Nov 26, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Keberanian Keyakinan
26 November 2017

Marilah kita meneruskan di dalam perjalanan Rasul Paulus pada waktu dia mengakhiri perjalanan misinya yang ketiga dan menuju ke kota Yerusalem. Itulah keberanian dan komitmen Paulus, yang percaya sesuatu yang cukup besar sehingga dia rela mengabaikan kesenangan diri untuk melihatnya berhasil. Nah, itulah semangat yang menjadi ciri khas semua umat Allah yang terbesar sepanjang sejarah wahyu alkitabiah.

Lihatlah Bilangan 13:2, “Utuslah orang-orang untuk memata-matai tanah Kanaan yang akan Kuberikan kepada anak Israel.” Dan 12 orang pergi dan 10 kembali dan mengatakan, ‘Kami tidak bisa masuk negeri itu, ada raksasa disitu dan kami seperti belalang.’ Tetapi Yoshua dan Kaleb mengatakan, tidak masalah, marilah kita masuk. Kota berbenteng, tentara besar, namun mereka percaya Allah, dan mereka rela mati untuk itu.

Ada wanita di buku Hakim-hakim, yang adalah hakim di Hakim-hakim 4. Namanya Debora, dan dia percaya bahwa Allah telah memberikan kemenangan kepada anak-anak Israel. Jadi Debora memberi semangat kepada tentara dan mengatakan, “Lihatlah kemenangan ada dipihak kita, marilah maju saja.” Dan dia memimpin mereka dan mereka menang.

Dan di 1 Samuel 17, ada cerita lelaki muda bernama Daud yang membawa lima buah batu bulat dengan umban dan mengatakan, “Itu hanya raksasa saja, Allah akan memberikan orang-orang Filistin ke dalam tangan kami.” Dan dia keluar dan mengumbankan batu itu dan memenangkan perang. Dia memiliki keyakinan dan dia berani mati untuk itu.

Dan ada tiga orang muda di Daniel 3, bernama Sadrakh, Mesakh dan Abednego, yang berani mati berdasarkan sebuah prinsip rohani bahwa sepatutnya mereka menyembah Allah dan bukan menyembah berhala, dan mereka masuk kedalam perapian yang menyala-nyala. Mereka berani mati untuk kepercayaan mereka. Dan ada orang lain bernama Daniel. Di Daniel 6 mereka mengatakan, jika kamu tidak berhenti berdoa, kita akan memasukkan Anda ke dalam gua singa. Mereka menempatkan-nya ke dalam gua singa itu dan Allah menyelamatkannya. Itulah keberanian keyakinan.

Dan di Kisah Para Rasul kami telah menemukan berkali-kali bahwa orang-orang ini memiliki keyakinan sehingga mereka rela mati untuk itu. Dan Paulus adalah salah satu dari mereka. Paulus mengatakan kepada penatua Efesus di KPR 20:38, “Kalian tidak akan melihat aku lagi.” Mengapa dia mengatakan itu? Karena dia menuju ke Yerusalem, dan dia tahu bahwa sepanjang perjalanan Roh Kudus terus bersaksi kepadanya bahwa dia akan dipenjara dan menderita.

Meskipun dia menyadari bahaya yang menanti di Yerusalem, meskipun hatinya berkobar untuk mencapai kota Roma, dan meskipun dia tahu bahwa orang-orang kudus mengasihi dan menghargainya, dia tetap tidak berhenti karena dia memiliki keyakinan dan keberanian untuk menyelesaikan tugasnya. Keyakinannya adalah untuk mengumpulkan uang dari semua gereja-gereja orang bukan Yahudi dan memberikan itu kepada orang kudus miskin di gereja Yerusalem.

Itu proyek dengan dua tujuan: satu, untuk menunjukkan bahwa gereja-gereja orang non-Yahudi mengasihi gereja orang Yahudi itu, untuk menyatukan gereja, dan kedua, untuk memenuhi kebutuhan uang yang praktis bagi orang-orang kudus yang miskin itu. Dan dia yakin bahwa Allah telah memberikannya tujuan itu, dan alasan itu, dan objektif itu, dan dia mengejarnya. Dia melihat gereja Yerusalem sebagai benteng yang dikepung. Itu terputus dari persediaan dan mereka telah mengalami kelaparan dan penganiayaan.

Tentu saja ini hal yang berbahaya, karena semua pengikut Yudaisme membenci Paulus. Mereka mengejarnya dan mencoba membunuhnya. Dan sekarang dia akan pergi ke pusat Yudaisme, yaitu Yerusalem. Pada saat kami mempelajari KPR 21, kami melihat keberanian dan keyakinan Paulus dan ada empat aspek dari keberanian dan keyakinan itu: 1: mengetahui tujuannya, 2: tak teralihkan, 3: rela bayar harga apapun, dan 4: mempengaruhi orang lain.

Faktor pertama dalam menunjukkan keberanian adalah bahwa Anda harus percaya sesuatu. Harus ada objektif dan tujuan. Nah, bagi Yoshua dan Kaleb, keyakinan mereka adalah bahwa Allah telah memberikan mereka tanah itu. Jadi jika Allah memang telah memberikan kami tanah ini, marilah kita berani dan pergi untuk memiliki tanah yang Allah berikan kepada kami. Namun itu semua mulai dengan kepercayaan itu dimana Allah telah memberikan mereka tanah itu.

Untuk Debora, keyakinan itu adalah, “Allah menjanjikan kemenangan.” Bagi Daud keyakinan itu adalah “Allah ingin Israel diselamatkan dari orang Filistin.” Bagi ketiga orang Yahudi, “Allah ingin disembah, dan tidak mengizinkan penyembahan berhala,” dan kita memiliki keberanian untuk percaya keyakinan itu, berapapun biayanya. Bagi Daniel, hal yang sama. Paulus mengatakan di KPR 20:23-24, “Roh Allah sudah tegas memberitahukan kepada saya, bahwa saya akan masuk penjara dan akan menderita. 24 Tetapi saya tidak peduli.”

Dalam ketiga ayat pertama KPR 21, kita melihat bahwa keberanian dan keyakinan mengetahui tujuannya. KPR 21:1, “Kami berpamitan dengan pemimpin-pemimpin jemaat dari Efesus itu, kemudian meninggalkan mereka. Lalu kami berlayar langsung ke pulau Kos; dan besoknya kami sampai di pulau Rodos. Dari situ kami berlayar terus ke pelabuhan Patara.”

Jadi mereka berlayar ke Kos, yang menunjukkan bahwa kapal mereka kecil yang tidak menjauhkan diri dari garis pantai. Patara adalah pelabuhan besar karena sungai Santos mengosongkan diri disitu ke laut Mediterania, dimana kapal-kapal besar berlabuh untuk membawa barang masuk ke daratan. Ayat 2 mengatakan, “Di Patara, kami menemukan kapal yang mau ke Fenisia. Maka kami naik kapal itu lalu berangkat.” Fenicia itu adalah daerah garis pantai Palestina.

Sekarang ini kapal besar, karena di ayat 3 dikatakan, “Dan berlayar sampai kami melihat pulau Siprus di sebelah kiri kami; tetapi kami berlayar terus menuju Suria. Kami mendarat di Tirus, sebab di situ kapal yang kami tumpangi itu akan membongkar muatannya.” Suria adalah daerah garis pantai, dan Tirus adalah kota terkenal yang disebut di Perjanjian Lama. Disini sekali lagi kami melihat lagi bahwa Paulus adalah seorang pria yang mementingkan misinya. Dia langsung menuju ke Yerusalem.

Ayat 4, “Kami pergi mengunjungi orang-orang yang percaya, lalu tinggal dengan mereka selama satu minggu. Atas petunjuk dari Roh Allah mereka menasihati Paulus supaya jangan pergi ke Yerusalem.” Paulus menunggu sampai kapalnya berangkat dari Tirus, dan berlayar dekat garis pantai ke pelabuhan-pelabuhan dekat Yerusalem. Sebuah cerita sederhana, namun dibawahnya sebuah kebenaran yang luar biasa – Rasul Paulus menerima tantangan untuk membawa persembahan itu kepada gereja Yerusalem.

Satu-satunya waktu Anda benar-benar mengalami keberanian mendalam itu adalah ketika Anda memiliki komitmen mendalam kepada sebuah objektif. Paulus membagikan okjektifnya di Filipi 3:10, “Satu-satunya yang saya inginkan ialah supaya saya mengenal Kristus, dan mengalami kuasa yang menghidupkan Dia dari kematian. Saya ingin turut menderita dengan Dia dan menjadi sama seperti Dia dalam hal kematian-Nya.” Objektif kami haruslah juga untuk mengenal Kristus.

Alkitab bukan objektif itu, Kitab Suci adalah cara untuk mencapai objektif. Namun untuk mengenal-Nya, saya perlu tahu Firman-Nya dan itu ada di Alkitab. Paulus kemudian menambahkan, saya ingin tahu kuasa kebangkitan-Nya, saya ingin tahu persekutuan penderitaan-Nya. Saya ingin merasakan kesakitan penderitaan-Nya, selagi saya menderita demi Dia. Saya ingin tahu segalanya yang ada. Itulah objektif yang indah.

Objektifku sendiri adalah, satu, saya ingin mengenal-Nya. Kedua, saya ingin memberi makanan rohani kepada jemaat. Namun untk mengenal-Nya dan untuk mengajar jemaat saya perlu tahu Firman-Nya. Jadi objektifku, meskipun itu umum, menjadi sangat nyata dan aktual. Untuk mencapai objektif akhir itu saya harus melakukan sesuatu hal praktis, yaitu mempelajari Firman Allah. Jadi Anda bisa saja memiliki tujuan umum yang juga menjadi tugas praktis.

Apakah Anda memiliki sebuah objektif? Ada yang mengatakan, “Objektifku adalah untuk memenangkan suamiku yang belum percaya kepada Yesus Kristus.” Itu bagus. Apakah Anda rela membayar harga apapun juga untuk melakukan itu, dengan mengorbankan kehendakmu sendiri, kesenangan Anda sendiri, apapun juga untuk tujuan itu? Mungkin ada orang yang mengatakan, “Objektifku adalah pelayanan, menyelesaikan pelajaranku dan latihanku dan melayani Allah.” Apakah Anda benar-benar bersedia untuk mengorbankan apapun juga untuk mencapai tujuan itu?

Setiap orang Kristen harus memiliki sebuah objektif. Karena tanpa hal itu Anda tidak akan mencapai apapun, dan Anda tidak akan ada kesempatan untuk menunjukkan keberanian dan mengesampingkan kehendak Anda untuk mencapai apa yang Allah telah tempatkan di hatimu. Jadi pertama, keberanian keyakinan itu mengenal tujuannya. Kedua, keberanian keyakinan itu tidak dapat dialihkan.

Lihatlah ayat 3 lagi, “Kami mendarat di Tirius, di pantai Suria,” tidak jauh dari Yerusalem. Ayat 4, “kami pergi mengunjungi orang-orang yang percaya, lalu tinggal dengan mereka selama satu minggu.” Itulah orang Kristen yang tidak mengenal Paulus, karena bukan dia yang mendirikan gereja Tirius. Memang itu benar, namun secara tidak langsung dia melakukan itu, karena gereja itu dimulai melalui luapan penganiayaan terhadap Stevanus. Jadi Paulus menyebabkan ada pertumbuhan gereja bahkan sebelum dia sendiri diselamatkan.

Namun mereka mengatakan kepada Paulus, atas petunjuk dari Roh Kudus, supaya jangan pergi ke Yerusalem. Mereka mengasihi-nya dan mereka tidak ingin melihatnya terluka, karena dia sangat dibenci orang Yahudi. Nah pertanyaannya adalah: Apakah Paulus mendapat pesan Roh Kudus supaya jangan pergi ke Yerusalem? Jika dia mendapat berita itu dan terus pergi saja, dia tidak taat. Jadi apakah Paulus tidak taat? Apakah dia berbuat salah ketika dia pergi ke Yerusalem?

Jadi apakah artinya frase, “Atas petunjuk Roh,”? Frase itu berarti, melalui penggunaan karunia roh. 1 Korintus 14:3 mendefinisikannya, “untuk menguatkan mereka, untuk memberi semangat kepada mereka dan untuk menghibur mereka,” mengajar dan berkhotbah. Namun karunia nubuatan juga bernubuat di gereja mula-mula. Nah Anda bisa menggunakan karunia roh dalam kuasa Roh tulen atau dalam kedagingan. Jadi tidak konklusif disitu, bagaimana itu dilakukan.

Mungkin itu adalah sebuah kesalahan untuk pergi tetapi kasihnya terhadap gereja di Yerusalem itu menyebabkan dia melakukan itu. Jika Anda membaca Alkitab, Anda akan melihat bahwa semua orang yang dipakai Allah berbuat salah. Nuh gagal setelah banjir dan menjadi mabuk, Abraham menyangkal isterinya, Ishak gagal karena nafsu kedagingan, Yakub gagal setiap hari, Musa gagal dan tidak bisa masuk ke Tanah Perjanjian dan Daud ada kegagalan besar dalam hidupnya. Petrus menyangkal Yesus dan Tomas meragukan-Nya.

Namun karya Allah adalah mengangkat orang-orang yang gagal. Bukankah kita senang? Namun, Paulus tidak gagal disini. Dia tidak menyangkal Roh sama sekali. Mengapa? Pertama, dia hidup dalam kepekaan terhadap Roh Kudus. Rasul Paulus tidak akan, tiba-tiba, menjadi duniawi, tanpa ada indikasi dari Allah bahwa dia melakukan itu.

Ilustrasi: KPR 16:6, “Roh Allah tidak mengizinkan Paulus dan Silas menyebarkan perkataan Allah di provinsi Asia.” Tahukah Anda apa yang mereka lakukan? Mereka tidak berkhotbah di Asia, Paulus tidak melanggar Roh. Ayat 7, “Ketika tiba di perbatasan Misia, mereka coba masuk ke provinsi Bitinia, tetapi Roh Yesus melarang mereka ke sana.” Mereka juga tidak pergi kesana.

Ayat 9-10, “Dalam penglihatan itu Paulus melihat seorang Makedonia berdiri di depannya sambil meminta dengan sangat supaya ia pergi ke Makedonia untuk menolong mereka. 10 Setelah Paulus mendapat penglihatan itu, kami langsung bersiap-siap untuk pergi ke Makedonia.” Nah, perhatikanlah, Roh mengatakan ‘tidak’, Paulus mengatakan ‘tidak.’ Roh mengatakan ‘tidak’, Paulus mengatakan ‘tidak’. Kemudian Roh mengatakan, “Pergi ke Makedonia,”dan apa yang dilakukan Paulus? Dia pergi ke Makedonia. Dengarkanlah, orang ini hidup dalam kepekaan terhadap Roh Kudus.

Dengarkanlah KPR 20:23, “Saya hanya tahu bahwa di tiap-tiap kota, Roh Allah sudah dengan tegas memberitahukan kepada saya, bahwa saya akan masuk penjara dan akan menderita.” Apakah Roh Kudus mengatakan, “Jangan pergi?” Tidak, Roh Kudus mengatakan pada saat Anda tiba disana, inilah yang akan terjadi. Roh Kudus tahu dia akan pergi, dan itu adalah sebuah kasus, bukan ada larangan, tetapi ada persiapan. Paulus mengatakan kepada mereka di ayat 24, “Tetapi saya tidak peduli hal-hal itu, dan saya tidak mementingkan hidup saya, supaya saya dapat menyelesaikan perlombaan saya dengan suka cita.”

Di KPR 24:16, dia mengatakan sesuatu yang mirip, “Itu sebabnya saya selalu berusaha sebaik-baiknya, supaya hati nurani saya bersih terhadap Allah dan bersih terhadap manusia.” Dengarkanlah, dia begitu peka terhadap Roh Kudus, sehingga dia selalu menaati Allah. Pesan yang diberikan Roh Kudus adalah, “Paulus, jangan pergi kecuali Anda rela menderita apa yang akan terjadi.” Dan memang dia rela.

Inilah keberanian keyakinan. Dan memang wajar bahwa teman-temannya, yang melalui Roh nubuatan diberi tahu sebelumnya penderitaan yang akan datang kepadanya, mencoba untuk membujuknya agar tidak pergi. Namun Paulus tidak peduli keamanannya, hanya pelayanannya. Dan dia sama seperti Yesus yang dengan tegas menuju ke Yerusalem. Inilah keberanian keyakinan yang tidak dapat dialihkan.

Segera setelah awal masa pemerintahan “Bloody Mary” di Inggris pada tahun 1553, seorang perwira dikirim untuk membawa berbagai pengkhotbah untuk menghadap pengadilan. Seorang pengkhotbah yang saleh bernama Hugh Latimer dibawa ke London. Ketika perwira itu tiba, Latimer berkata, “Temanku, saya akan pergi dengan rela ke London untuk memberi kesaksian tentang imanku, sama seperti saya pergi ke tempat manapun di dunia ini. Tuhan akan memberi saya kesempatan untuk bersaksi tentang kebenaran, baik untuk kenyamanan abadi dia atau ketidaknyamanan dia.”

‘Bloody Mary’ membakarnya di tiang pancang, dan dua pengkhotbah lain dibakar bersama dia. Dan pada saat nyala api sudah mulai naik Latimer mengucapkan kata-kata ini, “Kita akan menyalakan lilin di Inggris hari ini yang tidak akan padam.” Api yang paling mahal yang pernah dinyalakan gereja Roma Katolik adalah api itu. Itu menjadi api yang menyebabkan Reformasi Inggris mulai dan itu mematikan gereja Katolik di Inggris. Orang ini memiliki keyakinan dan keberanian untuk mati di api.

Ayat 5, “Tetapi setelah habis waktunya untuk kami tinggal di situ, kami meninggalkan mereka dan meneruskan perjalanan kami. Mereka semuanya bersama-sama dengan anak istri mereka mengantar kami sampai ke luar kota. Di sana di tepi pantai, kami semua berlutut dan berdoa.” Apakah Anda bisa melihat keindahan tindakan mereka? Kami baru melihat itu dengan teman-teman lama di Kisah Para Rasul 20. Dan inilah yang dilakukan dengan teman-teman baru. Satu hal tentang Kekristenan, tidak butuh waktu lama untuk mengembangkan persekutuan yang manis.

Jadi di kota Tirius kita melihat bahwa tujuan Paulus tidak dapat dialihkan. Bahkan saudara-saudari Kristen baru yang begitu manis dan sayang, dengan segala nasihat mereka, yang memang bermaksud baik, tidak dapat mengalihkan dia dari objektifnya yang diberikan Allah. Semoga kami juga belajar untuk mengikuti teladan Paulus, sebagaimana dia mengikuti teladan Yesus. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu