Jan 01, 2017 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2017
Keselamatan oleh Hukum atau Anugerah?
1 Januari 2017

Ketika kita tiba di KPR 15, injil pada saat itu telah disebarkan ke dunia orang non-Yahudi. Paulus dan Barnabas telah menyelesaikan perjalanan misionaris pertama. Gereja Yerusalem telah mendirikan gereja pertama di dunia orang bukan Yahudi di Antiokhia di Suriah, dan Paulus dan Barnabas mulai menginjili Siprus dan daerah Galatia di Asia Kecil, dan mereka kembali ke Antiokhia dan tinggal disitu bersama murid-murid cukup lama.

Ini perjalanan yang sulit sekali, karena ada pendekatan baru bagi gereja dan suatu pelayanan baru. Ini adalah undangan bagi orang-orang non-Yahudi untuk masuk sepenuhnya ke dalam gereja Yesus Kristus beserta semua janji-janji bagi Israel yang sekarang menjadi milik mereka juga. Rasul Paulus bersama Barnabas bukan saja menginjili namun mereka juga melakukan tindak lanjut. Mereka telah mengorganiser gereja dengan mengangkat para penatua, dan kemudian mereka kembali ke Antiokhia untuk meneruskan pelayanan mereka disana.

Alasannya ada banyak perselisihan di KPR 15, karena sekarang orang-orang non-Yahudi menjadi bagian dari jemaat gereja. Bagi orang Yahudi memang sulit untuk menerima orang-orang bukan Yahudi kedalam gereja. Bagi banyak orang Yahudi di waktu permulaan gereja mereka menganggap Kekristenan itu hanya sebagai sekte Yudaisme saja. Kekristenan itu dianggap bagian dari perkembangan Yudaisme. Bagi mereka Kekristenan itu adalah penggenapan logis karena semua janji-janji kepada Israel terpenuhi dalam kedatangan Mesias.

Dan semakin legalistik orang Yahudi itu, semakin sulit bagi mereka untuk menerima hal ini. Sejak semula Musa telah mengajarkan mereka semua pola hidup mereka dan mereka mengikuti semua hukum itu secara legalistik, upacara dan secara berkorban, sehingga gaya hidup mereka ketat sekali. Dan sekarang ada orang-orang yang bukan Yahudi yang hidup tanpa aturan dan tiba-tiba mereka diberkati dengan cara yang sama dengan orang Yahudi yang biasa hidup ketat.

Jadi orang-orang Yahudi itu sakit hati bahwa bangsa lain diperbolehkan masuk ke dalam gereja dengan hak yang sama, tanpa diharuskan mengikuti Hukum Taurat. Dan mereka juga menyadari bahwa ada jauh lebih banyak bangsa lain dari pada orang Yahudi. Jadi orang-orang Yahudi itu melawan apa yang diajarkan Paulus dan Barnabas, yang menurut mereka meruntuhkan tradisi nenek moyang dan dengan demikian menghancurkan Yudaisme.

Keinginan mereka sebenarnya adalah supaya bangsa lain itu menjadi orang Yahudi dulu. Nah pertanyaan apakah Allah ingin menyelamatkan bangsa–bangsa lain itu tidak menjadi soal lagi, karena itu sudah disebut berkali-kali di Perjanjian Lama. Namun bagaimana Allah akan melakukan hal itu? Bagaimana caranya mereka diselamatkan? Apakah itu karena anugerah saja atau melalui anugerah dan hukum? Apakah karena kepercayaan saja atau melalui iman dan karya? Itulah masalah yang harus ditentukan di sidang Yerusalem.

Dan ini masih menjadi masalah di dalam gereja sekarang dan dengan semua sekte dan semua ajaran sesat lain yang terdapat di dalam kerangka Kekristenan. Kepercayaan-kepercayaan yang palsu itu adalah kepercayaan yang menambahkan sesuatu kepada metode keselamatan dasar Allah. Ini luar biasa karena ajaran yang sesat terpanjang di dalam gereja adalah semua mode keselamatan yang salah dimana mereka menambahkan kepada iman sesuatu yang lain.

Nah ini adalah masalah utama bagi orang Kristen, karena jika kita tidak tahu bagaimana kita diselamatkan, kita tidak mengerti dasar Kekristenan itu. Bisa saja saya ada kesalahan dalam doktrin Roh Kudus, bisa saja saya salah dalam doktrin zaman akhir, eskatologi, bisa saja saya salah dalam doktrin eklesiologi, yaitu gereja, dan bisa saja saya salah menterjemahkan Firman, namun jika saya salah dalam doktrin keselamatan, saya tidak akan masuk ke sorga, benar?

Dan saya untuk selamanya di neraka akan mencoba mengingat doktrin itu. Itulah masalah kritis di KPR 15. Nah saya ingin membagikan empat ciri atau kejadian dan kami akan membicarakan dua kejadian hari ini dan dua lagi di minggu berikut. Pertama ada pertikaian, kemudian ada diskusi, dan minggu depan kami akan membicarakan keputusan, dan setelah itu perkembangan.

Jadi marillah kita pertama melihat pertikaian itu di KPR 15:1, “Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.” Nah ini adalah guru-guru palsu. 2 Petrus 2:1 mengatakan, “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat, dan dengan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.”

Mereka mencoba untuk memaksakan orang-orang bukan Yahudi untuk disunat. Nah saudara-saudara di ayat 1 adalah orang percaya di Antiokhia, dan beberapa orang datang sebagai malaikat terang untuk membenarkan orang percaya itu di Antiokhia. Sebenarnya mereka adalah utusan Setan yang mengajar ajaran yang salah, mereka mengangkat diri mereka untuk mempertahankan legalisme. Ada yang mengatakan bahwa mereka mengikuti perjalanan Paulus dan Barnabas dan mengunjungi setiap kota yang telah didatangani pada perjalanan misi mereka.

Itu bisa terjadi karena ketika Paulus menulis kepada orang Galatia, seluruh buku tu ditulis untuk menjawab pertanyaan yang sama itu. Pada waktu Galatia ditulis, sebelum ada sidang Yerusalem, itu ditulis kepada semua gereja-gereja yang telah mereka kunjungi, untuk membenarkan ajaran salah itu. Guru-guru palsu itu bersemangat sekali untuk berjalan kaki ke mana-mana di pegunungan Taurus itu.

Nah disini ada potensi bencana besar, karena memaksakan legalisme kepada orang-orang non-Yahudi itu bisa menyebabkan ada kerusakan total. Untuk memaksakan hukum sunatan, itu dikenal sebagai Yahudisasi. Istilah itu berarti memaksakan kepada orang non-Yahudi sesuatu upacara yang datang dari Yudaisme.

Nah Paulus memberikan kami suatu ringkasan di Galatia 2:21, “Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.” Jika kita memiliki kebenaran melalui hukum, kita tidak perlu ada anugerah. Dengan kata lain jika aku pergi ke pengadilan dan hakim mengatakan saya tidak bersalah, saya tidak memerlukan anugerah, benar? Namun jika hakim mengatakan aku bersalah, namun Anda dibebaskan, itu adalah anugerah. Dan setiap orang bersalah. Kita semua telah melanggar hukum, dan hanya anugerah sanggup menyelamatkan kami.

Jadi rasul Paulus itu jelas, dia mengatakan tidak ada hubungan diantara hukum dan anugerah. Tidak ada seorangpun yang dapat menyelamatkan diri melalui hukum, yang dilakukan hukum adalah menunjukkan betapa buruknya sifat Anda. Tidak ada seorangpun yang dibenarkan oleh hukum, hanya oleh anugerah, dan jika Anda menggabungkan keduanya Anda menghancurkan anugerah. Allah menyatakan semua orang adalah pendosa, dan kemudian memberi anugerah kepada mereka yang percaya.

Itu masalahnya di Antiokhia. KPR 15:2, “Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.” Disini datanglah orang-orang yang dikatakan orang percaya ke Antiokhia, dan lihatlah apa yang mereka tidak mau melakukan. Hal pertama, mereka menolak untuk makan bersama dengan bangsa lain itu.

Di Galatia 2 Paulus cerita apa yang dilakukan Petrus. Petrus berada di Antiokhia juga pada waktu orang-orang Yahudisasi itu muncul, yang percaya orang harus disunat dulu untuk diselamatkan. Galatia 2:11-12, “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. 12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.”

Jadi rasul Paulus benar-benar mengritik Petrus. Galatia 2:14, “Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Petrus di hadapan mereka semua: "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” Paulus melihat mulai ada perpecahan diantara orang Yahudi dan bangsa lain, bahkan seluruh buku Galatia ditujukan kepada cara untuk memulihkan hal itu.

Jadi soal itu harus diselesaikan, jadi mereka memutuskan untuk pergi ke Yerusalem. Nah pemimpin gereja adalah para rasul, dan penatua adalah pemimpin-pemimpin yang tinggal di satu tempat, dan pemimpin Yerusalem adalah Yakobus, saudaranya Tuhan kita sendiridan penulis buku Yakobus. KPR 15:3, “Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara disitu.”

Mereka adalah orang-orang percaya dari Stefanus dan Filipus, Petrus dan Yohanes dan mereka tidak terpengaruh legalisme, jadi mereka hanya bersukacita dan mereka diberi dukungan kemana saja mereka pergi. Mereka bukan saja disetujui gereja Antiokhia namun sekarang juga gereja-gereja Fenisia dan Samaria setuju untuk menerima orang-orang bukan Yahudi oleh karena anugerah melalui iman.

KPR 15:4, “Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka.” Wah itu laporan yang panjang juga. Para rasul menceritakan kemenangan yang berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Namun setelah mendengar semua informasi itu, partai sunat itu mulai marah. Ayat 5, “Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa.”

Nah pertikaian ini menyebabkan ada diskusi, lihatlah ayat 6, “Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.” Nah disini kami bertemu dengan pidato pertama dari tiga pidato di sidang itu dari Petrus, Paulus dan Yakobus. Ketiga pidato ini mendukung anugerah tanpa ditambah apa-apa, dan mereka menjelaskan bagi kita, salah satu bagian yang terpenting di seluruh Firman Allah yang membuktikan keselamatan melalui anugerah oleh iman.

Nah ayat 11 memberikan kami pandangan Petrus, “kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.” Dia tidak berbicara bagi dia sendiri, para rasul dan penatua telah mengadakan suatu pertemuan sendiri dan hasil pertemuan itu adalah pernyataan ini. Satu-satunya yang kita lihat disitu adalah anugerah, yang adalah hadiah gratis dari Allah yang kami tidak patut terima.

Nah dengan pernyataan dari para rasul dan penatua, mereka mulai membuktikan bahwa yang diperlukan hanya adalah anugerah. Petrus memberi beberapa bukti, Paulus menambahkan beberapa dan Yakobus menyelesaikannya. Poin pertama, keselamatan oleh anugerah terbukti oleh wahyu lalu. Lihatlah ayat 7, “Sesudah beberapa waktu berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya.”

Petrus mengatakan bahwa masalah ini sudah diselesaikan paling sedikit sepuluh tahun yang lalu. Anda tahu bahwa Allah memilih aku untuk mengabarkan injil ke bangsa lain dan mereka percaya, dan itu saja Allah minta, Allah tidak memaksakan mereka disunat. Jadi Petrus mengingatkan mereka bahwa prinsip dasar keselamatan oleh iman sudah ditentukan dengan Kornelius, paling sedikit sepuluh tahun yang lalu.

Bukti kedua adalah hadiah Roh Kudus. Ayat 8-9, “Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, 9 dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman.” Apakah Allah memberikan Roh Kudus kepada orang yang tidak percaya? Tidak, hanya kepada mereka yang percaya. Apakah Allah tahu maksud mereka? Iya, Petrus mengatakan, “Allah mengenal hati manusia.”

1 Korintus 6:19, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?” Roma 8:9 mengatakan, “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Faktanya mereka menerima Roh berarti mereka adalah orang yang benar-benar percaya.

Hal ketiga, menyucikan dari dosa, ayat 9, “sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman.” Allah tidak menghapuskan dosa-dosa dari orang yang belum dikonversi, benar? Karena Allah menyucikan hati mereka oleh iman, itu berarti bahwa iman itu sudah cukup. Semuanya sudah diselesaikan jika Allah menyucikan mereka. Efesus 1:7 mengatakan, “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya.” Kita tidak dapat bekerja untuk mendapat pengampunan dosa.

Kemudian Petrus menunjukkan bukti lain bahwa keselamatan itu hanya karena anugerah bebas saja. Dia mengatakan di ayat 10, “Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?” Jangan mencobai Allah dan jangan mempertanyakan Allah, keputusan-Nya dalam penyelamatan itu terakhir. Janganlah membebankan tengkuk bangsa lain dengan kuk (Hukum Taurat) yang kami sendiri tidak sanggup memikul.

Di Matius 23:4, Yesus menerangkan apa yang dilakukan orang Farisi dengan hukum itu, “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” Coba bandingkanlah ini dengan perkataan Yesus di Matius 11:29-30, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Ayat 11, “Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.” Bukti terakhir diberikan dengan dengan pidato singkat oleh Paulus. Bukti terakhir untuk keselamatan oleh anugerah yang kita akan bicarakan adalah mujizat-mujizat dari Allah. Ayat 12, “Maka diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain.”

Allah tidak mengkonfirmasi doktrin yang salah dengan mujizat-mujizat. Paulus dan Barnabas berkeliling memberitakan keselamatan oleh anugerah dan iman. Dan Allah menegaskan pesan mereka dengan mujizat-mujizat. Allah tidak menegaskan orang Yahudisasi dengan mujizat. Tetapi dimana Paulus dan Barnabas berkhotbah anugerah dengan iman, mereka mengalami mujizat demi mujizat.

Dengarkanlah Markus 16:19-20, “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 20 Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya.” Efesus 2:8-9, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu