08 Mei 2016 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2016
Pembelaan Kristus oleh Stefanus
8 Mei 2016

Kisah Para Rasul 7 adalah cukup panjang, namun ini tidak dimaksudkan untuk dipelajari dalam setiap detail. Inilah gambaran besar saja sehingga kita akan mempelajarinya dalam beberapa minggu saja. Kita akan melihat bagaimana semua itu terungkap. Salah satu hal yang adalah kewajiban setiap orang Kristen terdapat di 1 Petrus 3:15, “Hendaklah kalian selalu siap untuk memberi jawaban kepada setiap orang yang bertanya mengenai harapan yang kalian miliki dengan lemah lembut dan hormat.”

Kita selalu harus dapat membela kepercayaan kita. Orang Kristen yang efektif adalah seseorang yang dapat mengartikulasikan kebenaran dan membela apa yang dia percaya secara Alkitabiah dan wajar. Kita menamakan hal itu ilmu pembelaan. Apakah kita meminta maaf? Tidak. Ini datangnya dari kata Yunani apologia. Ini berarti berbicara dalam pembelaan atau membela. Ilmu pembelaan ini adalah kata-kata yang membela iman kita yang berdasarkan kebenaran Alkitabiah.

Disini Stephanus membela kepercayaannya dan itu semua datangnya dari Perjanjian Lama. Dia telah mengerti bahwa keseluruhan Perjanjian Lama itu membawa kita kepada Yesus Kristus. Pada waktu permulaan para murid tidak mengerti tujuan Perjanjian Lama itu. Di dalam empat Injil mereka tidak mengacu kepada Perjanjina Lama sama sekali. Namun setelah Kristus mengajarkan mereka Perjanjian Lama itu, mereka dipenuhi kutipan-kutipan ayat Perjanjian Lama.

Jadi Stefanus mulai memberi pembelaan Allah dari saat ada penciptaan dan menuju kepada apa yang dinyatakan di Firman Allah. Ini perlu bagi kita semua, namun khususnya bagi mereka dalam bidang kepemimpinan rohani. Di Titus 1:9 kita mendapatkan prinsip-prinsip, standar-standar, sifat karakter dan persyaratan bagi mereka yang memimpin di gereja. Mereka harus, “berpegang teguh pada ajaran yang dapat dipercaya, seperti yang sudah diajarkan kepadanya. Dengan demikian ia sanggup menasihati orang berdasarkan ajaran yang benar, dan menunjukkan kesalahan orang-orang yang menentangnya.”

Mengapa? Titus 1:10 mengatakan, “Sebab banyak orang yang suka memberontak, terutama orang-orang yang tadinya beragama Yahudi; mereka menipu orang lain dengan omong kosong mereka.” Bagaimana kita dapat membungkamkan seorang penipu? Kita membungkamkannya dengan kebenaran. Mengapa? Ayat 11, “Sebab mereka mengacaukan banyak keluarga dengan ajaran-ajaran yang tidak-tidak. Mereka melakukan itu hanya karena mau mencari untung yang tidak pantas!” Kita tahu itu biasa dilakukan guru-guru palsu, namun sedihnya ada orang-orang yang bertanggung jawab atas kebenaran yang masih mengajar kesalahan demi uang juga.

Paulus memproklamirkan kebenaran. Dan dia membela kebenaran dengan membuka kedok kesalahan. Filipi 1:7, “Memang pada tempatnya saya mempunyai perasaan seperti itu terhadap kalian, sebab Saudara semuanya selalu dekat di hati saya. Juga sebab kalian turut menerima bersama-sama saya, anugerah yang Allah berikan kepada saya; baik sekarang ini sementara saya di dalam penjara maupun pada waktu saya berada di luar untuk membela dan mempertahankan Kabar Baik itu.” Injil dikonfirmasikan secara positif dan dia membela Injil secara negatif.

Paulus adalah pembela besar dari kepercayaan Perjanjian Baru, namun ada pembela iman yang lain sebelum Paulus. Stefanus juga memberi khotbah yang membela dan menjadi konfirmasi injil. Dia dipilih bersama enam lelaki lain karena beberapa orang Yahudi dari luar Israel tidak kebagian bantuan makanan yang sepatutnya. Jadi keduabelas murid-murid, yang sebelas ditambahkan Matias, memilih tujuh orang Yahudi Yunani untuk menangani pelayanan itu.

Nah Stefanus bukan diaken sebenarnya. Dia lebih dari pada diaken, namun dia melayani janda-janda. Dia tidak sebesar rasul, namun Tuhan memberikan kepadanya dan Filipus kuasa-kuasa ajaib. Dia sebenarnya bukan nabi namun dia pengkhotbah yang luar biasa. Dan melalui Filipus, Stefanus dan yang lain-lain di KPR 6:7 dikatakan, “Demikianlah berita dari Allah semakin tersebar dan pengikut-pengikut Yesus di Yerusalem pun makin bertambah banyak. Dan banyak pula imam-imam yang percaya kepada Yesus.”

Ketika Stefanus berbicara di sinagog-sinagog orang Yahudi bukan Israel, mereka tidak setuju dengan dia dan mereka bertengkar. Namun KPR 6:10 mengatakan, “Tetapi mereka tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Stefanus, karena Roh Allah memberikan kepadanya kebijaksanaan untuk berbicara.” Jadi ayat 11, “Oleh sebab itu mereka menyuap beberapa orang untuk berkata, "Kami mendengar orang itu menghina Musa dan Allah!” Ayat 12, “Begitulah mereka menghasut orang-orang, dan pemimpin-pemimpin Yahudi, serta guru-guru agama. Lalu mereka pergi menangkap Stefanus, kemudian membawa dia menghadap Mahkamah Agama.”

Mereka ada empat tuduhan. Stefanus berbicara melawan Allah. Dia berbicara melawan Musa. Dia berbicara melawan Hukum Taurat , dan dia berbicara melawan bait Allah. Dan sekarang dia berada di Mahkamah Agama. Dia baru menjadi orang Kristen selama paling banyak satu bulan, namun apa yang dia katakan disini menunjukkan pengetahuan Perjanjian Lama yang luas sekali. Jadi sekarang dia mulai membela dirinya.

Kayafas, Imam Agung ini mengatakan kepadanya di KPR 7:1, “Apakah semua yang dikatakan oleh orang itu benar?" Orang-orang yang menuduh itu memikir mereka akan diadili oleh orang-orang Alkitabiah yang paling elit.” Mereka begitu marah sampai dia disebut penghujat dan Hukum Taurat mengajarkan bahwa semua penghujat haris dieksekusi. Jadi KPR 7 adalah pidato apologia Stefanus untuk membela Perjanjian Lama, namun itu lebih besar dari pada suatu pembelaan saja. Ini bahkan menjadi khotbah ofensif kuat yang mengarah ke Kristus.

Dan semua yang diacukan Stefanus adalah suatu penegasan Perjanjian Baru terhadap Perjanjian Lama. Keinginan nomor satu adalah supaya mereka mau mendengar dia, jadi dia mulai dengan sejarah mereka. Dia mulai dengan firman Tuhan dan menjelaskan bahwa hal-hal yang penting di Firman itu bagi dia penting juga. Dia bukan seorang penghujat karena dia percaya firman Allah.

Hal kedua yang dia lakukan adalah menjawab tuduhan bahwa dia menghujat Allah. Dia langsung menjawab setiap tuduhan secara positif. Pembelaan bagian pertama adalah melawan tuduhan penghujatan terhadap Allah. Bagian kedua adalah pembelaan diri melawan penghujatan Musa. Bagian ketiga adalah pembelaan terhadap penghujatan hukum Taurat. Dan akhirnya pembelaan terhadap penghujatan bait Allah. Dan dia menyangkal setiap tuduhan itu satu per satu.

Nah sekarang marilah kita melihat bagaimana caranya dia membela diri terhadap tuduhan bahwa dia menghujat Allah di KPR 6:11. Dia mengambil tuduhan yang paling berat duluan. Perjanjian baru bukanlah anti-Allah. Injil yang benar-benar telah memenuhi Yerusalem dan yang telah menjungkirbalik-kannya bukanlah berlawanan dengan Allah. Stefanus menegaskan kepercayaannya kepada Allah Abraham, Ishak dan Yakub, yaitu Allah Israel. KPR 7:1, “Imam agung bertanya kepada Stefanus, "Apakah semua yang dikatakan oleh orang itu benar?”

Ayat 2-3, “Stefanus menjawab, "Saudara-saudara dan Bapak-bapak! Coba dengarkan saya! Sebelum nenek moyang kita Abraham pindah ke Haran, pada waktu ia masih tinggal di Mesopotamia, Allah yang mulia datang kepadanya 3 dan berkata, 'Tinggalkanlah negerimu dan sanak keluargamu. Pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.”

Stefanus memberikan Allah judul tertinggi yaitu ‘Allah yang Mulia.’ Judul ini hanya terdapat di Perjanjian Lama satu kali saja di Mazmur 29 dimana banyak komponen yang membentuk kemuliaan Allah itu disatukan. Allah dikenal dengan banyak nama-nama. Yehova-Jireh, Tuhan yang memelihara. Yehova-Rafa, Tuhan yang menyembuhkan. Yehova-Shalom, Tuhan damai kami. Yehova-Raa, Tuhan gembala kami. Yehova-Sidkenu, Tuhan yang benar. Yehova-Sabaot, Tuhan semesta alam. Yehova-Shama, Tuhan yang ada dimana-mana. Yehova-Elion, Tuhan yang mahatinggi. Yehova-Mekadiskem, Tuhan yang menguduskan.

Namun semua itu menjadi bagian dari Allah yang mahamulia, Allah El Hakavod, Tuhan mahamulia. Stefanus mengatakan dialah Allah yang saya percaya. Dia menganggap Allah dari pemazmur Daud itu sepenuhnya mahakuasa, berdaulat dan penuh kemuliaan. Sebenarnya Stefanus melihat sedikit dari kemuliaan itu pada waktu dia meninggal di ayat 55. Sebelumnya dia dibunuh dengan batu dia sempat melihat Allah penuh kemuliaan itu yang dia baru bicarakan.

Allah itulah yang “sebelum nenek moyang kita Abraham pindah ke Haran, pada waktu ia masih tinggal di Mesopotamia,” yang datang kepadanya. Mesopotamia adalah istilah Yunani untuk Kasdim. Kota asal Abraham dari Mesopotamia adalah kota Ur. Jadi Allah memperlihatkan diri-Nya kepada Abraham ketika dia masih di Mesopotamia sebelum dia pindah ke Haran. Namun Dia juga kemudian memperlihatkan diri-Nya di Haran, suatu kota lain kira-kira 800 kilometer sebelah barat laut kota Ur yang juga di Mesopotamia.

Disitu Allah memperlihatkan diri kepada Abraham di Haran ketika Dia memberikannya perjanjian Abraham di Kejadian 12:1-3, “Tuhan berkata kepada Abram, "Tinggalkanlah negerimu, kaum keluargamu dan rumah ayahmu, lalu pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. 2 Aku akan memberikan kepadamu keturunan yang banyak dan mereka akan menjadi bangsa yang besar. Aku akan memberkati engkau dan membuat namamu masyhur, sehingga engkau akan menjadi berkat. 3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan karena engkau Aku akan memberkati semua bangsa di bumi.”

Dan Stefanus mengutip apa yang ada di Kejadian 12:1, “Tinggalkanlah negerimu, kaum keluargamu dan rumah ayahmu, lalu pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Abraham taat kepada Allah, dia datang ke Kanaan yang akhirnya menjadi Israel. Ayat 4, “Maka Abraham meninggalkan negeri Kasdim, lalu pindah ke Haran. Sesudah ayah Abraham meninggal, Allah membuat Abraham pindah ke negeri ini yang Saudara-saudara dan Bapak-bapak sekalian diami sekarang ini.” Jadi Stefanus mengatakan, “Lihatlah, saya mengakui panggilan Allah Mahamulia bagi kehidupan Abraham. Saya mengakui perjanjian Abraham itu.”

Dan dia tahu sejarah orang Yahudi. Dia tahu ketika Abraham tiba di Tanah Perjanjian dia tidak menerima milik permanen apapun. Tanah itu merupakan suatu janji kepada Abraham, namun bukan milik. Ayat 5, “Pada waktu itu tidak ada sebagian pun dari negeri ini yang Allah berikan kepada Abraham untuk menjadi milik Abraham; setapak pun tidak diberi kepadanya. Tetapi Allah berjanji bahwa Ia akan memberikannya kepada Abraham untuk menjadi milik Abraham serta keturunannya. Meskipun waktu itu Abraham tidak mempunyai anak.”

Karena itu Paulus di buku Roma mengatakan bahwa Abraham dibenarkan oleh iman. Ayat 6, “Tetapi inilah yang dikatakan Allah kepadanya, 'Keturunanmu akan tinggal sebagai orang asing di negeri orang lain. Orang-orang negeri itu akan menjajah mereka dan memperlakukan mereka dengan kejam empat ratus tahun lamanya.” Ini juga diberitakan kepada Abraham di Kejadian 15. Mereka akan diperbudak dan diperlakukan buruk selama empat ratus tahun di Mesir. Namun Allah memberikan mereka suatu janji melalui perjanjian Abraham.

Kemudian di ayat 7 Stefanus meneruskan, “Tetapi Aku akan menghukum bangsa yang memperhamba mereka, dan mereka akan keluar dari negeri itu dan akan menyembah Aku di tempat ini.” Allah mengatakan hal itu di Keluaran 3. Pada mulanya mereka dihukum sepuluh bencana. Kemudian mereka dihukum oleh air di Laut Merah yang menenggelamkan Firaun bersama semua pasukannya. Jadi dengan pernyataan pembuka ini Stefanus menarik perhatian mereka karena dia membicarakan sejarah mereka. Dan dia telah membela dirinya. Dan sekarang dia mulai menyerang mereka.

Stefanus mulai menyalahkan Israel karena dosa-dosa di ayat 8 pada waktu dia pindah dari periode awal di Abraham kepada periode patriarkal Ishak, Yakub dan Yusuf. Semua orang Yahudi adalah anak-anak Abraham dan semua orang Yahudi adalah anak-anak Ishak. Semua orang Yahudi adalah anak-anak Yakub yang menghasilkan keduabelas suku-suku dari mana mereka semua datang. Jadi dia terus mengidentifikasikan dirinya dengan mereka.

Namun kemudian dengan cepat dia mulai menyalahkan mereka di ayat 9, “Bapak-bapak leluhur kita itu cemburu kepada Yusuf, sehingga mereka menjual dia menjadi hamba di Mesir. Tetapi Allah menyertai dia.” 1 Tawarikh 5:1 mengatakan, “haknya Ruben sebagai anak sulung dicabut dan diberikan kepada Yusuf.” Masih ingat di Kejadian 37 dia bermimpi dimana dia pada dasarnya mengatakan bahwa dia akan menjadi lebih penting dari semua yang lain. Allah telah menentukan bahwa saya akan mendapat kedudukan tinggi.

Wah ini menyebabkan saudara-saudaranya mulai mengarang pembunuhan Yusuf supaya Yakub percaya dia telah dibunuh binatang. Kemudian mereka menjualnya menjadi budak. Mereka melawan Allah. Mereka adalah pemberontak dan mereka menghujat Allah dengan menjual orang yang dipilih Tuhan menjadi budak. Stefanus ingin supaya mereka melihat kisah Yusuf sebagai ilustrasi reaksi Israel terhadap rencana Allah sekarang.

Stefanus bukan orang yang menghujat, mereka sendiri adalah yang memiliki sejarah penghujatan. Tentunya semua ini mencapai klimaksnya di ayat 52 ketika dia menanya, “Apa ada nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu?” Israel sebagai negara telah melawan rencana Allah sejak semula. Jadi siapakah sebenarnya orang-orang penghujat itu?

Mereka melawan Allah meskipun Allah sudah terang-terangan menyatakan kehendak-Nya. Allah membatalkan rancangan saudara-saudara itu dan akhirnya Yusuf dituduh salah dengan suatu perbuatan tidak bermoral dengan isteri Potifar. Dia ditempatkan di penjara dan dia menterjemahkan mimpi oleh kekuatan Allah dan pada akhirnya keluar dari penjara dan di ayat 10 dia menjadi Perdana Menteri Mesir. Ini semua perbuatan Allah yang mereka semua mengenal.

Kisah Yusuf adalah kisah sejajar dengan kisah Kristus. Stefanus mengatakan, “Lihatlah sejarah nenek moyang adalah sejarah penolakan dari Yang diurapi Allah, yang dipilih Allah. Dan pada waktu mereka untuk kedua kalinya bertemu dengan Yusuf, di ayat 13, seperti ditulis di Kejadian 45, “Yusuf memberitahukan kepada saudara-saudaranya itu bahwa ialah Yusuf. Barulah waktu itu raja Mesir tahu tentang keluarga Yusuf.” Ayat 14, “Kemudian Yusuf mengirim berita kepada ayahnya, yaitu Yakub, untuk minta dia bersama seluruh keluarganya pindah ke Mesir--semuanya ada tujuh puluh lima orang.”

Kemudian ayat 15-16 mengatakan, “Maka Yakub pindah ke Mesir dan di situlah ia dan nenek moyang kita meninggal. 16 Mayat mereka kemudian dibawa kembali ke Sikhem dan dikuburkan di kuburan yang sudah dibeli dengan sejumlah uang oleh Abraham dari suku bangsa Hemor di Sikhem.” Masalahnya apa? Mereka semua dikubur di Tanah Perjanjian. Mereka semua mati di Mesir, namun 400 tahun kemudian mereka kembali dan dikubur lagi di Sikhem di Tanah Perjanjian.

Jadi Stefanus mengatakan, “Saya tidak menyangkal Allah. Saya tidak menghujat Allah.” Dia membicarakan sejarah Israel mulai dengan kemuliaan Allah dari Abraham sampai ke Yusuf. Dia menjawab tuduhan-tuduhan mereka dengan kenyataan dia bukan penghujat Allah yang benar dan hidup. Dia menyalahkan mereka dengan melihat penghujatan nenek moyang mereka pada saat mereka menolak Yusuf, yang dipilih Allah. Dan itu menyalahkan mereka karena mereka menyalibkan Kristus dalam menolak yang dipilih Allah lagi.

Jadi Stefanus memberitakan kita untuk berani dalam pengabaran injil. Supaya Anda mengabarkan injil secara alkitabiah. Nyatakanlah kepribadian Allah, kekuatan dan keberdaulatan Allah dalam membentuk sejarah, nyatakanlah kesetiaan Allah dalam memenuhi semua janji-janji-Nya. Stefanus akan memberikan kami tiga pelajaran lagi. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu