Sep 25, 2016 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2016
Paulus berkhotbah Yesus
25 September 2016

Lihatlah Mazmur 2, yang adalah mubuatan Perjanjian Lama yang memberitahukan kami bagaimana sejarah akan mencapai puncaknya di dalam Yesus Kristus, “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? 2 Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya: 3 "Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!" 4 Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. 5 Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murka-Nya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarah-Nya: 6 "Akulah yang telah melantik raja-Ku di Sion, gunung-Ku yang kudus!”

7“Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. 8 Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. 9 Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk." 10 Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! 11 Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kaki-Nya dengan gemetar, 12 supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murka-Nya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!”

Mazmur ini menerangkan bahwa Allah mengontrol sejarah, dan sejarah menemukan resolusi di dalam Yesus Kristus. Nah sekarang lihatlah KPR 13:14-23 dimana kita akan melihat bagaimana Kristus disampaikan oleh Paulus seba-gai puncak, tujuan dan klimaks sejarah. Marilah kita mempertimbangkan bagian pertama dari khotbah Paulus yang pertama kali dicatat. Paulus pada saat itu sudah berkhotbah bertahun-tahun, namun ini khotbah pertama di Firman Allah.

Jadi di KPR 13 kami melihat khotbah katalis ketiga di Perjanjian Baru. Ada sesuatu yang baru dan menarik yang mulai dan khotbah Paulus adalah intinya. Ini adalah catatan terpanjang dari khotbahnya meskipun itu hanya beberapa kutipan dari khotbahnya. Nah gereja sudah berkembang dari Yerusalem sampai ke Yudea dan Samaria.

Banyak orang diselamatkan di kota Antiokhia di Suriah dimana terdiri satu gereja. Barnabas menjadi pendetanya namun dia tidak sanggup melayani mereka sendirian. Jadi dia mencari Saulus dan bersama-sama mereka berkhotbah selama satu tahun. Ada tiga pemimpin lain yang datang dari gereja itu. Mereka tercantum di KPR 13:1, yaitu Simeon, Lukius dan Menahem.

Jadi ada lima penatua yang memimpin dan jemaat itu terus berkembang dan dipenuhi Roh. Kemudian Allah berkata, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka,” dan gereja itu menumpangkan tangan kepada mereka dan mendukung mereka. Pergilah,” dan mereka membiarkan Paulus dan Barnabas pergi untuk menjangkau dunia.

Jadi tempat pertama mereka pergi adalah ke rumah Barnabas di Siprus. Mereka mengabarkan Injil disana dan mereka mengalahkan Setan karena mereka dipenuhi Roh Kudus. Mereka langsung bertentangan dengan Elimas, tukang sihir itu, tentang jiwa Sergius Paulus. Namun mereka menang karena dia percaya.dan dia diselamatkan. Hal-hal besar mulai terjadi dan mereka mulai perjalanan misi pertama mereka.

KPR 13:13, “Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem.” Ini berarti bahwa mereka naik kapal menyebrang Mediterania ke arah utara, dan mereka mendarat di tempat kecil bernama Pamfilia, dan 10 kilometer lagi adalah Perga. Nah, seluruh daerah itu dinamakan Galatia, dan ketika Paulus menulis kepada orang Galatia, itu ditujukan kepada semua kota di daerah itu.

Jadi pada permulaan mereka pergi ke Siprus yang adalah tempat asal Barnabas, kemudian mereka pergi ke Asia Kecil di daerah Galatia dan mendarat di Pamfilia di pesisir. Sekarang ada catatan bahwa Yohanes, yang adalah Yohanes Markus, meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem. Inilah Yohanes Markus, penulis Injil Markus. Mungkin saja dia ketakutan untuk menyebrangi Pegunungan Taurus yang berbahaya itu.

Ayat 14, “Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ.” Nah inilah bukan kota Antiokhia di Suriah. Perhatikanlah bahwa Alkitab mengabaikan salah satu perjalanan yang paling sulit bagi gereja mula-nula dengan pernyataan yang sederhana, “Dari Perga mereka pergi dan sampai ke Antiokhia.” Perjalanan itu sangat berat karena itu tingginya 1100 meter di pegunungan Taurus dan jaraknya lebih dari 160 kilometer jauhnya.

Nah Antiokhia itu adalah suatu koloni yang dibangun oleh Agustus, yang adalah pusat administrasi Galatia Selatan. Itu adalah kota yang paling penting di daerah Asia Kecil. Dan banyak orang Yahudi tinggal disana. Mengapa Paulus tidak berkhotbah di Perga? Kemungkinan besar dia sakit sekali di Perga, dan itu ditunjukan di Galatia 4:13, “Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh karena aku sakit pada tubuhku.” Dengan kata lain, “Pada mulanya saya datang ke Galatia, saya sangat sakit.”

Kemudian di Galatia 4:14 dikatakan, “Sungguhpun demikian keadaan tubuhku itu, yang merupakan pencobaan bagi kamu, namun kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang hina dan yang menjijikkan, tetapi kamu telah menyambut aku, sama seperti menyambut seorang malaikat Allah, malahan sama seperti menyambut Kristus Yesus sendiri.” Apapun alasannya, dia tidak berkhotbah disana, namun dia menjalani sebuah perjalanan yang sangat berbahaya. Paulus itu memiliki ketabahan, tekad dan keberanian yang jarang ditemukan di orang, dan dia menekan terus ke Antiokhia bersama dengan Barnabas.

Alexander Besar ingin bergabung dengan Parminio di Frigia. Jadi dia harus menyebrang Pegunungan Taurus itu; dan dia mengatakan bahwa bagian terberat dari kampanyenya adalah melewati pegunungan ini, khususnya untuk mengalah-kan suku-suku tanpa hukum ini yang hanya mencuri dan membantai orang yang berani datang kesitu untuk lewat. Paulus tidak pernah melupakan perjalanan itu.

Di 2 Korintus 11:26-27, dia mengatakan, “Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. 27 Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian.” Hampir semua itu terjadi di pegunungan Taurus itu.

Paulus pergi ke sinagog itu karena disitu penonton sudah tersedia. Ditambah itu bagi para pegunjung ke sinagog itu sudah menjadi kebiasaan ada hak untuk berbicara. Dan karena dia memenuhi syarat dalam Perjanjian Lama, banyak orang pada permulaan akan menerima apa yang dia katakan, setidaknya sampai ia memperkenalkan mereka kepada Kristus. Dan alasan utama dia pergi ke sina-gog adalah karena dia mengasihi orang Yahudi dan ingin menyelamatkan Israel.

Di Roma 10:1 Paulus mengatakan, “Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan,” jadi dia mengasihi orang Yahudi. Anda berkata, “saya memikir orang-orang Yahudi sudah dising-kirkan.” Iya, sebagai suatu bangsa, namun tidak secara individual. Jadi dia pergi bersama Barnabas dan duduk disitu. Itu hari Sabat. Ayat 15, “Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat menyuruh bertanya kepada mereka: "Saudara-saudara, jikalau saudara-saudara ada pesan untuk membangun umat ini, silahkanlah!”

Sinagog orang Yahudi ortodoks sekarang juga mengikuti kurang lebih pola yang sama seperti ini. Hal pertama adalah pembacaan S H E M A, yaitu Ulangan 6:4-9. Setelah itu ada doa-doa. Kemudian Firman dibacakan dan itu selalu dari dari Pentateukh dan itu dibagi selama waktu tujuh tahun. Sesudah itu dibacakan para Nabi dan itu juga dinamakan haftorah, dan itu juga dibagikan tujuh tahun.

Kemudian sesudah itu akan ada instruksi dan ajaran, dan jikalau ada tamu yang kompeten, dia diundang untuk berbicara. Dan kebetulan ada Paulus dan Barnabas disitu dan Paulus memang cakap benar. Mereka mungkin telah memperhatikan karakter Yahudinya. Apapun juga, mereka menyadari dia adalah seorang guru. Dan dia dihormati sebagai mantan anggota Sanhedrin. Entah bagaimana mereka menyadari hal itu, namun kita tidak tahu bagaimana.

Paulus hanya tunggu Roh Allah, dan Allah memberikannya kesempatan itu. Ayat 16, “Maka bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata: “Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengar-kanlah!” Kita dapat belajar sesuatu disini, yaitu jika ada pengkhotbah yang berdiri di tempat Kristus, ia memiliki hak untuk menarik perhatian orang-orang. Ada hak untuk mengatakan, “Inilah waktunya Tuhan. Dengarkanlah karena apa yang saya katakan itu adalah Firman Allah.”

Paulus mulai khotbahnya dengan Allah, “Allah umat Israel.” Nah kedua tokoh utama dalam khotbah ini adalah Allah dan Yesus. Allah benar-benar mendomi-nasikan hal ini. Contoh, di ayat 17, Allah memilih, Allah memimpin keluar. Di ayat 18, Allah sabar. Ayat 19, Allah membinasakan dan Allah membagikan. Ayat 20, Allah memberikan. Ayat 21, Allah memberikan. Ayat 22, Allah menyingkirkan, Allah mengangkat, dan Allah menyatakan. Ayat 23, Allah membangkitkan dll.

Yesus disebut satu kali saja di ayat 23. Judul khotbah ini sebenarnya adalah, “Allah memperkenalkan Yesus.” Ayat 23 adalah pernyataan kunci yang menghubungkan semua hal, “Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus.” Yesus harus disampaikan oleh seseorang yang mereka menghormati, benar? Dan yang mereka hormati diatas segala-galanya adalah Allah Israel.

Nah, ada tiga bagian dari khotbah ini: puncak sejarah, penggenapan nubuatan dan pembenaran orang berdosa. Pertama Yesus adalah puncak sejarah dan itulah yang kita ingin pelajari sekarang. Salah satu pertanyaan yang dihadapi semua orang adalah pertanyaan, “Kemana sejarah itu pergi?” Apakah artinya hidup ini? Apakah kita hidup untuk mati begitu saja? Maksudku, apakah ini saja yang ada? Apakah ada orang yang pergi ke suatu tempat lain?

Memang Dostoyevsky itu benar, “Jika tidak ada Allah, tidak ada tujuan hidup. Jika tidak ada tujuan, semuanya diperbolehkan. Dan jika semuanya diperboleh-kan, kita ini bencana.” Iya ada orang yang memikir bahwa sejarah itu hanya sebuah pengulangan tak berujung dari kejahatan, dan sebenarnya tidak pernah ada kejahatan yang baru. Namun Alkitab mengatakan bahwa sejarah menuju ke suatu tempat. Dan setiap orang Yahudi dalam sinagog itu tahu bahwa puncak sejarah itu adalah kedatangan Mesias.

Allah itu Allah yang ingin ada persekutuan dan Dia ingin dimuliakan. Demi persekutuan itu dan demi kemuliaan-Nya, Dia menciptakan mahluk-mahluk yang dapat bersekutu bersama-Nya dan yang memuliakan-Nya. Namun di taman Eden manusia mencari jalan sendiri. Mereka menolak untuk bersekutu dan mereka menolak untuk memuliakan Dia.

Namun Allah berkata, “Saya akan menebus manusia kembali kepada-Ku, dan Saya akan memberi kesempatan bagi mereka yang telah menolak Saya dan berdosa untuk kembali bersekutu dengan Saya dan tetap bisa memuliakan Saya.” Dan itu hanya mungkin jika ada seorang Pembebas yang datang untuk menebus orang dari perbudakan dosa, benar? Kayu Salib dan kedatangan Mesias itulah puncak sejarah yang sesungguhnya.

Namun itu adalah hanya babak pertama dari puncak itu. Babak kedua dari puncak sejarah itu adalah Kedatangan Kedua dari Yesus. Dia sedang menunggu dalam zaman anugerah ini supaya manusia mengakui Dia sebagai Juruselamat, dengan memberikan mereka waktu untuk bertobat. Dan pada saat Ia datang kembali, sejarah akan mencapai puncaknya dalam kerajaan-Nya, dan orang akan bersekutu dengan Allah dan mereka akan memuliakan-Nya selamanya.

Nah Paulus ingin mengarah ke hal ini. Dia mulai dengan sejarah dimana Allah merawat umat-Nya secara khusus. Ayat 17, “Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita dan membuat umat itu menjadi besar, ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing. Dengan tangan-Nya yang luhur Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu.” Itu menunjukkan kuasa Allah dan dia menggunakan istilah-istilah Perjanjian Lama.

Di ayat 18, “Empat puluh tahun lamanya Ia sabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun.” Bukan saja Allah itu kuat, tetapi Allah itu juga peduli. Allah memelihara Israel di padang gurun sebagai bapa yang memelihara anaknya sendiri, dengan memastikan makanannya cukup, minumannya cukup dan kebutuhannya disediakan.

Di tanah Kanaan ada banyak suku-suku yang berbeda, yang bisa dibaca di Ulangan 7:1. Baru setelah tahun ketujuh dalam pemerintah Daud orang-orang Yebus, suku terakhir dari tujuh suku itu, akhirnya dapat dimusnahkan. Lihatlah ayat 19, “Dan setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan, Allah membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka.”

Ayat 20, “Selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada zaman nabi Samuel.” Dengan kata lain, seluruh penangkaran itu berlangsung selama empat ratus tahun dan pengembaraan di padang gurun itu makan waktu empat puluh tahun. Dan pendaratan di Tanah Perjanjian itu kira-kira tujuh tahun. Yang seluruhnya adalah kira-kira empat ratus lima puluh tahun.

Jadi selama empat ratus lima puluh tahun, Allah menunjukkan kesetiaan-Nya. Dan pada saat mereka masuk ke tanah itu, Allah memberi mereka hakim-hakim. Hakim-hakim itu adalah pembebas yang bangkit pada waktu yang berbeda-beda dan yang muncul ditempat yang berbeda-beda dengan tujuan yang berbeda-beda untuk mempertahankan Israel. Jadi Allah mempertahankan Israel oleh kuasa-Nya, pemeliharaan-Nya dan kesetiaan-Nya dan dengan orang-orang ini yang diutus untuk pembebasan khusus. Yang paling akhir adalah Samuel.

Ayat 21, “Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberikan kepada mereka Saul bin Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya.” Jadi Allah juga merespon terhadap keinginan mereka dalam rencana sejarah-Nya. Perhatikanlah bahwa keinginan orang tidak akan merubahkan rencana sejarah Allah. Mereka ingin seorang raja dan mereka memiliki cara untuk memilihnya. Siapakah yang tertinggi dan yang paling ganteng, itulah raja kami.

Namun dia bukan raja yang Allah inginkan. Allah ingin seorang raja yang mematuhi kehendak-Nya. Lihatlah ayat 22, “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.”

Orang yang berkenan di hati Allah adalah orang yang ingin memenuhi keinginan Allah. Allah memilih orang yang tepat. Daud bukan orang sempurna. Orang yang berkenan di hati Allah adalah orang yang melakukan segala kehendak-Nya. Memang dia berdosa, dan apakah kehendak Allah bagi orang yang berdosa? Bertobat dan berpaling dari hal itu, dan ketika Daud berdosa, dia bertobat dan berpaling dari hal itu,

Semuanya bergantung kepada ayat 23, “Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus.” Iay , mereka tahu dari 2 Samuel 7 yang mengatakan bahwa Allah akan mengirim Mesias, dan Dia adalah keturunan dari Daud. Dan semua orang tahu bahwa Dia akan lahir, menurut Micah, di Betlehem, benar? Dan itulah kota Daud. Penggenapan nubuatan dan pembenaran orang berdosa kita bahas minggu depan ya. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu