Jan 20, 2019 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2019
Kutukan pada Perempuan
20 Januari 2019

Marilah kita membuka Firman Allah dan melihat pemahaman yang benar dan akurat tentang asal-usul. Asal mula dunia fisik serta asal mula dunia spiritual dan dunia moral. Semua elemen itu diungkapkan kepada kita dalam bab-bab awal Kejadian. Sekarang dalam Kejadian 3 kita belajar tentang asal usul dan dampak dosa. Mengapa ada kejahatan di dunia semuanya dijelaskan oleh Allah.

Dan dalam Kejadian 3:16 kita menemukan kutukan ilahi pada wanita itu. Firman-Nya, “Kepada wanita itu, “Aku pasti akan melipatgandakan rasa sakitmu saat mengandung; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu. Berahimu akan bertentangan dengan suamimu, tetapi dia akan berkuasa atasmu.” Saya telah melihat perjuangan para wanita di seluruh dunia. Sepanjang sejarah manusia, tidak banyak perbedaannya sejak zaman kuno.

Secara umum, wanita kurang dihargai dari pria. Pria, secara umum, tidak begitu peduli pada kebutuhan pribadi mereka, pada perasaan mereka, emosi mereka, dan penderitaan mereka. Secara umum, pria sepanjang sejarah manusia menggunakan wanita untuk pemenuhan seksual, untuk pekerjaan rumah tangga dan untuk menjaga anak-anak. Dan hingga baru-baru ini, pria masih memegang kuasa atas hidup dan mati wanita.

Perlakuan kasar terhadap perempuan ini bukanlah rancangan asli Allah. Dosa membawanya masuk dan karena itu merusak hubungan asli di antara pria dan wanita, antara wanita dan anak-anaknya dan membuat hidup sangat sulit. Dan kita semua mengalami suatu tingkat penderitaan karena kutukan dosa. Dosa telah membawa kematian dan kerusakan, kemunduran dan disintegrasi dan kita dapat melihat itu.

Kita semua hidup dengan kecelakaan, penyakit dan bencana. Memang ada hal-hal umum di dunia yang jatuh ini yang membuat kita semua celaka dan akhirnya mati. Tetapi dengan cara tertentu, penderitaan perempuan terutama terkait dengan melahirkan dan merawat anak-anak mereka dan hubungan mereka dengan suami. Ini adalah beban unik bagi perempuan untuk harus berurusan dengan anak-anak dan dengan suami yang tidak mengerti mereka.

Ada bahaya yang dikaitkan dengan seorang wanita. Mereka harus mengandung anak selama sembilan bulan dan kemudian mereka harus melepaskan anak itu ke dunia yang penuh permusuhan dan ancaman, apakah itu bahaya fisik atau bahaya moral. Dan karena anak itu pada dasarnya adalah anak berdosa, anak itu akan mencari segala sesuatu yang merusak untuk menghibur dirinya dan karena itu seorang ibu hatinya tidak pernah tenang.

Apa yang kita lihat di negara-negara dunia tingkat Tiga saat ini adalah apa yang sebagian besar dunia telah alami sepanjang sejarahnya. Saya telah mengunjungi daerah kumuh yang paling miskin di kota-kota Indonesia dan saya melihat ibu-ibu duduk dengan bayi yang kekurangan gizi di lengan mereka, minum air kotor. Dan tampaknya yang terburuk ditanggung oleh para ibu yang sedang hamil atau menyusui bayi atau mencoba mengontrol anak-anak mereka.

Kita semua telah melihat apakah di televisi atau di internet foto-foto tentang kekeringan dan kelaparan mengerikan yang sering terjadi di Afrika. Dan kita melihat ibu-ibu ini menggendong bayi kecil, yang tulang-tulangnya terbuka, dan lalat-lalat yang ada di wajah mereka. Dan saat mereka menggendong bayi yang sekarat, ada bayi lain yang hampir mati. Dan para ibu itu sendiri tahu bahwa mereka akan segera hamil lagi.

Dan persalinan sepanjang sejarah manusia itu berbahaya. Banyak anak meninggal dan ibu kemudian hidup dengan penderitaan dan kesedihan. Ilmu pengetahuan modern telah mengembangkan obat-obatan, perawatan medis, kontrasepsi dan pendidikan di dunia barat, dan itu mengurangi trauma fisik persalinan. Tetapi ketakutan itu masih ada. Anda tidak takut bayi itu akan mati, tetapi Anda takut bayi itu akan dipengaruhi kejahatan di masyarakat.

Apakah kepercayaan para rabi tentang Kejadian 3? Apakah Anda percaya bahwa ketika Allah mengutuk wanita, itu hanya tentang rasa sakit saat melahirkan?” Para rabi selalu mengajarkan bahwa kegembiraan tertinggi seorang ibu adalah waktu mengandung bayinya karena bayinya benar-benar terlindung. Jadi para rabi selalu percaya bahwa wanita itu berada di puncak kegembiraannya saat dia hamil, dan kemudian datanglah kelahiran bayi itu.

Dan kemudian setelah kelahiran muncullah kesedihan, ‘post-partum blues’ itu. Dan para rabi mengatakan bahwa wanita itu sedih karena bayinya sudah tidak ada lagi dan ada tingkat keintiman yang hilang. Dan seiring dengan bertambahnya usia anak, pelepasan itu semakin besar karena anak tersebut itu terpapar baik secara fisik, mental, emosional dan spiritual pada bahaya yang semakin besar. Dan di hati sang ibu ketakutan itu semakin bertumbuh.

Apakah ini maksud asli Allah? Tidak, bukan itu. Itu semua adalah bagian dari kutukan. Itulah yang dikatakan ayat 16. Itu bukan bagian dari desain aslinya. Kepada wanita itu Dia berkata, "Aku akan melipatgandakan rasa sakit dan persalinanmu, dengan rasa sakit kalian akan melahirkan anak-anak." Dan, "Keinginanmu adalah untuk suamimu dan dia akan berkuasa atasmu.” Jadi kutukan itu ada dalam hubungannya dengan anak-anak dan suaminya.

Dan bagi kalian para wanita, jangan kaget bahwa kalian memiliki masalah dengan anak-anak kalian dan bahwa kalian menderita rasa sakit fisik dan emosional dan kadang-kadang rasa sakit rohani yang mendalam. Dan jika Anda bergumul dengan suami Anda, ketahuilah ini, maksud Allah tidak seperti itu pada awalnya, itu adalah akibat dosa dan Anda menanggung sesuatu dari efek kutukan yang Allah berikan pada Hawa.

Kejadian 3:16 menjelaskan hal ini. Dalam Kejadian 2:16 Allah memerintahkan pria itu dengan mengatakan, "Dari semua pohon di taman boleh kaumakan dengan bebas, 17 tetapi dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, janganlah kaumakan buahnya sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Kematian adalah hukuman Allah bagi pria dan wanita. Kematian adalah akibat ketidaktaatan mereka. Ini adalah hukuman pengadilan Allah.

Tetapi meskipun kematian itu akan datang, mereka masih akan memenuhi amanat asli itu. Jadi apakah mandat itu? Kembalilah ke Kejadian 1:27-28, “Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri, menurut gambar Allah Ia menciptakan pria dan wanita. 28 Dan Allah memberkati mereka dan Allah berkata kepada mereka, 'Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi.” Beranaklah, isilah bumi. Itulah maksud aslinya.

Pada mulanya Allah menciptakan mereka di taman dengan sempurna dan tanpa dosa, mereka memiliki hidup kekal, mereka tidak pernah akan menjadi tua, mereka tidak pernah akan sakit, mereka tidak pernah akan dilukai dan mereka tidak pernah akan mati. Ini adalah keberadaan abadi pada saat itu di taman dan Allah berkata kepada mereka, "Kalian akan beranakcucu dan bertambah banyak, kalian akan memiliki bayi di dalam lingkungan hidup ini.”

Mereka akan memiliki bayi dan bayi-bayi itu akan bertumbuh, tetapi mereka tidak pernah akan menjadi tua dan menurun. Kita sekarang memiliki bayi dan mereka bertumbuh dan kemudian mereka menjadi tua dan menurun dan mereka semua akan mengalami siklus yang sama. Tetapi di dunia yang sempurna itu mereka akan memiliki bayi yang bertumbuh seperti Yesus, benar? Anak-anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada mereka (Lukas 2:40).

Akan ada konsepsi, kehamilan yang menghasilkan persalinan. Kalian masih akan beranak. Anda masih akan mengisi planet ini. Jadi pernikahan tidak berubah: satu pria, satu wanita, bersatu seumur hidup. Ingat yang didefinisikan dalam Kejadian 2:24, seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging ini dan menghasilkan anak-anak.

Tetapi sekarang setelah Kejatuhan, ada kematian fisik. Dan itu akan membuat semuanya berbeda karena bersama dengan kematian fisik ada penyakit dan kecelakaan, cedera dan kesedihan dan itu akan secara alami menghantam wanita itu dalam kategori di mana dia paling banyak berinvestasi, yaitu dalam hubungannya dengan anak-anak dan hubungannya dengan suami. Umat manusia itu akan bertahan dan akan beranakcucu.

Itulah sebabnya Paulus dalam Titus 2:4 mengatakan, "Kalian wanita yang lebih tua, didiklah perempuan-perempuan muda untuk mengasihi suami dan anak-anaknya.” Itulah yang Allah inginkan dari perempuan itu. Lupakanlah karier kalian, kasihilah suamimu, dan kasihilah anak-anak kalian. Menetaplah dalam kategori di mana ada kutukan dan oleh kuasa Allah dan karya Roh kalian dapat mengubahnya menjadi sesuatu dari firdaus yang diperoleh kembali.

Setiap wanita yang mengalami kesulitan ini mendapatkan pengingat konstan akan dosa Hawa yang berdosa demi memperoleh kesenangan pribadi. Buah itu kelihatannya bagus dan itu akan memuaskan kerinduan yang muncul dalam dirinya. Dia ingin suatu sukacita yang dia pikir ditahan darinya, jadi dia berdosa. Dan sekarang dalam mencari pemenuhan pribadi dengan seorang pria, dia akan menemukan kesengsaraannya yang terbesar.

Kutukan pada perempuan itu terbagi dalam dua bidang. Pertama, itu terkait dengan anak-anaknya. “Aku akan melipatgandakan rasa sakitmu” adalah ungkapan Ibrani yang menarik. Idenya adalah intensifikasi. Aku akan mendatangkan kesedihan yang besar kepadamu dan kesedihan itu akan menimpa anak-anakmu. “Dan aku akan melipatgandakan rasa sakitmu saat melahirkan.” Dengan susah payah kalian akan melahirkan anak.

Allah konsisten bahwa konsekuensi dosa selalu menjadi masalah. Itu konsisten di seluruh Alkitab. Allah tidak memaksa seseorang berbuat dosa. Allah bukanlah pecipta atau sumber dosa. Lihatlah Ulangan 11: 27-28 di mana Allah berkata kepada Israel, "Taatilah Aku dan Aku akan memberkatimu, jika kalian tidak menaati Aku, Aku akan mengutuk kalian.” Bukannya Allah menciptakan bencana itu, tetapi Allah tidak mencegahnya. Masalah itu selalu terkait dengan dosa.

Jika Anda adalah orang percaya dan Anda tidak taat kepada Tuhan, Allah akan menghukum Anda. Dan semua hal negatif itu terdiri dari hukuman, kehilangan berkat, mungkin penyakit, beberapa trauma dalam hidup Anda. Penghajaran ilahi sebenarnya adalah pemotongan berkat-berkat. 1 Korintus 5:5 mengatakan, “Serahkanlah orang ini kepada Setan untuk kehancuran daging, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.”

Allah menggunakan efek dosa itu untuk menghajar orang percaya. Allah memakai malapetaka, yang adalah akibat dosa, untuk menghajar Israel. Semua kategori negatif yang dijanjikan Allah kepada mereka yang tidak taat, berhubungan dengan dosa. Setiap penghakiman sementara yang menjatuhkan hukuman secara inheren terkait dengan efek dosa. Kalian akan diperhadapkan efek dosa dengan cara yang lebih besar karena apa yang kalian telah lakukan, demikian juga semua perempuan.

Sekarang Allah berkata, "Aku akan berlipat ganda." Ketika itu diterjemahkan "berlipat ganda," sepertinya dia sudah merasakan sakit dan kesedihan. Tetapi sebelum Kejatuhan tidak ada rasa sakit dan tidak ada kesedihan. Itulah sebabnya penjelasan bahasa Ibrani “Aku akan menyebabkan rasa sakitmu menjadi besar” hanya mengatakan bahwa Aku akan memberimu pengalaman sakit yang berlipat ganda, yang belum pernah kau miliki sebelumnya.

Kata "sakit", secara harfiah adalah kata yang meliputi pengalaman dan emosi. Kata 'Itstsabon' berarti segala sesuatu yang sulit untuk ditanggung yang dapat mencakup rasa sakit dari kelahiran bayi, dan semua penderitaan yang terjadi karena memiliki anak. Dan "Saya akan melipatgandakan rasa sakit dan pembuahan kalian," kata orang Ibrani. Saya akan memberi kalian pembuahan berlipat ganda.

Kesuburan perempuan dinaikkan. Itu bagian dari kutukan itu. Jadi perempuan itu bisa punya bayi setiap tahun. Dia bisa hamil, melahirkan bayi, merawat bayinya, dan begitu bayinya disapih setelah beberapa bulan, dia bisa menjadi hamil lagi. Dan sebelum Kejatuhan keadaannya tidak seperti itu. Ada banyak keajaiban lain untuk dinikmati. Ingatlah dalam ciptaan asli mereka disuruh beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi.

Tetapi setelah Kejatuhan, segalanya dipercepat dan kehidupan seorang perempuan sepenuhnya dikuasai oleh anak-anak dan semuanya jauh lebih cepat dan bumi terisi dengan cepat dan kemudian seluruh dunia di tenggelamkan dan kemudian mulai lagi dari awal. Dan sekarang kita sedang mengisi bumi ini hanya dalam beberapa ribu tahun. Tidak msalah, karena dunia itu akan dihancurkan dalam beberapa ribu tahun lagi, benar?

Rasa sakit yang akan datang padanya akan mengancam hidupnya. Dia hampir mati sebelum anak-anaknya lahir ke dunia. Tetapi itu tidak begitu menakutkan sehingga menyebabkan seorang perempuan tidak ingin memiliki anak. Hanya sesaat saja. Bukan hanya ada rasa sakit fisik saat melahirkan. Itu sebabnya obat diperlukan. Alkitab sangat mendukung pekerjaan dokter. Ini membicarakan penderitaan oleh anak-anak yang akan timbul di kemudian hari.

Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Dokter Agung. Nah apa yang bisa dilakukan seorang perempuan untuk meringankan kesedihan dari kutukan ini? Bukan dengan menggunakan obat bius pada saat melahirkan, bukan itu. Coba lihat 1 Timotius 2:13, di mana Paulus memberikan instruksi kepada Timotius untuk gereja dan dia berbicara tentang bagaimana perempuan harus berpakaian di gereja (ayat 9), dan bagaimana mereka harus hidup saleh (ayat 10).

Kemudian dia berkata dalam ayat 13, “Karena Adam yang pertama diciptakan dan kemudian baru Hawa.” Jadi dalam ciptaan asli perempuan itu adalah pembantu laki-laki. Mereka sama secara spiritual. Mereka sama di hadapan Allah dan tentu saja mereka sama di dalam Kristus. Galatia 3:28 mengatakan, “Di dalam Kristus tidak ada laki-laki atau perempuan,” Tetapi dalam urutan penciptaan dalam keluarga, Adam adalah yang pertama, dan Hawa diciptakan untuk menjadi penolongnya.

Dan sebagai penolong Hawa bukan kepala, dia datang untuk membantu Adam. Dan dia harus menghiasi dirinya dengan cara yang membawa kehormatan bagi Adam dan perhatian kepadanya, bukan kehormatan dan perhatian pada dirinya sendiri. Dia harus diam dan menerima instruksi dan tidak mengatasi otoritas seorang pria. Itu urutan ilahi. Sekarang dia dalam ayat 14 memusatkan diri kepada Kejatuhan dan dia mengatakan perempuan itulah yang tertipu.

Tetapi, ayat 15 mengatakan, "Perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal mereka bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan pengendalian diri.” Harapan yang luar biasa. Perempuan telah diberi beban yang berat, tetapi itu bisa diubah. Perempuan itu tidak di bawah bayangan ketidaksenangan permanen Allah. Daripada melahirkan anak-anak itu menjadi titik kutukan, malah itu menjadi titik pembebasannya.

Bagaimana dia sanggup melakukan itu? Ini dia. "Jika mereka bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan pengendalian diri.” Jika seorang perempuan akan menjalani kehidupan yang saleh dan terus hidup dalam iman dan kasih dan pengudusan dan pengendalian diri. Jika dia menjadi apa yang dikatakan ayat 10, seorang perempuan saleh, maka dia akan membesarkan generasi yang saleh dan anak-anaknya akan melanjutkan hidup dengan cara yang sama. Dia akan diberkati. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu