Nov 12, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Prioritas Kepemimpinan
12 November 2017

Marilah kita melihat KPR 20:25-28 sebagai satu bagian. Kepemimpinan itu penting sekali. Kepemimpinan buruk menghancurkan institusi, sementara kepemimpinan baik membangunnya. Di dalam kerajaan Allah kepemimpinan itu dipentingkan. Bahkan para malaikat pun terorganisir. Ada malaikat kerajaan. Ada malaikat penguasa, dan ada malaikat agung. Allah tahu harus ada otoritas dan ketundukan dalam segala sesuatu.

Allah selalu melayani Kerayaan-Nya melalui pemimpin kunci. Allah tidak menyukai kepemimpinan yang tidak efektif. Di Hosea 4:9, Allah bukan saja membicarakan dosa-dosa Israel namun juga dosa-dosa para pemimpin Israel. Dia mengatakan, “seperti nasib rakyat demikianlah nasib imam.” Dengan kata lain, “Saya tidak bisa mengharapkan dari rakyat apa yang saya tidak dapatkan dari para pemimpinnya. Apapun pemimpinnya, rakyat itu sama.”

Allah mengatakan bahwa Dia akan menghukum pemimpin-pemimpin itu karena mereka menyebabkan rakyat berdosa karena mereka gagal memimpin mereka ke dalam pola suci. Yeremia 5:31 mengatakan, “Para nabi bernubuat palsu dan para imam mengajar dengan sewenang-wenang, dan umat-Ku menyukai yang demikian!” Dengan kata lain, orang-orang malah senang ada pimpinan yang tidak baik.

Di Matius 15:14, Yesus mengatakan, “Biarkanlah mereka itu. Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.” Yesus mengatakan bahwa orang-orang akan mengikuti para pemimpin mereka. Karena itu Allah sangat mementingkan kepemimpinan. Allah menetapkan standar tinggi untuk kepemimpinan yang memadai, dan jika Allah menetapkannya tinggi, begitu pula Paulus, karena Paulus adalah orang saleh.

Paulus mengakhiri perjalanan misinya yang ketiga di KPR 20. Dia berhenti di Miletus dalam perjalanannya ke Yerusalem, dan dia bergegas ke Yerusalem untuk sampai ke sana pada hari Pentakosta dan juga untuk membawa persembahan kepada orang kudus miskin disana. Dan sementara ada kesempatan dia minta supaya para penatua jemaat Efesus datang ke Miletus agar dia bisa memberi mereka beberapa kata-kata akhir.

Nah kepemimpinan di Alkitab adalah masalah dua sisi. Ini masalah tanggung jawab besar dengan suka cita besar, dan ini juga masalah tanggung jawab besar dengan potensi penghakiman besar. Pemimpin yang baik diberkati ganda. Pemimpin yang buruk dihukum dua kali karena Lukas 12:48 mengatakan, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut.” Dan itu prinsip yang berjalan dalam segala hal yang melibatkan Allah.

Contoh, Yakobus 3:1 mengatakan, “Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang diantara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.” Disisi lain 1 Timotius 5:17 mengatakan, “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat.” Jadi disini terdapat penghormatan dua kali lipat untuk guru yang baik dan penghakiman dua kali lipat bagi guru yang buruk. Kepemimpinan itu memiliki tanggung jawab yang besar sekali.

Jadi tugas para rasul mula-mula adalah untuk mengangkat pemimpin seperti itu di setiap gereja. Ketika saya mengatakan penatua, itu sama dengan pendeta, dan mereka selalu sebagai pluralitas, tidak pernah hanya ada satu pendeta. Namun para penatua disitu telah dilatih, dimuridkan dan didewasakan oleh Paulus. Dan mereka telah dipilih Paulus dan dibangkitkan secara rohani oleh Roh Kudus.

Paulus mengatakan di Titus 1:5, “Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu.” Jadi Paulus berbicara kepada orang-orang yang dia sendiri telah ajarkan dan dia memberikan mereka tugas yang sebenarnya jauh lebih besar daripada peristiwa yang Anda saksikan di KPR 20.

Yang dikatakan Paulus kepada orang-orang itu adalah dasar untuk setiap macam kepemimpinan alkitabiah di gereja. Jika gereja itu adalah gereja Perjanjian Baru dari Yesus Kristus, maka itu harus mengikuti pola alkitabiah, benar? Dan jika gereja itu tidak mengikuti pola alkitabiah dalam kepemimpinan, maka itu tidak pernah akan diikuti di dalam jemaat. Reformasi tulen di gereja, kebangkitan rohani Perjanjian Baru harus datang lebih dulu di tingkat kepemimpinan.

Nah sekarang kita akan melihat bukan saja perkataan manusia, namun firman dari Roh Kudus untuk gereja Yesus Kristus sepanjang sejarah. Jadi kita mengatakan bahwa ini baik dan sesuai untuk gereja sekarang sama seperti pada waktu Paulus mengucapkannya waktu itu. Itu adalah pandangan Allah yang diberikan untuk selamanya mengenai peran pendeta dan penatua di gereja, yang adalah sama.

Jadi gereja itu, sama seperti setiap dimensi lain di didalam Kerajaan Allah yang dinyatakan di dunia, bergantung kepada kepemimpinannya. Kita dapatkan hal itu di Efesus 4, dimana Allah ingin gereja itu berkembang. Dia ingin orang-orang kudus disempurnakan untuk pekerjaan pelayanan untuk mengembangkan tubuh. Dia ingin ada kesatuan iman. Dia ingin ada pemahaman yang mendalam tentang Anak Allah.

Dia ingin gereja itu didewasakan sesuai ukuran perwujudan kepenuhan Kristus. Di Efesus 4:14, “sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia.” Dia tidak ingin gereja itu bertindak tanpa kasih akan tetapi seperti Efesus 4:15, “berbicara kebenaran di dalam kasih.” Dia ingin supaya gereja itu lebih dewasa dan bertumbuh dalam kasih.

Pertama-tama, izinkan saya memberitahu Anda apa kepemimpinan gereja itu bukan. Nomor satu, kepemimpinan alkitabiah Perjanjian Baru bukan sebuah mainan kuasa politik. Anda adalah pemimpin gereja yang benar ketika Allah telah menetapkan Anda seperti itu. Kedua, kepemimpinan alkitabiah bukan sebuah kediktatoran yang dominan.

Di Matius 20:25-26 Yesus mengatakan, “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Dan kepemimpinan alkitabiah Perjanjian Baru itu bukan kontrol karismatik juga.

Matius 20:27-28, “Dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; 28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Pemimpin terbesar yang pernah hidup adalah seorang hamba, dan Dia mengajari kita contoh prinsip kepemimpinan yang terbesar. Yang Yesus mencontohkan adalah apa yang kita harus mewujudkan.

Kunci kepemimpinan sejati adalah kehidupan yang patut dicontoh. Yesus mengatakan, pendeta sejati hanya menjadi pendeta selama dia mengikuti apa yang saya katakan dan apa yang saya lakukan. Ketika Anda tidak mengikuti Yesus lagi, Anda bukan pemimpin. Bisa saja Anda punya judul, namun Anda bukan apa-apa. Anda hanya menjadi pendeta jika Anda mengikuti perkataan-Ku dan ketika orang melihat kehidupanmu dan melihat ada konsistensi diantara bagaimana Anda hidup dan apa yang Anda katakan, benar?

Paulus sanggup memuridkan pemimpin, bukan saja dengan apa yang dia katakan kepada mereka namun dengan caranya dia hidup. Marilah kita lihat KPR 20 dan bacalah apakah arti sebenarnya kepemimpinan alkitabiah. Nah Paulus mengakhiri pengajarannya kepada penatua Efesus, dan dia menugaskan mereka untuk mengatur pelayanan mereka sesuai dengan prioritas yang ditetapkan Allah. Itu prioritas yang bukan hanya dibicarakan saja namun yang dia lakukan dalam hidupnya sendiri.

Masih ingat di ayat 17 sampai 24 Paulus menunjukkan empat dimensi pelayanan. Pertama dia mengatakan, pelayanan kepada Allah adalah pelayanan kepada Tuhan. dan kepada gereja itu adalah mengajar; terhadap orang yang terhilang itu penginjilan dan terhadap dirinya sendiri itu adalah pengorbanan. Kami sudah membahasnya secara rinci. Setelah Paulus menyelesaikan hal itu, dia ingin memusatkan diri kepada gereja. Dia ingin memberikan mereka prioritas untuk mengajar gereja, supaya mereka efektif.

Lihatlah ringkasannya di ayat 25-27, “Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah.” Saya telah memberikan kalian semua fakta mengenai Kerajaan Allah, dan frase ini adalah pernyataan umum mengenai caranya Allah bekerja dan caranya Allah memerintah. Ayat 26, “Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa.” Mengapa? Ayat 27, “Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu.”

Nah Paulus mengatakan di ayat 26 bahwa dia bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. Benarkah seorang guru atau pendeta dapat disalahkan atas darah orang-orang tertentu? Ternyata memang begitu. Di Yehezkiel 33:8 Allah mengatakan, “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Hai orang jahat, engkau pasti mati! --dan engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.” Yehezkiel akan dihukum karena pelayanan yang tidak setia.

Paulus mengatakan disini, “Tanganku bersih, saya setia memberitakan seluruh firman Allah.” Setiap utusan Allah perlu menyadari bahwa jika Allah telah memberikan kepadanya sebuah pelayanan, dan dia tidak memenuhi itu, maka dia akan dihukum karena dia gagal melakukannya. Itulah yang dimaksud Yakobus 3:1 pada saat dia mengatakan, “Janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru, sebab kita tahu bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.”

Nah Paulus memusatkan diri kepada mengajar jemaat gereja, dan mulai dengan ayat 28 dia mengatakan, “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.” Kamulah sebagai pendeta terutama bertanggung jawab atas gereja di Efesus. Nah inilah yang harus diutamakan.

Tidak ada perbedaan di gereja antara pendeta dan penatua dan uskup. Mereka semua sama. Jadi Paulus berbicara kepada pemimpin-pemimpin itu untuk bertanggung jawab atas arahan gereja, dan dia memberikan mereka lima kunci kepemimpinan. Itu adalah prioritas, memang dasar tetapi sangat penting.

Prinsip nomor satu: Pastikanlah hubungan Anda benar dengan Allah. “Jagalah dirimu.” Prioritas itu mulai dengan Anda. Anda belum siap untuk melayani, Anda belum siap untuk menanggung apa yang terlibat dalam pelayanan, Anda belum siap untuk menghadapi tanggung jawab pelayanan kecuali hubungan Anda adalah benar dengan Allah. Inilah fondasi pelayanan.

Untuk memberi Anda gagasan tentang bagaimana Perjanjian Baru menunjukkan hal itu, Markus 13:9 mengatakan, “Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama dan kamu akan dipukul di rumah ibadat dan kamu akan dihadapkan ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka.” Dengan kata lain, jika hubungan Anda tidak benar dengan Allah, Anda tidak mungkin dapat menangani apa yang akan terjadi.

Paulus menyatakan ini di 1 Timotius 4:16, “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu.” Itulah prioritas ditengah pelayanan, itu adalah karakter. Kemudian dia mengatakan awasilah ajaranmu. Itulah kepercayaan. Kemudian dia mengatakan “Bertekunlah dalam semuanya itu.” Itulah tingkah laku. Awasilah karaktermu, kepercayaanmu dan tingkah lakumu. Anda sendiri adalah kunci pelayanan.

Paulus tahu bahwa pada hari dimana kekudusan itu tidak lagi menjadi bagian hidupnya, keefektifan dia juga hilang. 1 Korintus 9:27 mengatakan, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Saya hanya berguna bagi Allah selama saya hidup kudus, selama saya menyerahkan diri kepada Roh Kudus, selama ada kemurnian dalam hidupku. Allah hanya menggunakan alat-alat kudus.

Beberapa pendeta sudah jatuh secara tragis. Yang terjadi adalah bahwa hubungan mereka dengan Allah menjadi tidak kudus. Mereka menjadi orang yang tidak kudus, dan pada saat itu terjadi mereka didiskualifikasi. Mereka menjadi bejana yang tak berguna dan tak terhormat, dan meskipun mereka mempertahankan penebusan mereka, karena pembenaran adalah sesuatu yang kekal, mereka kehilangan pelayanan mereka untuk Kristus. Kekudusan adalah komoditas dasar dalam semua kepemimpinan rohani.

Lihatlah persyaratan bagi pemimpin Perjanjian Baru di 1 Timotius 3:2-3, “penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, 3 bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang.”

1 Timotius 3:4-5, “seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. 5 Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” Iya benar, jadi kepemimpinan Perjanjian Baru bergantung kepada orangnya, jadilah orang kudus. Kemudian ada prioritas kedua untuk posisi kepemimpinan di gereja, yaitu dia harus memberi jemaat makanan rohani dan menuntun mereka.

Ayat 28 mengatakan, “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan.” Tidak ada pilih kasih, gereja itu dipandang sebagai kawanan domba. Ada sesuatu tentang domba yang merupakan ciri khas orang Kristen, pengikut yang tidak berdaya dan bodoh. Itu adalah istilah bersejarah yang Allah telah gunakan bagi umat-Nya. Bahkan Yesus sendiri di Lukas 12:32 mengatakan, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.”

Sekarang kita memiliki tugas yang agak sederhana dalam definisi, walaupun fungsinya tidak sederhana. Jadi kita semua adalah gembala atas kawanan yang telah dibagikan kepada kami. Oleh siapa? Oleh Roh Kudus. Ini luar biasa bahwa semua pendeta ditugaskan sebagai gembala di bawah Yesus Kristus untuk menggembalakan jemaat. Ada dua tugas yang diberikan yaitu untuk memimpin dan untuk memberi makanan rohani.

Sebenarnya pendeta harus memelihara, mendisiplin, membalut luka-luka mereka, menjalankan otoritas atas mereka dan menuntun mereka kepada jalan yang benar. Namun intisari penggembalaan adalah memberi makanan rohani. Karena yang dilakukan gembala paling banyak adalah membawa domba-domba itu ke tempat dimana mereka bisa makan. Namun itu termasuk seluruh konsep membimbing juga.

Apakah artinya membimbing? Nah, itu berarti memimpin. “Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat.” Ini berarti memberi arahan kepada gereja. Apakah yang harus dilakukan jemaat? Ibrani 13:17 mengatakan, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya.” Setiap pendeta harus bertanggung jawab kepada Allah sendiri bagaimana dia memelihara jemaat.

Inilah gereja-Nya. Yesus mengatakan kepada Petrus tiga kali, “Gembalakanlah domba-domba-Ku, Gembalakanlah domba-domba-Ku, Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Jemaat itu bukan milik Petrus, dan bukan milikku. Mereka adalah milik-Nya. Roh Kudus menambahkan pada akhir ayat 28, “yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.” Jemaat Allah begitu berharga sehingga Dia bayar harga yang termahal. Jadi saya ingin memastkan bahwa saya memeliharanya dengan baik, Amin? Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu