May 28, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Mengenal Allah yang Benar
28 Mei 2017

Kita sedang maju di Kisah Para Rasul 17 dalam pelajaran kita dan kita menemukan Paulus sendirian di Atena. Dia merasa sedih sekali melihat penyembahan berhala di kota itu. Mereka menyembah ribuan dewa. Dan dewa-dewa mereka adalah karya seni besar, jadi kota ini sangat berbudaya namun pada saat yang sama, penyembah berhala besar.

Nah pada saat kita memikirkan penyembahan berhala, kita mungkin ingat patung-patung di sebuah kuil Hindu. Atau mungkin tari-tarian nabi-nabi Baal waktu mengelilingi mezbah Elia. Namun penyembahan berhala Yunani di Atena pada waktu itu canggih dan berbudaya. Mereka adalah kelas filosofis dan intelektual seluruh dunia. Itu merupakan hal yang canggih dan rumit.

Dan kita harus menyadari bahwa pada masa kini di Amerika, sama seperti di semua bagian di seluruh dunia, kita juga adalah korban penyembahan berhala. Sebenarnya Anda hanya memilih dewa yang mana Anda akan menyembah. Semua orang menyembah sesuatu. Bahkan orang ateis menyembah dirinya sendiri, dan itu adalah penyembahan berhala yang paling ekstrim. Semua hal yang terpisah dari Allah adalah penyembahan berhala.

Billy Graham menanyakan mahasiswa di Universitas Karolina Utara apakah dia percaya Allah, dan dia mengatakan “Iya, saya memiliki dewaku pribadi.” Dan kita dapat melihat itu disekitar kita terus menerus. Dan kita masih tetap menyembah dewa-dewa itu. Marilah saya menyebut beberapa. Nomor satu adalah perikemanusiaan. Bahwa manusia dapat menyelesaikan semua masalah itu sendiri. Tahukah Anda bahwa itulah waktunya sains meledak dan kita pikir bahwa kita benar-benar sanggup mengatasi semua masalah-masalah dunia ini.

Dewa kedua yang disembah semua orang adalah materialisme. Kepanikan krisis energi adalah bahwa ada orang yang terus menerus mengurangi kekayaan kita. Dan kita tidak dapat beli semua hal ekstra yang kita inginkan. Dan kehidupan kita berkurang menjadi dasar yang membosankan. Dan kita tidak dapat menghibur diri kita sendiri. Jadi lama kelamaan dewa-dewa perikemanusiaan dan materialisme kita semakin kecil dan tidak berarti.

Dewa ketiga yang dipuja masyarakat kita adalah seks. Segala sesuatu dari periklanan sampai ke kebun binatang diperbanyak melalui seks. Entah itu mobil atau deodoran atau pasta gigi atau film dan buku-buku sekarang semua menggunakan bahasa yang sama itu. Seperti dikatakan Billy Graham, “mereka menandingi tetesan selokan pembuangan yang bocor.” Orang-orang sekarang mulai kembali kepada hal-hal kuno, mereka bahkan memyembah okultisme. Bahkan beberapa orang memiliki berhala fisik yang mereka sembah sekarang.

Manusia barat dengan segala kebudayaannya, dengan semua informasinya, dengan semua pengetahuan ilmiahnya, berada di dalam perangkap setan yang sama yang mengatur kehidupan seseorang yang berada entah dimana yang menyembah sebuah batu. Semua orang menyembah sesuatu. Penyembahan berhala adalah menyembah segala sesuatu yang bukan Allah. Dan itu datang dalam bermacam-macam jenis paket.

Dan alasannya adalah karena Allah menciptakan setiap manusia untuk mengenal Dia. Itu jelas di dalam Firman Allah. Tidak mengenal Allah berarti Anda benar-benar terputus dari tujuan dan makna hidup Anda. Dan bisa saja Anda menyembah dewa-dewa kecil Anda namun Anda tidak pernah akan mengalami suatu kepuasan akhir. Seperti Agustinus mengatakan, “Anda memiliki vakum yang dibentuk Allah yang hanya dapat diisi oleh-Nya.”

Jadi ini dunia yang penuh frustasi besar. Dan karena itu tentu saja orang-orang kecandu obat-obatan dan minuman keras dan mereka membunuh diri mereka pada tingkat yang tidak pernah ada dalam sejarah. Dan alasannya adalah karena mereka tidak mengerti faktanya bahwa meskipun mereka menyembah banyak hal, tetap itu tidak dapat memuaskan.

Nah inilah masalah yang sama di Atena ketika kita mempelajari KPR 17. Dengan segala dewa-dewa, mereka tetap merasa tidak puas jadi mereka terbuka terhadap tuhan yang mereka tidak kenal, tetapi yang mungkin dapat memuaskan mereka. Karena sampai saatnya manusia mengenal Allah yang sejati, dia tidak akan tahu kedamaian. Dia tidak tahu kepuasan apapun dalam arti sebenarnya. Adam dan Hawa pada mulanya ada di Taman Eden bersama Allah dan mereka puas.

Namun setelah mereka jatuh, Allah memisahkan diri-Nya dari mereka. Dan mereka kehilangan pengetahuan tentang Allah. Dan sejak waktu itu manusia datang ke dunia tanpa mengenal Allah. Namun meskipun berada dalam dunia dimana tidak ada pengetahuan benar tentang Allah, masih ada pengetahuan sedikit di dalam hati nurani kami dan penciptaan. Dengan kata lain, Allah telah menanam di dalam kita pengetahuan tentang diri-Nya di dalam hati nurani kami dan di dalam dunia yang telah Dia ciptakan.

Yeremia 9:23-24 mengatakan, “Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, 24 tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah Tuhan yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi.” Nah, didalam hidup ini mungkin Anda cerdas, kuat dan kaya, namun Anda tidak berarti kecuali Anda mengenal Allah.

Di Keluaran 20:3 Allah mengatakan, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.” Apakah itu karena Allah cemburu? Tidak. Yang utama adalah bahwa itu melanggar ciptaan-Nya. Ayat 4-5, “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu.”

Allah tidak mentolerir saingan. Anda diciptakan untuk mengenal Aku. Kecemburuan tidak selalu jahat. Allah mengatakan di Keluaran 34:14, “Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena Tuhan, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.” Mungkin Anda mengatakan, Mengapa Engkau begitu khawatir tentang hal itu? Tidak ada saingan. Oh iya, memang ada. Allah sebenarnya mengatakan bahwa setiap orang dibentuk Allah di dalam kandungan. Itu bukan proses evolusi. Jadi Allah ada hak untuk cemburu.

Namun ada dua macam kecemburuan. Satu jenis kecemburuan adalah, “Aku ingin apa yang kau miliki dan karena Anda memiliki berhala, aku benci Anda.” Itu sifat iri hati yang menjadi liar. Namun ada jenis kecemburuan yang berbeda yang mengatakan Anda adalah milikku dan aku sayang kepadamu dan aku tidak mau ada orang lain yang mengambil Anda. Nah, itu adalah kebajikan murni. Orang yang sudah menikah yang tidak merasa cemburu karena ada gangguan kekasih lain yang masuh kerumah mereka, pasti kekurangan persepsi moral. Karena kekhususan pernikahan itu adalah inti pernikahan.

1 Korintus 10:22 mengatakan, “Maukah kita membangkitkan cemburu Tuhan? Apakah kita lebih kuat dari pada Dia?” Itu menyiratkan jika Anda membangkitkan cemburu Tuhan, Dia akan melakukan sesuatu. Dia telah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri. Dan manusia tidak dapat mengetahui maknanya sampai dia mengenal Allah. Dan Allah akan melindungi umat-Nya dan Dia akan menghukum seorang penyusup.

Di 2 Tesalonika 1:7-8 tertulis, “Tuhan Yesus dari dalam sorga menyatakan diri-Nya bersama-sama dengan malaikat-malaikat-Nya, dalam kuasa-Nya, di dalam api yang bernyala-nyala, 8 dan mengadakan pembalasan terhadap mereka yang tidak mau mengenal Allah.” Jadi pada akhirnya kalau tidak mengenal Allah itu bencana. Masalahnya, kita untuk selamanya akan berada di neraka. Apakah semua orang dapat mengenal Allah? Iya, menurut Roma 1:20 ada cukup pengetahuan untuk mengenal Allah di dalam hati nurani Anda dan disekitar Anda sehingga Anda tidak ada alasan.

Paulus ingin memperkenalkan Allah kepada orang-orang di Atena. Keadaan kita bisa saja berubah banyak, namun pengetahuan tentang Allah itu menetap. Ingatlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menjawab raja: O, Nebukadnezar, jika kita dicampakkan ke dalam perapian yang menyala, Allah kami dapat menyelamatkan kami, tetapi kalau tidak, kami tetap tidak akan menyembah. Mengapa? Karena mereka tahu mereka memiliki Allah yang benar. Mereka tidak takut apapun. Nah kepercayaan dan kepuasan seperti itu terdapat di dalam hidup seseorang yang mengenal Tuhan. Tidak ada pengganti yang dapat melakukan itu.

Paulus mengatakan ada tiga hal yang diperlukan. Satu, sadarilah bahwa Allah itu ada. Dua, mengenal siapakah Allah itu. Ketiga, mengerti apakah yang dikatakan Allah itu. Mereka tidak tahu siapakah Dia dan mereka tidak tahu apakah firman-Nya, namun paling tidak mereka percaya Dia ada. Ibrani 11:6 mengatakan, “tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”

Orang yang menyangkal Allah bodoh sekali. Beberapa diantara mereka adalah orang ateis. Ateisme itu seperti sebuah kaktus tertanam di padang gurun yang memberitahu kepada kaktus lain bahwa tidak ada samudera. Tetapi ada orang yang ingin melakukan kehendak mereka sendiri dan mereka tidak mau dihukum, jadi mereka menghilangkan Allah, supaya hidup mereka lebih tentram. Kemudian ada juga orang agnostik yang tidak percaya ada Allah. Kemudian ada juga orang evolusi yang mengatakan, ya mungkin ada kecerdasan kosmis, namun Allah tidak pernah menyatakan diri-Nya. Semuanya itu kebetulan.

Kemudian, ada orang politeis yang percaya ada banyak dewa-dewa. Itulah yang sedang disebarkan di Amerika saat ini. Ada buku-buku tentang kuasa-kuasa gelap yang ditulis oleh dewa-dewa itu yang menceritakan kita tentang semua hirarki banyak dewa dan pangeran Venus dan penguasa ini disini dan penguasa itu disitu. Banyak orang percaya ada kuasa-kuasa gelap tetapi itu bukan dewa-dewa, semua itu hanya setan-setan.

Kemudian ada banyak orang yang didominasi oleh meditasi Timur itu. Mereka ingin supaya semua orang mencapai tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Meditasi transendental. Mereka ingin supaya seluruh dunia percaya bahwa mereka memerlukan meditasi ini dan yang menjadi masalah adalah orang-orang Kristen. Jadi sesudah pengangkatan, mereka akan berkuasa selama masa tribulasi itu. Dan semua orang sekarang menjadi dewa.

Kemudian ada juga panteisme, yang adalah jenis ateisme yang berbeda. Ini mengatakan bahwa semuanya adalah Allah dan jika semua itu Allah, maka Allah itu tidak sesuatupun. Pandangan lain adalah deisme. Ini mengatakan bahwa ada Allah di suatu tempat dan Dia menciptakan alam semesta. Namun sesudah Dia menciptakannya, Dia pergi dan membiarkan itu menjadi buruk dan Dia sama sekali tidak terlibat lagi. Semua itu adalah bentuk kepercayaan yang menyangkal Allah yang benar.

Kesaksian terbesar tentang Allah ada disini di Alkitab. Ulangan 6:4 mengatakan, “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!” Ulangan 4:35 mengatakan, “Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.” Yesaya 42:8 mengatakan, “Aku ini Tuhan, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.”

Kembali ke KPR 17, untuk mengenal Allah yang tidak dikenal kita harus percaya bahwa Allah itu ada. Kedua, kita harus percaya siapakah Allah itu. Paulus memberi tahu mereka siapakah Allah itu di ayat 24, “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya.” Bayangkan betapa besar kuasa penciptaan Allah itu. Ayub 26:6-7, “Dunia orang mati terbuka di hadapan Allah, tempat kebinasaanpun tidak ada tutupnya. 7 Allah membentangkan utara di atas kekosongan, dan menggantungkan bumi pada kehampaan.”

Pertama-tama, Dia menciptakan segala sesuatu dari kehampaan. Yesaya 44:24 mengatakan, “Beginilah firman Tuhan, Penebusmu, yang membentuk engkau sejak dari kandungan; “Akulah Tuhan, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit.” Dia menciptakan semesta alam dengan memproyeksikan pemikiran-Nya menjadi nyata. Mazmur 148:5 mengatakan, “sebab Dia memberi perintah, maka semuanya tercipta.”

Dan Allah tidak pernah menjadi lelah. Yesays 40:28, “Tuhan ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.” Dan sekarang keaktifan-Nya sama seperti dulu dengan menopang apa yang Dia ciptakan. Itu poin kedua. Dia bukan saja menjadi Pencipta, Allah juga penguasa. Dia mempertahankan keseluruhan-nya. Ingatlah Ibrani 1:3, “Dia menopang segala yang ada dengan firman-Nya.”

Kita meluncurkan orang dengan roket dan menerbangkannya ke angkasa selama beberapa hari dan kemudian mereka kembali dan mendarat di tempat yang kami harapkan. Mengapa? Karena alam semesta dan hukum-hukum fisik itu konstan. Bayangkan jika semua hukum-hukum itu semakin berkurang dan dunia ini membusuk dan Allah tidak mempertahankan itu semua. Kita tidak bisa memperhitungkan apapun juga.

Ketiga, Allah adalah sang Pemberi. Lihatlah KPR 17:25, “dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” Ayub 22:2 mengatakan, “Apakah manusia berguna bagi Allah?” Allah itu sudah sebaik mungkin. Orang-orang yang tidak percaya tidak mengerti hal itu. Mereka selalu mempersembahkan makanan dan mereka pikir dewa-dewa itu perlu makan. Orang Hindu masih melakukan hal itu sampai sekarang.

Mazmur 50:10-11 menyatakan, “sebab punya-Kulah segala binatang hutan, dan beribu-ribu hewan di gunung. 11 Aku kenal segala burung di udara, dan apa yang bergerak di padang adalah dalam kuasa-Ku.” Apakah Allah memerlukan persembahan makanan yang di ditaruh di depan mezbah? Allah tidak memerlukan makanan kami. Kita semua memerlukan Allah karena Allah yang memberikan kita hidup dan nafas dan segalanya yang lain.

Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Yakobus 1:17 mengatakan, “Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.” 1 Timotius 6:17, “Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati.” Apapun yang kita miliki semua datang dari Allah.

Keempat, Allah adalah pengendali. KPR 17:26, “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka.” Setiap bangsa ditahbiskan oleh Allah. Dan Allah bahkan menentukan waktu dan batas-batas tempat tinggal mereka. Dan itu berarti bahwa Allah mengontrol sejarah dan nasib semua orang dan bangsa.

Tidak mungkin kita dapat melihat apa yang sedang terjadi di Amerika, Israel, Rusia dan Suriah tanpa kepercayaan kepada Allah yang mengatur sejarah. Sejarah itu kisah Dia. Allah telah menentukan waktu-waktu sejarah dimana negara-negara tertentu ada. Sejarah itu tepat pada waktunya dan Allah menjalankan semua itu dan itu akan mencapai tingkatnya pada kedatangan Yesus Kristus.

Hal kelima, Allah menyatakan semuanya. Saya memikirkan Allah dan saya berhenti di satu tempat tetapi yang paling mengherankan adalah bahwa Dia tinggal di dalam aku. Bagaimana kita dapat mengenal Allah? Yohanes 14:6 mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Kristus adalah satu-satunya yang memperkenalkan Anda kepada Allah. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu