Feb 04, 2018 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2018
Sikap Paulus
4 Februari 2018

Sampai dengan Kis 21, kita telah mengikuti pelayanan Rasul Paulus sebagai orang merdeka. Dimulai pada Kis 22, dia menjadi tahanan; dan dari sini sampai kematiannya, dia tetap menjadi tahanan. Pelayanannya tidak berkurang, hanya berbeda saja. Sekarang selama ini, dia memberikan enam pembelaan diri yang berbeda atas tindakan dan sikapnya. Pembelaan pertama diberikan di sini dalam Kis 21:27 - 30.

Di tengah penangkapan dan pembelaannya, kita melihat prinsip bagaimana memberikan kesaksian positif dalam situasi negatif; dan kami telah mencoba untuk menarik prinsip-prinsip itu keluar. Sekarang kita akan melihat bagian akhir narasi yang ada hubungannya dengan sikap. Dalam memberikan kesaksian positif, sikap itu sangat penting. Sikap saya terhadap orang yang tidak beriman akan mempengaruhi kesaksian saya.

Jika saya benar-benar mengasihi orang itu, yang negatif dalam hidupnya akan digantikan oleh kasihku yang positif; dan itu tidak akan menjadi masalah bagaimana dia antagonis atau bagaimana dia tidak berlaku seperti seharusnya, saya tetap akan mengasihi mereka. Jadi sikap itu adalah kritis. Banyak orang Kristen dituduh memiliki sikap yang salah, dengan memikir bahwa mereka lebih unggul, tanpa kasih dan tidak peduli.

Kasih yang sejati, penuh perhatian, jujur, dan dalam untuk mereka yang terhilang adalah dasar dari kesaksian yang efektif. Orang yang paling efektif dalam mencapai yang terhilang adalah orang-orang yang kasihnya tulus, karena kita cenderung melakukan apa yang kasih kita memotivasikan kita. Orang Kristen yang mengutuk dan membenarkan diri sendiri adalah orang yang benar-benar tidak mengasihi orang seperti yang dilakukan Yesus, jadi daripada memenangkan orang, dia malah mengasingkan orang.

Sekarang, dalam bagian ini, Paulus menunjukkan kepada kita sikap yang benar terhadap orang yang tidak percaya, dan itu dasar untuk mempengaruhi mereka bagi Kristus. Pertama, Allah sangat mengasihi dunia, sampai Dia memberikan Anak-Nya yang Tunggal untuk mati bagi dosa orang-orang yang beriman. Paulus sama juga membuat pernyataan tentang kasihnya kepada Israel. Dia begitu mengasihi Israel, sehingga dia rela dikutuk. Dan dengan sikap seperti itu dia mengabarkan injil kepada mereka.

Sekarang Rasul Paulus baru saja mengakhiri perjalanan misinya yang ketiga. Dia tiba di Yerusalem pada hari raya Pentakosta. Ini adalah saatnya Yerusalem dipenuhi orang. Nah pada ketiga perjalanan misi ini, Paulus memiliki dampak positif dan negatif. Secara positif, dia memenangkan banyak orang kepada Yesus Kristus dan memulai banyak gereja. Secara negatif, dia mengasingkan orang-orang Yahudi yang tidak percaya kemanapun dia pergi.

Hal pertama yang akan dilakukannya saat pergi ke sebuah kota adalah pergi ke rumah ibadat. Terus dia memberitakan Kristus di sinagog itu; dan beberapa orang Yahudi akan percaya dan sisa mereka akan bersikap antagonis dan, kebanyakan mereka akan membencinya. Dan, saat ia pergi dari kota ke kota, banyak sekali orang Yahudi, kebanyakan pemimpin-pemimpin dan bukan rakyat, membencinya.

Sepanjang perjalanannya ke Yerusalem, dia menghadapi permusuhan dari para pemimpin Yahudi. Nah, yang lebih buruk lagi, ketika dia tiba di Yerusalem pada waktu pesta, semua pemimpin Yahudi dari seluruh dunia juga ada di sana. Jadi dia tiba dalam situasi yang eksplosif di Yerusalem bersamaan dengan musuh-musuhnya. Dia dikelilingi oleh semua musuhnya yang membencinya. Orang-orang Yahudi non-Kristen ini dari Asia Kecil, sekarang melihat dia di Bait Suci.

Paulus telah melayani di sana secara efektif selama tiga tahun dan mendirikan tujuh gereja yang berbeda. Tetapi mereka mulai dengan menuduh Paulus bahwa dia melawan orang-orang Yahudi, melawan hukum Taurat, dan melawan Bait Suci. Ini semua dusta hanya untuk menghasilkan kekerasan massal terhadapnya, dan itu memang terjadi. Dan senua orang yang adalah Yudaisme legalistik, diliputi kegilaan untuk membunuhnya; dan karena itu mereka mulai kerusuhan itu.

Dalam Kis 21:30 mereka membawa Paulus keluar dari Bait Allah, lalu menutup pintu. Mereka mau membunuhnya di ayat 31. Tetapi ketika orang Romawi melihat bahwa ada kerusuhan di Bait Allah itu, perwira dan tentara mereka masuk untuk meredakan kerusuhan tersebut. Ayat 31- 36, adalah kedatangan orang Romawi. Nah komandan Romawi itu, berpikir bahwa ini adalah revolusioner Mesir yang sebelumnya telah menimbulkan kerusuhan.

Mereka menangkap Paul dan membelenggu dia dan kemudian mereka naik tangga melalui gerombolan, dan menggotongnya diatas kepala mereka. Jadi Paulus sekarang berada di tangga atas, menuju ke markas. Dia diam saja dan tunduk, dan membiarkan dirinya dibelenggu dan dipenjarakan. Mengapa? Karena Allah telah memberitahunya melalui nabi Agabus bahwa ini akan terjadi, benar?

Nah perhatikanlah, Paulus menerima situasi ini sebagai kehendak Allah. Allah ingin membawa Anda ujian dan situasi sulit, karena tes itulah yang membuat Anda kuat. Allah ingin membawa Anda ke dalam konfrontasi yang sulit dengan dunia yang jahat, karena begitulah reaksi orang saat diperhadapkan dengan Injil. Jadi Anda mungkin juga dilatih untuk menghadapi situasi negatif seperti ini; dan ketika itu terjadi, terimalah semuanya karena itu datang dari Dia.

Nah Paulus selalu menciptakan kesempatan untuk bersaksi kepada orang-orang. Marilah kita lihat apa yang dia lakukan saat dia sampai di puncak tangga. Dia bertanya pada komandan, “Bolehkah saya bicara sebentar dengan Tuan?” Dan orang itu terkejut bahwa Paulus berbicara bahasa Yunani. "Apakah kau bisa bahasa Yunani?" "Iya," kata Paul, “Saya orang Yahudi; saya warga kota Tarsus, kota yang penting di Kilikia.” Ini adalah kesempatan baik untuk mengetahui apa tuduhannya.

Jadi dia berkata, baiklah silahkan bicara. Di tengah situasi yang negatif, Paulus menciptakan sebuah kesempatan positif. Kemudian dia mulai berbicara dalam Kis 22: 1-5 kepada seluruh orang banyak. Dia berbicara dalam bahasa Aram, yaitu bahasa Ibrani. Paulus berkata, "Saya adalah orang Yahudi." Ayat 3, "Saya dididik di kaki guru besar Gamaliel,” yang adalah guru Yahudi terkemuka pada masanya. “Saya diajarkan sesuai dengan hukum nenek moyang kita," itulah interpretasi hukum Musa.

"Saya adalah orang Zelot," yang merupakan bagian paling kanan dalam partai orang Farisi. Saya adalah orang Yahudi seperti Anda, dan bahkan saya dulu cukup bersemangat untuk melakukan apa yang Anda lakukan hari ini. Saya dulu telah menganiaya orang-orang sama seperti Anda menganiaya saya. Dan, sepertinya, dia membenarkan tindakan mereka. Kemudian dia berkata, “Bukan hanya itu, saya dulu didukung, di ayat 5, oleh imam besar dan seluruh Sanhedrin Yahudi.”

Paulus memberikan kesaksian positif dalam situasi negatif. Lakukanlah semua yang Anda bisa untuk memenangkan para pendengar Anda. Tetapkanlah kesamaan. Aku tahu motivasimu. Saya mengerti semangat Anda, dll. "Mudah-mudahan, mereka mengatakan saat ini, “orang ini tidak buruk. Dia adalah seorang Yahudi, yang belajar dengan Gamaliel, dia adalah tangan kanan perkumpulan orang Farisi, yang diberi tugas dari Imam kepala untuk melakukan apa yang dia lakukan, dan dia bahkan membenarkan motivasi kami.

Namun kebanyakan orang massa itu tidak tahu masalahnya apa. Nah, bagian pertama pembelaannya menggambarkan bagian kisah itu sebelum pertobatannya. Bagian kedua adalah keadaan pada waktu dia bertobat di ayat 6-16. Ingatlah bahwa dia dalam perjalanan ke Damsyik untuk menangkap orang Kristen dan memenjarakan mereka di Yerusalem. Kemudian dia melihat cahaya yang cerah dan mendengar Yesus menanyakannya mengapa dia menganiaya Yesus dari Nazaret.

Tahukah Anda bahwa ini adalah konfirmasi lain lagi bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Jika Yesus berbicara dengan Paulus, itu membuktikan bahwa Yesus dari Nazaret itu hidup. Paulus mengatakan, seandainya Anda meragukan saya, ada banyak orang bersama saya yang melihat cahaya yang sama dan jatuh ke tanah sama-sama. Satunya perbedaan adalah mereka tidak bisa mendengar apa yang saya dengar. Berita itu khusus bagi saya. Paulus katakan, “Apa yang terjadi pada aku adalah perbuatan ilahi yang supranatural dari Allah.”

Ayat 10, “Lalu saya bertanya, 'Saya harus berbuat apa, Tuhan?' Tuhan menjawab, 'Bangunlah dan masuk ke Damsyik. Di sana nanti engkau akan diberitahu mengenai semua yang Allah ingin engkau lakukan.” Saya bepergian ke Damsyik untuk melakukan bisnis saya. Kemudian ada cahaya yang cerah sekali dan suara dari surga mengatakan, “Pergilah dan lakukanlah ini.” Saya menjadi buta dan saya pergi. Jika Anda ingin menuduh seseorang, lebih baik Anda berbicara dengan Allah. Dialah yang melakukan itu.

Kemudian ada orang yang muncul bernama Ananias, orang saleh menurut hukum Taurat, yang memiliki reputasi baik dari semua orang Yahudi yang tinggal disitu. Ayat 13-14, “Ia datang menengok saya, lalu berdiri di sebelah saya dan berkata, 'Saudara Saulus, hendaklah kau melihat lagi!' Saat itu juga saya bisa melihat dia. 14 Kemudian ia berkata, “Allah nenek moyang kita” sudah memilih engkau supaya engkau mengetahui kehendak-Nya, dan melihat ‘Yang Benar’, serta mendengar suara dari mulut-Nya sendiri.”

Ini adalah istilah Mesianik yang menggambarkan Kristus. Dan, setiap orang Yahudi yang berdiri di sana tahu siapakah “Allah nenek moyang kita.” Sekarang inilah kuncinya, Paulus mengagungkan Tuhan. Dia hanya ingin mereka tahu bahwa jika mereka menolak ini, mereka tahu mereka menolak Allah. Paulus memastikan bahwa jika mereka mau menolaknya, bahwa mereka akan menyangkal Allah, yaitu Allah yang mereka klaim adalah Allah mereka, Allah nenek moyang mereka, Ishak, Yakub dan Abraham.

Paulus mengatakan, alasan saya adalah diri saya adalah karena Allah masuk kedalam hidup saya dan membuat saya seperti ini. Jika Anda ingin berdebat, Anda harus berdebat dengan Allah. Pastikanlah bahwa apa yang Anda berikan sebagai kesaksian adalah keajaiban yang Allah telah bawa ke dalam hidup Anda. Kesaksian yang paling jelas membuat seseorang hanya memiliki satu pilihan: yaitu menerima kebenaran tentang Allah atau menolaknya. Saya percaya pada kedaulatan Allah.

Tetapi setiap orang harus menanggapi undangan Allah, dan itulah yang kita temukan di ayat 16, “Sekarang jangan lagi menunggu lama-lama. Bangunlah, dan berilah dirimu dibaptis. Berserulah kepada Tuhan supaya engkau dibebaskan dari dosa-dosamu.'” Nah inilah keseimbangan keselamatan, yaitu tanggapan orang itu. Wahyu berkata, "Nama Anda tertulis di dalam Kitab Kehidupan sebelum dunia diciptakan.” Ada orang yang percaya segalanya, tetapi mereka tidak pernah menerima tawaran keselamatan itu.

Tiga tahun setelah pertobatannya, Paulus kembali ke Yerusalem dari Arab. Periode itu dibahas dalam Galatia 1: 17-18 dan Kis 9. Sekarang pembelaannya mencakup pengorbanannya setelah pertobatannya. Ayat 17-18, "Itu terjadi, saat aku kembali ke Yerusalem dan sedang berdoa di Bait Suci, bahwa aku berada dalam keadaan tidak sadar dan melihat Dia berkata kepadaku, “Cepat tinggalkan Yerusalem, sebab mereka tidak akan menerima kesaksianmu tentang Aku.”

Bahkan sebagai seorang Kristen, tiga tahun kemudian, Paulus masih tetap menghormati kebiasaan Yahudi. “Jadi saya sedang berdoa di Bait Suci, dan saya sedang tidak sadar.” Ini adalah keadaan dimana dia diangkat dari indra normal. Terkadang Allah mengambil hamba pilihan-Nya dan memberikan mereka kesadaran di luar indra alam manusia. Paulus diizinkan untuk melihat dunia aktivitas spiritual. Di hadirat Allah, Anda akan terbuka untuk dunia itu.

Ayat 19-21, "Jadi saya berkata, 'Tuhan, mereka tahu bahwa di setiap rumah ibadat saya menangkap dan memukul orang-orang yang percaya kepada-Mu. 20 Dan ketika darah hambamu Stefanus ditumpahkan, aku juga berdiri dengan menyetujui kematiannya, dan menjaga pakaian orang-orang yang membunuhnya. 21 Lalu Dia berkata kepadaku,' Pergilah saja, karena Aku akan mengirimmu jauh dari sini kepada orang-orang bukan Yahudi.” Jika mereka tidak mau mendengarkan Yesus setelah Dia melakukan mukjizat setelah mukjizat di depan mata mereka, mereka juga tidak akan mendengarkan Anda.

Nah, ketika dia mengucapkan kata ‘orang bukan Yahudi’, itu melepaskan semua prasangka mereka. Mereka benci orang-orang bukan Yahudi, dan yang paling mengganggu mereka adalah bahwa dia berkeliling untuk mengkhotbahkan kesetaraan. Orang Yahudi dan bukan Yahudi adalah satu di dalam Kristus, dan mereka tidak harus menjadi orang Yahudi dulu. Mereka tidak harus mematuhi hukum, dan ini membuat mereka marah sekali. Jadi marilah kita melihat tindakan rakyat. Semua logika, semua akal dan semua alasan dikonsumsi dalam nyala prasangka mereka.

Ayat 22-23, "Dan mereka terus mendengarkan dia sampai kata ini, lalu mereka berteriak dan berkata, “Bunuh saja orang seperti itu, karena ia tidak patut hidup! "23 Kemudian, saat itu mereka berseru dan merobek pakaian mereka dan mengepulkan debu ke udara.” Selalu pada saat mereka ingin membunuh orang dengan batu, mereka melepaskan pakaian luarnya. Tetapi karena Paulus ada di puncak tangga, mereka mulai melemparkan tanah.

Lihatlah sikap Paulus di tengah semua ini. Hatinya dipenuhi kasih, kasih untuk semua orang. Kasih untuk orang-orang Yahudi yang melemparkan tanah, kasih kepada orang-orang Romawi yang berdiri di sana menjaganya. Itulah karakternya. Claudius Lysias punya masalah nyata. Jadi sebagai tentara Romawi dia pikir, marilah kita menyiksanya.

Ayat 24, "Maka komandan memerintahkan dia untuk dibawa ke markas, dan mengatakan bahwa dia harus diperiksa dengan pencambukan, agar dia tahu mengapa mereka berteriak begitu terhadap dia." Jadi dia membawanya masuk untuk dicambuk. Mereka akan meregangkan tubuhnya sampai ekstrem, sehingga semua pukulan itu akan memotong ke dalam daging. Nah pencambukan itu, jika tidak membunuhnya akan melumpuhkannya seumur hidup.

Ayat 25, "Tetapi waktu mereka mengikatnya dengan tali pinggang, Paulus berkata kepada perwira yang berdiri di situ, “Apakah diperbolehkan mencambuk seorang warga Romawi sebelum ia diadili?” Paulus tidak pernah dicambuk, karena hal itu adalah sebuah pelanggaran hukum untuk menyiksa orang Romawi. Hukumannya adalah eksekusi. Dan dengan orang-orang Romawi ini, dia tidak marah. Ini hanya pertanyaan yang dia tawarkan. Paulus mengatakan bahwa setiap tanda yang ada di tubuhnya adalah tanda dari Yesus Kristus.

Ayat 26-27, “Mendengar hal itu, perwira itu pergi kepada komandan tersebut, dan berkata, “Hati-hati yang bapak lakukan, orang ini warga negara Romawi.” 27 Maka komandan itu pergi dan berkata kepadanya, “Coba beritahukan, apakah engkau orang Romawi?” “Ya,” kata Paulus.” Lihatlah bagaimana Allah telah memperlengkapkan Paulus untuk setiap pencobaan. Ayat 28, "Komandan itu menjawab, “Dengan jumlah besar, saya memperoleh kewarganegaraan ini.” Paulus menjawab, “Tetapi saya lahir sebagai warga negara Roma.”

Dia bukan warga kelas dua. Dia adalah warga kelas satu. Ayat 29, "Saat itu juga mereka yang hendak memeriksanya, mundur dari padanya; dan komandan juga takut setelah mengetahui bahwa dia adalah orang Romawi, dan karena dia telah memborgoltnya.” Sikap Paulus adalah kasih tanpa pamrih bagi orang di sekitarnya. Dia melakukan segalanya untuk memenangkan hati mereka, dan dia mengasihi orang bukan Yahudi cukup banyak sampai ia menyelamatkan nyawa komandan itu.

Ayat 30, “Komandan pasukan Roma itu ingin sekali mengetahui apa sesungguhnya yang menyebabkan orang-orang Yahudi menyalahkan Paulus. Oleh sebab itu besoknya ia memanggil imam-imam kepala dan Mahkamah Agama supaya berkumpul. Lalu Paulus dilepaskan dari belenggunya, kemudian dibawa menghadap mereka semua.” Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu