Apr 09, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Kasih, kunci Ketaatan
9 April 2017

Roma 13:8-10, “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi. Sebab barangsiapa mengasihi sesamanya manusia, ia sudah memenuhi hukum Taurat. 9 Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain manapun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! 10 Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan hukum Taurat.”

Ini berfokus kepada kunci ketaatan. Ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya, Dia mengatakan bahwa bagian penting adalah untuk mengajarkan mereka untuk melakukan segala sesuatu yang diperintahkan-Nya. Yang termasuk di dalam pernikahan adalah perlunya ada ketaatan kepada Firman Allah dan hukum Allah. Ketika pada mulanya Yesus memanggil para murid untuk taat kepada-Nya, Dia memanggil mereka untuk “mengikuti Aku.” Dia mendirikan dengan hubungan itu bahwa Dia adalah Tuhan dan Penguasa dimana Dia memberi perintah dan mereka harus menaatinya.

Ketika Yesus menanggapi orang muda yang kaya itu yang datang kepada-Nya dan ingin tahu bagaimana caranya memperoleh hidup kekal, Ia menentukan satu hal lain. Dia mengatakan kepada orang muda itu, “Juallah semua milikmu, berikanlah semua uang itu kepada orang miskin dan ikutilah Aku.” Dan orang muda itu pergi dan menolak tawaran itu. Bukannya dia tidak ingin hidup kekal, dia ingin, namun dia tidak mau menaati Yesus. Dengan kata lain, jika Anda tidak mau mengikuti Aku, Anda tidak akan memperoleh hidup kekal.

Ketika Yesus perlu menegor Petrus, murid itu, karena dia ingin tahu apa yang akan terjadi di masa depannya dengan Yohanes, Yesus mengatakan kepada Petrus, “Itu bukan urursanmu apa yang akan terjadi dengan Yohanes, tetapi engkau ikutlah Aku.” Dia membawanya kembali kepada saat permulaan seolah-olah mengatakan, “Apakah kamu sudah lupa? Aku memberikan perintah dan Anda harus mematuhinya.” Ilustrasi itu semua benar, tidak ada yang lebih penting di dalam Injil daripada panggilan untuk menaati Yesus Kristus.

Ketika seseorang datang kepada Kristus untuk keselamatan, itu adalah panggilan untuk ketaatan. Bahkan rasul Paulus memanggil keselamatan itu ketaatan iman, iman yang taat, iman yang tunduk dan iman yang mengikuti. Ketaatan seperti itu adalah komponen essensiil dalam kehidupan Kristen kita. Itu adalah dasar kuasa kita, sukacita kita, kegunaan dan berkat kita. Datang kepada Yesus Kristus untuk keselamatan adalah suatu penegasan bahwa saya akan menaati-Nya.

1 Petrus 1:2 mengatakan, “Kepada orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus.” Kita dipisahkan dari dosa oleh Roh supaya kita dapat menaati Yesus Kristus. Alkitab mengajarkan hal itu, namun ketaatan seperti itu bagi kita sulit. Kita dapat merasakan bahwa kita harus taat namun tetap kita tidak taat. Di Roma 7:15 Paulus mengatakan, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak mengerti. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.”

Dengan kata lain, di pria batin saya, saya mengasihi hukum Allah dan dengan pria batin saya, saya ingin melakukan itu karena itu kudus, benar dan baik. Saya ingin menaati namun saya berjuang dalam melakukan hal itu. Kadang-kadang kita seperti kanak-kanak yang mengasihi ibu dan bapa, dan mengasihi mereka benar-benar, dan mereka tahu bahwa orang tua itu ingin yang terbaik bagi mereka, namun meskipun mereka mengasihi, ada kalanya kita tidak taat ketika kita diberi perintah.

Begitu juga caranya dengan Tuhan. Kita tahu kita ingin menaati Dia. Kita tahu bahwa ketaatan akan mendatangkan berkat, kita sadar akan hal itu. Kita tahu keinginan terdalam kita dan itu sudah ditetapkan, kita ingin yang kudus, benar dan baik. Namun ada kalanya dimana perintah-perintah Allah entah bagaimana memotong aktivitas kita dan itu menyebabkan frustasi karena itu menyebabkan kita harus memberhentikan hal-hal yang dinikmati kedagingan kita.

Ini sangat berbeda bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah, yang bukan menjadi anak-anak-Nya. Hukum Allah bukan otoritas hidup mereka. Dia bukan Bapaknya dan mereka tidak peduli apa yang Dia katakan, mereka tidak akan berhenti apa yang menyenangkan mereka. Mereka hanya mementingkan diri mereka dan apa yang menurut mereka adalah benar, bukan yang Allah mengatakan adalah benar. Fokus mereka adalah kepuasan duniawi, biarpun itu sementara saja.

Bagi anak Allah yang benar, ketaatan itu adalah hal yang manis dan diinginkan. Ketaatan adalah jalan kepada berkat. Ketaatan adalah ekspresi dari keinginan terdalam dari jiwa yang telah ditebus. Dengarkanlah Daud di Mazmur 119:47, “Aku hendak bergemar dalam perintah-perintah-Mu yang kucintai itu.” Dan di ayat 97, “Betapa kucintai Taurat-Mu!” Ini menunjukkan keinginan anak Allah yang lahir-baru. Dia memiliki hati dan roh yang rela yang rindu untuk menaati.

Jadi bagaimana saya dapat menemukan jalan kepada ketaatan? Bagaimana saya dapat mengatasi frustasi ketidaktaatan dalam hidupku yang bertentangan dengan sifatku yang baru? Paulus menjawab di Roma 13:8-10 bahwa kunci ketaatan itu adalah kasih. Itu seperti ketaatan anak, yang pada akhirnya menyebabkan dia taat adalah kasih. Hal itu juga berlaku dalam dimensi spiritual. Jika aku akan menaati hukum Allah, itu adalah karena saya mengasihi Hukum itu, tetapi juga saya mengasihi Allah dan mengasihi orang lain.

Paulus mengatakan di ayat 8, “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga.” Dia sedang membicarakan pembayaran pajak. Pemerintah itu didirikan Allah dan mereka berhak untuk menagih pajak, jadi bayarlah itu. Dia tidak mengatakan janganlah pinjam uang. Yesus memberi perumpamaan di Lukas 19:23 dimana Dia mengatakan kepada hamba yang jahat, “mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada bank, supaya sekembaliku aku dapat mengambilnya dengan bunganya.” Jadi Yesus setuju ada bunga, apakah itu diberikan atau diambil.

Kemudian dia mengatakan, “Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.” Dan dia mengatakan kita ada hutang yang harus dibayar dengan mengasihi satu sama lain. Saya ingin Anda berhutang kasih kepada orang. Hutang kasih itu adalah hutang abadi. Itu tidak akan meninggalkan kita. Itu adalah hutang yang kita harus bayar selalu, tetapi yang tidak pernah berkurang. Itu adalah tanda bahwa kita orang Kristen benar.

Yohanes 13:35 mengatakan, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Di Yohanes 15:13 Yesus mengatakan, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” 1 Yohanes 2:10 mengatakan, “Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang.” Di 1 Yohanes 3 dia mengatakan jika Anda tidak mengasihi saudaramu, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kasih Allah berdiam di dalam Anda? Bahkan di Matius 5:44 Yesus mengatakan, “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Dan di Galatia 6:10, Paulus mengatakan, “marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” Paulus mengatakan di Kolose 3:14, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” 1 Korintus 14:1 mengatakan, “Kejarlah kasih itu.” Filipi 1:9, “semoga kasihmu makin melimpah.” 1 Timotius 2:15 mengatakan, “Bertekun dalam kasih.” 1 Petrus 1:22, “sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas.” Firman Allah mengatakan bahwa kita harus terus menerus mengasihi.

Bagaimana kita harus menunjukkan kasih seperti itu? Alkitab mengatakan bahwa kita harus menunjukkan kasih itu dengan mengajarkan orang lain, dengan melayani kebutuhan orang lain, dengan melayani pertumbuhan rohani orang lain melalui perilaku baik yang menunjukkan pola saleh bagi mereka, dengan berdiri disamping mereka untuk menanggung beban mereka dan dengan demikian memenuhi hukum kasih, dengan menutupi kesalahan-kesalahan mereka, karena kasih menutupi berbagai macam dosa, dengan mengampuni mereka sama seperti Allah demi Kristus telah mengampuni Anda. Bahkan kita harus mengasihi dengan mengorbankan hidup kita sendiri.

Masih ingat Roma 5:5 dimana Paulus mengatakan bahwa “kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus”? Setiap perintah untuk mengasihi mengatakan bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengasihi. Allah tidak meminta dari kita untuk melakukan sesuatu yang kita tidak mampu melakukan. Jadi kita harus memahami sumber daya kasih yang ada di dalam hati kita oleh Roh yang berdiam di hati kita yang buahnya adalah kasih. Paulus mengatakan bahwa Anda memiliki penampungan kasih yang tak terbatas, yang berarti Anda memiliki kapasitas untuk mengasihi yang tidak terpahamkan.

Dan kewajiban Anda adalah untuk mengasihi semua orang sepanjang hidup Anda. Itulah kehidupan Kristen Anda yang ditunjukkan kepada orang. Jika Anda mengerti sumber daya-Nya, jika Anda memahami kasih Kristus di Efesus 3:13-21, jika Anda tunduk kepada Roh Kudus yang buahnya adalah kasih di Galatia 5:22, jika Anda menyucikan hati dan jiwamu dalam kasih persaudaraan yang tulus ikhlas seperti di 1 Petrus 1:22, dan jika Anda menyadari tangisan orang yang ingin dikasihi, Anda akan mengasihi dengan segenap hati.

Menurut Ibrani 10:24, salah satu alasan mengapa Anda datang ke gereja adalah untuk “saling mendorong dalam kasih dan pekerjaan baik.” Jadi jika kita mengerti sumber kasih itu, dan tunduk kepada Roh Kudus, dan menyucikan hati kita, dan menyadari urgensi itu, dan ambil pilihan sadar, dan bergaul dengan orang-orang yang membutuhkan kasih itu, kemudian kita akan mengasihi mereka sesuai dengan perintah Tuhan. Saya memiliki sumber kasih yang tak terbatas, saya dapat mengasihi orang sebanyak mungkin dan sumber kasih itu tidak akan berkurang.

Janganlah mengasihi orang dan berpikir, “Saya ingin mengasihi orang itu sudah cukup lama, saya senang saya dapat mengasihinya dan sekarang itu sudah selesai.” Tidak, kasih tidak berfungsi seperti itu. Bahkan pengalaman saya adalah semakin saya mengasihi, semakin itu mempertumbuhkan kondisi kasih saya dan semakin saya ingin mengasihi orang. Jadi kasih itu adalah keinginan mendalam yang naik dari jiwaku yang telah lahir baru untuk mencari kesejahteraan semua orang yang ada disekitar saya.

Kita hidup dalam kebudayaan yang tidak mengenal kasih seperti ini. Ini adalah masyarakat yang paling egois dalam sejarah manusia. Penurunan kondisi moral manusia yang terus menerus sejak Kejatuhan menjadikan manusia semakin jahat karena Alkitab mengatakan bahwa orang-orang akan menjadi semakin jahat, jadi mereka sekarang lebih jahat dari semula. Dan inti segala dosa adalah kebanggaan yang mematikan kasih. Jadi semakin lama manusia hidup di bumi ini semakin moralitas menurun, semakin berkurang minatnya kepada orang lain. Jadi orang hanya ingin apa yang memuaskan mereka sendiri sekarang.

Paulus mengatakan marilah kita sekarang melihat Sepuluh Perintah, dan perhatikanlah bagian kedua dari perintah-perintah itu. Keempat perintah pertama adalah mengenai hubungan mansuia kepada Allah dan perintah keenam terakhir adalah mengenai hubungan manusia dengan sesamanya. Jadi dia membicarakan yang berhubungan dengan sesama manusia, dan memilih empat dari enam perintah dan mengatakan, “Ini dan sisanya tersimpul dalam pernyataan, “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Itulah kuncinya dalam menggenapkan hukum Taurat. Kasih tidak menggantikan hukum Taurat, itu hanya memungkinkan ada ketaatan.

Jadi keempat perintah pertama cukup sederhana. Yang dikatakan disitu adalah bahwa kita harus mengasihi Allah, setia kepada-Nya, hormat dan kudus kepada-Nya. Di Matius 22: 37-40, orang ini menanyakan Yesus, “Hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat? 37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Jadi saya menyampaikan kepada kalian bahwa kunci ketaatan adalah kasih. Itu bukan suatu upaya untuk menyusun setiap masalah hidup dan untuk mencari jalan untuk mengikuti semua itu. Itu adalah memiliki hati dan jiwa yang berkomitmen untuk menunjukkan kepada orang-orang lain penampungan kasih Kristus yang ada didalam kita. Jadi dengan mengasihi dengan kasih Kristus, Anda secara otomatis akan menggenapkan sepuluh Perintah Hukum Taurat itu, yang sesuai dengan apa yang dikatakan Paulus di Roma 13.

1 Korintus 13:4-7 mengatakan, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. 6 Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. 7 Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”

Kasih tidak menjadi marah, kasih tidak mengingat pelanggaran-pelanggaran melawannya, kasih tidak bersukacita karena ketidakadilan orang lain. Kasih akan menahan segala sesuatu. Kasih cenderung percaya segalanya. Kasih mempertahankan harapan abadi. Kasih dapat menderita apa saja dan tidak pernah gagal dan karena itu akan menggenapkan seluruh Hukum Taurat.

Bagaimana saya dapat melakukan itu? Secara sederhana, buah Roh itu adalah kasih dan jika Anda hidup oleh Roh, maka Anda tidak akan memenuhi keinginan daging namun Anda akan memenuhi keinginan Roh yang akan berbuah dan menghasilkan kasih. Jadi Anda perlu hidup oleh Roh. Dengan membiarkan Firman Kristus berdiam di dalam kamu untuk mengendalikan pikiran dan perilaku Anda, Roh Allah kemudian akan mengarahkan hidupmu sehingga Ia menghasilkan buah, yaitu kasih.

Secara praktis lakukanlah hal-hal berikut: pulihkanlah pertengkaran, akuilah itu salahmu. Carilah teman yang dilupakan dan hidupkanlah hubungan itu kembali. Biarkanlah kepahitan lama itu mati sendiri dan ampunilah orang itu. Teks atau tulis suatu pesan penuh kasih kepada seseorang yang mengasihi Anda. Kuatkanlah seseorang yang Anda tahu sedang merasa kecil hati atau putus asa. Tepatilah semua janji-janji Anda. Lupakan saja kalau ada perbuatan salah yang dilakukan terhadap Anda, jangan cepat tersinggung. Bersyukurlah selalu kepada orang. Beritahukanlah seseorang bahwa Anda mengasihinya. Berdoalah untuk musuhmu. Dan memohon kepada Allah supaya Dia menolong Anda untuk mengasihi seperti Yesus mengasihi dengan melakukan apa yang kasih mengharuskan. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu