Nov 19, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Peringatan untuk Pemimpin Gereja
19 November 2017

Allah selalu menengahi pemerintahan-Nya melalui pemimpin-pemimpin yang dipilih khusus dan yang berkualitas. Pertama ada bapak-bapak leluhur, kemudian para hakim, dan kemudian para nabi, imam dan raja-raja. Di Perjanjian Baru Allah memerintah di gereja melalui pendeta dan penginjil, dan Roh Kudus membimbing orang percaya secara individu. Jadi ada otoritas dan ketundukan sebagai dua macam pekerjaan Allah di dunia.

Allah sekarang memerintah umat-Nya secara langsung dan itu masuk ke dalam tiga kategori: keluarga, gereja dan negara. Dan di semua bagian ini Allah telah menentukan bahwa harus ada pemimpin dan ada pengikut. Jadi ada otoritas dan ketundukan. Di dalam keluarga orang tua adalah pemimpin. Di gereja pendeta dan penatua adalah pemimpin. Di negara pejabat pemerintah adalah pemimpinnya. Inilah pola yang ditetapkan Allah.

Allah memerintah di gereja melalui pendeta dan penatua. Dan ini membawa kita langsung kepada Kisah Para Rasul 20. Nah, disini Paulus memberi informasi kepada pendeta dan penatua gereja yang diberi tanggung jawab untuk memimpin gereja Yesus Kristus. Nah caranya dunia mengevaluasi kepemimpinan itu bukan caranya Allah mengevaluasinya. Jadi apakah yang membuat seseorang menjadi pemimpin yang efektif di gereja?

Dunia mengatakan bahwa seorang pemimpin harus bisa merencanakan kedepan, dan mereka harus mementingkan tindakan. Mereka harus terlibat, agresif dan berani. Mereka juga energik, dan biasanya mereka berorientasi obyek daripada berorientasi orang. Mereka egosentris dan mereka selalu sangat diperlukan. Dengan kata lain semuanya berhasil atau gagal bersama mereka. Dan biasanya mereka adalah orang yang naik keatas dan yang menjadi pemimpin.

Tetapi di dalam Alkitab tidak ada kategori pemimpin seperti itu. Semua kualifikasi alkitabiah benar-benar menghindari hal seperti itu dan adalah spiritual dan internal, dan bukan fisik dan eksternal. Satu-satunya cara seorang pemimpin alkitabiah memimpin adalah bukan dengan ajaran dan kata-kata melainkan dengan menjadi teladan.

Filipi 3:17 mengatakan, “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.” Filipi 4:9 mengatakan, “Dan apa yang telah kamu pelajari dan terima, dan dengar dan telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.” Jadi Paulus mengatakan, kami memimpin dengan memberi teladan.

Nah, tanggung jawab menjadi pemimpin seperti itu adalah sulit. Karena ini tanggung jawab yang diberikan Allah untuk memelihara orang dan itu selalu merupakan tugas besar. Ibrani 13:17 mengatakan, “Mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” Dan Yakobus 3:1 mengatakan, “kita yang menjadi guru akan diadili dengan lebih keras daripada orang lain.” Tetapi ini juga sangat bermanfaat sehingga itu bisa mengatasi kemungkinan ada kegagalan.

Jadi di KPR 20, Paulus memberikan para pendeta semua ajaran kepemimpinan. Prioritas nomor satu dalam kepemimpinan rohani adalah untuk memastikan hubungan Anda dengan Allah itu benar. Kekudusan pribadi adalah dasar. Yang paling penting bukanlah persiapan khotbah Anda, tetapi persiapan diri Anda untuk menjadi saluran yang Allah dapat gunakan secara efektif. Jadi tanggung jawab saya terutama adalah untuk memastikan bahwa hidup saya dihadapan Allah adalah seperti semestinya.

Ayat 28, “Karena itu, hendaklah kalian menjaga diri.” Dan kita melihat di 1 Timotius dan Titus bahwa kualifikasi pendeta itu semua adalah kualifikasi spiritual. Tidak ada manusia yang benar-benar berguna bagi Allah kalau dia tidak kudus. Dan Anda hanya berguna bagi Allah selama Anda dipisahkan untuk Allah. Lihatlah Daud di 2 Samuel 11, dia mengambil Batsyeba, isteri Uria dan membuatnya hamil.

Kemudian di 2 Samuel 11:15 dia menulis surat kepada tentaranya dan mengatakan, “Tempatkanlah Uria di garis depan, di mana pertempuran paling sengit, lalu mundurlah engkau tanpa setahu dia supaya dia tewas.” Jadi dengan demikian dia mati. Sekarang dia telah berzinah dan membunuh. Dan Anda tahu sendiri apa yang terjadi, dia sama sekali tidak berguna lagi bagi Allah. Namun Allah berbicara kepada hatinya, dan dia patah hati dibawah beban dosanya, dan dia menulis perasaannya di Mazmur 51.

Mazmur 51 adalah Daud yang patah hati karena dosanya terhadap Batsyeba dan Uria. Dengarkanlah apa yang dia katakan, “Kasihanilah aku ya Allah, karena Engkau tetap mengasihi, hapuskanlah dosaku karena belas kasih-Mu yang besar. 2 Basuhlah segala kejahatanku; bersihkanlah aku dari dosaku. 3 Sebab kuakui kesalahan-kesalahanku, dosaku selalu kuingat-ingat. 4 Terhadap Engkau, terhadap Engkau saja aku berdosa.”

Apa yang dia katakan adalah, “Allah, pulihkan aku, bawalah aku kembali. Ciptakan untukku hati yang bersih, ya Allah, perbaharuilah semangat yang benar di dalam diri saya. Janganlah buang aku dari hadirat-Mu. Janganlah mengambil Roh Kudus-Mu dariku.” Daud sama sekali tidak layak dalam mengajar atau mengkonversi siapapun juga sampai saatnya dia bersih. Prioritas pertama dalam pelayanan seseorang adalah kekudusan dirinya.

Prioritas nomor dua juga terdapat di dalam ayat 27-28, ajarlah dan pimpinlah jemaat. Mungkin beberapa diantara kita sudah tahu apa yang biasanya diketahui sebagai kuasa jemaat, dimana jemaat memerintah. Itu asing bagi Kitab Suci. Didalam Alkitab jemaat selalu tunduk kepada otoritas pendeta. Karena jika Anda menempatkan jemaat diatas pemimpin, Anda telah melanggar pola Allah tentang otoritas gereja.

Sesudah pria itu dipilih Allah dan ditahbiskan Allah, pekerjaan mereka adalah untuk memerintah untuk Allah, karena mereka berdiri sebagai gembala bawahan bagi Kristus. Jadi kepemimpinan itu penting: memimpin jemaat, mengambil keputusan penting, membimbing mereka ke tempat yang bermanfaat bagi mereka, namun juga memberi mereka makanan. Dan mereka memberi makan dengan Firman Allah sebagaimana Allah telah menugaskan mereka.

Nah prioritas ketiga adalah: untuk mengawasi dan memperingatkan jemaat. Mengajarkan itu hal positif dan mengawasi dan memperingatkan adalah negatif. Inilah perlindungan dan kewaspadaan. Iya, menampil ke belakang adalah untuk melihat apa yang muncul dari belakang. Salah satu perjuangan yang terbesar dan yang paling berat adalah melindungi jemaat.

Lihatlah ayat 29, “Seperginya saya, pasti akan datang serigala-serigala yang buas ke tengah-tengah kalian. Dan orang-orang yang kalian jaga itu akan menjadi mangsa serigala-serigala itu.” Bagaimana kita tahu itu? Karena Paulus kenal Iblis dan tahu caranya dia bekerja. Paulus mengatakan bahwa guru-guru palsu akan datang saat saya sudah pergi. Dimanapun kebenaran diberitakan, Setan akan datang untuk melemahkannya dengan kebohongan.

Di Matius 7:15 Yesus mengacu kepada serigala, “Hati-hatilah terhadap nabi-nabi palsu. Mereka datang kepada kalian berkedok domba, tetapi mereka sebenarnya seperti serigala yang buas.” Dan sekali lagi di Matius 10:16, Yesus mengirim orang yang akan berkhotbah untuk Dia dan Dia mengatakan, “Aku mengutus kalian seperti domba yang tidak berdaya ke tengah-tengah serigala ganas.” Dan keduabelas murid pergi dan tahu bahwa mereka bisa saja bertemu dengan serigala dalam pakaian domba.

Tahukah Anda apa yang dilakukan pendeta yang baik untuk Yesus Kristus? Dia mengingatkan orang-orang untuk waspada terhadap guru-guru palsu, ajaran setan dan roh-roh penggoda. dan Allah mengutuk orang-orang ini. 2 Petrus 2:1, “Pada masa yang lampau di antara umat Allah telah muncul nabi-nabi palsu. Begitu juga di antaramu akan muncul guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan ajaran-ajaran yang tidak benar, yang membinasakan orang. Dan mereka akan menyangkal Penguasa yang sudah membebaskan mereka. Dengan demikian mereka mendatangkan kebinasaan atas diri sendiri, yang akan menimpa mereka dengan cepat.”

2 Petrus 2:18-19, “Mereka membuat pernyataan-pernyataan yang muluk-muluk dan kosong; nafsu yang cabul dipakai oleh mereka guna menjerumuskan orang-orang yang baru saja mulai terlepas dari lingkungan orang yang hidup sesat. 19 Sementara mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang-orang itu, sedangkan mereka sendiri diperbudak oleh korupsi. Sebab kalau orang dikalahkan oleh sesuatu, maka ia hamba dari yang mengalahkannya itu.”

Ajaran salah masuk, bukan saja dari luar, namun juga dari dalam. Ayat 30, “Malah dari antara Saudara-saudara sendiri pun akan muncul orang-orang yang akan memberitakan berita yang tidak benar, supaya murid-murid Yesus mengikuti mereka.” Apakah itu terjadi di Efesus? Iya, karena Paulus mengatakan di 1 Timotius 1:3, “tetap tinggal di Efesus sebab ada beberapa orang yang menyebarkan ajaran yang tidak benar.”

Paulus bahkan menamakan mereka. 1 Timotius 1:19-20 mengatakan, “Ada orang-orang yang hancurlah kepercayaan mereka. 20 Di antaranya ialah Himeneus dan Aleksander, yang sudah saya hukum dengan menyerahkannya kepada Iblis, supaya mereka belajar untuk berhenti menghujat Allah.” 2 Timotius 1:15, “Semua orang di wilayah Asia sudah meninggalkan saya, termasuk juga Figelus dan Hermogenes.”

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa itu terjadi sekarang juga. Banyak gereja-gereja di Amerika di dominasi oleh guru-guru palsu. Kita harus waspada supaya janganlah lalang ditaburkan diantara gandum. Di Matius 13:29 Yesus mengatakan jangan mencabut lalang itu sebab kalau alang-alang itu dicabut, nanti gandumnya turut tercabut.”

Satu-satunya cara untuk menghalang lalang itu masuk, adalah dengan mengawasi dan memperingatkan. Dan itulah tugas kami yang ada disini di Persekutuan Indonesia Riverside, siapapun yang mengajar, siapapun yang bertanggung jawab dan siapapun yang memimpin. Kita berhutang kepada Tuhan Yesus Kristus demi kemurnian yang Dia ingin disampaikan kepada-Nya.

Ayat 31, “Sebab itu berjaga-jagalah! Ingat bahwa tiga tahun lamanya dengan banyak air mata, siang malam saya tidak pernah berhenti mengajar setiap orang dari kalian.” Mengapa Paulus menangis? Karena dia tahu konsekuensi yang mengerikan dari guru-guru palsu. Dia mengatakan, saya memperingati kalian siang dan malam. Jadi pendeta itu harus waspada. Dan Paulus mengatakan. lakukanlah itu seperti saya melakukannya. Sekali lagi kepemimpinan adalah melalui teladan.

2 Tesalonika 3:8-9 mengatakan, “Siang malam kami bekerja membanting tulang supaya kami tidak menyusahkan siapapun juga dari antaramu. 9 Kami melakukan itu bukan karena kami tidak berhak menuntut supaya kalian menolong kami, tetapi karena kami mau menjadi teladan bagimu.” Jadi pendeta ada disitu supaya dia dapat melindungi jemaat dari serigala ajaran sesat melalui teladannya.

Prioritas keempat adalah belajar dan berdoa. KPR 6:4 mengatakan, “Kami mau berdoa dan memberitakan perkataan Allah saja.” Ayat 32, “Sekarang saya menyerahkan kalian kepada Allah supaya Ia yang memelihara kalian dan supaya kalian berpegang pada berita rahmat Allah. Allah mempunyai kuasa untuk menguatkan kalian dan memberikan kepadamu berkat-berkat yang sudah disediakan-Nya untuk semua umat-Nya.” Itulah doa.

1 Petrus 2:2, “Selalu haus akan susu rohani yang murni dari Firman Allah. Dengan demikian kalian akan bertumbuh.” Firman itu menyebabkan kami bertumbuh “dan memberikan kepadamu berkat-berkat yang sudah disediakan-Nya untuk semua umat-Nya.” Selagi Anda mempelajari Firman Anda dipertumbuhkan dan Anda dijamin bahwa warisan yang dijanjikan itu benar-benar milik Anda, dipisahkan untuk semua orang yang dikuduskan melalui Kristus.

Inilah gereja-Nya. Pada akhirnya hanya Allah dapat melindungi dan memelihara mereka. Jadi Paulus mengatakan, saya menyerahkan kalian kepada Allah. Dan segala sesuatu yang dilakukan gereja harus memiliki komitmen seperti itu. Itulah prioritas setiap macam pelayanan. Kami harus mendoakan segala sesuatu. Segala sesuatu yang kita lakukan haruslah untuk Allah. Lihatlah KPR dan Anda akan melihat bahwa sebelum mereka melakukan apapun juga, mereka berdoa dulu sebelumnya.

Tahukan Anda bahwa tidak ada sesuatu yang dapat menggantikan doa? Itu memang kedengarannya kuno namun itu benar. Bukan kemakmuran, bukan ide bagus, bukan program bagus, bukan pertumbuhan, bukan sukses, bukan kepercayaan dan bukan talenta. Sangat mudah bagi gereja untuk hanya bergantung kepada diri Anda dengan program hebat dan panitia yang baik dan mengambil semua pujian. Namun siapakah yang sebenarnya Anda perlu syukuri? Janganlah merampok Allah dari kemuliaan-Nya!

Nah prioritas terakhir bagi pendeta adalah, tidak mementingkan diri. Dan Paulus menggunakan dirinya sebagai teladan. Ayat 33, “Belum pernah saya menginginkan uang atau pakaian dari seseorang pun.” Paulus mengatakan, ingatlah di dalam semua pelayanan itu, pandanglah itu pelayanan memberi, bukan pelayanan menerima, benar? Allah tidak akan memberkati pelayanan orang yang lebih mementingkan uang. Matius 6:24 mengatakan, “Kalian tidak dapat melayani Allah dan uang juga.”

Paulus akan pergi dan berbuata apa saja untuk siapa saja, dan kapan saja secara gratis. Paulus mengatakan di Filipi 4:11, “Saya sudah belajar merasa puas dengan apa yang ada.” Dia mengatakan di ayat 34, “Saudara sendiri tahu, bahwa dengan tenaga saya sendiri saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan saya dan kawan-kawan saya yang ikut dengan saya.” Paulus selalu memelihara dirinya supaya dia tidak menjadi beban bagi orang lain, dia hidup untuk mengabarkan Injil Yesus kepada orang-orang.

Ayat 35, “Dalam segala perkara saya sudah memberi teladan kepadamu bahwa dengan bekerja keras seperti ini kita harus menolong orang-orang yang tidak kuat. Karena kita harus ingat akan apa yang Tuhan Yesus sendiri sudah katakan, 'Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Ini mungkin salah satu kutipan yang paling menarik dari Alkitab. Inilah yang kita namakan agrafa. Ini adalah sebuah kutipan yang Yesus katakan tetapi yang tidak dicatat oleh siapapun dan itu dikutip Paulus. Jika Anda mencarinya di Perjanjian Baru, Anda tidak akan menemukannya, namun Yesus benar mengatakan itu.

Dalam pelayanan salah satu cara kesalehan kita dinyatakan adalah di dalam kasih kita untuk Yesus Kristus, tanpa ada pikiran satupun tentang uang. Dan Allah memelihara kita jika semua hal benar dihadapan-Nya dan Anda adalah tipe pria yang seharusnya. 1 Petrus 4:11 mengatakan, “Orang yang melayani orang lain, haruslah melayani dengan kekuatan yang dari Allah, supaya dalam segala hal, Allah dapat dimuliakan melalui Yesus Kristus.”

Ayat 36-37, “Setelah Paulus selesai berbicara, ia berlutut dengan mereka semua lalu berdoa. 37 Mereka semuanya menangis sambil merangkul Paulus dan mengucapkan selamat jalan.” Mereka semua berlutut sambil berdoa. Tahukah Anda mengapa mereka mengasihinya? Mereka mengasihi Paulus karena apa yang dia bicarakan itu sesuai dengan bagaimana dia hidup sehari-hari.

Ayat 38, “Mereka sangat sedih, terutama karena Paulus berkata bahwa mereka tidak akan melihat dia lagi. Lalu mereka mengantarkannya sampai ke kapal.” Ketika dia memberitakan mereka bahwa mereka tidak akan melihatnya lagi, mereka hanya menangis. Dan jika kuasa Roh Kudus di dalam saya dapat menyebabkan saya melayani cukup sesuai dengan cara Roh ingin saya melayani, maka Allah akan memberikan saya kasih orang-orang kudus juga. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu