Bagaimana Menangani Penganiayaan
Published by Stanley Pouw in 2016 · 28 February 2016
Kisah Para Rasul 4:1-12
Sekarang kita tiba di Kisah Para Rasul 4, Penganiayaan adalah bagian intrinsik dari Kekristenan dan dari dulu memang selalu begitu. Dan disini kita mendapat beberapa kebenaran dalam contoh para rasul sebagaimana mereka menangani penganiayaan. Sebenarnya penganiayaan adalah berkat bagi gereja-gereja dan semua orang percaya. Lima kali dalam sebelas tahun gereja Yerusalem dianiaya secara teratur. Dan disini kita belajar tentang permulaan penganiayaan itu yang masih terjadi di masa kini, 2000 tahun kemudian.
Ada sepuluh penganiayaan besar selama 300 tahun pertama keberadaan gereja. Mulai dengan Stevanus dan termasuk hampir semua para rasul, kematian sebelum waktunya untuk orang Kristen adalah cara meninggal yang sudah biasa. Penganiayaan pertama terjadi dibawah Nero Domitius, kaisar keenam dari Roma di kira-kira tahun 67 S.M., yaitu tidak lama sesudah gereja didirikan.
Itu hanya permulaan dari apa yang dialami gereja. Dan penganiayaan Iblis telah menjadi semakin halus semakin waktu itu berlalu. Tidak begitu jelas bagaimana caranya Iblis itu menganiaya sekarang. Namun di masa kini teknik Setan itu tampaknya jauh lebih sukses. Nah ini permulaan dari penganiayaan terus menerus yang telah terjadi sejak gereja didirikan. Dengan berbagai cara gereja Kristen selalu dianiaya.
Penganiayaan tidak selalu berhubungan dengan politik. Adakalanya itu pribadi. Terkadang itu agama, Dan mungkin juga itu datang dari Kekristenan yang tidak sah. Penganiaya terbesar terhadap Kekristenan evangelis sekarang adalah Kekristenan liberal, setidaknya disini di Amerika. Iblis biasanya mengarahkan penganiayaan itu bukan kepada tubuh fisik kita, melainkan kepada diri kita. Penganiayaan ditujukan kepada kesombongan atau reputasi atau status, dsb. Dan itu benar-benar sangat efektif.
Jadi hari ini penganiayaan tidak membuat pahlawan dari siapapun. Dan meskipun gereja sekarang tidak dibunuh secara fisik, gereja itu telah menyerah kepada hidup semacam kematian rohani. Ilustrasi yang tepat adalah gereja Sardis di Wahyu 3:1, “Kepada malaikat jemaat di Sardis, tulislah begini: Inilah pesan dari Dia yang mempunyai ketujuh roh dari Allah dan ketujuh bintang itu. Aku tahu apa yang kalian lakukan. Katanya kalian hidup, padahal kalian mati!”
Iblis telah mematikan gereja itu dalam hal menyebabkan tidak ada efek rohani tanpa perlu ada pembunuhan orang Kristen didalamnya. Bahkan dengan membiarkan mereka hidup dalam sejenis Kekristenan tanpa allah, efeknya lebih besar daripada pembunuhan mereka semua. Jadi Iblis yang dulu menganiaya dengan membunuh orang Kristen, telah menemukan cara menghancurkan gereja yang lebih efektif dengan membiarkan mereka menjadi puas, malas, gemuk, kaya dan berorientasi sosial dan diterima dunia.
Nah Yesus memperingati gereja bahwa akan ada penganiayaan di Yohanes 15:18-19, “Apabila dunia membenci kalian, ingatlah bahwa Aku sudah lebih dahulu dibenci oleh dunia. 19 Sekiranya kalian milik dunia, kalian akan dikasihi oleh dunia sebagai kepunyaannya. Tetapi Aku sudah memilih kalian dari dunia ini, jadi kalian bukan lagi milik dunia. Itu sebabnya dunia membenci kalian.” Ketika orang Kristen mengasihi dunia, Iblis telah mencapai penganiayaan yang lebih besar daripada jika orang itu dibunuh karena sekarang dia tidak ada efek baik lagi. Malah dia telah dijadikan negatif.
Dan Paulus mengatakan di 2 Timotius 3:12, “Memang semua orang yang mau hidup beribadat dan hidup bersatu dengan Kristus Yesus akan dianiaya.” Ya itu pernyataan yang jelas sekali. Mungkin Anda mengatakan, ya saya sudah menjadi orang Kristen dan saya tidak mengalami penganiayaan. Coba bacalah ayat itu lagi, “semua orang yang mau hidup beribadat dan hidup bersatu dengan Kristus Yesus akan dianiaya.” Jadi kalau Anda masih belum mengalami penganiayaan, itu adalah karena Anda tidak hidup saleh bersatu dengan Yesus Kristus.
Jika Anda hidup dalam Kristus sesuai dengan keinginan Allah, Anda dengan sendirinya akan berlawanan dengan dunia dan sistem dunia karena sifat hidup seperti itu. Dan jika Anda tidak mengalami penganiayaan sedikitpun, mungkin Anda telah mengikuti arah sistem duniawi itu sehingga mereka tidak tahu perbedaannya atau mereka masih belum tahu siapakah Anda sebenarnya. Anda telah menyembunyikan hal itu. Namun pada saat Anda hidup terbuka bagi Allah di dalam dunia maka Anda akan melawan dunia dan otomatis penganiayaan itu akan terjadi.
Kita melihat hal itu di gereja mula-mula. Jika Anda benar-benar hidup kehidupan Kristen, dunia akan tertarik akan Anda, kepada sifat mengasihi Anda. Namun begitu mereka tahu kepercayaan Anda, tiba-tiba apa yang menarik bagi mereka, kecuali jika mereka mejadi Kristen, itu akan mejadi sesuatu yang negatif. Gereja mula-mula di KPR 2 dan 3 kelihatannya sangat positif. Dunia kagum melihat mereka dan semua orang senang, Kemudian tiba-tiba orang-orang tahu kepada siapa gereja itu percaya dan semuanya berubah cepat.
Nah di KPR 3, Petrus bersama Yohanes telah pergi ke tempat ibadat dimana dia telah menyembuhkan orang lumpuh itu. Banyak orang berkerumunan di halaman. Dan Petrus dan Yohanes berdiri di serambi Solome dan ditengah mereka berdiri orang yang telah disembuhkan ketika Petrus mulai berkhotbah. Dan dia memberitakan pesan yang kuat mengenai Yesus sebagai Mesias atau Kristus. Dan dia menuduh orang Israel karena mengeksekusi Kristus. Dan dia mengakhiri itu dengan mengundang mereka di ayat 19, “bertobatlah dan jadilah dikonversi.”
Lihatlah bagaimana dia menghadapi dunia. Dia berdiri ditengah-tengah tempat ibadah mereka dimana mereka melakukan tugas agama mereka dan dia mengatakan ini semua salah, dan dia menghadapi mereka muka ke muka. Yang diharapkan Allah kita lakukan adalah semacam konfrontasi seperti itu. Ini bukan pesan lemah untuk melindungi egoisme kita, status kita dan martabat kita.
Tanggapan terhadap pesan Petrus kita dapat melihat di KPR 4:4, “Tetapi orang-orang yang sudah mendengar ajaran rasul-rasul itu, banyak yang percaya. Maka jumlah mereka bertambah sampai menjadi kira-kira lima ribu orang.” Nah, inilah yang kita ingin terjadi. Kalau kita tidak mengatakan apa-apa, bukan saja kita tidak menderita, akan tetapi tidak ada orang yang diselamatkan juga. Anda mengatakan jika Aku melakukan itu mungkin saja saya celaka. Memang benar. Anda mungkin celaka dan orang lain mungkin diselamatkan. Dan saudara-saudaraku, hidup kita semua bisa saja dikorbankan.
Jadi jumlah anggota pria gereja pada saat itu adalah lima ribu orang. Jadi ditambahkan itu bisa saja ada paling sedikit lima ribu wanita dan anak-anak. Sejak waktu itu gereja berkembang begitu cepat sampai tidak mungkin lagi ada daftar anggota gereja yang akurat. Namun banyak orang percaya dan itulah reaksi saat itu. Nah itu layak harga yang dibayar Petrus.
Marilah sekarang kita lihat KPR 4:1-2, “Sementara Petrus dan Yohanes masih berbicara dengan orang-orang itu, imam-imam kepala dan komandan pengawal Rumah Tuhan serta orang-orang Saduki datang kepada Petrus dan Yohanes. 2 Mereka marah sebab Petrus dan Yohanes mengajar orang-orang bahwa Yesus sudah hidup kembali dari kematian. Dan itu membuktikan bahwa orang mati akan hidup kembali.”
Lihatlah siapa saja yang terlibat. Disitu dikatakan, imam-imam kepala yang seharusnya mewakili Allah, ini menunjukkan sudah betapa buruknya imamat. Orang kedua adalah komandan pengawal tempat ibadah itu. Ini adalah oposisi politik. Nah memang pemerintah Romawi itu sangat toleran, namun mereka kejam dalam menghadapi kerusuhan umum. Kemudian kita melihat orang-orang Saduki, sekte Israel yang berkuasa. Mereka adalah keluarga Imam besar.
Mereka kelompoknya kecil namun pengaruh politik mereka besar di Israel. Mereka percaya bahwa hanya hukum yang tertulis mengikat dan bukan tradisi mulut sehingga mereka tidak percaya hukum orang rabi, yang diikuti orang Farisi dalam kehidupan dan kematian. Mereka juga tidak percaya ada kebangkitan tubuh. Ketiga, mereka tidak percaya ada malaikat dan roh-roh jahat. Dan terakhir mereka percaya bahwa manusia sajalah yang menguasai nasib masing-masing, jadi mereka tidak percaya kuasa Allah.
Orang beragama liberal ini marah sekali karena “Petrus dan Yohanes mengatakan kepada orang-orang bahwa Yesus sudah hidup kembali dari kematian.” Nomor satu, ayat 2 mengatakan, “mereka mengajar orang-orang.” Mereka percaya bahwa hanya mereka berhak untuk mengajar. Lihatlah ayat 13, “Anggota-anggota Sidang Pengadilan itu heran melihat keberanian Petrus dan Yohanes, apalagi mereka tahu bahwa kedua rasul itu adalah orang-orang bodoh yang tidak berpendidikan.” Tidak berpendidikan berarti mereka tidak tahu hukum-hukum Yahudi dan tulisan suci. Mereka bukan orang teolog Yahudi.
Dan kata kedua “bodoh” berarti mereka adalah amatir yang tidak pernah ke sekolah. Dan yang lebih buruk lagi adalah mereka berasal dari Galilea yang dianggap daerah yang terbelakang. Dan mereka marah karena Petrus berlawanan teologi mereka. Petrus memberitakan Yesus dan melalui Yesus juga kebangkitan-Nya dan mereka benci hal itu. Mereka telah menentukan bahwa Yesus adalah penghujat dan disini Petrus memberitakan di seluruh kota bahwa Yesus adalah Mesias dan kalian semua telah membunuh Mesiasmu.
Dan ketiga, mereka tidak suka ide kebangkitan itu. Petrus terus menerus mengatakan bahwa Yesus itu hidup. Itu pikiran yang menakutkan karena apa yang menghalang-Nya untuk membalas dendam yang patut mereka terima? Dan mereka tahu mereka munafik. Jadi mereka berreaksi. Ayat 3, “Maka mereka menangkap kedua rasul itu lalu memasukkannya ke dalam penjara. Dan karena sudah malam, maka Petrus dan Yohanes ditahan di situ sampai besoknya.” Jadi tiga jam berlalu sebelumnya mereka ditangkap.
Jadi penganiayaan itu mulai namun pada saat yang sama lima ribu pria percaya. Masuk penjara tidak menghilangkan efek itu dan itu tidak menghalang kemajuan pengabaran injil. Ini pertama kali dimana penganiayaan hanya memperbesar dan membangun gereja daripada menghancurkannya. Ini membawa pertumbuhan. Pencobaan dan penganiayaan bagi seluruh gereja adalah cara Allah untuk mendewasakan seluruh gereja-Nya.
Ada banyak alasan mengapa penganiayaan mengakibatkan pertumbuhan nyata. Pertama karena itu menghilangkan semua bobot mati. Jika orang harus mempertaruhkan nyawa mereka sendiri bagi Yesus Kristus, maka hanya mereka yang terus setia adalah mereka yang mau melakukan itu, benar? Cara tercepat untuk menghilangkan lalang adalah dengan gandum itu membayar harga pemuridan total dan itu menyebabkan lalang itu dengan sendirinya akan hilang karena mereka memang tidak berkomitmen total.
Sekarang lihatlah ada tujuh prinsip-prinsip dalam menangani penganiayaan. Nomor satu, jika penganiayaan itu datang, serahkanlah dirimu. Ayat 3, “Maka mereka menangkap kedua rasul itu lalu memasukkannya ke dalam penjara.” Disitu tidak dikatakan Petrus dan Yohanes melawan dan terjadi pergumulan. Tidak, maka Petrus dan Yohanes ditahan di situ sampai besoknya. Mereka tahu bahwa penangkapan mereka adalah di dalam tangan Allah. Ayat 5-6, “Besoknya tokoh-tokoh Mahkamah Agama, pemimpin-pemimpin Yahudi dan guru-guru agama berkumpul di Yerusalem. 6 Mereka bertemu dengan Imam Agung Hanas, serta Kayafas, Yohanes, Aleksander, dan semua yang termasuk keluarga imam agung itu.”
Sanhedrin itu terdiri dari pemimpin-pemimpin Yahudi dan guru-guru agama. Ini adalah Mahkamah Agung orang-orang Yahudi. Bahkan di waktu Romawi mereka berhak untuk menangkap orang. Anggotanya 70 orang kemudian ada Imam Besar yang menjadi presiden, jadi semuanya ada 71 orang. Dan termasuk di dalamnya adalah imam-imam dan ahli-ahli Taurat. Dan para penatua adalah wakil masyarakat. Dan ini termasuk juga keluarga imam.
Jadi mereka berkumpul di sidang Mahkamah Agung itu dan mereka membawa Petrus dan Yohanes. Ayat 7 mengatakan, “Petrus dan Yohanes dibawa menghadap mereka, lalu mereka bertanya, "Bagaimana caranya kalian menyembuhkan orang lumpuh itu? Dengan kekuatan apa atau dengan kekuasaan dari siapa kalian lakukan itu?” Jadi Allah telah memberikan mereka kesempatan indah ini untuk berkhotbah kepada Sanhedrin itu. Tidak mungkin ada kesempatan untuk memberitakan kabar baik kepada orang-orang itu kecuali dengan cara ini. Karena itu kita harus menyerahkan diri dalam penganiayaan.
Wah itu pertanyaan baik. Dengan kekuatan apa atau dengan kekuasaan dari siapa kalian lakukan itu? Itu pertanyaan yang tepat supaya Petrus dapat berkhotbah. Prinsip kedua dalam menangani penganiayaan adalah “dipenuhi Roh. Ayat 8-9, “Petrus, yang dikuasai oleh Roh Allah, menjawab, "Tuan-tuan pemimpin bangsa dan Tuan-tuan anggota mahkamah! 9 Kami diadili hari ini karena berbuat baik untuk menolong seorang lumpuh, dan karena Tuan-tuan mau tahu bagaimana orang itu disembuhkan.”
Ini berarti menyerah, Aku menyerah kepada-Mu Roh Kudus. Setiap orang Kristen memiliki Roh Kudus didalamnya. Dia berada di kita untuk menguatkan kita, dan pada saat kita menyerah kepada kuasa-Nya, Dia memberikan kita kekuatan. Petrus dan Yohanes menyadari bahwa mereka berlawanan dengan kepercayaan yang ada disekitar mereka. Mereka bentrok dan mereka tidak lari dan bersembunyi. Mereka berdiri disana. Dan mereka menyerah dan mereka dipenuhi Roh. Mereka menang.
Ayat 10, “Nah, Tuan-tuan sekaliannya harus tahu dan semua bangsa Israel pun harus tahu bahwa orang ini berdiri sekarang ini dengan badan yang sehat di depan Tuan-tuan, karena kekuatan dan kekuasaan dari Yesus Kristus orang Nazaret itu. Tuan-tuan sudah menyalibkan Yesus itu, tetapi Allah sudah menghidupkan Dia kembali.” Petrus pada permulaan menyatakan bahwa penganiayaan ini tidak adil karena di ayat 9 dia menyatakan mereka hanya berbuat baik. Kemudian di ayat 10 dengan berani dia memberitakan fakta-faktanya. Dan dia tidak merubahkan tuduhan bahwa Israel bersalah dengan membunuh Kristus.
Prinsipnya adalah janganlah menyesuaikan berita injil dengan menghilangkan sesuatu yang menyinggung seseorang. Kemudian sepertinya dia memperbesar kesalahan mereka di ayat 11 dan 12 dia mengutip Mazmur 118:22 yang berada di dalam nubuatan mereka sendiri, dan menyimpulkan, “Yesus inilah yang dimaksudkan oleh ayat ini dalam Alkitab, 'Batu yang tidak terpakai oleh kamu tukang-tukang bangunan, ternyata menjadi batu yang terutama.' 12 Hanya melalui Yesus saja orang diselamatkan. Sebab di seluruh dunia di antara manusia tidak ada seorang lain pun yang mendapat kekuasaan dari Allah untuk menyelamatkan kita.”
Itulah nubuatan tentang kematian dan kebangkitan sang Mesias. Dan batu penjuru suatu bangunan yang tidak sempurna akan dibuang karena segala sesuatu di bangunan itu akan juga tidak sempurna seluruhnya. Jadi nubuatan itu mengatakan bahwa Yesus adalah batu penjuru itu, namun para pembangun menolak-Nya karena mereka anggap itu tidak sempurna. Namun Allah mengembalikannya dan menjadikannya batu perjuru. Itu khususnya terjadi dengan Yesus. Mereka menolak-Nya. Namun Allah membangkitkan-Nya dari antara orang mati dan menciptakan tempat ibadah baru, yaitu gereja menurut Efesus 2:20.
Dan Petrus mengatakan pada dasarnya jika kalian tidak berbalik kepada Yesus kalian semua terkutuk. Tidak ada jalan lain. Orang-orang selalu menuduh bahwa orang-orang Kristen itu pikirannya picik. Sayangnya, firman Allah yang kita ikuti selalu benar dan segala sesuatu yang melawannya adalah salah. Jadi marilah kita menyerah, dipenuhi Roh dan berani memakai hal itu sebagai kesempatan untuk memberitakan Injil. Inilah cara pertama untuk memenangkan penganiayaan. Marilah kita berdoa.