Apr 02, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Kabar Baik dari Kebangkitan
2 April 2017

Berita terbaik adalah bahwa Yesus Kristus bangkit dari antara orang mati dan untuk selamanya hidup menjadi perantara bagi mereka yang mengenal-Nya dan mengasihi-Nya. Kita hidup dalam dunia dimana kebanyakan berita adalah berita buruk. Dan melihat internet kenyataannya dunia kita bukan saja buruk, namun tampaknya semakin buruk. Kebudayaan kita negatif, bermusuhan dan putus asa. Kelihatannya kita semakin menghilangkan hal-hal yang dulu kita pikir berharga sekali, yang kita harapkan akan menghasilkan dunia yang lebih baik.

Banyak orang berpikir ketika kita amat terdidik, kita dapat kemampuan untuk menyelesaikan semua masalah-masalah kita. Kita pikir setelah kita menciptakan kenyamanan hidup yang cukup baik, kita pasti dapat membangun hidup yang baik dan berarti. Kita pikir pada saat kita dapat menggunakan semua ilmu-ilmu fisik, psikologi, sociologi dan ekonomi, dan kita dapat menggunakan jenius pikiran manusia untuk membuat dunia yang lebih baik.

Namun sekarang ada semacam keputusasaan. Pria dan wanita telah menjadi korban kuasa yang menahan dan yang tidak berhenti di dalam diri mereka yang mendorong mereka kepada penghancuran diri. Mereka sekarang berhadapan muka-ke-muka dengan realitas dosa itu. Tidak peduli pengetahuan kita tentang pencerahan, tidak peduli pengetahuan kita tentang akal budi manusia dan apa yang menghasilkan hubungan yang bermakna, tetap kita tidak dapat mengatasi kenyataan dosa kita sendiri.

Marilah kita mendiskusikan empat bidang utama dimana dosa menyebabkan berita buruk bagi umat manusia. Pertama, unsur dasar dosa adalah egoisme. Itu mengatakan bahwa aku adalah Allah dan aku akan melakukan apa saja yang aku inginkan. Dan unsur dasar egoisme adalah kebanggaan. Kata dominan dalam dosa itu adalah aku. Manusia ingin menyenangkan dirinya, dia ingin memuaskan keinginan sendiri. Dia ingin melakukan hal pribadinya dan ia akan menekan batas-batas toleransi masyarakat.

Manusia, dalam keegoisannya, akan menghabiskan segala sesuatu yang terlihat, entah itu manusia atau barang, apakah itu suatu barang milik atau teman, apakah itu karir atau pasangan hidup, anggota keluarga atau kenalan saja. Kalau ada sesuatu yang tidak memuaskan lagi, itu dibuang begitu saja seperti sepatu usang yang tidak bisa dipakai lagi. Jadi orang seperti itu menghabiskan hal-hal dan mereka juga menghabiskan orang.

Kita sekarang hidup dalam dunia penuh orang-orang yang menuntut hak-hak mereka, yang akan melakukan egoisme mereka sebanyak mungkin, yang menggunakan dan menyiksa satu sama lain untuk kepuasan mereka sendiri; apakah itu dalam bisnis, atau perkawinan, atau kasih. Nafsu egoisme akan memutar segalanya. Dan keinginan mereka untuk mencari keuntungan, atau seks, atau ketenaran, atau popularitas, atau uang, atau petualangan atau sensasi, itu akan menyebabkan mereka menghancurkan segalanya di sekitar mereka.

Akibat kedua dari dosa itu adalah rasa bersalah. Menurut definisi, rasa bersalah itu adalah ‘hati nurani yang terluka.’ Dan rasa bersalah itu menyebabkan ada ketakutan: takut ada pembalasan dan takut dihakimi. Dan rasa bersalah itu menyebabkan ada kegelisahan, ketegangan bahwa semuanya akan salah. Jadi orang–orang mencoba menguburkan rasa bersalah itu. Dan rasa bersalah itu menyebabkan sulit tidur, sakit, mabuk, kecanduan obat-obatan dan ahkirnya pembunuhan diri.

Atau mereka pergi melihat seorang psikoanalis yang ingin mengalihkan tanggung jawab itu kepada seseorang yang mempengaruhi hidup mereka secara negatif, bahkan ada yang menyalahkan orang tua. Jadi rasa bersalah itu menyebabkan lebih banyak isolasi dan keterasingan. Orang yang ketakutan selalu takut akan orang-orang disekitarnya. Orang pemabuk mengisolasikan diri dengan pikirannya sendiri yang sesat. Dan orang yang selalu menyalahkan orang lain untuk semua masalahnya sendiri, pada akhirnya akan mengasingkan orang-orang yang paling dia butuhkan sendiri.

Dan rasa bersalah itu menyebabkan ketidakmampuan untuk memiliki hubungan yang bermakna. Dan manusia ditekan lebih dalam terus-menerus ke dalam lubang keputusasaan sendiri. Dan itu membawa kita kepada masalah dosa ketiga. Kita dapat menamakan itu sia-sia. Hidup itu hanya pengejaran keegoisan dan kemudian menjadi sesuatu yang menutupi rasa bersalah itu yang tidak memuaskan. Hidup itu menjadi apa yang dikatakan di Pengkhotbah 1:2, “Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.”

Di Pengkhotbah 2 dikatakan, “Aku melihat kepada kekayaan saya dan itu tidak memberikan aku apa-apa. Saya mencari sukacita, tetapi itu tidak memberikan aku apapun. Aku mencari dukacita tetapi itu tidak memberikan aku apa-apa. Aku mencari hubungan dengan orang namun aku tidak dapat memeliharanya. Itu tidak memberikan aku apa-apa. Saya melihat semua hal yang membawa sukses dalam karirku dan itu semua tidak berarti.” Itu menjadi rangkaian periode duapuluh empat jam yang tidak memiliki nilai.

Dan ada unsur keempat yaitu keputusasaan. Melihat ke masa depan semuanya kelihatannya buruk. Kita melihat kebudayaan yang lebih cenderung membunuh daripada kompromi, yang lebih suka membenci daripada mengasihi orang lain. Kan pada dasarnya hidup itu sia-sia dan masa depan itu tidak memberi harapan. Berita itu selalu buruk. Kelihatannya kematian adalah satu-satunya jalan keluar jika Anda percaya semua ini terus menerus kehampaan saja.

Lihatlah dunia disekitar Anda. Asumsi kita mungkin adalah, karena kita begitu cerdas, dan berpendidikan, dengan kemampuan dan kekuatan dalam apa yang dapat kami hasilkan; dan kepandaian kita dalam mempersepsikan masalah, bahwa kita dapat menyelesaikan realitas-realitas yang menyakitkan. Namun manusia dengan cara apapun juga dengan kekuatan apapun juga tidak dapat merubahkan hati orang. Yeremia 17:9 mengatakan, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu.”

Dan semakin panjang sejarah manusia itu, kata Alkitab, semakin buruk sifatnya. Dan sifat dosa manusia secara bertahap menjadi lebih berdosa dan lebih sia-sia. Dan kita telah mencapai batasnya dalam kemampuan kita, jadi kita terikat dosa dan keegoisan, rasa bersalah, kesia-siaan dan tanpa harapan. Yesus mengatakan kamu akan mati dalam dosa dan tempat tujuan orang berdosa yang belum diampuni adalah neraka selamanya.

Manifestasi hidup manusia yang penuh dosa ini adalah berita buruk. Kita dapat melihat itu di internet setiap hari. Dan hukuman Allah, yang adalah berita terburuk, ada di dalam Alkitab. Mungkin Anda berkata, iya kadang-kadang ada beberapa berita baik. Iya betul. Bahkan orang-orang berdosapun perlu tidur. Dan kadang-kadang ada suatu momen, atau kejadian, atau pengalaman yang membawa kita sukacita sekilas.

Namun pertanyaannya adalah, apakah ada berita baik yang berjangka panjang? Apakah yang kita dapat katakan kepada dunia yang semakin cepat turun ke dalam lubang neraka? Apakah ada sesuatu yang dapat menghilangkan keegoisan manusia? Adakah sesuatu yang dapat memberikan kita hubungan yang bermakna? Apakah ada sesuatu yang dapat menghilangkan rasa bersalah itu? Apakah ada sesuatu yang dapat memberikan kita pengharapan? Apakah ada sesuatu yang menjelaskan kepada kita caranya meloloskan diri dari penghakiman? Jawabnya adalah iya, ada jalan keluar.

Marilah lihat bersama Roma 1:1 yang ditulis rasul Paulus, “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” Injil itu berarti berita baik. Dia mengatakan, “Tugasku adalah untuk memberitakan kabar baik dari Allah.” Kadang-kadang dia memanggilnya kabar baik keselamatan, atau kabar baik tentang Yesus Kristus, atau kabar baik dari Anak-Nya, atau kabar baik tentang anugerah Allah.

Kabar baik itu adalah, Anda tidak perlu hidup terisolisasi. Anda tidak dipaksa hidup dengan memenuhi nafsu birahi Anda dan ternyata itu tidak memuaskan. Anda tidak perlu lagi hidup dengan rasa bersalah dan kegelisahan dan ketakutan. Anda tidak perlu lagi hidup sia-sia dan tanpa harapan. Anda tidak perlu lagi hidup penuh ketakutan akan penghakiman. Berita baik itu adalah ada pengampunan semua dosa-dosa mereka dan pemulihan terhadap Allah, renovasi sifat mereka dan kebahagiaan di surga untuk selama-lamanya.

Mengapa Allah mau memberi kabar baik kepada orang-orang yang begitu buruk? Karena Allah adalah kasih dan Dia mengasihi Anda. Dan itulah alasan-Nya mengapa Allah memberikan kabar baik kepada orang buruk, karena kasih Allah bahkan tidak dapat dipadamkan oleh kematian Anak-Nya sendiri. Yohanes 3:16 mengatakan, “ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Jadi Paulus mengatakan di Roma 1:2, “Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci.” Jika Anda membaca Perjanjian Lama, Anda akan tahu bahwa para nabi mengatakan bahwa ada Penyelamat yang akan datang. Ada domba yang akan disembelih untuk dosa-dosa dunia. Ada Yang akan datang, yang waktu diangkat akan menanggung semua dosa-dosa dan ketidakadilan. Dan Paulus mengatakan, “Itu datang dengan Yesus Kristus. Dan saya berada dsini sekarang untuk memberitakan itu kepada kalian.”

Yesus mengatakan jika Anda melihat aku, Anda telah melihat Allah. Mereka menanyakan umurnya, dan Dia mengatakan di Yohanes 8:58, “Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Allah telah datang ke dunia, Allah, anggota kedua dari Trinitas yang kita namakan Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Yesus datang ke dunia untuk membawa berita baik dari Allah. Allah Bapa berjanji bahwa Dia akan kirim Anak-Nya. Allah telah datang ke dunia untuk menyelamatkan kita. Itulah berita baik.

Manusia ingin mengisi kehampaan yang diciptakan Allah di dalam hatinya. Karena itu ada begitu banyak agama yang berbeda-beda di dunia ini dan sepanjang sejarah manusia. Ada kehampaan di dalam hati manusia yang hanya dapat diisi Allah. Dan kita menciptakan allah bikinan kebingungan kita sendiri untuk mengisinya sampai saat hati kita dibuka oleh pengetahuan Allah yang benar. Hanya Allah yang benar sanggup mengutus kabar baik dalam Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus.

Dan Paulus mengatakan Dia adalah manusia yang lahir dari keturunan Daud menurut daging, yang juga adalah Allah. Dan Dia dinyatakan Anak Allah dengan kuasa oleh karena kebangkitan-Nya dari antara orang mati menurut Roh Kudus. Anak Allah datang ke dunia sebagai manusia dan Allah. Dia lahir sebagai orang Yahudi. Faktanya, Dia adalah Allah dibuktikan dengan kebangkitan-Nya dari antara orang mati.

Socrates mengajar selama empat puluh tahun, Plato mengajar selama lima puluh tahun dan Aristotel mengajar selama empat puluh tahun. Namun Yesus mengajar hanya tiga tahun, namun pelayanan Yesus jauh melampaui 130 tahun dari filsuf dunia yang terbesar. Yesus tidak menulis puisi, namun lebih banyak puisi dituliskan tentang Dia daripada semua orang yang pernah hidup. Setiap bidang seni dan kebesaran manusia telah diperkaya oleh tukang kayu yang rendah hati ini dari Nazaret.

Di Roma 1:3 dikatakan, “tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud.” Keturunan itu adalah Maria, yang dari keturunan Daud. Bahkan Yusuf, suaminya yang bukan ayah kamdung Yesus, karena Yesus dihamilkan oleh Roh Kudus, namun Yusuf juga keturunan Daud. Yusuf adalah keturunan raja, dan seandainya ada raja di Israel, itu bisa saja Yusuf.

Jadi Allah memiliki Anak yang sepenuhnya adalah manusia, lahir dari seorang perawan. Dia juga seorang pria kerajaan yang berhak untuk memerintah. Mengapa? Karena Allah janji bahwa Dia akan mengirim Penyelamat yang adalah raja. Dia akan menjadi raja atas kejaraan rohani dan kerajaan duniawi, namun lebih dari itu: suatu kerajaan kekal. Allah akan memberikan-Nya takhta bapak-Nya Daud. Dan Dia akan memerintah untuk selamanya, kerajaan-Nya tidak akan berakhir.

Mengapa Dia harus menjadi manusia? Jika Dia akan menjadi pengganti dosa-dosa kita, Dia harus menjadi salah satu dari kita supaya Dia dapat menanggung dosa-dosa manusia, supaya Dia menanggung rasa bersalah manusia, supaya Dia menanggung hukuman manusia, supaya Dia merasakan murka Allah bagi manusia dan menjadi pengganti kami di kayu salib. Dan itulah berita baik. Kita tidak perlu merasakan hukuman atas pelanggaran kita karena Allah menjadi manusia sepenuhnya dan telah menebus kita.

Namun perjhatikanlah Roma 1:4, “dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.” Dia bukan saja manusia, Dia adalah Allah. Dia turun kepada kita melalui Maria. Dia datang sebagai Allah melalui Roh Kudus. Dia adalah Allah-manusia. Dan dikatakan, “Dia dinyatakan sebagai Allah ketika Dia mengalahkan maut melalui kuasa Roh Kudus. Allah memberikan kita bukti bahwa Dia adalah Anak ilahi.

Josefus, sejarawan Yahudi yang besar, hidup dari 37 SM sampai 95 SM, dan menulis bahwa Yesus Kristus benar-benar hidup. “Nah pada waktu itu ada Yesus, orang yang bijaksana. Dia melakukan banyak hal yang ajaib, dan menjadi guru dari orang-orang yang menerima kebenaran dengan senang hati. Banyak orang Yahudi dan banyak orang bukan Yahudi tertarik oleh-Nya. Dia adalah Kristus. Dan ketika Pilatus, atas saran orang-orang utama diantara kita, telah menghukum-Nya ke kayu salib, mereka yang mengasihi-Nya pada mulanya tidak meninggalkan-Nya karena Dia muncul hidup bagi mereka pada hari ketiga seperti yang telah dinubuatkan nabi-nabi ilahi dan ribuan hal ajaib lain tentang Dia. Orang-orang Kristen, yang dinamakan demikian dari-Nya, masih ada sampai sekarang.

Ada suatu deskripsi Kristus oleh Publius Lentulus kepada Senat Romawi, “Pada waktu ini muncul seorang pria yang kebajikan-Nya besar bernama Yesus Kristus, yang masih ada diantara kita. Orang bukan Yahudi menerima-Nya sebagai nabi kebenaran, namun murid-murid-Nya memanggil-Nya anak Allah. Dia membangkitkan orang mati dan menyembuhkan semua penyakit. Seorang pria bertubuh, agak tinggi dan ganteng, dengan wajah yang sangat terhormat sepertinya yang melihatnya harus baik mengasihi dan menakuti. Rambutnya berwarna kastanye matang, polos ke telinga, dan kebawah itu ada gelombang atas bahunya.”

“Di tengah-tengah dahinya rambutnya dipartisi seperti biasa dilakukan orang Nazarine, dahi polos dan sangat halus. Wajahnya tanpa cacat atau kerut, indah dengan kulit sedikit kemerahan. Hidung dan mulut-Nya sempurna. Janggotnya berlimpah dalam warna seperti rambutnya, dan tidak panjang. Penampilannya sederhana dan dewasa. Matanya berubah dan cerah.”

“Dia mengerikan dalam teguran-Nya. Manis dan ramah dalam nasihat-nasihat-Nya. Menyenangkan dalam percakapan, tanpa kehilangan gravitasi. Tidak pernah orang melihat-Nya tertawa, tetapi banyak telah melihat-Nya menangis. Dalam proporsi tubuh, paling baik. Tangan-Nya dan lengan-Nya indah dilihat. Pembicaraan-Nya mendalam, jarang dan tidak menonjolkan diri. Dia adalah yang paling indah di antara anak-anak manusia.”

Namun Dia harus melebihi manusia jika Dia akan menanggung dosa-dosa kita, jika Dia akan mengalahkan maut. Karena, jika Dia manusia biasa saja, Dia harus mati untuk dosa-dosanya sendiri. Jadi kebangkitan-Nya menjadi tanda, mujizat yang menunjukkan keilahian-Nya. Inilah kabar baik. Dan sebagai Allah, Dia menaklukkan kematian. Dan Dia mengatakan, karena Aku hidup, Anda akan hidup juga. Apakah Anda telah mengaku Yesus sebagai Juruselamatmu? Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu