09 Mar 2014 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2014
Proses Mendisiplin
9 Maret 2014

Marilah kita meneruskan pelajaran kita di Matius 18:15-17, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. 16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. 17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”

Seperti saya membagikan kepada Anda minggu lalu, bagian ini berhubungan dengan mendisiplin umat Allah. Nah perkataan mendisiplin bukan suatu perkataan negatif. Ini perkataan positif, ini perkataan mengenai latihan. Jadi ketika kita membicarakan disiplin di gereja, kita membicarakan membawa orang kepada standar Allah. Kita adalah anak-anak dan semua anak-anak perlu didisiplin dan pada dasarnya mereka didisiplin dengan dua cara. Dengan apa yang disebut penegakan positif dan dengan penegakan negatif.

Nah penegakan positif dengan sederhana mengatakan jika Anda berbuat ini nanti akan ada upahnya. Dan Firman Allah telah mengatakan kepada kita jika kita segan memakai pentung, kita benci anak itu. Jadi ada juga suatu macam penegakan yang mengatakan, jika Anda tidak mengikuti ini akan ada konsekuensinya. Nah hal ini berlaku juga di dalam keluarga Allah. Ada penguatan posistif di Alkitab dimana Allah mengatakan jika Anda melakukan itu Saya akan memberkati kau. Dan ada juga penegakan negatif yang datang, jika Anda memberontak Anda akan dihajar.

Pengabaian berurusan dengan dosa bukan saja membiarkan orang yang berbuat dosa terhanyut semakin jauh, namun juga menetapkan sebuah standar yang membiarkan orang lain berjalan di jalan dosa yang sama tanpa merasakan akan ada konsekuensi nanti. Tetapi dimana kita bertindak melawan dosa kita bukan saja menarik orang yang berdosa itu kembali,,namun kita membangun kembali pola kebajikan yang tepat. Di dalam Perjanjian Lama saat Allah menghukum beberapa orang, yang lain juga takut akan dihukum. Jadi disiplin itu harus ada.

Sudah ada beberapa unsur disiplin yang telah kita bicarakan minggu yang lalu dari teks ini. Pertama tempat disiplin. Dan perhatikanlah ayat 17, itu berlangsung di eklesia, yaitu gereja. Disini artinya tidak khusus, ini bukan gereja Baptis atau gereja Presbyterian atau denominasi lain namun ini perkumpulan orang-orang yang telah ditebus Allah. Dimanapun orang-orang yang telah ditebus Allah berkumpul, kita harus berhubungan dengan dosa.

Kedua, tujuan disiplin adalah untuk mendapat kembali saudaramu. Maksud disiplin itu bukan untuk mendorong orang keluar namun supaya orang itu kudus. Ketika orang berdosa dan tidak taat kepada Allah, mereka kehilangan persekutuan. Dan kita ingin supaya mereka terdapat kembali dan arti kata itu adalah kata bisnis. Ini berhubungan dengan kehilangan harta kekayaan dan keinginan untuk mendapatkan- nya kembali, dan merasa sedih karena kehilangan sesuatu yang berharga itu.

Ketiga, kita mengingat minggu lalu orang yang mendisiplin. Sekarang sudah jelas siapakah orang itu, itu adalah Anda dan saya. Ini hal pribadi. Tidak ada polisi rohani, tidak ada badan pencarian dan penyitaan khusus. Kita semua harus ikut campur dalam hal mencari satu sama lain untuk memulihkan sesama dan untuk mendapatkan kembali saudara kita yang berdosa yang terhanyut jauh dari komunitas umat Allah.

Namun ada beberapa persyaratan. Pertama, Anda harus mau pergi. Yesus mengatakan pergilah dan kasih tahu dia. Dan ini menunjukkan bahwa Anda harus memiliki keinginan untuk melakukan itu. Kedua, harus ada semangat bagi Allah. Dan kita memerlukan respon dimana ketika Allah dipermalukan, kita yang merasa kesakitan. Dan hal ketiga adalah kekudusan pribadi. Anda tidak bisa, seperti dikatakan Yesus di Matius 7, mengambil selumbar dari mata orang lain, jika Anda sendiri memiliki balok di mata Anda sendiri.

Kita semua perlu menjadi orang-orang kudus. Nah ini membawa kita kepada sesuatu yang baru malam ini, provokasi dalam disiplin. Bagaimana kita tahu kapan kita harus melakukan itu? Bagaimana kita tahu kita harus mendekati seseorang? Perhatikanlah sekali lagi, “Apabila saudaramu berbuat dosa terhadap Anda.” Jadi sekarang pertanyaannya, dosa apakah yang perlu di disiplin? Apakah jawabannya? Semua dosa, karena itu teks ini umum.

Tahukah Anda ada dosa kecil dan dosa besar. Namun dosa adalah dosa dan itu kebalikan dari kekudusan total Allah. Dan setiap dosa menyebabkan ada cacat di persekutuan, itu merusak persekutuan. Jadi setiap dosa harus dikoreksi. Jika ada anggota persekutuan Kristen yang berdosa yang melanggar standar Allah, proses ini harus langsung di mulai. Itulah keinginan Allah.

Dan itu harus terjadi langsung. Masalahnya adalah kekudusan, dan setiap dosa. Sekarang lihatlah teks ini lebih lanjut. Perhatikanlah apa yang dikatakan, “Apabila saudaramu berbuat dosa terhadap Anda.” Bagian komparatif di Lukas 17:3 mengatakan, “Jikalau saudaramu berbuat dosa terhadap Anda, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia. 4 Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

Jadi jika seseorang tidak berdosa terhadap Anda, Anda tidak bertanggung jawab. Namun ada dua cara orang dapat berdosa terhadap Anda, secara langsung dan tidak langsung. Cara langsung seseorang mungkin berdosa terhadap Anda adalah ketika ada orang yang memukul hidung Anda karena dia marah, atau ada orang yang mencuri dari Anda, atau seseorang menipu Anda atau seseorang memanfaat- kan Anda atau seseorang memfitnah Anda atau seseorang memperkosa Anda, dll.

Dan teks ini mengatakan jika orang seperti itu berdosa terhadap Anda, pergilah dan tegorlah dia. Mengapa? Supaya dia dapat dimenangkan kembali. Janganlah pergi dan balas dendam. Bukan itu yang kita harus lakukan. Ketika ada yang berdosa terhadap Anda, Anda kena tipu, Anda difitnah, Anda disalahgunakan, apapun dosa itu dan ini saudara dalam keluarga gereja Kristen, pergilah dan tegorlah dia tentang dosanya supaya dia mengaku dan bertobat supaya Anda mendapatkannya kembali sebagai saudara lelaki dan mendapatkannya kembali sebagai saudara perempuan dalam Yesus Kristus.

Namun kita cenderung jika ada yang menyakiti kita atau berdosa terhadap kita atau bertindak dengan ketidaktaatan terhadap Allah yang langsung mempengaruhi kita, kita menempatkan mereka di daftar balas dendam kita. Dan kita membiarkan kepahitan, kebencian dan amarah membesar di dalam hati kita. Dan Yesus mengatakan, jika ada yang berdosa melawan Anda, pergilah dan berusaha untuk mendapatkan saudaramu kembali dengan sikap pengampunan. Itulah yang dikatakan di bagian dari Lukas. Pergilah, tegorlah dan jika dia pertobat, ampunilah dia.

Namun bagaimana jika seseorang berdosa terhadap kita secara tidak langsung? Nah dengarkanlah dengan seksama, setiap dosa di dalam perkumpulan umat Allah adalah dosa terhadap setiap orang lain di umat Allah itu, karena itu mencemarkan kita semua. Paulus mengatakan hal itu dua kali di 1 Korintus 5 dan Galatia 5, “sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan.” Dosa tidak dapat dipisahkan, itu mempengaruhi seluruh umat. Karena itu orang Israel harus membawa roti yang tidak beragi keluar dari Mesir supaya tidak ada sesuatu dari dulu yang dapat mempengaruhi mereka.

Sekarang ini membawa kita kepada titik kelima, proses mendisiplin. Bagaimana caranya? Ada empat langkah yang sudah jelas diterangkan. Langkah pertama, ayat 15, “Pergilah dan tegorlah dia di bawah empat mata.” Tunjukkanlah itu kepadanya supaya benar jelas. Ambillah waktu dan usaha yang diperlukan. Ini sukar dengan orang-orang yang dikenal, karena mereka mengenal Anda dan saat Anda berbicara tentang dosa mereka, mereka tentu dapat mengatakan sesuatu tentang dosa Anda sendiri.

Akan ada ikatan luar biasa dari dua jiwa yang terayut bersama, jika Anda pergi dengan sikap yang benar. Disini terdapat sikap yang benar di Galatia 6:1, “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.” Pergilah penuh kerendahan hati dengan menyadari bahwa itu mungkin Anda sendiri yang dapat jatuh karena godaan itu. Dan kemudian dikatakan bahwa Anda pergi dan menanggung bebannya dan memenuhi hukum Kristus. Dan apakah hukum Kristus itu? Itu hukum kasih kerajaan.

Jadi jika Anda tahu tentang seseorang yang berdosa terhadap Anda, pergilah dan bertemu empat mata. Tidak perlu melebihi itu. Jika Anda pergi ke orang itu tanpa memberitahu orang lain dan Anda pergi sendirian untuk menghadapi dosa itu, dengan kasih dan kerendahan hati, dan jika orang itu bertobat, Anda akan mendapatkan suatu ikatan keintiman yang tidak dapat dihancurkan apapun. Begitulah caranya rahasia di dalam tubuh Kristus dipertahankan.

Galatia 2 adalah ilustrasi dari hal ini. Petrus berdosa dengan memisahkan diri dari perkumpulan umat Allah dan hanya bergaul dengan orang-orang bersunat ketika di Antiokhia. Di Galatia 2:11 Paulus mengatakan, “aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.” Apakah Petrus merespon? Iya, dia merespon begitu baik sehingga di 2 Petrus 3:15 dia memanggil Paulus “saudara kita yang kekasih.” Bagaimana mereka ada hubungan kasih yang begitu erat? Itu mungkin karena Paulus rela menghadapinya dengan dosanya, kasihnya cukup besar untuk membangunkan ikatan keintiman itu.

Tetapi bagaimana jika dia tidak mau mendengar? Kalau begitu Anda mengikuti langkah kedua di ayat 16, “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.” Orang Yahudi tahu sekali bahwa Allah telah menentukan hukum itu di Ulangan 19:15, “atas keterangan dua atau tiga orang saksi perkara itu tidak disangsikan.” Ini bagi perlindungan, supaya tidak ada orang yang dapat memberi informasi yang memfitnah kepada orang yang masih dapat disangsikan.

Nah ini menyebabkan ada tekanan. Bawalah dua orang yang tujuannya sama, yaitu untuk mendapatkan kembali saudaramu. Dan idenya adalah untuk menunjukkannya dosanya supaya dia benar-benar mengerti, supaya ada pengakuan dosa yang tulen dan pertobatan sungguh-sungguh dan ada pemulihan. Ini serangan kedua dalam peperangan untuk saudara kita laki-laki atau perempuan yang sedang terhanyut.

Nah, mengapa kita memerlukan satu atau dua orang? Supaya atas mulut dua atau tiga orang setiap perkataan itu tidak disangsikan. Ini bukan satu atau dua orang yang melihat dosa itu atau tahu tentang dosa itu. Mereka saksi-saksi konfrontasi itu yang kemudian dapat kembali dan dapat memastikan kata-kata yang diucapkan disana. Ini sebenarnya perlindungan yang sama bagi orang yang didekati dengan siapa yang mendekati. Jadi Allah ingin konfirmasi baik dari pertobatan atau dari ketidaksesalan dari mulut dua atau tiga saksi.

Jadi apa yang terjadi seandainya mereka tidak mau mendengar dua atau tiga saksi yang datang? Ayat 17, “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” Kadang-kadang pemimpin gereja memberi informasi seperti itu melalui kelompok-kelompok, kita dapat mengatakan itu pada Perjamuan Kudus. Kadang itu diberitahukan di dalam kelas atau persekutuan atau pemahaman Alkitab, namun pernyataan adalah seperti ini, saudara kita terhilang kepada kita, kita mengatakan itu kepada gereja untuk apa? Yang selalu menjadi tujuan disiplin adalah pemulihan.

Seringkali di dalam hidup gereja, orang-orang melayang menjauh begitu saja dan saya telah memeriksa hati saya selama beberapa tahun terakhir dan banyak orang yang saya kenal terhanyut masuk dosa dan saya kehilangan mereka karena saya tidak melakukan langkah pertama atau setelah langkah pertama saya mengatakan mereka tidak akan bertobat. Dan mungkin saya melanjutkan dengan langkah kedua kemudian saya melepaskan hal itu. Saya merasa saya gagal kepada mereka karena saya tidak mengejar mereka lebih lanjut. Dan saya gagal kepada Tuhan juga.

Apakah ada contoh di Perjanjian Baru tentang hal ini? Apakah kita pernah melihat disiplin tahap ketiga? Lihatlah 2 Korintus 2:5-8, “Tetapi jika ada orang yang menyebabkan kesedihan (oleh karena dosa), maka bukan hatiku yang disedihkannya, melainkan hati kamu sekalian, atau sekurang-kurangnya, supaya jangan aku melebih-lebihkan, hati semua orang di antara kamu. 6 Bagi orang yang demikian sudahlah cukup tegoran dari sebagian besar dari kamu,” Dengan kata lain, kelihatannya hampir seluruh gereja mengatakan orang ini berdosa. Jadi gereja itu tahu dan mereka mengejar orang ini dan dia bertobat.

Jadi ayat 7-8 mengatakan, “sehingga kamu sebaliknya harus mengampuni dia.” Yang berarti dia telah bertobat karena seluruh gereja mengejar dia. “dan menghibur dia, supaya ia jangan binasa oleh kesedihan yang terlampau berat. 8 Sebab itu aku menasihatkan kamu, supaya kamu sungguh-sungguh mengasihi dia.” Nah disini keadaannya adalah seluruh gereja tahu dan mengejar dia dan dia bertobat dan sekarang setelah dia merespon, janganlah membiarkan dia diluar begitu saja. Rangkullah dia dan ampunilah dia dan kasihilah dia.

Jadi bagaimana jika mereka tidak merespon? Lihatlah ayat 17 lagi, “Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat,” dan frasa itu terdapat diantara setiap langkah. Itu ada setelah langkah pertama, setelah langkah kedua, dan itu ada setelah langkah ketiga. Dan jika ia tidak mau mendengar seluruh jemaat, dikatakan di langkah keempat, “pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” Bukan saja mereka tidak mau supaya dia ikut, sebagai orang buangan dia berada diluar gereja.

Namun seorang pemungut cukai dalam berbagai hal keadaannya malah lebih buruk. Bukan saja dia orang buangan karena dosa, dia juga orang buangan pilihan sendiri. Dia telah menyebrang ikut musuh. Jadi ketika kita membicarakan orang yang tidak mengenal Allah dan seorang pemungut cukai di zaman Tuhan Yesus Kristus, orang- orang pasti mengerti dia membicarakan orang yang diluar persekutuan. Namun ini tidak berarti kita tidak sayang kepada mereka. Matius yang menulis bagian ini sendirinya pemungut cukai. Dan Yesus selalu ingin menyelamatkan pemungut cukai dan pendosa-pendosa lain.

Apakah terjadi jika seluruh proses tidak bermanfaat? Allah mengatakan keluarkanlah mereka dari persekutuan. Janganlah membiarkan mereka menerima berkat-berkat dan keuntungan. 1 Korintus 5 menjelaskan hal ini. Di gereja Korintus ada orang yang ada hubungan seksual dengan isteri ayahnya, semacam perbuatan sumbang yang keji dihadapan Allah. Dan bukannya patah hati karena incest itu, Paulus mengatakan, “Anda malah sombong dan tidak berduka.”

Jadi dia mengatakan di ayat 4-5, “Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, 5 orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.” Keluarkanlah dia dari persekutuan jika dia terus menerus hidup dalam dosa berturut-turut. Serahkanlah dia kepada Iblis sampai binasa tubuhnya agar pada akhirnya jiwanya dapat diselamatkan.

Di 1 Timotius 1:20 Paulus mengatakan, “di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.” Mereka perlu belajar, dan mereka tidak dapat belajar itu di dalam gereja. Ketika orang itu dikeluarkan, anugerah persekutuan Allah yang menolong dalam sanktifikasi itu hilang dan mulai menyadari betapa berarti hal itu bagi mereka. Namun jika ada orang yang dikelilingi umat Allah dan tetap diterima dan tetap berdosa juga, kemungkinan besar mereka terus saja dan tidak bertobat dari dosa mereka.

2 Tesalonika 3:6, “Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami.” Perkataan menjauhkan diri berarti menghindari diri. Jangan membiarkan mereka masuk ke dalam persekutuan. Kita disini membicarakan anggota keluarga yang berdosa.

Ketika kita mengusir seseorang, kita tidak memperlakukannya sebagai saudara, kita memperlakukan dia sebagai orang buangan, kita mengeluarkan dia. Namun bagaimana kita harus memerlakukan dia sekarang? Kita selalu harus memanggil dia kembali. 2 Tesalonika 3:15 mengatakan, “tetapi janganlah anggap dia sebagai musuh, tetapi tegorlah dia sebagai seorang saudara.” Jadi bagaimanapun Anda janganlah membiarkan dia pergi, tegorlah dia, kembalilah, berubahlah hidup Anda menjadi benar, akuilah dosa-dosamu dan bertobatlah dari dosa-dosamu. Allah akan memulihkan kau jika Anda bertobat.

Proses ini akan membawa kita lebih dekat satu sama lain, ini akan memberi keberanian untuk lebih lagi melibatkan diri dalam kehidupan saudara-saudari kita. Dan ini akan mengajarkan kami untuk mempraktekkan ini di gereja kita. Seringkali kita merasa tersinggung atau sakit dan betapa baiknya jika pada permulaan saudara kita ini mau mendengar dan kemudian menyadari apakah mereka lakukan mungkin tanpa sadar namun juga betapa indahnya kemudian memiliki ikatan yang lebih erat setelah mereka saling memaafkan satu sama lain, Amin? Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu