Nov 13, 2016 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2016
Kualitas Hamba yang Baik
13 November 2016

KPR 14 pada mulanya berhubungan dengan kualitas-kualitas hamba Kristus yang baik di tempat mana saja, bukan hanya untuk misionaris saja. Tetapi karena bagian ini berhubungan dengan Paulus dan Barnabas pada perjalanan misionaris pertama, patutlah kami mempelajari kualitas-kualitas itu. Dan rencana Allah adalah untuk menggunakan orang-orang yang benar sesuai dengan kualitas-kualitas-Nya untuk tugas-tugas yang paling penting.

Jadi jika kami sebagai orang Kristen menanyakan diri kita mengapa kita tidak diminta ikut dalam hal-hal yang Allah sedang lakukan, mungkin kita masih belum memenuhi persyaratan-Nya. Allah ingin memakai orang yang paling memenuhi syarat untuk melakukan hal-hal karena hasil itu pada akhirnya kekal signifikan. Dan disini kita temukan dua orang yang super berkualitas. Nah, ada paling sedikit delapan kualifikasi yang terdapat di bab ini dan kita akan mempelajarinya di dalam minggu-minggu berikut ini.

Biarlah saya mengatakan ini pada mulanya bahwa Anda bisa membaca KPR 14 dan tidak pernah mendengar salah satu kualifikasipun. Namun ini semua diambil dari cerita ini. Bab ini adalah tentang Paulus dan Barnabas yang pergi dari Ikonium ke Listra ke Derbe dan balik lagi. Dan sementara mereka melakukan itu, mereka berkhotbah dan menyebabkan ada tantangan dan dalam membicarakan kisah ini, mereka menunjukkan kedelapan kualifikasi untuk pelayanan misi yang efektif itu.

Sekarang perhatikanlah, ini adalah bab dimana Paulus memperlihatkan itu tanpa mengatakan satu katapun dan kita akan melihat itu keluar dari halaman itu. Jadi disini kita melihat mereka waktu mereka mempraktekkannya, bukan hanya berbicara tentang hal itu namun dengan melakukan itu. Kualitas pertama yang menyebabkan ada kesaksian Kristus yang efektif adalah dengan menggunakan pelayanan karunia roh. Nah ini ditunjukkan secara umum di seluruh KPR 14 dan kita akan melihat itu pada umumnya secara keseluruhan.

Minggu lalu, kami melihat bahwa mereka pergi ke Antiokhia di Galatia dan disana mereka berkhotbah tentang Kristus dan menyebabkan ada kerusuhan. Kemudian mereka diusir keluar Antiokhia, jadi mereka berjalan lebih lagi masuk ke Asia Kecil ke kota bernama Ikonium. Kita melihat mereka di KPR 14:1 pada waktu mereka tiba di kota itu mereka membawa Injil ke dunia yang tidak kenal Yesus dan mereka menggunakan karunia roh mereka. Setiap orang Kristen pada saat diselamatkan menerima karunia roh.

Karunia Roh itu bukan suatu kemampuan alami. Itu bukan sesuatu yang dilatih memakai kekuatan sendiri. Itu adalah saluran melalui Anda yang dipakai Roh Kudus untuk melayani orang lain. Ada berbagai macam karunia roh terdaftar di 1 Korintus 12 and di Roma 12 dan semua orang percaya harus tahu mereka memiliki karunia roh apa karena begitulah caranya Allah menggunakan Anda. Nah karunia roh pertama yang digunakan Paulus dan Barnabas adalah karunia berkhotbah.

KPR 14:1 mengatakan, “Di Ikoniumpun kedua rasul itu masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya.” Disini mereka memakai karunia berkhotbah, yaitu kemampuan yang diberi Roh untuk mengabarkan Injil dengan jelas dan berkuasa. Di ayat 21, “Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu (kota Derbe) dan memperoleh banyak murid.” Disini mereka sekali lagi menggunakan karunia berkhotbah.

Namun mereka memiliki karunia roh lain juga, mereka memiliki karunia mengajar juga. Perhatikanlah ayat 21 lagi, “Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu (kota Derbe) dan memperoleh banyak murid.” Ayat 22, “Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu.” Satu-satunya cara untuk menguatkan hati seseorang adalah dengan mengajarkan mereka ajaran-ajaran Alkitabiah. Jadi mereka disitu menunjukkan lagi karunia mengajar mereka.

Ketiga, mereka memiliki karunia roh lain, yaitu karunia nasihat atau karunia penguatan. Ada kalanya itu dipamerkan di depan umum. Kadang-kadang itu dipamerkan secara pribadi dalam konseling. Ini adalah kemampuan untuk mendorong seseorang untuk mengejar tindakan tertentu. Jadi pertama mereka mengabarkan injil, kemudian mereka mengajarkan doktrin, sesudah itu mereka mendorong orang untuk mengikuti apa yang mereka baru belajar. Perhatikanlah ayat 22, “dan menasihati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman.”

Mereka juga memiliki karunia administrasi. Alkitab mengatakan itu adalah kemampuan untuk menyatukan banyak potongan supaya semua itu berfungsi. Perhatikanlah ayat 23, “Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka.” Mereka kembali setelah mereka sudah pergi dari kota-kota itu dan mengorganisir gereja di setiap kota itu pada waktu mereka kembali.

Itu semua karunia-karunia kepemimpinan dan karunia-karunia seperti itu masih dimiliki pendeta-guru dan evangelis di masa kini. Itu adalah karunia-karunia yang diperlukan pendeta-pendeta yang mengajar untuk mengabarkan injil, untuk mengajar doktrin. untuk menguatkan orang supaya mereka mengikutinya dan untuk mengatur supaya semuanya berfungsi baik di dalam tubuh Kristus. Nah itu semua karunia permanen.

Ada juga karunia khusus hanya bagi para Rasul yang sudah tidak ada lagi sekarang. Di 2 Korintus 12:12 dikatakan, “Segala sesuatu yang membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan kuasa-kuasa.” Inilah karunia mujizat. Itu merupakan karunia sementara untuk menegaskan khotbah mereka karena Perjanjian Baru masih belum lengkap pada saat itu.

Nah ini masalahnya bukan soal, “Wah saya ingin Allah memakai karunia-karunia aku.” Itu semua sudah berfungsi dengan karunia-karunia Anda kemudian itu dipindahkan Allah ke dalam situasi yang kritis. Petrus pergi kemana-mana dan melakukan banyak hal. Allah menggunakan orang yang sedang memakai karunia roh mereka secara aktif. Dan Roh Allah akan mengutus Anda ke tempat-tempat strategis itu supaya karunia–karunia itu bisa dipakai secara maksimal.

Sejak waktunya Paulus dikonversi, dia mulia melayani. Dikatakan disitu begitu dia diselamatkan dia mulai berkhotbah di Damsyik dan dia tidak pernah berhenti berkhotbah dan mengajar. Ketika Barnabas mencari orang baik yang dapat menolongnya di Antiokhia, dia ingin seseorang yang sudah berfungsi seperti itu. Dan dia menemukan Saulus dan menjadikannya pendeta bersama. Karena Roh Allah selalu mengumpulkan orang-orang yang sudah berfungsi dalam bidang itu.

Jika Anda memiliki karunia roh, gunakanlah itu. Itu adalah permulaan pelayanan yang efektif. Nah ada kualifikasi kedua yang timbul dari ayat-ayat tujuh pertama ini, yaitu keberanian. Kita perlu diperingatkan bahwa keberanian adalah unsur dasar di pengalaman orang Kristen. Marilah kita mulai denga melihat ke ayat 1 dan mengikuti pola keberanian yang ditunjukkan di kota Ikonium.

Ikonium kira-kira 160 kilometer disebelah tenggara Antiokhia, Ingatlah mereka dikeluarkan tetapi mereka tidak menyerah dan berhenti. Mereka tetap tinggal dimana mereka berada dan mengikuti jalan yang dipimpin Roh Allah dan mereka tiba di Ikonium. Ayat 1, “Di Ikoniumpun kedua rasul itu masuk ke rumah ibadat orang Yahudi, lalu mengajar sedemikian rupa, sehingga sejumlah besar orang Yahudi dan orang Yunani menjadi percaya.”

Kita melihat lagi bahwa Paulus pergi ke orang Yahudi karena dia mengasihi mereka dan dia tahu disitu ada penonton yang siap dipakai. Dan dia tahu juga kalau seandainya ada beberapa orang Yahudi yang diselamatkan, mereka bisa menolong dia memenangkan orang non-Yahudi. Wah mereka kedua-duanya berkhotbah dengan hasil yang luar biasa besar. Orang-orang percaya, namun kita tidak tahu apakah mereka beriman terus dan benar-benar selamat. Polanya sampai sekarang adalah pergi ke sinagog dan mulainya bagus sekali. Dan setelah itu langsung ada masalah.

Ayat 2, “Tetapi orang-orang Yahudi, yang menolak pemberitaan mereka, memanaskan hati orang-orang yang tidak mengenal Allah dan membuat mereka gusar terhadap saudara-saudara itu.” Jadi orang Yahudi yang tidak percaya, yang tidak taat, menghasut orang-orang non-Yahudi untuk melawan para Rasul. Dan semua orang yang percaya, dan ternyata ada beberapa yang diselamatkan, dan mereka dipanggil saudara-saudara.

Ayat 3, “Karena itu mereka (Paulus dan Barnabas) tinggal beberapa waktu lamanya di situ. Mereka mengajar dengan berani, karena mereka percaya kepada Tuhan. Dan Tuhan menguatkan berita tentang kasih karunia-Nya dengan mengaruniakan kepada mereka kuasa untuk mengadakan tanda-tanda dan mujizat-mujizat.” Nah, istilah “beberapa waktu lamanya” dalam bahasa Yunani dipakai di tempat lain untuk membicarakan waktu diantara satu bula sampai tiga tahun. Jadi mereka diam disitu dan terus berkhotbah dan mengajar dengan berani di dalam kuasa Tuhan.

Mereka tahu kebencian itu sedang bertumbuh. Namun mereka dengan berani sekali terus berkhotbah. Suatu kualitas yang menjadi perbedaan besar adalah kualitas ketidaktakutan itu. Itu adalah mendeklarasikan kebenaran dalam menghadapi oposisi. Paulus malah tidak tahu bagaimana hidup dengan cara lain. Dia memiliki komitmen besar untuk keberanian. Keberanian itu harus ada untuk pelayanan efektif.

“Jadi bagaimana Tuhan memberi kesaksian?” Dengan mujizat-mujizat itu. Mereka berkhotbah dan Tuhan memberikan mereka kuasa untuk melakukan mujizat sampai orang-orang percaya, jadi Tuhan memberi kesaksian dengan tanda-tanda. Itu menunjukkan kuasa Allah. Ini adalah karunia mujizat pada waktu Tuhan menegaskan Firman anugerah itu. Jadi kota itu mulai memilih pihak. Dan semakin lama mereka tinggal disana, semakin kota itu mempolarisasikan diri.

Ayat 4, “Tetapi orang banyak di kota itu terbelah menjadi dua: ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada kedua rasul itu.” Paulus dan Barnabas membelah kota itu menjadi dua. Mereka menyebabkan ada pihak orang percaya dan pihak orang tidak percaya yang terpolarisasi secara ekstrim dan keadaannya seperti sebuah periuk membara yang sudah siap meledak. Yesus mengatakan di Matius 12, “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku.” Bahkan Yesus mengatakan di Matius 10, “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.”

Ayat 5, “Maka mulailah orang-orang yang tidak mengenal Allah dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka menimbulkan suatu gerakan untuk menyiksa dan membunuh kedua rasul itu dengan batu.” Orang bukan Yahudi tidak pernah membunuh orang dengan batu. Ini adalah cara eksekusi orang Yahudi berhubungan dengan penghujatan. Jadi orang Yahudi meyakinkan orang-orang non-Yahudi untuk ikut serta dan seluruh massa datang untuk membunuh Paulus dan Barnabas.

Ayat 6-7, “Setelah rasul-rasul itu mengetahuinya, menyingkirlah mereka ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. 7 Disitu mereka memberitakan Injil.” Allah ingin ada hamba-hamba yang hidup dan berani dan sudah terang mereka tidak perlu tinggal disitu. Pelayanan mereka sudah selesai disitu. Jadi mereka meninggalkan tempat itu.

Namun Paulus meninggalkan kesan di kota itu, ada deskripsi Paulus dari Ikonium yang mengatakan, “Dia seorang pria kecil dengan alis rapat, yang hidungnya agak besar, kepalanya botak, kakinya busur, badannya kuat, penuh anugerah, karena kadang-kadang ia tampak seperti manusia dan kadang-kadang ia memiliki wajah malaikat.” Nah, kita tidak tahu apakah ini semua benar, namun dia diingat orang di kota itu.

Mereka hanya pergi sejauh 25 kilometer ke tempat yang dinamakan Listra. Dan mereka menuju ke tempat yang salah dengan menjauhkan diri dari kebudayaan. Semakin ke arah timur mereka pergi semakin jauh mereka dari garis pantai dan kota Perga, dan semakin berbahaya keadaannya. Ada hakim-hakim yang korup, penduduk yang bertakhayul, dukun-dukun yang bermusuhan, orang Yahudi yang memberontak dan hukum Romawi yang diabaikan. Namun mereka pergi karena diutus Roh Kudus untuk memberitakan Kristus.

Kualifiaksi ketiga adalaj kuasa. Setiap orang Kristen yang efektif, setiap misionaris yang efektif, akan mengalami kuasa Allah yang mengalir bebas. KPR 1:8 mengatakan, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu.” Apakah setiap orang Kristen memiliki Roh Kudus? Iya. Apakah setiap orang Kristen memiliki kuasa? Iya. Apakah setiap orang Kristen memiliki kuasa yang mengalir bebas? Tidak. Namun mereka memiliki itu.

Lihatlah contoh di ayat 8, “Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak ia dilahirkan dan belum pernah dapat berjalan.” Sejak lahir dia belum pernah berjalan. Transportasi di waktu itu tidak gampang jadi kemungkinan besar dia bertumbuh disitu. Semua orang tahu dia adalah si cacat kota. Namun dia mendengar pembicaraan Paulus tentang Kristus.

Ayat 9, “Ia duduk mendengarkan, ketika Paulus berbicara. Dan Paulus menatap dia dan melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan.” Allah sedang bekerja di hati orang itu. Dia mendengar dan Paulus terus memperhatikan dia. Dari semua orang disitu, Paulus terus menatap orang lumpuh itu. Orang lumpuh itu ada dimana-mana namun Roh Allah menarik perhatian Paulus langsung kepada orang itu. Dan dikatakan bahwa Paulus “melihat, bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan.”

Paulus sebagai rasul diberikan karunia penyembuhan dan Paulus melihat disitu ada kesempatan di dalam kuasa Allah untuk menegaskan khotbahnya. Tiba-tiba ayat 10, “Lalu kata Paulus dengan suara nyaring: "Berdirilah tegak di atas kakimu!" Dan orang itu melonjak berdiri, lalu berjalan kian ke mari.” Nah itu benar suatu ujian iman untuk orang lumpuh itu. Mula-mula ia melonjak, terus berjalan. Orang itu langsung berdiri dan mulai berjalan.

Disini Paulus ditengah penyampaian khotbahnya, sementara melayani dengan karunia rohnya, Roh Allah sanggup mengalir untuk mencapai mujizat luar biasa melalui kuasa itu. Ini suatu ilustrasi lain bagaimana dalam pola hidup abdi Allah, kuasa Roh itu bebas untuk melakukan apa saja. Nah inilah jenis kuasa yang kita bicarakan sekarang. Ditengah-tengah melakukan sesuatu, kuasa Allah dapat melakukan hal yang lain.

Bagaimana kita pernah dapat mengalami kuasa macam itu? Ini mengenai soal pengakuan bersalah. Apakah satu-satunya hal yang menghalang ada kuasa itu? Dosa, dan dosa itu perlu diakui. Kita harus mengaku dosa kita secepat mungkin setelah kita berbuat dosa itu. Itu akan membersihkan saluran berkat itu. Jika Anda menyembunyikan dosa, Anda menyumbat saluran itu. Orang Kristen yang begitu sensitif terhadap dosa sehingga pada saat ada dosa, langsung dosa itu diakui, itulah orang dimana kuasa itu mengalir dengan bebas didalamnya.

Kami tidak sanggup melakukan mujizat seperti itu. Kami tidak memerlukan penegasan seperti itu. Kami memiliki Firman Allah, namun Allah ingin mengekspressikan kuasa-Nya melalui kita. Kuasa-Nya dalam bersaksi, kuasa-Nya dalam berdoa, kuasa-Nya dalam karunia Roh-Nya, dan dalam kuasa-Nya menyelesaikan pelayanan yang diberikan kepada kami dan Dia ingin supaya kuasa-Nya mengalir bebas. Dan itu semua terdapat dengan hidup secara harmonis yang konstan dengan Roh Kudus dan dalam pengakuan dosa terus menerus.

Dengarkanlah apa yang dikatakan Paulus di Efesus 3:20, “Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.” Jadi Anda juga memiliki kuasa itu. Efesus 3:19 mengatakan bahwa kita dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Itu adalah kuasa, dan biarlah itu mengalir. Abdi Allah adalah efektif dalam melayani karunia roh, keberanian dan kuasa. Semoga itu terjadi dengan Anda dan saya. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu