08 Mar 2015 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2015
Perumpamaan Talenta
8 Maret 2015

Malam ini di Matius 25 kita akan lihat salah satu perumpamaan yang terbaik di dalam firman Allah. Ini adalah perumpamaan tentang tragedi kesempatan yang disia-siakan. Alkitab memanggil kita semua untuk menggunakan sebaik mungkin segala kesempatan rohani, kita dipanggil untuk memaksimalkan hak istimewa kita. Kita diperingatkan untuk menabur benih kita dan jangan mengharapkan terlalu banyak karena kita tidak tahu apakah kita akan berhasil dalam hal ini dan itu. Dengan kata lain kita harus memanfaatkan setiap kesempatan yang diberikan karena kita tahu bahwa kesempatan yang tidak digunakan adalah kesempatan yang disia-siakan.

Amsal 10:5 mengatakan, “Siapa mengumpulkan pada musim panas, ia berakal budi; siapa tidur pada waktu panen adalah anak yang membuat malu.” Anda lebih baik menyimpan selagi masih bisa, lebih baik panen pada saat masih ada panen. Di Yesaya 55:6 dikatakan, “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” Di Yeremia 8:7 dikatakan, “Bahkan burung ranggung di udara mengetahui musimnya, burung tekukur, burung layang- layang dan burung bangau berpegang pada waktu kembalinya, tetapi umat-Ku tidak mengetahui hukum Tuhan.” Binatang-binatang tahu harus ada dimana dan bagaimana memelihara diri, dan itu lebih daripada pengetahuan beberapa orang.

Dan Tuhan Yesus kita juga memanggil kami untuk melakukan yang terbaik setiap saat, untuk menggunakan setiap kesempatan dan hak istimewa spiritual sebaik mungkin. Di Yohanes 12:35-36 Yesus mengatakan, “Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. 36 Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang." Sekali lagi, Dia memanggil kami untuk mengambil keuntungan dari setiap kesempatan spiritual.

Jadi marilah kita pelajari Matius 25:14-19, “Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba- hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. 15 Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. 16 Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. 17 Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. 18 Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. 19 Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.”

Pesan menyeluruh sederhana aalah tragedy kesempatan yang disia-siakan. Para murid menanyakan: Kapan kedatangan Engkau? Dan Yesus sudah menjawab hal itu lima kali di Matius 24 dan 25, “Dia akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya.” Dia memberi tahu tanda-tanda waktu itu sebelum kedatangan-Nya. Dia menggambarkan sakit bersalin dan Dia bicarakan tanda Anak Allah dilangit. Dia membicarakan kejahatan waktu Tribulasi besar. Dia telah memberikan mereka berbagai macam rincian tentang kejadian kedatangan-Nya yang kedua, namun hari tepat dan waktu tepat tidak dibertahukan kepada mereka.

Dan karena Dia tidak memberitahukan hari dan jam yang tepat, itu berarti kita harus siap sedia senantiasa. Dan Dia menerangkan hal itu dengan memakai dua perumpamaan: yaitu perumpamaan gadis-gadis itu di ayat 1-12 dan perumpamaan talenta di ayat 14 sampai 30. Kedua-duanya pada dasarnya maksudnya sama. Mereka adalah dua perumpamaan yang sangat penting. Dan perhatikanlah ayat 13 menggabungkan mereka. Pada akhir perumpamaan pertama Dia mengatakan, “Karena itu berjaga-jagalah,” Kemudian ayat 14 mulai dengan “Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang bepergian,” dan itu langsung membawa kita kepada perumpamaan berikut.

Nah perumpamaan tentang gadis-gadis itu dan perumpamaan mengenai talenta ada perbedaan dalam cara kita harus hidup. Perumpamaan pertama mengutama- kan hal menunggu. Itu mengenai sikap internal hati itu yang mengharapkan kedatangan Tuhan. Perumpamaan talenta bukan mengutamakan menunggu, itu mengutamakan bekerja dan melayani. Sambil kita menunggu dan sambil kita mengharapkan, kita harus bekerja untuk Tuhan. Dan itulah yang diutamakan perumpamaan talenta itu. Dan bersama-sama mereka memberikan kita keseimban- gan hidup yang indah pada waktu kita menunggukan Kedatangan Kedua itu.

Kita harus berusaha sekuat mungkin dalam kesempatan dan penatalayanan dan membesarkan peran yang Allah berikan kita untuk melayani-Nya. Dan jika salah satu hal itu lebih dipentingkan atau yang satu tidak dilakukan, pengalaman Kristen itu tidak seimbang. Orang-orang yang tidak lagi mengharapkan Kedatangan Kedua itu dan meluangkan waktu mereka dengan bekerja di dunia saja telah kehilangan kesimbangan itu. Dan orang-orang yang selalu mengharapkan dan menunggukan dan tidak peduli berusaha lagi bagi Tuhan juga kehilangan keseimbangan yang penting itu.

Keseimbangan dalam kehidupan Kristen terlihat dalam gadis-gadis yang memiliki minyak tambahan. Minyak itu melambangkan sifat orang yang sudah ditransformasikan, jiwa yang telah ditebus. Dan perumpamaan talenta itu mengilustrasikan bahwa orang-orang percaya tulen menyatakan anugerah yang diperlukan dalam kehidupan pelayanan mereka. Jadi disisi satu ada anugerah yang menyelamatkan, disisi lain ada hasil anugerah itu dalam hidup pelayanan. Itulah keseimbangan dalam Kekristenan. Iman menyelamatkan tulen adalah iman yang bekerja, Yakobus 2 mengatakan, iman tanpa perbuatan adalah mati.

Apakah yang perlu kita tahu tentang kesempatan-kesempatan spiritual itu? Ada empat hal dalam perumpamaan ini yang kita perlu tahu. Kita perlu tahu kewajiban yang kita terima, dan reaksi kita, dan perhitungan yang kita hadapi dan upah yang kita dapatkan. Itu semua hal-hal yang kita perlu tahu pada saat kita mempersiapkan diri untuk menggunakan kesempatan-kesempatan itu, Dan semua itu disebut dalam perumpamaan indah ini.

Marilah kita mulai dengan kewajiban yang kita terima di ayat 14. Ini peralihan langsung dari perumpamaan yang lalu yang membicarakan Kerajaan. Jadi Kerajaan Allah itu seperti kedua perumpamaan ini, dan inilah yang kedua. Kerajaan itu adalah lingkungan dimana Allah memerintah oleh anugerah dan keselamatan melalui Kristus. Nah ada kalanya “Kerajaan Surga” itu digunakan khususnya untuk tubuh rohani semua orang yang telah ditebus yang tidak kelihatan.

Namun disisi lain, ada kalanya Kerajaan surga digunakan untuk mengacu kepada kerajaan yang kelihatan, yang terdiri dari orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka dengan Kristus, beberapa adalah tulen dan beberapa adalah palsu, benar? Kerjaaan itu misalnya seperti gandum dan lalang di Matius 13. Kerajaan itu seperti jaring penuh barang yang diambil dari dasar laut, ada beberapa ikan yang diambil dan ada juga sampah yang dibuang. Kerajaan itu seperti terdiri dari tanah, ada yang baik dan ada yang buruk.

Kita melakukan hal yang sama dengan kata “gereja.” Contoh, ada kalanya ketika kita mengacu kepada gereja kita membicarakan orang-orang yang benar-benar diselamatkan, benar? Namun saat kita mengatakan ada hal-hal yang tidak benar dengan gereja, kita membicarakan berbagai campuran hal yang ada di dalam gereja. Ini juga sama dengan saat Tuhan mengacu kepada Kerajaan. Dia membicarakan dua macam pelayan, yang memakai kesempatan dan yang menghamburkannya. Namun keduanya menyatakan diri sebagai hamba Tuhan.

Jadi Kerajaan ini diumpamakan seperti orang yang bepergian lama ke negeri jauh. Dan pada waktu itu perjalanan itu cukup sulit dan bisa saja itu makan waktu dua tahun. Jadi dia memanggil pelayan-pelayannya dan memberikan mereka barang- barangnya. Kerajaan penuh dengan berbagai macam pelayan. Itu seperti jaring penuh dengan ikan yang perlu diambil dan sampah yang perlu dibuang. Disitu ada gandum dan lalang. Ada gadis dengan minyak dan gadis tanpa minyak. Itu seperti dua rumah, yang satu dengan fondasi dan yang lain tanpa fondasi. Ada dua jalan dan dua pintu.

Jadi kita harus mengerti bahwa di dalam Kerajaan selalu ada kombinasi seperti ini kecuali jika Tuhan khususnya membicarakan Kerajaan spiritual di dalam hati yang tidak kelihatan bagi orang-orang yang benar-benar ditebus. Jadi disinilah gambarannya. Orang ini memiliki banyak orang yang bekerja untuk dia. Sifat hati mereka akan dinyatakan disini. Dan ada banyak orang di Kerajaan sekarang, banyak orang yang menjadi anggota gereja sekarang yang berada dibawah otoritas pemimpin-pemimpin dan pendeta gereja yang dipilih Kristus.

Dan kita dapat melihat perbedaan orang-orang yang hatinya benar dan orang- orang yang hatinya tidak benar pada saat kita membandingkan mereka dengan orang-orang di perumpamaan ini. Nah perhatikanlah sekarang apa yang terjadi. “Dia memanggil hamba-hambanya” dan Ia memberikan mereka barang- barangnya. Dia akan bepergian lama dan dia ingin supaya ada hasil ekonomi. Jadi dia harus bijaksana dalam berinvestasi. Dia harus memastikan bahwa semuanya terurus.

Nah kata untuk ‘hamba’ ini adalah kata ‘doulos’ dan ini bahkan dapat diterjemahkan sebagai “pegawai.” Disitu ada orang yang dapat dipercaya dan mampu dan dia memberikan setiap orang sebagian dari barangnya supaya mereka dapat mengembalikan keuntungan atas barang itu selama dia bepergian. Mereka melakukan penatalayanan dengan uang dan harta milik dan barang-barang tuannya, supaya keuntungan dapat dikembalikan kepadanya saat dia tiba kembali.

Nah perhatikanlah ayat 15, dan ini akan memberitahukan kewajiban kita, “Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.” Disini Dia tahu kemampuan hamba-hambanya masing-masing. Jadi dia memberikan kepada mereka apa yang dia tahu adalah kemampuan mereka. Kepada yang pertama dia memberi lima talenta, kepada yang kedua diberi dua dan kepada yang ketiga satu saja. Ini hanya untuk mengilustrasikan tujuannya. Banyaknya bisa berbeda namun ini mengilustrasikan yang rendah dan yang yang tinggi dan yang berada ditengah.

Kita tahu bahwa talenta dalam pengertian Inggris membicarakan kemampaun seseorang. Namun sebenarnya itu berarti berat. Karena itu di Wahyu 16 dikatakan ada sebutir es yang beratnya satu talenta. Nah nilai masing-masing talenta itu bergantung kepada apakah talenta itu emas, yang sangat berharga, atau perak, yang kurang berharga, atau tembaga, yang kurang berharga lagi. Mungkin penilaian terbaik adalah talenta perak karena perkataan yang digunakan untuk uang di ayat 18 adalah kata yang sering dipakai untuk mata uang perak.

Jadi makna pemilik adalah, ambillah ini, investasikannya dan kembalikanlah barang itu dan bunganya kepadaku, dan itu memperlihatkan bahwa Anda adalah hamba yang setia. Besarnya nilai itu tidak penting. Yang penting adalah apa yang mereka lakukan dengan barang itu. Perhatikan juga di ayat 15 dikatakan, “setiap orang diberi masing-masing menurut kesanggupannya.” Kemampuan setiap orang adalah sesuai dengan apa yang dia terima. Ada orang yang memiliki kemampuan untuk menangani labih banyak uang dari pada orang lain.

Jadi saat kita melihat perumpamaan ini kita dapat melihat bahwa tuan itu adalah Tuhan sendiri. Dan Dia bepergian maksudnya adalah Tuhan pulang ke surga dimana Dia berada sekarang. Kita sekarang diberi kewajiban untuk mengelola. Dan kita diberi berbagai kantong penuh dengan talenta. Dan itulah yang kita harus pakai untuk bekerja dan mengelola dan melayani Allah sementara Dia bepergian, sampai Dia kembali lagi. Dan kita semua tidak diberi talenta yang sama.

Setiap orang diciptakan berbeda-beda dengan kapasitas mental berbeda, dengan kapasitas verbal berbeda, dengan keterampilan berbeda, dengan talenta dan kemampuan yang berbeda. Kemudian ditambahkan itu adalah kenyataan bahwa kita semua diberikan kesempatan yang berbeda, dengan hak istimewa yang berbeda, dengan guru yang berbeda dan dengan proses pemuridan yang berbeda. Dan mungkin ada orang yang terbatas pendidikannya, dan mungkin ada orang yang terbatas secara mental dan ada orang yang yang terbatas secara emosional.

Ini gambaran kapasitas rohani dan hak istimewa spiritual dan kewajiban rohani dan kesempatan spiritual. Dan dalam kisah ini, pelayan yang benar-benar mengasihi tuannya akan mengatakan, “Wah, inilah kesempatan untuk benar-benar memberi waktu dan tenaga dan pikiran dan pekerjaan untuk membawa keuntungan atas apa yang dia telah berikan kepadaku. Disini ada kesempatan untuk menunjukkannya bahwa dia tidak kecewa mempercayakan barangnya kepadaku, untuk membalas kepercayaannya dengan baik. Jadi masalahnya adalah bagaimana kita akan menggunakan kesempatan ini.

Talenta dalam kantong yang kita bawa juga termasuk ajaran yang telah kita terima. Betapa banyaknya kesempatan untuk mendengar, dicampur dengan kapasitas intelektual yang dianugerahkan dan diciptakan Allah, kapasitas emosional dan karunia dan keterampilan? Dan betapa banyaknya kesempatan untuk bersekutu? Dan betapa besar kesempatannya untuk memiliki keuntungan spiritual dan wawasan? Dan betapa banyaknya kesempatan untuk berkat? Dan betapa banyaknya kita telah terima dari apa yang disediakan Kerajaan? Itulah kantong kita, dicampur dengan kepasitas kita yang dianugerahkan Allah.

Kita semua di dalam gereja yang kelihatan, yang menyatakan diri sebagai pelayan Tuhan, apakah kita nyata atau tidak, telah diberikan hak-hak istimewa ini. Dan Anda telah diberi hak istimewa untuk mendengar Firman Allah, dan diajarkannya, dan bertemu dengan orang-orang yang mengasihi Tuhan dan hidup berjalan dengan Tuhan. Allah telah menempatkan Anda disini untuk mengisi kantong Anda disini. Dan Allah telah memberikan Anda kesempatan untuk menjadi apa yang Dia telah ciptakan Anda menjadi. Dia memberikan setiap orang pemberian sesuai dengan anugerahnya dan proporsi iman.

Perhatikan juga bahwa yang diberi lima menjadi dua kali lipat dan yang diberi dua juga dua kali lipat. Ini menunjukkan kesetiaan yang sama, meskipun hasilnya berbeda. Dan itu juga di dalam pelayanan spiritual ada yang hasilnya lebih besar daripada yang lain. Dan implikasi perumpamaan ini adalah bahwa bahkan di Kerajaan akan ada berbagai tingkat pemerintahan untuk orang-orang dengan berbagai kapasitas. Jika Anda memiliki lima, Dia ingin kembali lima tambahan, jika Anda memiliki dua, Dia ingin kembali dua tambahan.

Ini kantong penatalayanan, ini kantong hak istimewa. Kita sedang mengelola sebagian dari kekayaan Allah. Dengarkanlah, setiap kali kita menerima ajaran firman Allah, setiap kali kita membaca Firman Allah, setiap kali kita belajar suatu kebenaran besar dari Firman Allah, Roh Kudus telah menempatkan sesuatu yang lain di dalam kantong kita. Dan sekarang Anda bertanggung jawab untuk menjalankan dan mengerjakan kesempatan dan hak istimewa yang baru diberikan itu.

Apakah kita harus lakukan dengan kesempatan itu? Ayat 16, “Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.” Hatinya langsung merespon kepada hak istimewa untuk melayani Tuhannya. Itu adalah buah keselamatan dari dalam. Dan dia pergi dan langsung menjalankan uang itu, itu secara harfiah berarti dia langsung bekerja. Dia pergi dan berbisnis. Dia menggunakan hak spiritual itu dengan sebaik mungkin, dia berusaha sekuat mungkin dengan kesempatan rohani itu.

Dan ayat 17 mengatakan, “Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.”Dia juga memakai kesempatan itu sebaik mungkin. Tidak semua orang diberi kesempatan yang sama. Ada orang yang mendengarkan Injil secara terbatas sekali. Ada orang lain yang bisa mendengar hal itu banyak sekali. Namun dalam kedua kasus ini mereka memberikan kembali hasil maksimal atas hak yang diberikan Allah kepada mereka. Dan itulah keinginan Allah. Berilah hasil maksimal dengan penuh kesetiaan.

Namun ayat 18 mengatakan, “Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.” Nah, pada waktu itu kalau Anda ingin menyimpan uang itu hal yang biasa dilakukan. Dia sama sekali tidak berusaha, dia menyia-yiakan kesempatan itu, dia menyia- yiakan haknya. Allah mengatakan bahwa orang yang memiliki kesempatan yang paling kecil tetap bertanggung jawab atasnya.

Kewajiban dan reaksi itu kemudian membawa perhitungan. Perhatikanlah perhitungan itu di ayat 19, “Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.” Dia datang kembali untuk melihat bagaimana mereka melakukan penatalayanan mereka dengan pengelolaan kesempatan mereka. Dan demikian juga keadaannya pada saat Tuhan kembali. Apakah Anda benar-benar telah memberikan seluruh kehidupan Anda dalam pelayanan bagi Tuhan sebagai balasan? Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu