17 Jul 2016 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2016
Pelayanan Pribadi Yang Efektif
17 Juli 2016

Kami baru mengakhiri bagain yang membicarakan konversi dan transformasi Saulus menjadi rasul Paulus di KPR 9. Dan sekarang kami kembali mempelajari rasul Petrus. Dia seorang murid yang sangat menarik dan kami semua lebih kaya karena kehidupannya. Dan apa yang kami akan pelajari adalah tanda pelayanan pribadi yang efektif. Karena dari bagain ini kami dapat belajar prinsip-prinsip dasar yang ditunjukkan dalam pelayanan pribadi Petrus.

Disini kita tidak melihat Petrus seperti di pasal-pasal KPR yang lalu dimana dia berkhotbah kepada ribuan orang. Disini kami melihat dia terisolasi dengan individu-individu. Dan ada prinsip-prinsip yang indah yang keluar dari teks ini pada saat kami melihat KPR 9:32-43. Nah rasul Petrus dengan segala kelemahannya yang seringkali mengatakan hal-hal yang salah, akhirnya setelah Pentakosta benar-benar mulai berbicara bagi Allah. Kehidupannya adalah tema dominan di keduabelas bab pertama Kisah Para Rasul.

Sekararng kami melihat rasul yang kuat dan dinamis yang bukan saja menjadi pemimpin gereja namun juga pemimpin para rasul yang lain. Dan kami belajar kedua sisi kehidupan Kristen dari Petrus, bagaimana untuk tidak melakukannya di Injil dan bagaimana untuk melakukannya dengan baik di buku KPR. Hidup Petrus ada samanya dengan hidup Paulus, mereka keduanya harus berbalik. Dan Petrus secara langsung dan tidak langsung memberikan kami banyak prinsip-prinsip pelayanan itu.

Marilah kita melihat dulu 2 Petrus 1:12-21, dimana Petrus membagikan empat prinsip dasar untuk pelayanan efektif. Ini hanya untuk mulai memikirkan tentang pelayanan sebelum kita kembali ke Kisah Para Rasul. Sebelum kami dapat memiliki pelayanan pribadi yang efektif, kami sendiri haru memiliki beberapa hal. Disini kita melihat hati Petrus terbuka dan dia memberikan kami empat hal yang menolong dia memiliki pelayanan pribadi yang efektif.

Nomor satu, keprihatinan pribadi. Ayat 12-13, “Karena itu aku senantiasa bermaksud mengingatkan kamu akan semuanya itu, sekalipun kamu telah mengetahuinya dan telah teguh dalam kebenaran yang telah kamu terima. 13 Aku menganggap sebagai kewajibanku untuk tetap mengingatkan kamu akan semuanya itu selama aku belum menanggalkan kemah tubuhku ini.” Nah Petrus disini mengungkap-kan keperihatinannya kepada mereka yang dilayaninya. Dia ingin supaya mereka belajar. Memberitakan kebenaran saja tidak cukup, mereka harus diperingatkan terus menerus supaya mereka benar-benar mengingatnya dan dapat memberitakan itu kepada orang-orang lain.

Hal kedua disini adalah urgensi pribadi. Di ayat 14, “Sebab aku tahu, bahwa aku akan segera menanggalkan kemah tubuhku ini, sebagaimana yang telah diberitahukan kepadaku oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” Petrus mengatakan saya akan mati seperti yang baru dikatakan Yesus, Di Yohanes 21:18-19, Tuhan mengatakan kepada Petrus, “jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki." 19 Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah.” 2 Petrus 1:15, “Tetapi aku akan berusaha, supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu.” Petrus ingin memakai semua waktunya untuk mengajar orang lain.

Hal ketiga yang menandai Petrus adalah pengalaman pribadi. Ayat 16, “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberi-tahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya.” Dan terakhir Petrus mengatakan bukan saja Anda memerlukan pengalaman pribadi dalam pelayanan pribadi yang efektif, melainkan juga pengetahuan pribadi. Jadi dia menerangkan hal itu dengan ayat 21, “tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”

Dan dia memanggil hal ini di ayat 19, “diteguhkan oleh firman.” Jadi Petrus mengatakan bahwa kita semua harus mulai dengan melihat pada hidup kita sendiri dan ada empat hal yang diperlukan untuk pelayanan efektif, yaitu keprihatinan pribadi, urgensi pribadi, pengalaman pribadi dan pengetahuan pribadi. Marilah kita sekarang kembali dan memeriksa apakah pelayanan Petrus itu efektif di KPR 9.

Di Matius 28:18-20 Yesus memberikan kita Amanat Agung itu, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Jadi Allah mulai dengan orang-orang Yahudi yang percaya kemudian mereka pergi untuk menjangkau seluruh dunia.

KPR 1:8 adalah strategi gereja, “kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku.” Dan inilah yang dikatakan kepada 120 orang Yahudi, kalian akan menjadi permulaan dari ledakan ini. Dan kalian akan mulai “di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Itulah garis besarnya buku Kisah Para Rasul.

Jadi Allah mulai dengan suatu kelompok kecil orang Yahudi yang percaya. Dan mereka berkumpul di ruangan atas dan Roh Allah datang dengan kuasa dan membaptiskan mereka kedalam tubuh, memenuhi mereka sehingga mereka mulai berbicara kepada semua orang tentang karya Allah yang hebat dan semua orang itu mendengarnya dalam bahasa mereka tersendiri. Kemudian Petrus berkhotbah dan 3000 orang diselamatkan dan gereja itu mulai pada hari itu di Yerusalem.

Kemudian itu bertumbuh mulai saat itu dan mereka terus berkhotbah di Yerusalem. Petrus dimasukkan penjara dan dia berkhotbah kepada Sanhedrin. Kemudian dia kembali ke bait Allah dan setelah malaikat membebaskannya dari penjara di suatu ketika lain, dia berkhotbah lagi kepada orang-orang dan gereja itu bertumbuh terus. Di KPR 4 sudah ada 5000 pria di gereja dan itu tidak termasuk perempuan dan anak-anak dan remaja. Jadi gereja itu bertumbuh besar sekali di Yerusalem.

Dan akhirnya orang-orang Yahudi membawa Petrus dan para Rasul di hadapan Sanhedrin di KPR 5:28 dan mereka mengatakan, “kamu telah memenuhi Yerusalem dengan ajaranmu.” Jadi mereka memutuskan Yerusalem sudah dipenuhi kabar baik dan mengatakan sekarang tibalah waktunya untuk Samaria. Dan Tuhan menggunakan seseorang bernama Saulus. Dan kematian Stefanus mengakibatkan terjadinya penganiayaan besar melawan gereja. Dan Tuhan membiarkan gereja dianiaya Saulus. Dan orang-orang percaya itu semua tersebar di daerah-daerah Yudea dan Samaria.

KPR 8:4 mengatakan, “mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.” Jadi gereja itu bergerak ke langkah kedua dalam melakukan perintah, Yerusalem kemudian Yudea dan Samaria. Dan hasil mereka itu luar biasa. Namun ini tragis bagi Yerusalem karena ini menunjukkan sebenarnya itu panggilan terakhir bagi Yerusalem. Orang Yahudi Yerusalem itu telah memastikan ketidak-percayaan mereka, mereka menolak Kristus dan karena itu Allah mengesampingkan mereka.

Sekarang tahap ketiga dalam perkembangan gereja adalah pelayanan kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Orang Samaria itu adalah orang berdarah campuran, jadi masih ada hubungan sedikit. Namun bangsa-bangsa lain, wah mereka berbeda jauh sekali. Dan Anda tahu Allah telah memilih orang spesial untuk melakukan pekerjaan dengan orang-orang non-Yahudi itu bernama Saulus. Namun sebelumnya Allah dapat meng-gunakannya, Dia perlu merubahkannya. Jadi kita membaca di KPR 8 bagaimana Dia mentransformasikan Saulus menjadi Paulus.

Dan dia memerlukan waktu untuk mempersiapkan diri. Jadi dia belajar dari Allah selama tiga tahun di Nabatea dan Arabia dan Damsyik, kemudian akhirnya baru dia datang ke Yerusalem selama 15 hari, sebelumnya dia menyebabkan ada kekacauan besar dan mereka terpaksa memindahkan dia ke Tarsus untuk menenangkan keadaan. Jadi kami hanya diperkenalkan kepada Paulus yang menjadi rasul bagi bangsa-bangsa lain. Dan dia sudah pergi ke Tarsus.

Jadi marilah kita fokus kembali kepada Petrus yang mendominasi dari sekarang sampai ke KPR 12. Dia menjadi orang yang dipilih Allah untuk mengembangkan gereja. Bukan Paulus yang membuka pintu kepada bangsa-bangsa lain, namun itu Petrus. Di Matius 16:18 Tuhan memberi tugas kepada Petrus dengan mengatakan, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan dapat melawannya.”

Kemudian Yesus mengatakan di ayat 19, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.” Nah frase itu identik dengan gereja. Kerajaan Sorga itu adalah gereja yang sedang berkembang. Yesus mengatakan, Petrus, engkau adalah orangnya yang akan membuka pintu pada waktu gereja berkembang. Nah Petrus sedang berkhotbah di Yerusalem pada hari Pentakosta. Petrus juga ada di Samaria. Masih ingat orang Samaria percaya namun mereka tidak menerima Roh Kudus untuk tanda mereka disatukan dengan tubuh sampai pada saatnya Petrus tiba dan menumpangkan tangan kepada mereka.

Dan pada waktu kami tiba di KPR 10 dalam satu minggu, kami akan melihat Petrus membukakan pintu kepada Kornelius, seorang non-Yahudi. Dia menerima Roh Kudus dan Petrus telah membuka kunci pintu terakhir dalam perkembangan gereja. Jadi Petrus adalah kuncinya dalam membuka pintu gereja. Beberapa waktu kemudian Paulus kembali ke gereja yang dimulai Petrus secara sah.

Allah mulai mempersiapkan Petrus untuk gerakan kepada bangsa-bangsa lain. Jadi Allah mempersiapkannya untuk KPR 10 dimana dia akan berhadapan dengan Kornelius, orang non-Yahudi itu, dan dia akan melihat bahwa bangsa lain ikut masuk ke dalam gereja, yang adalah kejutan besar. Dan dia lari kembali dan mengatakan wah ini sukar untuk dipercaya, namun orang-orang non-Yahudi itu memiliki hal yang sama yang kita miliki. Namun hatinya sudah mulai melunak.

Nah Petrus di Kisah 9 sedang dalam perjalanan dari Yerusalem turun ke Yope langsung kesebelah barat ke pantai. Yope adalah pelabuhan laut yang sekarang dinamakan Jafa, bagian pinggir kota Tel Aviv, 80 kilometer sebelah barat Yerusalem. Petrus kesana kemari sambil ngajar, berkhotbah, memenangkan orang percaya baru, meneguhkan orang kudus dan menguatkan mereka. Nah apa yang terjadi ini mengilustrasikan kepada kami apa yang menyebabkan pelayanan pribadinya begitu efektif.

Harapanku adalah supaya beberapa diantara kita dapat memakai prinsip-prinsip ini untuk pelayanan pribadi yang efektif. Nah saya hanya ambil enam prinsip dari teks ini dan saya ingin membagikannya kepada kalian. Petrus secara pribadi efektif karena dia terlibat, meninggikan Kristus, tersedia, kuat, berbuah dan tanpa prasangka. Inilah dasar pelayanan pribadi yang efektif.

Pertama, dia terlibat, KPR 9:32, “Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Dalam perjalanan itu ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang di Lida.” Para rasul yang lain juga berkeliling memberitakan injil di Samaria dan Yudea. Bahkan ketika Saulus akhirnya datang ke Yerusalem, menurut Galatia 1, dia mengatakan bahwa rasul yang ditemukan hanyalah Yakobus dan Petrus. Kesepuluh yang lain berjalan keliling sambil berkhotbah.

Allah menyediakan pelayanan-Nya yang paling berharga bagi orang percaya yang paling sibuk. Pernahkah Anda perhatikan bahwa ada beberapa orang Kristen yang selalu terlibat dalam banyak hal yang dilakukan Allah? Allah menggunakan orang-orang yang sudah bekerja dalam aliran arus dimana Dia sedang bekerja. Dan pelayanan berharga selalu berbuah banyak.

Allah menggunakan pelayanan prioritas-Nya bagi umat-Nya yang mengutamakan-Nya. Jika Anda setia dalam hal kecil, Dia akan memberi Anda pelayanan dalam hal besar. Namun pelayanan itu harus mulai dimana saja Anda berada sekarang. Ada orang yang mengatakan, Tuhan sesudah aku menyelesaikan ini dan itu, aku akan melayani Engkau. Tidak, hari ini Dia ingin Anda mulai bekerja, bukan pada suatu hari di masa depan.

Lida adalah kota yang menarik yang sudah tua dan bersejarah. Di dalam Perjanjian Lama itu dinamakan Lod, dan itu masih namanya hari ini dan jika Anda pernah pergi ke Israel Anda sudah pasti telah berada disitu karena itu tempatnya bandara. Pada waktu itu kota itu penting karena itu tepat pada rute perdagangan dari Mesir ke Babel menuju ke timur. Nah ada banyak orang kudus disitu. Marilah sebentar kita bicarakan istilah “orang kudus” itu.

Ketika gereja Katolik berbicara tentang orang kudus, mereka berbicara dengan pengertian dan konteks yang sangat berbeda dengan Alkitab. Kata orang kudus di Alkitab hanya mengacu kepada semua orang Kristen. Tidak ada hirarki orang-orang yang supersaleh dan tidak ada orang yang dikanonisasi Allah. Tubuh itu sama dengan semua yang lain karena kami semua diperhitungkan menjadi sempurna di dalam Kristus. Kekudusan itu hal posisi, bukan hal bersyarat.

Jika ada orang kudus di dalam gereja Katolik, pastilah itu Petrus. Kekudusan Petrus sangat dibesarkan dan dimuliakan lebih dari apa yang kita dapat bayangkan. Namun marilah kita lihat apa yang terjadi di KPR 10:25-26, “Ketika Petrus masuk, datanglah Kornelius menyambutnya, dan sambil tersungkur di depan kakinya, ia menyembah Petrus. 26 Tetapi Petrus menegakkan dia, katanya: "Bangunlah, aku hanya manusia saja." Ingatlah mereka ingin supaya Paulus dan Petrus menjadi Allah dan mereka mau menyembah mereka. Dan Petrus mengatakan jangan dan Paulus juga mengatakan janganlah berbuat itu.

Nah sekarang marilah kami melihat KPR 9:33, “Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh.” Dan keadaan seperti itu selalu sangat serius, khususnya karena mereka tidak ada cara penyembuhan. Dan itu biasanya permanen dan keadaan itu selalu semakin memburuk.

Disini kita melihat prinsip pertama yaitu keterlibatan, dia peduli. Yang kedua adalah meninggikan Kristus. Ayat 34, “Kata Petrus kepadanya: "Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangunlah dan bereskanlah tempat tidurmu!" Seketika itu juga bangunlah orang itu.” Perhatikanlah kata “bangunlah”, bahkan di mujizat-mujizat Yesuspun diperlukan tanggapan iman. Eneas itu harus melakukan sesuatu untuk merespon terhadap pernyataan Petrus.

Matius 7:24 mengatakan, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.” Ada hal kedua yang menarik adalah Petrus mengatakan “bereskanlah tempat tidurmu.” Setiap kali di Alkitab jika kami mendengar tentang mujizat oleh Yesus Kristus itu selalu mutlak, suatu penyembuhan lengkap dimana orang itu sanggup membereskan tempat tidurnya sendiri.

Semua pelayanan yang benar berbuah selalu meninggikan Tuhan Yesus Kristus. Pada saat Anda mulai memikir Anda sanggup melakukannya sendiri, Anda telah mendis-kualifikasikan diri dari buah dan berbuah. Semua yang dilakukan untuk kemuliaan-Nya itu dilakukan oleh diri-Nya sendiri. Paulus mengatakan di Efesus 6:10, “hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.” Tidak ada kekuatan ditempat lain.

Lihatlah ayat 35, “Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.” Nah Saron itu bukanlah nama seorang perempuan. Itu adalah nama sebuah lembah dari Yope ke utara ke puncak bukit Karmel, lembah yang panjang di antara pegunungan dan Laut Mediterania, lembah subur yang indah. Perhatikanlah di akhir ayat 35, “mereka berbalik kepada Tuhan,” dan itu terjadi karena Petrus meninggikan Tuhan.

Orang-orang meninggikan banyak hal disamping Yesus, namun semua hal lain itu hanya adalah tambahan kepada hidupmu. Anda harus mengakui bahwa Anda orang berdosa, dan tolaklah semua yang Anda pentingkan dan berbaliklah dan ikutilah jalan Allah. Dan memang itu sukar. Yesus bukanlah orang yang menggairahkan, Dia adalah alasan yang menyebabkan orang berbalik. Jika Anda ingin memiliki pelayanan pribadi yang efektif, lakukanlah dua hal, ikutilah apa yang Allah sedang melakukan sekarang dan hiduplah meninggikan Yesus Kristus. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu