Aug 20, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Diselamatkan dari Keputusasaan
20 Agustus 2017

Tahun ini kita mengingatkan bahwa percis 500 tahun yang lalu di bulan Oktober 1517 Reformasi Protestan dimulai. Ada pemisahan dari Gereja Roma Katolik yang dimulai oleh Martin Luther dan diteruskan oleh John Calvin dan orang-orang lain. Selama reformasi Martin Luther ditempatkan di dalam kastil untuk perlindungannya sendiri. Itu masa sulit di dalam kehidupannya karena ada berbagai hal yang terjadi yang menakutkannya.

Luther mengerti kehidupannya berdasarkan Mazmur 46, “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan dan benteng kita.” Dia menulis hymne, “Allah kita benteng yang kuat” sebagai semacam hymne khusus bagi Reformasi. Luther menulis ratusan hymne namun yang satu ini bertahan karena keagungannya dan pesannya, itu kuat, mendalam dan memuliakan Allah.

Di bulan Juli di tahun 1505, Luther, mahasiswa universitas yang berumur duapuluh satu sedang berjalan di kota Sutterheim, Jerman ketika dia terkena badai petir. Dia disambar petir dan dia berteriak dalam ketakutannya, “Santa Ana, selamatkanlah aku dan saya akan menjadi seorang biarawan.” Memang menarik bahwa orang yang memanggil santa untuk menyelamatkannya pada akhirnya menolak gagasan bahwa kita harus berdoa kepada orang kudus. Dan pria ini yang menjadi biarawan pada akhirnya meninggalkan sumpah kerahiban dan monastisitasnya dan berubah menjadi salah satu orang yang terkenal di dalam seluruh sejarah.

Lebih banyak buku ditulis tentang dia daripada semua orang lain yang pernah hidup kecuali tentang kehidupan Yesus Kristus dan rasul Paulus. Saya punya teman Katolik yang mengatakan Martin Luther adalah seorang pengkhianat yang banyak kekurangannya dan dia mulai apa yang dinamakan Reformasi Protestan karena beberapa keluhan pribadi saja. Jika Anda ingin mencari orang yang banyak kekurangannya, memang itu Luther. Saya benar-benar tidak setuju dengan semua yang diajarkan, atau dikatakan atau dilakukan Luther.

Namun pada saat yang sama entah Anda orang Katolik atau Protestan atau agama apapun, Anda dan saya perlu menghargai pergumulan Martin Luther dan bagaimana itu pada akhirnya diselesaikan. Luther bergumul dengan depresi atau rasa bersalah atau rasa keterasingan dari Allah, keterputusasaan dan kegelisahan semangat. Orang sering memanggil hal itu keputusasaan eksistensial.

Dia menanyakan dirinya bagaimana dia dapat menyenangkan Allah yang Mahakuasa. Jadi untuk memenuhi sumpahnya ketika ada badai petir, dia masuk ke dalam biara Agustinus di Erferdt, Jerman. Dan disitu ada gereja disebelahnya yang indah dengan jendela-jendela indah. Dan di gereja itu disamping biara itu, Luther meniarapkan diri diatas sebuah lempengan batu. Dan disitu dia bersumpah untuk tetap bujangan, memelihara kemiskinan dan ketaatan.

Luther merasa diteror oleh Allah. Dia memandang Allah sebagai mahasuci, tidak seperti kita memandang Allah. Jadi pada saat dia melakukan misa pertamanya, dia bergemetar dan berkata kemudian, “Saya benar-benar ketakutan, saya memikir, dengan cara apa saya harus menyapa sang Mulia karena semua orang pasti gemetar bahkan pada saat berhadapan dengan seorang pangeran duniawipun. Siapakah aku untuk dapat menegadah atau angkat tangan kepada keagungan ilahi? Aku hanya debu dan abu, penuh dosa, dan aku berbicara dengan Allah yang hidup dan benar.”

Luther memakai semua hal yang disediakan dalam biara itu seperti fasilitas gereja. Sekarang kami tidak diperbolehkan untuk melihat tempat dimana Luther tinggal, memang itu kamar tetapi sebenarnya itu lebih seperti sel penjara, dimana Anda bisa melihatnya melalui sebuah kisi. Lantai, dinding dan plafon semua adalah batu kokoh. Luther sendiri tidur tanpa selimut untuk mematikan keinginan daging. Dia kadang berpuasa begitu lama sehinga orang berpikir dia akan mati.

Dia mengemis untuk makanannya supaya merendahkan dirinya. Dan pada zaman itu orang-orang benar percaya bahwa kita harus menjadi sempurna untuk masuk kedalam surga. Namun bagaimana orang bisa mendapatkan kesempurnaan seperti itu? Apakah yang harus kami lakukan untuk memuaskan Allah yang Mahakuasa itu? Orang percaya bahwa di dalam biara Anda mendapatkan sesuatu pertimbangan khusus. Namun Luther tidak merasa damai karena dia tidak pernah tahu apakah perbuatannya sudah cukup.

Pada masa itu orang-orang percaya bahwa ada dua jenis orang Kristen. Ada orang-orang kudus (santa) yang masuk ke surga langsung setelah kematian dan ada orang biasa yang meninggal dengan terlalu banyak dosa untuk langsung masuk ke surga. Orang Katolik masih percaya ada tempat penyucian, yaitu tempat dimana seseorang pada akhirnya cukup dibersihkan untuk masuk ke surga. Namun tidak ada yang tahu betapa lamanya waktu di tempat penyucian itu dan betapa besar proses penyiksaan itu.

Luther menggunakan sakramen gereja. Penghiburan khusus baginya adalah pengakuan dosa. Terkadang dia mulai dengan menguraikan tujuh dosa mematikan dan Sepuluh Perintah kemudian setelah itu dia baru mulai, pernah sampai tujuh jam lamanya. Kemudian Luther mengatakan kepada romo itu, saya berpikir kami harus bertemu lagi karena saya lupa sesuatu. Pastor itu begitu jengkel sehingga ia berkata, jika Anda mengaku dosamu, biarlah itu untuk dosa-dosa besar seperti pembunuhan, perzinahan atau penghujatan, tetapi jangan untuk semua dosa-dosa kecil seperti itu.

Luther adalah seorang teolog yang lebih baik daripada orang sezamanya karena dia menyadari bahwa masalahnya bukan dosa itu besar atau kecil. Masalah sebenarnya adalah apakah dosa itu dimaafkan atau tidak. Karena Luther mengerti, apa yang tidak dimengerti banyak orang Kristen sekarang, bahwa dosa kecilpun dapat mengusir Anda dari hadirat Allah untuk selamanya dan Luther mengerti hal itu. Pertanyaannnya adalah bagaimana harus kami lakukan itu?

Namun dia mencapai jalan buntu, dosa-dosa supaya dapat diampuni harus diingati. Jika mereka tidak diingati, mereka tidak dapat diakui dan karena itu tidak dapat diampuni. Jadi bisakah dia mempercayai ingatannya sendiri? Namun masalahnya lebih mendalam daripada itu. Bagaimana seandainya dia melakukan sesuatu yang dianggap dosa oleh Allah namun dia sendiri tidak mengerti itu dosa? Jadi pada saat dia melihat hatinya sendiri, dia menyadari bahwa masalahnya jauh lebih besar daripada itu.

Dia menyadari bahwa seluruh sifatnya korup dan dia adalah seorang pendosa meskipun dia mengingat semua dosa-dosanya, dan meskipun dia mengaku semua dosa-dosanya. Besok adalah hari lain, dan besok dipenuhi lagi dengan pengakuan dosa karena lebih banyak dosa akan dilakukan. Jadi situasinya adalah mungkin seperti mengeringkan lantai sambil kran menumpahkan air terus-menerus.

Jadi kapan semua ini berakhir dan kapan saya ada jaminan bahwa saya telah melakukan cukup banyak untuk Allah? Luther merasa putus asa. Nah di tahun 1511, dia dipindahkan ke Wittenberg dimana ada universitas baru, jadi dia kesana untuk mengajar filsafat. Dan kalau masuk ke universitas itu, melewati pintu, kelihatan ada halaman. Disitulah dia bertemu dengan pastor pengakuan dosa pada suatu hari dan dia mengatakan, mengapa Anda tidak mengajarkan Alkitab sebagai gantinya?

Jadi Luther mulai mengajar Firman Allah, dan pada saat itu dia mulai ada pengertian. Jadi dia mulai mengajar dari buku Mazmur. Kemudian dia datang kepada Mazmur 22:1, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku? Dan Luther berpikir, mengapa Yesus sendiri dapat mengalami keterasingan itu? Mengapa Yesus harus mengalami ini? Dia mengalami apa yang saya alami juga. Jadi dia mulai mengerti bahwa Yesus menderita semua itu bagi kita.

Dan pada saat dia mengajar mengenai Roma, dia melihat Roma 1:17 yang mengatakan, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman." Luther bergemetar saat dia membaca kebenaran Allah. Lihatlah Roma 1:18, “Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.”

Pada mulanya Luther memikir dia memiliki kesempatan yang lebih baik untuk memenuhi persyaratan Allah jika Dia tidak benar secara sempurna. Namun bagaimana Anda bisa mencapai tuntutan Allah yang memiliki kebenaran sebagai salah satu atribut-Nya? Jadi Luther bergumul dengan hal itu kemudian dia membaca Roma 3:23-24, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, 24 dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.” Kami dibenarkan tanpa biaya oleh anugerah.

Dan di Roma 4:3 dikatakan, “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Jadi Luther merenungkan ini siang dan malam dan akhirnya dia melihat hubungan antara kebenaran Allah, yang membuatnya sangat takut, dan pernyataan “orang benar akan hidup oleh iman.” Ketika Luther mengerti apa yang dikatakan Allah, dia merasa dirinya lahir baru dan dia sekarang dapat masuk ke pintu gerbang surga.

Luther menemukan apa yang telah hilang selama tradisi berabad-abad, bahwa kita diselamatkan oleh kebenaran dari orang lain, yaitu Jesus Kristus. Jadi orang lain memberikan kami kebenaran yang kita tidak miliki. Dan itu diterima oleh iman. Yang dia belajar adalah bahwa ada sifat Allah yang dinamakan kebenaran, namun ada juga ada karunia kebenaran yang Allah berikan secara bebas kepada mereka yang percaya Injil. Tak heran Luther merasa seolah-olah dia masuk pintu gerbang surga. Pencariannya sudah selesai.

Sementara itu ada seorang Paus bernama Leo, yang memerlukan uang. Pembangunan Basilika Santa Petrus, yang dianggap salah satu tempat paling suci, yang terletak di kota Vatican, dimulai di tahun 1506 dan masih belum selesai. Jadi Paus Leo memutuskan untuk menerbitkan proklamasi indulgensi baru. Nah indulgensi itu telah dijual berabad-abad dan itu adalah bayaran dalam bentuk pekerjaan atau uang yang dapat mengurangi jangka waktu Anda mengalami di tempat penyucian itu karena konsekuensi dosa sementara.

Penekanannya adalah pada kata “sementara”, contoh: indulgensi tidak akan menghindari orang dari neraka karena itu adalah konsekuensi abadi. Tetapi indulgensi akan menolong dalam mempersingkat waktumu di tempat penyucian itu. Namun sekarang indulgensi itu dijual dengan cara baru. Anda bukan saja dapat membeli indulgensi untuk Anda dan keluarga Anda, namun sekarang Anda juga dapat membelinya untuk mereka yang sudah mati dan sekarang ada di dalam tempat penyucian itu.

Diseberang sungai dari Wittenberg ada orang bernama Tetzel yang menjual indulgensi itu. Dan dia berkata kepada orang-orang, “Dengarkanlah ibumu yang ada di purgatory itu yang mengatakan sekarang, tolong berikanlah uang itu supaya saya keluar dari siksaan api ini.” Jadi orang-orang membayar banyak untuk membeli indulgensi ini. Dan orang-orang dari Wittenberg datang ke Tetzel dan setelah itu memberi tahu Luther bahwa mereka telah membeli indulgensi untuk dosa-dosa yang belum dilakukan, tetapi yang mereka ingin melakukan.

Ketika Luther mendengar itu dia sangat marah. Pada saat itu dia belum melawan indulgensi itu tetapi dia menentang penyalahgunaan itu. Dalam kemarahannya Luther berjalan satu kilometer dari Universitas ke gereja kastil di Wittenberg, ke dalam tempat ibadah yang indah itu. Dan dia sebenarnya membawa 95 tesis yang dia tulis dan dia mencantumkan tesis itu di pintu gereja di Wittenberg pada tanggal 31 Oktober, 1517.

Tesis asli itu ditulis dalam bahasa Latin, bahkan sekarang di pintu logam tertulis semua itu dalam bahasa Latin. Dan itu diterjemahkan dalam bahasa Jerman dan disebarkan di seluruh negeri Jerman. Dia menentang semua penyalahgunaan gereja. Dan akibat itu Martin Luther menjadi terkenal. Dan ini menjadi rangkaian peristiwa yang akhirnya menghasilkan apa yang disebut sekarang Reformasi Protestan.

Nah, pesan sebenarnya dari Reformasi adalah ketika Yesus mati di kayu salib, “Dia yang tidak mengenal dosa dibuat-Nya menjadi dosa karena kita (2 Korintus 5:12). Jadi ada dua transaksi yang terjadi di kayu salib. Transaksi pertama adalah bahwa dosa kita dikreditkan kepada Kristus. Dan sudah terang bahwa Yesus sendiri tanpa dosa. Jadi dosa-dosa kita menyebabkan Dia bersalah secara hukum atas segala dosa-dosa kami yang jahat.

Transaksi lain adalah bahwa kebenaran-Nya dihubungkan dengan kami, itu diberi kepada kita sebagai hadiah gratis. Kita sekarang menjadi kebenaran Allah di dalam Kristus. Jadi Yesus memperoleh apa yang tidak pantas Dia dapatkan, yaitu dosa-dosa kami, dan kita memperoleh apa yang tidak pantas kita dapatkan, yaitu kebenaran-Nya. Kita menerima kebenaran-Nya oleh iman. Dan kita diselamatkan oleh jasa-Nya sepenuhnya dan bukan karena apa yang kita miliki.

Kebenaran ini memiliki beberapa sifat. Pertama, hadiah ini gratis. Roma 6:23 mengatakan, “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Pikirkanlah, ini harus bebas, Coba bayangkan kita sebagai orang berdosa harus membayar untuk masuk ke surga? Dan memberikan Allah sesuatu sebagai pengganti kebenaran-Nya? Kita belajar dari Roma bahwa kami tercemar, bahkan karya kami yang terbaikpun tercemar.

Jadi jika kita akan menerima kebenaran, itu harus datang dari Allah, yang tidak tercemar dosa kita dan itu harus diberikan kepada kita sebagai hadiah. Luther mengatakan bahwa kita ini seperti tanah kering, kita tidak bisa memaksa hujan datang, namun ketika air hujan itu jatuh, itu adalah hadiah gratis dari atas. Jadi masalahnya bukan besarnya dosa kita, Allah sanggup menyelamatkan siapapun juga selama mereka percaya Yesus Kristus.

Bukan saja ini hadiah bebas, namun itu diberikan sama rata kepada semua orang yang percaya. Roma 3:22 mengatakan, “kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya.” Hanya ada satu jenis kebenaran yang sempurna, yang tidak dapat diperbaiki. Jadi tidak ada perbedaan diantara orang “kudus” yang menurut orang Katolik memiliki lebih banyak kebenaran untuk masuk ke surga daripada orang biasa yang percaya. Jadi Luther menolak “tempat penyucian”itu karena itu berdasarkan kepercayaan bahwa orang kudus memiliki lebih banyak kebenaran daripada yang lain.

Ini membawa kita kepada imamat orang percaya. Di tahun 1521 pada Hari Natal, sesuatu yang baru terjadi di gereja. Pertama semua liturgi ada di dalam bahasa Jerman daripada bahasa Latin. Untuk pertama kalinya mereka mendengar sesuatu yang mereka dapat mengerti. Dan untuk pertama kalinya mereka dapat mengikuti bersama Perjamuan Kudus. 1 Petrus 2:9 mengatakan, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.” Sekarang semua orang percaya, bukan saja pastor atau imam, memiliki akses yang sama kepada Tuhan.

Luther bersembunyi di sebuah kastil selama 10 bulan karena orang Katolik telah menetapkan harga uang untuk kepalanya, dan disitu dia menterjemahkan Alkitab itu ke dalam bahasa Jerman. Dia melakukan seluruh Perjanjian Baru dalam waktu 20 minggu. Akhirnya dia menterjemahkan Perjanjian Lama dan itu butuh waktu bertahun-tahun. Dia ingin supaya orang biasa dapat membaca Alkitab. Lihatlah impak itu, berabad-abad kemudian orang-orang dapat membacakan Alkitab itu kepada anak-anak mereka.

Dan terakhir, kebenaran Allah diberikan kepada kami secara permanen. Kapan Luther sebenarnya diselamatkan? Yesus mengatakan kita harus lahir baru untuk masuk kedalam Kerajaan Allah. Apakah itu terjadi waktu dia dibaptis? Tidak, pembaptisan tidak menyelamatkan. Apakah itu terjadi waktu dia mengaku dosa-dosanya? Tidak. Sebagai orang Kristen kita harus mengaku dosa-dosa kita, namun itu tidak menyebabkan kita menjadi orang Kristen. Kita memerlukan satu perbuatan yang secara permanen menyelesaikan hubungan kita dengan Allah.

Ketika kita lahir baru, kita menjadi anggota keluarga Allah. Ibrani 10:11-14 mengatakan, “Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa. 12 Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah, 13 dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya. 14 Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.”

Pengorbanan tunggal itu sudah cukup dan ketika Amda percaya Yesus, semua dosa-dosa masa lalu, sekarang dan masa depan diampuni. Kematian Yesus di kayu salib begitu diterima Allah, sehingga jika Anda percaya Dia, Anda menjadi anak Allah untuk selama-lamanya. Nah dalam konteks ini, pengakuan dosa sangat penting karena itu menjaga hubungan pribadi kita dengan Allah. Status kita terjamin namun kita harus memelihara hubungan berkat dengan Allah itu.

Itu tidak berarti bahwa Anda sekarang dapat berbuat dosa tanpa ada hukuman. Jika Anda benar-benar percaya dan Allah telah memberikan Anda hati yang baru, maka Anda secara otomatis tidak akan memikir seperti itu. Anda ingin melayani Allah sebaik kemampuan Anda. Dan itu bebas jika kita percaya di dalam Kristus saja, bukan dalam Kristus ditambah usaha kita, bukan di dalam Kristus ditambah apapun juga. Perbuatan baik mengalir dari hubungan kita dengan Kristus, namun bukan itu alasan untuk diselamatkan. Jasa Yesus saja adalah lengkap dan total.

Apakah Anda rela untuk menerima Dia ke dalam hatimu dan menerima-Nya sebagai Tuhan dan raja hidupmu sama seperti Luther melakukan 500 tahun yang lalu? Jika Anda siap, berdoalah di dalam hatimu bersama saya, karena ini adalah hanya diantara Anda dan Allah, “Allah Bapa yang Mahakuasa, datanglah kedalam hatiku dan ampunilah dosa-dosaku. Saya tahu saya orang berdosa. Saya ingin Engkau membersihkan aku dan saya tahu Engkau mati bagi saya dan Engkau telah membayar hukuman saya, terimakasih atas anugerah-Mu Tuhan Yesus. Amin”

Jika Anda berdoa itu dengan tulus hati, Allah mengatakan bahwa Anda telah berubah dari kegelapan menjadi terang. Roma 10:9 mengatakan, “jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Puji Tuhan.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu