Oct 29, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Tersedia untuk Gereja
29 Oktober 2017

Kasih orang Kristen bagi mereka yang terhilang memang salah satu kewajiban bagi orang Kristen. Kewajiban lain adalah yang kita sedang pelajari di KPR 20, yaitu mengasihi gereja. Kita dipanggil untuk mengasihi orang terhilang, untuk peduli mereka dan untuk memelihara mereka dan kita juga harus mengikuti teladan Paulus untuk mengasihi gereja.

Dan di KPR 20:1-17 kita telah belajar tentang ini dari karakter Rasul Paulus. Apakah yang sebenarnya menjadikan seseorang pendeta yang efektif untuk Yesus Kristus? Ada yang mengatakan itu haruslah orang yang memiliki kecerdasan hebat. Yang lain mengatakan dia harus memiliki kemampuan kepemimipinan yang hebat, atau keberanian besar, atau kemampuan untuk berbicara dan menulis yang hebat. Dan memang semua hal itu menjadi bagian hidup setiap orang yang efektif bagi Allah.

Namun dibalik semua ini ada satu fakta besar yang mendukung semua yang menyebabkan orang itu menonjol dalam sejarah gereja, yaitu kasih mereka terhadap gereja berdasarkan kasih mereka untuk Yesus Kristus. Penyelidikan yang sangat menarik adalah biografi para pengkhotbah yang besar. Dan penyebut umum adalah kasih mendalam bagi Tuhan Yesus Kristus yang terlihat dari kasih yang luar biasa untuk Gereja.

Di Filipi 1:3-7 rasul Paulus mengatakan, “Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. 4 Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. 5 Aku mengucap syukur kepada Allahku karena persekutuanmu dalam Berita Injil mulai dari hari pertama sampai sekarang ini. 6 Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. 7 Memang sudahlah sepatutnya aku berpikir demikian akan kamu semua, sebab kamu ada di dalam hatiku.”

Pada saat kita melihat KPR 20:1-17, kita mempelajari hanya sebuah cerita sederhana. Namun disini kita melihat tindakan Paulus yang menunjukkan sikap Paulus. Kasih bukan sesuatu yang hanya dibicarakan saja. Ini sesuatu yang harus ditunjukkan, benar? Anda bisa mengatakan sedikit sekali namun mempertunjukkan kasih. Dan Anda dapat bicara banyak dan tidak menunjukkan apapun juga.

Ini salah satu bab terhebat dimana kasih dipertunjukkan. Di babak pertama Kisah Para Rasul 20, Paulus mengasihi gereja. Di babak kedua gereja itu mengasihinya kembali. Sekarang Paulus menjalankan perjalanan misinya yang ketiga dan yang terakhir. Dia berhenti di setiap tempat dimana dia ada pelayanan efektif, dan dia bertemu dengan orang-orang kudus disana dan mengucapkan salam perpisahannya. Dan sekarang di Yerusalem dia mengakhiri perjalanannya yang ketiga.

Dan kita melihat kasihnya dipertunjukkan dalam berbagai cara. Pertama di ayat 17 kita melihat itu didemonstrasikan dalam pelukan mereka. Kami melihat kasih Paulus dalam hal terlihat yang menunjukkan kasih sayangnya. Dan di KPR 20:37 kita melihat bagaimana “mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, dan mereka berulang-ulang mencium dia.” Dan kami diperingatkan di Perjanjian Baru dimana kami harus menyampaikan salam seorang kepada yang lain dengan cium kudus.

Kemudian kita melihat bahwa kasihnya ditunjukkan dengan pemberiannya. Paulus mengumpulkan uang bagi orang-orang kudus miskin di Yerusalem, dan kami mempelajari semua itu dan melihat ayat-ayat firman di Korintus yang komparatif dengan ini. Dan disini kami melihat seseorang yang sama sekali tidak mementingkan diri. Seluruh keasyikannya adalah melayani kebutuhan orang lain.

1 Yohanes 3:16 mengatakan, “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita ketika Dia memberikan Anak-Nya untuk mati di kayu salib.” Kami juga harus rela memberikan nyawa kita untuk sesama orang Kristen, benar? Jadi Paulus mendemonstrasikan jenis kasih seperti itu. Ada sebuah kebutuhan dan dia ingin memenuhi kebutuhan itu. Dan dia pergi ke seluruh Mediterania timur selama beberapa tahun untuk mengumpulkan uang bagi orang-orang miskin di Yerusalem.

Dia juga menunjukkan kasihnya dalam ajarannya. Ayat 2, “Ia menjelajah daerah itu dan dengan banyak nasihat menguatkan hati saudara-saudara di situ. Lalu tibalah ia di tanah Yunani.” Dia berkeliling mengajar di Makedonia. Dan ketika sampai di Yunani dia menulis buku Roma, dan mengajar lebih banyak lagi. Dia memberi banyak nasihat, instruksi dan dorongan.

Kunci pelayanan adalah untuk memberi makan dan melindungi. Nah ini meng-ekspressikan hati Paulus yang penuh kasih, yang lelah, habis tenaga dan dianaiaya. Namun dia tetap berhenti dimana-mana dan terus menerus mengajar. Mengapa? Karena keinginan besar di dalam hatinya adalah untuk mendewasakan orang-orang kudus. Dan itulah yang mendorong dia.

Dan kemudian kita lihat kasihnya dalam ketekunannya. Ayat 3, “Sesudah tiga bulan lamanya tinggal di situ ia hendak berlayar ke Siria. Tetapi pada waktu itu orang-orang Yahudi bermaksud membunuh dia. Karena itu ia memutuskan untuk kembali melalui Makedonia.” Dia ingin pergi ke Siria untuk perayaan Pelewatan di Yerusalem, naik kapal. Namun dia tahu tentang rencana mereka untuk membunuhnya. Namun itu tidak memberhentikannya, itu hanya menyebabkan dia mencari jalan lain.

Paulus menulis tentang kasih dalam cara itu. Masih ingat di 1 Korintus 13:7 dia mengatakan, “Kasih menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” Jadi demi kasih gereja, dia bisa menanggung apapun dan ditengah itu dia akan berharap terus dan bertahan. Itulah karakter kasih yang bertekun.

Dan ayat 4 mengatakan ada beberapa orang yang bertemu dengan dia di Troas. Mereka mewakili gereja-gereja yang menyumbang persembahan itu, supaya saat dia datang ke Yerusalem, itu akan disampaikan oleh perwakilan dari gereja-gereja non-Yahudi ini. Betapa indah gambaran kesatuan itu bagi orang Kristen Yahudi, melihat orang bukan Yahudi secara pribadi datang untuk memberikan mereka uang yang sangat mereka butuhkan.

Dan kasihnya kelihatan dalam ketersediaannya. Kepada siapa Anda benar-benar mengasihi, Anda juga tersedia. Sekarang pada saat kami melihat ayat 7-14, kami akan melihat banyak hal yang berbeda-beda dan banyak wawasan, namun secara garis besar, perhatikanlah ketersediaan Paulus. Ayat 6, “Tetapi sesudah hari raya Roti Tidak Beragi kami berlayar dari Filipi dan empat hari kemudian sampailah kami di Troas dan bertemu dengan mereka. Di situ kami tinggal tujuh hari lamanya.”

Dan alasannya mereka tinggal disana adalah untuk menunggukan kapal yang akan membawa mereka ke Yerusalem. Ayat 7, “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.” Disini terdapat catatan pertama pertemuan orang Kristen.

Jadi kapan mereka bertemu bersama? Pada hari pertama minggu itu yang menjadi waktu pertemuan gereja. “Apakah mereka tidak bertemu setiap hari?” Memang. Dari KPR 2:46, mereka bertemu “tiap-tiap hari di rumah masing-masing.” Dan Kekristenan bukan hal satu hari dalam satu minggu, benar? Orang Kristen itu biasanya bersama selama minggu itu. Jadi sudah lazim gereja itu bertemu setiap hari di tahun mula-mula.

Namun gereja itu menjadi satu pada hari pertama minggu itu, saya lebih suka menyebutnya Hari Tuhan. Di Wahyu 1:10, Yohanes mengatakan, “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh.” Nah pada saat mereka bertemu bersama di Yohanes 20:19 pada hari pertama minggu itu, Yesus menampakkan diri kepada mereka. Ayat 26 mengatakan, “Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka.”

Satu-satunya cara Anda dapat menyembah pada hari Sabtu adalah, nomor satu, dengan mengabaikan sejarah gereja; kedua, dengan mengasumsikan bahwa Perjanjian Lama masih berlaku dimana Anda diselamatkan hanya oleh usahamu sendiri; dan ketiga, dengan menolak ajaran Rasul Paulus. Kolose 2:16-17 mengatakan, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; 17 semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.”

Pada saat hal benar itu muncul, Anda tidak perlu lagi bayangan itu. Hari Tuhan secara sejarah dan secara Alkitabiah menjadi waktunya gereja itu berkumpul. Bahkan di 1 Korintus 16:2, Paulus mengasumsikan hal itu. Dia mengatakan, “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing--sesuai dengan apa yang kamu peroleh--menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah.”

Roma 14:5-6, “Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. 6 Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah.”

Dengan kata lain, selama Anda teliti dan bertanggung jawab, jangan khawatir. Tetapi janganlah melakukan sesuatu yang menyebabkan saudaramu seiman merasa tersinggung. Jika dia masih tersandung, dengan menganggap bahwa hari Sabat itu penting, maka jangan menyinggung perasaannya. Dan itu tertulis bagi orang Yahudi. Allah sangat toleran terhadap waktu mereka beribadah, namun mereka semua menyembah pada Hari Tuhan dan itu menjadi norma.

Pada mulanya mereka bertemu di bait Allah, kemudian setelah itu mereka mulai bertemu di sinagog. Namun akhirnya, itu tidak bekerja baik, jadi mereka mulai keluar dan mendirikan tempat beribadah Kristen mereka sendiri. Dan tempat alami untuk pertama-tama bertemu adalah didalam rumah-rumah. Dan pada akhir abad kedua, mereka mulai membangun gedung gereja mereka sendiri.

Kami memerlukan persekutuan dan kesatuan dalam tubuh gereja. Jadi mereka memecahkan roti. Nah apakah artinya itu? Nah itu mengacu kepada kebiasaan tua orang Palestina. Makan itu secara sah mulai pada saat tuan rumah secara harfiah memecahkan roti. Dan pemecahan roti itu merujuk kepada orang-orang Kristen yang berkumpul bersama dimana mereka melakukan dua hal. Mereka mengadakan perayaan kasih dan ada Perjamuan Kudus.

Pada waktu gereja Katolik berkuasa di dunia sebelum ada Reformasi, perjamuan kudus itu tidak lagi dilakukan sebagai kejadian informal, berbagi makanan bersama untuk memperingatkan Kristus. Itu menjadi upacara imamat yang sekarang dikenal sebagai misa. Perjamuan Kudus adalah sesuatu yang kita harus lakukan lebih sering dari apa yang kita lakukan sekarang. Tempat terbaik adalah mengajarkan anak-anakmu di rumah. Ada yang mengatakan, "Hanya pendeta yang ditahbiskan dapat melakukan itu.” Namun itu tidak ada di dalam Alkitab. Yesus mengatakan, perbuatlah ini sampai saya datang, dan saya akan melakukan itu bersama Anda di kerajaan.

Ayat 8, “Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu.” Orang-orang kafir biasanya mengatakan bahwa pertemuan orang Kristen selalu ditempat gelap dimana mereka melakukan banyak macam kejahatan. Jadi ada banyak lampu disitu, supaya tidak ada orang yang dapat mengritik mereka bertemu di tempat gelap. Dan lampu-lampu itu semua lampu membakar minyak yang dengan asapnya itu menciptakan suasana pengap.

Ayat 9, “Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati.” Ayat 10, “Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: "Jangan ribut, sebab ia masih hidup.” Seorang komentator liberal berkata, ketika Paulus merangkulnya, dia bisa mendengar jantungnya berdetak dan kemudian berkata, “Oh dia baik-baik saja.” Tidak, dokter Lukas menyatakan dia sudah mati. Yang terjadi adalah mujizat kebangkitan.

Paulus merebahkan diri atas anak lelaki itu, Kemudian mujizat terjadi. Semua tulang yang patah dan luka-luka tubuhnya yang menyebabkan dia mati membalikkan dirinya dan dia hidup kembali. Mengapa Allah melakukan itu? Iya, Allah selalu melakukan mujizat untuk menambahkan iman. Mungkin ada orang yang mengatakan, “Siapakah orang ini? Apakah kita dapat percaya semua yang dia ceritakan?” Dan Allah selalu berkarya untuk mengkonfirmasikan guru-guru-Nya di zaman Perjanjian Baru!

Ayat 12 mengatakan, “Sementara itu mereka mengantarkan orang muda itu hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur.” Saya senang sekali melihat kebangkitan di Alkitab. Karena mereka menambahkan jaminan bahwa kebangkitanku juga akan terjadi. Ayat 11, “Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; habis makan masih lama lagi ia berbicara, sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat.”

Ayat 13, “Kami berangkat lebih dahulu ke kapal dan berlayar ke Asos, dengan maksud untuk menjemput Paulus di situ sesuai dengan pesannya, sebab ia sendiri mau berjalan kaki melalui darat.” Paulus itu berjalan. Mengapa? Sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang yang akan ditinggalkan untuk berjalan bersama pada mulanya. Paulus berjalan supaya dia dapat meluangkan waktu lebih banyak dengan mereka. Dia tidak tergesa-gesa, dia tersedia.

Ayat 14-15, “Ketika ia bertemu dengan kami di Asos, kami membawanya ke kapal, lalu melanjutkan pelayaran kami ke Metilene. 15 Dari situ kami terus berlayar dan pada keesokan harinya kami berhadapan dengan pulau Khios. Pada hari berikutnya kami menuju Samos dan sehari kemudian tibalah kami di Miletus.” Angin disitu hanya bertiup dari pagi hari sampai sore hari, jadi setiap empat puluh kilometer mereka berhenti. Karena itu kami diberitakan ada tempat berhenti begitu banyak.

Ayat 16, “Paulus telah memutuskan untuk tidak singgah di Efesus, supaya jangan habis waktunya di Asia. Sebab ia buru-buru, agar jika mungkin, ia telah berada di Yerusalem pada hari raya Pentakosta.” Kapal Miletus ini akan tiba lebih cepat daripada kapal yang berhenti di Efesus. Namun perhatikanlah ayat 17, “Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus.”

Disini dia berhenti di Miletus, dan dia ada beberapa hari sebelum kapal itu berangkat lagi. Apakah yang dia perbuat? Apakah dia beristirahat? Tidak. Ia memanggil para penatua dari Efesus untuk datang supaya ia dapat mengajar mereka lebih lanjut, dan menginstruksikan mereka lebih lagi. Dan menasihati mereka lebih lagi. Orang ini luar biasa dalam komitmennya untuk mengasihi gereja. Dan pada saat para penatua tiba disana, mereka mengembalikan semua kasih yang telah diberikannya kepada mereka. Mereka menuangkan kasih itu ke seluruh tubuhnya.

Bagaimana kita harus benar-benar mengasihi gereja? Bagaimana caranya kami harus memperlihatkan hal itu? Bagaimana caranya Paulus melakukan itu? Nomor satu, dengan penuh kasih. Kedua, kita mengatakan Paulus mengasihi gereja itu diilustrasikan oleh pemberiannya. Dan kita mengatakan Paulus mengasihi gereja dalam pengajarannya. Kemudian Paulus menunjukkan kasihnya dengan ketekunannya. Dan kita juga mengatakan bahwa kasih Paulus terlihat dari ketersediaannya. Dan terakhir, kasih Paulus terlihat dari perhatiannya. Marilah kita semua juga mengikuti teladannya. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu