Jan 14, 2018 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2018
Penangkapan Paulus
14 Januari 2018

Malam ini kita ingin melihat pelayanan Paulus di penjara dengan jelas. Dulu dia pernah dipenjarakan untuk waktu singkat bersama Silas di KPR 16 di Filipi. Namun Tuhan mengirim gempa bumi sehingga penjara itu terbuka, dan dia sempat menyelamatkan kepala penjara dan semua orang dirumahnya. Namun mulai KPR 21, dia benar-benar menjadi tawanan sejak kejadian itu.

Dan dia memberikan enam pembelaan diri yang terpisah atas tindakannya. Pembelaan diri pertama mulai di KPR 21:18, yang kedua di KPR 22:30, dst. Nah pembelaan diri pertama diadakan dihadapan dewan. Yang kedua, ketiga dan keempat adalah dihadapan para gubernur Felix dan Festus. Yang kelima dihadapan raja dan yang terakhir dihadapan orang Yahudi. Dua yang pertama terjadi di Yerusalem, berikutnya di Kaisarea dan yang terakhir di Roma.

Nah, di KPR 21 kita melihat pembelaan diri pertama. Dan itu diberikan dihadapan kerusuhan di Yerusalem, dimana dia dituduh. Jadi kita dapat menamakan itu, “Bagaimana caranya memberi kesaksian positif dalam situasi negatif.” Dan sebenarnya itu bisa menjadi judul seluruh kitab Kisah Para Rasul, karena keadaan Paulus selalu negatif dimana dia memberikan kesaksian positif.

Kadang-kadang orang Kristen diperhadapkan pada dilema bagaimana memberi kesaksian positif dalam situasi negatif. Mungkin itu terjadi di tempat pekerjaanmu, Anda telah menyatakan Anda orang Kristen, dan ada orang yang mengritik Anda, jadi setiap kali ada kesempatan untuk berbicara, Anda ada semacam perjuangan dihatimu. Ada beberapa diantara kita yang ada di dalam situasi bencana alam besar dan dunia ini melihat untuk menentukan apakah kami memiliki iman baik atau tidak.

Pada saat kita membicarakan Paulus, kita melihat seseorang yang tahu caranya merubahkan situasi buruk menjadi kesaksian positif. Kita sekarang akan melihat keberaniannya. Sebagai tawanan mulai dari sekarang, kita dapat mulai mengerti bagaimana Paulus melihat pemenjaraannya. Paulus selalu memandang situasinya sebagai sesuatu yang telah dibikin Allah. Dia selalu adalah orang yang dipenjarakan karena Yesus Kristus.

Di Filipi 1:13 dia mengatakan, “Semua pengawal istana dan orang-orang lainnya di kota ini tahu bahwa saya dipenjarakan karena saya melayani Kristus.” Jadi, berada di penjara hanya menjadi pelayanan baru. Dan di Filipi 4:22, dia mengatakan, “Seluruh umat Allah di kota ini, terutama mereka yang dari istana Kaisar, mengirim salam kepada kalian.” Ini berarti dia memenangkan orang kepada Kristus yang bisa dijangkau di penjara.

Kemudian dia berkata di Filipi 1:12, “Saya mau kalian mengetahui, bahwa hal-hal yang telah terjadi pada saya justru menyebabkan lebih banyak orang mendengar dan percaya akan Kabar Baik itu.” Dan Allah memakai dia untuk memberi kesaksian mulia yang positif di setiap sidang itu, meskipun keadaannya di semua tempat itu negatif.

Di KPR 21:27, kita diperingatkan bahwa Paulus telah tiba di Yerusalem. Orang Kristen Yahudi di Yerusalem telah dengar bahwa dia anti-Yahudi, bahwa dia telah membuang adat istiadat Yahudi dan bahwa dia melawan upacara dan tradisi kehidupan Yahudi, dan semua itu tidak benar. Paulus sendiri masih sangat Yahudi.

Disini dia ada pada hari raya Pemtakosta. Dia pergi ke sinagog pada hari Sabat. Dia sendiri telah bersumpah Nazir di KPR 19, dan telah mencukur kepalanya. Rasul Paulus itu tidak membuang semua tradisi Yahudi. Dia berada dalam transisi. Itu makan waktu untuk semua hal lalu itu hilang. Namun beberapa orang Yudias itu telah memberitakan bahwa dia anti-Yahudi, jadi mereka bersikap anti-Paulus.

Dan ketika dia tiba di kota dengan semua teman-temannya yang bukan Yahudi, karena dia datang untuk membawa uang kepada jemaat Yerusalem karena mereka memerlukannya, dan untuk menunjukkan kasih dari gereja-gereja non-Yahudi, dan kedatangannya baik bagi beberapa orang. Namun orang lain kuatir karena puluhan ribu orang Kristen Yahudi menganggap dia anti-Yahudi.

Jadi supaya merubahkan reputasinya, mereka minta supaya dia pergi ke Bait Suci, memenuhi sumpah Nazir bersama empat orang lain, membayar ongkos seluruhnya dengan harapan orang Kristen Yahudi berkata, “Wah jika dia rela melakukan itu, pasti dia tidak anti-Yahudi seperti dikatakan orang.” Dan memang dia melakukan itu, meskipun tidak ada catatan tentang hal itu, pastilah efeknya positif terhadap orang Kristen Yahudi.

Namun tidak ada efeknya terhadap orang Yahudi bukan Kristen. Jadi kita menemukan kerusuhan itu di ayat 27, “Ketika jangka waktu tujuh hari itu hampir berakhir, beberapa orang Yahudi dari Asia melihat Paulus di dalam Rumah Tuhan. Lalu mereka menghasut orang banyak, kemudian memegang Paulus.” Mereka adalah sekelompok orang yang mencoba membunuh rasul Paulus, tanpa tahu apa yang mereka lakukan atau mengapa mereka melakukannya.

Orang Yahudi dari Asia bukan dari China tetapi dari Asia Kecil. Dan Asia Kecil adalah propinsi Romawi dimana ada kota-kota seperti Efesus, Laodikia, Filadelfia, Tiatira, Sardis dan Smirna yang disebut di Wahyu 2 dan 3. Orang-orang Yahudi ini kemungkinan besar dari Efesus. Dan mereka kenal Trofimus di ayat 29, yang adalah orang Efesus. Dan mereka mengenal Paulus dari sinagog disana.

Nah dulu di KPR pernah ada kerusuhan di Efesus dimana mereka mencoba membunuh Paulus, namun ada kepala dingin yang menang, dan mereka tidak bisa melakukannya. Namun sekarang mereka melihat ada kesempatan karena tidak ada orang-orang non-Yahudi, karena merekalah yang membubarkan kerusuhan itu dulu. Namun sekarang hanya ada orang-orang Yahudi, jadi ketika mereka melihatnya di sinagog, mereka menghasut semua orang disitu.

Disini Paulus sedang menyelesaikan sumpah Nazirnya, dan sejumlah besar orang Yahudi dari Efesus menangkapnya. Ayat 28, “sambil berteriak-teriak, "Hai orang-orang Israel, tolong! Inilah orangnya yang pergi ke mana-mana mengajar kepada semua orang ajaran-ajaran yang menentang bangsa Israel, menentang hukum Musa dan menentang Rumah Tuhan ini. Dan sekarang ia malah membawa orang-orang bukan Yahudi masuk ke dalam Rumah Tuhan dan membikin najis tempat yang suci ini!”

Para sejarawan mengatakan bahwa pada hari Pentakosta bisa-bisa ada 2 juta orang disitu. Karena itu orang–orang Yahudi Asia Kecil ada disitu. Ini adalah 50 hari sesudah hari Pelewatan. Dan itulah perayaan panen Perjanjian Lama yang kadang-kadang dinamakan Pesta Panen dan kadang juga disebut Pesta Buah Pertama. Dan pesta Pentakosta itu juga dihubungkan dengan perayaan hari ulang tahun Hukum Taurat, yang berarti mereka sangat mementingkan ke-Yahudian mereka.

Paulus ingin berada disitu, yang menunjukkan bahwa dia menghormati Hukum Taurat. Di Roma 7:22 dia mengatakan, “Saya sangat suka akan hukum Allah.” Jadi dia bukan anti-Hukum Yahudi. Kedua, itu adalah perayaan Yahudi dari hukum itu, yang berarti bahwa orang banyak itu sangat prihatin dengan hukum Taurat itu dan kesuciannya. Jadi mereka membangkitkan kerumunan, saat mereka teriak “Tolong” seakan-akan terjadi penghujatan.

Lihatlah tuduhan mereka, “Inilah orangnya yang pergi ke mana-mana mengajar kepada semua orang.” Inilah tuduhan yang begitu umum. Dan lihatlah “yang menentang bangsa Israel” Jadi dia dituduh menjadi anti-Yahudi. Nah sebagai orang Yahudi sendiri, ini tidak masuk akal. Namun tuduhan ini masih berlaku sekarang. Orang Yahudi tidak pernah dapat menerima bahwa orang Yahudi bisa menjadi orang Kristen, karena orang Yahudi selalu mengaitkan agamanya dengan rasnya secara historis.

Namun orang yang menolak Mesias sebenarnya menolak Yudaisme-Nya sendiri. Pemberontak sebenarnya melawan Yudaisme adalah orang Yahudi yang tidak percaya dan yang tidak mau menerima Mesias-nya. Orang Kristen Yahudi adalah orang yang telah mencapai apa yang Allah merencanakan untuk dicapai melalui Yudaisme, yang percaya kepada Mesias yang telah datang dan mati dan dibangkitkan, dan yang hidup dan menjadi perantara bagi kita sekarang.

Menjadi orang Yahudi mesianik dengan datang kepada Yesus Kristus adalah bagi seorang Yahudi suatu penolakan dari segala sesuatu yang adalah Yudaisme, padahal sebenarnya itu justru sebaliknya. Menolak Yesus Kristus adalah penolakan segala sesuatu yang adalah Yudaisme. Dan ketika mereka mengatakan dia anti-Hukum, mereka maksud dia anti-Allah. Dia anti-Musa, dan anti-Alkitab, Kemudian mereka menyimpulkan, “Dan dia melawan tempat ini yaitu Bait Suci.

Jadi mereka menuduh dia menghujat Hukum Taurat, menghujat Allah, dan menghujat Bait Suci. Ayat 29 mengatakan, “Mereka berkata begitu sebab mereka sudah melihat Trofimus orang Efesus itu di kota bersama-sama Paulus; dan mereka menyangka Paulus sudah membawa dia ke dalam Bait Suci.” Mereka tidak melihatnya di Bait Suci itu. Itu dusta lain lagi. Paulus baru menyelesaikan tujuh hari dalam sumpah Nazir, jadi bagaimana mungkin dia bisa balik dan membawa masuk seseorang yang bukan Yahudi?

Namun seandainya Paulus membawa Trofimus ke dalam, bukan Paulus yang akan mati, itu pasti adalah Trofimus. Tidak mungkin Paulus dibunuh karena dia adalah orang Yahudi. Jadi semuanya itu hanya pura-pura saja, dan massa itu tidak tahu apa yang mereka lakukan. Ayat 30, “Seluruh kota menjadi kacau-balau, dan semua orang berlari-lari berkerumun. Mereka menangkap Paulus dan menyeret dia keluar dari Rumah Tuhan. Saat itu juga pintu ditutup.”

Mereka ingin mengeluarkannya supaya mereka dapat terus menyembah Allah, sementara mereka membunuh Paulus. Itulah yang mereka lakukan pada sidang Yesus. Mereka ingin memastikan mereka tidak melanggar hukum Sabat sementara mereka membunuh sang Mesias. Tetapi dalam keberdaulatan Allah yang besar, kehidupan Paulus masih belum selesai.

Jadi Allah mengaktifkan orang Romawi. Ayat 31, “Sementara perusuh-perusuh itu berusaha membunuh Paulus, orang memberitahukan kepada komandan pasukan Roma bahwa seluruh Yerusalem sedang heboh.” Diluar daerah bait suci, di sebelah utara berdampingan adalah Benteng Antonia, yang memiliki Menara observasi besar dimana Anda bisa langsung melihat kedalam pelataran Bait Suci itu. Dan disitu ada paling sedikit 1000 tentara Romawi terlatih.

Mereka tidak mengizinkan adanya kekacauan sipil. Ayat 32, “Langsung komandan itu mengambil beberapa perwira dan prajurit lalu cepat-cepat pergi dengan mereka ke tempat huru-hara itu. Pada waktu orang banyak itu melihat komandan itu dengan pasukannya, mereka berhenti memukul Paulus.” Ayat 33, “Komandan itu mendekati Paulus lalu menangkapnya, dan menyuruh orang memborgol dia, dan dia bertanya siapakah Paulus itu dan apa yang telah dilakukannya.”

Nubuatan Agabus digenapkan. Orang Yahudi menangkapnya, dan sekarang mereka memberikannya kepada orang non-Yahudi yang memborgolnya. Dan mereka melakukan itu karena mereka pikir dia adalah pemimpin pemberontak. Nah, orang Romawi baik dalam hal menentukan keadilan. Jadi komandan ini ingin tahu apa tuduhannya terhadap Paulus, dan siapakah dia dan apa yang sedang terjadi.

Ayat 34, “Sebagian dari orang banyak itu menjawab begini dan sebagian lagi menjawab begitu. Keadaan begitu kacau sehingga komandan itu tidak bisa mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi. Oleh sebab itu ia memerintahkan supaya Paulus dibawa ke markas.” Ayat 35, “Ketika mereka membawa dia sampai ke tangga, perusuh-perusuh itu mengamuk begitu hebat sehingga Paulus harus digotong oleh para prajurit.” Kerumunan yang kecewa itu sekarang berteriak apa yang mereka teriak 25 tahun sebelumnya kepada sang Mesias.

Ayat 36, “Mereka diikuti dari belakang oleh gerombolan perusuh-perusuh itu yang berteriak-teriak, "Buanglah dia!” Itu juga mereka mengatakan kepada Yesus. Itu berarti bunuhlah dia. Dan komandan itu belum tahu apa yang telah dia lakukan, bahkan siapakah dia. Dan dalam semua ini, Rasul Paulus tidak melawan atau mengatakan sesuatu. Paulus benar-benar rendah hati. Dia tunduk kepada rencana Allah, meskipun itu berarti dia menderita oleh karena tangan-tangan dunia.

Sekarang kita akan melihat pembelaan diri Paulus. Kata pembelaan diri di dalam bahasa Yunani adalah apologia, yang menjadi kata asal apologi dan apologetic. Lihatlah KPR 22:1, “Bapak-bapak dan Saudara-saudara, dengarkanlah pembelaan diri saya kepadamu sekarang.”Nah, pembelaan diri seringkali artinya negatif. Dulu artinya positif. Memberi apologi itu adalah memberi alasan mengapa tingkah laku Anda seperti itu atau alasan untuk apa yang Anda percaya.

Ini kesaksian pengalamannya dan apa yang dilakukan Allah dalam hidupnya. Namun marilah kita lihat bagaimana Paulus membuat sesuatu yang positif dari situasi negatif. Ayat 37, “Begitu mau masuk ke dalam markas, Paulus berkata kepada komandan itu, "Bolehkah saya bicara sebentar dengan Tuan?" "Apa kau bisa bahasa Yunani?" tanya komandan itu.” Bahasa Yunani adalah bahasa mereka yang telah datang dari luar Yerusalem dan dididik ditempat lain.

Karena dia memikir Paulus hanyalah seorang pemberontak biasa. Dia tidak tahu bahwa orang ini adalah seorang terpelajar yang cerdas, berbudaya, dan berpendidikan Yunani. Ayat 38, “"Kalau begitu, kau bukan orang Mesir itu yang tempo hari mengadakan pemberontakan lalu membawa lari empat ribu orang pengacau bersenjata masuk padang gurun?” Di tahun 54 SM, Yosefus mengatakan ada pemberontak Mesir yang bersama 4000 pembunuh membuat kerusuhan di Yerusalem dan gubernur mematikan 400 dari mereka dan mengalahkan semuanya.

Dan selalu ketika ada perayaan, ada kemungkinan ada pembunuh yang mau mencoba menyerang orang Yahudi, Jadi ketika komandan itu melihat mereka menangkap Paulus, dia memikir mereka telah menangkap salah satu pembunuh itu, dan mungkin orang Mesir itu sendiri. Namun tentu pada waktu Paulus bertanya dalam bahasa Yunani, “Apakah dia boleh berbicara dengan orang-orang itu?” dia tahu bahwa pemberontak Mesir itu tidak berbudaya sampai bisa berbahasa Yunani.

Ayat 39, “Paulus menjawab, "Saya orang Yahudi warga kota Tarsus, kota yang penting di Kilikia. Tolong izinkan saya berbicara kepada orang-orang itu.” Tarsus seperingkat dengan Atena dan Alexandria sebagai kota budaya, seni dan pendidikan. Dan Silikia adalah daerahnya kota Tarsus itu. Itulah cukup untuk menunjukkan bahwa dia adalah seseorang yang berbudaya dan berpendidikan.

Paulus hanya tahu satu jalan untuk menghadapi situasi itu, yaitu dengan konfrontasi. Ada sesuatu yang menarik dari keberanian seperti itu. Ayat 40, “Maka setelah Paulus diberi izin berbicara, Paulus berdiri di tangga, lalu memberi isyarat dengan tangannya. Semua orang menjadi tenang. Kemudian Paulus berbicara kepada mereka di dalam bahasa Ibrani.” Sebenarnya itu bahasa Aram. Jadi untuk merubahkan situasi negatif menjadi positif, Anda harus melakukan dua hal.

Satu: Terimalah keadaan itu dari Allah dan pakailah itu sebagai kesempatan. Karena Kristus juga menderita bagi kita sebagai contoh yang kita harus ikuti. Lihatlah bagaimana Dia terima penderitaan. Dia tidak pantas menderita. Demikian pula Anda akan menderita saat Anda juga tidak pantas mendapatkannya. Dan ketika Yesus dicaci maki, Dia tidak membalas. Dia hanya mengatakan, “Allah, saya terima bahwa itu datang dari Engkau.”

Kedua: Rubahlah itu menjadi kesempatan. Yesus ditengah situasi negatif menebus dosa Anda dan saya. Paulus selalu berada di dalam situasi negatif di KPR. Setelah Paulus berkhotbah mereka marah sekali. Mereka mengatakan, “Kita melarang Anda berkhotbah.” Dia menjawab, “Siapakah yang harus aku taati, kalian atau Allah?” Dan mereka memukulnya dan memasukkannya ke dalam penjara. Namun Paulus dipenuhi keberanian dan dia memberitakan Firman dan banyak orang diselamatkan. Semoga kita juga melakukan hal yang sama, marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu