Jun 25, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Persekutuan dengan Allah
25 Juni 2017

Sekarang di KPR 18, rasul Paulus sedang dalam perjalanan misi kedua di kota Korintus. Dan kota itu adalah pusat percabulan dunia pada saat itu. Nah, kita mempelajari minggu lalu bahwa Paulus menghadapi masalah seperti itu di kota itu, namun dia sendiri mengalami masalah di dalam hidupnya. Dia merasa kecil hati, lelah dan letih.

Korintus adalah kota dosa, dengan penyelewengan di setiap tingkat. Roma 1:24-32 adalah katalog aktivitas orang-orang Korintus. Roma 1:24 mengatakan, “Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.” Ini bukan saja menggambarkan aktivitas pribadi orang, melainkan juga hubungan seksual dengan binatang.

Ayat 25-27, “Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. 26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. 27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.”

Ayat 28-31, “Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: 29 penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. 30 Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, 31 tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.”

Dan disini Paulus sendirian di tempat ini dan dia merasa agak takut dan ragu-ragu dan terbeban dengan korupsi disitu. Namun di 2 Korintus 12:10 dia katakan, “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” Dan sebelum itu di ayat 9 dia berkata, “justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Tahukah Anda betapa besar korupsi itu di dalam gereja? Paulus melayani di dalam gereja itu mungkin sepanjang dua tahun. Namun apa yang terjadi di dalam gereja itu? Pada waktu dia menulis 1 Korintus, mereka sudah rusak melampaui deskripsi. Ini menunjukkan bahwa intensitas pengaruh korupsi di Korintus tak tertahan. Lihatlah 1 Korintus 5 untuk lihat pengaruh terhadap gereja. Dan itu sama dengan keadaan kota-kota disini sekarang.

Masyarakat memiliki efek besar terhadap gereja. 1 Korintus 5:1 mengatakan, “Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya.” Semua orang telah membicarakan dosa seksual itu.

Dan lebih buruk lagi di ayat 2, “Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu?” Kemudian Paulus mengatakan, “keluarkanlah orang itu, Tidak tahukah kalian bahwa satu apel busuk merusak seluruh tong? Ayat 5, “orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.”

Lihatlah ayat 9, “Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul.” Saudara kekasih, pilihlah temanmu dengan bijak. Ayat 11, “Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.”

1 Korintus 6:9-10 mengatakan, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, 10 pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” Dengarkanlah ayat 11, “Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu.” Ini adalah penampang khas budaya Korintus.

Dengarkanlah 1 Korintus 7:2, “Tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri.” Mereka hanya main seks saja dan mereka tidak tertarik untuk menikah, sama seperti apa yang terjadi sekarang ini. Orang muda mengatakan, “Saya tahu kami memiliki hubungan seksual dan kami belum menikah, namun kami saling mengasihi.” Tetapi di Alkitab itu tetap disebut perbuatan zinah.

Nah Paulus tiba di Atena sendirian, dan dia memiliki musuh yang kuat. Sebelum dia dapat melakukan sesuatu, Allah perlu menguatkannya. Ketika Yesus memberitakan murid-murid-Nya bahwa Dia akan pergi, Dia langsung tahu reaksi mereka, dan Dia mengatakan kepada mereka, “Janganlah gelisah hatimu.” Yesus itu peka terhadap kenyamanan orang-orang kudus. Allah itu Tuhan penyayang.

Memang ada saat yang mengecilkan hati, tapi Anda belajar pada masa itu, dan Anda hanya menunggukan Allah pemberi semangat. Yesaya dan Yeremia adalah dua nabi Perjanjian Lama yang patah hati lebih dari semua orang lain. Allah mengatakan kepada kedua nabi, “Saya ingin supaya Anda menjadi nabi-Ku sepanjang hidupmu, namun tidak seorangpun akan mendengar apapun yang Anda berkata.” Nah itu panggilan sulit, namun mereka tetap setia saat mereka melayani seluruhnya tanpa ada tanggapan kecuali permusuhan.

Yeremia menulis buku tentang tangisannya, yang dinamakan Ratapan. Dia dinamakan nabi yang menangis. Dan dia menangis dari permulaan sampai akhir tentang Israel. Mereka tidak pernah mendengarkannya, dan dia tahu bahwa penawanan itu akan datang dan mereka tetap tidak mendengar. Ratapan 3:15, “Ia mengenyangkan aku dengan kepahitan, memberi aku minum ipuh.” Saya telah kehilangan damai. Aku sudah lupa apa yang dulu saat-saat bahagia.

Nama-nama Allah banyak di Alkitab namun salah satu favoritku adalah ini, Allah semua kenyamanan. Itulah namanya: belas kasihan, penghiburan dan penguatan. Tunggulah Dia dan lihatlah. Jadi ada empat cara yang dipakai Allah untuk menghibur Paulus: persahabatan, kerasulan, persekutuan dan kesulitan. Kami minggu lalu membicarakan persahabatan, teman-temannya. Akwila dari Pontus dan isterinya bernama Priskila yang datang dari Roma.

Jadi mereka pindah ke Korintus. Mereka sedang melakukan pekerjaan mereka disana, dan Rasul Paulus datang kepada mereka. Ayat 3 mengatakan karena perdagangan mereka itu sama. Jadi Allah punya dua orang pilihan yang menunggunya. Dia menemukan rumah untuk ditinggali. Dia menemukan teman-teman kekasih, orang-orang kudus Kristen, yang memberi makanan, yang menghargainya, yang memberi semangant kepadanya dan yang bersekutu bersamanya.

Paulus bekerja untuk nafkah, dia perlu bekerja. 2 Tesalonika 3:10 mengatakan, “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Paulus bekerja karena dia tidak mau orang-orang yang belum mengenal Allah memikir bahwa Kekristenan adalah suatu usaha komersial. Di 1 Tesalonika 2:9 dia mengatakan, “Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun juga di antara kamu, kami memberitakan Injil Allah kepada kamu.”

Di 1 Korintus 9:14, Paulus mengatakan, “Demikian pula Tuhan telah menetap-kan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.” Namun itu pasti harus menurut kebijaksanaan jemaat. Pengkhotbah yang memberi label harga pada pelayanan mereka, telah menghilangkan diri mereka dari kebebasan membiarkan Roh Kudus melakukan keinginan-Nya. Jika saya pergi ke suatu tempat dan berbicara dan mereka memberikan saya uang, itu baik. Namun saya tidak pernah menuntut sesuatu, saya hanya ingin melakukan kehendak Roh Kudus.

Dan Paulus bekerja sepanjang minggu dan kemudian berkhotbah pada hari Sabat. Pertama Allah memberi semangat kepadanya dengan persahabatan. Teman-temannya pada mulanya adalah teman baru, Akwila dan Priskila. Namun kemudian datanglah teman lama. Ayat 5, “Ketika Silas dan Timotius datang dari Makedonia” dan itu menggetarkan hatinya. Dengarkanlah persahabatan itu sangat penting. Kedua dengan kerasulan. Pertama dia diberi semangat dengan teman-temannya, berikutnya dengan orang-orang yang bertobat melalui dia.

Ayat 5 teruskan, “Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, di mana ia memberi kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias.” Sebuah bukti manuskrip kemudian mengatakan bahwa frase “dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman” diterjemahkan lebih baik dengan “mulai mengabdikan dirinya sepenuhnya pada Firman.” Dengan kata lain, ketika Silas membawa uang dari gereja Filipi, Paulus sekarang tidak perlu lagi bikin tenda, jadi dia dapat memusatkan diri sepenuhya kepada khotbahnya.

Paulus bersaksi kepada orang-orang Yahudi bahwa Yesus adalah Mesias. Ayat 6, “Tetapi ketika orang-orang itu memusuhi dia dan menghujat, ia mengebaskan debu dari pakaiannya dan berkata kepada mereka: "Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri; aku bersih, tidak bersalah. Mulai dari sekarang aku akan pergi kepada bangsa-bangsa lain.” Menghujat adalah mengejek pribadi Kristus. Menghujat Roh Kudus di Matius 12 adalah mengaitkan karya Kristus dengan Setan.

Paulus begit marah atas penghujatan itu sampai dia mengatakan kepada orang-orang Yahudi itu, “Aku sudah selesai dengan kalian. Saya sudah menjalankan tanggung jawab saya. Saya telah memberikan Anda kesempatan. Anda menghujat Yesus Kristus. Aku mengibaskan debu dari pakaianku. Darah ada di kepalamu. Saya pergi ke orang-orang yang bukan Yahudi.” Dan kita mendiskusikan bahwa dia langsung keluar dari sinagog itu dan membelakangi Israel. Dan kita tahu bahwa dia pergi ke rumah sebelah.

Ayat 7 mengatakan, “Maka keluarlah ia dari situ, lalu datang ke rumah seorang bernama Titius Yustus, yang beribadah kepada Allah, dan yang rumahnya berdampingan dengan rumah ibadat.” Dia masuk ke rumah itu dan orang itu datang kepada Kristus. Jadi Allah mulai menguatkannya dengan seseorang yang baru bertobat. Ayat 8, “Tetapi Krispus, kepala rumah ibadat itu, menjadi percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya, dan banyak dari orang-orang Korintus, yang mendengarkan pemberitaan Paulus, menjadi percaya dan memberi diri mereka dibaptis.”

Ketiga, Allah menguatkannya dengan persekutuan. Allah datang ke dia secara pribadi, karena ketika orang-orang itu diselamatkan di ayat 8, penganiayaan itu tidak berhenti, benar? Namun penganiayaan itu semakin intensif sepanjang waktu, jadi itu hal yang berat. Jadi Allah mengatakan, “Iya teman-teman itu baik dan orang-orang yang bertobat itu baik juga. Namun sekarang Aku akan turun dan bicara dengan dia secara pribadi.”

Allah menyediakan waktu–waktu tertentu untuk campur tangan. Paling sedikit lima kali di Kisah Para Rasul ketika Paulus diperhadapkan dengan krisis dan tidak ada jalan keluar dan tidak ada arah yang jelas, Allah sendiri ikut campur. Jadi sekarang datanglah Allah. Ayat 9, “Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!” Paulus jangan berhenti berkhotbah. Nah ini menyiratkan bahwa Paulus berkhotbah semakin tentatif.

Ayat 10, “Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini.” Kita, sebagai orang Kristen, diberikan janji yang sama. Yesus di Matius 28:20 mengatakan, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Nama Yesus di Matius 1:23 adalah “Imanuel," yang berarti: “Allah menyertai kita.” Yesaya 41:10 mengatakan, “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan menopang engkau dengan tangan kanan-Ku.”

Kedua Allah mengatakan, “Jangan berhenti, tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau.” Allah mengatakan hal yang sama di Yesaya 54:17, “Setiap senjata yang ditempa terhadap engkau tidak akan berhasil, dan setiap orang yang melontarkan tuduhan melawan engkau, akan engkau buktikan salah. Inilah yang menjadi warisan hamba-hamba Tuhan dan kebenaran yang mereka terima datang dari pada-Ku,” demikianlah firman Tuhan.

Apakah artinya ayat, “banyak umat-Ku di kota ini”? Apakah Allah memilih siapa yang akan diselamatkan? Efesus 1:4 mengatakan, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Apakah kita dipilih untuk diselamatkan sebelum dunia dijadikan? Benar, karena Alkitab mengatakan hal itu. Dengarkanlah Wahyu 13:8, “Dan semua orang yang diam di atas bumi akan menyembah Iblis, yaitu setiap orang yang namanya tidak tertulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan dari Anak Domba, yang telah disembelih.”

Jadi bagaimana dengan tanggung jawab manusia? Iya, saya juga percaya hal itu. Lihatlah ayat 6, “Biarlah darahmu tertumpah ke atas kepalamu sendiri.” Dengarkanlah, jika Anda percaya Yesus Kristus, Anda datang kepada-Nya karena Anda dipilih sebelum dunia dijadikan. Jika Anda menolak Yesus Kristus, itu adalah tanggung jawab Anda sendiri. Anda mengatakan, “Kedua hal itu tidak cocok.” Benar. Namun Anda harus membiarkan ada paradoks tentang keberdaulatan dan tanggung jawab di Firman Allah.

Sadarilah bahwa otak kami kecil, dan Allah lebih besar daripada seluruh alam semesta. Jadi janganlah kita kuatir kalau kita tidak dapat menyesuaikan keberdaulatan dengan tanggung jawab. Kita harus membiarkan kedua-duanya berada, karena paradoks itu ada di setiap doktrin utama lain. Siapakah menulis buku Kisah Para Rasul? Anda mengatakan Lukas dan saya mengatakan Roh Kudus. Namun itu bukan Lukas dan Roh Kudus bekerja bersama. Tidak, setiap kata dipilih Roh Kudus, namun Lukas sendiri telah memiliki semau kata-kata itu dalam kosakatanya sendiri. Ini suatu paradoks.

Siapakah yang menjalani kehidupan Kristen? Saya, tetapi Yesus mengatakan di Yohanes 15:5, “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Dia melakukannya. Nah ini suatu paradoks. Siapakah Yesus Kristus, Allah atau manusia? Kedua-duanya. Itu paradoks. Lihatlah di setiap doktrin Alkitabiah utama dimana Allah mengurangi diri-Nya supaya manusia mengerti, ada paradoks. Alkitab mengatakan, “Jika orang itu masuk ke surga, itu adalah karena dia dipilih sebelum dunia dijadikan.” Kemudian Alkitab menutup dengan kata-kata, “barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17)

Dengarkanlah, jika Anda ingin datang kepada Yesus, datanglah. Bagaimana Allah menyesuaikan hal itu dengan keberdaulatan-Nya, itu adalah masalah Dia sendiri. Dia akan melakukan itu, jangan kuatir tentang hal itu. Jika aku mengerti Allah, saya adalah Allah. Tidak ada seorangpun yang dapat memahami Allah sepenuhnya kecuali Yesus. Jadi Allah disini menguatkan Paulus, pertama melalui kekuatan-Nya, “Aku menyertai Anda.” Kemudian dengan kuasa pemeliharaan-Nya, “Tidak seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau.” Ketiga dengan janji-Nya, “banyak umat-Ku di kota ini.” Allah mengatakan, Aku telah menahbiskan Anda supaya Anda menghasilkan buah. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu