Jul 21, 2019 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2019
Kebebasan dalam Kristus
21 Juli 2019

Ada banyak orang yang telah lama berada di sini dan kita belum mempelajari sebuah surat Alkitab dalam beberapa tahun. Kitab Galatia disebut Magna Carta kebebasan spiritual. Itu disebut Deklarasi Kemerdekaan Kristen. Itu telah diidentifikasi sebagai seruan perang Reformasi. Dan, dua tahun yang lalu adalah tahun dimana kita merayakan peringatan 500 tahun Reformasi.

Dan, tentu saja, tokoh kunci dalam Reformasi itu adalah seseorang bernama Martin Luther, yang adalah seorang biarawan Katolik. Ketika dia mempelajari kitab Galatia, dia menemukan Injil yang benar, Injil keselamatan melalui anugerah melalui iman, dan dia berkata, “Surat kepada orang-orang Galatia adalah surat saya.” Itu adalah kutipan dari Luther. Ini buku yang luar biasa, dan kita akan mempelajarinya ini berbulan-bulan.

Komentar Luther keluar dari pengajarannya tentang orang Galatia, keluar dari pengalaman keselamatannya. Dia diselamatkan pada saat mengajar dari Surat Galatia. Tetapi komentar Luther tentang Galatia itu menjadi dasar dan manifesto Reformasi Protestan, dan Reformasi Protestan menemukan pesannya dari kitab Galatia; dan juga dari kitab Roma.

Kitab Galatia berurusan dengan masalah-masalah penting: hukum, anugerah, perbuatan, Injil, Yesus Kristus, Roh Kudus dan kematian Tuhan kita, kebangkitan-Nya, keselamatan, pengudusan - semua realitas kritis yang berhubungan dengan Injil ini adalah bagian dari kitab Galatia. Tetapi pesan utama dari kitab Galatia adalah kebebasan. Kebebasan dari dosa, kebebasan dari penghakiman, dan kebebasan dari perbudakan rohani.

Sangat penting dalam Reformasi untuk membebaskan orang bukan hanya dari belenggu dosa, tetapi juga belenggu agama palsu, yang telah menawan dunia Barat selama sekitar seribu tahun. Ada seribu tahun kegelapan dan perbudakan spiritual di mana sistem Roma Katolik menawan gereja. Dan Reformasi dan kitab Galatia itulah yang membawa Injil yang membebaskan.

Pria dan wanita kontemporer dalam budaya kita bangga akan kebebasan pribadi. Kebebasan pribadi adalah hal besar. Bahkan, kita terus-menerus diberi tahu bahwa kita tidak memiliki hak untuk mengganggu siapa pun tentang apa pun jika mereka menyangkal kesempatan itu. Mereka milik kebebasan penuh untuk mengendalikan pikiran mereka sendiri tentang apa yang mereka pikirkan, dan apa yang mereka mungkin tidak mau dengar.

Belum pernah ada begitu banyak pengertian yang membingungkan tentang kebebasan itu. Orang bebas berpikir kebebasan itu berasal dari kebebasan untuk melakukan apa pun yang mereka ingin lakukan, dan tidak ada yang memaksakan apa pun yang tidak diinginkan. Tidak ada yang absolut di dunia moral; dan karena itu seharusnya tidak ada batasan moral. Tidak ada pengakuan akan tanggung jawab atau penghakiman.

Tetapi mereka tidak bebas. Tidak ada kebebasan bagi jiwa yang belum lahir baru, karena jiwa itu terikat pada dosa. Satu-satunya kebebasan yang mereka miliki adalah kebebasan untuk memilih dosa mana yang paling menarik bagi mereka. Tidak ada kebebasan dari dosa dan perasaan bersalah. Karena itu tidak ada kebebasan dari rasa takut. Tidak ada kebebasan dari penghakiman. Tidak ada kebebasan dari hukuman abadi. Itu adalah kebohongan.

Alkitab mengatakan bahwa kita adalah hamba dosa, bebas memilih tuan mana yang mereka pilih, tetapi tetap kita menjadi hamba. Orang-orang terikat dalam rantai pelanggaran dan kejahatan, menuju pada hukuman Allah yang akan menetapkan mereka untuk hukuman kekal. Yesus berkata dalam Yohanes 8:32, “Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Dan Dia membicarakan kebenaran Injil, yaitu kebenaran Firman Allah.

Pesan dari Galatia adalah pesan tentang kebebasan sejati. Agama datang dan ingin membantu manusia untuk menemukan kebebasan dari apa yang memegangnya, apa yang menyusahkannya, apa yang menakutkannya. Dan agama itu terdiri dari semua bentuk dalam spektrum yang luas. Ada beberapa bentuk agama legalistik di mana Anda harus mematuhi peraturan tertentu. Dan di situlah Martin Luther waktu itu berada.

Di situlah tempatnya para biarawan, dan itulah yang telah dilakukan biara-biara, dan itulah yang telah dilakukan para biarawati, dan banyak bentuk pengorbanan religius lainnya, seperti penyangkalan diri, penolakan terhadap kehidupan sosial, pernikahan, mereka mengunci diri ke dalam bentuk yang ditentukan dari jenis kehidupan yang dirampas, yang melekat pada hukum dan ritual tertentu yang hanya berkaitan dengan perilaku eksternal, karena mereka tidak dapat mengubah isi hati mereka.

Setiap agama menawarkan kebebasannya sendiri: kebebasan dari apa yang mengganggu Anda, kebebasan dari apa yang mengecewakan Anda, apa yang menyebabkan Anda cemas. Dan itu mungkin kebebasan yang ditawarkan oleh ritualisme. Jika Anda melakukan ritual ini, itu adalah jalan menuju kebebasan yang diinginkan jiwa Anda. Bagi sebagian orang, itu adalah pertapaan yang keras dan penyangkalan diri, dan kadang bahkan menyakitkan diri sendiri.

Bagi orang lain itu mengembangkan semacam pendekatan yang membenarkan diri terhadap kehidupan dan menjadi orang baik, yang memiliki semacam moralitas yang secara umum dapat diterima. Bagi sebagian orang, kebebasan datang dalam kepercayaan diri. Kebebasan itu datang karena tidak berhubungan dengan harapan orang lain, atau kecenderungan orang lain atau gangguan ke dalam hidup Anda. Itu semakin populer waktu orang tetap single lebih lama.

Menurut Alkitab seluruh umat manusia diperbudak oleh dosa di dalam kerajaan kegelapan yang dikuasai Setan, yang adalah penguasa kerajaan angkasa (yang berarti dunia ini) yang mendominasi mereka. Mereka adalah anak-anak iblis, dan tidak ada kebebasan. Kebebasan yang mereka pikir mereka nikmati hanyalah ilusi dalam perjalanan mereka menuju kepada perbudakan abadi dalam neraka hukuman. Tidak ada kebebasan benar sama sekali.

Bagaimana Anda dapat membebaskan diri dari siapakah Anda sebenarnya? Masalahmu bukan di luar dirimu, itu ada di dalam dirimu. Dan itu dibantu oleh orang-orang di sekitar Anda, dan budaya yang mendefinisikan korupsi dan menstandarkannya. Tetapi Anda sendiri adalah masalahnya, dan Anda tidak akan pernah bebas sampai Anda diubah untuk menjadi Anda yang berbeda. Dan satu-satunya hal yang dapat melakukan itu, kata Paulus kepada kita di Galatia, adalah Injil Yesus Kristus.

Lihatlah Galatia 5:1, “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita.” Itulah kesimpulan dari kitab Galatia. Kebebasan itu hanya datang di dalam Kristus dan tidak di tempat lain. Di satu sisi tidak ada kebebasan dalam legalisme, di sisi lain tigak ada di dalam kebebasan, atau apa pun di antaranya. Dengarkan: selama Anda berada dalam ikatan dosa Anda tidak bebas; tetapi segera setelah Anda berada dalam perbudakan dengan Kristus, Anda malah dibebaskan.

Ikatan Anda kepada Kristus adalah kebebasan dari dosa, dari kekuatannya, dari konsekuensinya, dan pada suatu hari nanti dari kehadirannya. Orang-orang Kristen berbicara tentang sukacita, kedamaian, kasih, kepuasan, harapan dan pemenuhan, karena mereka telah dibebaskan dari perbudakan yang mendominasi semua orang: yaitu perbudakan sifat dosa. Kita bebas untuk selamanya: bebas dari kuasa, hukuman, dan pada suatu hari kehadiran dosa itu.

Itulah pesan Paulus. Ini benar-benar pesan yang sangat penting, karena setiap manusia di dunia terus-menerus mengalami ikatan dosa itu, ketakutan akan kematian dan penghakiman yang ada di setiap hati. Nah ini bukan risalah keren yang bersifat akademis. Ini adalah presentasi yang panas, tidak terduga dan benar. Rasul Paulus menulis ini di bawah tekanan yang luar biasa. Dia benar-benar marah secara rohani.

Jadi apakah yang dia pertahankan? Dia membela Injil yang sedang diserang; dan orang-orang di gereja yang telah didirikannya yang terpengaruh kebohongan dan legalisme ini. Jadi dia menulis sebagai orang yang marah. Anda melihat itu di awal surat. Ayat 1, “Paulus, seorang rasul, bukan dari manusia maupun oleh manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah Bapa yang membangkitkan Dia dari antara orang mati.

Ayat 2-6, “dan semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-jemaat di Galatia: 3 Kasih karunia menyertai kalian dan damai sejahtera dari Allah, Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus, 4 yang telah menyerahkan diri-Nya untuk dosa-dosa kita, supaya Ia membebaskan kita. dari zaman yang jahat ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita, 5 Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya. Amin. 6 Aku heran bahwa kalian begitu cepat berpaling dari pada Dia, yang oleh anugerah Kristus memanggil kalian, dan mengikuti suatu Injil lain.”

Ayat 7-9, “yang sebenarnya bukan Injil; tetapi ada beberapa orang yang mengacaukan kalian dan yang ingin memutarbalikkan Injil Kristus. 8 Tetapi sekalipun kami, atau seorang malaikat dari surga, memberitakan kepada kalian suatu Injil yang berbeda dengan Injil yang kalian telah terima, terkutuklah dia. 9 Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, sekarang kukatakan lagi, jikalau ada orang yang memberitakan Injil lain kepada kalian yang berbeda dengan apa yang telah kalian terima, terkutuklah dia.”

Perhatikanlah, di sini tidak ada pujian. Dia menulis 13 surat dalam Perjanjian Baru; inilah satu-satunya yang tidak ada pujian. Ada amarah besar di dalam hatinya, karena Injil itu sedang diserang; dan karena itu orang-orang yang kepadanya dia telah memberitakan Injil berada dalam bahaya. Dia menulis sebagai orang yang berjuang melawan intrusi guru-guru palsu, dan untuk membela orang-orang yang dia kasihi. Dan dia marah sekali.

Paulus bersama dengan Barnabas, telah memulai gereja-gereja ini di Galatia selatan pada perjalanan misi pertama. Mereka memulai perjalanan misionaris pertama mereka dalam Kisah Para Rasul 13 dan 14. Mereka pergi ke wilayah ini yang disebut Galatia. Galatia bukanlah kota, tidak seperti Efesus, Filipi, Kolose, dan lainnya yang diberi nama surat-surat lainnya. Ini adalah sebuah wilayah, dan ada sejumlah kota di wilayah itu.

Ada kota-kota ini yang disebut Antiokhia, Ikonium, Listra dan Derbe. Dan pada perjalanan misionaris pertama, Paulus pergi ke semua tempat itu untuk memberitakan Injil dan mendirikan gereja. Inilah orang-orang yang dia sayangi. Dia kembali pada perjalanan misionarisnya yang kedua ke Galatia. Dan dia kembali pada perjalanan misinya yang ketiga lagi ke Galatia. Dia berinvestasi besar pada mereka.

Menurut Kisah Para Rasul 14:19, ketika dia datang ke kota Listra, orang-orang Yahudi sangat marah kepadanya sehingga mereka ingin membunuh dia dengan batu. Jadi oposisi-nya luar biasa besar. Ketika dia masuk ke kota non-Yahudi dia selalu pertama kali pergi ke sinagog, karena sebagai seorang Yahudi dia ada koneksi; dan karena Injil datang pertama kepada orang Yahudi dan kemudian orang non-Yahudi. Dia pergi ke sana untuk melihat apakah Tuhan akan menyelamatkan beberapa orang Yahudi.

Ada beberapa orang Yahudi yang menjadi percaya; tetapi sisanya akan menganiaya dia dan siapa pun yang ada bersamanya, dan kemudian mereka menganiaya gereja yang dia dirikan. Jadi di Antiokhia, Ikonium, Listra dan Derbe, ada gereja-gereja kecil baru ini. Paulus sekarang telah pulang setelah perjalanan pertama, pulang setelah perjalanan kedua dan ketiga, dan melalui semua itu, mereka selalu dianiaya oleh orang-orang Yahudi yang menolak Injil.

Penganiayaan eksternal adalah satu hal; tetapi ketika Paulus diberi tahu ada guru-guru palsu di sana yang mengaku mereka orang Kristen yang telah masuk ke dalam gereja dan memutarbalikkan Injil, ia sangat marah. Mereka menyamar sebagai malaikat terang; itulah caranya Setan menyamar. Jadi di gereja-gereja ini yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan non-Yahudi. Orang-orang Yahudi yang percaya bersama dengan orang-orang non-Yahudi dianiaya oleh orang-orang Yahudi setempat.

Dan kemudian ada orang Yahudi lain yang mengklaim mereka orang Kristen yang disebut orang Yudiazer. Mereka percaya bahwa orang hanya dapat diselamatkan melalui sunatan dan kepatuhan pada upacara Musa, merayakan hari Sabat, dll. Jadi mereka berusaha untuk merubahkan orang-orang Kristen, baik Yahudi maupun non-Yahudi. Mereka datang dengan Injil palsu mereka, dan Paulus langsung membicarakan pokok permasalahan itu. Dia heran mengapa mereka mendengar orang Yudiazer itu.

Dia berkata dalam ayat 8, “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kalian suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” Nah, khotbah seperti itu tidak akan pernah kalian dengar hari ini di gereja injili. Guru-guru palsu mencari jiwa-jiwa untuk meyakinkan mereka bahwa mereka dikucilkan dari kerajaan Allah, tetapi hanya mereka memiliki jalan masuk. Itulah yang dilakukan oleh semua agama palsu dan kultus Kristen palsu.

Galatia 5: 10, “Dalam Tuhan aku yakin kepadamu, bahwa kalian tidak memiliki pikiran lain; tetapi barangsiapa yang mengacaukan Anda, akan menanggung hukumannya, siapa pun juga dia.” Tentu saja bujukan ini tidak datang dari Dia yang memanggil Anda. Inilah ragi kecil yang akan meragikan seluruh adonan. Ayat 13: “Saudara-saudara, memang kalian dipanggil untuk merdeka, Layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”

Galatia 4: 9, “Tetapi sekarang setelah kamu mengenal Allah,” katanya kepada mereka, “atau lebih tepat, kau dikekenal Allah, bagaimana kamu berbalik lagi ke hal-hal yang lemah dan tidak berharga, dan mau diperbudak lagi kepadanya?” Anda akan mundur lagi. Semua aturan dan ritual itu adalah bayangan saja. Dan sekarang setelah Kristus datang, bayang-bayangan itu tidak berguna.

Galatia 3:1, “Hai orang Galatia bodoh, siapakah yang telah mempesonamu?” Siapakah yang telah menipumu, siapakah yang telah merayumu, siapakah yang telah menggodamu? “Bukankah Yesus Kristus secara terbuka disalibkan didepan orang? Anda telah melihat salib. Anda sudah tahu Injil. Anda sudah tahu di mana keselamatan Anda itu berada. Ayat 3, “Apakah kamu sebodoh itu? Setelah mulai dalam Roh, apakah Anda akan disempurnakan oleh kedagingan?”

Nah di Galatia Paulus ada tiga tugas. Tugas pertama adalah mempertahankan kerasulannya, karena mereka harus percaya padanya. Bukannya ada orang lain yang memberitakan apa yang dia khotbahkan. Paulus pergi ke dunia orang non-Yahudi dan pada dasarnya dia adalah satu-satunya pengkhotbah, pembicara. Mereka bahkan mengakui dia di tempat-tempat kafir sebagai ketua pembicara. Tidak ada orang lain yang memberitakan Injil.

Dan itulah sebabnya pada awal surat ini, dia menekankan: pertama namanya dan yang lain adalah gelarnya, "rasul Paulus," “Bukan karena manusia atau melalui agen manusia. Jadi Galatia 1 dan 2 adalah pembelaan kerasulannya. Galatia 3 dan 4, adalah peneguhan keselamatan karena anugerah saja; Galatia 5 dan 6, menunjukkan orang Kristen bahwa perjalanan mereka adalah jalan dalam anugerah, bukan dalam hukum.

Jadi ajaran sesat telah masuk ke gereja-gereja ini, dan setiap jemaat kecil merasa terganggu, dan bahkan mulai memercayainya, sehingga mereka mulai meninggalkan Injil anugerah untuk legalisme, untuk meninggalkan zaman baru dalam Kristus dan Perjanjian Baru untuk kembali ke masa tua. Dan Paulus ingin mereka tahu bahwa anugerah sajalah yang menyelamatkan. Anugerah membebaskan dan memberdayakan kehidupan kudus. Kebebasan sejati datang melalui anugerah. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu