Feb 19, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Beralih Penganiayaan ke Pertumbuhan
19 Februari 2017

KPR 16 benar-benar akan meninggalkan pesan pada kita semua. Masih ingat Lidia dan kemerdekaannya yang indah? Kemudian kejadian dengan perempuan yang kerasukan setan. Dan sekarang kita tiba kepada kejadian ketiga, kisah kepala penjara dan bagaimana Allah menjangkaunya melalui gempa bumi. Pertanyaan terbesar yang dapat ditanyakan orang adalah, “apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Dan jawaban satu-satunya adalah, “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus.”

Dan pertanyaan utama adalah, “Apakah maksud hidup ini, kemana aku akan pergi dan apakah yang saya lakukan disini.” Dan seringkali ketika seseorang tiba di tempat kesusahan yang mengerikan di dalam hidupnya sendiri, hanya pada saat itu ia baru siap untuk mendengar berita keselamatan. Semua orang yang belum selamat sedang mencari makna hidup. Untuk beberapa orang itu adalah uang, bagi orang lain itu mungkin gengsi. Bagi beberapa orang itu mungkin mobil baru atau isteri lain. Mungkin bagi beberapa itu adalah seks. Mungkin juga olah raga. Bagi beberapa orang itu alcohol, bagi yang lain itu obat-obatan, tetapi tidak ada yang benar memuaskan.

Kita bepergian melalui Kisah Para Rasul dengan tim misionaris yang baik yang terdiri dari Paulus, Silas, Lukas dan Timotius. Nah, mereka bersama Injil telah tiba di Filipus, tempat berpijak di Eropa. Dan Allah mengutus mereka untuk pergi ke tepi sungai dan bertemu dengan beberapa wanita yang sedang menyembah Allah yang benar. Dan Allah mengarahkan mereka kepada wanita khusus bernama Lidia. Dan Allah membuka hati Lidia dan dia bersama seluruh rumah tangganya diselamatkan.

Dan langsung setelah Allah mulai suatu pekerjaan, Iblis mulai suatu usaha pertentangan. Mereka bertemu dengan perempuan lain yang diperbudak setan. Di ayat 16-18 tercatat bahwa dia mengikuti Paulus selama beberapa hari dan dia mencoba untuk menyelusup, yang Iblis selalu ingin lakukan. Dia mengatakan, Iya mereka memberitakan kebenaran. Kalian harus percaya mereka. Iblis akan mengatakan apa saja untuk masuk ke dalam organisasi itu, kemudian setelah masuk baru dia mulai memberitakan hal-hal yang palsu.

Paulus tidak suka hal itu, jadi di ayat 18 dia berpaling dan tidak berbicara dengan perempuan itu melainkan dengan roh jahat di dalamnya. Dia mengatakan, “Demi nama Yesus Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini. Seketika itu juga keluarlah roh itu.” Jadi perempuan yang diperbudak itu langsung dibebaskan. Namun reaksinya juga khas. Ayat 19, “Ketika tuan-tuan perempuan itu melihat, bahwa harapan mereka akan mendapat penghasilan lenyap, mereka menangkap Paulus dan Silas, lalu menyeret mereka ke pasar untuk menghadap penguasa.”

Nah reaksi itu menyebabkan apa yang terjadi di ayat 19 sampai 40. Rencana Iblis untuk menyelundup itu gagal karena Paulus mengusir setan itu. Namun jika tidak bisa menyelusup, dia selalu ada rencana lain yaitu penganiayaan. Dan apa yang terjadi pada saat gereja dianiaya? Itu malah bertumbuh. Lihatlah, darah para martir selalu menjadi benih gereja. Namun Iblis tidak bisa menahan diri dalam penganiayaan mereka walaupun dia tahu itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Penaniayaan selalu menghasilkan berkat, Mereka melipatgandakan diri. Penyelundupan itulah yang akan menghancurkan.

Apakah yang dapat menghasilkan hal positif dari keadaan negatif? Na disini ada penderitaan penganiayaan. Perempuan ini pada dasarnya melakukan apa yang dilakukan semua peramal dan pembaca telapak tangan lain, yaitu memcari keuntungan. Namun ada agen-agen yang mengambil bagian terbesar dan perempuan itu hanya dapat sisanya. Mereka tidak peduli akan perempuan itu. Mereka tidak gembira bahwa dia sekarang tidak kerasukan setan lagi.

Mereka menyadari bahwa mereka kehilangan pendapatan mereka. Nah, kita tahu bahwa yang dipentingkan hanya adalah uang. Ingatlah Markus 5 dimana Yesus datang ke Gerasa dimana ada orang kerasukan yang dipenuhi ribuan roh jahat. Dan Yesus mengusir semua roh jahat dari padanya. Tidak ada seorangpun dari kota itu yang berterima kasih. Dan setelah Yesus memasuki roh-roh itu kedalam kawanan babi yang langsung membunuh diri dengan melemparkan diri dari tebing dan mati tenggelam, reaksi orang-orang adalah, “Hai pergilah cepat, Anda membunuh babi-babi kita.”

1 Timotius 6:10 menerangkan dengan jelas bahwa uang dapat menghalang persepsi rohani kita, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.” Ini tidak mengatakan bahwa uang itu jahat. Markus 10:23-25, “Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah." 24 Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus menyambung lagi: "Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. 25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Nah KPR 16:19 mengatakan, “Mereka menyeret mereka ke pasar.” Bagi Paulus ini perubahan besar. Dulu di KPR 8:3, Paulus yang menyeret orang Kristen dari rumah-rumah, baik lelaki dan perempuan. Namun disini kita melihat bagaimana Paulus memandang penganiayaan. Sebenarnya bagi dia, itu merupakan kesempatan. Tempat itu adalah pusat kota besar, dengan pengadilan dan kuil besar dalam lapangan pasar ini. Ayat 20, “Setelah mereka membawa keduanya menghadap pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka, katanya: "Orang-orang ini mengacau kota kita ini, karena mereka orang Yahudi.”

Setiap koloni Romawi di dalam kota Yunani diberikan dua orang yang memiliki otoritas tertinggi. Jadi mereka mengatakan kepada yang berwenang itu, “Orang Yahudi ini” dan sudah terasa kehinaan mereka. Anti-Semitisme adalah hal besar di dunia Romawi. Wah, ini luar biasa bahwa Allah mengutus orang yang tepat dengan bangsa yang tepat dengan kewarganegaraan yang tepat dan latar belakang yang tepat untuk melakukan percis apa yang Dia ingin mereka lakukan.

Mereka orang Yahudi, yang menyebabkan pukulan itu semakin keras dan juga menambahkan kepada caranya mereka dipenjarakan, yang akibatnya adalah pertobatan orang, dan semua ini direncanakan oleh Allah. Ayat 21 mengatakan, “dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Romawi tidak boleh menerimanya atau menurutinya." Memang itu benar. Menurut Sisero dan Tertulian, orang Roma memiliki hukum dimana orang Romawi hanya boleh mengikuti ajaran agama yang sudah disetujui majelis tertinggi.

Mereka dalam keadaan ini karena mereka berani sekali. Jadi pertama, penganiayaan itu membukakan kesempatan-kesempatan baru. Di KPR 4 mereka memberitakan injil sampai mereka dipenjarakan namun karena itu mereka bisa memberitakan injil kepada Sanhedrin. Mereka dibebaskan dan dilarang untuk berkhotbah lagi. Namun mereka tetap memberitakan injil dan banyak orang diselamatkan. Setiap kali mereka berani, Allah menyebabkan ada hasil.

Ayat 22, “Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka.” Nah polisi lokal selalu membawa beberapa batang untuk hukuman. Inilah hukuman Romawi namun tanpa sidang apapun juga. Tahukah Anda bahwa Paulus menerima hukuman seperti itu tiga kali dalam hidupnya? Ayat 23, “Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh.”

Ayat 24, “Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling dalam dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat.” Menurut arkeologi, belenggu yang mereka gunakan di zaman itu memiliki serangkaian lubang yang semakin lebar dan idenya adalah untuk menyebarkan kaki individu itu sejauh mungkin untuk menginduksi kram. Jadi setelah hajaran mereka selesai, kaki mereka dibentang untuk menambahkan penderitaan mereka.

Namun itu tidak menjadi masalah bagi Paulus. Dia sering dipenjarakan dan di akhir kehidupannya di dalam penjara lain dia menulis di Filipi 1:12-14, “Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, 13 sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. 14 Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.”

Kedua, penganiayaan menyebabkan ada nyanyi pujian. Kita tentu tidak pernah mengalami penderitaan seperti ini. Lihatlah sikap mereka dalam keadaan itu. Ayat 25, “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” Mereka ingin tawanan lain itu mendengar mereka, mereka sedang bersaksi. Berdasarkan apa mereka memuji Allah? Karena Allah tidak pernah berubah. Jika Allah patut dipuji sekarang, Dia patut dipuji kapan saja, di setiap saat.

Orang Kristen di kalahkan pada saat dia memusatkan pikirannya kepada masalahnya sendiri. Orang Kristen sering mengatakan dimana Allah itu? Atau, apakah terjadi di dalam hidupku? Apakah Allah telah meninggalkan aku? Jika Anda mau bersabar dan menunggu, Allah sedang menyempurnakan Anda. Jadi mereka sedang menyanyi puji-pujian walaupun kesakitan. Ingatlah 1 Petrus 5:10, “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.”

Hidup orang Kristen bergantung kepada pengetahuanmu tentang Allah. Sikap Kekristenan Anda itu bergantung kepada kepercayaan Anda tentang siapakah Allah itu. Pada saat Anda mengerti siapakah Allah itu, baru Anda dapat melihat segala sesuatu yang lain dalam perspektif yang tepat. Allah tidak berubah. Mereka tidak pernah akan merubah teologi mereka berdasarkan masalah-masalah mereka. Jadi mereka tahu bahwa mereka menderita untuk suatu tujuan tertentu. Mereka bernyanyi saja, menunggukan Allah yang akan melakukan apa yang Dia rencanakan.

Bagaimana Anda dapat memiliki puji-pujian di dalam hati Anda? Efesus 5:18-19 mengatakan, “Hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani.” Itu keluar dari hidup yang dipenuhi Roh, namun meskipun Anda dipenuhi Roh, Anda tetap akan mengalami masalah. Akan tetapi dengan Roh, Anda dapat melewatinya dengan kemenangan. Paulus mengatakan di 2 Korintus 4:17, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.”

Allah selalu memakai apa yang Dia perlukan untuk mencapai keinginan-Nya. Begitulah keadaannya dengan saya. Allah berbicara dengan beberapa orang dan mereka mendengar. Ada orang lain yang perlu Dia hajar melalui berbagai percobaan dan baru setelah itu mereka memberi perhatian. Ayat 26, “Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka.”

Nah itu gempa bumi khusus lokal di penjara itu. dan akibatnya semua pintu terbuka dan semua belenggu terbuka juga. Wah itu luar biasa. Apakah Anda menyadari bahwa saat Anda mengabarkan injil Allah menyertai Anda? Dan ketika waktunya datang dimana Allah akan menyentuh hati yang telah dipersiapkan melalui Anda, itu akan terjadi. Lihatlah Allah menggoncangkan penjara itu sampai semua pintu terbuka dan semua belenggu lepas.

Ayat 27, “Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri.” Jika semua pintu penjara terbuka sendiri, tawanan mana tidak akan melarikan diri? Jadi kepala penjara itu ambil pedangnya untuk membunuh diri, karena dia pikir semua tawanan sudah lari. Ayat 28, “Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: "Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!”

Kita tidak tahu mengapa mereka semua tidak melarikan diri, kecuali Allah membuat mereka menetap disana. Mereka telah mendengar Paulus dan Silas menyanyi kepada Allah dan tiba-tiba Allah menyebabkan ada gempa buni ini. Ayat 29, “Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas.” Nah sekarang siapa yang berkuasa? Lihatlah betapa cepatnya Allah dapat membalikkan situasi. Keselamatan adalah karya berdaulat, itu pekerjaan Allah.

Allah sudah mempersiapkan semuanya. Kepala penjara itu tahu bahwa ia orang terhilang. Dia tahu dia orang berdosa dan dia tersungkur di hadapan Paulus dan Silas. Keselamatan itu pekerjaan Allah dan kita hanya ada disitu untuk menyampaikan injil. Ayat 30, “Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?” Dia tidak mengatakan, bagaimana ini semua terjadi? Allah sudah meyakinkannya secara supranatural.

Ayat 31, “Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.” Dia sudah siap, tidak ada halangan. Itulah pertanyaan yang tepat dan itulah jawaban yang tepat. Ayat 32, “Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya.” Kemudia mereka mengajarkannya perbuatan Yesus Kristus dan siapakah dia dan mereka mengajarkan seluruh rumah tangganya juga.

Apakah itu mengajarkan bahwa jika ada orang yang diselamatkan, seluruh rumah tangganya selamat secara otomatis? Tidak. Mereka semua mendengar berita injil dan percaya. Ayat 34 mengatakan, “Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah.” Keselamatan adalah karena kepercayaan. Bukan karena pergi ke gereja atau mengajar Alkitab.

Orang ini benar-benar diselamatkan. Bagaimana kita tahu? Ayat 33, “Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis.” Bukan saja dia percaya di dalam hatinya, dia juga memperlihatkan komitmennya kepada Kristus dengan membasuh bilur mereka pada malam hari itu. Dia ditransformasikan ketika Allah merubah hidupnya. Lihatlah bagaimana ia tiba-tiba menjadi ramah.

Ayat 34, “Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka.” Kepala penjara ini menempatkan mereka di dalam rumahnya, membersihkan mereka dan memberi makanan kepada mereka. Dia memiliki buah keselamatan. Dan dia juga bersukacita. Tahukah Anda bahwa beberapa saat sebelumnya dia masih mau bunuh diri? Hanya Allah sanggup mentransformasikan orang begitu cepat. Yesus berkata di Yohanes 13:35, “Dengan demikian orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-Ku, jikalau kamu saling mengasihi.”

Keinginan Paulus adalah untuk memelihara orang percaya. Jadi Allah memiliki rencana indah. Lihatlah ayat 35-36, “Setelah hari siang pembesar-pembesar kota menyuruh pejabat-pejabat kota pergi kepada kepala penjara dengan pesan: "Lepaskanlah kedua orang itu!" 36 Kepala penjara meneruskan pesan itu kepada Paulus, katanya: "Pembesar-pembesar kota telah menyuruh melepaskan kamu; jadi keluarlah kamu sekarang dan pergilah dengan selamat!”

Ayat 37, “Tetapi Paulus berkata kepada orang-orang itu: "Tanpa diadili mereka telah mendera kami, warganegara-warganegara Roma, di muka umum, lalu melemparkan kami ke dalam penjara. Sekarang mereka mau mengeluarkan kami dengan diam-diam? Tidak mungkin demikian! Biarlah mereka datang sendiri dan membawa kami ke luar.” Memang dilarang menurut hukum Romawi bagi pemerintah untuk melukai warga negara Romawi. Ayat 38-39, “Pejabat-pejabat itu menyampaikan perkataan itu kepada pembesar-pembesar kota. Ketika mereka mendengar, bahwa Paulus dan Silas adalah orang Rum, maka takutlah mereka. 39 Mereka datang minta maaf lalu membawa kedua rasul itu ke luar dan memohon, supaya mereka meninggalkan kota itu.”

Mereka dapat dipecat dan itu benar-benar menakutkan mereka. Namun itu sangat baik bagi orang Kristen. Sebenarnya Paulus mengatakan, jika kalian menyusahkan orang Kristen saya akan melaporkan kalian kepada Roma. Dia kembali ke Filipi di kemudian hari dan mereka tidak berani berbuat apa-apa. Dan dia meninggalkan Lukas untuk memelihara mereka. Ayat 40, “Lalu mereka meninggalkan penjara itu dan pergi ke rumah Lidia; dan setelah bertemu dengan saudara-saudara di situ dan menghiburkan mereka, berangkatlah kedua rasul itu.” Allah benar-benar mengatur seluruhnya. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu