25 Mei 2014 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2014
Ajaran Yesus tentang Pernikahan
25 Mei 2014

Kita telah mempelajari Matius 19 dan kita diajarkan bahwa keduabelas ayat pertama adalah ajaran Tuhan mengenai perceraian. Dan ini penting untuk dilakukan supaya kita benar-benar mengerti kehendak Allah berhubungan dengan pernikahan dan perceraian. Sama seperti pelayanan Galilea cuman lebih singkat, Tuhan berkhotbah, mengajar dan menyembuhkan dan banyak orang mengikuti Dia di Perea. Dan pada suatu saat di ayat 3 Dia bertemu dengan musuh-musuh-Nya, yaitu orang Farisi dimana mereka ingin menguji Dia, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?”

Jadi Tuhan kita diperhadapkan dengan suatu pertanyaan dimana sikap pernikahan mereka hampir sama dengan keadaan masa kini. Untuk memiliki pandangan kuat tentang pernikahan dan suatu pandangan alkitabiah yang kuat tentang perceraian, ini berarti Anda pasti tidak populer, bukan saja diluar gereja, bahkan kadang juga di dalam gereja. Jadi mereka ingin mencoba mencela Yesus di mata orang-orang dengan menggambarkan-Nya sebagai orang legalistik yang keras yang tidak disukai orang.

Namun Yesus mengatakan tidak, Anda tidak boleh menceraikan isteri Anda untuk alasan apa saja berdasarkan apa yang telah dikatakan Allah. Dan ada empat hal yang telah difirmankan: Allah telah menciptakan satu laki-laki untuk satu perempuan; Allah telah menciptakan suatu ikatan yang kuat; Allah telah menjadikan mereka menjadi satu daging; dan inilah karya Allah yang kreatif yang karena tidak dapat dipisahkan manusia. Kemudian orang Farisi menggunakan argumentasi ini di ayat 7, “jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?”

Mereka ambil itu dari Ulangan 24 namun mereka merubahkannya karena di dalam teks Ulangan 24:1-4, Musa tidak memerintah orang untuk bercerai. Kita melihat bahwa Musa membiarkan orang bercerai dan itu juga sama dengan apa yang dikatakan Tuhan di ayat 8 dan 9, “Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. 9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

Pada saat itu orang-orang Farisi menghilang. Alasan mereka menghilang adalah mereka baru-baru diekspos sebagai pezinah, karena mereka harus menerima kenyataan bahwa setiap perceraian untuk alasan bukan perzinahan menyebabkan Anda akan menjadi pezinah saat Anda menikah kembali. Dan kenyataannya adalah bahwa mereka telah melakukan hal itu berkali-kali dan mereka hanya pezinah yang memperlihatkan kepada orang lain kenyataan perzinahan itu seperti apa. Jadi kita tidak melihat mereka lagi.

Namun sampai pada saat itu para murid terpesona dengan ajaran Tuhan kita. Dan keadaannya berubah dimana mereka masuk ke dalam rumah di ayat 10. Dan Tuhan duduk bersama dengan murid-murid-Nya dan pastilah mereka meneruskan diskusi mereka dengan banyak pikiran lain tentang pernikahan. Kita ingin sekali memiliki diskusi itu, namun itu tidak ada, jadi kita hanya bisa melihat tanggapan mereka.

Sebenarnya para murid itu kaget dengan semua ini, karena Yesus tidak menambahkan sesuatupun kepada Perjanjian Lama, Dia hanya menegaskan hal itu, tidak boleh bercerai. Dan terus terang, jika Allah mematikan semua pezinah dengan hukuman mati yang diberi di dalam buku Imamat, pasti tidak akan ada perceraian. Namun Allah dalam anugerah-Nya membiarkan beberapa pezinah hidup jadi perceraian menjadi suatu kelonggaran berbelas kasihan yang dikasih hanya dalam keadaan dimana perzinahan itu keras hati dan tidak dapat didamaikan kembali.

Masih ada tempat untuk pengampunan dimana ada pertobatan. Jadi para murid ingin tahu sekali tentang itu karena mereka semua menjadi dewasa dalam kultur dimana perceraian merajalela, sama seperti keadaannya sekarang. Dan apa yang dikatakan Tuhan menyebabkan mereka bergumul dan sekarang kita tiba kepada titik diskusi berikut dalam kedua belas ayat ini. Bagaimana mereka akan menerima hal ini? Ini berbeda sekali dengan pengalaman mereka sampai saat itu, dengan apa yang telah diajarkan kepada mereka.

Dalam kultur Yahudi itu, perceraian malah menjadi suatu kebajikan. Inilah kutipan tulisan Talmud pendeta Yahudi, “Diantara mereka yang tidak akan masuk neraka adalah dia yang telah memiliki isteri yang buruk, orang seperti itu diselamatkan dari neraka karena dia telah diampuni dosa-dosanya di bumi.” “Isteri buruk sama seperti penyakit kusta untuk suaminya. Bagaimana mengobati hal ini? Biarkanlah dia menceraikannya dan dia disembuhkan dari penyakit kusta itu.” “Jika seseorang memiliki isteri yang buruk, kewajiban agama adalah untuk menceraikannya.”

Jadi lihatlah tanggapan mereka di Matius 19:10, “Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” Waduh, jika Anda masuk persetujuan seperti itu dan Anda tidak dapat keluar, lebih baik janganlah masuk kedalamnya. Namun mereka salah, tidak lebih baik untuk hidup sendirian saja. Ada banyak orang yang seperti itu sekarang, mereka menghindari pernikahan karena mereka belum siap untuk berkomitmen seumur hidup.

Dan mereka kehilangan makna terkaya di dalam hidup yaitu hubungan sejati penuh kasih yang berlangsung seumur hidup. Mereka mencukupkan diri dengan tiruan murah. Dengarkanlah Amsal 5:15-19, “Minumlah air dari kulahmu sendiri, minumlah air dari sumurmu yang membual. 16 Patutkah mata airmu meluap ke luar seperti batang-batang air ke lapangan-lapangan? 17 Biarlah itu menjadi kepunyaanmu sendiri, jangan juga menjadi kepunyaan orang lain. 18 Diberkatilah kiranya sendangmu, bersukacitalah dengan isteri masa mudamu: 19 rusa yang manis, kijang yang jelita; biarlah buah dadanya selalu memuaskan engkau, dan engkau senantiasa berahi karena cintanya.”

Dengan kata lain, ada elemen yang indah dan luar biasa dalam pernikahan dan itu hal yang baik, hal yang merupakan berkat, itu diberi Allah dan dicipta Allah. Amsal 18:22 mengatakan, “Siapa mendapat isteri, mendapat sesuatu yang baik, dan ia dikenan Tuhan.” Amsal 19:14 mengatakan, “Isteri yang berakal budi adalah karunia Tuhan.” Jadi Alkitab mengatakan pernikahan adalah sesuatu yang baik. 1 Petrus 3:7 menamakannya “kasih karunia kehidupan.” Sama seperti susu kental diatas disert, itu hal yang terbaik di dalam kehidupan.

Alasan pernikahan itu berakhir adalah karena orang tidak menikah untuk alasan yang benar. Mereka menikah tanpa ada komitmen. Mereka menikah tanpa ada pengertian sama sekali tentang kebajikan dan karakter. Pada dasarnya orang-orang sekarang mencari perasaan romantis, emosi romantis, semua membayangkan bunga dan hati, cinta monyet dan kegilaan yang tidak menetap. Perasaan romantis adalah euforia tinggi dimana hubungan itu didasarkan cinta romantis, dan ketika mereka kehilangan perasaan itu, mereka cepat mencari orang lain.

Namun begitulah cara hidup dunia. Jadi mereka pergi dari satu percintaan ke percintaan lain ke percintaan lain lagi dan akibatnya adalah apa yang kita lihat di masyarakat sekarang ini. Akibat yang paling menyedihkan adalah kita menghasilkan suatu generasi yang terdiri dari anak-anak yang bingung, yang merasa tidak dikasihi dan yang terisolasi, yang sering bertumbuh menjadi orang kriminal dan aneh karena mereka tidak memiliki hubungan waktu panjang yang berarti. Mereka tidak pernah mengalami kasih di dalam keluarga yang saling mengasihi dan menjadi pernikahan baik.

Dengarkanlah, jika Anda menikah hanya untuk perasaan emosi, itu kesalahan besar. Memang itu harus ada juga sedikit, namun sebaiknya Anda melihat selain dari itu kepada kebajikan dan karakter. Anda sebaiknya dapat melihat lebih dari itu kepada nilai rohani bersama dan nilai hidup bersama. Dan sebaiknya mengerti bahwa Anda akan berkomitmen sepanjang hidup, ikatan satu pria dan satu wanita, menjadi satu daging dan dicipta Allah. Itu adalah rencana Allah.

Dan murid-murid perlu mendengar apa yang perlu didengar orang-orang masa kini, apa yang Anda dan saya perlu mendengar, yaitu bahwa pernikahan adalah suatu komitmen seumur hidup dan itu bukan alasan untuk menghindarinya, saudaraku, ini adalah alasan untuk memasukinya. Karena persahabatan sejati seumur hidup itu, Allah akan memberkati Anda dengan cara yang Anda tidak pernah akan mengalami sebagai satu orang. Anda perlu memiliki kriteria yang berbeda untuk mengevaluasi orang. Ya, saya rasa ini perlu diutarakan.

Jadi Anda harus lebih mementingkan karakter dan ketika Anda menemukan orang yang beriman dimana Anda memiliki nilai bersama dalam Yesus Kristus dan dengan siapa Anda dapat mengembangkan persahabatan hidup yang mendalam, bermakna dan berarti, cepat-cepat ambillah kesempatan itu. Dan saya percaya Allah akan memberikan Anda berbagai perasaan yang akan membuat Anda bahagia dan bersukacita, namun haruslah ada lebih banyak dari pada percintaan itu saja.

Dan jika Anda masih belum tahu hal itu, lebih baik santai-santai saja dulu. Kalau tidak Anda akan berusaha seumur hidup untuk menghalang hubungan itu pecah. Jadi carilah seseorang yang imannya sama dan nilainya sama yang mengasihi Yesus Kristus dan memiliki tujuan hidup yang sama dan mintalah kepada Allah untuk menyatukan Anda dengan dia. Jika Anda menemukan seseorang yang Anda ingin mengawinkan namun dia tidak memiliki nilai-nilai seperti itu, lebih baik tunggu saja dulu.

Pernikahan adalah hal kudus. Dan itu merupakan hadiah terbesar yang Allah dapat memberikan kita. Ketika ada dua orang yang mengasihi Yesus Kristus dan mereka mengasihi satu sama lain dan mereka hidup bersama dibawah pimpinan dan arahan Allah dan hidup dalam kuasa Roh Kudus, semua akan berlangsung dengan begitu baik sehingga kadangkala sukar untuk menyadari bahwa ini benar-benar kenyataan. Dan itulah yang dimaksud Allah bagi kita.

Jadi apakah yang terjadi? Apakah dikatakan Tuhan? Dia mengatakan kepada mereka di Matius 19:11, “Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.” Perkataan apa? Perkataan murid, “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.”Akan tetapi Yesus berkata – Lihatlah tidak semua orang dapat menangani hidup sendirian saja, kecuali mereka yang telah dikaruniakan dengan hal itu. Ini bukan bagi semua orang.

Matius 19:12 menggambarkan mereka yang telah dikaruniakan demikan, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya,” orang kasim yang berarti seseorang yang tidak beraktivitas seksual dengan lawan jenis. Dan kita bilang itu kongenital, dan mereka tidak dapat berfungsi begitu, dan tidak ada keinginan untuk berfungsi demikian.

“Dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain.” Ini membicarakan pengebirian. Di dalam sejarah ada orang yang dipilih untuk bekerja di harem dan mereka dikebiri supaya mereka tidak dapat bersetubuh dengan perempuan- perempuan yang ada di dalam harem raja. Ada juga orang-orang non Yahudi yang beragama yang percaya bahwa pengebirian adalah suatu cara yang menyenangkan allah-allah mereka.

Dan ketiga Yesus meneruskan, “dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga,” dan ini bukan akibat pembedahan fisik namun oleh karena dedikasi dan komitmen; mereka telah menjadikan diri mereka demikian. Dengan kata lain ada beberapa orang yang tidak menikah demi Allah.

Yang menarik adalah bahwa disini Yesus hanya menyebut tiga golongan itu saja. Tidak ada orang yang tidak menikah hanya karena mereka tidak mau memberi komitmen kepada sesuatu yang mereka tidak bisa menghilangkan, karena bukan itu yang dirancangkan Allah. Itu hanya mengakibatkan Anda sendirian saja dimana Anda harus menghadapi masalah yang lebih besar, seperti mencoba memuaskan nafsumu sendiri.

Sekarang lihatlah akhir Matius 19:12 dimana Tuhan mengatakan ini, “Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.” Ini pernyataan penting disini karena Tuhan menempatkan itu disitu karena Dia tahu bahwa banyak orang tidak akan menerima hal ini, benar? Karena banyak orang tidak setuju dengan hal itu. Banyak feminis mengatakan mereka tidak perlu suami dan banyak laki-laki merasa mereka tidak perlu isteri.

Karena mereka tidak mengenal Tuhan Yesus dan karena itu tidak mengasihi Kristus, Alkitab tidak berotoritas dalam kehidupan mereka. Jadi apa yang tercantum di dalamnya tidak berarti bagi mereka. Dengan kata lain, jika Anda di bawah otoritas Firman Allah, haruslah Anda menerima ajaran ini. Dan ajarannya adalah: Anda menikah sepanjang hidup atau Anda sendirian untuk kemuliaan Allah atau karena alasan fisik, dan bukan supaya Anda dapat bermain-main saja dan hidup tanpa komitmen.

Jadi sebagai orang Kristen kita harus mendengar ini dan menerima ini. Namun masih ada banyak pertanyaan. Dan tahukah Anda? Dalam teks ini tidak ada jawaban untuk itu. Namun di Perjanjian Baru ada komentar atas ajaran Yesus di 1 Korintus 7. Dan Paulus melakukan ini, Yesus memberikan kita dasar pola ilahi yang kuat dan jelas dan Paulus menolong kita menangani masalah-masalah yang kita hadapi sekarang.

Ada enam alasan untuk pernikahan dan kita akan membahas itu semua. Alasan nomor satu, prokreasi, melahirkan bayi. Kejadian 1 menyatukan satu lelaki dengan satu perempuan, mereka menikah, mereka diberitahu untuk memenuhi bumi, untuk beranakcuculah dan bertambah banyak, “3 anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, 4 seperti anak-anak panah 5 Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu,” dikatakan di Mazmur 127.

Apakah Anda tahu bahwa kira-kira 35 persen dari semua pasangan yang berusia untuk menikah dan subur pada masa kini telah disterilkan permanen. Mengapa? Karena mereka hanya menginginkan cinta romantis dan mereka ingin kebebasan untuk pindah dari satu hubungan ke hubungan yang lain dan anak-anak akan menyebabkan masalah jangka panjang, benar? Namun Allah tahu bahwa anak- anak bisa menjadi kuasa untuk mengikat juga. Tidak ada bukti yang lebih terang bahwa Anda berdua telah menjadi satu ketika Anda melihat dirimu sendiri di dalam anak itu yang telah lahir dari persatuan Anda.

Kedua, Pernikahan adalah untuk kesenangan. Ibrani 13:4 mengatakan, “Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur.” Anda dapat menikmati kesenangan bersama terbesar selama tempatmu tidak dicemarkan. 1 Korintus 7 mengatakan bahwa tubuhmu bukan milikmu dan tubuhnya bukan miliknya, mereka adalah milik satu sama lain. Dan Perjanjian Lama membahas kepuasan hubungan fisik, kesenangan yang telah diciptakan Allah selama kita tinggal dan menetap di dalam batas-batas yang telah ditentukan-Nya.

Ketiga, Pernikahan adalah untuk kemurnian. Di 1 Korintus 7:2, Alkitab mengatakan untuk menghindari persetubuhan diluar nikah, biar setiap lelaki memiliki isteri sendiri. Cara terbaik untuk mencegah segala macam perzinahan adalah dengan memiliki hubungan yang mengasihi dan memuaskan dengan isteri Anda. Dan setelah Anda mengutamakan hubungan Anda dengan Allah,pernikahan adalah bagian hidup yang kedua yang Anda harus pentingkan. Mulailah dengan mempraktekkan iman Anda di dalam keluarga Anda sendiri.

Empat, Pernikahan adalah untuk perbekalan. Efesus 5 mengatakan bahwa kewajiban suami adalah untuk mengasuh dan merawati isterinya, ini berarti mencukupi kebutuhannya dan memeliharanya, untuk menjadi seperti Penyelamat bagi isterinya. Alkitab mengajarkan bahwa pernikahan menjamin keamanan. Bahkan dikatakan di 1 Timotius 5:8, “Jika ada seorang yang tidak memelihara sanak saudaranya, orang itu lebih buruk dari orang yang tidak beriman.” Pernikahan adalah perbekalan dalam memelihara pihak yang lebih lemah supaya dia mendapat kepenuhan dalam melahirkan anak dan persahabatan.

Kelima, pernikahan adalah untuk perkongsian. Ketika Allah menciptakan Hawa, Dia mengatakan Dia bikin untuk Adam seorang pembantu, seseorang yang dapat mendampingi, supaya janganlah bekerja sendirian, supaya bisa bekerja sama. Ada kekuatan dalam persekutuan, benar? Dan saya mengaku kepada Anda bahwa isteriku kuat dimana saya lemah. Dia memberitahukan aku ketika aku perlu diberitahu dan jika tidak dia tidak bisa menguatkan saya ketika saya lemah. Kita belajar untuk saling melengkapi satu sama lain karena Allah telah memilih pasangan kita.

Akhirnya, pernikahan adalah gambaran Kristus bersama gereja-Nya. Efesus 5 adalah suatu demonstrasi grafis di hadapan dunia bahwa Allah mengasihi dan berhubungan tanpa akhir dengan gereja, pengantin-Nya, yang dikasihi dan bagi dia Dia hidup dan mati. Siapakah orang yang terpenting di dalam kehidupan kita? Kristus. Dan itu menyelesaikan masalah ini, benar, karena sekarang kita dapat mengatakan saya akan terima itu, jika Tuhan mengatakan itu. Saya akan melakukan itu karena Engkau telah mengajarkan kita hal itu. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu