14 Jun 2015 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2015
Sidang Yesus yang Tidak Adil
14 Juni 2015

Tuhan Yesus kita memberikan nyawa-Nya bagi dosa-dosa manusia. Lihatlah Matius 26:57, 59-61 yang memberikan kita catatan dari sidang-sidang Yesus yang ilegal dan tidak adil. Kita ingin membahas sifat sidang-sidang Kristus supaya kita mengerti betapa ilegal dan tidak adil keadaannya dan bagaimana, meskipun semua itu, itu tetap menunjukkan keagungan-Nya yang sempurna. Marilah kita melihat sedikit latar belakang sistem pengadilan.

Orang Yahudi selalu membanggakan diri atas rasa keadilan mereka, rasa tidak memihak, dan memang itu benar karena mereka memiliki fondasi keadilan yang memberi manfaat kepada seluruh dunia. Rasa keadilan dan hukum yang kita miliki, bahkan di Amerika juga, pada dasarnya datang dari sistem keadilan Yahudi, sama dengan semua sistem keadilan lain diseluruh dunia.

Sistem hukum dan penghakiman Yahudi terutama berdasarkan bagian Perjanjian Lama, yaitu Ulangan 16:18-20, “Hakim-hakim dan petugas-petugas haruslah kauangkat di segala tempat yang diberikan Tuhan, Allahmu, kepadamu, menurut suku-sukumu; mereka harus menghakimi bangsa itu dengan pengadilan yang adil. 19 Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. 20 Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu."

Nah itulah standar Allah untuk keadilan; hakim-hakim lokal menghakimi orang secara adil dan benar, tanpa memihak, tanpa menerima sogokan, keadilan dan hanya keadilan saja. Sekarang pada saat mereka mencoba mengapplikasikan Ulangan 16 itu, ditentukan bahwa di daerah dimana ada 120 orang sebagai kepala keluarga harus ada dewan lokal. Sebenarnya itu komunitas yang cukup besar untuk memiliki Bait Allah dan juga majelis lokal ini.

Dewan itulah menjadi terkenal sebagai Sanhedrin. Itu istilah Ibrani namun datangnya dari istilah Yunani yang berarti “duduk bersama,” untuk menghukum, untuk menentukan hal-hal sipil dan kriminal. Dewan itu terdiri dari 23 orang yang dipilih dari tua-tua desa. Selalu nomornya ganjil, supaya pada saat pemungut suara selalu ada mayoritas. Mereka selalu bertindak sebagai hakim dan juri di dalam segala hal. Dan salah satu diantara mereka akan dinamakan kepala penguasa.

Nah di Yerusalem, ibu kota itu, pusat agama kehidupan Israel, ada Sanhedrin Besar. Itu biasanya terdiri dari 24 imam kepala, 24 penatua, dan 23 ahli Taurat ditambah Imam Besar menajdi 71 orang. Mereka menjadi sidang akhir dalam naik banding. Orang-orang dipilih menjadi anggota karena mereka telah membuktikan kebijaksanaan mereka dan mereka tidak memilih pihak.

Ada tiga hal dalam dalam proses kriminal di Sanhedrin yang menjamin hukum-hukum itu dipertahankan untuk seseorang. Nomor satu: pengadilan umum. Segala sesuatu harus terbuka supaya tidak ada orang yang dituduh salah dan dipaksa untuk menerima hukuman tanpa ada pengadilan adil. Hakim-hakim selalu berada dibawah pengawasan orang, yang dapat melihat apa yang terjadi. Kedua, Sanhedrin menjamin ada hak bela-diri. Selalu harus ada seseorang yang menyediakan pembelaan bagi sang terdakwa. Ketiga, tidak ada orang yang dapat dihukum bersalah tanpa kesalahannya terbukti oleh dua atau tiga saksi-saksi.

Hal-hal itu masih berada bersama kita bahkan sekarang juga sebagai jaminan bagi pengadilan di masyarakat kita sekarang. Menjadi saksi palsu adalah pelanggaran yang dihukum dengan hukuman yang sama yang diinginkan saksi palsu untuk si terdakwa. Dan itu datangnya dari Ulangan 19:16-19, “Apabila seorang saksi jahat menggugat seseorang untuk menuduh dia mengenai suatu pelanggaran, 17 maka kedua orang yang mempunyai perkara itu haruslah berdiri di hadapan Tuhan, di hadapan imam-imam dan hakim-hakim yang ada pada waktu itu. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.”

Dan di kasus dimana ada hukuman mati, eksekusi itu hanya dapat dilakukan pada hari ketiga. Hari ditengah itu adalah hari dimana dipastikan bahwa semua bukti-bukti sudah masuk. Dan saksi-saksi yang telah bersaksi melawan orang yang dihukum mati itu adalah mereka yang harus melempar batu-batu pertama dalam eksekusi itu. Jadi saksi-saksi itu menjadi algojo. Jadi pastikanlah bahwa kesaksian Anda itu benar karena Anda bukan saja bersalah karena berbohong, Anda juga bersalah karena membunuh.

Masih ingat di Yohanes 8 ketika ada orang Farisi menuduh wanita itu berzinah? Dan Yesus mengatakan kepada mereka, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Dengan kata lain, jika dia bersalah kita akan membunuhnya dan Anda yang telah bersaksi tentang dia harus melempar batu-batu pertama. Tetapi hanya mereka yang tidak berbuat salah, kemudian hanya merekalah yang berhak untuk melempar batu-batu itu. Saksi-saksi itu adalah juga algojo, begitulah sistemnya.

Nah marilah kita belajar sedikit tentang proses pengadilan Sanhedrin. Jika Anda menyebabkan ada hukuman terhadap orang yang tidak bersalah, darahnya akan menimpa Anda dan Allah akan minta balasan. Zaman sekarang haruslah ada sumpah seperti ini, “Tempatkanlah tanganmu diatas Alkitab dan bersumpah dihadapah Allah untuk menyatakan kebenaran, seluruh kebenaran dan hanya kebenaran saja,” Orang yang tidak memiliki fakultas fisik dan moral sepenuhnya tidak bisa bersaksi. Dan hukum Yahudi juga mengatakan: orang tidak dapat bersaksi melawan dirinya dan berdasarkan kesaksian itu saja ditentukan bersalah.

Saksi-saksi itu harus menegaskan identitas terdakwa, dan menerangkan dibawah sumpah bulannya, harinya, jamnya dan keadaan waktu ada pelanggaran itu. Dengan kata lain, dilarang untuk menyebut apa yang didengar dari orang lain atau hal-hal umum. “Setelah semua bukti diselidiki, para hakim yang percaya dia tidak bersalah memberikan alasan-alasan mereka. Mereka yang percaya dia bersalah berbicara sesudahnya dengan moderasi besar. Jika salah satu hakim yang dipercayai terdakwa dengan pembelaannya, atau kalau dia sendiri ingin mengatakan sesuatu untuk membela diri, dia dizinkan untuk hal itu. Namun itu tidak diizinkan jika ada orang yang ingin menghukumnya.” Jadi mereka benar-benar bersandar di sisi belas kasihan.

“Ketika orang terdakwa sendiri mau bicara, mereka mendengar dengan seksama, dan setelah diskusi itu selesai, salah satu dari hakim-hakim itu menyimpulkan kasus itu dan semua orang penonton disuruh keluar.” Dua sekretaris menghitung pemungutan suara para hakim, 23 adalah kuorum. “Sebelas suaru dari 23 sudah cukup untuk membebaskan, dan diperlukan 13 suara untuk menghukum. Jika mayoritas bersuara untuk membebaskan, terdakwa itu langsung dibebaskan. Jika orang itu divonis, para hakim tunggu sampai hari ketiga untuk menyatakan hukuman mereka. Dan selama hari ditengah itu, mereka diharuskan berpuasa.

Kemudian pada pagi hari ketiga mereka kembali menjadi hakim dan setiap hakim yang pendapatnya tidak berubah mengatakan, “Aku meneruskan pendapat yang sama dan menyalahkan.” Setiap hakim yang pada permulaan menyalahkan diperbolehkan untuk berubah pikiran dan membebaskan, namun setelah seseorang menyatakan orang itu tidak bersalah ia dilarang untuk merubah pikirannya untuk menghukum. Jika mayoritas menyalahkan, dua hakim langsung mendampingi orang terkutuk itu ke tempat penghakiman. Jadi mereka membunuhnya pada hari yang sama dia divonis. Pengkhotbah 8 mengatakan bahwa dengan hukuman cepat kelakuan kriminal akan berkurang.

Jadi kelihatannya orang-orang ini memiliki rasa keadilan yang tinggi, dicampur dengan rasa belas kasihan. Dan mereka memasukkan perlindungan disini yang cukup baik bagi orang yang tidak bersalah, karena ada banyak kesempatan untuk kembali lagi dengan kesaksian. Namun ternyata itu tidak terjadi bagi Kristus. Dalam pengadilan Yahudi Yesus Kristus mereka melanggar setiap hukum keadilan yang mereka tahu.

Aksioma Sanhedrin adalah: Sanhedrin harus menyelamatkan bukan menghancurkan kehidupan. Wah, dalam kasus ini semuanya tidak benar. Tidak ada kasus kriminal yang diperbolehkan berlangsung sepanjang malam, tetapi kasus ini melawan hal itu. Para hakim yang menghukum seorang kriminal harus tunggu satu hari sebelum eksekusi itu, dan mereka harus berpuasa sepanjang hari, tapi mereka tidak melakukan itu, mereka membunuh Yesus pada hari yang sama. Harus ada saksi yang bersaksi melawan-Nya, tetapi tidak ada. Harus ada pembelaan, tetapi tidak ada pembelaan. Bahkan tidak ada tuduhan.

Yesus ada dua sidang utama. Pertama adalah sidang agama Yahudi kemudian ada sidang Romawi sekuler. Karena orang Yahudi adalah bangsa yang diduduki, orang Romawi berotoritas atas mereka, dan orang-orang Yahudi tidak memiliki hak untuk eksekusi. Mereka tidak bisa membunuh seorang kriminal. Hanya orang Romawi memiliki hak itu. Jadi orang Yahudi dapat menghukum mati Yesus, namun mereka tidak dapat membunuh-Nya. Jadi apapun yang mereka menentukan dalam sidang agama mereka, mereka harus menyakinkan orang-orang Romawi karena hanya merekalah yang dapat membunuh Yesus.

Setiap pengadilan Yahudi maupun Romawi memiliki tiga tahap. Jadi sebenarnya ada enam sidang yang berbeda bagi Yesus. Pengadilan Yahudi mulai pada saat Yesus dibawa ke Annas, yang mengirim Dia ke Kayafas dan Sanhedrin ditengah malam itu, dan kemudian Kayafas dan Sanhedrin bertemu lagi pada pagi hari untuk mencoba mengesahkan perbuatan jahat mereka. Sekarang setelah mereka menyelesaikan pekerjaan mereka, mereka membawa-Nya kepada orang Romawi, kepada Pilatus. Kemudian Pilatus mengirim Dia ke Herodias, dan kemudian Herodias mengirim-Nya kembali ke Pilatus yang menghukum mati Dia. Semuanya melanggar keadilan.

Dalam semua sidang-sidang itu sampai saatnya eksekusi Yesus Kristus, mereka tidak dapat menemukan satu pelanggaranpun dari Dia. Mereka ingin supaya Dia mati, jadi mereka harus membikin-bikin sesuatu untuk menghukum mati dia. Hukumannya sudah ditentukan namun mereka tidak ada pelanggaran. Marilah kita melihat aspek pertama, dakwaan tidak adil. Lihatlah ayat 57, “Sesudah mereka menangkap Yesus, mereka membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Besar. Disitu telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua.” Namun Matius tidak memberikan kita tahap sebelumnya, yaitu di Yohanes 18.

Di Yohanes 18:12-13, kita melihat dakwaan mula-mula, “Maka pasukan prajurit serta perwiranya dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia. 13 Lalu mereka membawa-Nya mula-mula kepada Hanas, karena Hanas adalah mertua Kayafas, yang pada tahun itu menjadi Imam Besar.” Disini Yohanes menolong kita untuk mengetahui seluruh kisahnya. Dalam mempelajari injil, itu adalah gabungan. Kehidupan Kristus diberikan kepada kita dalam empat lukisan yang berbeda, dan setiap lukisan mementingkan fitur dan aspek yang berbeda dari adegan yang sama. Jadi pada permulaannya Dia dibawa ke Hanas dan Dia datang dibelenggu seperti orang kriminal biasa yang akan dipersembahkan sebagai korban.

Nah Hanas itu benci sekali sama Yesus Kristus. Dia menjadi ancaman terhadap keamanannya, kekuasaannya, gengsinya dan segalanya. Dia benci kekudusan Yesus karena dia sendiri begitu berdosa. Segalanya tentang Yesus menyebabkan dia marah, dia sendiri dibawah penguasaan Iblis sendiri dan semua setan-setannya. Yesus mengatakan, inilah waktumu dan kuasa kegelapan. Jadi mereka mengirim Yesus kepadanya, di dalam rumahnya, yang tidak legal karena ini waktu malam dan proses sidang itu dilarang dilakukan disitu.

Hanas telah menjadi imam besar selama 20 tahun sebelum ini, yang menjadi imam besar sekarang adalah Kayafas. Ini menarik karena dibawah rancangan Allah, semua imam besar adalah imam besar seumur hidup. Namun ini sekarang telah menjadi suatu posisi politik, yang dapat dijual beli. Itu berhubungan dengan kemampuan untuk tunduk kepada Roma sehingga imam besar bergantian cepat. Namun ketika Hanas keluar sebagai imam besar, lima dari anak lelakinya dan satu menantu Kayafas, yang menikah dengan anak perempuannya, menggantikannya, jadi dia tetap menangani semua hal kriminal yang terjadi di Bait Allah.

Jadi ketika seorang Yahudi datang dia biasanya membawa korban atau persembahan. Jika Anda membawa mata uang sebagai persembahan, Anda tidak diperbolehkan untuk memasukkan mata uang kafir itu karena di semua mata uang ada gambaran kafir yang dianggap penyembahan berhala. Jadi itu harus ditukar dengan mata uang bait Allah. Dan penukar uang itu disana minta biaya tukar yang jauh lebih dari pada seharusnya.

Dan jika seorang Yahudi masuk dengan dombanya atau burung daranya, dia harus membiarkan binatang itu diperiksa imam untuk melihat apakah itu tanpa cacat. Dan jika binatang itu tidak dibeli di Bait itu, hampir selalu ada cacatnya. Hal pertama yang dilakukan Yesus ketika Dia datang ke kota Yerusalem di Yohanes 2:13-17, adalah untuk membersihkan Bait Allah itu. Dia masuk dan meja-meja penukar uang dibalikan-Nya dan semua orang diusir keluar. Nah itu menjadi kontak pertama dengan Hanas, dan sekarang Anda baru mengerti mengapa Hanas benci Yesus, benar?

Jadi Hanas harus menemukan sautu tuduhan melawan Yesus, dan membawa Dia ke Sanhedrin, menyalahkan-Nya dan mengeksekusi-Nya. Sekarang lihatlah Yohanes 18:19, “Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang ajaran-Nya.” Disini Hanas melanggar semua rasa keadilan. Jika orang dibawa masuk karena pendakwaan, dia harus diberitahu apa pelanggarannya. Caranya bukan untuk berbicara secara umum, dengan harapan ada ketahuan suatu pelanggaran hukum yang sudah ada hukumannya. Ini tidak legal dan tidak adil.

Ayat 20-21, “Jawab Yesus kepadanya: "Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi. 21 Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan." Yesus pada dasarnya mengatakan, “Jika ada pelanggaran hukum, katakanlah Hanas, jangan menanyakan Aku, Aku tidak dapat menyalahkan diri.” Hanas malu dan frustasi. Hanas benar kalah melawan pikiran tanpa batas dari Yesus Kristus.

Ayat 22, “Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: "Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?" Namun Tuhan tidak membalas sama sekali. 1 Petrus 2:23 mengatakan, “Ketika Yesus dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki.” Dia sudah siap, Dia telah menegaskan hal itu di taman, kedalam kehendak Allah Bapa-Nya. Yohanes 18:23, “Jawab Yesus kepadanya: "Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?"

Marilah kita melihat kembali ke Matius 26:57, “Sesudah mereka menangkap Yesus, mereka membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua.” Dan menurut Markus 14:53, dikatakan semuanya ada disitu. Namun berdasarkan Lukas 23:50-51, paling sedikit ada satu orang yang tidak ada disitu. Yusuf dari Arimatea tidak ada disitu, karena dikatakan bahwa orang yang memberikan kuburannya kepada Yesus adalah, “seorang yang baik lagi benar 51 yang tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu untuk mematikan Kristus.”

Namun karena Hanas tidak menemukan pelanggaran, mereka harus menjadi jaksa. Mereka harus menciptakan suatu pelanggaran hukum dan menghukumnya. Lihatlah ayat 59, “Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati,” Satu-satunya cara untuk membunuh orang yang tidak bersalah adalah dengan saksi palsu. Jadi mereka mencoba mencari ditengah malam beberapa pendusta, yang datang dan melakukan hal yang dilarang hukum mereka sendiri.

Yesus bukan dihukum oleh karena sesuatu yang Dia lakukan. Ayat 60 mengatakan itu, “Tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta.” Markus 14:56 mengatakan, “Banyak juga orang yang mengucapkan kesaksian palsu terhadap Dia, tetapi kesaksian-kesaksian itu tidak sesuai yang satu dengan yang lain.” Ayat 60 teruskan, “Tetapi akhirnya tampillah dua orang,” di ayat 61, "Orang ini berkata: Aku dapat merubuhkan Bait Allah dan membangunnya kembali dalam tiga hari."

Markus 14:58 mengatakan, “Kami sudah mendengar orang ini berkata: Aku akan merubuhkan Bait Suci buatan tangan manusia ini dan dalam tiga hari akan Kudirikan yang lain, yang bukan buatan tangan manusia." Bahkan kesaksian dari Matius berbeda dengan kesaksian di Markus. Di Yohanes 2:19 Yesus mengatakan, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali." Verse 21, “Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri.” Masalahnya adalah bahwa kedua orang ini tidak setuju dan para imam tahu hal itu dan mereka langsung tidak memakai alasan itu.

Tahukah Anda, bahwa hanya orang-orang yang sebenarnya dalam sidang sebagai terdakwa adalah mereka yang menuduh Yesus, benar? Dan mereka menunjukkan mereka adalah orang-orang yang jahat, celaka, berdosa dan tidak adil. Kristus selalu dengan keberadaan-Nya sendiri menandai mereka yang adalah milik Iblis. Ketika Anda melawan Kristus, Anda akan ketahuan seperti apa mereka sebenarnya hari itu. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu