Oct 28, 2018 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2018
Penciptaan Manusia
28 Oktober 2018

Evolusi bukanlah penjelasan yang masuk akal untuk alam semesta atau kehidupan di bumi dalam arti apa pun. Secara ilmiah itu tidak mungkin dan itu ditolak secara alkitabiah. Siapa pun yang menolak bahwa Allah menciptakan alam semesta dalam enam, 24-jam hari menyerang sejarah Kitab Suci, inspirasi Kitab Suci, kebenaran Kitab Suci dan keaslian Kitab Suci.

Alkitab itu sendiri berdiri atau jatuh dengan ketepatan historis Kejadian 1. Jika kita tidak dapat mempercayai kisah penciptaan, mengapa kita harus mempercayai hal-hal lain di halaman Alkitab? Tragisnya, salah satu serangan paling parah yang pernah terjadi pada iman Kristen telah ditimbulkan oleh orang-orang Kristen KTP dan apa yang disebut sarjana injili yang menolak secara luas kisah Kejadian, dan mendukung salah satu bentuk evolusi.

Andy Macintosh yang menulis, ‘Genesis for Today’ mengatakan, “Dalam beberapa tahun terakhir, ada kecenderungan aneh yang berkembang di kalangan orang Kristen. Ada beberapa orang Kristen evangelis yang telah mengembangkan konsep bahwa Allah telah menggunakan evolusi untuk menciptakan dunia, yang disebut evolusi teistik. Ide ini tidak baru tetapi sekarang sering dipakai di kalangan evangelis, dan juga oleh kaum liberal.

Buku lain yang menolak penciptaan bernama, ‘The Scandal of Evangelical Mind’, ditulis oleh Mark Knoll. "Kaum injili Kristen semakin dituntun untuk percaya bahwa interpretasi harfiah dari Kejadian hanyalah masalah opini dan ini diterangkan di buku, ‘Creation and Evolution’. Dia mengatakan, “Masalah penciptaan adalah masalah sekunder seperti hal-hal pasifisme atau politik dimana orang Kristen memiliki hak untuk tidak menyetujui.”

Apakah benar Alkitab itu tidak jelas mengenai penciptaan dimana kita boleh berselisih? Memang, banyak orang evangelis percaya demikian. Bahkan mayoritas kelihatannya percaya hal itu. Ironisnya sementara semakin banyak orang evangelis merangkul semacam bentuk evolusi, sedangkan para penulis sekuler mulai menanjakan diri apakah evolusi itu memang mungkin terjadi. Ketidakpercayaan pada Kejadian pada akhirnya dapat menghancurkan kepercayaan mereka terhadap 65 buku lainnya.

Seluruh makna dosa dan penebusan itu kabur dan hilang jika kita kehilangan jangkar Kejadian itu. Jika kita percaya kita berasal dari kera, dengan generasi-generasi kekerasan dan pertumpahan darah dan bahwa tidak ada Eden secara harfiah, apakah pendapat kita tentang janji-janji Alkitab mengenai Surga baru dan bumi baru di mana ada kebenaran? Bahkan komentator Alkitab yang terkenal, John Stock, percaya bahwa manusia berevolusi.

Nah ini adalah kesedihan dan ketidakpercayaan yang besar terhadap Kitab Suci di bab pertamanya dan ini akhirnya meremehkan semua otoritas alkitabiah dan memberi hak untuk mempertanyakan segala sesuatu yang datang setelah Kejadian 1. Jadi seperti yang telah kita pelajari dari Kejadian, sudah jelas bahwa ini adalah Firman Allah yang sejati mengenai sejarah penciptaan dan kita telah memperlakukannya sedemikian rupa untuk menghormati Allah dan untuk penjelasan pemahaman kita sendiri.

Titik tertinggi penciptaan terjadi pada hari ke enam dalam Kejadian 1:26, Allah menciptakan manusia. "Biarlah kita menjadikan manusia menurut gambar kita, menurut rupa kita, biarkan mereka memerintah ikan-ikan di laut dan burung-burung di langit dan atas ternak-ternak dan di atas seluruh bumi dan di atas binatang melata yang merayap di bumi. Dan Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan gambar Allah, Dia menciptakan pria dan wanita.”

Dia menciptakan mereka dan Allah memberkati mereka dan Allah berkata kepada mereka, 'Jadilah berbuah dan berkembang biak dan penuhi bumi dan tundukkan dan memerintah ikan-ikan di laut dan burung-burung di langit dan atas setiap makhluk hidup yang bergerak di bumi.' Dan Allah berkata, 'Aku telah memberi Anda setiap bibit tanaman yang ada di permukaan seluruh bumi dan setiap pohon yang memiliki biji yang menghasilkan buah. Itu akan menjadi makananmu.”

Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Ini berarti bahwa ia memiliki kesadaran diri, kepribadian, pengartian - yaitu kemampuan untuk mengolah informasi secara rasional, ia memiliki kecerdasan, dan ia memiliki kreativitas. Dan ini mengejutkan untuk melihat di seluruh dunia kreativitas manusia yang luar biasa. Arsitektur yang diciptakan manusia itu menakjubkan. Desainnya luar biasa dan kemudian di museum Anda dapat melihat banyak lukisan semua pelukis ulung.

Ada tanda-tanda kreativitas dalam diri manusia yang mencerminkan gambar Allah di dalam dirinya dan kemudian ada hubungan-hubungan yang kita sudah bicarakan. Hanya manusia yang membina hubungan. Sekarang dengan penciptaan manusia pada hari ke enam, kisah nyata dimulai. Semua ciptaan lainnya hanyalah panggung bagi manusia untuk memperlihatkan drama penebusan. Semua ciptaan lainnya hanya memberikan latar belakang untuk sejarah manusia itu.

Nah sejarah manusia dimulai dalam Kejadian 2:4 dan berlanjut sampai akhir Kejadian 50:26. Ini bukan cerita kedua tentang penciptaan, seperti yang dikatakan para pengkritik. Kejadian 2 tidak berurusan dengan apa yang terjadi selama minggu penciptaan, kecuali yang berkaitan dengan kisah manusia. Itu sangat penting. Kejadian 2 menggambarkan semua rincian di bawah judul Kejadian 1. Kejadian 2 hanya berurusan dengan manusia saja dengan ciptaan lainnya sebagai latar belakang.

Jadi bagaimana caranya Musa mendapatkan informasi ini? Dia tidak mendapatkannya dari sumber manusia, karena tidak ada orang yang menyaksikannya. Allah mengungkapkan data itu kepadanya. Dengarkanlah Ibrani 11:3, “Oleh iman kita mengerti bahwa alam semesta diciptakan oleh firman Allah, sehingga apa yang dilihat tidak terbuat dari hal-hal yang terlihat.” Satu-satunya cara kita memiliki catatan penciptaan adalah saat Sang Pencipta memberikannya kepada kami.

Kejadian 2:4-6, “Inilah generasi-generasi dari langit dan bumi ketika mereka diciptakan, pada hari ketika Tuhan Allah menciptakan bumi dan langit. 5 Ketika semak belukar belum ada di lapangan itu dan tidak ada tanaman kecil di ladang itu yang tumbuh - karena Tuhan Allah belum menurunkan hujan ke atas bumi, dan tidak ada orang yang mengerjakan tanah, 6 dan kabut naik dari daratan dan menyirami seluruh permukaan tanah.

Bagaimana kita bisa mengerti bahwa tidak ada semak di ladang, tidak ada tanaman di ladang karena tidak ada hujan, sementara pada hari ketiga, Allah telah menciptakan tanaman dan Dia menciptakan pohon dan tidak ada hujan? Banjir, pada zaman Nuh dalam Kejadian 6 itu, muncul sekitar 1.000 tahun kemudian. Jadi bagaimana kita bisa katakan, saat kita membicarakan manusia, bahwa Allah belum menciptakan tumbuh-tumbuhan dan alasannya Dia tidak menciptakan mereka adalah karena tidak ada hujan?

Kebingungan itu berasal dari pemahaman dangkal teks Ibrani itu. Kiseido, cendekiawan Ibrani yang hebat, mengatakan bahwa “Cara pertama yang dilakukan orang Ibrani dengan sejarah adalah menyatakan proposisi umum dan kemudian memjelaskan rincian dan hal-hal khusus.” Begitulah caranya Kejadian 2 berhubungan dengan Kejadian 1. Dia menegaskan bahwa Kejadian 2 hanya menambahkan detail pada pernyataan asli dalam Kejadian 1 untuk lebih memperjelas tempat manusia sebagai makhluk sentral di alam semesta.

Apa yang tidak katakan di ayat 5 adalah bahwa tidak ada tanaman atau pohon karena mererka sudah diciptakan pada hari ketiga dan mereka tidak membutuhkan hujan dan juga tidak membutuhkan manusia untuk merawatnya. Jadi tanaman dan pohon di hari ketiga adalah karya lain. Tanaman dan pepohonan zaman sekarang belum bertumbuh karena mereka bergantung pada hujan yang tidak datang selama 1000 tahun dan mereka membutuhkan manusia, yang hanya diciptakan-Nya setelah kejatuhan manusia.

Hujan datang setelah kejatuhan ketika Allah menciptakan lingkungan yang berbeda sekali. Buktinya adalah pelangi. Kita dapat menyimpulkan bahwa tanaman yang berbeda muncul setelah kejatuhan, jadi memang tepat untuk mengatakan bahwa mereka tidak ada di bumi. Allah hanya mengatakan kepada kita bahwa saat kita mulai membahas generasi manusia, kita berada dalam lingkungan sebelum kejatuhan. Itu menyebabkan ada hujan, dan ada banjir. Kejatuhan itu membawa tanaman tertentu yang tidak ada di sana sebelum manusia jatuh.

Ada banyak pohon dan tanaman, seperti yang dinyatakan pada hari ketiga. Dan mereka digunakan untuk manusia sebagaimana dikatakan dalam Kejadian 1:29. Ketika manusia diciptakan, mereka sudah ada di sana untuknya tetapi dua macam tanaman ini belum ada. Seperti dinyatakan dalam kata-kata yang diucapkan Allah kepada Adam setelah ia berdosa dalam Kejadian 3:18, “Semak dan duri akan dihasilkan bagimu dan tanaman dari ladang akan menjadi makananmu.”

Ketika Allah untuk pertama kali menciptakan manusia, tidak ada semak dan duri. Karena tidak ada kejatuhan. Ini adalah referensi untuk jenis-jenis tanaman yang merupakan produk dari manusia yang sedang membajak tanah. Spesies ini belum ada sampai waktu setelah pelanggaran Adam. Dikatakan dalam Kejadian 3:23, “Maka Tuhan Allah mengusir manusia dari Taman Eden untuk mengusahakan tanah yang menjadi asalnya itu.”

Ayat 19, “Engkau akan makan roti dengan keringat di wajahmu.” Di dunia sebelum ada kejatuhan, tidak ada ladang yang diolah dan ditanami. Manusia tidak perlu melakukan itu. Di taman asli itu, ada banyak hal yang dapat dimakan manusia dalam varietas yang mungkin di luar pemikiran. Kiseido mengatakan, “Dan ketika hujan datang di tanah Israel, rumput liar mulai bertumbuh.”

Ketika cerita tentang manusia dimulai, tidak ada hujan dan tidak ada rumput liar. Tidak ada manusia dan tidak ada panen. Ketika Allah menanam tanaman dan pohon pada hari ketiga, terjadi dunia penuh penumbuhan. Pohon-pohon dan tanaman secara alami mereproduksi sendiri oleh benih saja. Tetapi tidak ada semak dan duri. Ayat 6, “dan kabut naik dari daratan dan menyirami seluruh permukaan tanah.”

Nah ini adalah gagasan tradisional bahwa ada penguapan yang datang dari tanah dan menyirami bumi. Tetapi ketika kita melihat langsung ke teks Ibrani asli, kita mendapat gambaran yang berbeda. Dalam bahasa Ibrani dikatakan, “Tetapi air dari dalam naik dari bumi dan menyirami seluruh permukaan tanah.” Secara harfiah ini berarti air itu dengan sendirinya memancar keluar dari tanah.

Jadi seluruh bumi disiram, bukan karena ada hujan turun tetapi oleh air yang keluar dari mata air, dan menutupi tanah. Seluruh bumi dengan semua tanaman luar biasa yang dibuat pada hari ketiga, benar-benar jenuh dengan air. Tidak ada penguapan ke awan yang bergerak di atas tanah, dan menjatuhkan air dan mengalir melintasi bumi dan kembali ke sungai dan kembali ke laut dan kemudian menguap kembali.

Ini memang cocok dengan Kejadian 2:10, “Sebuah sungai mengalir dari Eden untuk mengairi taman itu, dan di sana itu terbagi menjadi empat cabang sungai.” Ini adalah sungai air mancur yang secara harfiah memancar dari tanah di Taman Eden, sumber air yang menciptakan sungai yang menutupi seluruh Taman. Kemampuan bumi untuk menghasilkan tanaman dan pohon-pohon yang subur tidak pernah bergantung kepada hujan yang kadang-kadang datang dan kadang tidak.

Hujan adalah produk dari kejatuhan. Keadaannya tidak seperti itu di taman asli yang berarti tidak ada ketidakpastian. Itu tidak bergantung kepada apapun dan itu bukanlah sesuatu yang Allah harus atur sebagai berkat atau kutukan karena hanya ada kesempurnaan dan ketidakberdosaan di dunia-Nya yang sempurna. Semuanya terus-menerus diairi melalui mata air di bawah tanah, dan air itu ada di mana-mana.

Kejadian 13:10 mengatakan, “Dan Lot mengangkat matanya dan melihat bahwa Lembah Yordan banyak airnya di mana-mana sama seperti Taman Eden. Ini keadaannya sebelum Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomorra.” Dan itulah gambaran seperti apa keadaannya di Eden dan seluruh dunia sebelum kejatuhan. Kiseido menulis, "Manusia akan terus menikmati kondisi ini jika dia tetap bebas dari dosa."

Tiba-tiba, hujan menjadi caranya dimana Allah dapat memberkati atau menghakimi. Jadi siklus hidrologi atau putaran air itu sangat berbeda dengan apa yang kita ketahui setelah kejatuhan, setelah ada banjir besar dan sekarang air datang akibat gerakan udara massa benua global, perubahan suhu musiman tahunan dan itu berada di dalam tangan Allah yang berdaulat untuk memberi hujan, atau menahan hujan.

Yeremia 5:24 mengatakan, "'Marilah kita takut akan Tuhan Allah kita, yang memberi hujan di musimnya, hujan musim gugur dan hujan musim semi, dan menyediakan bagi kita minggu-minggu yang ditentukan untuk panen.” Dan itulah terjadi dalam lingkungan itu, ayat 7, “maka Tuhan Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya, dan manusia itu menjadi makhluk hidup.”

Nah kita tahu bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambarNya sendiri dari Kejadian 1:26, tetapi di sini, kita diberitahu bagaimana Dia melakukannya. Dia membentuk manusia dari debu. Ayub 10:8 mengatakan, "Tangan Engkau membentuk saya dan menciptakan keseluruhan saya.” Apakah Anda melihat evolusi apa pun di ayat tujuh? Apakah Anda melihat leluhur hominoid di sana? Allah benar-benar menciptakan manusia dari debu tanah. Dan setelah dia mati, tubuhnya akan kembali menjadi abu.

Alkitab mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia dari unsur-unsur yang ada dalam debu. Dan apa artinya ini? Nah, unsur-unsur kimia dasarnya adalah nitrogen, oksigen, hidrogen, kalsium dan mereka menyusun semuanya. Kami dibuat dari unsur-unsur kimia dasar yang sama. Itulah sebabnya dalam I Korintus 15:47 mengatakan, "Manusia pertama adalah dari bumi." Allah menciptakan manusia dengan cara yang sama Dia membuat debu. Tidak ada evolusi sama sekali.

Allah meniup ke dalam lubang hidungnya nafas hidup. Ini untuk menyampaikan pemikiran bahwa meskipun manusia memiliki semua alat fisik, semua organ untuk kehidupan, realitas kehidupan adalah sesuatu yang sebenarnya bukan bagian dari komponen fisik itu. Ada realitas kehidupan yang transenden yang hanya bisa diberikan oleh Allah. Allah kemudian meniup ke dalamnya kehidupan dan semua organ tubuh mulai bergerak dalam kehidupan harmonis simbiotik mereka. Itu adalah nafas hidup.

Jadi, Allah secara harfiah meniupkan kehidupan ke dalam segala sesuatu yang hidup, semua yang beranimasi. Itu kata yang sama dengan "roh" tetapi itu hanya untuk manusia. Meskipun Dia menghembuskan nafas hidup ke semua makhluk hidup, hanya ke dalam manusia saja Allah meniupkan kehidupan yang ada dalam gambar-Nya sendiri. Kemudian, akhir dari ayat tujuh, “Dan manusia itu menjadi makhluk hidup.” Itu menjadi jiwa. Allah benar-benar mengambil bentuk fisik itu dan menghidupkannya.

Jadi 1 Korintus 15:45 mengatakan, “Manusia pertama, Adam, menjadi makhluk hidup." Tidak ada evolusi di sini. Tidak ada kelangsungan hidup dari yang terkuat. Tidak ada manusia transisi. Dan saya senantiasa heran atas gagasan evolusi yang aneh, yang tidak berdasar, dan membingungkan yang hanya menciptakan skema irasional untuk menjelaskan apa yang dikatakan Allah dalam satu ayat tentang penciptaan manusia. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu