Aug 25, 2019 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2019
Injil Paulus Dikonfirmasi
25 Agustus 2019

Kita akan lebih memperhatikan sejarah dan latar belakangnya. Marilah saya mulai dengan lima ayat pertama, “Kemudian setelah empat belas tahun saya pergi lagi ke Yerusalem bersama Barnabas dan Tituspun kubawa juga. 2 Dan aku pergi berdasarkan wahyu, dan menyampaikan kepada mereka Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa lain, tetapi secara pribadi kepada mereka yang terpandang, supaya jangan dengan percumah aku berusaha, atau telah berusaha sia-sia.”

“3 Tetapi bahkan Titus yang bersamaku, yang adalah orang Yunani, tidak dipaksa untuk disunat. 4 Dan ini terjadi karena saudara-saudara palsu (yang secara diam-diam masuk untuk mengintai kebebasan kita yang kita miliki di dalam Kristus Yesus, supaya dengan jalan itu mereka dapat memperbudak kita kembali), 5 Tetapi sesaatpun kita tidak tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap bersamamu.”

Pernyataan terakhir itulah yang menjadi alasan Paulus menulis buku ini: “Supaya kebenaran Injil tetap dapat berlanjut bersamamu.” Ia berperang melawan mereka yang memberitakan Injil palsu. Mereka disebut kaum Yudaizer. Mereka adalah orang-orang Yahudi dari Yerusalem yang datang ke Galatia dengan tujuan untuk mengikuti Paulus dari belakang ke gereja-gereja yang didirikannya di wilayah Galatia.

Ada sejumlah kota di mana dia menanam gereja. Orang-orang Yudaizer mengikutinya, dan mereka datang ke gereja-gereja itu untuk memberitakan injil yang berbeda, injil palsu. Paulus terkejut bahwa orang-orang percaya di Galatia bahkan mendengarkan mereka. Galatia 1:8, “Tetapi jika kami, atau seorang malaikat dari surga, memberitakan kepadamu suatu injil yang bertentangan dengan apa yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia!”

Ini terus terjadi sepanjang seluruh pelayanan Paulus. Dia memberitakan Injil anugerah dan iman yang sejati, dan kemudian datanglah orang Yudaizer itu dan berkata, “Orang-orang non-Yahudi tidak dapat diselamatkan kecuali mereka datang melalui sunatan, hukum Musa, upacara-upacara dan tradisi leluhur.” Mereka mengatakan itu adalah pekerjaan pra-keselamatan yang diperlukan, dan mereka ingin memaksakannya kepada orang non-Yahudi itu.

Jadi, Paulus harus membela Injil keselamatan karena anugerah saja melalui iman saja, dan itulah sebabnya dia menulis kitab Galatia. Dia membenarkan pengertian Injil itu. Dan tujuan dari buku ini diringkaskan dalam ayat 5, “agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap bersamamu,” sehingga Anda tidak akan mundur ke arah Injil yang berbeda, Injil palsu yang hanya merupakan pesan yang membawa kutukan.

Di permukaan kehidupan di dunia ini, ada peperangan konstan. Kita lebih menyadarinya hari ini daripada peradaban yang pernah ada sebelumnya karena ada media. Dunia ini berada dalam konflik tanpa akhir. Itu ada dalam hubungan manusia. Itu ada di keluarga dan di antara anggota keluarga. Itu ada dalam komunitas, di kota, di negara bagian, di negara, dan di antara negara. Ini adalah dunia yang sulit untuk dihidupi; dan kutukan itu jelas bagi semua orang.

Tetapi ada peperangan spiritual yang jauh lebih besar yang sedang terjadi di tingkat yang lebih luas dan konsekuensial daripada apa pun yang Anda lihat; dan itu adalah peperangan antara Allah dan Setan, antara kebenaran Allah dan dusta Setan. Itu berlangsung sepanjang waktu. Inilah pertempuran tanpa akhir. Dan siapa pun yang datang ke Kerajaan didefinisikan oleh Allah sebagai seorang prajurit yang harus membela Injil dan membela kebenaran.

Tuhan kita memperingatkan para murid-Nya dalam Matius 13, di mana Dia menggambarkan kehidupan di kerajaan: bagaimana jadinya, seperti apa rasanya menginjili Injil di kerajaan. Setan bukan hanya merancang agama lain yang merupakan alternatif bagi agama Kristen, yang anti-Kristen. Tetapi Setan akan berusaha sekuatnya dalam membentuk kekristenan palsu.

Tuhan kita berkata, “Akan ada lalang yang ditaburkan oleh Setan di dalam kerajaan, dan Anda tidak akan dapat membedakan mereka. Jadi Anda tidak boleh menuduh orang, karena Anda tidak mengenal hati orang percaya sejati itu. Serahkanlah itu pada Aku di akhir zaman.” Itulah Tuhan kita yang mengatakan bahwa gereja akan dipenuhi oleh orang percaya sejati dan orang percaya palsu. Kita semua tahu ini; dan kita semua harus menerima ini.

Di mana-mana akan ada guru palsu; untuk setiap pengkhotbah di setiap zaman, di setiap tempat di dunia. Karena Setan selalu berusaha, bukan hanya dalam agama-agama di luar agama Kristen, tetapi juga dalam bentuk agama Kristen; dan di situlah dia melakukan kerusakan terbesarnya. Jadi, Paulus berkata kepada gereja-gereja Galatia, “Berhentilah mempercayai guru-guru palsu itu. Kembalilah ke Injil yang benar yang saya beritakan kepada Anda.”

Intinya adalah, jika Anda bingung tentang Injil, meskipun Anda adalah orang percaya, Anda tidak bisa memberitakan Injil yang benar. Pertama-tama kita harus memahami Injil yang benar. Ini telah menjadi beban utama Paulus, bahwa ada ketidaktahuan tentang Injil yang benar. Akibatnya, mereka tidak dapat memberitakan Injil yang benar itu; dan gereja kemudian tidak dapat memberi tahu dunia tentang tujuan pemberitaan kabar baik itu.

Kata orang-orang Yudaizer, “Paulus tidak memberimu kebenaran. Paulus bukan rasul. Paulus tidak berbicara untuk Kristus. Kita adalah perwakilan dari gereja di Yerusalem. Kita datang dari Yerusalem,” kata mereka. "Kita adalah saudara-saudaramu orang Yahudi. Kita memahami Injil yang benar. Kita mewakili kebenaran, bukan Paulus.” Dengan melakukan ini mereka berusaha menjadi penabur lalang setan di gereja-gereja di Galatia.

Ketika Paulus menulis kepada Timotius, sebagai seorang pendeta muda, ia memperingatkannya tentang guru-guru palsu. Ketika dia menulis kepada Titus, dia memperingatkannya tentang guru-guru palsu. Semua pendeta dan semua pemimpin harus dapat menyangkal doktrin yang salah; itu adalah suatu kualifikasi. Mereka bukank hanya harus sanggup melakukannya, tetapi mereka juga harus melakukannya. Setan dan para utusannya menyamar sebagai malaikat terang, tetapi mereka berasal dari neraka. Mereka adalah malaikat kegelapan.

Paulus harus membela bukan saja Injil, tetapi pertama-tama kerasulannya sendiri. Dia mulai dengan mengatakan, “Saya tidak menerima kerasulan saya dari manusia, atau melalui hak pilihan manusia.” Dalam ayat 12, waktu membicarakan Injil, dia berkata, “Saya tidak menerimanya dari manusia, saya juga tidak diajarkannya. Saya menerimanya melalui wahyu Yesus Kristus. Saya menerima Injil dengan cara yang sama seperti yang diterima oleh kedua belas rasul, dari bibir Yesus.

Setelah pertobatannya ia pergi ke Arab Nabatea selama tiga tahun. Paulus diberi waktu tiga tahun untuk belajar langsung dari Kristus. “Saya menerima pesan saya bukan dari manusia, bukan dari para rasul, bukan dari para pemimpin gereja Yerusalem, bukan dari orang-orang Kristen di Damaskus di mana saya direndahkan ketika Kristus memanggil saya; Saya menerimanya dari surga. Ini adalah Injil yang datang kepada saya secara langsung dari Tuhan.”

Tetapi kaum Yudaizer mengatakan, “Iya, Anda menerima Injilmu tiga tahun di padang belantara. Mungkin itu yang Anda pikir Tuhan berikan kepada Anda. Tapi itu tidak setuju dengan para pemimpin Yerusalem. Kita tahu bahwa mereka takut akan Anda karena Anda pernah meneror gereja. Akhirnya Barnabas bersedia membawa Anda, dan memperkenalkan Anda kepada para rasul. Dan mereka menerima Anda, dan mereka mengasihi Anda.

Kita sebenarnya mengirim Anda keluar supaya Anda tidak terluka. Anda kembali ke tempat asal Anda, daerah Tarsus tempat Anda dibesarkan. Jadi mungkin karena Anda belum memiliki cukup waktu bersama para rasul, Anda datang dengan Injil anarki. Anda telah mengembangkan Injil sektarian Anda sendiri, dan itu berbeda dari Injil Petrus, Yakobus dan Yohanes, ketiga rasul terkemuka.

Paulus menjawabnya dalam Galatia 2:1, “Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi lagi ke Yerusalem bersama Barnabas dan Titus kubawa juga.” Kenapa Anda kembali kali ini? Saya kembali supaya para rasul mendengar Injil saya, mendengar kisah-kisah Injil saya, dan memberi tahu saya apakah ini benar-benar adalah Injil tulen. Saya telah mempelajari Injil itu selama tiga tahun di Arab Nabatea di mana saya dibimbing langsung oleh Yesus.

Saya berkhotbah selama empat belas tahun di Suriah dan Kilikia, dan saya melihat Injil itu bekerja selama tujuh belas tahun. Saya bersama para rasul hanya lima belas hari, dan kemudian pada waktu lain saya bersama mereka untuk waktu yang sangat singkat. Selain itu, saya sendirian dengan Tuhan dalam pelayanan saya selama tujuh belas tahun. Tetapi saya datang ke Yerusalem setelah tiga tahun di tanah Arab dan empat belas tahun pelayanan dan membawa Barnabas, teman saya.

Paulus mendirikan gereja-gereja di Suriah dan Kilikia. Dia bekerja dengan Barnabas. Sebuah gereja dimulai di Antiokhia di Suriah. Itu terjadi di sekitar waktu kematian Herodes Agrippa 44 M atau lebih waktunya dia menemani Barnabas dalam misi bantuan ke Yerusalem. Kisah Para Rasul 11 dan 12 memberi tahu kita tentang hal itu. Mereka membawa bantuan kepada orang-orang percaya yang yang kelaparan di sana dan di Yudea. Dia kemudian dia langsung kembali ke Antiokhia.

Setelah itu Paulus melanjutkan perjalanan misi pertamanya. Kembali dari perjalanan misi pertama itu, dia menetap di Antiokhia, dan akhirnya melakukan perjalanan ke Yerusalem empat belas tahun setelah itu dengan hanya satu pengiriman barang yang singkat untuk membantu orang-orang kudus di sana. Itu adalah perjalanan yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 15. Sementara itu beberapa orang Yudaizer datang dari Yudea dan mulai mengajarkan kepada saudara-saudara Injil yang palsu ini.

Paulus dan Barnabas menentang mereka dengan keras. Kemudian diputuskan bahwa Paulus dan Barnabas harus pergi ke Yerusalem untuk bertemu dengan para rasul dan penatua mengenai masalah ini. Ketika mereka tiba di Yerusalem, mereka diterima oleh gereja, dan semua yang telah dilakukan Allah itu dilaporkan kepada mereka. Tetapi ada beberapa orang Farisi yang berkata, "Mereka perlu disunat dan diarahkan untuk mematuhi Hukum Musa.”

Perhatikanlah apa yang dikatakan dalam ayat 2, “Aku naik berdasarkan suatu wahyu.” Paulus masih mendapatkan wahyu langsung dari Allah. Dia mendapat wahyu langsung di jalan menuju Damaskus. Dia mendapat wahyu langsung di rumah Ananias. Dia menerima wahyu langsung tiga tahun di Arab. Dia telah mendapatkan wahyu langsung dari Tuhan selama pelayanannya empat belas tahun. Dan itulah alasannya dia naik ke Yerusalem.

Itu sangat penting untuk dinyatakan, karena Paulus tidak mempertanyakan Injilnya, ia dikirim ke sana oleh Allah. Wahyu ini mungkin datang lebih dulu kepada Paulus. Itu mungkin datang kepada para pemimpin gereja dengan Paulus secara kolektif. Tetapi mereka semua setuju bahwa dia perlu pergi ke Yerusalem. Inilah bagaimana gereja mula-mula dan para rasul berfungsi, dengan wahyu langsung. Ayat 2, “Aku menyerahkan kepada mereka Injil yang aku beritakan di antara bangsa-bangsa lain.”

Ayat 2 melanjutkan, “tetapi juga secara pribadi kepada mereka yang terpandang.” Itu adalah para rasul yang disebut di ayat 9: Yakobus, Petrus dan Yohanes. Orang-orang Yudaizer, meskipun mereka percaya kepada Kristus, berpegang pada Yudaisme mereka, dan karena itu berpegang pada kesombongan rohani mereka, dan mereka bahkan memandang rendah para rasul. Ayat 2 melanjutkan, "supaya jangan dengan percumah aku berusaha sia-sia.” Itu adalah kejujuran yang tulus.

Paul ingin penegasan mereka. Dia berkata, “Saya tidak pernah meragukan kebenaran yang Tuhan berikan kepada saya. Saya mendengarnya dari bibir-Nya. Saya tidak pernah meragukan kekuatannya. Saya sudah menyaksikan itu selama tujuh belas tahun. Saya sudah melihatnya dalam hidup saya sendiri. Bagaimana lagi Anda bisa menjelaskan itu kepada saya?” Saya tahu kebenarannya, tetapi saya ingin penegasan kerasulan. Dan konfirmasi itu datang cepat. Itu datang hampir secara instan.

Ayat 3, “Tetapi kendatipun Titus yang bersama saya, adalah seorang Yunani, namun ia tidak dipaksa untuk menyunatkan diri.” Itulah jawabannya. Jangan bicara tentang hal-hal teoritis, marilah kita bicara tentang kepraktisan. Dia membawa Titus, seorang non-Yahudi, sebagai ilustrasi hidup. Paulus memanggilnya “anak saya yang benar dalam iman yang sama.” Titus, seorang percaya yang ditransformasikan, yang memiliki Roh Kudus, dan adalah teman Paulus dan Barnabas.

Di sini ada orang non-Yahudi yang hidup, yang ditebus, yang memiliki Roh dan yang belum disunat, dan yang belum dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan tradisi leluhur atau upacara Musa. Apakah akan dilakukan para rasul dengannya? Karena apa pun yang akan mereka lakukan adalah tanggapan mereka terhadap masalah tersebut. Tetapi, “Meskipun dia orang Yunani, dia tidak dipaksa untuk disunat ketika berada di Yerusalem di hadapan para rasul.”

Orang-orang Yudaizer itu mencari dukungan yang menguatkan pendapat mereka dan mereka gagal mendapatkannya. Jika rasul-rasul Yahudi di Yerusalem tidak memaksa orang non-Yahudi ini untuk disunat, bagaimana mungkin kaum Yudaizer bisa mewajibkannya di seluruh dunia non-Yahudi? Tetapi bukankah Timotius disunat setelah pertobatannya? "Iya dalam Kisah Para Rasul 16. Tetapi ibu Timotius adalah orang Yahudi. Dan Timotius perlu masuk ke sinagog yang akan dikunjungi Paulus.

Itu tidak menambahkan apa pun dalam hidupnya secara spiritual, itu tidak menambahkan apa pun pada hidupnya dalam arti penyelamatan. Itu hanya cara untuk memberinya akses ke orang-orang Yahudi bersama dengan Paulus. Tetapi Titus adalah orang non-Yahudi. Sejak permulaan rasul Yakobus, Petrus dan Yohanes setuju dengan posisi Paulus dan Barnabas. Tidak perlu orang disunat untuk keselamatan, tidak ada ritual dan tidak ada upacara eksternal. Saya juga menambahkan bahwa tidak ada baptisan dan belum ada sakramen.

Kisah Para Rasul 15:6-8, “Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. 7 Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. 8 Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita dalam kemampuan bicara bahasa lain.”

Barnabas dan Paulus menceritakan tentang tanda-tanda dan keajaiban yang telah Allah lakukan melalui mereka di antara bangsa-bangsa lain. Dewan di Yerusalem berkata, “Sunatan tidak diperlukan. Tidak ada usaha, upacara atau tradisi yang diperlukan untuk keselamatan. Orang non-Yahudi diselamatkan sama seperti orang Yahudi melalui iman tanpa pekerjaan.” Mereka menyusun surat yang mengatakan, “Berhati-hatilah supaya jangan menyinggung orang-orang Yahudi, tetapi beritakanlah Injil berdasarkan iman saja.”

Orang-orang Yudaizer telah menyuarakan pendapat mereka, dan mereka dinyatakan salah oleh para rasul. Ayat 4 mengatakan, "Ini karena saudara-saudara palsu yang dibawa masuk secara diam-diam," (oleh Setan) "Mereka datang untuk memata-matai kebebasan kita yang kita miliki dalam Kristus Yesus, dan untuk membawa kita ke dalam perbudakan." Orang Kristen bebas dalam Kristus; bebas dari upacara dan ritual eksternal. "Di mana Roh Tuhan berada, ada kebebasan." Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu