05 Jun 2016 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2016
Kekuatan Penganiayaan
5 Juni 2016

Waktunya Januari 8, tahun 1956 ketika lima orang misionaris di bunuh di Ekuador oleh suku yang dikenal sebagai orang India Auka. Kejadian itu mungkin salah satu tragedi terbesar dalam sejarah misionaris zaman ini. Penganiayaan memang terjadi di banyak tempat di dunia ini dan ada daerah-daerah misi yang sangat berbahaya. Namun kejadian ini tragis karena martir-martir ini semua sudah dilatih, diperlengkapkan dan begitu mendalam berdedikasi kepada Tuhan dengan potensi yang luar biasa.

Dan melalui kematian mereka, gerakan misionaris itu berkembang cepat sekali mulai dengan isteri-isteri mereka kemudian dengan teman-teman mereka. Akhirnya seluruh suku orang India Auka itu diinjili dengan injil dan gereja didirikan disitu. Gereja itu berkembang dan semakin membesar diantara suku-suku lain juga. Gerakan gereja itu kuat sekali. Salah satu dari orang-orang yang membunuh itu datang ke Amerika dan dia bersaksi tentang imannya kepada Kristus kepada gereja-gereja disini.

Kebanyakan orang Kristen pernah mendengar tentang kisah kelima martir misionaris di Ekuador itu. Hal itu menggambarkan bahwa pada saat paling gelap bagi gereja malah sebenarnya itu ledakan pertumbuhan dan pembangunan gereja. Apa yang terjadi diantara orang-orang India Auka itu dalam pendirian gereja dan terjadinya banyak generasi orang percaya adalah salah satu kisah misionaris besar dimana Allah membangun gereja itu dengan cara yang kelihatannya mulai dari belakang.

Namun memang begitulah caranya gereja mula-mula itu berkembang. Lihatlah buku KPR 8. Tujuan Allah adalah bahwa gereja pertama itu mulai didirikan di Yerusalem, dan kemudian itu menjalar ke Yudea, Samaria dan kepada ujung-ujung bumi. Itulah pada dasarnya Amanat Agung dari KPR 1:8, “kalian akan mendapat kuasa, kalau Roh Allah sudah datang kepadamu. Dan kalian akan menjadi saksi-saksi untuk-Ku di Yerusalem, di Yudea, di Samaria, dan sampai ke ujung bumi.”

Kematian Stefanus adalah picu yang memulai penganiayaan orang Kristen. Disitulah kita mulai lagi malam ini di KPR 8:1, “Dan Saulus senang juga atas pembunuhan itu. Hari itu juga jemaat di Yerusalem mulai dikejar-kejar, sehingga semua orang beriman, kecuali rasul-rasul, terpencar-pencar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.” Ayat 3, “Tetapi Saulus terus saja berusaha menghancurkan jemaat gereja. Ia pergi dari rumah ke rumah dan menyeret ke luar orang-orang percaya, laki-laki dan perempuan, lalu memasukkan mereka ke dalam penjara.”

Penganiayaan selalu suatu realitas yang melawan gereja yang benar. Injil yang benar dan Tuhan yang benar dibenci Iblis, penguasa sistem dunia ini dan semua orang yang tidak menjadi milik Kristus adalah bagian sistem itu. Mereka adalah milik bapa mereka, yaitu Setan. Bahkan Yesus kita mengatakan di Yohanes 15:18-19, “Apabila dunia membenci kalian, ingatlah bahwa Aku sudah lebih dahulu dibenci oleh dunia. 19 Sekiranya kalian milik dunia, kalian akan dikasihi oleh dunia sebagai kepunyaannya. Tetapi Aku sudah memilih kalian dari dunia ini, jadi kalian bukan lagi milik dunia. Itu sebabnya dunia membenci kalian.”

Yohanes 16:2-4, “Kalian akan dikeluarkan dari rumah-rumah ibadat. Dan akan datang waktunya bahwa orang yang membunuh kalian akan menyangka ia mengabdi kepada Allah. 3 Mereka melakukan itu kepadamu sebab mereka belum mengenal Bapa maupun Aku. 4 Tetapi sekarang Kukatakan itu kepadamu, supaya kalau itu terjadi nanti, kalian ingat bahwa Aku sudah memberitahukannya kepadamu.” Penganiayaan orang Kristen sudah global. Itu kenyataan dimanapun Injil sudah diberitakan.

Dan sekarang penganiayaan orang Kristen semakin meningkat. Kita terutama memikir itu adalah dari tangan rang Islam. Kita selalu membaca hal-hal itu di dalam berita baru di internet. Dan ngomong-ngomong, mereka melakukan itu karena mereka memikir mereka menyenangkan Allah, motivasi salah yang sama dari orang-orang Yahudi di Kisah Para Rasul yang menganiaya orang Kristen juga. Namun penganiayaan itu datang bukan saja dari orang Islam namun juga dari agama-agama palsu lain.

Dalam banyak negara gereja itu dianiaya oleh orang-orang yang menyembah hal-hal tidak moral. Gereja dianiaya orang-orang homoseksual. Kekristenan alkitabiah dibenci orang-orang yang ingin dibebaskan dari Allah. Mereka membenci orang-orang yang mempertahankan Firman Allah. Penganiayaan ini datang dari individu-individu, kelompok-kelompok dan pemerintah-pemerintah. Bahkan pemerintah kita sendiri menganiaya orang Kristen yang tidak setuju dengan berbagai kelakuan yang tidak bermoral.

Kebenaran alkitabiah telah menjadi sangat tidak populer. Orang-orang yang tidak percaya telah mendefinisikan moralitas menurut keinginan mereka sendiri, dan apa juga yang melawan keinginan mereka akan ditolak, dan itu tentu saja berarti Kitab Suci. Kerajaan Iblis sekarang menikmati kebebasan di Amerika yang dulunya mereka tidak miliki. Waktu akan menentukan apa yang mereka akan lakukan terhadap gereja, terhadap orang-orang percaya dan sebesar apa biaya itu yang kita harus bayar. Namun itu semua sudah dinubuatkan.

Ini sama seperti menginjak-injak api untuk mematikannya dan selagi api itu diinjak-injak malah bara api itu naik dan dimana saja itu turun akan ada api baru lagi. Penganiayaan orang Kristen yang dipimpin Saulus hanya menyebabkan injil itu memenuhi tujuannya yang telah ditetapkan, yaitu “kalian akan menjadi saksi-saksi untuk-Ku di Yerusalem, di Yudea, di Samaria, dan sampai ke ujung bumi.” Dan itu memang terjadi.

Penganiayaan itu mendorong usaha misi di Yerusalem. Dan disini kita melihat upaya misi mulai keluar dari Yerusalem dan menyebar ke Yudea, yaitu daerah disekitar Yerusalem, dan kemudian ke arah utara yang dulunya adalah kerajaan utara, yaitu daerah Samaria. Dan ini juga memulai penginjilan terbesar di dalam Firman Allah oleh seseorang bernama Saulus yang benar-benar terpengaruh oleh Stefanus.

Pemimpin-pemimpin Israel ingin menghancurkan gereja itu, namun malah mereka menyebabkan injil itu tersebar kemana-mana. Saulus ingin membasmi gereja itu, namun dia malah menyebabkan itu tersebar. KPR 8 adalah titik balik penting dalam sejarah gereja mula-mula. Injjil sekarang berhasil pergi ke Yudea, dan pergi ke Samaria dan sebelum KPR 8 berakhir, itu akan menyentuh seseorang dari Etiopia.

Nah sekarang marilah kita melihat tiga hal dalam urutan – penganiayaan, pengabaran injil dan penghasilan. Penganiayaan ganas dipimpin seseorang bernama Saulus. KPR 7:57-58 mengatakan, “Anggota-anggota mahkamah itu menutup telinga mereka sambil berteriak-teriak, lalu serentak menyerang Stefanus. 58 Mereka menyeret dia ke luar kota kemudian melemparinya dengan batu. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu menitipkan pakaian mereka pada seorang muda yang bernama Saulus.”

Paulus bersaksi tentang hal itu di KPR 22 ketika dia mengatakan di ayat 20, “Begitu juga ketika saksi-Mu Stefanus dibunuh mati, saya sendiri berada di situ dan menyetujui pembunuhan itu. Malah sayalah yang menunggui pakaian orang-orang yang membunuh dia.” Orang Farisi muda ini ingin membunuh jemaat gereja dan dia mulai upaya itu melawan Stefanus. Karena itu mereka semua meletakkan jas-jas mereka di dekat kakinya. Itu melambangkan otoritas.

Yang menarik adalah bahwa Paulus sendiri, setelah dia dikonversi, menderita penganiayaan sepanjang hidupnya yang sama seperti Stefanus. Bahkan waktu Saulus dikonversi di KPR 9:16, Tuhan mengatakan kepada Ananias, “Dan Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya semua penderitaan yang harus ia alami karena Aku.” Dan apa yang terjadi kepada Stefanus juga terjadi terhadap Paulus.

Orang-orang Yahudi menolak ajaran-ajaran dan khotbah Stefanus, dan begitupun mereka menolak Paulus. Stefanus dituduh penghujatan, demikian pula Paulus. Stefanus dituduh menghujat Musa dan menghujat bait Allah dan menghujat hukum Taurat, demikian juga Paulus. Stefanus diseret keluar kota, demikian pula Paulus. Stefanus dibawa untuk menghadap Sanhedrin, demikian juga Paulus. Stefanus dilempar batu, dan demikian juga Paulus.

Stefanus menghilang begitu saja namun kita memiliki sejarah panjang tentang Saulus yang menjadi Paulus. Transformasi Saulus yang ganas menjadi Paulus yang dicuci darah Yesus hanya mungkin melalui anugerah Allah. Dan ketika Paulus menyatakan dirinya sebagai pembunuh di dalam surat ini, itu semua mulai dengan Stefanus. Kematian Stefanus mulai penganiayaan besar itu dan Saulus pada saat itu adalah pemimpinnya dan semua orang-orang itu melarikan diri.

Ada catatan di akhir ayat 1, “kecuali rasul-rasul.” Mereka itu seperti para penjaga yang setia yang menetap di tempat mereka untuk menguatkan jiwa-jiwa murid-murid yang tidak dapat melarikan diri dari kota dan harus tinggal di kota. Gereja mereka masih ada. Masih ada jiwa-jiwa lain yang akan mesuk kedalam kerajaan di kota Yerusalem. Masih ada jiwa-jiwa lain yang dimenangkan injil dan mereka menggembalakan gereja itu.

Pada akhirnya para rasul itu juga pergi, namun saat itu masih belum, masih belum di saat gereja mula-mula masih membutuhkan mereka untuk memeilihara jemaat. Kemudian ayat 2 mengatakan, “Orang-orang yang takut kepada Allah menguburkan Stefanus dan menangisi dia dengan sangat sedih.” Ini pernyataan penting. Orang-orang yang takut akan Allah belum tentu adalah orang Kristen. Orang yang takut akan Allah berarti mereka adalah orang Yahudi yang saleh yang selalu datang ke Yerusalem pada saat ada perayaan. Mereka itu orang Yahudi tradisional yang patuh.

Mereka sedih melihat kelakukan seperti itu. Mungkin mereka itu adalah orang-orang yang menjadi orang yang percaya Kristus nanti. Ini mengingatkan kita bahwa biarpun pemimpin-pemimpin Israel yang mau membunuh sedang berkuasa di saat itu, ada juga orang lain yang tidak setuju. Ada orang yang tahu yang mana salah dan yang mana benar dan mereka patuh kepada Allah dan mereka menunjukkan kesedihan mereka dengan ratapan keras untuk dia.

Hukum Yahudi memerintah bahwa tubuh orang yang dieksekusi harus dikuburkan dan ratapan umum tidak diizinkan. Orang-orang ini menantang tradisi ini dan mereka menangisinya dengan suara keras. Mereka tidak mau mengikuti tindakan yang jahat itu meskipun mereka masih belum menjadi orang percaya dan mungkin saja mereka terbuka untuk mendengarkan injil.

Jadi Stefanus datang dan menghhilang, namun Saulus datang dan terus tinggal. Dia menjadi tokoh utama, dan pada mulanya dalam penganiayaan. Ayat 3, “Tetapi Saulus terus saja berusaha menghancurkan jemaat. Ia pergi dari rumah ke rumah dan menyeret ke luar orang-orang percaya, laki-laki dan perempuan, lalu memasukkan mereka ke dalam penjara.” Paulus mengatakan di KPR 22:3-4, “Saya orang Yahudi yang lahir di Tarsus dan dididik dengan cermat oleh guru besar Gamaliel dalam hukum yang diberikan Musa kepada nenek moyang kita. Saya pun sangat giat untuk Allah. 4 Saya menganiaya sampai mati pengikut-pengikut ajaran baru itu. Mereka semua, baik laki-laki maupun perempuan, saya tangkap dan masukkan ke dalam penjara.”

Penganiayaan itu menyebabkan ada kata kedua yaitu ‘penginjilan’. Ayat 4, “Orang-orang percaya yang sudah terpencar itu memberitakan Kabar Baik dari Allah itu ke mana-mana.” Ini membicarakan pemberitaan Injil. Mereka tidak bersembunyi di bukit-bukit, mereka tidak mundur ke tempat-tempat terpencil di padang gurun, tidak, mereka pergi kemana-mana memberitakan injil. Setiap orang menjadi pengkhotbah. Penganiayaan malah membesarkan apa yang ingin dihancurkan.

Penaniayaan memisahkan gereja dari kenyamanannya dan mengutus mereka dimana mereka bersandar kepada-Nya. Memang itu benar dan seharusnya kita semua mengabarkan Injil. Lukas mengilustrasikan hal itu dengan kisah Filipus. Filipus dipilih untuk menjadi diaken. Ini bukan rasul Filipus, ini adalah Filipus orang diaken itu. Di KPR 21:8 dia dinamakan ‘Filipus, penginjil.” Mengapa? Karena dia pergi kemana-mana dan mengabarkan Injil. Ini contoh jika kita setia dengan hal-hal kecil, kita akan diberikan kuasa dalam hal-hal besar.

Samaria adalah ibu kota kerajaan utara ketika kerajaan itu terbelah dua setelah Salomo. Orang-orang Yahudi, menurut Yohanes 4:9, tidak mau berhubungan sama sekali dengan orang-orang Samaria. Di dalam tahun 722 SM, orang Asyur menaklukkan kerajaan utara dan ibu kota Samaria. Mereka memasukkan penjajah dan orang-orang asing dan berbagai macam orang kafir, dan orang-orang Yahudi yang ditinggalkan disitu menikah dengan mereka dan hasilnya adalah kelompok hibrida orang-orang bidah.

Namun Filipus sebagai orang Yahudi sama sekali tidak peduli akan hal itu. Dia tahu bahwa injil harus diberitakan ke ujung dunia dan karena itu dia berkhotbah saja. Ayat 5, “Filipus pergi ke kota Samaria dan memberitakan kepada orang-orang di sana tentang Raja Penyelamat yaitu Kristus yang dijanjikan Allah.” Mengapa dia berkhotbah tentang sang Mesias kepada mereka? Karena mereka percaya akan kedatangan Mesias. Masih ingat kepada siapa Tuhan Yesus pertama kali menyatakan bahwa Dia adalah Mesias? Seorang wanita Samaria di sumur.

Ayat 6, “Ketika orang-orang mendengar Filipus berbicara dan mereka melihat keajaiban-keajaiban yang dibuatnya, banyak dari mereka yang memperhatikan apa yang dikatakan oleh Filipus.” Kuasa untuk melakukan mujizat-mujizat terbentang dari para rasul kepada generasi pertama orang-orang penginjil diaken. Filipus melakukan hal-hal yang dilakukan para rasul, ayat 7, “Sebab roh-roh jahat sudah keluar dengan menjerit-jerit dari banyak orang yang kemasukan setan. Dan orang-orang lumpuh dan timpang pun banyak yang disembuhkan.”

Itulah yang dilakukan setan-setan ketika mereka diperhadapkan kekuatan Kristus. Mengapa Filipus diberi kekuatan untuk melakukan hal-hal seperti itu? Itu untuk menegaskan bahwa pesannya benar. Pada waktu itu masih belum ada Perjanjian Baru. Bagaimana kita dapat membedakan guru benar dari guru palsu? Guru-guru palsu itu ada dimana-mana. Dengan melihat kuasa mereka atas setan-setan, kekuatan atas penyakit dan kekuatan atas kelainan bentuk. Ini semua luar biasa dan kuat sekali dan mereka terpesona.

Ada kata ketiga di KPR 8:8, “Maka orang-orang di kota Samaria itu gembira sekali.” Ini hanya satu cerita dari orang-orang percaya yang terpencar. Stefanus meninggal dan Saulus memulai penganiayaan yang sangat besar. Namun daripada mematikan gereja itu, gereja itu malah berkembang. Satu kesaksian dari satu orang bernama Filipus disampaikan dan seluruh kota mulai bersukacita.

Apakah hal itu memberitakan kepada kita? Buah sulung keselamatan adalah suka cita. Ketika orang-orang diselamatkan mereka itu mengalami sukacita yang luar biasa. Yesaya 61:10-11, “Aku bergembira karena Tuhan, hatiku bersuka ria karena Allah. Seperti pengantin pria dan wanita memakai perhiasan serba indah, begitulah Tuhan mengenakan padaku baju keselamatan dan kemenangan. 11 Seperti benih yang ditaburkan akan tumbuh menjadi tanaman, begitulah Tuhan Allah menumbuhkan keselamatan dan semua bangsa akan memuji Dia.”

Injil diberitakan kepada dunia karena orang-orang percaya dianiaya. Nah kita tidak perlu mengharapkan akan ada penganiayaan. Kita tidak perlu menciptakan keadaan dimana kita pasti akan dianiaya. Namun disisi lain, kita tidak perlu takut ada penganiayaan karena menurut sejarah, penganiayaan itu malah menyebabkan tujuan Allah tercapai. Kita perlu tahu bahwa itu mungkin terjadi. Kita perlu ada keberanian dan ada ketegasan dan memberitakan kebenaran itu ditengah penganiayaan dan tahu bahwa Allah akan memakai penganiayaan itu untuk mencapai tujuan ilahi-Nya, Amin? Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu