Aug 12, 2018 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2018
Penciptaan Hari 2
12 Agustus 2018

Ketika kita melihat lagi pada Kejadian 1, kita sampai pada ayat yang sudah akrab bagi kita, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi,” dan itu menjawab pertanyaan-pertanyaan asal. Langit dan bumi, adalah frase Yahudi yang menggambarkan alam semesta. Sekarang, mari kita lihat apa yang diajarkan Firman Allah dalam Kejadian tentang asal. Kisah ini di sini dalam Kejadian memberitakan kepada kita asal mula alam semesta.

Dan dikatakan bahwa Allah yang kekal, pada suatu waktu di masa lalu, menciptakan dari ketiadaan, tanpa bahan yang sudah ada sebelumnya, alam semesta seperti sekarang dalam enam hari matahari. Dia mencapai puncak penciptaan pada hari keenam dengan menciptakan manusia dalam gambar-Nya sendiri, dengan kecerdasan, dengan kepribadian, dengan kesadaran diri dan kognisi, yang berarti kemampuan untuk berpikir dan bernalar. Pada hari ketujuh itu semua selesai, dan Allah beristirahat dari penciptaan.

Ini terjadi sekitar 6000 tahun yang lalu, dan seluruh ciptaan itu dewasa dan tua pada saat penciptaannya. Pada saat penciptaan, tidak ada kematian. Malah, tidak ada pengaruh merusak apa pun yang ada. Dan itulah sebabnya Allah melihat ciptaan-Nya dan berkata, “Itu sangat baik.” Tidak ada binatang maupun tumbuhan yang mati. Tidak ada proses seleksi alam yang terjadi. Tidak ada kelangsungan hidup bagi yang bertahan saja, semuanya sempurna.

Kematian dan korupsi memasuki ciptaan untuk pertama kalinya ketika Adam dan Hawa berdosa dan tidak menaati Allah. Dan itu dijelaskan dalam Kejadian 3 dan tidak ada hubungannya dengan enam hari penciptaan. Kemudian, setelah kejatuhan, permukaan bumi yang dikutuk ini dibentuk kembali secara drastis oleh banjir di seluruh dunia. Itu begitu dalam hingga menutupi semua gunung-gunung di seluruh muka bumi.

Itu adalah banjir dunia dahsyat yang juga menyimpan lapisan fosil di seluruh dunia. Banjir itu menghilangkan seluruh umat manusia, terkecuali delapan orang dan binatang-binatang di bahtera Nuh. Mereka saja yang diselamatkan. Jadi seluruh umat manusia adalah keturunan kedelapan orang itu. Nuh, ketiga putranya, istri Nuh dan istri-istri mereka. Itu adalah rekaman Kejadian. Dan Alkitab itu lebih unggul dari sains manusia.

Keakuratan teks Kejadian tidak berbeda dengan ketepatan dari bagian lain dari Kitab Suci. Seluruh Alkitab diilhamkan oleh Allah. 2 Petrus 1:21 mengatakan, “Tidak pernah pesan dari Allah dikabarkan hanya atas kemauan manusia. Tetapi Roh Allah menguasai orang untuk menyampaikan pesan dari Allah sendiri.” Alkitab benar apakah itu Wahyu dan nubuatan atau apakah Anda berbicara tentang Kejadian dan asal-usul historis.

Selanjutnya, karena asal tidak dapat diulangi, mereka itu berada di luar bidang sains. Karena asal-usul tidak dapat diamati, karena hanya ada satu di sana dan itu adalah Allah, tidak ada yang dapat berkomentar tentang asal-usul kecuali Allah. Dan apa yang Anda miliki dalam Kejadian adalah satu-satunya laporan saksi mata langsung yang akurat tentang asal-usul oleh Sang Pencipta, Sendiri. Nah walaupun itu fakta, banyak orang, termasuk orang Kristen, percaya para ilmuwan yang mengritik Kejadian.

Faktanya, ada banyak orang teolog, komentator Alkitab, pendeta-pendeta dan para pengkhotbah terkenal, yang menyangkal catatan Kejadian karena mereka menerima ilmu evolusi sampai suatu tingkat tertentu. Ilmu pengetahuan tidak dapat membuktikan bahwa ada yang meniadakan rekaman Kejadian. Bahkan, catatan Kejadian adalah satu-satunya jawaban misteri sains. Tetapi sayangnya, para teolog Kristen dan orang-orang Kristen membantah kisah Kejadian, karena mereka diintimidasi oleh sains.

Nah, ada satu buku yang memberi komentar tentang Kejadian. Satu buku yang benar-benar sempurna, yang tidak bisa salah, yang berkomentar secara otoritatif tentnang Kejadian. Dan Kitab itu untuk selamanya menyelesaikan masalah keakuratan Kejadian. Itu adalah Perjanjian Baru. Itu ditulis oleh orang-orang sederhana, yang diberi kata-kata untuk ditulis oleh Allah Sendiri, sehingga penulisnya adalah Sang Pencipta.

Kalian memiliki kisah penciptaan di dalam Kejadian. Dan di Perjanjian Baru, kalian memiliki komentar Sang Pencipta tentang catatan Kejadian. Di sana kalian dapat menemukan penegasan tentang penciptaan enam hari itu. Ada penegasan tentang penciptaan instan itu. Ada penegasan tentang manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, penegasan dari Adam yang diciptakan dan kemudian Hawa. Ada penegasan tentang kejatuhan di sana dalam penjelasan yang sangat spesifik.

Ada penegasan tentang banjir di sana dalam penjelasan yang sangat spesifik. Ada penegasan tentang Nuh dan keluarga Nuh yang dapat hidup. Semua catatan Kejadian sangat khusus disebut dalam Perjanjian Baru yang diilhami. Kalian tidak dapat menemukan apa pun tentang evolusi di Kejadian. Tanpa kecuali, referensi mengenai penciptaan dan khususnya di dalam Kejadian 1 hingga 11 menggambarkan peristiwa historis di masa lalu.

Kutipan dari ciptaan yang diberikan dalam Kejadian 1 hingga 3 dianggap dalam Perjanjian Baru sebagai benar secara harfiah dan historis. Doktrin Perjanjian Baru didasarkan pada kutipan-kutipan ini dalam Kejadian 1 hingga 3, dan tidak ada validitas dan bahkan keliru jika peristiwa Kejadian tidak benar secara historis. Jika Adam bukan kepala dari seluruh umat manusia, maka Yesus Kristus, Adam terakhir, bukanlah kepala ciptaan baru.

Perjanjian Baru membuat banyak referensi tentang Kejadian dan penciptaan. Dan itu dilakukan sangat alamiah. Tidak ada upaya untuk mempertahankan, tidak ada upaya untuk menjelaskannya, itu hanya dinyatakan sebagai fakta. Markus 13:19 mengatakan, “Pada hari-hari yang mengerikan itu akan ada suatu kesusahan yang belum pernah terjadi, semenjak Allah menjadikan dunia sampai sekarang.” Yohanes 1:3, “Segalanya dijadikan melalui Dia, dan dari segala yang ada, tak satu pun dijadikan tanpa Dia.”

Roma 1:20, “Semenjak Allah menciptakan dunia, sifat-sifat Allah yang tidak kelihatan, yaitu keadaan-Nya sebagai Allah dan kuasa-Nya yang abadi, sudah dapat difahami oleh manusia melalui semua yang telah diciptakan.” 2 Korintus 4: 6 mengatakan, “Allah yang berkata, "Hendaklah dari dalam gelap terbit terang," Allah itulah juga yang menerbitkan terang itu di dalam hati kita, supaya pikiran kita menjadi terang untuk memahami kecemerlangan Allah yang bersinar pada wajah Kristus.” Itulah yang Dia lakukan pada hari pertama.

Kolose 1:16, “Sebab melalui Dialah Allah menciptakan segala sesuatu di surga dan di atas bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, termasuk juga segala roh yang berkuasa dan yang memerintah. Seluruh alam ini diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus.” Ibrani 1:10, “Allah berkata juga, "Engkau, Tuhan, pada mulanya menciptakan bumi, dan Engkau sendiri membuat langit.” Ibrani 11:3, “Karena beriman, maka kita mengerti bahwa alam semesta ini diciptakan oleh firman Allah.”

Kisah 17:26 mengatakan, “Dari satu orang manusia Ia membuat segala bangsa dan menyuruh mereka mendiami seluruh bumi. Ia jugalah yang menentukan sejak semula, kapan dan di mana batas-batas tempat tinggal mereka.” 1 Korintus 11: 8-9, “sebab laki-laki tidak dijadikan dari wanita, wanitalah yang dijadikan dari laki-laki. 9 Laki-laki tidak pula dijadikan untuk wanita, melainkan wanita dijadikan untuk laki-laki.” Sekali lagi Allah menciptakan.

Dan dalam 2 Petrus 3:5, Petrus mengacu kepada air bah dan bahkan juga ke dunia yang telah terbentuk ketika dilanda air, ketika dia berkata, “Karena mereka sengaja tidak mau mengaku bahwa langit sudah ada sejak lama, dan bumi terbentuk dari air dan melalui air oleh firman Allah." Efesus 3: 9, “dan juga supaya melalui saya semua orang tahu bagaimana Allah, Pencipta semesta alam ini, melaksanakan rencana-Nya yang sejak dahulu kala dirahasiakan kepada dunia.”

Roma 1:25, “Bukan Pencipta melainkan yang diciptakan itulah justru yang disembah dan dilayani oleh manusia.” Wahyu 4:11, “Ya Tuhan, ya Allah kami! Engkau sajalah yang layak menerima pujian, hormat dan kuasa. Sebab Engkau-lah pencipta segala sesuatu, dan atas kehendak-Mu juga segala sesuatu itu telah terjadi dan hidup.” Wahyu 14:7, “Takutlah kepada Allah, dan pujilah kebesaran-Nya! Sebab sudah waktunya Allah menghakimi manusia. Sembahlah Dia yang menjadikan langit dan bumi, lautan dan mata air!”

Ibrani 2:10, “Memang sudah sepatutnya Allah, yang menciptakan segala sesuatu untuk maksud-Nya sendiri, dalam membawa banyak anak kepada kemuliaan, membuat Yesus penyelamat yang sempurna melalui penderitaan.” Evolusi telah diperkenalkan benar-benar sebagai alternatif ateis, sebagai alternatif tak bertuhan. Dan evolusi menuntut iman irasional dalam kejadian kebetulan. Telah dibuktikan oleh sains bahwa itu tidak dapat terjadi, karena DNA, informasi kode genetik itu sudah ditetapkan.

Naturalisme berkata bahwa alam adalah semuanya yang ada. Dan itu memang asumsi yang mendasari semua ilmu alam. Ini mendasari semua filsafat humanistik naturalis. Ini mendasari semua pekerjaan intelektual. Ini mendasari semua moralitas, atau lebih baik dinyatakan yang tidak bermoral. Dengan kata lain, fondasi dari keseluruhan kebudayaan kita adalah gagasan tentang alam ini adalah semuanya yang ada. Jika naturalisme itu benar, maka manusia menciptakan Allah, dan Allah tidak menciptakan manusia.

Dan jika kepercayaan pada Allah hanyalah takhayul yang tak berdasar, maka kita tidak perlu mendengarkan apa pun yang dinyatakan dalam Alkitab, dan tentu saja tidak Sepuluh Perintah, hukum-hukum moral, dan seterusnya. Jadi, apa yang dipikirkan orang beragama adalah ancaman. Mereka orang non-intelektual dan mereka mengganggu kebebasan moral kita. Faktanya, kita haruslah hanya membicarakan hak-hak dan nilai. Dan hak-hak dan nilai-nilai itu hanya dapat diputuskan oleh setiap individu.

Setelah semua pembunuhan masal ini terjadi dimana-mana, tidak ada satu orangpun yang berbicara tentang dosa. Orang-orang tidak berbuat salah karena dosa. Mereka melakukan pelanggaran itu karena entah bagaimana mereka melampaui batas hak-hak mereka. Entah bagaimana mereka memiliki nilai-nilai yang rusak. Mereka diperlakukan sebagai memiliki masalah psikologis daripada masalah teologis. Tidak ada Pencipta, dan tidak ada hakim moral. Tidak ada tujuan hidup. Tidak ada nasib dan tidak ada teologi yang benar.

Orang evolusionis naturalis membenci Allah dan mencintai dosa. Mereka sangat jahat dalam kehidupan pribadi mereka sendiri. Orang evolusionis teistik yang ingin memaksakan evolusi kepada Kejadian dan menyatukannya dengan Allah, akan mengatakan dia mencintai Allah dan dia akan mengatakan bahwa dia membenci dosa, tetapi sebenarnya dia hanya sedikit mengasihi Allah dan dia sangat mencintai reputasi akademisnya. Disiplin yang mengatur di dunia, yang adalah bidang pemahaman yang paling penting, bukanlah sains.

Disiplin yang mengatur adalah teologi. Satu-satunya cara Anda akan memahami alam semesta, satu-satunya cara Anda akan memahami sejarah manusia, satu-satunya cara Anda akan memahami perilaku dan mengapa orang melakukan apa yang mereka lakukan, satu-satunya cara Anda akan memahami arus kehidupan dan dari mana kita berasal dan ke mana kita pergi adalah ketika Anda memahami teologi sejati yang berasal dari Firman Allah.

Anda semua adalah para teolog karena Anda mengenal Allah yang benar dan hidup, dan Anda tahu cara-cara Dia dapat dikenal. Dan di dunia yang berevolusi, sangat sulit untuk memiliki poin tetap. Itulah sebabnya para pendidik saat ini adalah orang relativis dalam segala hal. Dan sampai anak-anak belajar standar dari Allah, hal-hal akan menjadi lebih buruk karena tidak ada jawaban dalam evolusi. Hanya ada standar masyarakat yang berevolusi dan relatif.

Tidak ada harapan bagi masyarakat di mana evolusi naturalistik adalah ratu ilmu pengetahuan, di mana segala sesuatu harus menjawab kepadanya. Para siswa diberi klarifikasi nilai oleh guru yang tidak memiliki standar moral apapun. Dan kemudian mereka diberitahu bahwa mereka perlu membangun gaya hidup mereka sendiri di mana tidak ada otoritas, tidak ada dosa, tidak ada hukum ilahi yang tetap, tidak ada rasa malu, tidak ada kesalahan, dan tidak ada konsekuensi.

Dan mereka benar-benar yakin bahwa segala sesuatu yang ada saat ini adalah hasil dari proses yang kebetulan dan acak. Seperti yang dikatakan seorang penulis, “Alam semesta seperti yang kita ketahui hanyalah salah satu hal yang terjadi sewaktu-waktu.” Tetapi bertentangan dengan semua itu, keyakinan yang teguh dalam keakuratan dan kebenaran Alkitab adalah inti dari semua teologi yang benar. Dan itu dimulai dengan mempercayai kisah Kejadian.

Itu sangat penting untuk pandangan dunia Kristen. Dari Koalisi Universitas Kristen yang terdiri dari 110 perguruan tinggi Kristen, hanya enam yang menegaskan kisah Kejadian. Jadi kita memiliki lebih dari seratus perguruan tinggi Kristen yang tidak memiliki pandangan dunia Kristen. Saya mencoba melakukan dua hal dalam pesan-pesan ini, memberi Anda beberapa pemikiran rasional, sedikit pemikiran filosofis, dan beberapa hal ilmiah sebelum kita melanjutkan ke teks.

Jadi apa yang terjadi di hari pertama, adalah Allah menciptakan waktu, ruang dan materi. Dan itu ditutupi dengan air dan kemudian dikelilingi kegelapan. Dan kemudian pada hari pertama, ayat 3, “Allah berfirman, 'Jadilah terang,' lalu ada terang.” Allah menamakan terang itu hari, kegelapan Ia sebut malam, kemudian ada petang dan pagi, itulah satu hari.” Allah kemudian menetapkan siklus terang/gelap dalam rangkaian siang/malam permanen dari 24-jam hari matahari.

Mari kita melihat Hari kedua. Allah memisahkan surga dari bumi. Kemudian Dia memisahkan air dari tanah kering sehingga ada tempat untuk ikan di laut dan kehidupan darat di tanah kering. Dengan demikian alam semesta disediakan untuk hidup di tiga hari pertama itu, pendekatan yang sangat masuk akal. Cahaya dari kegelapan, surga dari bumi, daratan kering dari air. Dan di antara kedua elemen itu ada sebuah kubah. Kubah itu mendjelaskan gagasan ruang.

Di ayat 8, Allah menamakan kubah yang luas ini surga. Dan, ada air yang naik, dan ada air yang menetap di bawah, dan Dia menciptakan ruang di antaranya. Pemisahan air di atas langit dan di bawah telah menyebabkan banyak diskusi. Ada banyak yang percaya bahwa di sekitar bumi diciptakan sebuah kanopi air. Whitcomb dan Morris percaya bahwa air di atas kubah itu seperti uap yang menyelubungi seluruh bumi.

Dan mereka menyarankan, itulah sebabnya manusia, binatang dan tumbuhan hidup begitu lama pada awalnya. Ada dinosaurus dan manusia yang hidup lama sekali untuk menjadi seperti Methuselah, yang berusia 900 tahun lebih karena mereka terlindung dari cahaya ultra-ungu karena kanopi air ini. Dan kemudian pada saat banjir, kanopi itu meledak dan menenggelamkan bumi, bersama dengan bencana tektonik yang menghancurkan bumi dan menciptakan lingkungan setelah banjir sekarang ini.

Tetapi kita tidak tahu pasti itu. Tidak ada apa pun di Kejadian tentang kanopi uap di atas bumi. Tapi, sepertinya penjelasan itu masuk akal. Dan saran telah dibuat bahwa uap air memiliki kemampuan untuk menyaring radiasi matahari yang masuk dan untuk membubarkan banyak radiasi yang dipantulkan dari permukaan bumi. Jadi itu akan berfungsi sebagai rumah kaca global, yang dapat mempertahankan suhu hangat di seluruh dunia.

Kombinasi suhu hangat, kelembapan yang memadai di mana-mana akan menyebabkan ada tumbuh-tumbuhan luas dan pertumbuhan subur di seluruh dunia. Tidak ada padang gurun tandus dan tidak ada topi es. Dan kemudian pada saat banjir ketika Allah menenggelamkan bumi, kita semua terkena cahaya ultra-violet dan hidup dipersingkat dan orang-orang hanya hidup 60 tahun setelah itu. Apakah itu benar terjadi seperti itu? Yah dalam Kejadian itu tidak dikatakan.

Sebagai seorang teolog, kita hanya bisa mengatakan apa yang dikatakan Alkitab. Kita hanya bisa mengatakan bahwa Allah menciptakan jenis kanopi, jenis air di atmosfer yang dikendalikan agar tidak menghasilkan efek buruk yang disebutkan oleh para ilmuwan penciptaan. Ungkapan “Hal itu terjadi” digunakan di dalam ayat 9, ayat 11, ayat 15, dan ayat 24 untuk pemahaman kita tentang sifat yang teguh, tetap dan tidak berubah dari unsur ciptaan itu. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu