12 Jun 2016 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2016
Petobat Palsu Pertama
12 Juni 2016

Marilah kita melihat lagi di KPR 8 seseorang bernama Simon, dan itu bukan Simon Petrus. Simon ini hidup di Samaria dan disini Simon mengilustrasikan iman yang tidak menyelamatkan. Dan setelah kami mempelajari Simon ini, kita akan melihat seseorang dari Etiopia. Dan ketika kita melihat orang Etiopia ini, kita akan melihat iman yang menyelamatkan. Jadi marilah kita belajar dari kontras sifat dan karakter iman yang menyelamatkan dibanding dengan sifat dan karakter iman yang palsu.

KPR 8:9-24, “Di kota itu ada seorang laki-laki bernama Simon, yang sudah beberapa waktu lamanya membuat orang-orang Samaria terpesona akan ilmu sihirnya. Ia mengatakan kepada mereka bahwa ia orang yang luar biasa. 10 Maka semua orang di kota itu dari semua lapisan masyarakat sangat memperhatikan dia. "Orang ini adalah kekuatan Allah yang terkenal sebagai 'Kekuatan Besar' itu," kata mereka. 11 Sudah lama sekali ia mempesona orang-orang dengan kekuatan sihirnya, sehingga mereka sangat memperhatikan dia. 12 Tetapi Filipus memberitakan kepada mereka tentang Kabar Baik mengenai bagaimana Allah akan memerintah sebagai raja dan tentang Yesus Kristus, Raja Penyelamat itu. Maka mereka percaya akan berita yang disampaikan oleh Filipus, lalu mereka dibaptis--baik orang laki-laki maupun orang wanita.”

“13 Simon sendiri juga percaya. Dan setelah dibaptis, ia terus mengikuti Filipus. Keajaiban-keajaiban yang terjadi membuat Simon terheran-heran. 14 Rasul-rasul di Yerusalem mendengar bahwa orang-orang Samaria sudah menerima perkataan Allah. Oleh sebab itu mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke sana. 15 Ketika Petrus dan Yohanes tiba, mereka berdoa untuk orang-orang Samaria itu supaya mereka mendapat Roh Allah, 16 sebab Roh Allah belum datang menguasai seorang pun dari mereka; mereka baru dibaptis atas nama Tuhan Yesus saja. 17 Lalu Petrus dan Yohanes meletakkan tangan mereka ke atas orang-orang Samaria itu; maka mereka menerima Roh Allah. 18 Simon melihat bahwa karena tangan rasul-rasul diletakkan ke atas orang-orang itu, Roh Allah diberi kepada mereka. Karena itu Simon membawa uang kepada Petrus dan Yohanes,

“19 lalu berkata, "Berilah kepada saya kuasa itu juga supaya kalau tangan saya diletakkan pada siapa saja, orang itu akan menerima Roh Kudus." 20 Tetapi Petrus menjawab, "Celakalah kau dan uangmu! Kaukira pemberian Allah dapat dibeli dengan uang? 21 Engkau tidak punya hak untuk ikut di dalam pekerjaan kami, sebab hatimu tidak benar terhadap Allah. 22 Sebab itu tinggalkanlah maksudmu yang jahat itu, dan mintalah kepada Tuhan supaya Ia mengampuni pikiranmu yang jahat itu! 23 Sebab saya tahu engkau penuh dengan iri hati dan diperbudak oleh kejahatan." 24 Lalu Simon berkata kepada Petrus dan Yohanes, "Tolonglah minta kepada Tuhan supaya tidak satu pun dari yang saudara-saudara katakan itu terjadi padaku."

Ini penting dalam sejarah gereja karena KPR 8 ini mulai dengan penganiayaan besar gereja mula-mula yang dipimpin seseorang bernama Saulus yang mendukung pembunuhan Stefanus. Dan mulai pada hari pembunuhan Stefanus itu, Saulus mulai memimpin penganiayaan orang-orang percaya dari gereja di Yerusalem. Itu menyebabkan mereka semua melarikan diri dan mereka terpencar di seluruh Yudea dan Samaria, sementara para rasul tinggal di Yerusalem.

KPR 8:4 mengatakan, “Orang-orang percaya yang sudah terpencar itu memberitakan Kabar Baik dari Allah itu ke mana-mana.” Sementara para rasul diam di Yerusalem dan terus memberitakan Kabar Baik itu di Yerusalem. Penganiayaan ini diatur Roh Kudus untuk memenuhi janji KPR 1:8 dimana Tuhan kita mengatakan, “Tetapi kalian akan mendapat kuasa, kalau Roh Allah sudah datang kepadamu. Dan kalian akan menjadi saksi-saksi untuk-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea, di Samaria, dan sampai ke ujung bumi.”

Penganiayaan itu adalah katalisator, dan itu mulai dari Yerusalem, melalui Yudea dan masuk ke daerah lain, yaitu Samaria. Penginjilan di Samaria itu menjadi jembatan untuk menjangkau orang-orang non-Yahudi, dan mereka benar terjangkau di KPR 10. Penganiayaan itu menyebabkan ada pemberitaan Kabar Baik, dan khotbah-khobah itulah menyebabkan ada hasil yang berarti adalah pelayanan yang berbuah di Yerusalem, di Yudea dan melampaui itu.

Filipus, sang diaken, sekarang menjadi tokoh utama. Sama seperti yang diutamakan di KPR 7 adalah Stefanus, yang diutamakan di KPR 8 adalah Filipus. Filipus adalah yang bertemu dengan Simon tukang sihir. Filipus juga bertemu dengan orang Etiopia itu. Dan Filipus juga yang menghadapi kenyataan iman palsu dan juga kenyataan iman benar. Kedua kisah ini sangat penting bagi kita, khususnya untuk menunjukkan perbedaan diantara iman palsu dan iman yang menyelamatkan.

Dan berdasarkan apa yang kita baca, Simon itu kelihatannya orang yang percaya benar. Di ayat 13 dikatakan bahwa dia percaya. Kita baca bahwa dia dibaptis dan dia terus ikut saja. Boleh dibilang dia percaya dan taat dibaptis dan mengikuti terus dan itu semua cocok dengan persyaratan orang percaya. Dia dari luar kelihatannya semua baik. Bahkan Filipus sendiri juga yakin akan hal itu.

Filipus tidak tahu bahwa dia bukan orang yang benar-benar percaya. Ini hanya ketahuan pada saat rasul Petrus dan Yohanes muncul – dan kita akan melihat hal itu sebentar lagi. Jesus mengajarkan di Matius 13 bahwa akan ada orang yang pada mulanya akan merespon, namun mereka kepercayaannya dangkal, dan mereka pada akhirnya akan berhenti karena mereka tidak mau menderita tribulasi atau karena mereka lebih banyak mengasihi dunia dan kekayaan. Dan Yesus mengatakan bahwa memang sukar untuk membedakannya.

Simon dengan semua itu kelihatannya baik, namun dia kehilangan keselamatan. Dan pada waktu kita melihat kehidupannya dan melihat kisahnya melalui Lukas kita dapat melihat empat sifat karakter dari iman palsu di dalam Simon. Pandangan dirinya salah, pengertian keselamatannya salah, pengertiannya tentang Roh Kudus itu salah dan pengertiannya tentang dosa itu juga salah. Dia egois, dia melihat keselamatan itu sebagai suatu hal luar saja, pengertiannya mengenai Roh Kudus hanya secara ekonomi dan dia melihat dosa itu sebagai sesuatu yang dapat dihindari; dan semua pengertian itu salah.

KPR 8:9, “Di kota itu ada seorang laki-laki bernama Simon, yang sudah beberapa waktu lamanya membuat orang-orang Samaria terpesona akan ilmu sihirnya. Ia mengatakan kepada mereka bahwa ia orang yang luar biasa.” Dalam bahasa Yunani dia adalah seorang pesulap. Masi ingat orang ahli ilmu bintang yang mengunjungi Kristus? Mereka juga tukang sihir. Itulah artinya orang magi itu. Mereka adalah nabi-nabi yang tidak mengenal Allah dan percaya takhayul dan ilmu gaib. Simon memikir dia adalah orang besar.

Banyak orang mempraktekkan berbagai jenis ilmu gaib: astrolog, peramal dan tukang-tukang sihir, orang kafir yang berurusan dengan mantra, jimat, ramalan dan horoskop. Mereka dapat melakukan berbagai hal yang menakjubkan, sama seperti yang dilakukan tukang-tukang sulap sekarang dengan penipuan, sulap dan bantuan kekuatan setan. Orang Samaria pada umumnya bertakhyul. Mereka mencampurkan bagian-bagian Perjanjian Lama dengan takhayul dan sihir. Jadi sekarang kita bertemu dengan guru palsu pertama yang mengusulkan apa yang nanti dikenal sebagai pikiran-pikiran gnostik.

Ajaran gnostic sebenarnya tidak benar-benar terwujud sampai jauh kemudian. Namun benih ajaran gnostic ini sudah ada di Perjanjian Baru. Apakah ajaran gnostik ini? Itu berasal dari kata Yunani ‘gnosis’ yang berarti orang-orang yang memiliki pengetahuan rahasia; orang-orang yang menganggap dirinya lebih tinggi dari pada orang biasa. Orang-orang gnostik adalah orang-orang yang mengatakan mereka saja yang memiliki rahasia-rahasia ilahi.

Perhatikanlah ayat 10, “Maka semua orang di kota itu dari semua lapisan masyarakat sangat memperhatikan dia. "Orang ini adalah kekuatan Allah yang terkenal sebagai 'Kekuatan Besar' itu," kata mereka.” Simon mengajarkan, selain dari mempraktekkan sihir, semacam filosofi semu yang kita temukan kemudian dalam ajaran Gnostik, bahwa dia sendiri adalah mahluk yang ditinggikan. Orang–orang Samaria yakin bahwa Simon adalah kuasa besar dari Allah, hampir seorang dewa dalam bentuk manusia.

Apakah Anda tahu bahwa inilah justru caranya orang Mormon melihat Yesus? Menurut mereka Yesus itu bukan Allah, Dia adalah mahluk yang berasal dari Allah. Dia adalah kuasa besar dari Allah, yang lebih tinggi dari pada manusia namun masih dibawah Allah. Orang Mormon percaya bahwa kedudukan-Nya sama dengan Iblis. Dia adalah saudara roh Yesus yang juga adalah ciptaan dari Allah. Iblis menggunakan orang Simon ini untuk memalsukan kuasa ilahi dan memenjarakan orang-orang. Itulah memang pekerjaan Iblis.

Jadi pertama-tama kita melihat bahwa ada rintangan diantara Simon dan keselamatan yaitu kesombongan. Nah, di zaman kuno itu dia tidak sendirian. Dimana-mana ada orang-orang astrolog dan tukang sihir. Mereka menggunakan tipu muslihat dan kekuatan setan itu untuk hidup nyaman. Banyak diantara mereka tahu bahwa mereka adalah penipu-penipu sadar, bahwa kenyataan itu hanya suatu pertunjukan saja, dan mereka sangat pintar dalam melakukan itu. Namun keangkuhan itu menghalang orang-orang untuk datang kepada Kristus. Itu merampas hati untuk menunjukkan kepatahan hati yang benar, pertobatan dan kerendahan hati yang semuanya diperlukan untuk keselamatan.

Dia tidak takut penghakiman. Dia tidak punya rasa kemalangan sendiri, dosanya sendiri. Bagi orang Yahudi kedok mereka hanyalah kehormatan Allah dan hal itu menyebabkan Anak Allah dibunuh. Bagi orang Farisi, kedok mereka adalah kehidupan yang murni, padahal realitas adalah bahwa mereka dari dalam adalah keji dan kotor. Kesombongan itu adalah dosa yang mematikan yang menyebabkan raja Hizkia kehilangan kerajaannya dan itu hampir mematikan Petrus. Dan kesombongan itu ada di dalam hati para malaikat yang jatuh dan mereka kehilangan surga.

Amsal 8:13, “Menghormati Tuhan berarti membenci kejahatan; aku benci kesombongan dan keangkuhan, tingkah laku yang jahat dan kata-kata tipu muslihat.” Amsal 16:5, “Semua orang sombong dibenci Tuhan; Ia tidak membiarkan mereka luput dari hukuman.” Amsal 16:18, “Kesombongan mengakibatkan kehancuran.” Amsal 21:4, “Orang jahat itu berdosa, karena dikuasai oleh keangkuhan dan kesombongannya.” Dan kesimpulannya ada di Yakobus 4:6, “Allah menentang orang yang sombong, tetapi sebaliknya Ia mengasihi orang yang rendah hati.”

Justin Martyr, salah satu bapak gereja awal, mengatakan, “Simon itu dihormati. Dia begitu terkenal sehingga ada patung di Roma dengan catatan, “Semoni Sanco deo” yang berarti, “Kepada Simon, Allah yang Suci.” Namun tempat lahirnya adalah di tanah Samaria dimana dia tinggal seumur hidup dan dimana dia sudah lama memperbudak orang-orang dengan kuasa setan.” Disini Simon menggambarkan faktanya bahwa Allah benci keangkuhan.

Kedua, Simon percaya bahwa keselamatan itu hanya hal luar saja. Ayat 12-13, “Tetapi Filipus memberitakan kepada mereka tentang Kabar Baik mengenai bagaimana Allah akan memerintah sebagai raja dan tentang Yesus Kristus, Raja Penyelamat itu. Maka mereka percaya akan berita yang disampaikan oleh Filipus, lalu mereka dibaptis--baik orang laki-laki maupun orang wanita. 13 Simon sendiri juga percaya. Dan setelah dibaptis, ia terus mengikuti Filipus. Keajaiban-keajaiban yang terjadi membuat Simon terheran-heran.”

Sewaktu itu semua terjadi, pengaruh Simon atas orang-orang mulai berkurang dan karena itu dia ikut-ikutan. Bahkan Simon itu percaya dan dibaptis, dan ia terus mengikuti Filipus. Mengapa? Karena dia melihat tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan ia benar terpesona. Dia tertarik oleh karena kuasa mujizat itu. Itu semua bisnis dia dan itulah yang dia paling suka. Namun daripada ada kerendahan hati, yang menyebabkan dia ikut adalah keinginannya untuk memperoleh kekuatan itu.

Setiap pekerja mujizat palsu tahu perbedaannya diantara apa yang dia lakukan dan apa yang nyata. Simon tahu perbedaannya diantara penipuan Iblis yang dia benar dapat melakukan dengan baik, dan suatu mujizat dari Allah. Dia sangat kagum akan kuasa nyata dibanding dengan kuasa palsu. Dan dia ingin mencampur kuasanya dengan kuasa itu dan meninggikan diri lebih lagi. Dia melihat kuasa mujizat ini sebagai sesuatu yang dapat dibeli dan ditambah-kan kepada apa yang dia miliki, dan karena itu dia memutuskan untuk ikut gerakan ini.

Dan ini adalah pendekatan setan karena Iblis selalu ingin menjadi anggota gereja. Setan selalu ingin berbicara dan bertindak seperti orang percaya, seorang Kristen atau pengkhotbah benar. Jadi dengan Simon kita melihat contoh pertama seseorang yang setelah dibaptis atas nama Kristus, yang masuk ke dalam gereja dengan tujuan untuk merusak iman yang dia akui.

Seorang teolog Roma Katolik bernama Ludwig Ott mengatakan ini, “Pembaptisan menyatakan ada anugerah keselamatan.” Kutipan lain dari Ludwig, “Meskipun jika itu diterima secara tidak layak, pembaptisan sah itu mencetak pada jiwa tanda spiritual yang tak terhapuskan.” Dan ada kutipan terakhir, “Pembaptisan dengan air itu diperlukan bagi semua orang untuk keselamatan, tanpa ada yang terkecuali.”

Disini Simon percaya dan dia dibaptis. Namun dia tidak pernah diselamatkan, dia tidak menerima anugerah. Dia menganggap bahwa keselamatan itu hal luar saja. “Iya, saya akan ikut upacara. Saya akan dibaptis.” Dia memikir kalau sudah dibaptis, dia diterima dan sekarang dia dapat memakai kekuatan itu. Dan itu, ketiga, berarti bahwa dia tidak mengerti Roh Kudus. Dia memikir Roh Kudus adalah sesuatu yang memperkaya dia dalam hal uang.

Ayat 14-17, “Rasul-rasul di Yerusalem mendengar bahwa orang-orang Samaria sudah menerima perkataan Allah. Oleh sebab itu mereka mengutus Petrus dan Yohanes kesana. 15 Ketika Petrus dan Yohanes tiba, mereka berdoa untuk orang-orang Samaria itu supaya mereka mendapat Roh Allah, 16 sebab Roh Allah belum datang menguasai seorang pun dari mereka; mereka baru dibaptis atas nama Tuhan Yesus saja. 17 Lalu Petrus dan Yohanes meletakkan tangan mereka ke atas orang-orang Samaria itu; maka mereka menerima Roh Allah.”

Nah kejadian ini penting. Kita melihat di ayat 14 bahwa para rasul mendengar berita tentang tanggapan yang luar biasa atas khotbah Filipus di Samaria. Petrus dan Yohanes diutus untuk memeriksa apakah itu benar. Mereka pergi untuk melihat apakah pemberitaan injil orang-orang Samaria itu asli dan tulen. Petrus dan Yohanes datang untuk melihat panen, dan untuk memberi pengesahan para rasul atas apa yang telah terjadi, dan ketiga untuk memulai kedatangan Roh Kudus. Ayat 15 mengatakan, “supaya mereka mendapat Roh Kudus.”

Mengapa pada saat mereka percaya pada Tuhan Yesus Kristus mereka tidak langsung mendapatkan Roh Kudus? Penting untuk mengetahui bahwa buku KPR adalah waktu sejarah untuk transisi. Orang-orang Samaria tidak menerima Roh Kudus pada saat mereka percaya karena orang-orang Yahudi memerlukan kesaksian para rasul dan bukti bahwa mereka memang termasuk ke dalam satu gereja. Mengapa? Karena orang-orang Yahudi membenci orang-orang Samaria.

Selama 500 tahun orang-orang Samaria telah menyembah sendiri di Gunung Gerizim. Orang Yahudi di sebelah selatan dan orang Samaria disebelah utara masing-masing mengklaim dengan cara mereka sendiri bahwa mereka adalah umat pilihan Allah; dan diantara mereka ada saingan besar. Orang-orang Yahudi tidak mau berjalan melalui Samaria. Sangat sukar bagi orang-orang Yahudi di Yerusalem dan Yudea yang percaya Yesus Kristus dan telah menerima Roh Kudus untuk percaya bahwa orang-orang Samaria juga termasuk dalam satu gereja itu dan dibaptis ke dalam satu tubuh, seperti yang dikatakan di 1 Korintus 12.

Ingatlah bahwa Filipus adalah orang Yahudi Yunani dan semua orang lain adalah orang-orang Samaria. Mereka memerlukan orang Yahudi yang paling dapat dipercaya untuk menyaksikan kesatuan ini, Petrus dan Yohanes, supaya semua orang tahu bahwa Roh Kudus datang kepada orang Samaria dengan cara yang sama Dia datang kepada orang-orang Yahudi pada hari Pentakosta. Dan memang itu terjadi percis seperti itu. Ayat 17 mengatakan, “Lalu Petrus dan Yohanes meletakkan tangan mereka ke atas orang-orang Samaria itu; maka mereka menerima Roh Allah.”

Dan Simon menyaksikan kedatangan Roh Kudus melalui tumpangan tangan para rasul. Bagaimana Simon tahu hal itu karena Roh Kudus tidak kelihatan? Lihatlah KPR 10:44-46 ketika Injil disampaikan kepada orang-orang non-Yahudi, “Sementara Petrus masih berbicara, Roh Allah turun dan menguasai semua orang yang mendengar berita itu. 45 Orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yesus dan mengikuti Petrus dari Yope, semuanya heran melihat Allah memberikan juga Roh-Nya kepada orang-orang bangsa lain yang bukan Yahudi. 46 Sebab mereka mendengar orang-orang itu berbicara dalam pelbagai bahasa dan memuji-muji kebesaran Allah.”

Di KPR 11:15-17 Petrus memberi kesaksiannya tentang apa yang terjadi saat dia pergi ke Yope, “Dan pada waktu saya mulai berbicara begitu Roh Allah datang ke atas mereka, sama seperti yang terjadi pada kita dahulu pada mulanya. 16 Lalu saya teringat, Tuhan pernah berkata, 'Yohanes membaptis dengan air, tetapi kalian akan dibaptis dengan Roh Allah.' 17 Jadi jelas Allah memberikan juga kepada orang-orang yang tidak beragama Yahudi itu, pemberian yang sama yang Ia berikan kepada kita pada waktu kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, mana mungkin saya melarang Allah!”

Mengapa mereka begitu kagum bahwa anugerah Roh Kudus itu dicurahkan juga kepada orang-orang non-Yahudi? Orang-orang Yahudi memikir bahwa hanya mereka saja adalah umat Allah yang terpilih, jadi Allah harus mengulangi kedatangan Roh Kudus itu dan kehadiran para Rasul, bukan saja kepada orang-orang Samaria namun juga ketika itu terjadi kepada orang-orang non-Yahudi di KPR 19:2-6. Jadi Roh Kudus itu datang supaya semua orang tahu bahwa mereka semua memiliki keselamatan yang sama.

KPR 8:18, “Simon melihat bahwa karena tangan rasul-rasul diletakkan ke atas orang-orang itu, Roh Allah diberi kepada mereka. Karena itu Simon membawa uang kepada Petrus dan Yohanes.” Simon ingin membeli Roh Kudus itu. Di masa kini guru-guru palsu juga ingin menjual roh-roh palsu juga. Namun Yesaya 55:1 mengatakan, “Marilah kamu semua yang haus, minumlah, air tersedia. Datanglah kamu yang tidak punya uang, terimalah gandum tanpa membayar, dan makanlah! Anggur dan susu tersedia, terimalah dengan cuma-cuma.”

Ayat 19-21, “Berilah kepada saya kuasa itu juga supaya kalau tangan saya diletakkan pada siapa saja, orang itu akan menerima Roh Allah." 20 Tetapi Petrus menjawab, "Celakalah kau dan uangmu! Kaukira pemberian Allah dapat dibeli dengan uang? 21 Engkau tidak punya hak untuk ikut di dalam pekerjaan kami, sebab hatimu tidak benar terhadap Allah.” Pada mulanya Filipus tidak melihat itu namun Petrus langsung melihat dosanya. Anda bukan orang Kristen karena hati Anda tidak benar. Roh Kudus tidak dapat dibeli.

Ayat 22-24, “Sebab itu tinggalkanlah maksudmu yang jahat itu, dan mintalah kepada Tuhan supaya Ia mengampuni pikiranmu yang jahat itu! 23 Sebab saya tahu engkau penuh dengan iri hati dan diperbudak oleh kejahatan. 24 Lalu Simon berkata kepada Petrus dan Yohanes, "Tolonglah minta kepada Tuhan supaya tidak satu pun dari yang saudara-saudara katakan itu terjadi padaku.”

Apakah yang ada di dalam hatinya? Saya tidak tahu. Tidak ada pengakuan dosa, tidak ada permintaan untuk pengampunan dosa, tidak ada pertobatan, hanya ada semacam komentar sinis. Disini terdapat seseorang yang kelihatannya mulai dengan baik, namun berakhir dengan celaka karena pengertiannya tentang semua itu salah semua. Marilah kita berdoa supaya janganlah kita juga jatuh dalam perangkap yang sama, Amin?
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu