Dec 10, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Mengantisipasi Kembalinya Kristus
10 Desember 2017

Petrus telah menjelaskan wahyu ilahi ini dalam surat ini untuk menjaga jemaat gereja dari serangan terus-menerus dari guru-guru palsu. Di bab 1 dia memberikan kita instruksi penting tentang bagaimana memastikan bahwa kita berada dalam hubungan benar dengan Allah. Di bab 2 dia menggambarkan karakteristik guru-guru palsu. Kemudian di bab3 dia menyangkal kesalahan utama mereka dalam jemaat mana saja.

Guru-guru palsu itu menyerang Kedatangan Kedua Kristus. Jadi di 2 Petrus 3:1-10, Petrus membantah mereka yang menyangkal Kedatangan Kedua Yesus Kristus. Dia telah membuka kedok palsu para guru dalam surat ini. Dan dia telah memberi senjata perlindungan kepada semua orang Kristen yang membacanya dan memahaminya. Petrus telah menegaskan kebenaran bahwa Yesus akan datang kembali, dan kita harus berterimakasih kepadanya. Sejarah memiliki sasaran dan tujuan.

Jika Yesus tidak datang, jika tidak ada penghakiman, jika Allah tidak mau campur tangan, itu berarti bahwa semua orang ditinggalkan tanpa harapan dan tanpa masa depan. Dan ketika tidak ada masa depan, hedonism menguasai hatimu dan Anda hidup seenaknya sendiri saja. Di salah satu makam tertulis, “Pada suatu ketika saya tidak berada, sekarang saya tidak memiliki apa-apa. saya tidak menyadarinya, dan saya tidak peduli.” Itu menunjukkan bahwa bagi banyak orang hanya ada sikap apatis.

Meskipun demikian, mereka yang tidak mengenal Kristus harus bersyukur bahwa Dia akan kembali untuk membenarkan semua hal. Namun Petrus lebih mementingkan supaya orang-orang percaya memiliki pemahaman yang benar dan tanggapan yang tepat terhadap kedatangan kembali Kristus. Dan dia mengatakan di ayat 11, “Karena semuanya itu akan dihancurkan dengan cara yang demikian, bagaimanakah seharusnya kalian hidup? Kalian harus hidup suci dan khusus untuk Allah.”

Orang seperti apa Anda haruslah menjadi jika Anda tahu bahwa Yesus akan datang? Jika Anda mengharapkan surga akhir, kemuliaan akhir dan keadaan kekal itu, bukankah itu mendorong Anda untuk hidup suci? Pernyataan ‘Hari Allah’ di ayat 12 mengacu kepada keadaan kekal. Kami tidak mengharapkan “Hari Tuhan” yang terdapat di ayat 10, itu adalah penghakiman, penghancuran dan kutukan.

Kami mengharapkan apa yang terjadi sesudah Hari Tuhan itu, yaitu keadaan kekal dan kemuliaan yang benar ketika, seperti yang Paulus katakan di 1 Korintus semuanya diselesaikan di dalam Allah dalam kemuliaan akhir-Nya. Itu dijelaskan di ayat 10 yang mengatakan, “Pada Hari itu, langit akan lenyap dengan bunyi gemuruh, dan benda-benda di langit akan musnah terbakar, dan bumi dengan segala yang ada di dalamnya akan lenyap.”

Nah ayat 11 bukanlah pertanyaan, itulah sebuah seruan. Ketika dia berkata, “bagaimanakah seharusnya kalian hidup”, tersirat dalam hal itulah tingkat keunggulan yang harus Anda jalani ketika Anda tahu bahwa Anda akan melihat melampaui Hari Tuhan, Hari Allah dan kemuliaan kekal. Itu adalah tantangan bagi orang Kristen untuk menyesuaikan hidup mereka dengan kenyataan keadaan kekal.

Jika Yesus datang untuk menjadikan Anda pewaris, jika Yesus datang untuk membawa Anda untuk hidup bersama-Nya, jika Yesus datang untuk membangun dunia dan surga baru, jika Yesus datang untuk membebaskan Anda dari penghakiman, jika Yesus datang untuk membawa Anda kepada Kerajaan kebenaran yang kekal, itu haruslah mempengaruhi hidupmu. Dengan kata lain, jika Anda ditebus dan dibenarkan untuk itu, maka Anda harus hidup dalam terang itu.

Bahkan di 2 Korintus 5:9-10, Paulus menambahkan, “Karena itu kami berusaha sungguh-sungguh untuk menyenangkan hati-Nya, baik di rumah kami di sini, ataupun di sana. 10 Sebab pasti kita semua akan diajukan ke depan kursi penghakiman Kristus, dan masing-masing akan mendapat balasan setimpal dengan perbuatannya di tubuh ini--perbuatan baik ataupun jahat.” Pada suatu saat akan datang waktunya kita akan menerima hadiah kekal.

Dan Paulus mengatakan di 1 Korintus, bahwa ketika Tuhan menghakimi rahasia hati kami, kami semua akan menerima pujian dari Allah dan kita semua akan masuk ke dalam pahala abadi kita. Kita sebagai orang Kristen bukanlah bagian dari sistem dunia ini. Kami adalah peziarah. Kami termasuk tempat surgawi. Kita menunggukan kota yang dibangun Allah yang kekal di surga, kota yang tidak dibangun tangan manusia,

Orang macam apakah seharusnya kita, tingkat keunggulan apa kita harus hidupi, katanya. Jadi, kepercayaan dalam kemuliaan kedatangan Hari Allah memiliki beberapa implikasi. Pertama, ada pernyataan umum di ayat 11, “Bagaimanakah seharusnya kalian hidup suci dan khusus untuk Allah?” Dan itulah bagian yang dia pentingkan.

Perilaku kudus mengacu kepada tindakan, kesalehan mengacu kepada sikap. Perilaku suci mengacu kepada caranya saya hidup; kesalehan mengacu kepada sikap saya terhadap Allah di dalam hidup saya. Perilaku kudus mengacu kepada apa yang mengatur tindakan saya, dan kesalehan mengacu kepada apa yang mengatur hati saya. Jadi dia mengatakan orang seperti apa kita seharusnya dalam hati saya dan perilaku saya, dalam motivasi saya dan perbuatan saya, dengan sikap saya dan dalam kewajiban saya.

Kedua istilah tersebut ada dalam bentuk jamak, yang tidak dapat diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Namun dalam bahasa Yunani, konsep kekudusan dan kesalehan itu disebarkan ke setiap bidang kehidupan kita. Tradisi mengatakan bahwa Petrus disalibkan dan karena dia merasa tidak layak disalibkan seperti Tuhannya, dia memohon untuk disalibkan terbalik. Dan kata-kata akhir Petrus adalah, orang seperti apa seharusnya kita berada di semua bagian hidup kita.

Apakah jawaban kita? Jawaban itu mengalir mulai dari ayat 12 sampai ke ayat 18. Dan itu kembalikan kita ke 1 Petrus 1:13, “Sebab itu, hendaklah kalian siap siaga. Waspadalah dan berharaplah sepenuhnya pada anugerah yang akan diberikan kepadamu pada waktu Yesus Kristus datang nanti.” Hiduplah dalam terang anugerah yang diberikan kepada Anda ketika Yesus dinyatakan sepenuhnya di dalam seluruh kemuliaan-Nya dan waktu mendirikan Kerajaan-Nya yang kekal.

Kemudian dia mengatakan di ayat 14-15, “Taatlah kepada Allah, dan janganlah hidup menurut keinginanmu yang dahulu, pada waktu kalian masih belum mengenal Allah. 15 Sebaliknya, hendaklah kalian suci dalam segala sesuatu yang kalian lakukan, sama seperti Allah yang memanggil kalian itu suci.” Jika kita menuju kepada kerajaan-Nya, kita harus bersikap sesuai dengan identifikasi itu. Harapan itu membuat kita suci. Jadi karena pada suatu hari kita akan berada bersama Dia, bagaimana kita mulai proses pengudusan ini?

Dengan harapan. Perhatikanlah ayat 12-13, “Selama kalian menantikan dan merindukan tibanya Hari Allah. Pada Hari itu langit akan habis terbakar, dan karena panasnya, maka unsur-unsur akan meleleh karena panas yang hebat. 13 Tetapi kita menantikan apa yang telah dijanjikan Allah, yaitu surga yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.” Disini terdapat konsep pengharapan. Jadilah seperti Paulus, “Memang senang berada disini, tetapi jauh lebih baik untuk pergi dan berada di sana.”

Apakah artinya itu? Itu berarti saya akan berurusan dengan masalah di hidup saya, supaya pada saat Dia datang saya tidak malu. 1 Yohanes 2:28 membicarakan soal tidak malu pada waktu Yesus datang, “Supaya nanti pada waktu Ia datang, kita menghadap Dia dengan penuh keberanian, dan tidak bersembunyi karena malu.” Jika hidupku benar, maka saya menunggukan kehadiran Yesus. ‘Parousia’ secara harfiah berarti kehadiran.

Frase “hari Allah” mengacu kepada keadaan kekal itu ketika Allah ada di dalam semuanya. Karena ada hari Allah, Allah harus menghancurkan semesta alam ini. Untuk memungkinkan hari Allah harus ada hari Tuhan. Ayat 10, “Tetapi Hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada Hari itu, langit akan lenyap dengan bunyi gemuruh, dan benda-benda di langit akan musnah terbakar, dan bumi dengan segala yang ada di dalamnya akan lenyap.” Jika semesta alam baru akan diciptakan dimana terdapat kebenaran, maka Tuhan harus menghancurkan dulu semesta alam yang lama yang penuh kutukan dosa.

Kita tahu bahwa Tuhan pernah menghancurkan dunia ini sekali dengan air, menenggelamkan semua orang yang ada dari perairan di bawah dan perairan di atas bumi, jadi di masa depan Dia akan menghancurkannya dengan api. Dan hari Tuhan itu bukan hasil bencana alam. Dan itu bukan hasil beberapa negara menggunakan senjata nuklir. Itu adalah hukuman ilahi oleh Allah Mahakuasa melalui kuasa Kristus yang telah ditunjuk-Nya sebagai hakim.

Nah ingatlah bahwa hari Tuhan itu datang dalam dua bagian. Itu datang ketika Tuhan Yesus kembali dalam Kedatangan Kedua pada akhir masa Tribulasi. Dan kemudian Dia mendirikan kerajaan-Nya seribu tahun. Pada akhir seribu tahun itu, bagian kedua dari hari Tuhan itu datang. Nah Allah melihatnya sebagai satu hari, karena di ayat 8 dikatakan, “Tetapi saudara-saudaraku, satu hal ini janganlah kalian lupakan: bahwa dalam pemandangan Tuhan, satu hari tidak ada bedanya dengan seribu tahun--kedua-duanya sama saja bagi-Nya.”

Namun pada pertama kali Yesus datang, pada permulaan seribu tahun itu, ada beberapa prapertunjukan akhir seribu tahun ketika api memusnahkan alam semesta itu. Lihatlah Wahyu 8:7, trompet ditiup untuk mengumumkan penghakiman pada akhir masa Tribulasi. Ketika trompet berbunyi, “maka hujan es dan api bercampur darah jatuh dengan derasnya ke atas bumi. Sepertiga bumi habis terbakar; begitu juga sepertiga dari pohon-pohon, dan setiap rumput yang hijau.”

Ayat 8-9, “Lalu malaikat kedua meniup trompetnya, maka sesuatu yang sangat besar yang kelihatan seperti gunung yang menyala-nyala dilemparkan ke dalam laut. Sepertiga lautan berubah menjadi darah. 9 dan matilah sepertiga dari segala makhluk di laut; begitu pula musnahlah juga sepertiga dari kapal-kapal.” Itu hanya prapertunjukan dari api yang menghancurkan bumi yang akan menghabiskan segalanya pada akhir seribu tahun ketika Tuhan menciptakan langit baru dan bumi baru.

Ada prapertunjukan lain di Wahyu 9:17-18, “Dan dalam penglihatan, saya melihat kuda-kuda itu dan penunggang-penunggangnya memakai baju besi yang berwarna merah menyala, biru seperti batu nilam, dan kuning belerang. Kepala kuda-kuda itu seperti kepala singa, dan dari mulutnya keluar api, asap, dan belerang. 18 Sepertiga dari umat manusia terbunuh oleh tiga bencana itu; yaitu api, asap, dan belerang yang keluar dari mulut kuda-kuda itu.”

Dan pada prapertunjukan terakhir pada akhir seribu tahun itu, Iblis dibebaskan dari penjara. Dia keluar untuk menipu orang-orang yang menolak Kristus. Wahyu 20:9-10 mengatakan, “Maka mereka pun berpencarlah ke seluruh dunia, lalu mengepung perkemahan umat Allah dan kota yang dikasihi Allah. Tetapi api turun dari langit dan memusnahkan mereka. 10 Kemudian Iblis yang menipu mereka itu, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang. Di situlah tempatnya binatang dan nabi palsu itu dibuang terlebih dahulu. Dan mereka akan disiksa siang malam untuk selama-lamanya.”

Dan itulah titik awal penghancuran api terakhir yang menghabiskan seluruh alam semesta. Begitulah akhirnya. Kemudian terjadilah bencana pada saat seluruh alam semesta dikonsumsi dan unsur-unsurnya meleleh dengan panas yang hebat. Sampai ke elemen, komponen mikroskopis yang membentuk blok bangunan materi. 1 Yohanes 2:17 mengatakan, “Dunia dan segala sesuatu di dalamnya sedang lenyap.”

Ketika hari Allah tiba, hari manusia sudah selesai. Karena itu, itu dinamakan hari Allah. Korupsi-Nya terhadap alam semesta dan malaikat-malaikat yang jatuh akhirnya diadili. Jadi di ayat 13 Petrus mengatakan, “Tetapi kita menantikan apa yang telah dijanjikan Allah,” itu bukan Hari Tuhan, Kita menantikan Hari Allah, hari kekal, “surga baru dan bumi baru dimana terdapat kebenaran.” Kita menantikan alam semesta baru.

Yesaya 60:19-20 menggambarkan dunia itu, “Engkau tak perlu disinari matahari di waktu siang, dan tak perlu diterangi bulan di waktu malam. Sebab Tuhan menjadi penerang abadi bagimu, dan Anda akan memiliki Allah untuk kemuliaanmu. 20 Bagimu akan ada matahari yang tak pernah terbenam, dan bulan yang tak pernah surut. Sebab Tuhan adalah penerang abadi bagimu, dan masa berkabungmu akan berakhir. 21 Pendudukmu semua akan bertindak dengan benar.”

Lihatlah Wahyu 21:1-3, “Lalu saya melihat langit yang baru dan bumi yang baru. Langit pertama dan bumi pertama pun hilang, serta laut lenyap. 2 Maka saya melihat kota suci itu, yaitu Yerusalem yang baru, turun dari surga dari Allah. Kota itu sudah disiapkan seperti seorang pengantin perempuan didandani untuk menemui pengantin laki-laki. 3 Lalu saya mendengar suara dari takhta itu berseru dengan keras, "Sekarang tempat tinggal Allah adalah bersama-sama dengan manusia! Ia akan hidup dengan mereka, dan mereka akan menjadi umat-Nya. Allah sendiri akan berada dengan mereka dan menjadi Allah mereka.”

Ayat 4-7 mengatakan, “Ia akan menyeka segala air mata dari mata mereka. Kematian tidak akan ada lagi; kesedihan, tangisan, atau kesakitan pun akan tidak ada pula. Hal-hal yang lama sudah lenyap." 5 Lalu Dia yang duduk di atas takhta itu berkata, "Sekarang Aku membuat semuanya baru!" Ia berkata juga kepada saya, "Tulislah ini, sebab perkataan-perkataan ini benar dan dapat dipercayai." 6 Lalu Ia berkata, "Sudah selesai! Akulah yang pertama dan yang terakhir; Akulah Tuhan dari Permulaan sampai Penghabisan. Setiap orang yang haus, akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari sumber air yang memberi hidup. 7 Orang-orang yang menang akan menerima hal-hal itu daripada-Ku. Aku akan menjadi Allahnya, dan ia menjadi anak-Ku.”

Lihatlah Wahyu 21:23-27, “Kota itu tidak perlu disinari matahari atau bulan, sebab keagungan Allah menyinarinya, dan Anak Domba itu adalah lampunya. 24 Bangsa-bangsa di dunia akan berjalan di dalam cahayanya, dan raja-raja pun akan membawa kekayaan mereka ke dalam kota itu. 25 Pintu-pintu gerbang kota itu akan terbuka sepanjang hari; tidak akan ditutup, sebab tidak ada malam di situ. 26 Kebesaran dan kekayaan bangsa-bangsa akan dibawa ke dalam kota itu. 27 Tetapi orang yang melakukan hal-hal yang menjijikkan, atau orang yang berdusta--singkatnya apa pun yang najis, sekali-kali tidak akan masuk ke dalamnya. Yang akan masuk hanyalah orang yang namanya tertulis dalam Buku Orang Hidup, buku Anak Domba itu.”

Tanggapan kita haruslah seperti Yohanes di Wahyu 22:8, “Saya, Yohanes, sudah mendengar dan melihat semuanya ini. Setelah saya selesai mendengar dan melihatnya saya tersungkur di depan malaikat yang sudah menunjukkan semuanya itu kepada saya, dan saya hendak menyembah dia.” Hatinya benar. Hanya dia menyembah orang yang salah. Dia tersungkur kepada kaki malaikat yang berkata, “Jangan menyembah saya! Sembahlah Allah! Ayat 20, “Ia yang menyampaikan semua berita ini berkata, "Benar, Aku akan segera datang!" Jawab Yohanes, “Amin! Datanglah, ya Tuhan Yesus!”

2 Petrus 3:14-15a, “Sebab itu, Saudara-saudara yang tercinta, sementara kalian menantikan Hari itu, berusahalah sungguh-sungguh untuk hidup suci dan tanpa cela di hadapan Allah. Dan peliharalah hubungan yang baik dengan Allah. 15 Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan yang diberikan-Nya kepadamu supaya bisa selamat.” Inilah yang kami harapkan, Tuhan Yesus datang untuk mengangkat gereja-Nya, kemudian datang bagian pertama hari Tuhan, penghakiman. Kemudian kami kembali bersama-Nya untuk memerintah seribu tahun dalam tubuh kemuliaan kita itu.

Pada akhir zaman Dia menghancurkan alam semesta, namun mempertahankan orang yang telah dibenarkan dan ditebus dan Dia membawa kita pada akhir seribu tahun itu ke dalam hari Allah. Kita diciptakan untuk itu dan kita harus menyiapkan diri untuk itu dengan mempercayai Yesus. Yang terbaik masih belum datang pada saat kita bersedia untuk merayakan kelahiran Yesus, Amin? Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu