Oct 01, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Mengasihi orang Kristen
1 Oktober 2017

KPR 20 memberikan kami sebuah wawasan yang menarik ke dalam pelayanan Paulus. Dan sekarang kita bisa melihat kasihnya terhadap jemaat gereja. Paulus mengatakan di Efesus 5:1, “Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita.” Namun itu juga kesaksian Paulus. Yesus memberikan diri-Nya untuk menebus gereja, Paulus memberikan dirinya untuk melayani gereja. Dalam penebusan gereja Yesus mati, dalam pelayanan gereja, Paulus juga mati.

Paulus memiliki keinginan kuat untuk membikin gereja seperti seharusnya. Jadi apapun kehendak Tuhan, itu menjadi kehendak Paulus juga. Tahukah Anda ketika kita jatuh cinta dengan Yesus dalam arti sebenarnya, kita mulai menginginkan apa yang Dia inginkan. 1 Yohanes 5:1 mengatakan, “setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan baru, mengasihi juga dia yang lahir dari pada-Nya.” Mengasihi bersama dengan Kristus mereka yang telah dijadikan-Nya orang percaya adalah kedewasaan rohani.

Dan kita harus belajar untuk menyerahkan kehendak kita kepada-Nya. Di Efesus 3:20 Paulus mengatakan, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Dengan kata lain dia mengatakan kepada semua orang Kristen, kalian harus benar-benar bergerak keluar dengan kuat. Anda harus memenuhi potensi Anda dan Paulus melihat Allah dipermuliakan ketika potensi gereja di maksimalkan.

Paulus hidup dan menderita dan mati untuk mengasihi gereja. Di Kolose 1:24 dia mengatakan, “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” Dengan kata lain, saya menderita di tempat Kristus; saya menerima semua serangan di dunia yang dimaksudkan untuk Yesus dengan rela demi gereja-Nya.

Dan tujuan Paulus adalah untuk menyempurnakan orang-orang kudus, untuk membawa mereka kepada kedewasaan sepenuhnya supaya mereka menghormati Allah dan karena itu Yesus dipuaskan. Jika tujuan pelayanan bukan untuk mengasihi gereja sampai orang-orang kudus memuliakan Allah dalam hidup mereka, maka Anda memiliki tujuan sesat. Jika seorang pria mulai pelayanannya untuk mengasihi egonya sendiri, maka tujuannya salah.

Jika Anda benar-benar mengasihi orang percaya, maka Anda tahu bahwa mereka membutuhkan Anda untuk melayani mereka menjadi dewasa. Pelayanan karunia roh adalah bagi orang lain. Karuniaku hanya efektif jika itu diberikan kepada Anda. Saya peduli bahwa Anda bertumbuh menjadi dewasa dan bahwa Yesus dihormati dalam hidup Anda. Paulus sangat mengasihi gereja untuk mati demi pemberitaan Injil dan pemeliharaan orang kudus.

Sekarang Paulus sedang menjalankan tur misionarisnya yang ketiga. Dia berada di wilayah Mediterania timur yang umumnya sama dengan yang sebelumnya dikunjungi. Dan dia pergi melangkah lebih jauh ke barat ke Asia Kecil dan ke Makedonia, kemudian ke Akhaya dimana letaknya Korintus. Dia mendirikan gereja-gereja di semua tempat. Dan pada saat ini dia bersama teman-temannya selama hampir tiga tahun. Namun ini semua akan berhenti karena dia meninggalkan Efesus.

Paulus kembali ke Yerusalem kemudian dari sana dia ingin pergi ke Roma dan dari sana ke Spanyol. Jadi ada perasaan di dalam bagian firman ini bahwa ini semua akan berakhir. Dan Anda dapat merasakan ketika datang pamitan bahwa ada kasih yang muncul. Jadi kita akan melihat serangkaian acara perpisahan sepanjang KPR 20 saat Paulus kembali ke Yerusalem.

Nah ketika kita memperhatikan 17 ayat ini, kita melihat disini enam hal yang berbeda yang mengekspresikan kasih Paulus: kasihnya, pemberiannya, ajarannya, ketekunannya, ketersediaannya dan perhatiannya. Kita melihat minggu lalu bahwa kasih Paulus terungkap dalam kasih sayangnya. Ayat 1, “Setelah reda keributan itu (kerusuhan di Efesus), Paulus memanggil murid-murid dan merangkul (menguatkan hati) mereka.” Tetapi kebiasaan lazim adalah pelukan dan ciuman di pipi.

Sekarang kita melihat orang saling merangkul, sesudah itu selesai. Namun di waktu dulu ada waktu untuk berbicara sama orang dan ada persekutuan. Dan di KPR 20:37 dikatakan, “Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia.” Ada sesuatu tentang Paulus yang disayanginya dan orang-orang bisa menyentuhnya dengan sayang, memeluknya dan menciumnya.

Haruslah ada perasaan kasih sayang seperti itu terhadap setiap pribadi Allah. Haruslah ada kasih macam itu di dalam rumahmu terhadap semua anak-anakmu. Adalah baik bagi mereka untuk bisa menunjukkan kasih sayang mereka. Saat anak-anak bertumbuh di dalam rumah dimana tidak ada orang tua, anak itu tidak tahu arti kasih sayang fisik. Lima kali di dalam Perjanjian Baru gereja itu memerintahkan kita untuk menunjukkan kasih sayang secara fisik. Sangat penting bagi kita untuk menunjukkan kasih kita.

Kedua, kasih Paulus ditunjukkan dengan pemberiannya. Dia pergi kemana-mana untuk mengumpulkan persembahan bagi orang-orang kudus miskin di Yerusalem; ayat 2 mengatakan, “Ia menjelajah daerah itu dan dengan banyak nasihat menguatkan hati saudara-saudara di situ. Lalu tibalah ia di tanah Yunani.” Bayangkan itu makan waktu hampir satu tahun untuk mengumpulkan semua itu.

Kita bisa tahu betapa besar kasihnya dengan pengorbanannya. Paulus selama sebagian besar pelayanannya bekerja untuk hidupnya sendiri dengan membuat tenda dan bekerja dengan kulit. Dan dia tidak minta apapun waktu dia sibuk memenuhi kebutuhan orang-orang lain. Dia orang yang tidak mementingkan diri dan selalu memberi. Apakah sebaliknya dari kasih? Selalu mementingkan diri.

Nah prinsip ini diilustrasikan di 1 Yohanes 3:16 ketika di katakan, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Jadi kasih tulen didefinisikan dalam bentuk pengorbanan tertinggi. Dan Yesus adalah standarnya. Perhatikanlah ada kewajiban moral ketika dikatakan, “kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” Itulah pengorbanan kasih tertinggi.

Beberapa orang Kristen bahkan tidak mau memberi waktunya atau uangnya, apalagi hidupnya sendiri. Bahkan banyak orang tidak mau memperhatikan Anda. Nah, tidak banyak dari kita akan dipanggil untuk mengorbankan hidup kita. Tetapi perhatikanlah dia mengatakan “saudara-saudara kita.” Banyak orang prihatin dengan kemanusiaan, tetapi mereka tidak suka orang. Seperti dikakatan CS Lewis, “mengasihi semua orang pada umumnya adalah alasan untuk tidak mengasihi seseorang secara khusus.”

1 Yohanes 3:17 mengatakan, “Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat berdiam di dalam dirinya?” Janganlah mengatakan Anda mengasihi saudara-saudara kecuali Anda memenuhi kebutuhan satu orang itu yang melintasi jalanmu. Pernyataan kasih saja tidak cukup. Ayat 18, “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”

Dapatkah Anda benar-benar mengatakan bahwa Anda mengasihi saudara-saudara, kecuali Anda bersedia untuk memberi pengorbanan finansial? 2 Korintus 8:9 mengatakan, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” Dengan kata lain, jika Anda benar-benar mengasihi seperti Yesus mengasihi, Anda rela membuat diri Anda miskin untuk membuat orang lain kaya.

Ketiga, kita melihat kasihnya di KPR 20, dalam ajarannya. Sangat baik Paulus itu menunjukkan kasih sayangnya secara fisik, dan sangat baik bahwa dia selalu berusaha untuk mencukupkan kebutuhan keuangannya sendiri. Namun yang paling baik adalah bahwa dia memberikan mereka kebenaran spiritual, benar? Itulah yang menyebabkan mereka bertumbuh menjadi apa yang Yesus inginkan. Dia mengasihi mereka dengan banyak nasihat, banyak pengajaran, banyak berkhotbah dan banyak dorongan dan penguatan.

Prinsipnya sederhana: jika Anda benar-benar mengasihi anak-anak, pasti Anda akan mengajarkan mereka. Ketika saya melihat anak nakal, yang tidak diajarkan, yang tidak didisiplin dan memberontak, asumsi saya adalah bahwa orang tuanya tidak mengasihi anak itu. Bisa saja mereka mengatakan mengasihi anak itu, tetapi tindakan mereka menunjukkan sebaliknya. Karena jika mereka mengasihi anak mereka, mereka akan mengajarkan anak itu semua prinsip yang akan membuat hidupnya terpenuhi.

Prinsip yang sama berlaku. Jika Anda benar-benar mengasihi gereja, Anda akan mengajarkan jemaat. Paulus disini menunjukkan kita pelayanan yang penuh kasih. Dia mengajar jemaat tanpa berhenti, tanpa pamrih, bukan oleh keinginan dan pikirannya sendiri, namun oleh karena kebutuhan mereka untuk makanan rohani dari Allah. Di gereja mula-mula, berkhotbah adalah kuncinya untuk segalanya. Dan itu benar bagi gereja kita juga.

Ketika Paulus menulis ke Timotius, dia mengatakan di 1 Timotius 4:13, “Sementara itu, sampai aku datang bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci, dalam membangun dan dalam mengajar.” Lakukanlah tiga hal, bacalah teksnya, applikasikanlah teks itu dan ajarlah teks itu. 2 Timotius 4:2 mengatakan, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.” Itulah berkhotbah ekspositori.

Kemudian dia berkata, ingatlah harinya akan datang dimana mereka tidak mau mendengar. Dan kita hidup di dalam zaman itu. Salah satu alasan adalah tidak ada kepercayaan kepada otoritas Alkitab. Hal kedua adalah teologi liberal. Ada banyak orang yang berkhotbah untuk memakai penggunaan pikiran manusia sebagai otoritas terakhir. Mereka memperlakukan ilmu alam sebagai yang mahatahu dan Alkitab sebagai palsu. Dan ini menghancurkan tanggapan positif terhadap berkhotbah.

Ketiga, gereja telah diserbu oleh media, materi dan musik. Berbagai macam film dan musikal dan berbagai macam media baru memang baik. Namun itu semua tidak dapat menggantikan ajaran Firman Allah. Dan di dalam beberapa gereja musik itu begitu banyak sehingga itu mengurangi fokus khotbah. Masalah gereja sebenarnya bukan kehadiran sedikit orang, masalahnya adalah malnutrisi spiritual.

Ada juga beberapa gereja yang mementingkan pendeta bukan sebagai pengkhotbah, namun sebagai seorang konselor dan pekerja sosial. Jika prinsip-prinsip Allah tidak dipentingkan untuk kesehatan spiritual dan mental, bagaimana kita dapat menyenangkan Allah? Ini menyebabkan pemberitaan Injil itu menurun karena sekarang gereja dianggap menjadi organisasi komunitas daripada pelayanan pengajaran. Allah ingin gereja itu adalah tempat dimana orang dapat dilayani.

Keempat, kita melihat kasih Paulus dalam ketekunannya. Ayat 3, “Sesudah tiga bulan lamanya tinggal di situ ia hendak berlayar ke Siria. Tetapi pada waktu itu orang-orang Yahudi bermaksud membunuh dia. Karena itu ia memutuskan untuk kembali melalui Makedonia.” Paulus ada di Yunani yang sebenarnya adalah di kota Korintus. Ingatlah dia menulis buku Roma disitu. Dan dia merencanakan untuk naik ke kapal peziarah di Kenkrea untuk pergi ke Yerusalem, namun orang-orang Yahudi bermaksud membunuhnya.

Nah ketahuan komplotan itu. Bahkan di ayat 23 dia mengaku bahwa Roh Kudus telah menyatakan kepadanya bahwa di setiap kota hanya penjara dan sengsara menunggukannya. Namun Paulus benar-benar bertekun, dia percaya Allah. Jadi ketika dia mendengar tentang hal itu dia hanya mengubah rutenya untuk kembali melalui Makedonia. Dia akan mengambil uang itu untuk orang kudus di Yerusalem meskipun itu mungkin tindakan terakhir di dalam hidupnya.

Bahkan dia mengatakan di Roma 15:30-31, “Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku, 31 supaya aku terpelihara dari orang-orang yang tidak taat di Yudea, dan supaya pelayananku untuk Yerusalem disambut dengan baik oleh orang-orang kudus di sana.”

Kasih itu bertekun. Nah, jika Anda benar-benar mengasihi Tuhan Yesus, Anda akan mengasihi gereja melawan semua kemungkinan, Anda akan meneruskan pelayanan melawan keputusasaan, melawan penganiayaan, dan melawan berbagai macam konfrontasi. Dia sekali lagi menempuh perjalanan panjang ini, ini adalah orang yang letih lesu. Namun dia tidak akan menyetujui ada perubahan dalam rencananya, karena dia percaya Allah berada di dalamnya.

Ayat 4-5, “Ia disertai oleh Sopater anak Pirus, dari Berea, dan Aristarkhus dan Sekundus, keduanya dari Tesalonika, dan Gayus dari Derbe, dan Timotius dan dua orang dari Asia, yaitu Tikhikus dan Trofimus. 5 Mereka itu berangkat lebih dahulu dan menantikan kami di Troas.” Perhatikanlah kata kecil “kami”. Lukas, si penulis, sudah kembali. Paulus telah meninggalkan Lukas di Filipi, dan sekarang dia kembali melalui Filipi lagi, menjemputnya jadi pembicaraan itu menjadi tentang kami.

Sopater, Aristakhus dan Sekundus berasal dari gereja-gereja Makedonia. Gayus dan Timotius dari gereja-gereja Galatia. Tikhikus dan Trofimus yang juga disebut di tempat lain adalah dari gereja-gereja Asia Kecil. Dan 2 Korintus 8 mengatakan, “Titus dari Akhaya.” Jadi mereka ini semua dari gereja-gereja dari wilayah berbeda-beda dengan uang untuk diberikan kepada orang kudus di Yerusalem sebagai tanda kasih.

Ayat 6, “Tetapi sesudah hari raya Roti Tidak Beragi kami berlayar dari Filipi dan empat hari kemudian sampailah kami di Troas dan bertemu dengan mereka. Di situ kami tinggal tujuh hari lamanya.” Tadinya dia ingin datang ke Yerusalem untuk perayaan Pelewatan, namun karena ada komplotan, dia tidak sanggup melakukan itu, Jadi sekarang dia berharap sampai pada hari Pentakosta yang adalah 50 hari sesudah Pelewatan. Kita tidak bisa mengontrol rencana kita, namun Allah selalu tahu apa yang terbaik.

Dan terakhir, Paulus mengasihi gereja karena ketersediaannya. Ayat 7, “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.” Dia tahu dia harus berangkat hari berikutnya. Setelah mereka istirahat sebentar, dia kembali dan ayat 11 mengatakan, “Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; habis makan masih lama lagi ia berbicara, sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat.”

Lihatlah ayat 7 lagi, “Pada hari pertama dalam minggu itu.” Disini terdapat pernyataan langsung pertama waktu gereja bertemu. Di Galatia 4:10-11, Paulus mengatakan, “Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, dan bulan-bulan yang tetap. 11 Aku kuatir kalau susah payahku untuk kamu telah sia-sia.” Bagian menyembah pada hari Sabtu itu sudah hilang.

Kolose 2:16-17, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; 17 semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, wujudnya ialah Kristus.” Gereja mula-mula bertemu pada hari Tuhan dan kita juga melakukan hal itu. Moga-moga kita juga, apapun karunia roh kita, juga mengasihi orang kudus lain sehingga kita mengukur kasih itu dengan memberikan diri kita secara berkorban, Amin? Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu