Jan 27, 2019 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2019
Kutukan pada Laki-laki
27 Januari 2019

Mari kita pelajari lagi Kejadian 3, yang terkait dengan asal usul dan dampak dosa. Kita mempelajari malam ini ayat 17 sampai 19, kutukan ilahi kepada pria. Peradaban modern kita memiliki kemajuan ilmiah yang luar biasa dalam waktu hidup kita. Ilmu pengetahuan telah mencapai hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan. Kita telah melihat manusia menemukan cara untuk membuka kunci kode genetik untuk mempelajari DNA dan memperbaiki DNA.

Kita telah melihat manusia bekerja secara efektif dalam mengkloning binatang. Apa yang dapat kalian lakukan di ponsel saya masih merupakan keajaiban bagi saya. Bahan kimia telah digunakan dengan segala cara yang dapat dibayangkan untuk memberikan tingkat kehidupan baik dari segi kenyamanan maupun perawatan medis. Semua itu hanya mengatakan kepada kita bahwa kita telah membuat kemajuan yang mengejutkan dalam pemahaman kita tentang unsur-unsur dunia fisik.

Yang sama menakjubkan bagi saya adalah tidak adanya pemahaman tentang realitas spiritual. Meskipun telah ada segala kemajuan fisik yang menakjubkan ini, hampir tidak ada kemajuan spiritual sama sekali. Dan sementara kita telah membuat penemuan-penemuan menakjubkan ini dan sampai pada kemampuan menakjubkan dengan dunia fisik, dunia spiritual sama sekali tidak dikenal manusia modern.

Dan dengan semua kemajuan ini manusia tidak dapat menyelesaikan masalah hati manusia. Dia tidak mengerti mengapa dia seperti ini dan karena itu dia tidak bisa menjelaskan dan juga tidak bisa memperbaiki masalahnya. Hal-hal di hati orang adalah seadanya bukan karena evolusi, atau pendidikan yang buruk, atau psikologi yang buruk atau kekurangan harga diri. Manusia secara rohani semakin buruk karena dosa.

Dan manusia tidak akan pernah bisa memecahkan masalah moralnya, masalah rohaninya, masalah kejahatan, masalah kejahatan, masalah ketidakpuasan, kekecewaan, kurangnya pemenuhan, hubungan yang hancur, dll. dll. tanpa pemahaman yang tepat tentang masalah itu. Jika kalian tidak melihat hal-hal sebagaimana adanya, maka kalian tidak dapat memecahkan atau menyembuhkan masalah besar ini.

Hanya ada satu cara yang dapat mengubah manusia jika mereka ingin memahami hal-hal supranatural. Dan untuk memahami kerohanian, orang-orang harus berpaling kepada Firman Tuhan. Namun mereka tidak tertarik melakukan itu. Mereka tidak ingin Alkitab ada di sekolah. Mereka tidak menginginkan informasi dari orang Kristen. Mereka merasa terancam oleh orang-orang yang percaya pada Alkitab dan mereka semua membenci Allah kecuali saat Dia membuka mata hati mereka.

Kejadian 3 adalah tempat Allah menjelaskannya. Mulai dari Kejadian 1:26 Allah berkata, “Marilah kita menjadikan manusia menurut gambar kita, sesuai dengan rupa kita dan kemudian membiarkan mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di langit, atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. 27 Dan Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Ayat 28, “Beranakcuculah dan bertambah banyak dan penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan di lautan, burung-burung di udara, dan setiap makhluk hidup yang bergerak di bumi.” 29 Dan Allah berkata, 'Aku telah memberikan kepadamu segala tanaman yang berbiji yang ada di muka bumi, segala pohon yang buahnya berbiji, itulah akan menjadi makananmu. 30 Dan untuk setiap binatang hidup di bumi, saya telah memberikan setiap tanaman hijau untuk makanan dan jadilah demikian.”

Ayat 31, "Dan Allah melihat segala yang telah dijadikan-Nya itu dan memang, itu sangat baik." Tidak ada kejahatan di dunia. Dalam Kejadian 2: 7 kisahnya berlanjut, dengan menjelaskan bagaimana Allah sebenarnya menciptakan manusia.” Tuhan Allah membentuk manusia dari debu, dan menghembuskan nafas kehidupan ke dalam hidungnya. Manusia menjadi makhluk hidup. Dan Tuhan Allah membuat taman di sebelah timur di Eden, di sana Dia menempatkan orang yang telah Dia bentuk.

Ada ujian percobaan dalam kesempurnaan di firdaus yang disebut Eden. Allah menempatkan manusia dalam masa percobaan untuk melihat apakah ia akan taat dengan hanya satu larangan, satu hal yang tidak boleh ia lakukan. Ayat 16, “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, 17 tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Dan kemudian dalam Kejadian 3:6, “Jadi ketika perempuan itu melihat bahwa pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena membuat orang bijak, ia mengambil dari buahnya dan dimakannya, dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan dia memakannya.” Dan dalam tindakan ketidaktaatan itu, dosa masuk ke dunia sampai seluruh umat manusia bersifat jahat.

Ketika Adam dan Hawa makan dan tidak menaati Allah, prinsip kematian itu masuk ke dunia. Allah berkata, "Pada hari kalian makan kalian akan mati.” Mereka tidak langsung mati di tempat, tetapi prinsip kematian mulai beroperasi. Dan dunia sedang sekarat. Tubuh bintang sedang sekarat. Segala sesuatu di bumi sedang sekarat. Bumi itu sendiri sedang sekarat. Dan manusia sekarang berada dalam lingkaran kematian.

Itu adalah konsekuensi dosa. Manusia sekarang adalah orang berdosa yang sedang sekarat. Dia sesat, dia celaka, dia jahat dan itulah sebabnya dia berperilaku seperti itu. Dan dia tidak bisa memperbaiki itu sendiri, masyarakat juga tidak sanggup memperbaikinya. Tetapi di samping itu, ada kutukan khusus dari Allah. Dalam ayat 14 dan 15 Allah mengutuk Setan dan ular. Kemudian dalam ayat 16 kita melihat bahwa Allah mengutuk perempuan itu.

Jadi, seorang perempuan merasa kutukan di lingkungan tempat ia hidup dalam melahirkan anak dan dalam hubungan dengan suaminya. Dia ingin berbuat keinginannya sendiri dan mendominasi, tetapi suami mengontrolnya. Setiap perempuan yang bergumul dengan kesakitan melahirkan, dan dengan perjuangan membesarkan anak, dengan pengalaman konflik dengan suaminya, semua itu mengingatkannya akan konsekuensi dosa.

Ayat 17-19, “Lalu firman-Nya kepada lelaki itu, 'Karena engkau telah mendengarkan suara istrimu dan telah makan dari pohon yang telah Kuperintahkan kepadamu: jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau. Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu, 18 baik semak duri dan rumput duri akan dihasilkannya bagimu dan tanaman di ladang akan menjadi makananmu. 19 Dengan keringat di wajahmu; engkau akan makan roti sampai engkau kembali lagi menjadi tanah karena engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”

Lelaki tidak tertipu seperti perempuan itu, dia memilih sengaja untuk tidak menaati Allah, ia memilih untuk melakukan apa yang diinginkan istrinya. Dia memilih istrinya daripada Firman Tuhan. Dan dia, bukan perempuan itu, sebagai pemimpin umat manusia bertanggung jawab atas dosa. Itulah sebabnya kita mati di dalam Adam, bukan di dalam Hawa. Dia adalah kepala persatuan itu, karena itu dia adalah kepala ras. Seluruh umat manusia menjadi berdosa.

Tetapi kutukan itu adalah sesuatu yang melampaui kerusakan dan penyakit, kematian dan kehancuran. Kutukan itu ada berhubungan dengan dunianya. Dunianya adalah ladang, tempat kerja, dan dia dikutuk di tempat kerja. Hawa bergumul dengan realitas dosa di rumah. Adam bergumul dengan realitas dosa ketika ia pergi untuk membajak ladang. Semua dampak alami dari dosa ada di sana tetapi ini adalah efek tambahan khusus.

Mari kita pelajari tiga ayat ini, Kejadian 3:17, 18 dan 19 dan pikirkan tentang 1. penyebab kutukan ini, 2.kutukan itu sendiri dan 3.akibatnya. Ayat 17a: "Kepada Adam Dia berkata, ''Karena engkau telah mendengarkan suara istrimu dan telah makan dari pohon yang telah Kuperintahkan kepadamu: jangan makan dari padanya, maka terkutuklah.” Jadi, inilah alasan kutukan itu.

Allah memberikan kita pernyataan tentang motivasi Adam yang sederhana, langsung dan lengkap. Nah kita tahu dari 1 Timotius 2 bahwa dia tidak tertipu. Apa yang dikatakannya di sini dalam ayat 17 adalah apa yang tidak dikatakannya di ayat 6, yaitu alasan dia melakukan ini adalah karena dia mendengarkan suara istrinya, bukan suara Allah. Dia mengikutinya daripada mengikuti Allah.

Wanita selalu ada sedikit kuasa atas pria. Saya pikir itu baik untuk memenuhi keinginan istri Anda, tetapi tidak ketika dia minta Anda untuk melanggar perintah Allah. Hawa tahu apa yang dikatakan Allah dan Adam tahu apa yang dikatakan Allah. Tetapi Hawa ingin dia makan. Hawa salah pikir bahwa dia sekarang akan tahu yang baik dan yang jahat; bahwa dia akan menjadi seperti Allah. Ini adalah tindakan pemuliaan diri.

Ini adalah pertama kalinya lelaki dinamakan Adam. Dan Allah melanjutkan dalam ayat 17, “jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau. Dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu, 18 baik semak duri dan rumput duri akan dihasilkannya bagimu dan tanaman di ladang akan menjadi makananmu.” Tidak ada kebingungan dari pihak Adam, dia melakukan apa yang diperintahkan istrinya. Itu adalah tindakan pemberontakan yang direncanakan sebelumnya terhadap Allah.

Setiap pelanggaran terhadap hukum Allah adalah pelanggaran yang mematikan. Rasul Paulus berkata, "Apakah kamu makan atau minum, lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Allah." Dan Adam layak mati. Dia tidak langsung mati secara fisik tetapi secara spiritual. Tetapi benih-benih kematian fisik mulai beroperasi dan pembusukan segera masuk dan kematian akhirnya akan datang. Tetapi sebenarnya dia seharusnya mati di tempat, begitu pula Hawa.

Mengapa Allah tidak membunuh mereka? Karena Dia adalah Allah penuh anugerah dan belas kasihan. Kaum liberal dan pengkritik Alkitab berkata, "Oh, Allah Perjanjian Lama adalah Allah yang mengerikan.” Dia memusnahkan orang Kanaan. Allah seperti apa yang membuka tanah dan menelan manusia? Allah macam apa yang memerintahkan orang Israel untuk membantai dan membunuh orang? Allah macam apa itu?

Tetapi itu bukan pertanyaan yang tepat. Pertanyaannya seharusnya adalah Allah seperti apa memungkinkan orang itu hidup? Pembunuhan itu adalah pengecualian. Dan ini adalah hal yang penting bagi Kitab Suci, bahwa Allah adalah Allah yang penuh belas kasihan. Anda dapat melihatnya dalam kasus Adam dan Hawa. Ketika kita mempelajari ayat 20 - 24, kita akan belajar bahwa penebusan sebenarnya dijanjikan setelah kutukan.

Pertanyaannya seharusnya: mengapa Allah membiarkan begitu banyak orang hidup yang seharusnya mati? "Upah dosa adalah maut." Dan para pengkritik mengatakan, di 2 Samuel 6 ada Uza ketika tabut Allah sedang diangkut, itu mulai jatuh dari kereta, dan lelaki itu memegang tabut itu agar tidak jatuh dari kereta. Dan Allah langsung membunuhnya. Orang-orang berkata, "Allah macam apa akan melakukan itu?"

Marilah kita lihat sebuah ilustrasi dalam Lukas 13:1, “Ada beberapa orang yang hadir pada waktu itu yang membawa kabar tentang orang-orang Galilea yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah pengorbanan mereka.” Ada beberapa orang Yahudi dari Galilea yang datang ke Yerusalem ke rumah Allah untuk mempersembahkan korban. Kemudian Pilatus datang dan mengeksekusi mereka. Bagaimana Allah dapat membiarkan orang Romawi masuk dan membantai mereka?

Dalam ayat 2, "Dan Yesus menjawab mereka, “Apakah kalian berpikir bahwa orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Yang benar adalah bahwa mereka adalah orang-orang berdosa yang jahat dan mengerikan dan Allah begitu tersinggung oleh dosa mereka karena pengorbanan mereka hanyalah kemunafikan, sampai Dia mengirim pasukan Pilatus ke sana untuk membantai mereka.

Ayat 3, “Tidak, Aku berkata kepadamu; tetapi jika kalian tidak bertobat, kalian semua akan binasa dengan cara demikian.” Mereka mengatakan, apakah orang berdosa ini lebih buruk daripada orang lain? Dan Yesus berkata, "Tidak, mereka tidak, dan jika kalian tidak bertobat, hal yang sama akan terjadi pada kalian.” Pertanyaannya bukan mengapa orang mati, pertanyaannya adalah mengapa ada orang yang dibiarkan hidup? Allah menunjukkan dalam banyak ilustrasi apa yang kita pantas menerima.

Sekarang perhatikan bahwa kutukan itu tidak hanya pada pria saja, tetapi itu pada lingkungan pria itu, seperti dalam kasus wanita. Lelaki, raja bumi, menjadi lebih rendah dari tanah. Tanah tidak merasakan apa-apa, "terkutuklah tanah." Tapi lelaki itu merasakannya. Kata "tanah" adalah ‘adamah’. Pria itu adalah Adam, pria itu datang dari tanah, debu ke debu. Semua yang kita makan keluar dari tanah, kan?

Pria itu menderita akibat kutukan di ladang, tempat hidupnya dan tempat kerjanya. Pria itu terlibat dalam pertempuran untuk mendapatkan makanan dan mendukung keluarga. Kehidupan pria itu tidak mudah. Bukan saja dia secara pribadi berdosa, bejat dan menuju kepada kematian, tetapi dia akan menemukan bahwa tanahnya tidak akan tunduk kepadanya begitu saja. Hidup baginya adalah kerja keras. 2 Tes 3:10, “jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.”

Tanah terkutuk bisa merupakan kekurangan air, masalah dengan tanah, masalah dengan lalang, masalah dengan cuaca, masalah dengan binatang yang merusak, masalah dengan serangga yang merusak. Itu semua adalah masalah yang mengganggu tanah. Bumi akan menghasilkan cukup banyak, tetapi supaya itu terjadi, itu akan memerlukan upaya berat dari pria itu.

Pada suatu hari orang-orang akan melihat bumi di mana kutukan itu telah dihapus. Mulai dari Yesaya 30:13, yang menggambarkan Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, dikatakan, "Maka Tuhan akan memberimu pilihan karunia surga yang terbaik, buah dari matahari yang terpilih, hasil terbaik dari gunung dengan hadiah terbaik dari bumi.” Yesaya 32:15 berbicara tentang padang gurun yang menjadi kebun buah-buahan yang suburnya seperti hutan.

Jadi, inilah sekilas tentang seperti apa bumi ini setelah kutukan dihilangkan. Begitulah keadaan dunia setelah Kristus menghapus kutukan itu. Itu akan menjadi seperti di Taman Eden. Tetapi sebelum waktu itu, marilah kita kembali ke Kejadian 3, tanah ini dikutuk dan supaya pria itu dapat menghasilkan apa yang dia butuhkan untuk mendukung hidupnya dan memberi makan pada keluarganya, dia harus bekerja keras.

Pengkhotbah 3:13, "Setiap orang yang makan dan minum dan menikmati kesenangan dari segala jerih payahnya, itu adalah pemberian Allah.” Kita harus tetap sibuk atau kita akan tertarik ke hal-hal yang seharusnya kita jangan melakukan. Pepatah "Tangan nganggur adalah mainan iblis" itu realitas. Hukuman tertinggi bagi dosa manusia adalah kematian. Tetapi manusia diberi kehidupan. Namun dalam kehidupan itu ia tidak akan pernah dapat melupakan dampak dosa. Apakah orang-orang di dunia ini memahami prinsip itu? Tidak. Marilah kita berdoa untuk mereka.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu