04 Mei 2014 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2014
Ajaran Yesus tentang Perceraian
4 Mei 2014

Sekarang kita datang ke Matius 19. Dalam bagian ini kita dapatkan ajaran Tuhan Yesus Kristus tentang perceraian. Tidak ada mata pelajaran lain yang begitu penting dengan keadaan kita sekarang seperti mata pelajaran ini. Masyarakat kita telah merubah definisi pernikahan dan perceraian terus memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat kita seluruhnya. Jadi marilah kita belajar dari Yesus, pencipta kami, apa yang Dia katakan tentang perceraian.

Matius 19:1-6 mengatakan, “Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan. 2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana. 3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada- Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" 4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki- laki dan perempuan? 5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Di Newsweek ada wawancara yang menanyakan pertanyaan yang sederhana, apakah ada orang di negara ini yang belum pernah mendengar teman atau anak atau orang tua menggambarkan penderitaan perceraian? Tidak. Perceraian telah menjadi begitu lazim sampai kita semua tersentuh dalam keluarga atau lingkaran teman-teman. Jutaan orang setiap tahun dipengaruhi perceraian. Semua limapuluh negara bagian sekarang di US memiliki hukum perceraian “no-fault” dimana tidak perlu ada alasan untuk bercerai.

Di masa lalu, keluarga dan pernikahan dipertahankan oleh tiga alasan. Pertama ada kuasa moral keluarga. Dengan kata lain, keluarga itu berarti banyak bagi Anda. Hidup berlangsung di sekitar keluarga. Ada kasih, harapan, keyamanan dan keamanan disana. Namun ketika keluarga itu mulai pecah karena pengaruh internet, ponsel, Facebook dan perubahan definisi pernikahan di dalam masyarakat kita, keluarga itu mulai hancur. Tidak ada lagi kesatuan kohesif yang memaksa kepada anggota-anggotanya suatu sistim nilai moral.

Ada alasan kedua yaitu harapan masyarakat. Dulu ada sejumlah tradisi masyarakat tertentu bahwa seseorang yang telah cerai tidak dianggap baik, namun sekarang keadaannya tidak begitu lagi. Dulu ada tekanan yang datang dari harapan masyarakat yang menghargai pernikahan tradisional. Sekarang malah banyak tekanan dari pendukung-pendukung untuk menerima pernikahan sesama jenis. Masyarakat sekarang sudah berubah tradisi total dan telah merubahkan definisi pernikahan alkitabiah.

Dan dulu ada alasan ketiga yang mempertahankan pernikahan yaitu doktrin gereja. Namun itu juga dilepaskan dengan mudah sewaktu pengertian dan ketaatan itu semakin merosot dan sekarang bahkan di gereja Kristen pernyataan- pernyataan alkitabiah tentang perceraian itu dilemahkan, sehingga gereja menuju kepada menyetujui tuntutan-tuntutan jemaat yang selalu memohon semakin banyak konsesi.

Nah sekarang kita dibawa kepada bagian Alkitab kita malam ini dan hanya ada dua pilihan. Kita dapat mengikuti pendapat duniawi atau kita menaati Firman Tuhan. Kita dapat mengikuti arus kejadian di masyarakat kita dan menyerah kepada sistim duniawi atau kita meninggikan Firman Allah dan mengatakan, “Inilah persyaratan Allah. Dan bagi saya dan seisi rumah saya, kita akan mengikuti dan menaati Firman Tuhan.

Ajaran Alkitab sangat jelas tentang perceraian dan pernikahan kembali. Masalahnya bukan bahwa Alkitab tidak jelas namun pikiran kita sendiri kabur. Kita tidak dapat melihat suatu masalah dan mengatakan – supaya masalah ini diselesaikan kita ambil standar Alkitabiah dan meninggikannya saja. Itu tidak benar. Namun disisi lain ada orang yang mengatakan – kita harus melayani orang-orang itu, kita harus menerima mereka, jadi marilah kita menurunkan standar Allah saja.

Yang kita harus lakukan adalah melihat kembali kepada apa yang dikatakan Yesus di halaman Firman Allah. Matius 19:1-2, “Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan. 2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana.” Berhentilah sebentar, apakah Anda tahu bahwa kedua ayat itu menyatakan akhir pelayanan Galilea?

Sejak Matius 4:12 Tuhan mulai pelayanan-Nya di Galilea, Dia telah bergerak ditengah daerah Palestina itu, melayani, berkhotbah, mengajar dan menyembuhkan. Terang telah datang kepada orang-orang non-Yahudi di Galilea. Namun seperti biasa, manusia lebih senang kegelapan dari pada terang dan kebanyakan orang sebenarnya tidak pernah datang kepada terang itu. Dan sekarang terang itu padam dalam arti kata sebagian dari pelayanan-Nya sudah berhenti.

Yesus sekarang menuju ke Yerusalem dan kita mulai tahap terakhir dari kehidupan Tuhan kita pada waktu Dia menuju ke kayu salib, menuju ke hasrat- Nya dan kebangkitan-Nya. Jadi ini titik kritis. Orang-orang telah diberi kesempatan selama pelayanan Galilea, mereka telah mengalami saat kebenaran mereka dan sekarang itu telah berakhir bagi mereka. Wah betapa sedihnya, betapa anehnya bahwa bahkan dikota-Nya sendiri mereka tetap mencoba untuk membunuh-Nya.

Disitu juga tertulis, “Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya.” Apakah maksudnya? Maksudnya adalah ajaran Matius 18, setelah Yesus selesai mengajar tentang orang percaya mirip anak kecil. Pada waktu itu ada anak kecil yang dipangku dan Dia memakai anak kecil itu sebagai ilustrasi, dan mengajar semua kebenaran yang besar itu yang kita belajar di bab 18. Nah pernyataan kecil itu dengan sendirinya menyatakan suatu pelajaran besar telah selesai.

Jadi kemana Yesus pergi? Dia pergi ke daerah Yudea melewati sungai Jordan. Tuhan meninggalkan Galilea namun dari pada langsung turun ke Yehuda, Dia pergi kearah timur, menyebrang sungai Jordan, turun dibelakang Jordan dan kemudian menyebrang lagi disebelah selatan Yeriko, lalu naik gunung ke Yerusalem. Dan ini penting Dia mengambil rute itu karena ini membawa-Nya ke suatu daerah yang sangat penting.

Daerah melewati Yordan ini dinamakan orang Yahudi, “Terlampaui,” yaitu daerah yang dinamakan Perea. Jadi dari pelayanan Galilea kita masuk ke dalam pelayanan Perea. Dan bab 19 dan 20 membicarakan Tuhan kita melayani di daerah Perea itu. Baru-baru ini daerah itu bertambah padat penduduknya. Itu daerah dibawah pemerintah Herodias Antipas. Masih ingat dia adalah orangnya yang menyebabkan kepala Yohanes Pembaptis dipenggal.

Juga, setiap orang Yahudi yang berjalan-jalan dari sebelah utara ke selatan akan memakai rute itu karena jika dia langsung pergi ke selatan, dia harus melalui tanah orang Samaria. Dan mereka menganggap orang Samaria itu orang tercemar. Jadi banyak peziarah akan memakai rute itu juga. Jadi Tuhan sempat melayani penduduk Perea dan juga orang-orang yang sedang menuju ke Yerusalem.

Sekarang di bab 19 kita masuk ke tahap terakhir dari Injil Matius. Mulai dari sekarang kita akan melihat penyerahan Raja dan penolakan akhir dari negara Israel. Jadi Dia menyampaikan diri-Nya dan Dia ditolak pada akhirnya dan disalibkan. Sementara diselingi semua itu, Dia mengajarkan murid-murid-Nya lebih banyak ajaran lagi supaya mereka dapat meneruskan pelayanan itu. Jadi itu waktu transisi bagi Tuhan.

Sekarang pada waktu Yesus sedang berjalan bersama orang banyak dan sedang menyembuhkan orang, kita tiba di Matius 19:3, “Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Orang- orang Farisi itu selalu mencari kesempatan untuk mencela Dia dan untuk membunuh-Nya. Mereka adalah pemimpin-pemimpin agama dan mereka diserang langsung karena kebenaran yang dikhotbahkan Yesus itu.

Tentu saja mereka ingin supaya Dia kelihatan buruk di depan banyak orang. Mereka memikirkan dua hal. Mereka ingin mencela Dia didepan orang supaya ketenaran-Nya hilang. Dan kedua, mereka ingin menghancurkan-Nya. Jadi mereka merencanakan ujian khusus ini. Nah kelihatannya ini pertanyaan yang sederhana saja, namun ini pertanyaan yang licik dan penuh tipu daya untuk menyerang Yesus Kristus.

Perceraian adalah masalah yang mudah menguap diantara orang-orang Yahudi. Semua orang tahu tentang itu dan perceraian itu sangat umum. Wanita diperlakukan seperti mereka tidak ada hak sama sekali. Dan orang Farisi menjadi pemimpin dalam hal ini, bukan saja dengan ajaran mereka namun juga dengan teladan hidup mereka. Mereka terus menerus menceraikan isteri-isteri mereka. Dan mereka juga mengajar bahwa Anda dapat menceraikan isteri Anda untuk alasan apa saja.

Bahkan Rabbi Hillel mengatakan bahwa Anda dapat menceraikan isteri karena dia memakai terlalu banyak garam dalam makanan Anda. Anda dapat menceraikan isteri Anda jika dia berputar cepat di jalanan dan ada orang yang dapat melihat lututnya. Anda dapat menceraikan isteri Anda jika dia berbicara dengan seorang pria. Anda dapat menceraikan isteri Anda jika Anda telah menemukan wanita lain yang lebih cantik karena sekarang ia menjadi najis di matamu. Anda dapat menceraikan isteri Anda jika dia tidak dapat melahirkan. Anda dapat menceraikan isteri jika dia tidak memberikan Anda seorang anak laki- laki. Jadi pada dasarnya mereka sudah mempraktekkan perceraian tanpa-salah dengan kedok perceraian dengan alasan apapun juga.

Nah orang Farisi tahu bahwa Yesus tidak mengajarkan ini. Di Matius 5:27-28 dikatakan, “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta mengingin- kannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” Dan Matius 5:31-32 mengatakan, “Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya. 32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.”

Jadi mereka mengharapkan bahwa Yesus akan menjawab dengan pernyataan keras tentang perceraian dan dengan demikian mengasingkan banyak orang. Mereka ingin menunjukkan bahwa Yesus adalah intoleran. Dan mereka juga ingin memperlihatkan bahwa Dia tidak mengikuti ajaran Rabbi dan ajaran-ajaran orang Farisi. Dan mereka berharap mereka dapat mencela-Nya dengan menggambarkan-Nya sebagai seorang legalis yang pandangan-Nya melawan pandangan populer.

Ada benteng di daerah itu, dan ada istana bernama Makareus dan Herodias Antipas juga ada penjara disitu. Salah satu tahanan yang pernah tinggal disana adalah Yohanes Pembaptis, Dia masuk penjara karena dia mengritik Herodias karena hukum Allah tentang perceraian. Dan karena itu kepalanya dipenggal. Orang-orang Farisi mengharapkan Herodias ikut campur dan memperlakukan Yesus dengan cara yang sama.

Namun perhatikanlah jawaban Yesus di Matius 19:4-6, “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Yesus tidak menjawab pertanyaan mereka langsung dari pandangan-Nya sendiri, Dia melampaui diri-Nya, melampaui adat istiadat mereka, melampaui Rabbi mereka, melapaui tradisi mereka, Dia kembali kepada Allah sendiri. Masalah Anda, Dia mengatakan, bukanlah dengan Aku. Firman Allah adalah dasar masalah ini. Marilah kita kembali kepada Firman Allah. Kita tahu mereka telah membacanya. Dan Dia mengutip dari Kejadian 1:27 dan Kejadian 2:24, Tidakkah kamu baca, Dia mengatakan?

Kemudian Dia meneruskan mengutip Allah dari Kejadian dan ini adalah bagian utama yang kita akan belajar malam ini, Dia memberikan kita empat alasan mengapa menurut hukum kita dilarang bercerai dengan alasan apa saja. Marilah kita mendengar Allah, Dia mengatakan. Marilah kita membiarkan Allah berbicara. Empat alasan mengapa kita dilarang untuk bercerai.

Alasan pertama – Satu laki-laki diciptakan untuk satu perempuan. Apakah Anda mengerti? Satu pria diciptakan untuk satu wanita. Lihatlah ayat 4 dan Dia mengutip dari Kejadian 1:27, “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?”Dia mengatakan – Apakah Anda belum baca tentang penciptaan? Apakah Anda tidak tahu tentang itu? Tahukah Anda bahwa Allah menciptakan Adam dan Hawa? Dia tidak menciptakan Adam dan Hawa dan Etel dan Albert.

Dia tidak menyediakan kesempatan untuk poligami. Perceraian bagi Adam dan Hawa tidak mungkin. Allah telah merencanakan seluruh sejarah manusia, bagaimana itu seharusnya, satu pria dan satu wanita, yang tidak mungkin terpisah. Allah tidak pernah merencanakan dua orang untuk menikah dan untuk menyeleweng supaya dapat mencari yang lebih baik.

Alasan kedua mengapa perceraian tidak diperbolehkan adalah Allah menciptakan ikatan yang kuat. Dikatakan di ayat 5, “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya.”Ini adalah Kejadian 2:24, masih sebelum manusia jatuh dalam dosa. Ini urutan ilahi Allah yang indah, dan perkataan “bersatu” pada dasarnya berarti memiliki ikatan yang tidak mungkin patah. Ini berarti di-lem tertancap.

Jadi kita memiliki dua hati, rajin dan berkomitmen untuk mengejar satu sama lain dalam kasih, terpaku bersama dalam ikatan yang tidak bisa pecah, terpaku dalam pikiran dan terpaku dalam perasaan. Karena itu 1 Korintus 7:4 mengatakan, “Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya,” ini adalah pertukaran, ini penyerahan diriku secara total kepada pasanganku.

Alasan ketiga mengapa pernikahan tidak mengizinkan dirinya putus adalah karena satu pria dan satu wanita telah menjadi satu daging. Yesus mengatakan di ayat 5, “Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Mereka tidak bisa dipisahkan lagi. Mereka telah menjadi satu orang di dalam kesatuan pernikahan. Ini nomor yang tidak dapat dipisahkan.

Apakah artinya menjadi satu orang? Ketika dua orang menikah, mereka benar- benar dalam pandangan Allah menjadi satu. Mereka menjadi milik total dari satu sama lain. Mereka menjadi satu pikiran dan jiwa dan tujuan dan arah dan emosi dan perasaan dan kemauan. Dan kesatuan itu, pada akhirnya, terlihat paling baik di dalam anak yang mereka hasilkan yang adalah lambang sempurna dari ikatan mereka, karena anak itu menyatakan segala yang adalah mereka di dalam satu.

Dan alasan keempat ada di dalam ayat 6, “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Ini bukan membicarakan bagaimana Anda memandang satu sama lain, ini adalah Allah yang berkata – Aku menciptakan pernikahan, dan janganlah sekali-kali Anda memisahkannya. Aku menempatkan dua orang menjadi satu. Yang ditahbiskan adalah lembaga Allah. Setiap kali ada pasangan yang jadi dan yang mengalami suka cita berteman atau suka cita persetubuhan atau apapun juga, mereka mengalami mujizat Allah.

Mujizat bahwa seorang pria dan wanita dapat menyerahkan diri satu sama lain dalam kepenuhan hubungan intim yang berarti adalah suatu perbuatan Allah. Bahkan orang-orang yang tidak percayapun dapat menikmati suka cita dan kebermaknaan ikatan kasih. Setiap anak yang lahir di dunia adalah ciptaan Allah. Tidak peduli orang tuanya belum percaya dan tidak mengerti tentang Allah.

Ini juga benar bagi pernikahan. Pernikahan yang menghasilkan anak adalah suatu perbuatan Allah dimana dua orang disatukan untuk menikmati kepenuhan hidup. Pengguguran terhadap kelahiran bayi sama dengan perceraian terhadap pernikahan. Sama seperti pengguguran membunuh ciptaan Allah, perceraian melakukan yang sama. Inilah jawaban-Nya, namun bukan keseluruhan jawaban. Kita akan teruskan dari sini Minggu depan. Marilah kita berdoa bersama.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu