Dec 31, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Iman Besar
31 Desember 2017

Apa yang kita perlukan paling banyak di Tahun Baru ini? Jawabannya di Alkitab adalah keberanian dalam keyakinan dan iman besar. Kita temukan di KPR 21, suatu demonstrasi tentang itu di dalam Rasul Paulus. Dan kita belajar disini bahwa satu contoh mungkin lebih instruktif daripada apa yang kita dengar atau belajar dari tulisannya. Jadi kita beruntung dengan melihat narasi sejarah itu dan menggali darinya prinsip-prinsip yang dapat diapplikasikan pada kehidupan kita sendiri.

Kita telah mempelajari sepotong kecil dari kehidupan Paulus ini, perjalanan dari Miletus ke Kaisarea. Pada saat dia mengakhiri perjalanan misinya yang ketiga dan menuju ke Yerusalem, kita telah melihat satu ilustrasi dari komitmennya yang luar biasa, yaitu panggilan yang Allah berikan kepadanya. Subjek komitmen dan dedikasi ini adalah sesuatu yang harus diungkapkan dalam berbagai cara dan semua aspek kehidupan.

Orang-orang yang berkomitmen dan berdedikasi, orang-orang yang bersedia membayar harga apa saja, adalah orang-orang yang membuat ada perbedaan. Bahkan, kebanyakan orang tidak seperti itu, jadi kebanyakan orang hanya mau menonton saja. Seperti yang dikatakan orang dengan tepat, “Ada orang yang membuat sesuatu terjadi, ada orang yang menonton sesuatu terjadi, kemudian ada orang yang tidak tahu apa yang sedang terjadi.”

Di Ibrani 11 ada bab besar tentang pahlawan iman. Ayat 24 memperkenalkan kita kepada seorang pria bernama Musa, “Karena beriman, maka Musa sesudah besar, tidak mau disebut anak dari putri raja Mesir.” Nah Musa sudah naik ke tingkat tinggi dalam masyarakat Mesir, dia adalah seorang pangeran. dan dia memiliki semua kekayaan yang menyertainya. Namun dia menolaknya, dikatakan di ayat 24.

Ayat 25 mengatakan, “Ia lebih suka menderita bersama-sama dengan umat Allah daripada untuk sementara waktu menikmati kesenangan dari hidup yang berdosa.” Dia harus ambil keputusan. Menurut Ibrani 11:23-25 dikatakan, bahwa Musa tahu dia dipanggil Allah untuk memimpin bangsa Israel keluar. Jadi di satu sisi dia memiliki kedudukan di Mesir dengan segala kekayaannya. Disisi lain untuk menjadi pemimpin Israel, dia harus mengorbankan segalanya. Ini pilihan yang amat berat.

Namun dia memilih panggilan Allah untuk menjadi pemimpin umat Israel, jadi dia membuat pilihannya. Musa percaya bahwa cela yang disebabkan dia adalah yang diurapi Allah, nilainya lebih besar daripada semua harta benda Mesir. Dengan kata lain, dia jauh lebih suka dibenci orang, dan diurapi Allah daripada dicintai orang dan dimiliki Mesir.

Dan alasannya dia memilih adalah di akhir ayat 26, “sebab Musa mengharapkan upah di hari kemudian.” Dia rela mengorbankan kekayaan sementara untuk upah kekal. Dia tahu kesenangan dosa itu sementara dan upah Allah itu kekal. Jadi di ayat 27, “Karena beriman, maka Musa meninggalkan Mesir tanpa merasa takut terhadap kemarahan raja. Musa maju menuju tujuannya karena sudah melihat Allah.” Dia tidak kuatir akan raja yang kelihatan, karena dia mengenal Allah yang tidak kelihatan.

Ada orang lain. Ibrani 11:31, “Karena beriman juga, maka Rahab, wanita pelacur itu, tidak turut terbunuh bersama-sama dengan orang-orang yang melawan Allah; sebab ia menerima dengan ramah pengintai-pengintai Israel.” Disini ada wanita yang melawan seluruh masyarakatnya. Berlawanan dengan semua politik di kota Yerikho, dia memilih untuk beriman kepada Allah dan percaya mata-mata itu dan berkorban. Dan dia menyembunyikan para tentara itu dengan risiko besar terhadap hidupnya namun dia rela membayar harga apapun untuk kepercayaannya, dan Allah menghormatinya.

Perempuan itu pelacur, dan itu buruk. Tetapi dia juga orang Kanaan, dari suku Amori, dan itu lebih buruk. Semua orang Amori dan Kanaan suka menghancur-kan orang. Namun tahukah Anda bahwa anugerah Allah selalu lebih lebar dari-pada Israel, dan pelacur Kanaan Amori yang bukan Yahudi itu dimasukkan kedalam garis keturunan Mesias? Dia adalah ibu Boas, kakek buyut raja Daud. Itu benar-benar anugerah Allah, Amin?

Dan ada juga orang lain. Ayat 32, “Nah, saya bisa saja terus-menerus berbicara, tetapi waktu tidak cukup untuk saya. Sebab saya belum lagi menyebut Gideon.” Seorang hakim yang menghadapi tentara Midian dengan hanya 300 orang tanpa senjata yang hanya memiliki sebuah trompet dan sebuah kendi yang berisi obor. Namun dia percaya Allah dan berani mempertaruhkan nyawanya. Kemudian ada Samson yang menang berkali-kali melawan orang Filistin. Dan Daud yang mengalahkan Goliat dan seterusnya.

Lihatlah, mereka selalu percaya bahwa upah kekal jauh lebih besar daripada pengorbanan apapun juga. Paulus mengatakan di Roma 8:18, “Semua penderitaan yang kita alami sekarang, menurut pendapat saya, tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita nanti.” Itulah pilihan akhir, menaati Allah kemudian ada dividen abadi. Atau Anda mempertahankan apa yang Anda miliki di dunia ini, dan Anda akan terpisah dari Allah untuk selamanya.

Ayat 36-37, “Ada yang diolok-olok, dicambuk, diikat dengan rantai dan yang dimasukkan ke dalam penjara. 37 Mereka dilempari batu sampai mati, ada yang dipotong dengan gergaji, dan yang dibunuh dengan pedang. Mereka mengembara dengan pakaian dari kulit domba atau kulit kambing; mereka miskin, dianiaya dan disiksa.” Semua orang itu menderita karena mereka percaya kepada tujuan yang diberikan Allah dan mereka rela mati untuk itu. Itulah komitmen.

Dan lihatlah ayat 38-39, “Dunia ini bukan tempat yang layak bagi mereka.” Mereka terlalu baik untuk sistem duniawi. “Mereka mengembara di padang gurun dan di bukit-bukit, serta tinggal di dalam gua-gua dan dalam lubang-lubang tanah. 39 Dan semua orang itu telah mendapatkan kesaksian iman yang baik, meskipun mereka tidak menerima janji itu.” Dan mereka semua hanya beriman saja dan mereka mati dengan harapan yang mereka belum melihat.

Dan sekarang Allah menanyakan dari kita komitmen yang tingkatnya sama untuk harapan yang sudah menjadi fakta di sejarah. Kristus sudah datang. Dia hidup dan Dia mati dan Dia bangkit kembali dan sekarang hidup bertakhta di tangan kanan Allah Bapa, dan Dia akan mengerjakan kehendak-Nya dan kuasa-Nya melalui kita. Apakah Anda percaya hal itu?

Jadi kita belajar ada bermacam tingkat komitmen. Ada komitmen yang tidak lengkap, dimana Anda tidak sepenuhnya memberikan itu kepada Tuhan. Ada komitmen yang tidak tulus, Anda munafik dan ada juga komitmen yang terputus-putus. Anda berkomitmen hari ini, tetapi tidak tentu hari esok. Allah menginginkan komitmen kepada tujuan-Nya yang konstan. Dan selagi kami mempelajari KPR 21, kita melihat komitmen Paulus macam itu, dan itu bertumbuh terus di ayat-ayat malam ini.

Dan kita memiliki empat poin yang menolong kita mengerti keberanian keyakinan. Keberanian keyakinan itu tahu tujuannya, tidak dapat dialihkan, bayar harga apapun dan itu mempengaruhi orang lain. Nah keberanian keyakinan tahu tujuannya. Kita tidak bisa menjadi berani kecuali kita yakin untuk apa kita berjuang. Nah Paulus ada keyakinan, di ayat 1-3, dia sedang menuju ke Yerusalem untuk memberikan uang kepada jemaat di Yerusalem, mereka memerlukannya dan itu menolong menyatukan gereja.

Kedua, keberanian keyakinan itu tidak dapat dialihkan, tidak peduli apa yang terjadi. Dan itulah Paulus di ayat 4-6, dia tiba di Tirus dan mereka semua mengatakan, jangan pergi ke Yerusalem. Namun dia tidak berubah pikiran. Jika memang ini kehendak Allah, itu harus dipenuhi meskipun apa yang dikatakan orang Kristen lain.

Ketiga, keberanian keyakinan membayar harga apapun. Itu tidak bisa dialihkan dengan harga apapun. Pikirkanlah Daniel, dia melakukan apa yang dia selalu lakukan. Dia berdoa kepada Allah. Tidak ada yang dapat mengalihkannya dan dia rela bayar apapun juga. Akhirnya dia dimasukkan gua singa. Sadrakh, Mesakh dan Abednego dipaksakan untuk menyembah berhala dan mereka menolak. Dan mereka rela dimasukkan perapian yang menyala-nyala. Itulah artinya membayar harga apapun.

Namun dalam setiap kasus Allah membebaskan mereka. Allah menghormati mereka yang ingin menepati komitmen mereka. Anda selalu selamat jika Anda berada ditengah kehendak-Nya, tidak peduli apa yang sedang terjadi. Dan jika Anda tidak percaya hal itu, bacalah lagi Kisah Para Rasul dan lihatlah bagaimana orang-orang pergi dari satu api ke api berikutnya, ditengah kehendak Allah, dan dilindungi dari perapian. Ini benar menarik.

Kaisarea adalah tempat berhenti terakhir sebelum Yerusalem. Ayat 8, “Besoknya kami berangkat pula, lalu sampai di Kaisarea. Di situ kami pergi kepada penginjil yang bernama Filipus, lalu tinggal di rumahnya. Ia adalah salah satu dari ketujuh orang yang terpilih di Yerusalem.” Ingatlah Filipus dari KPR 6, yang dipilih menjadi salah satu diaken gereja - satu diantara tujuh – penuh Roh Kudus, penuh iman dan orang bijaksana. Dia pertama-tama menjadi diaken kemudian penginjil.

Kantor pusat Filipus adalah di Kaisarea. Itu kota Romawi. Bangsa Romawi menempatkannya dengan tentara dan pasukan mereka. Bahkan, itulah tempatnya benteng dan itu ditempati oleh Herodes. Nah Filipus memiliki empat anak perempuan yang masih perawan. Dan dikatakan di ayat 9, “mereka bernubuat.” Jadi selama Paulus menunggu, ayat 10 mengatakan, “Setelah beberapa lama kami di sana, datanglah dari Yudea seorang nabi yang bernama Agabus.”

Nah, faktanya bahwa dia adalah seorang nabi itu menarik. Dia adalah nabi bukan dalam pengertian Perjanjian Lama, namun dalam pengertian Perjanjian Baru. Dalam rencana Allah untuk tahun-tahun awal gereja, ada dua posisi kunci untuk pria. Menurut Efesus 2:20, “Kalian pun dibangun di atas dasar yang diletakkan oleh rasul-rasul dan nabi-nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu yang terutama.”

Nah sebagai pria fondasi, mereka memiliki pelayanan terbatas waktu sampai mereka menghilang. Bahkan ketika Paulus menulis instruksi gereja, dia memberikan pimpinan gereja itu kepada para pendeta dan penatua, dan rasul tidak disebut, dan istilah penginjil tiba-tiba muncul dan dipakai. Jadi para rasul dan nabi digantikan dengan pendeta pengajar dan penginjil.

Nubuatan rasul terutama adalah ajaran doktrin. Mereka akhirnya menulis surat-surat Perjanjian Baru dan juga injil, namun para nabi memiliki nubuatan praktis. Paulus sebagai rasul memberi nubuatan tentang doktrin. Agabus sebagai nabi memberi nubuatan tentang kehidupan praktis gereja. Di KPR 11:28, dia bernubuat tentang kelaparan yang akan datang. Dan sekarang dia muncul lagi dan memberi nubuatan lain.

Ayat 11, “Ia datang pada kami lalu mengambil ikat pinggang Paulus dan ia mengikat kaki dan tangannya sendiri lalu berkata, "Inilah yang dikatakan Roh Kudus: Pemilik ikat pinggang ini akan diikat seperti ini di Yerusalem oleh orang-orang Yahudi, dan diserahkan kepada orang-orang bukan Yahudi.” Dia mengatakan Paulus ketika Anda tiba di Yerusalem, Anda akan diikat dan diserahkan kepada orang bukan Yahudi. Dan itu memang terjadi.

Allah kadang-kadang memberikan kita pelajaran yang diilustrasikan dengan jelas. Contoh, Raja Salomo gagal dan kemudian kerajaan itu dibelah dua. Lihatlah 1 Raja-Raja 11:29-30, “Pada suatu hari Yerobeam keluar dari Yerusalem. Di tengah jalan di padang ia didatangi nabi Ahia dari Silo yang pada waktu itu memakai jubah yang baru.” Dia akan menjadi raja baru. “30 Lalu Ahia melepaskan jubahnya, dan merobek-robeknya menjadi dua belas potong.”

Dan dia mengatakan di ayat 31, “Ambillah sepuluh potong untuk dirimu, sebab Tuhan, Allah Israel, berkata begini kepadamu, 'Aku akan merenggut kerajaan ini dari Salomo, dan memberikan sepuluh suku kepadamu.” Ilustrasi yang sangat cocok. Lihatlah ilustrasi lain seperti itu di Yesaya 20:2, “Tuhan menyuruh Yesaya anak Amos melepaskan kasut dan kain karung yang sedang dipakainya. Ia menurut dan berjalan telanjang dan tidak berkasut.”

Ayat 3-4, “Tuhan berkata, "Hamba-Ku Yesaya sudah tiga tahun telanjang dan tidak berkasut. Inilah tanda dari apa yang akan terjadi dengan Mesir dan Sudan. 4 Raja Asyur akan menawan orang-orang dari kedua negeri itu dan mereka akan digiring dengan telanjang. Tua dan muda, semuanya akan berjalan tanpa baju dan alas kaki dengan pantatnya kelihatan, sebagai penghinaan terhadap Mesir.” Inilah tanda kekalahan total yang akan datang kepada Sudan dan Mesir. Dan itu juga tanda bagi Israel, karena mereka selalu minta tolong dari Mesir daripada percaya kepada Allah.

Sekarang kembali kepada KPR 21. Jadi Allah telah memakai nabi-nabi-Nya untuk menyampaikan berita tentang penderitaan yang akan datang, dan itu semua digambarkan dengan jelas. Ayat 12, “Ketika kami mendengar itu, kami dan semua saudara yang tinggal di Kaisarea itu minta dengan sangat kepada Paulus supaya ia jangan pergi ke Yerusalem.” Disini ada Paulus bersama semua teman-teman-nya di rumah Filipus dan semua orang Kristen Kaisarea menangis dan memohon dia supaya jangan pergi ke Yerusalem.

Ayat 13, “Kemudian Paulus menjawab, "Apa gunanya saudara menangis seperti ini sehingga membuat hati saya hancur? Saya sudah siap bukan hanya untuk ditangkap di sana, tetapi juga untuk mati sekalipun karena Tuhan Yesus.” Dia menegaskan keberanian keyakinannya saat itu, Banyak teman orang Kristen, mungkin sebanyak musuh-musuh, telah mencegah mereka untuk mencapai keinginan Allah.

Yesus mengatakan di Matius 16:24, “Orang yang mau mengikuti Aku, harus melupakan kepentingannya sendiri, memikul salibnya, dan terus mengikuti Aku.” Dan ibu-ibu dan bapak-bapak, pada suatu hari mungkin Anda harus melepaskan anakmu itu ke bidang misi. Jadilah cukup obyektif untuk menerima faktanya bahwa pada saat dia berada di dalam kehendak Allah, dia seaman seperti keberdaulatan Allah, dan dia kuat. Dan hanya itu yang perlu Anda kuatirkan. Janganlah kita menghalang orang untuk melakukan apa yang Allah ingin mereka lakukan. Kita semua harus rela membayar upahnya.

Paulus mengatakan, “saya siap.” Dia siap untuk melakukan apa yang perlu dilakukan. Karena itu kadang-kadang Tuhan tidak bisa menggunakan semua orang, karena tidak semua orang siap. Di 2 Timotius 4, Paulus mengatakan dia “siap untuk mati.” Cuman ada dua jenis eksekusi di Roma, penyaliban yang paling menyiksa dan jenis belas kasihan yang didapat Paulus, yaitu memotong kepalamu dengan pedang.

Ayat 14, “Paulus tidak mau mendengar kami, maka kami berhenti melarang dia. "Biarlah kehendak Tuhan saja yang jadi," kata kami. Ayat 15-16, “Setelah tinggal di situ beberapa lama, kami menyiapkan barang-barang kami, lalu berangkat ke Yerusalem. 16 Beberapa saudara dari Kaisarea pergi juga bersama-sama dengan kami.” Disini kita lihat bahwa keberanian itu menular. Dia akan dipenjarakan dan mereka akan dikenali bersama dia, tetapi mereka menjadi berani karena dia berani.

Apakah Anda memiliki keyakinan rohani di dalam hidupmu yang Anda ingin melakukan, tidak peduli harganya? Jika Anda memiliki keyakinan yang berani, Allah akan memakai Anda untuk mempengaruhi kehidupan orang lain. Jika satu orang dapat berkomitmen kepada orang lain, tentulah kita dapat berkomitmen seperti itu kepada Tuhan kita, benar? Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu