Aug 11, 2019 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2019
Kerasulan Paulus
11 Agustus 2019

Sekarang kita hidup di zaman ini dimana kebudayaan tidak mentolerir kebenaran mutlak. Mereka menyangkalnya di semua tingkat, dan mereka menyangkalnya bahkan pada tingkat kegilaan. Bukti khas dari kegilaan budaya kita adalah untuk mengatakan bahwa jenis kelamin seseorang itu bisa berubah dari hari ke hari. Itulah definisi kegilaan. Dan bukan saja kebudayaan kita membenci kebenaran mutlak, tetapi akibatnya mereka juga menolak otoritas absolut.

Dan di sinilah kita sebagai gereja Yesus Kristus memberitakan kebenaran mutlak dengan otoritas absolut di dunia di sekitar kita. Konfrontasi tidak pernah lebih keras, dan Injil tidak pernah ditolak lebih mudah sekarang ini. Generasi yang berkembang dalam budaya kita tidak mau menerima realitas yang tetap dan mutlak. Namun justru itulah yang dinyatakan di agama Kristen oleh Allah di dalam Alkitab.

Marilah saya memberi Anda sebuah pernyataan yang adalah klaim paling dibenci di bidang agama. Hanya ada satu Allah, satu Juru Selamat, satu agama yang benar, satu Kitab Suci, satu Injil dan hanya ada satu jalan keselamatan. Semua klaim agama lainnya adalah kebohongan, penipuan, dan doktrin-doktrin Iblis dan setan-setannya yang membawa orang ke neraka abadi, bersama dengan semua orang yang tidak bermoral, tidak beragama, ateistik, dan orang naturalis yang tidak percaya.

Inilah kebenaran eksklusif tentang kekristenan. Bahkan di dalam gereja, setiap penyimpangan dari Injil anugerah yang sejati adalah kebohongan untuk dikutuk. Kita mengerti mengapa dunia menolak ini. Namun, ini hari yang menyedihkan ketika orang-orang di dalam gereja evangelis mulai menolak kebenaran ini. Gereja Ortodoks Timur mengatakan, “Kita tidak percaya bahwa seseorang dibenarkan oleh iman saja, tetapi melalui iman dan karya kasih.”

Gereja saudara di Barat adalah Gereja Roma Katolik yang memiliki doktrin yang sama persis, dan ada 1.3 miliar orang di Gereja Katolik di seluruh dunia. Itu adalah sistem kepercayaan yang salah di dalam Kekristenan sejati. Itu adalah Kekristenan palsu yang mengajarkan Injil palsu. Janganlah kita bergabung, itu harus dikutuk. Dan kenyataan terpenting di dunia adalah bahwa Injil yang benar adalah satu-satunya jalan keselamatan.

Kita tidak heran bahwa Injil yang benar diserang terus. Tidak lama setelah para rasul memberitakan Injil yang benar, mereka diserang dari dalam gereja. Mereka diserang oleh orang-orang yang percaya bahwa Yesus adalah Mesias, yang percaya pada kematian dan kebangkitan-Nya dan menyebut diri mereka orang Kristen, tetapi yang menambahkan pekerjaan kepada keselamatan. Mereka mengikuti rasul Paulus dan menambahkan pekerjaan pada Injil yang ia khotbahkan.

Paulus mengajarkan Injil anugerah saja melalui iman saja di dalam Kristus saja. Apa yang mereka tambahkan adalah karya-karya Yudaisme. Mereka mengatakan bahwa seseorang tidak dapat diselamatkan kecuali orang itu disunat dan menaati tradisi Musa. Itu terjadi begitu cepat sehingga Paulus menulis surat Galatia, yang pertama dari tiga belas suratnya secara kronologis. Dan dalam surat ini, ia menyerang orang-orang yang merusak Injil.

Ini adalah invasi kaum Yudaizer, orang-orang Yahudi yang menamakan dirinya Kristen yang datang dari Yerusalem, tetapi yang percaya bahwa Hukum Taurat harus dipatuhi untuk menerima keselamatan. Mereka mengikuti Paulus ke Galatia, dan mereka mulai membawa Injil iblis dan palsu. Mereka sekarang mengaku dirinya sebagai orang Kristen sejati dan malah menuduh Paulus sebagai guru palsu.

Jadi mereka bukan hanya menyerang Injil, mereka juga mencela orang yang memberitakannya. Orang-orang di Galatia percaya bahwa Paulus adalah rasul Yesus Kristus. Guru-guru palsu ini tahu bahwa jika orang-orang terus percaya bahwa dia adalah rasul sejati, mereka akan berpegang pada pesannya. Jadi, penting untuk mencela bukan saja pesan yang ia khotbahkan, tetapi juga otoritasnya yang diklaim.

Mereka mengatakan bahwa Paulus datang ke dunia orang non-Yahudi untuk menyenangkan hati orang. Dia ingin menjadi populer dan diterima. Maka ia menanggalkan Injil dari karya-karya yang diperlukan agar itu tidak menyulitkan bangsa-bangsa lain. Dia seharusnya, menurut mereka, menuntut agar orang-orang non-Yahudi disunat dan mematuhi tradisi-tradisi Musa. Tetapi dia menanggalkan itu untuk membuat Injil mudah bagi bangsa-bangsa lain.

Yang benar adalah kebalikannya, kaum Yudaizer adalah yang ingin menyenangkan orang. Mereka telah menambahkan sunat dan tradisi Musa supaya mereka tidak dianiaya oleh orang Yahudi. Itulah yang dikatakan Paulus dalam Galatia 6: 12. Tetapi mereka menuduh Paulus akan hal itu. Dalam Galatia 3 dan 4, ia membela Injilnya; tetapi dalam Galatia 1 dan 2, ia membela kerasulannya. Kredensial kerasulannya sangat penting bagi otoritasnya.

Inilah argumen yang mereka gunakan untuk mendiskreditkan Paulus. Kita semua tahu siapakah kedua belas rasul itu, dan kita semua tahu bahwa Yudas adalah pembelot dan pengkhianat, dan dia bunuh diri dan kemudian pergi ke tempatnya sendiri. Dan kita juga tahu bahwa dalam Kisah Para Rasul 1, dicatat bahwa Matias dipilih oleh Allah untuk menggantikannya. Kita tahu siapakah kedua belas itu dan hanya merekalah yang adalah rasul benar.

Tetapi orang ini, si Saulus ini yang sekarang bernama Paulus, ketika para rasul lain dengan jelas diidentifikasikan, dan ketika gereja lahir dan ketika mereka memberitakan Injil di mana-mana, si Saulus ini masih orang yang tidak percaya. Dia adalah seorang Farisi yang bersemangat; dan dia adalah seorang penganiaya Kristus dan orang Kristen. Jadi bagaimanakah dia bisa mengklaim dirinya sebagai rasul kalau kita tahu siapakah kedua belas rasul itu?

Jadi mulai di Galatia 1:10, dan sepanjang Galatia 2, Paulus memberikan salah satu bagian Alkitab Perjanjian Baru yang paling luar biasa dan kuat untuk membela otoritasnya. Dan karena dia menulis ini di bawah ilham Roh Kudus, sangat penting bagi kita untuk memahami bahwa dia berbicara dan menulis di bawah otoritas Allah dan karena itu kita dapat mempercayainya.

Galatia 1:10-16, “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Apakah kucoba menyenangkan manusia? Sekiranya aku masih mau menyenangkan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. 11 Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil dari manusia. 12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.”

“13 Karena kamu telah mendengar tentang hidupku dulu dalam Yudaisme, bagaimana aku menganiaya gereja Allah tanpa batas dan berusaha untuk membinasakannya. 14 Dan di dalam Yudaisme aku lebih maju dari teman sebaya dengan aku diantara bangsaku, sebagai orang yang rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku. 15 Tetapi ketika itu menyenangkan Allah, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh anugerah-Nya.”

“16 untuk menyatakan Anak-Nya di dalam diriku, agar aku dapat berkhotbah di antara orang-orang non-Yahudi, aku tidak segera berunding dengan darah dan daging.” Inilah pertahanan otoritas kerasulannya sehingga pesannya dapat dipercaya karena ia adalah rasul Yesus Kristus. Para Yudiazer ini bertanya-tanya dari mana dia mendapatkan kabar ini. Apakah dia benar-benar memiliki hak untuk berbicara untuk Allah; atau itu dibikinnya sendiri? Dia harus membela dirinya, itu sangat penting.

Para rasul adalah orang pilihan yang menerima kebenaran Allah. Sekarang kita memiliki doktrin para rasul yang telah ditulis, tetapi sebelum waktu itu, semuanya dinyatakan secara lisan. Roh Kudus kemudian mengilhami para rasul dan rekan-rekan mereka untuk menuliskan kebenaran Allah dalam buku-buku Perjanjian Baru. Tetapi pada Hari Pentakosta belum ada buku, dan mereka sedang mempelajari doktrin para rasul.

Ayat 10, “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Apakah kucoba menyenangkan manusia?” Jawabannya dalam ayat 8-9, “Tetapi sekalipun kami, atau seorang malaikat dari surga, memberitakan Injil lain kepada Anda selain dari apa yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. 9 Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, sekarang saya katakan lagi, jika ada orang yang memberitakan Injil lain kepada Anda daripada apa yang telah Anda terima, terkutuklah dia.”

Setelah baru saja mengucapkan dua kutukan, dia berkata, “Jadi apakah saya sekarang mencari kesenangan manusia? Apakah itu terdengar seperti saya seorang yang hanya ingin menyenangkan orang? Apakah orang seperti itu memberi kutukan kepada orang lain? Dia berkata, “Jika saya tidak melakukan itu, jika saya masih berusaha menyenangkan orang, saya tidak mungkin bisa menjadi hamba Kristus. Untuk menjadi hamba Kristus yang setia, itu mengharuskan Anda menyatakan kutukan atas Injil palsu.”

Dia tidak mencari kehormatan manusia, dan dia memiliki memar untuk membuktikannya. Dalam Galatia 6:17, ia berkata, "Mulai sekarang jangan ada yang mengganggu saya, karena di tubuh saya ada tanda-tanda Tuhan Yesus.” Itu bekas luka yang saya terima ketika saya berada di Galatia di kota Listra, dimana saya dilempar batu dan dibiarkan mati. Dia membicarakan lagi otoritasnya. Jadi, Paulus menjawab yang memfitnahnya. "Aku tidak bertindak seperti seseorang yang ingin menyenangkan manusia, aku adalah budak Kristus."

Dalam 2 Korintus 5: 9 Paulus berkata, "Ambisiku adalah untuk menyenangkan Kristus, bukan menyenangkan manusia." Ayat 11-12, “Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil dari manusia. 12 Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.” Paulus berkata, “Aku seorang rasul sejati, berdasar-kan kenyataan bahwa aku menerima kebenaran Injil dari Yesus Kristus.”

Kedua belas rasul menerima Injil selama tiga tahun dari bibir Yesus. Itu unik bagi para rasul. Bahkan, Yesus berkata bahwa mereka menegaskan kemesiasan-Nya dalam Matius 16:17, “Daging dan darah tidak menyatakan hal itu kepadamu, tetapi Bapa-Ku yang ada di surga.” Anda tidak belajar ini dari orang-orang di sekitar Anda. Ini datang langsung dari Allah Bapa melalui Aku kepadamu.”

Mengapa kita harus percaya bahwa Paulus adalah seorang rasul? Karena dia menerima Injil itu dengan cara yang persis sama dengan cara kedua belas rasul itu menerimanya dari mulut Yesus sendiri. Dia tidak mendapatkannya di Yerusalem. Ini datang kepadanya dari Yesus Kristus sendiri. Ayat 12: “Aku juga tidak menerimanya dari manusia.” Pernyataan yang luar biasa: wahyu ilahi persis seperti para rasul lainnya telah menerima Injil.

Tentu, dia tahu fakta-fakta kehidupan Yesus. Dia tahu apa yang diklaim Yesus. Tetapi itu hanya pengetahuan dasar di tengah-tengah ketidaktahuan. Dia tidak memiliki pemahaman supranatural tentang Injil. Tetapi di jalan ke Damaskus, ketika cahaya dari surga tiba-tiba turun, membantingnya ke tanah, dan membutakannya, dia mendengar, "Akulah Yesus yang sedang kamu aniaya," semuanya berubah. Dia melihat Kristus yang bangkit.

Dan dia melihat-Nya lima kali lagi dalam hidupnya. Dia melihat Kristus yang bangkit dan dia tahu bahwa Dia penuh belas kasihan dan penuh anugerah. Dan selubung di matanya itu hilang, dan dia membuang seluruh agama tradisional-nya. Dan dia berkata kepada orang Filipi, “Itu adalah kotoran.” Dia menerima Injil melalui wahyu langsung dari Yesus sendiri. Tiga hari kebutaan dan Yesus mengajarinya melalui Roh Kudus.

Nah ini adalah teguran terbuka pada kaum Yudaizer, karena semua pesan mereka berasal dari manusia. Yudaisme, pada zaman Paulus dan Perjanjian Baru dan seperti yang diikuti hari ini, hanya memberikan sedikit perhatian kepada Alkitab. Kitab Suci adalah peninggalan zaman dulu seperti di dalam agama Katolik dan Ortodoksi Timur. Bagi Yudaisme, Perjanjian Lama itu adalah peninggalan yang telah dipelintir dan disimpangkan oleh para rabi dengan tradisi-tradisi tambahan mereka yang banyak sekali.

Itu semua dikembangkan oleh manusia. Seperti di Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur, orang-orang yang mengenakan pakaian religius duduk menghakimi Kitab Suci. Demikian juga dalam Yudaisme. Dalam Matius 15: 6 Yesus berkata, "Jadi kamu telah membuat perintah Allah tidak berpengaruh dengan tradisimu." Sekarang Paulus akan mendukung kerasulannya. Mulai dari ayat 13, dia akan mendukungnya dengan tiga cara: pra-konversi, konversi dan pasca-konversi.

Pertama, pra-konversi Paulus. Perhatikanlah ayat 13-14, “Karena kamu telah mendengar tentang hidupku dulu dalam Yudaisme, bagaimana aku menganiaya gereja Allah tanpa batas dan berusaha untuk membinasakannya. 14 Dan di dalam Yudaisme aku lebih maju dari teman sebaya dengan aku diantara bangsaku, sebagai orang yang rajin memelihara adat istiadat nenek moyangku.” Paulus menggambarkan keadaannya dalam Yudaisme. Dia sangat fanatik.

Iya, dia mendengar Injil dari bibir orang-orang yang dipenjarakan dan yang dibawa kepada kematian. Alasan dia menjadi seorang penganiaya adalah karena dia mendengar Injil, tetapi dia mendengar itu sebagai penghujatan. Dia begitu ekstrem dalam Yudaisme tradisional sehingga dia melampaui orang-orang sezamannya. Dalam Kisah Para Rasul 22: 4 ia berkata, “Aku menganiaya pengikut Jalan Tuhan,” - Kristus adalah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan; Kekristenan jadi terkenal sebagai Jalan.

Jika saya lebih bersemangat untuk tradisi leluhur saya daripada orang lain, bagaimana mungkin dalam waktu singkat itu, saya bisa berubah dan menjadi pengkhotbah Yesus Kristus dan Injil? Saya dulu pembenci fanatik Yesus dan Injil. Bagaimana saya bisa berubah sehingga dalam tiga hari, saya berkhotbah tentang Yesus? Ayat 15, “Tetapi ketika itu menyenangkan Allah, yang memisahkan saya dari rahim ibu saya dan memanggil saya melalui anugerah-Nya.” Allah sudah memastikan keselamatan orang ini.

Iya, Allah menentukan sebelumnya keselamatan setiap orang. Allah mentransfor-masikan hidupnya. Inilah mujizat pertobatannya, yang dimulai oleh Allah karena ia dipilih oleh Allah. Allah melahirkannya kembali melalui panggilan efektif oleh anugerah. Dan kemudian dia menjadi pengkhotbah orang-orang yang pernah dia aniaya. Allah melakukan itu kepada kita secara internal. Dia menghentikan kita mati di jalur dosa kita dan membalikkan kita, benar? Itulah artinya keselamatan.

Kisah Para Rasul 9:4-5, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku? 5 Dan jawabnya, “Siapakah Engkau, Tuhan? Kemudian Tuhan mengatakan, “Akulah Yesus, yang kauaniaya itu.” Dan sekarang Aku memanggilmu untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain. Karena itu dia berkata dalam 1 Korintus 1: 1, "Paulus, rasul Yesus Kristus atas kehendak Allah.” Allah pada waktu-Nya sendiri memanggil umat pilihan-Nya untuk diri-Nya dengan panggilan yang efektif dan itu terjadi oleh anugerah.

Selama tiga hari kebutaan ia menerima wahyu tentang Kristus dari Yesus Kristus. Selama tiga hari Yesus membimbingnya; dan kemudian dia keluar dan berkhotbah bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan membuktikannya. Bagaimana dia bisa membuktikannya begitu cepat? Karena dia adalah orang yang pengetahuannya besar tentang Perjanjian Lama, dan semua bukti ada di sana. Pertobatan Paulus adalah mujizat Allah yang dramatis. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu