Feb 26, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Dipilih Allah untuk Menginjili
26 Februari 2017

Disini di KPR 17, rasul Paulus bersama Silas telah dibebaskan dari penjara di Filipi oleh Allah melalui gempa bumi. Gereja di Filipi telah didirikan mulai dengan Lidia bersama rumah tangganya dan kepala penjara bersama rumah tangganya. Jadi mulailah kelompok kecil orang percaya. Dan Lukas tinggal bersama mereka. Jadi Paulus, Silas dan Timotius meninggalkan Filipi setelah dianiaya dengan tongkat dan memar dan berdarah.

Melalui semua itu, Yesus Kristus dipermuliakan dan akibat itu mereka bersukacita. Kemungkinan besar orang lain merasa kecil hati tetapi orang-orang ini tidak. Pada waktu mereka pergi dari Filipi, KPR 17: 1 mengatakan, “Paulus dan Silas mengambil jalan melalui Amfipolis dan Apolonia dan tiba di Tesalonika. Di situ ada sebuah rumah ibadat orang Yahudi.” Disini kita melihat roh yang kuat sekali dan yang tidak takut yang menjadi karakter Paulus.

Dengarkanlah apa yang Paulus dan Silas dapat lakukan di Tesalonika, KPR 17:6 mengatakan, “Orang-orang yang mengacaukan seluruh dunia telah datang juga ke mari.” Sangat luar biasa ada orang yang dapat mempengaruhi dunia begitu banyak sampai orang mengatakan, “mereka menjungkirbalikkan dunia.” Ada orang Kristen yang hidup seluruh hidup mereka yang sama sekali tidak mempengaruhi siapapun juga. Dan disini terdapat dua orang yang menurut dunia “menjungkirbalikkan mereka.”

Dan kabar angin itu sudah sampai ke Tesalonika, yang jauhnya 160 kilometer. Paulus dan Silas menyebabkan kenyamanan pendosa-pendosa itu terganggu. Dan Allah selalu menyediakan orang-orang seperti itu. Eliah selalu mengganggu raja Ahab dan Izebel karena mereka jahat. Ahab mengatakan kepadanya di 1 Raja-Raja 18:17-18, “"Engkaukah itu, yang mencelakakan Israel?" 18 Jawab Elia kepadanya: "Bukan aku yang mencelakakan Israel, melainkan engkau ini dan kaum keluargamu, sebab kamu telah meninggalkan perintah-perintah Tuhan dan engkau ini telah mengikuti para Baal.”

Di KPR 21:28-29, orang Yahudi berteriak: "Hai orang-orang Israel, tolong! Inilah orang yang di mana-mana mengajar semua orang untuk menentang bangsa kita dan menentang hukum Taurat dan tempat ini! Dan sekarang ia membawa orang-orang Yunani pula ke dalam Bait Allah dan menajiskan tempat suci ini! 29 Sebab mereka telah melihat Trofimus dari Efesus sebelumnya bersama-sama dengan Paulus di kota, dan mereka menyangka, bahwa Paulus telah membawa dia ke dalam Bait Allah.”

Apakah yang membuat seorang pria dapat menguncangkan dunia? Nah, sifat-sifat karakter itu tercantum disini di KPR 17. Hal-hal itu tersirat di dalam teks. Saat kami melihat caranya mereka bekerja, janganlah terpusat kepada apa yang mereka katakan, namun apa alasannya mereka melakukan itu. Apakah prinsip-prinsip yang berfungsi dalam pelayanan mereka yang menyebabkan itu sukses? Ada lima hal yang menyebabkan mereka dapat menjungkirbalikkan dunia. Kelima hal itu adalah, keberanian, isi khotbah, orang bertobat, konflik dan perhatian.

Nah sekarang kita akan melihat dua bagian ayat bersama, mulai dengan Tesalonika sampai ayat 9 kemudian langsung ke Berea. Kita akan membandingkan ayat-ayat untuk melihat prinsip-prinsip rohani yang mendorong mereka yang menjungkirbalikkan dunia itu. Nah kita mulai dengan Tesalonika dalam sembilan ayat pertama, dan Berea dalam ayat 10-15. Kedua kota itu sangat berbeda.

Tesalonika telah menjadi kota terkenal dengan 200.000 orang dan itu ibu kota Makedonia. Ada tiga sungai besar yang datang melalui itu dan berkumpul di laut, jadi itu merupakan pelabuhan penting. Dan jalam Raya Ignatius melewati tengah kota itu, yang menyebabkan mudah bagi tentara dan orang yang bepergian ke timur dan barat untuk melewatinya. Kota itu masih kota pelabuhan yang paling penting di Yunani itu dan sekarang dinamakan Salonika.

Di sisi lain, Berea itu benar-benar tidak signifikan. Kira-kira 80 kilometer kearah barat selatan Tesalonika, tempat terpencil yang tidak pernah diketahui orang sebelum Rasul Paulus pergi kesana. Jadi ada dua kota yang sangat berbeda, yang satu di jalan raya dan yang lain di tempat terpencil. Akan tetapi hal yang sama terjadi dikedua kota itu yang mengilustrasikan kepada kita prinsip-prinsip yang menyebabkan ada orang yang menjungkirbalikkan dunia.

Prinsip nomor 1, keberanian. Kita akan melihat hal itu di Tesalonika dan Berea. Kita telah melihat bahwa keberanian adalah bagian karunia rohani gereja mula-mula. Dan kita memerlukan hal ini sekarang juga di seluruh dunia. Kita melihat dari permulaan bagaimana mereka masuk ke kota dan mereka akan menerima tantangan, dan langsung mereka menjadi berani. Dan semakin banyak tekanan itu, semakin besar keberanian mereka. Dan semakin berani semakin dinamis berita injil itu. Dan itu diperlukan dimana-mana di dunia ini sekarang.

Di KPR 20:22, Paulus mengatakan, “Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ.” Dia tahu pengalamannya pasti buruk, tetapi dia tidak tahu seburuk apa. Ayat 23-24, “selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. 24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.”

Tidak ada orang yang benar-benar mempengaruhi dunia bagi Kristus yang tidak memiliki keberanian dalam keyakinannya dan keberanian dalam panggilannya. Anda bisa saja yakin dalam banyak hal, namun jika Anda tidak berani mengabarkan berita itu kepada orang, tidak akan ada hasilnya. Anda bukan saja perlu ada keberanian dalam keyakinan Anda, tetapi juga berani melakukan apa yang ditugaskan Allah kepadamu. Hanya orang pemberani akan menyebabkan ada perbedaan.

Lihatlah KPR 17:1 dimana keberanian diilustrasikan. “Paulus dan Silas mengambil jalan melalui Amfipolis (jaraknya 53 kilometer dari Filipi) dan Apolonia (jaraknya 50 kilometer dari Amfipolis) dan tiba di Tesalonika (itu jaraknya 60 kilometer dari Apolonia). Hal itu signifikan karena mereka ingin pergi ke Tesalonika karena “disitu ada sebuah rumah ibadat orang Yahudi.”

Dan kita melihat setiap kali mereka pergi ke sinagog, mereka dianiaya oleh orang Yahudi. Namun lihatlah ayat 2, “Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu.” Nah inilah keberanian! Baru saja mengalami kesakitan dan penderitaan di Filipi. Sekarang dia pergi ke Tesalonika dan dia langsung masuk lagi ke dalam sinagog. Mengapa? Karena itulah panggilan dari Allah bagi dia.

Meskipun dia kesakitan, dia tetap mengasihi Israel. Dia memiliki Roh yang taat kepada Tuhan. Roh menuntunnya untuk pergi ke sinagog. Dan dia langsung masuk, seperti kebiasaannya, dia tidak memikirkan penganiayaan yang dia harus menderita. Dan dia melakukan hal yang sama di Berea. Ayat 10, “Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di situ pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi.”

Ketika mereka mengirim dia pergi pada malam hari, mereka mencoba untuk meloloskan dia dari kesulitan di Tesalonika. Kita akan membicarakan itu nanti. Tetapi apa yang terjadi pada waktu dia tiba di Berea kira-kira 80 kilometer dari situ. Apakah yang dia lakukan? Dia langsung masuk kedalam sinagog orang Yahudi. Dia tidak peduli sama sekali bahwa baru setelah keluar dari api dia langsung masuk ke dalam api lain lagi. Dia melakukan apa yang Allah telah tugaskan kepadanya.

Ada tiga tahap untuk memiliki keberanian seperti itu. Nomor 1, percaya Allah. Daud selalu ada masalah. Apa yang dia katakan di Mazmur 27:1, “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut?” Ketika Allah ada berserta Anda, Anda tidak perlu takut. Ayat 2, “Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh.” Kemudian dia mengatakan di ayat 14, “Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!” Biarkanlah ini menjadi peperangan Allah.

Keberanian macam apapun bergantung kepada teologi Anda. Doktrin Allah yang tidak benar akan menyebabkan Anda menjadi penakut. Jadi bagaimana saya dapat mempercayai Allah? Anda perlu mengenal-Nya. Caranya bagaimana? Bacalah Alkitab secara mendalam. Semakin Anda mengenal-Nya lebih baik, semakin Anda mempercayai-Nya, benar? Dan semakin Anda mempercayai-Nya, semakin Anda dapat berperang dengan keyakinan dan bukan ketakutan.

Tahap kedua, akuilah dosamu. Jika Anda berperang dengan dosa dikenal di dalam hidupmu, kemenangan itu tidak banyak. Jika Anda bersaksi ke dunia dan hidup Anda sendiri penuh dosa, tidak akan ada orang yang percaya Anda. Daud mengatakan di Mazmur 7:3, 5, “Ya Tuhan, Allahku, jika aku berbuat ini, maka musuh kiranya mengejar aku sampai menangkap aku.” Ayat 8, “Hakimilah aku, Tuhan, apakah aku benar, dan apakah aku tulus ikhlas.” Ayat 17, “Dan bermazmur bagi nama Tuhan, Yang Mahatinggi.”

Nah di Mazmur 7:10 dikatakan, “Perisai bagiku adalah dari Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati.” Jadi kalau Anda berperang melawan musuh, sebaiknya nomor 1, Anda mempercayai Allah. Nomor 2, akuilah dosa-dosamu dan Anda murni. Ingatlah perisai iman di Efesus 6:16? Jika Anda berperang dengan perisai yang ada bolongnya, Iblis akan menyakiti Anda setiap kali.

Ditengah semua itu, ketiga, bersyukurlah sebelumnya. Tahukah Anda bahwa sikapmu akan membaik pada saat Anda mulai berperang dan mengatakan, “Allah, saya akan keluar dengan keberanian dan saya akan memberitakan apa yang harus saya beritakan dan saya bersyukur atas kemenangan yang masih belum terjadi.” Lihatlah KPR 28:15, “Paulus mengucap syukur kepada Allah lalu kuatlah hatinya.”

Kedua, banyak orang memiliki keberanian, namun berita mereka tidak ada isinya. Kita perlu memberitakan kebenaran. Paulus secara pribadi tidak pernah menyinggung orang. Mereka tersinggung karena apa yang dia beritakan. Dan orang-orang harus merasa tersinggung supaya mereka menyadari gawatnya situasi mereka. Bacalah Roma 1 dimana dia membicarakan dosa. Kemudian di Roma 2 dia membicarakan mengapa orang Yahudi dan Bangsa lain merasa nyaman dan menjelaskan bahwa mereka telanjang dan terhilang. Dan di Roma 3 dia menawarkan mereka Yesus Kristus, Juruselamat kita.

Berita Injil harus menyinggung orang-orang berdosa. Roma 9:33 mengatakan, “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan.” Di 1 Petrus 2:7 dikatakan, “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.” Batu apa itu? Itu batu sandungan. Siapakah itu? Yesus Kristus. Dan orang-orang tersentuh karena Dia dan telah tersinggung oleh karena Dia sejak kebenaran Perjanjian Lama bahwa Dia akan datang.

Jadi apakah masalahnya bagi orang Yahudi di Tesalonika? Masalahnya adalah siapakah Mesias itu dan faktanya bahwa Yesus mati. Paulus mengatakan di Roma 11:9 dan Roma 1:23 bahwa kayu salib itu bagi orang Yahudi adalah batu sandungan besar. Ayat 2-3, “Seperti biasa Paulus masuk ke rumah ibadat itu. Tiga hari Sabat berturut-turut ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci. 3 Ia menerangkannya kepada mereka dan menunjukkan, bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati, lalu ia berkata: "Inilah Mesias, yaitu Yesus, yang kuberitakan kepadamu.”

Paulus tiga hari Sabat berturut-turut membicarakan dengan mereka. Sebenarnya kata itu “beralasan” dan kita dari situ dapat kata-kata seperti “dialog.” Ini menunjukkan ini bukan khotbah resmi. Dia mengizinkan ada tanya jawab. Dan dari bahasanya kita tahu bahwa itu tanja jawab yang diulang berkali-kali dan cukup lama. Tanya jawab itu cara belajar yang baik. Kekristenan itu bisa dipertahankan dengan baik. Dan ini menjadi pola baginya di sinagog.

KPR 18:4, “Dan setiap hari Sabat Paulus berbicara dalam rumah ibadat dan berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani.” Paulus menggunakan pedekatan mental dalam dialog, Jadi keselamatan adalah suatu hal mental, bukan emosionil. Anda harus mengarti kebenaran. Paulus menggunakan alasan dan ia membujuk pikiran mereka bahwa semua hal ini benar, kemudian Roh memakai kebenaran itu untuk membuka hati mereka. Dia membela Kekristenan.

Penginjilan benar adalah presentasi Kekristenan yang dapat dipertahankan. Itu adalah mendengar semua pertanyaan kemudian memberi jawaban yang benar. Dari mana dia dapat semua informasi itu? Lihat ayat 2, “ia membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab Suci.” Dia adalah pengkhotbah ekspositoris. Namun dia tidak memiliki Perjanjian Baru. Itu benar, dia mengajar dari Perjanjian Lama bahwa Kristus perlu menderita dan mati. Lihatlah Yesaya 53 dan Mazmur 22.

Sekarang lihatlah Berea. Paulus memberikan mereka kabar yang sama. Ayat 11 mengatakan, “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.” Lihatlah perbedaan antara Tesalonika dan Berea. Di ayat 4 dikatakan, “Beberapa orang dari mereka menjadi yakin.” Tetapi disini di ayat 12 dikatakan, “Banyak di antara mereka yang menjadi percaya.”

Apakah bedanya diantara kedua kelompok? Dengan yang satu Paulus harus membujuk mereka ke kebenaran. Yang lain sudah siap dan hati mereka terbuka. Mereka sendiri menyelidiki Firman. Ketika penganiayaan datang ke Berea, itu datang dari orang-orang Tesalonika. Perbedaan dalam karakter mereka adalah keterbukaan pikiran mereka dan kepekaan terhadap kebenaran dan ketidak prasangkaan.

Bagaimana saya dapat memiliki kadar seperti yang menjungkirbalikkan dunia? Pertama, mengaku dan bertobat dari semua dosa. Mengapa? 1 Petrus 2:1, “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. 2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan.” Kedua, belejarlah sekuat mungkin. Tidak ada jalan pintas. 2 Timotius 2:15, “Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu.”

Ketiga, personalisasikan Firman. Terjemahkan apa yang Anda belajar ke dalam hidup Anda sendiri. Apa yang Anda ajarkan secara efektif adalah hal-hal yang Anda belajar sendiri dalam hidupmu. Pengalaman itu adalah guru terbaik. Roma 12:2 mengatakan, “berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Cobaan dan kesengsaraan ada di didalam hidup kami supaya kami bertumbuh dan kami dapat menggunakan pengalaman itu untuk mengajar orang lain. Keempat: Bagikanlah hal-hal itu. Tidak ada jalan yang lebih baik dari pada mengajar hal-hal itu. Jadi dimana saja Anda berada, Anda dapat bersaksi kepada orang lain mengapa Yesus adalah Juruselamat Anda.

Injil yang kita kabarkan harus memiliki dua hal. Itu harus memiliki kualitas yang terbuka bagi orang untuk ditanyakan. Itulah Tesalonika. Dan itu juga harus memiliki kualitas yang dapat diselidiki penelitian swasta. Itu adalah Berea. Apakah Anda dapat menyampaikan berita kepada dunia ini dan membelanya secara Alkitabiah? Kedua, apakah Anda sanggup memberitakan pesan itu yang menyebabkan mereka mencari kebenaran dari Firman itu sendiri? Dengan pertolongan Roh Kudus Anda sanggup melakukan apapun juga, Amin? Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu