saksi, beritahukanlah gereja kalau tidak ada hasil, dan kejarlah kemurnian di gereja. Apakah hukuman Allah itu menghancurkan gereja? Tidak. Ayat 12, “Karena pelayanan rasul-rasul maka banyak keajaiban dan hal-hal luar biasa terjadi di antara masyarakat. Dengan sehati semua orang percaya berkumpul di Serambi Salomo di Rumah Tuhan.” Disitulah mereka kembali ke tempat yang sama dimana kita melihat Petrus bersama mereka di KPR 3. Mereka semua bersama dengan satu hati.
Setelah dosa itu diurus, dan korupsi dihilangkan, dan orang-orang munafik mati, mereka bersama lagi seperti dulu. Nah tanda-tanda dan mujizat-mujizat mulai lagi. Semua orang disatukan kembali. Ayat 13, “Dan orang luar tidak ada yang berani datang berkumpul dengan orang-orang percaya itu. Tetapi orang-orang percaya itu sangat dihormati oleh masyarakat.” Apakah hal itu baik? Itu bertentangan dengan strategi perkembangan gereja benar? Namun itu bukan tempat dimana orang-orang yang tidak percaya bisa merasa nyaman. Mereka tidak memiliki strategi perkembangan gereja. Surat-surat pastoral masih belum dituliskan saat itu.
Orang-orang sangat menghargai kemurnian mereka dan moralitas mereka dan kebajikan mereka. Dan itulah yang kita inginkan. Kita ingin supaya dunia melihat kesatuan kita. Kita ingin supaya dunia dapat melihat kemurnian kita. Kita ingin supaya dunia melihat kita adalah satu kelompok orang yang percaya Tuhan Yesus Kristus yang mengaku Dia sebagai Tuhan dan Yang berkuasa, dan kita adalah hamba-hamba-Nya yang mengasihi dan setia. Dia memanggil kita untuk kesalehan dan kita mengejar kesalehan itu.
Jadi mereka menghargai kesatuan kita dan kemurnian kita. Itulah rencana Tuhan bagi gereja dan itu memang berhasil. Ayat 14, “Dan makin lama makin bertambah banyak orang-orang yang percaya kepada Tuhan--baik laki-laki maupun wanita.” Siapakah yang menambahkan kepada gereja itu? Tuhan. Kalau kita bertoleransi terhadap dosa, itu mengundang orang-orang yang tidak percaya. Namun itu sama sekali bertentangan dengan tindakan Allah sendiri di Kisah Para Rasul.
Seorang pendeta benar, seorang gembala tulen tidak akan mengecualikan siapapun juga. Dia akan melakukan segalanya sesuai dengan perintah Allah. Lihatlah 2 Korintus 13:5, “Coba kalian menguji diri sendiri apakah kalian betul-betul hidup berdasarkan percaya kepada Kristus! Apakah Anda tidak menyadari bahwa Kristus Yesus ada di dalam kalian! Lain halnya kalau memang kalian gagal dalam ujian itu.” Anda sebaiknya menguji diri apakah Anda adalh orang percaya sejati atau tidak karena pada saat Aku datang itu adalah pendekatan langsung, Saya tidak peduli siapakah Anda.
Dalam kisah Ananias, biasanya mereka adalah jenis orang yang para pemimpin tidak ingin menyebabkan merasa tersinggung karena mereka orang kaya. Namun lihatlah apa yang terjadi mengenai pertumbuhan gereja. KPR 6:7, “Demikianlah berita dari Allah semakin tersebar dan pengikut-pengikut Yesus di Yerusalem pun semakin bertambah banyak. Dan banyak pula imam-imam yang percaya kepada Yesus.” KPR 8:6, “Ketika orang-orang mendengar Filipus berbicara dan mereka melihat keajaiban-keajaiban yang dibuatnya, banyak dari mereka yang memperhatikan apa yang dikatakan oleh Filipus.”
Bacalah di Wahyu di surat-surat kepada gereja-gereja, dan Anda akan melihat bagaimana Tuhan sendiri mengatakan ketika gereja itu tidak murni, Dia sendiri akan datang dan berperang melawan gereja itu dengan pedang di mulut-Nya. Namun pada saat yang sama ampunilah mereka yang sudah diampuni Kristus. Ini adalah tempat untuk menghadapi dosa dan juga pengampunan dan anugerah dan pemulihan. Marilah kita berdoa.