Nov 03, 2019 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2019
Ditebus dari Kutukan
3 November 2019

Marilah kita berbicara tentang doktrin penebusan ilahi. Jika Anda membaca Mazmur 19, pernyataan terakhir dari Mazmur 19 adalah, “Ya Tuhan, batu karang kami dan Penebus kami.” Banyak tempat dalam Mazmur, Allah disebut sebagai Penebus. Mazmur 78:35 menyebut-Nya Tuhan Yang Mahakuasa yang adalah penakluk dan Penebus Israel. Ayublah yang, di tengah-tengah situasi yang mengerikan itu, berkata, "Saya tahu bahwa Penebus saya hidup."

Bahkan di akhir Lukas, penebusan kembali adalah tema yang sangat penting. Rasul Paulus menulis tentang Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus memberikan diri-Nya bagi kita agar Ia dapat menebus kita. Petrus berkata bahwa kita tidak ditebus dengan perak, emas, dan batu permata, tetapi dengan darah Yesus Kristus yang berharga, Anak Domba yang tidak bercela. Dan di dalam Wahyu 5, kita menemukan di sekitar takhta Allah semua orang-orang kudus yang menyanyikan lagu penebusan baru.

Jadi doktrin penebusan adalah inti dari apa sebenarnya keselamatan itu. Kita mulai dengan ketekunan orang-orang kudus; yang berarti bahwa jika Anda diselamatkan, itu berlaku untuk selamanya. Dan keselamatan kekal kita didasarkan kepada pemilihan kekal, yaitu pilihan Allah yang berdaulat dan kekal di masa lalu. Kita melihat bahwa pemilihan yang berdaulat dan anugerah yang tak tertahankan itu diperlukan untuk keselamatan karena kebejatan manusia total.

Dengan kata lain, manusia tidak sanggup menyelamatkan dirinya sendiri atau memberikan kontribusi apa pun untuk keselamatannya sendiri. Kemudian kita melihat, bahwa jika Allah telah menentukan siapa yang akan Dia selamatkan, jika Allah telah memilih untuk membangkitkan orang-orang berdosa untuk diselamatkan, itu bagi mereka yang Dia sediakan, suatu penebusan benar-benar sehingga Yesus benar-benar mati untuk membayar penuh harga untuk dosa-dosa mereka yang percaya.

Kami juga melihat doktrin kasih ilahi. Di balik itu semua, Allah begitu mengasihi kita. Kasih ilahi itulah yang menyebabkan ada pemilihan ilahi itu. Pemilihan ilahi itu menyebabkan ada ketidakmampuan mutlak untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Pemilihan ilahi itu menyebabkan ada penyediaan pendamaian benar-benar, yang harus dipahami sebagai penebusan orang berdosa. Ketika kita diselamatkan, kita telah ditebus oleh Allah.

Mulai dari Efesus 1:4 dikatakan, “5 Dalam kasih Allah telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, 6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. 7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan anugerah-Nya, 8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita.”

Kita telah diselamatkan dari kerajaan kegelapan. Dalam Perjanjian Lama penebusan itu disebut berkali-kali. Dalam Perjanjian Baru, itu berada di mana-mana. Itu adalah doktrin kritis untuk dipahami dan itu membawa kita kepada inti Injil. Jika kita ingin membahas tentang hidup mengenal Allah, penyelamatan dari dosa, penyelamatan dari penghakiman, menjadi orang percaya sejati dan pengalaman kasih Allah, kita harus benar-benar memahami penebusan itu.

Dan penebusan seluruhnya didasarkan pada pemahaman tentang kondisi manusia. Kita perlu memahami bahwa manusia bersalah di hadapan Allah. Manusia berada di bawah penghukuman, di bawah penghakiman yang adil, karena ia telah berhutang kepada Allah dengan melanggar hukum-Nya dan ia tidak memiliki kemampuan untuk membayar itu sendiri. Satu-satunya harapan adalah kita ditebus, supaya harga yang dibayar orang lain membebaskan kita dari penghakiman.

Dan jika kita tidak mengerti penebusan, maka ini akan menghujat Allah dengan mencuri kemuliaan milik-Nya sebagai Penebus kita. Keselamatan telah menjadi semacam terapi, semacam pengalaman spiritual di mana Yesus membuat orang-orang baik menjadi lebih baik dan orang-orang yang tidak terpenuhi menjadi terpenuhi dan orang-orang tidak puas menjadi merasa puas. Itu adalah pandangan terapeutik tentang keselamatan, tetapi itu bukanlah pandangan Alkitabiah.

Allah bukanlah terapis, Allah adalah sang Penebus. Orang bukan hanya tidak terpenuhi, mereka bukan hanya kurang tujuan. Mereka berada di bawah hukuman yang adil dari Allah. Mereka sedang di hukum mati, menuju ke penghakiman yang layak bagi mereka tanpa ada kemampuan untuk mengubahnya. Dan kemuliaan Injil adalah bahwa Allah adalah Sang Penebus yang telah menyediakan penebusan, pembayaran penuh, supaya kita dapat dibeli kembali dari penghakiman.

Lihatlah Galatia 3. Ini adalah bagian Alkitab yang paling sederhana dan paling polos. Saya khawatir dengan banyak hal yang terjadi atas nama Kekristenan. Dan salah satunya adalah kesalahpahaman tentang doktrin penebusan karena kita tidak terima penilaian kondisi manusia secara akurat sebagai orang berdosa yang membutuhkan Juru Selamat, karena budaya kita sama sekali tidak menyadari hal itu dan benci gagasan itu.

Ketika kita takut untuk mengatakan kebenaran kepada orang-orang tentang kondisi mereka di hadapan Allah, keselamatan itu menjadi hal dangkal. Intinya kita tidak bisa berbicara tentang penebusan jika kita tidak berbicara tentang keputusasaan mereka yang perlu ditebus. Dalam Lukas, orang-orang tidak membenci Yesus dan membunuh-Nya karena mereka benci surga. Itu terjadi karena mereka tidak mau menerima diagnosa kondisi mereka.

Orang-orang Yahudi menyombongkan diri pada kenyataan bahwa mereka orang benar di hadapan Allah, kemudian Yesus datang dan memberi tahu mereka malah hal sebaliknya tentang keadaan mereka, dan itulah sebabnya mereka membunuh Dia. Dan itu tetap merupakan pesan yang tidak populer. Satu-satunya orang yang tidak berdosa yang pernah hidup, yang adalah komunikator terhebat yang pernah hidup, Pribadi dengan wawasan terbesar tentang kebutuhan manusia, yaitu Yesus Kristus, tidak dapat meyakinkan mereka karena itu tidak dapat diterima.

Dan jika orang ingin memahami kebenaran Injil, mereka harus menerima diagnose itu, sehingga mereka mengerti apakah artinya penebusan. Kemudian mereka dapat memuliakan Allah yang patut bagi-Nya sebagai Sang Penebus. Galatia 3:10 mengatakan, “Terkutuklah orang yang tidak mematuhi segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat untuk dilakukannya. 12 Namun, dasar hukum Taurat bukanlah iman; melainkan siapa yang melakukannya akan hidup karenanya.”

Hukum itu bertindak atas nama Allah untuk setiap jiwa, dan semua orang harus bertanggungjawab. Kebanyakan orang berpikir bahwa hukum Allah itu hanya suatu kode etik yang mulia, yang diringkas dalam Sepuluh Perintah. Itu standar hidup yang lebih tinggi yang Allah ingin orang capai. Dan itulah yang diyakini oleh orang-orang Yahudi. Mereka berpikir bahwa mereka telah mencapai setidaknya cukup minat dalam hukum Taurat dan cukup pencapaian dalam mengikuti hukum.

Mereka percaya bahwa Allah akan puas dengan mereka dan bahwa mereka berkenan kepada Allah dan bahwa mereka telah memiliki kebenaran sendiri telah dicapainya melalui upaya mereka untuk mempertahankan mayoritas Hukum Musa. Rabi Yahudi yang khas pada zaman Yesus percaya bahwa hanya orang-orang biasa yang tidak memiliki pengetahuan atau minat pada hukum yang sebenarnya terkutuk.

Mereka membatasi kutukan itu hanya untuk orang yang tidak peduli terhadap hukum. Bahkan, dalam Yohanes 7:49 para pemimpin berkata secara mengejek, "Kebanyakan orang yang tidak tahu hukum ini terkutuk.” Bagi mereka, pengetahuan hukum dan kemampuan untuk mengerti nuansa hukum dan tambahan hukum dengan semua ciri-ciri hukum itu, dalam pikiran mereka sama artinya dengan memenuhi kewajiban mereka terhadap hukum.

Dan hanya mereka yang tidak tahu hukum atau yang tidak peduli, berada di bawah kutukan. Yesus datang dan menghukum mereka semua dengan hukum Taurat, dan mereka karena itu membunuh-Nya. Roma 4:15 mengatakan, “Hukum Taurat membangkitkan murka; karena di mana tidak ada hukum, tidak ada pelanggaran.” Setiap orang di dunia ini dilahirkan dengan sifat dosa dan karena itu berdosa, melanggar hukum, dan karena itu semua orang patut dihukum kekal.

Marilah saya memberi tahu Anda beberapa hal tentang hukum Taurat, karena kita tidak dapat memahami penebusan jika kita tidak memahami kutukan itu. Pertama, hukum menuntut perilaku yang bertentangan dengan sifat Anda. Hukum Allah itu minta supaya Anda melakukan persis apa yang Anda tidak mau lakukan. Hukum itu berlawanan dengan keinginan Anda, nafsu dan hasrat Anda. Hukum itu minta supaya Anda mencintai apa yang Anda benci dan membenci apa yang Anda ingin.

Kedua, hukum mengharuskan perilaku yang mustahil. Ini bukan hanya bertentangan dengan keinginan Anda, tetapi juga bertentangan dengan kemampuan Anda. Anda tidak dapat melakukan hal-hal suci. Perbuatan terbaik Anda hanyalah seperti kain kotor. Anda tidak dapat memikirkan pikiran kudus dan berbicara kata-kata suci. Tidak ada orang di antara kita yang baik, tidak ada sesuatu di dalam diri kita yang baik. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hati, jiwa, pikiran, dan kekuatan dan sesamamu seperti dirimu sendiri” dan kita tidak dapat melakukan itu.

Ketiga, hukum menuntut kesempurnaan. Itu bukan yang kita inginkan, itu mustahil, dan standarnya terlalu tinggi. Matius 5:28, “Jadilah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna,” itulah standarnya. Dan itu tidak pernah berubah. Kita mencoba melakukan apa yang kita tidak ingin lakukan, kita mencoba melakukan apa yang kita tidak sanggup lakukan, dan kita diperintahkan untuk melakukannya secara sempurna, dan semua itu adalah di luar kemampuan kita.

Keempat, hukum tidak menerima niat dan upaya baik sebagai kompensasi. Inilah sebabnya mengapa orang-orang Yahudi salah mengerti. Mereka berpikir bahwa kerinduan kecil mereka terhadap kebaikan, bahwa kegiatan keagamaan mereka, bahwa upaya mereka semua diperhitungkan. Yah memang, mencoba itu ada gunanya di beberapa bidang duniawi, tetapi tidak dalam menjalankan hukum Taurat. Upaya tidak berarti sama sekali. Niat baik tidak ada artinya. Tidak ada tempat kedua dalam hukum.

Nomor lima, hukum Taurat itu tidak menerima rencana bayar nanti. Nah, ada banyak orang yang berpikir, “Iya, saya tahu di masa lalu saya orang jahat, tetapi sekarang saya akan menjadi orang baik. Saya tahu saya telah melakukan banyak hal buruk, tetapi sekarang saya akan melakukan banyak hal baik dan mungkin karena saya melakukan hal-hal baik, mereka akan mengimbangkan hal-hal buruk itu.” Tidak, hutang itu tidak pernah dinegosiasikan. Hutang semua dosa Anda tidak pernah akan lunas.

Sekalipun Anda melanggar hukum Allah sekali saja dalam hidup Anda dan tidak pernah dilakukan lagi, sisa hidup Anda melakukan apa yang benar tidak akan membatalkan apa yang salah, dan apa yang salah itu cukup untuk mengutuk Anda. Atau jika Anda menjalani seluruh hidup Anda dan mematuhi hukum Allah dan melanggarnya sebelum Anda mati, semua pahala yang terakumulasi tidak akan berarti apa-apa. Tidak ada pengembalian uang dan tidak ada pembayaran muka.

Nomor enam, hukum adalah pengawas yang tak henti-hentinya. Tidak pernah dikatakan silahkan libur pekan dan lakukanlah apa yang Anda inginkan. Itu tidak pernah berhenti. Itu tidak pernah meringankan beban. Hukum itu tidak pernah melonggarkan persyaratannya. Itu tidak pernah memberi orang berdosa istirahat sejenak. Itu ketat, tidak berubah dan tak ada henti-hentinya. Itu berlangsung setiap detik, setiap menit, setiap hari sepanjang masa hidup Anda, karena Hukum itu sebenarnya adalah refleksi dari sifat Allah.

Nomor tujuh, hukum menghancurkan kebahagiaan. Ketika Anda benar-benar berada di bawah hukum Taurat, itu menghasilkan rasa malu, rasa bersalah, penyesalan, kesedihan, ketakutan, sakit, keputusasaan, kecemasan dan depresi. Itulah sebabnya orang berdosa di sinagoge itu memukul dadanya sambil berkata, "Tuhan, kasihanilah aku, orang berdosa." Dia tidak memiliki sukacita, tidak ada kedamaian dan tidak ada kebahagiaan. Dia tidak dapat menemukan kelegaan dan karena itu dia memukul dirinya dalam tindakan penyesalan.

Nomor delapan, hukum menuntut hukuman terberat. Hukum hanya memiliki satu hukuman, neraka untuk selamanya. Tidak ada pembebasan bersyarat. Tidak ada waktu istirahat karena perilaku baik. Dan tidak ada orang yang mendapat hukuman lebih dikurangi. Jika Anda melanggar hukum, Anda mendapatkan penilaian kekal. Nomor sembilan, hukum menuntut tetapi tidak membantu. Ini tidak menawarkan apa pun untuk membantu Anda. Itu tidak menolong Anda berubah dan tidak bisa menyelamatkan Anda. Keselamatan adalah oleh iman saja.

Nomor sepuluh, hukum tidak menghiraukan pertobatan orang. Tidak peduli bahwa Anda penuh dengan rasa malu, rasa bersalah, dan penyesalan. Tidak peduli bahwa Anda telah kehilangan sukacita dan kehilangan kedamaian Anda. Tidak peduli seberapa Anda menyesal, betapa hancurnya, betapa menyesalnya, betapa sedihnya Anda, itu tidak dipedulikan. Semua pertobatan tidak dipedulikan. Sepanjang sejarah umat manusia, orang melakukan apa saja yang menurut mereka akan menghilangkan tekanan mengerikan itu yang mereka rasakan.

Nomor sebelas, hukum tidak menawarkan pengampunan. Tidak ada belas kasihan dalam hukum itu dan tidak ada anugerah, itulah sebabnya itu adalah hukum. Karena itu, tidak ada harapan. Tidak ada janji bahwa keadaan akan menjadi lebih baik. Bahwa masa depan akan membaik. Tidak, masa depan akan menjadi lebih buruk. Masa depan itu mengerikan dan itu berlangsung untuk selamanya. Saya berpikir Anda tidak ingin bekerja untuk menuju ke neraka sambil berpikir Anda sedang menuju ke surga.

Dan itulah yang membawa kita ke ayat 13, “Kristus menebus kita dari kutuk hukum Taurat, dengan menjadi kutuk bagi kita.” Sekarang baru Anda mengerti makna kematian Kristus. Dia mati di kayu salib dan membayar hutang Anda dan hutang saya. Itu adalah inti dari Injil Kristen, ini masalah penebusan. Dia menjadi kutukan bagi kita. Dia mengambil hukuman kita. Itu adalah Injil. Dalam Roma 5:6, "Pada waktu yang tepat, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah.”

Penjahat yang dijatuhi hukuman mati di bawah hukum Musa biasanya dieksekusi. Orang-orang Yahudi tidak menyalibkan. Jadi ketika mereka telah mengeksekusi seseorang, mereka akan mengikat mayat itu ke tiang dan mereka akan membiarkan mayat itu dilihat orang lain, untuk menimbulkan ketakutan. Sesuai dengan pola Perjanjian Lama itu Kristus diletakkan di atas kaju, dikutuk oleh Allah untuk kita. Dia menjadi dosa bagi kita. Dia mengambil tempat kita agar kita menjadi kebenaran Allah di dalam Dia.

Galatia 3:24, “Hukum Taurat menjadi penuntun bagi kita untuk membawa kita kepada Kristus, supaya kita dibenarkan karena iman.” Pekerjaan hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi juga mendorong orang berdosa kepada Kristus sehingga ia dapat menempatkan imannya kepada Kristus dan dibenarkan oleh iman itu. Ayat 14, “supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.”

Berkat apakah yang datang kepada Abraham? Roma 4 memberi tahu kita berkat besar yang Allah berikan kepada Abraham, “Abraham percaya kepada Allah dan itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran,” dalam Kejadian 15. Apakah karunia besar yang diberikan kepada Abraham oleh Allah? Kebenaran. Dia menghapus kutukan itu. Bukan melalui karya Abraham, tetapi melalui iman Abraham. Jadi tujuan pertama adalah pembenaran oleh iman.

Kita bebas dari hukuman hukum Taurat, tetapi kita tidak bebas dari kewajiban untuk menaati Allah. Kristus menjadi kutuk bagi kita supaya kita diperhitungkan sebagai orang yang benar dan kudus dan kemudian menempatkan Roh-Nya di dalam kita untuk secara progresif membuat kita menjadi orang benar dan kudus dalam praktik kehidupan. Inilah kemuliaan penebusan. Marilah kita bersukacita dalam menyembah Allah kita, Yang Mahakudus, kekuatan kita dan Penebus kita. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu