09 Nov 2014 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2014
Mengekspos Otoritas Palsu
9 November 2014

Memang otoritas di gereja tidak populer, bahkan otoritas dari mimbar juga tidak populer. Saya tidak memiliki otoritas pribadi. Otoritas satu-satunya yang saya miliki adalah ketika saya memberitakan kepada Anda kebenaran Firman Allah. Jadi saat kita membicarakan pelayanan, kita membicarakan manusia yang dipanggil Allah untuk memberitakan Firman-Nya dan Firman-Nya otoratif secara alamiah.

Ketika kita membicarakan otoritas di gereja kita tidak membicarakan kuasa yang dipegang manusia karena ada hukum gereja, tradisi manusia, seperti disebut Yesus. Hukum Allah adalah otoritas. Injil Kristus adalah otoritas. Segala sesuatu yang dikatakan di dalam Firman Allah adalah kata terakhir dan itu berotoritas. Jika Anda tahu kebenaran dan Anda memberitakan kebenaran, Anda adalah otoritas.

Tidak ada orang yang pernah berjalan di dunia yang lebih berotoritas dari pada Yesus. Menurut Allah Dia memiliki judul tertinggi yaitu Tuhan dan Allah. Menurut manusia Dia tidak memiliki gelar, Dia tidak ada kedudukan. Bahkan Dia pada dasarnya dianggap rendah karena Dia berasal dari dareah Galilea yang tidak terkenal dan kota asalnya Nazaret, yang malah lebih lagi tidak dipandang. Dia tidak ada pendidikan. Dia tidak mencapai apa-apa di dunia agama. Dia tidak memiliki otoritas secara manusia memandang otoritas.

Namun ketika Dia berbicara, misalnya setelah Khotbah di Bukit, orang-orang sangat kagum karena Dia berbicara seperti orang yang memiliki otoritas dan tidak seperti rabi. Setiap hal yang dikatakan-Nya adalah kebenaran mutlak. Dia mengatakan hanya yang ditunjukkan Bapa-Nya dan hanya yang dikatakan Allah Bapa. Dia melanjutkan bahwa Allah Bapa telah memberikan kepada-Nya segala kuasa dilangit dan di bumi. Dan pada suatu hari Dia akan menjalankan kewenangan yang sesuai dengan judul Raja diatas segala Raja dan Tuhan segala Tuhan itu.

Jadi mereka yang di gereja memberitakan Firman Tuhan dengan benar merekalah yang berotoritas. Karena itu orang percaya diberitahu di 1 Tesalonika 5:12, “Kami minta kepadamu, saudara-saudara, supaya kamu menghormati mereka yang bekerja keras di antara kamu, yang memimpin kamu dalam Tuhan dan yang menegor kamu; 13 dan supaya kamu sungguh-sungguh menjunjung mereka dalam kasih karena pekerjaan mereka.” Atau di Ibrani 13:7, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.”

Ini tidak gampang diterima gereja sekarang ini. Mereka berpendapat bahwa pendeta itu harus menjadi tukang cerita yang baik, orang yang banyak wawasannya, supaya ia dapat membuat beberapa pembicaraan yang menarik dengan perspektif intuitif yang baik, dan ditambah beberapa ilustrasi pribadi, itu saja sudah cukup. Namun berdiri di mimbar sambil mengatakan, “Beginilah Firman Allah ….” dan memberitakan Firman Allah dan mengatakan bahwa hal itu mengikat setiap orang, melebihi toleransi banyak orang.

Apakah Yesus berbicara dengan musuh-musuh-Nya yang tidak setuju dengan Dia? Apakah Dia mencoba untuk mencari sesuatu yang mereka bisa menyetujui? Jawaban-Nya jelas sekali. Didalam setiap konfrontasi diantara Yesus dan musuh- musuh-Nya, Dia tidak pernah memcari kesamaan. Dia mempertahankan kebenaran dan selalu mengutuk mereka yang sesat. Banyak orang berpendapat jika kita mengajarkan kebenaran Allah, banyak orang akan keluar gereja. Namun gereja adalah perkumpulan orang yang ingin belajar mengenal Allah melalui Firman-Nya. Namun selalu akan ada otoritas palsu.

Matius 23:1-12, “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2 "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang.

“6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Ini adalah khotbah terakhir kepada orang Yahudi ditempat Bait Allah pada hari Rabu di Minggu Terakhir ini. Kata-kata-Nya yang terakhir memperingati orang tentang otoritas palsu. Dan ini adalah teks lengkap dari perkataan-Nya yang telah dinyatakan kepada kita. Markus mengacu kepada apa yang Dia katakan, Lukas juga hanya mengacu kepada perkataan-Nya namun Matius memberikan kita kejadian itu seluruhnya, paling tidak kenyataan sepenuhnya yang dimaksud Roh bagi kita.

Nah kita dapat melihat apa yang dikatakan tentang Ahli-ahli Taurat dan orang Farisi dari ulangan satu kata sepanjang bab ini. Ayat 13, “orang-orang munafik,” ayat 14, “orang-orang munafik,” ayat 15, “orang-orang munafik,” ayat 25, “orang-orang munafik,” ayat 27, “orang-orang munafik,” ayat 29, “orang-orang munafik,” mereka karena itu berakal busuk dan sangat berbahaya. Pengaruh mereka kepada orang yang mengikuti mereka adalah mematikan. Mereka langsung dibawa ke mulut neraka.

Ayat 15, “kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri.” Otoritas palsu menjadikan orang masuk ke neraka, yang menyebabkan mereka dikutuk. Ayat 13, “Celakalah kamu,” ayat 14, “Celakalah kamu,” ayat 15, “Celakalah kamu,” ayat 16, “Celakalah kamu,” kemudian di ayat 23, ayat 25, ayat 27 dan ayat 29. Ini semua kutukan untuk orang yang beragama munafik.

Mengapa Tuhan kita menamakan mereka otoritas agama palsu? Nomor satu, mereka tidak otentik. Ayat 2, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.” Di setiap Bait Allah ada tempat duduk khusus yang dinamakan ‘kursi Musa,’ dan itulah tempat duduk bagi Ahli Taurat dan Ahli agama untuk mengajar. Itulah tempat duduk Yang berotoritas dalam agama itu, jadi ketika Paus berbicara ‘ex cathdra’, dia berbicara dari tempat duduk otoritas sah yang dianggap sempurna.

Pokoknya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menempatkan diri mereka di ‘kursi Musa.’ Mereka tidak diizinkan duduk disitu oleh Allah. Yesus memperingati Rasul-Rasul-Nya sendiri bahwa dimasa depan ada waktunya dimana mereka akan dikeluarkan dari Bait Allah. Ini akan dipimpin mereka yang telah merebut kursi otoritas itu dan yang menganggap para pemberita Injil-Ku sebagai ancaman. Dan itulah yang terjadi. Penganiayaan dimulai di dalam bait-bait Allah, bukan saja di Israel namun juga di dunia bukan Yahudi ketika Paulus pergi ke kota-kota. Pemimpin-pemimpin agama palsu selalu menjadikan diri mereka ahli-ahli agama.

Ada alasan mengapa orang Kristen serius sepanjang sejarah telah mengatur cara-cara untuk mendidik orang-orang sebelumnya mereka ditempatkan dalam posisi kepemimpinan. Karena orang yang berotoritas yang mengatakan kepada orang lain, ‘demikianlah Firman Allah,” harus memiliki ketrampilan untuk mengetahui bahwa penterjemahannya akurat. Anda sebaiknya memiliki sarana pengalaman rohani dan mental untuk melaksanakan tugas yang cukup berat ini. Penthabisan itu ada alasannya.

Kita hidup di zaman sekarang ini dimana siapapun juga dapat membuka gereja tanpa ada pernyataan doktrin, tanpa ada badan pengurus, tanpa ada tanggung jawab, tanpa ada didikan, tanpa ada apa-apa dan langsung mengatakan apa saja semaunya sendiri dengan cara sendiri dan menjadi pengusaha yang menunjukkan diri dan mengontrol diri. Di masa kini Anda bahkan tidak memerlukan teologia apapun juga. Sekarang populer untuk mengatakan, “Saya tidak tahu tentang hal itu.” Dan itulah cara melayani baru yang tidak keruan.

Di Yeremia 14:14-15 Tuhan mengatakan, “Para nabi itu bernubuat palsu demi nama-Ku! Aku tidak mengutus mereka, tidak memerintahkan mereka dan tidak berfirman kepada mereka.” Apakah hal itu menghilang? Tidak, keadaan itu masih ada sekarang. Ayat 15, “Sebab itu beginilah firman Tuhan mengenai para nabi yang bernubuat demi nama-Ku, padahal Aku tidak mengutus mereka, dan yang berkata: Perang dan kelaparan tidak akan menimpa negeri ini. Para nabi itu sendiri akan habis mati oleh peperangan dan kelaparan!”

Berlawanan dengan hal itu, kalau ada orang yang dipanggil Allah, yang telah dikaruniakan Allah, yang dikonfirmasi pemimpin gereja dan yang setia kepada Firman, dialah yang memiliki otoritas tulen. Otoritas palsu selalu melantik diri, dan jika Anda ingin supaya mereka mengikuti standar Alkitabiah, mereka akan berteriak bahwa Anda tidak ada toleransi, berpikiran sempit, menghakimi dan mengutuk karena itu satu-satunya pembelaan diri yang ada dan memang itu telah menolong mereka dalam penginjilan kontemporer.

Kedua, otoritas palsu tidak berintegritas. Ayat 3, “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.” Mereka mengatakan apa yang dikatakan Musa, dan memang mereka katakan itu. Jadi lakukanlah apa yang mereka katakan, namun janganlah mengikuti perbuatan mereka karena mereka mengatakan banyak hal namun mereka pasti tidak melakukannya. Dengan kata lain, ketika mereka mencerminkan Hukum Musa dan mereka ingin Anda melakukannya, mereka sendiri tidak mengikutinya. Mereka sendiri tidak berintegritas.

Guru-guru palsu selalu korup di dalam diri mereka karena otoritas palsu tidak dapat menguasai kedagingan. Jika Anda bukan orang Kristen tulen, tidak ada sesautupun di dalam otoritas agama Anda yang dapat membatasi kedagingan Anda. Setahu orang lain, Paulus sebagai orang Farisi hidup tanpa dosa, namun hatinya busuk. Dan ketika dia mulai mengerti kenyataan itu, itu membawanya kepada Kristus. Kedagingan hanya dapat dibatasi dan itu semakin menekan.

Dan itu keadaan yang sedih. Karena itu Yesus mengatakan di Matius 7:16, “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” Waktu dan kebenaran berjalan bersama-sama. Pada akhirnya kebenaran akan ketahuan. Guru-guru palsu penuh banyak kejahatan. Mereka memiliki kebaikan yang tidak sungguh-sungguh. Jadi yang Anda harus memperhatikan ketika Anda melihat seseorang yang kelihatannya berotoritas rohani adalah lihatlah kehidupannya. Allah ingin supaya mereka yang benar-benar menjadi pemimpin gereja hidup bersama jemaatnya dan kehidupan mereka selalu dapat diperhatikan.

Ketiga, karakter mereka tidak peduli. Ayat 4, “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” Mereka memberi orang-orang banyak sekali peraturan- peraturan, hukum-hukum, tuntutan keuangan yang tidak mungkin dipenuhi. Ada lebih dari 600 hukum-hukum yang harus diikuti orang-orang.

Kemudian dikatakan, “mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” Mereka tidak peduli, tidak mau memelihara, tanpa kasih dan mereka sangat kejam. Yehezkiel 34:3-4, “Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. 4 Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang, yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman.”

Di Matius 12:15 Yesus menyembuhkan satu kelompok orang-orang yang mengikuti-Nya. Dan dikatakan bahwa itu penggenapan apa yang telah dinubuatkan Yesaya 42:1-3, “Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan- Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. 2 Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. 3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.”

Dengan kata lain, Yesus membawa orang yang patah hati, Dia mengangkat mereka yang memar, khususnya orang-orang yang sama sekali tidak dipedulikan orang Farisi dan ahli Taurat. Bahkan orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat yakin bahwa mereka berada di dalam keadaan parah mereka karena hukuman Allah. Otoritas rohani palsu selalu menyiksa orang dan mereka melakukan itu terhadap orang-orang yang tidak dapat membela diri mereka.

Nomor empat, mereka tidak spiritual. Ayat 5, “Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka membesarkan kotak sembahyang mereka dan memperpanjang tali jumbai mereka.” Yudas 1:19 mengatakan, “Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.” Mereka mati secara rohani, meskipun mereka menjadi pemimpin sekolah dan universitas agama dan seminari dan denominasi dan menyebut diri mereka pendeta dan pengkhotbah, semua hanya pertunjukkan saja. Mereka meyakinkan diri bahwa pujian orang itu sama dengan kerohanian.

Dan Yesus menggambarkan beberapa hal yang mereka benar-benar melakukan, mereka membesarkan kotak sembahyang mereka. Kotak sembahyang adalah kotak-kotak kulit kecil yang mereka menempatkan di badan mereka karena Ulangan 11:18 mengatakan, “Tetapi kamu harus menaruh perkataanku ini dalam hatimu dan dalam jiwamu; kamu harus mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu.” Sebenarnya itu metaforis dan simbolis, untuk memastikan apa yang mereka pikirkan dan perbuat adalah sesuai dengan Firman Allah. Namun daripada itu mereka membesarkan kotak-kotak mereka untuk menunjukkan kerohanian mereka sudah bertambah.

Akhirnya, mereka tidak ada kerendahan hati. Itu semua sudah dibicarakan dengan kotak sembahyang dan tali jumbaj mereka, namun Tuhan lebih spesifik di ayat 6-7, “mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.” Tulisan orang Rabi memberikan penjelasan banyak mengenai tingkat dan cara menghormati mereka, dan hukuman bagi mereka yang melarangnya. Misnah mengatakan, “hukuman melawan kata-kata ahli Taurat lebih berat dibanding hukuman melawan kata-kata Firman.”

Yesus memperingati orang-orang ini tentang mereka dan Dia mengatakan kepada mereka yang menjadi milik-Nya di ayat 8-12, “Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. 9 Dan janganlah kamu menyebut siapapun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. 10 Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. 11 Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Anda menjadi sebaliknya. Janganlah Anda membiarkan orang memanggil Anda Rabi sepertinya Anda memiliki semua kebenaran. Karena hanya ada satu guru dan kalian semua hanya saudara saja. Dan janganlah ada yang memanggil Anda Bapak sepertinya Anda adalah sumber kebenaran rohani dan kehidupan. Hanya ada Satu yang menjadi sumber, yaitu Yang berada di surga. Dan juga janganlah mau dipanggil pemimpin. Hanya ada satu Pemimpin yaitu Kristus. Kalian hanya saudara dan pengikut saja.

Berkali-kali Dia mengatakan kepada murid-murid-Nya jika mereka ingin menjadi yang pertama, jadilah yang terakhir. Otoritas rohani tulen yang setia kepada Firman Allah dipanggil Allah, dikaruniakan oleh Allah, dipisahkan oleh Allah, bukan mereka yang menahbiskan diri. Mereka ingin melayani, bukan ingin dilayani. Mereka setia mengkhotbahkan Firman, bukan pikiran mereka sendiri. Mereka memberi makanan rohani kepada jemaat dan peduli jemaat. Mereka ingin menunjukkan kerendahan hati dan kelemahlembutan Kristus. Tidak mencari hormat bagi diri mereka tetapi semua hormat bagi Kristus. Mereka tidak berkhotbah apa yang mereka tidak ingin hidup sendiri. Mereka mengangkat mereka yang patah hati dan memar. Amin? Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu