29 Mei 2016 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2016
Kematian Stefanus yang Menang
29 Mei 2016

Kita terus melihat laporan yang luar biasa ini pada akhir KPR 7, saat kita pelajari martir Kristen pertama yang dibunuh karena dia bersaksi tentang Kristus. Namanya Stefanus dan kita diperkenalkan di KPR 6. Dia salah satu dari pria yang dipilih untuk melayani di gereja. Dia seseorang yang reputasinya baik, penuh kebijaksanaan dan iman dan Roh Kudus. Dan dia pengkhotbah yang berani sekali yang akhirnya menjadi martir pertama.

Stefanus dibawa ke sidang dihadapan Mahkamah Agung Yahudi, yaitu Sanhedrin. Dia telah berkhotbah di sinagog orang Yunani, dimana orang Yahudi dari luar Israel telah memiliki beberapa sinagog di Yerusalem. Jadi Stefanus bukan saja melayani janda-janda seperti yang kita lihat di KPR 6, namun juga pergi ke sinagog orang-orang bebas, dimana ada orang Yahudi dari Kirene dan Aleksandria dan dari Kilikia di Asia, dan disitu dia mengabarkan injil.

Dan di sinagog itu orang-orang berdebat dengan Stefanus. Dan menurut KPR 6:10, “Tetapi mereka tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Stefanus, karena Roh Allah memberikan kepadanya kebijaksanaan untuk berbicara.” Dan karena mereka tidak bisa menang dalam perdebatan itu, mereka menyerang. Di ayat 11 mereka menuduh dia menghujat Musa dan Allah. Dan di ayat 13, mereka menuduh dia menghujat bait Allah dan Hukum Taurat.

Dia sekarang di depan Mahkamah Agung dan Imam Besar menanyakannya di KPR 7:1, “Apakah semua yang dikatakan oleh orang itu benar?” Jadi jawaban Stefanus mulai dari KPR 7:2 sampai ke ayat 53. Pertama dia menunjukkan bahwa dia bukan penghujat Allah namun orang yang percaya Allah. Dia juga bukan penghujat Musa, namun menyetujui bahwa apa yang Allah memberikan kepada Musa adalah nubuatan ilahi. Dia bukan penghujat hukum Taurat karena dia menganggap hukum itu benar-benar hukum Allah. Dan dia juga penghujat bait Allah. Jadi dia membela dirinya dari empat tuduhan itu.

Namun pada waktu yang sama dia sekarang menuduh Mahkamah Agung Yahudi, Sanhedrin itu, dan semua orang Yahudi yang berkumpul disitu. Dan dia mengatakan bahwa sebenarnya kalian bersama nenek moyangmu justru yang menghujat Allah. Kalian bersama bapak leluhurmu telah menghujat Musa. Kalian bersama nenek moyangmu telah menghujat Hukum Taurat dalam pengabaian dan ketidaktaatan. Kalian adalah penghujat bait Allah karena seperti dikatakan Yesus di Matius 21:13, kalian telah menjadikannya sarang penyamun!"

Jadi Stefanus mengakhiri khotbahnya di ayat 51-53, “Bukan main keras kepala Saudara-saudara dan begitu sukar taat kepada Allah! Kupingmu tuli sekali terhadap perkataan Allah! Kalian sama dengan nenek moyangmu; selalu melawan Roh Allah! 52 Apa ada nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Mereka membunuh utusan-utusan dari Allah yang dahulu kala sudah mengumumkan bahwa Hamba Allah yang benar itu akan datang. Dan sekarang kalian mengkhianati dan membunuh Hamba Allah itu. 53 Malaikat-malaikat sudah menyampaikan perintah Allah kepadamu tetapi kalian tidak menurutinya!"

Lihatlah sekarang ayat 54-60, “Begitu anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya yang dikatakan oleh Stefanus, mereka sakit hati dan marah sekali kepadanya. 55 Tetapi Stefanus yang dikuasai oleh Roh Allah, memandang ke langit. Ia melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di tempat berkuasa di sebelah kanan Allah. 56 "Lihat," kata Stefanus, "saya melihat surga terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah!" 57 Anggota-anggota mahkamah itu menutup telinga mereka sambil berteriak-teriak, lalu serentak menyerang Stefanus. 58 Mereka menyeret dia ke luar kota kemudian melemparinya dengan batu. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu menitipkan pakaian mereka pada seorang muda yang bernama Saulus. 59 Sementara mereka melempari Stefanus, Stefanus berseru, "Tuhan Yesus, terimalah rohku!" 60 Lalu ia berlutut dan berteriak dengan suara yang keras, "Tuhan, janganlah dosa ini ditanggungkan ke atas mereka!" Sesudah mengatakan begitu ia pun mati.”

Saulus mendukung pembunuhan Stefanus. Dan pada hari itu penganiayaan besar mulai terhadap gereja di Yerusalem. Dan akibat itu mereka semua tersebar di daerah-daerah Yudea dan Samaria, kecuali para rasul. Ada beberapa orang yang setia yang menguburkan Stefanus dengan ratapan keras.

Korban sebenarnya adalah mereka yang membunuh Stefanus yang menentukan nasib mereka sendiri. Sebenarnya Stefanus adalah pemenang. Hanya kelihatannya keadaannya terbalik. Stefanus baru memberikan pembelaannya, khotbah yang benar luar biasa. Dan pada akhirnya dia datang kepada Yesus, sang Mesias, dan seluruh Israel menunjukkan bahwa merekalah yang menghujat Allah, Musa, Hukum Taurat dan Bait Allah.

Dunia itu penuh amarah, dengan melakukan yang terburuk yang hanya menimbulkan yang terbaik dari dalam abdi Allah. Stefanus menghadapi mereka penuh keberanian dengan menyerang mereka dengan Firman memakai pedang Roh, dan dia menusuk mereka ke dalam jiwa-jiwa mereka. Dan mereka membunuhnya oleh karena itu, namun dia dihormati Allah.

Lihatlah kontrasnya. Mereka penuh amarah namun Stefanus dipenuhi Roh. Kita dapat melihat itu di ayat 54 dan bagian pertama ayat 55, “Begitu anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya yang dikatakan oleh Stefanus, mereka sakit hati dan marah sekali kepadanya. 55 Tetapi Stefanus yang dikuasai oleh Roh Allah memandang ke langit.” Ketika Stefanus mulai khotbahnya, Stefanus setuju dengan mereka karena mereka percaya Firman Perjanjian Lama. Mereka mendengar dan setuju ketika dia menegaskan kepercayaannya dengan Allah yang benar dan Musa, dan hukum Taurat dan bahkan tempat ibadah.

Dia mulai dengan melafalkan sejarah mereka, namun pada waktu penekanan argumennya menjadi lebih jelas, minat mereka berpaling ke kemarahan. Mereka menuduhnya menghujat namun dia membalikannya semua dan malah menuduh mereka dan itu menyebabkan mereka sangat marah. Panah-panah kebenaran Allah demi kuasa Roh Allah melalui keberanian pengkhotbah Yahudi ini menyebabkan kemarahan mutlak.

Neraka tidak menghasilkan penyesalan, itu menghasilkan amarah. Karena itu keadaannya kekal, karena mereka terus menerus berdosa. Kemarahan mereka terhadap Allah tidak pernah berkurang. Neraka penuh orang-orang yang marah sekali, marah karena keputusan-keputusan yang mereka ambil, marah terhadap yang menempatkan mereka disitu. Jika Anda tidak mau mendengar injil, penghakiman pun tidak dapat menghilangkan kemarahan seperti itu.

Di Wahyu, marilah kita melihat Tribulasi besar ketika hukuman-hukuman Allah datang ke dunia, penghakiman dibawah segel-segel dan dibawah trompet dan wadah-wadah. Coba kita melihat contoh di Wahyu 9:20, dimana dikatakan, “Tetapi sisa dari umat manusia yang tidak terbunuh oleh bencana-bencana itu pun, tidak pula bertobat dari perbuatan tangan mereka sendiri. Mereka tidak berhenti menyembah roh-roh jahat dan berhala-berhala emas, perak, tembaga, batu dan kayu yang tidak dapat melihat atau mendengar, ataupun berjalan. 21 Mereka tidak pula bertobat dari perbuatan-perbuatan mereka yang jahat, yaitu pembunuhan, ilmu-ilmu gaib, percabulan dan pencurian.”

Wahyu 16:8-11, “Setelah itu malaikat keempat menuang isi wadahnya ke matahari, maka matahari pun dibolehkan menghanguskan manusia dengan panasnya yang hebat itu. 9 Manusia dihanguskan oleh panas teriknya, dan mereka mengutuki nama Allah, yang berkuasa atas bencana-bencana tersebut. Meskipun begitu, mereka tidak mau bertobat dari dosa-dosa mereka dan tidak mau memuji kebesaran Allah. 10 Lalu malaikat kelima menuang isi wadahnya ke takhta binatang itu. Maka seluruh kerajaan binatang itu menjadi gelap, dan manusia menggigit lidah karena kesakitan. 11 Lalu mereka mengutuki Allah di surga karena mereka kesakitan dan karena bisul-bisul mereka. Tetapi mereka tidak juga bertobat dari perbuatan-perbuatan mereka yang jahat.”

Stefanus menyalahkan mereka sebagai penghujat dan itu menimbulkan amarah mereka. Mereka terkutuk karena mereka terus menerus menolak. Mereka telah mengeraskan hati mereka melawan kebenaran. Mereka menolak kesaksian dan khotbah-khotbah injil para rasul. Mereka menolak pesan, pelayanan dan mujizat-mujizat Petrus dan Stefanus. dan penolakan mereka begitu mendalam sehingga satu-satunya tanggapan terhadap tuduhan lain adalah amarah mutlak.

Ini bukan ledakan tiba-tiba, ini ketegangan yang berkembang semakin tinggi semakin lama Stefanus berkhotbah. Pejabat-pejabat ini belum pernah menghadapi tawanan seperti ini. Dia berbicara bukan sebagai tawanan melainkan sebagai hakim. Dia lebih seperti pendakwa dari pada yang terdakwa. Hati nuraninya membawa dia sampai saatnya dimana biaya sebesar apapun dia berani bayar untuk menyatakan keyakinannya. Stefanus tidak lagi berdiri dihadapan mahkamah yang teratur, tetapi suatu massa yang pikirannya sudah kacau penuh kebencian dan emosi, dan mereka hanya ingin membunuh.

Mereka tidak mau ada orang yang mengekspos dan menunjukkan betapa dalam dosa-dosa mereka. Ini reaksi Iblis. Herodias membunuh Yohanes Pembaptis karena dia menunjukkan dosanya dan menyalahkan dia. Orang-orang Farisi menyalibkan Yesus Kristus karena Dia menyalahkan mereka dan membuka kemunafikan mereka. Orang-orang Yahudi bertindak dengan cara yang sama terhadap para rasul. Dan Stefanus adalah orang pertama dari banyak orang yang berani membuka dosa-dosa dan mati di tangan orang yang dibuka dosanya.

Stefanus selalu dipenuhi Roh Kudus. Selama orang Kristen dimartir sepanjang sejarah gereja, tidak ada satu orangpun yang mati penuh amarah, yang ingin memusnahkan semua orang yang menganiaya mereka. Setiap kisah orang dimartir selalu menunjukkan suatu damai yang indah, tenang dan supranatural dan kekuatan ilahi.

Namun ada tambahan lagi. 1 Petrus 4:14 mengatakan, “Kalian beruntung kalau kalian dihina sebab kalian diberkati Kristus, karena Roh yang mulia dan Roh Allah, ada padamu.” Ada sesuatu yang terjadi pada jam kemartiran dimana ada porsi ganda Roh Kudus. Bukan saja ada Roh Kudus yang hidup di dalam setiap orang percaya, namun juga ada anugerah khusus dan kemuliaan yang dikaruniakan kepada martir itu yang ada dibawah ancaman hidup berat.

Di Lukas 12:11 Yesus mengatakan, “Kalau kalian dibawa ke rumah-rumah ibadat untuk diadili di hadapan pemerintah atau penguasa, janganlah khawatir mengenai bagaimana kalian harus membela diri atau mengenai apa yang harus kalian katakan. 12 Sebab apa yang kalian harus katakan itu akan diajarkan oleh Roh Allah kepadamu pada waktunya.” Sebenarnya ada tiga porsi Roh Kudus. Pertama, Anda didiami Roh Kudus; kedua, Anda diberkati Roh Kudus yang memberikan anugerah dan kemuliaan; dan ketiga, bahkan pada saat kita memerlukannya kita diberi apa yang harus kita katakan.

Perhatikanlah ada kontras-kontras lain. Mereka memiliki kebutaan rohani, dibanding Stefanus diberi penglihatan rohani. Stefanus melihat di ayat 55-56, “kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di tempat berkuasa di sebelah kanan Allah. 56 "Lihat," kata Stefanus, "saya melihat surga terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah!” Dibanding dengan orang-orang Yahudi yang di ayat 57, “menutup telinga mereka sambil berteriak-teriak, lalu serentak menyerang Stefanus.”

Sangat luar biasa, Stefanus dapat melihat kemuliaan Allah. Dia melihat apa yang dilihat Adam dan Hawa di taman pada waktu mereka berjalan dan berbicara dengan Allah. Dia melihat apa yang dilihat Yesaya dalam visi di Yesaya 6 ketika Tuhan duduk diatas takhta-Nya yang tinggi dan mulia. Dia melihat apa yang dilihat Paulus ketika dia di 2 Korintus 12:2 diangkat ke surga ketiga. Dia melihat apa yang Musa melihat pada waktu dia naik gunung dan dia dapat melihat kemuliaan Allah.

Dia melihat apa yang Petrus, Yakobus dan Yohanes melihat di gunung pada waktu mereka ada di gunung transfigurasi. Tetapi bukan saja kemuliaan Allah yang dia lihat. Dia melihat Yesus disebelah kanan Allah. Allah menyatakan dirinya dalam sinar terang. Stefanus melihat terang itu dan berdiri disebelah kanan terang itu dia melihat Yesus. Seperti dikatakan di Markus 16:19, “Setelah Tuhan Yesus berbicara dengan mereka, Ia diangkat ke surga dan duduk disebelah kanan Allah.”

Namun disini ada sesuatu yang aneh. Semua referensi mengenai Tuhan di Injil dan juga di buku Ibrani menunjukkan Dia duduk dalam kemuliaannya di sebelah kanan Allah, tempat kehormatan, kekuasaan dan keagungan. Namun disini Kristus yang telah diangkat kelihatan berdiri. Mengapa? Karena Dia mengasihi hamba-hamba-Nya yang menderita. Dia berdiri untuk menyambut Stefanus, salah satu umat-Nya, untuk masuk ke dalam surga.

Dalam keadaan krisis itu, Allah membuka bagi dia suka cita yang begitu besar sehingga penderitaannya saat itu tidak dapat dibandingkan. Jadi orang kudus yang mau mati ini mulai mengalami surga, kemudian dia melihat kemuliaan Allah dan kemudian Anak Manusia, Yesus yang berdiri dibelah kanan Allah untuk menyambut dia. Jadi Stefanus mengatakan di ayat 56, “saya melihat surga terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah!”

Kata-kata itu pernah didengar Sanhedrin karena Yesus Kristus telah mengatakan hal yang sama. Markus 14:61-62, “Lalu imam agung itu bertanya sekali lagi kepada-Nya, "Apakah Engkau Raja Penyelamat, Anak Allah Mahakudus?" 62 "Akulah Dia," jawab Yesus, "dan kamu semua akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa dan datang dalam awan dari langit!” Dan menurut mereka itu adalah penghujatan terakhir dari Yesus. Dan karena itu mereka membunuh-Nya.

Disini terdapat kesaksian hidup dari Stefanus bahwa Anak Manusia itu berada di tempat dimana Ia menubuatkan Dia akan pergi. Dan ini merupakan penghujatan yang paling menyolok bagi orang-orang Yahudi. Dan mereka harus membunuh Stefanus kecuali mereka mau mengaku bahwa mereka bersalah terhadap Yesus. Stefanus memiliki penglihatan rohani namun mereka buta total. Bahkan Yesus menamakan mereka pemimpin buta orang buta.

Mereka tidak mau tahu kebenaran Allah. Seperti dikatakan di ayat 51 mereka itu hatinya seperti batu dan keras kepala. Mereka sengaja tidak mau tahu dan sekarang mereka juga buta secara hukum. Karena itu di Roma 11:8 dikatakan apa yang tertulis di Yesaya 6, bahwa “Allah membuat hati dan pikiran mereka menjadi bebal; dan sampai saat ini mata mereka tidak dapat melihat dan telinga mereka tidak dapat mendengar.” Mereka tidak mau bertobat dan karena itu mereka tidak dapat diselamatkan.

Ada pasangan kontras ketiga, yaitu kontras diantara kematian dan hidup. Mereka membunuhnya namun bagi Stefanus ini hanya pintu masuk ke surga. Ayat 58-59, “Mereka menyeret dia ke luar kota kemudian membunuhnya dengan melempar batu. Orang-orang yang menyaksikan kejadian itu menitipkan pakaian mereka pada seorang muda yang bernama Saulus. 59 Sementara mereka terus melempari Stefanus, Stefanus berseru, "Tuhan Yesus, terimalah rohku!"

Bahkan dalam kemarahan mereka, mereka tetap ingin mengikuti hukum seperti diharuskan di Imamat 24 bahwa setiap orang yang dibunuh dengan batu harus dibunuh diluar kota. Dan di Imamat 24 dikatakan bahwa hukuman penghujatan yang tepat adalah pembunuhan dengan batu. Namun sebenarnya mereka tidak berhak untuk membunuh siapapun. Hanya orang Roma berhak untuk melakukan itu. Namun mereka mengabaikan hal itu sama sekali. Mereka pasti memiliki dua atau tiga saksi.

Ulangan 17:7 mengatakan bahwa tangan saksi itu adalah yang pertama-tama harus mematikan orang itu. Dan setelah itu baru tangan orang lain. Tetapi batu-batu pertama tidak berhasil membunuh Stefanus dan batu-batu dari saksi kedua juga tidak membunuhnya. Karena ayat 59 mengatakan sementara mereka terus melampari Stefanus dengan batu.”

Di ayat 58, mereka menitipkan pakaian mereka supaya mereka dapat melempar batu-batu itu lebih akurat dan lebih keras. Dan mereka menitipkan pakaian mereka kepada seseorang muda bernama Saulus. Jauh lebih baik untuk meninggalkan dunia ini dan berada bersama Kristus. Tuhan Yesus terimalah rohku! Pada dasarnya itu juga yang dikatakan Tuhan di kayu salib di Lukas 23:46, “Ke dalam tangan-Mu Kuserahkan Roh-Ku!"

Ada satu lagi kontras pada akhirnya diantara kebencian dan kasih. Tentu saja kita melihat kebencian mereka selama pembunuhan dengan batu itu. Namun ditengah segala kebencian itu, kita dapat melihat keindahan kasih. Ayat 60, “Lalu ia berlutut dan berteriak dengan suara yang keras, "Tuhan, janganlah dosa ini ditanggungkan ke atas mereka!" Sesudah mengatakan begitu ia pun mati.”

Inilah sebenarnya puncak kesaksian Stefanus. Dia sambil berlutut mulai berdoa. Dia berdoa untuk pengampunan bagi mereka. Ini sama seperti apa yang dilakukan Tuhan kita di kayu salib di Lukas 23:34, “Bapa, ampunilah mereka! Mereka tidak tahu apa yang mereka buat.” Ini doa yang luar liasa. Betapa besar kasihnya dan betapa manis anugerah Allah. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu