Sep 22, 2019 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2019
Tujuan Hukum Taurat
22 September 2019

Marilah kita malam ini berbicara secara teologis. Saya ingin membahas bab ketiga dari Galatia ini, yang sangat penting secara doktrinal. Mari kita melihat itu dalam kerangka budaya tempat kita hidup. Kita berada di sini untuk menjangkau masyarakat dan budaya ini. Kita di sini sebagai penginjil, sebagai saksi, sebagai duta besar bagi Kristus untuk memberitakan Injil. Kita berada dalam masyarakat yang dilanda secara filosofis, dalam postmodernisme.

Pertama, mereka percaya bahwa tidak ada kebenaran absolut. Segala sesuatu adalah relatif dan segala sesuatu yang dapat kita cari dalam hidup ini tidak lebih dari pengalaman eksistensial dari tekad dan definisi pribadi kita. Kedua, masyarakat kita dicirikan oleh "relativisme moral." Bukannya tidak ada kebenaran, tidak ada otoritas. Artinya, tidak ada standar. Tidak ada hukum absolut.

Setiap individu adalah otoritas pribadinya sendiri dan penentu apa yang benar atau salah baginya. Ketiga, masyarakat kita terjebak dalam kebebasan pribadi. Dan kita dapat mengatakan bahwa itu berarti tidak ada aturan. Postmodernisme mengatakan tidak ada kebenaran. Relativisme moral mengatakan tidak ada otoritas. Dan kebebasan pribadi mengatakan tidak ada aturan. Tidak ada pedoman kecuali apa yang Anda pilih sendiri untuk diterapkan bagi kehidupan Anda sendiri.

Dan keempat, masyarakat kita percaya pada ateisme humanistik, yang berarti tidak ada hakim. Tidak ada kebenaran, tidak ada otoritas, tidak ada aturan dan tidak ada hakim. Intinya: Anda tidak memiliki tanggung jawab apa pun. Tidak ada konsekuensi untuk perilaku Anda kecuali yang ada di dalamnya, dan Anda dapat memilih untuk melakukan apa pun yang Anda inginkan. Anda bertanggung jawab atas nasib Anda sendiri.

Di sisi lain, kita perlu memberi tahu masyarakat ini bahwa ada kebenaran, ada otoritas, ada aturan, dan ada hakim, dan kita masing-masing harus menjawab kepada-Nya. Pesan Kristen secara langsung bertentangan dengan filosofi yang berkuasa saat ini. Mereka menolak gagasan tentang Allah dan karena itu gagasan tentang pertanggungjawaban atau penilaian, bagaimana caranya kita dapat mendekati mereka?

Keselamatan adalah dan selalu ada oleh iman. Kita tahu itu karena Alkitab menjelaskannya. Habakuk 2 berkata di Perjanjian Lama, "Orang benar akan hidup oleh iman," Roma 4 memberi tahu kita bahwa Abraham diselamatkan oleh iman. Ini dikatakan di ayat 6. Dia percaya Tuhan. "Dan itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran." Allah memperhitungkan kebenaran kepada Abraham karena ia percaya kepada Allah.

Jika benar bahwa keselamatan adalah oleh iman, bukan dengan menaati hukum Taurat, lalu mengapa Allah memberikan hukum Taurat itu? Galatia 3:19, "Kalau begitu, mengapa ada hukum Taurat?" Mengapa Abraham membutuhkan hukum luar? Ketika Allah memberikan hukum, Dia memberikannya dengan cara yang sangat luar biasa dengan serangkaian kejadian yang sangat besar yang untuk selamanya menandai pentingnya. Di Gunung Sinai ada guntur dan kilat, dan para malaikat Allah membawa Hukum Taurat itu.

Orang-orang bahkan diberitahu untuk tidak mendekati gunung yang mereka lihat terbakar dengan api dan asap. Ini adalah Perjanjian Musa. Itu adalah perjanjian serius yang dihadiri oleh banyak fenomena untuk menunjukkan kepentingannya. Allah memberikannya 430 tahun setelah Perjanjian Abraham dan melaksanakan-nya di sana selama seribu lima ratus tahun sementara manusia harus hidup di bawah kuasa dan kutukan hukum yang mengesankan itu.

Ayat 19 mengatakan, “Itu ditambahkan oleh karena pelanggaran, sampai Benih itu datang kepada siapa janji itu dibuat; dan itu disampaikan melalui para malaikat ke dalam tangan seorang perantara.” Ini dilakukan untuk mengembangkan suatu kebutuhan untuk sang Penebus dengan mengungkapkan keberdosaan manusia sampai pada tingkat dimana itu menciptakan keputusasaan pada manusia yang mendorong mereka kepada Juruselamat. Itulah alasannya ada Hukum Taurat.

Iya, Abraham memiliki iman, tetapi Abraham hanya satu orang dan ada orang lain yang memiliki iman, tetapi tidak ada entitas besar yang mendominasi dalam dirinya yang akan mendorong manusia secara umum untuk kebutuhan seorang Juru Selamat. Tidak ada standar luas yang dapat mendorong orang untuk beriman kepada Allah dan mendorong mereka kepada kebutuhan seorang Penebus. Itu melampaui intervensi pribadi Allah dalam kehidupan seseorang seperti Abraham.

Sekarang, ketika kita melihat Galatia 3 dan sampai pada pemahaman yang lebih baik dan lebih kaya tentang alasan ada hukum, perhatikanlah tiga aspek: masa lalu, masa depan, dan sekarang. Hukum dilihat dari perspektif masa lalu, hukum dilihat dari perspektif masa depan, dan hukum dilihat dari perspektif sekarang. Nah ini akan menjadi sebuah studi teologis tetapi itu akan menghasilkan buah praktis.

Marilah kita mulai dengan masa lalu. Kembalilah ke ayat 19. Ada kata kunci di sini yang menunjukkan masa lalu bagi kita. “Apakah maksudnya hukum Tairat itu? Itu ditambahkan dan itu disampaikan melalui para malaikat ke dalam tangan seorang perantara.” Itu ditambahkan. Hukum Taurat adalah tambahan. Hukum Musa melengkapkan perjanjian dengan Abraham. Ayat 17 mengatakan itu, "ditambahkan 430 tahun kemudian."

Dan ayat 17 mengatakan, "Itu tidak membatalkan perjanjian yang sebelumnya telah disahkan Allah sehingga janji itu hilang kekuatannya.” Ketika Anda mempelajari Alkitab, Anda mungkin bertanya-tanya, Perjanjian Abraham datang dalam Kejadian 12 dan ketika Anda sampai di Keluaran 20, datanglah Perjanjian Musa 430 tahun kemudian. Apakah itu menghilangkan Perjanjian Abraham? Apakah itu membatalkannya? Tidak. Sekarang ada dua perjanjian.

Perjanjian dengan Abraham itu mendasar. Allah berjanji untuk memberkati. Allah berkata, "Aku akan memberkati Benih-mu dan melalui Dia, Aku akan memberkati bangsa-bangsa di bumi.” Itulah sebabnya ketika Paulus mengajarkan doktrin pembenaran atau keselamatan, ia tidak pernah kembali ke Perjanjian Musa, dia selalu kembali ke Perjanjian Abraham. Dia selalu kembali bukan ke Musa, tetapi ke Abraham.

Ayat 6, “Abraham percaya kepada Allah. Itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran." Ayat 7, "Karena itu, pastikanlah bahwa mereka yang beriman itu yang adalah anak-anak Abraham.” Ketika kita dibenarkan oleh iman, kita datang, seolah-olah, secara rohani sejalan dengan Abraham yang diselamatkan juga oleh iman. Ayat 9, "Jadi, mereka yang beriman diberkati bersama dengan Abraham.” Abraham membawa berkat. Musa membawa kutukan.

Perjanjian Abraham mengatakan, "Aku akan memberkati." Perjanjian Mosaik berkata, "Aku akan mengutuk." Ini adalah Hukum Taurat-Ku dan Anda tidak dapat mengikutinya dan Aku akan mengutuk Anda karenanya. Itu tidak mengubahnya. Bahkan, ayat 14 mengatakan, bahwa "mereka yang ada di dalam Kristus Yesus menerima berkat dari Abraham.” Ketika Anda datang kepada Kristus untuk menerima keselamatan, Anda menerima apa yang Allah janjikan kepada Abraham. Itulah sebabnya dalam silsilah Yesus di Matius 1 dikatakan anak Abraham.

Jadi mengapa Allah memberikan Perjanjian Musa itu. Sederhananya, karena Perjanjian Abraham itu tidak memiliki penekanan universal yang cukup pada keberdosaan manusia. Sebenarnya tidak ada yang memotivasi orang untuk bertobat. Di manakah hukum universal itu yang memanggil seluruh dunia pada kenyataan bahwa mereka terkutuk oleh pelanggaran hukum Allah dan mereka sangat membutuhkan seorang Penebus dan keselamatan?

Dalam Perjanjian Abraham, Anda ada janji; di dalam Perjanjian Musa, Anda ada ancaman. Tidak ada sesuatu yang secara teliti menyeluruh dalam Perjanjian Abraham untuk menjelaskan kondisi manusia yang terhilang dan ketidakmampuan-nya untuk penebusan diri. Tidak ada sesuatu dalam perjanjian yang membawa kutukan kepada manusia sehingga dia mengerti bahwa dia terkutuk. Dan itulah pengetahuan yang penting untuk mengerti makna pengorbanan Kristus.

Jadi untuk memahami pentingnya Kristus menanggung kutukan bagi orang berdosa dan memberikan kebenaran kepada orang berdosa, kita harus memahami kutukan itu. Orang berdosa sangat membutuhkan pengampunan, sangat membutuhkan seseorang untuk mati menggantikan mereka, dan seseorang untuk menyediakan bagi mereka suatu kebenaran yang mereka tidak miliki sendiri. Dan itu semua adalah hal-hal yang disediakan Kristus, benar?

Jadi Perjanjian Abraham harus dilengkapi dengan Perjanjian Musa agar manusia dapat mengerti, bahwa ada kombinasi hal-hal yang diperlukan dalam keselamatan; iman dan pertobatan. Ada banyak orang Yahudi yang percaya kepada Allah Perjanjian Lama. Pertanyaannya adalah apakah mereka telah bertobat atau tidak dari dosa mereka. Dan itulah elemen pengimbangan dari iman penyelamatan sejati.

Dan pertobatan itu sekarang dihubungkan dengan pemahaman tentang pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Jadi, wahyu Perjanjian Lama tentang keselamatan itu dibagi menjadi Perjanjian Janji dengan Abraham dan Perjanjian Hukum dengan Musa. Itu adalah berkat dan kutukan, berkat dan kutukan. Ketika Anda datang kepada Kristus, Anda datang dengan iman kepada-Nya sebagai Tuhan dan Allah dan Penebus dan Juru Selamat. Itu positif.

Dan Anda datang dengan kehancuran yang mengerikan dan hati yang menyesal serta rasa bersalah dan kejahatan serta dosa dalam pertobatan. Itu hal negatif. "Hukum," kata ayat 21, "tidak bisa memberimu hidup." 2 Korintus 3:6-7 berkata, "Hukum itu membunuh." Perjanjian Musa kemudian mencapai puncaknya dalam penyaliban. "Seperti Kristus," ayat 13, "menjadi kutukan bagi kita," ketika Dia di salibkan dan menanggung murka Allah sepenuhnya atas dosa kita.

Puncak Perjanjian Musa adalah penyaliban Yesus Kristus ketika Dia menjadi kutukan bagi kita, mati di kayu salib, merasakan murka Allah atas dosa kita. Puncak Perjanjian Abraham datang dalam kebangkitan, karena kita akan diberkati, dan kita akan menerima kehidupan. Kita terima kematian dalam Kristus di kayu salib. Kita terima hidup, bangkit untuk berjalan bersama-Nya dalam hidup baru.

Kedua, lihat hukum dengan perspektif masa depan. Hukum mengingat masa depan adalah sisipan. Ayat 19, Anda lihat di sana di awal ayat, ditambahkan. Di akhir ayat ada kata sampai. Hukum sebagai "ditambahkan" dan hukum sebagai "sampai." Itu ditambahkan berhubungan dengan masa lalu. Melihat ke dengan masa depan, itu dimasukkan. Kata "sampai" berarti ada batasnya. Itu tidak permanen, ini hanya sementara.

Itu hanya ditambahkan, "sampai Benih itu datang." Benih itu adalah Kristus. Seluruh Hukum Musa dengan semua upacara dan ritualnya serta imamatnya dan pengorbanannya dan yang lainnya, dimasukkan hanya ‘sampai.’ Paul menyebutnya sebagai "bayangan." Dan Kristus adalah bahannya. "Sampai" menunjukkan bahwa Hukum Taurat itu bersifat sementara. Hukum itu melihat ke arah Kristus dan menunjuk ke arah Dia dan penggenapannya ada di dalam Dia.

Dan saya berbicara tentang aspek hukum upacara; semua sistem pengorbanan, semua imamat, semua hari Sabat, semua bulan baru, semua hari raya, semua perayaan, semua hal itu menunjuk ke arah Kristus. Dia adalah penggenapan dari semua gambar dan tipe serta lambang itu. Itulah sebabnya Roma 10:4 mengatakan, "Kristus adalah akhir dari hukum Taurat." Kristus berkata bahwa Ia datang untuk menggenapi Hukum Taurat.

Nah Perjanjian Lama juga melihat imamat baru. Imamat telah dipindahkan dari suku Lewi ke Yehuda, menurut 1 Tawarikh 5. Imamat dipindahkan dari Harun ke orang-orang Lewi ke Yehuda, dan pada akhirnya akan ada transfer imamat sepenuhnya kepada Yang akan datang yang adalah seorang imam menurut aturan Melkisedek, seorang imam bagi diri-Nya, yaitu, Tuhan Yesus Kristus.

Ketika Anda mendapatkan seorang imam baru, Anda mendapatkan hukum yang sama sekali baru. Jadi sistem upacara eksternal termasuk imamat dan semuanya telah berakhir ketika Kristus datang dan mati. Itulah sebabnya pada saat kematian Kristus, tabir di Bait Suci terbelah dua dari atas ke bawah. Dan tempat Mahakudus terbuka lebar. Sistem pengorbanan telah berakhir. Akses ke Allah sudah tersedia bagi siapa saja yang percaya.

Hari Pendamaian itu tidak perlu, tidak perlu lagi ada perayaan Pelewatan. Anda dapat mengubahnya menjadi Perjamuan Kudus untuk mengenang salib itu. Imamat lama hilang. Kristus adalah imam imamat baru. Dan untuk aspek seremonialnya Hukum Taurat hilang, yaitu aspek eksternalnya. Jadi, hukum Hukum Musa itu, tentang masa lalu adalah tambahan. Untuk masa depan, ini bersifat sementara.

Itu digenapi pada saat Kristus datang. Dan itu jelas dalam "sampai," ayat 19, "Benih itu akan datang." Dan pada tahun 70 M, bangsa-bangsa lain datang dan menghancurkan kota Yerusalem dan sejak itu tidak pernah ada sistem pengorbanan atau imamat di Israel lagi dan tidak perlu ada karena itu tidak ada dalam rencana Allah. Itu, sehubungan dengan masa depan, hanya adalah penyisipan sementara.

Sekarang itu membawa kita ke masa kini. Bagaimana kita memandang Hukum itu sekarang? Di masa lalu, itu adalah tambahan. Dan di masa depan, itu adalah penyisipan. Nah sekarang, ini adalah instruksi. Yang tersisa adalah standar moral Allah, mereka tidak berubah. Mereka itu benar sebelum Abraham, mereka itu benar dalam empat ratus tiga puluh tahun di antara Abraham dan Musa, dan mereka masih benar sekarang.

Dan kita mendapat manfaat dari semuanya yang dituliskan untuk kita, bukan hanya di halaman-halaman Perjanjian Lama di mana hukum moral Allah secara jelas ditunjukkan, tetapi berulang kali di halaman Perjanjian Baru. Dan Hukum sekarang diberikan kepada kita untuk beberapa alasan yang sangat penting. Lihatlah ayat 21, apakah hukum itu bertentangan dengan janji-janji Allah? Tidak. Ini hal pertama yang dilakukan Hukum itu. Itu mengajarkan kita bahwa kita orang berdosa.

Ayat 22, Kitab Suci telah membungkam semua orang di bawah dosa. Ketika Anda membaca Firman Tuhan, Anda menemukan ada standar di sana dan Anda melihat kehidupan Anda, dan Anda menyadari bahwa Anda gagal. Roma 3 mengatakan bahwa, "Itu menghentikan setiap mulut dan membuat seluruh dunia bersalah." Bagian moral, yang merupakan wahyu dari karakter Allah selalu benar dalam semua zaman sejarah penebusan.

Semakin kita tahu tentang Hukum Taurat, semakin kita melanggarnya, yang menghasilkan rasa bersalah dan rasa malu, yang dapat diubah oleh Roh Allah menjadi keyakinan dan pertobatan dan mengarahkan kita kepada Juruselamat, ayat 24, "supaya kita dibenarkan oleh iman." Dan bagaimana itu bisa terjadi? Ayat 13 mengatakan, "Kristus menebus kita dari kutuk Hukum Taurat dengan menjadi kutuk bagi kita." Kristus dikutuk karena dosa-dosa Anda dan dosa-dosa saya dan Ia membayar hukuman itu.

Bahkan Abraham diselamatkan oleh pengorbanan Kristus. Kristus mati untuk dosa-dosa Abraham lama setelah Abraham hidup dan mati. Kristus mati untuk dosa semua orang yang, di bawah sistem Musa, bertobat dan percaya. Kristus mati untuk dosa-dosa mereka sejak itu dan juga yang berdosa sebelumnya. Penutupan di Perjanjian Lama adalah lambang penghapusan dosa yang terjadi di Kalvari.

Ayat 29 mengakhiri semuanya. "Jika Anda menjadi milik Kristus, maka Anda adalah keturunan Abraham, ahli waris sesuai dengan janji.” Perjanjian Abraham tidak pernah dikesampingkan. Itu adalah janji keselamatan. Dan ketika Anda datang kepada Kristus, Anda masuk ke dalam janji keselamatan berkat yang Allah berikan kepada Abraham. Jadi ada kebenaran absolut. Ada otoritas. Dan otoritas itu adalah Allah yang berdaulat abadi. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu