02 Mar 2014 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2014
Mendisiplin Anak-anak Allah
2 Maret 2014

Marilah saya membacakan teks malam ini dari Matius 18:15-17, “Apabila saudaramu berbuat dosa, pergilah dan tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. 16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. 17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.”

Bagian ini berhubungan dengan mendisiplin orang Kristen yang berdosa. Jadi ini teks yang sangat penting dari Tuhan kita. Ini mengharuskan kita menjawab. Kita telah ditebus untuk kekudusan, kita telah diselamatkan untuk proses pengudusan. Kekudusan hidup adalah tujuan yang ditentukan Allah sendiri untuk membawa kita kepada diri-Nya. Kita tidak bisa membaca Firman Tuhan, Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, tanpa ada penegasan bahwa Allah menginginkan umat-Nya menjadi kudus.

1 Petrus 1:16 menyimpulkan ini indah sekali ketika mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Dan jika itu tertulis dalam firman Allah maka haruslah kita hidup seperti itu. Dan jika Allah mementingkan kekudusan umat-Nya dan kekudusan gereja-Nya demi reputasi-Nya yang kudus, maka saya dan setiap orang percaya lain harus bersama-sama prihatin sebagai wakil-Nya. Dan tidak ada gereja yang dapat mengabarkan injil yang sendirinya tidak diikuti dihadapan Allah dan dihadapan seluruh dunia.

Banyak gereja dengan jelas mengatakan bahwa ada berbagai hal yang salah dan penuh dosa dan memanggil orang-orang untuk gaya hidup benar, namun tidak pernah benar- benar menegakkan pesan itu. Jadi walaupun dari mimbar tidak ada toleransi, ada toleransi besar di dalam kehidupan orang-orang. Dan lama kelamaan yang terjadi adalah khotbah itu dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan khotbah itu hanya suatu latihan dimana Anda mencoba meyakinkan orang tentang hidup kudus, namun sebenarnya Anda tidak menindaklanjuti hal itu. Dan ketika berkhotbah tidak berhubungan dengan hidup sehari- hari, tidak ada artinya.

Bahkan mendisiplin anggota jemaat gereja yang berdosa hampir tidak ada di dalam masyarakat kita dan juga di sisa dunia. Ada evangelis yang pernah mengatakan, “Saya tidak tahu satu gerejapun di seluruh dunia yang sekarang mendisiplin anggota gereja yang berdosa, tidak ada satupun.” Kemudian John MacArthur mengatakan kepadanya, “Nah, kita berkomitmen tentang hal itu.” Dan dia mengatakan kepadanya, “Jika Anda melakukan itu, gereja Anda akan kosong. Mereka akan menyebut bagian Matius 7:1 yang sering disalahtafsirkan, “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”

Dan semua orang adalah hukum bagi dirinya sendiri dan kita semua independen dan kita tidak mau terlibat dalam masalah masing-masing dan itu tampaknya menjadi realitas budaya yang masuk ke dalam gereja sehingga kemurnian gereja terhilang. Jadi bagaimana caranya menjadikan umat Allah itu kudus? Kita tidak bisa berkhotbah saja dan kemudian tidak peduli bagaimana kelakuan orang itu merespon. Harus ada lebih dari pada hanya mengatakan sesuatu saja. Harus ada jalan untuk mendorong orang untuk menjadi kudus dengan semacam tekanan ilahi yang sehat.

Mari kita melihat sebentar ke Kisah Para Rasul 5, Ananias dan isterinya Safira menjual tanah milik mereka dan telah bersumpah kepada Tuhan untuk memberi seluruhnya, namun mereka tidak memberi semuanya. Dosa ini tidak berhubungan dengan memberi, dosa ini berhubungan dengan berbohong kepada Allah. Jadi Petrus mengatakan kepada mereka, “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?” Setelah Anda berjanji ada kejahatan di dalam hati Anda untuk mendustai Roh Kudus dan Anda tidak berbohong kepada manusia, tetapi Anda berbohong kepada Allah. Dan Ananias mendengar perkataan itu langsung jatuh dan mati. Allah mematikan dia langsung disitu dan isternya juga tiga jam kemudian dan sangat ketakutan semua yang mendengar hal itu.

Ini tetap gereja Allah, benar? Dia masih berkuasa sebagai kepala gereja-Nya. Sikap-Nya terhadap dosa tidak berubah dan keinginan-Nya untuk melihat gereja murni juga tidak berubah. Namun Dia mengambil otoritas itu dan memberikannya kepada orang-orang ilahi yang memimpin gereja. Dan pada dasarnya Dia mengatakan, Anda mewakili saya di gereja dan Anda bersikap terhadap gereja itu sama dengan Saya bersikap terhadap gereja itu. Jadi dengan demikian kita harus menghadapi dosa.

Sekarang marilah kita melihat konteks Matius 18 lagi. Marilah saya sebentar saja mengingatkan Anda intinya ini apa, ini mengenai orang percaya yang harus menjadi seperti anak kecil. Allah memandang orang percaya seperti anak-anak. Bahkan saat Tuhan mengajar hal ini Dia sedang menggendong anak kecil. Dan Dia menganggap kita sebagai anak-anak itu, secara rohani kita sama seperti fisik anak kecil; belum dewasa, lemah, bergantung dan seterusnya.

Dan saat kita sudah mulai Matius 18, kita melihat hal itu dalam ayat 3-4 dimana kita masuk Kerajaan seperti anak kecil. Di ayat 5-9 kita dilindungi seperti anak-anak sepanjang hidup. Di ayat 10-14 kita perlu dipelihara seperti anak-anak, dan sekarang di ayat 15-20 kita perlu didisiplin seperti anak kecil. Jadi disini kita belajar bahwa inilah khususnya yang harus terjadi di dalam keluarga Allah.

Ini diterangkan di Amsal 3:11-12 dimana dikatakan, “Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. 12 Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.” Disini terdapat analogi yang sama dimana sama seperti ayah harus mendisiplin anak untuk mengkoreksinya demikian pula Tuhan harus mendisiplin anak-anak-Nya untuk dikoreksi. Kita sama seperti anak kecil dan kita perlu diajarkan untuk menaati dan caranya kita belajar adalah dengan mengetahui konsekuensi ketidaktaatan.

Tanpa konsekuensi tidak akan ada perubahan. Ikutilah konsep ini di Amsal 10:13 dimana dikatakan, “Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi.” Anak kecil harus dikoreksi. Bagaiamana caranya mengoreksinya? Disini perlu ada tongkat. Dengan kata lain, untuk kelakuan yang tidak benar harus ada konsekuennya. Amsal 13:24 mengatakan, “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.”

Ibrani 12:6 mengatakan hal itu lagi, “karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Kemudian Dia memberikan kita alasannya mengapa di Ibrani 12:10, “Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” Dengan kata lain, Allah mendisiplin kita supaya kita menjadi suci seperti Dia dengan konsekuensi luar atau dalam. Kadang-kadang sakit karena perasaan bersalah atau sakit dari luar memaksa kita untuk menjadi taat supaya kita mengikuti standar kekudusan-Nya.

Jadi kita seperti anak-anak yang mendengar khotbah melawan dosa dan ajaran melawan dosa dan kita diharapkan untuk mengikuti pola kekudusan itu. Anak-anak itu tidak akan mengikuti itu secara otomatis. Dan sama seperti anak-anak, yang cenderung tidak taat dalam hidup, kita juga cenderung kepada ketidaktaatan dalam kehidupan rohani kita. Jadi kita sering menuju ke arah jahat kecuali kita didorong kepada ketaatan. Karena itu harus ada paksaan.

Jadi mengapa gereja-gereja evangelis di dunia begitu tidak kudus? Mungkin masalahnya kita tidak selalu berkhotbah pesan yang benar dan kita tidak taat dalam implementasinya dalam kehidupan orang-orang. Jadi dengan demikian kita seolah-olah mengatakan selama khotbahnya baik dan selama itu ortodoks kita sebenarnya tidak peduli apa yang mereka lakukan. Dan itu tidak bisa kita katakan kepada anak-anak. Saya sangat benci meluangkan waktu bersama anak-anak Anda jika Anda tidak pernah mendisiplin mereka.

Jadi kita dipanggil di dalam bagian firman ini untuk melaksanakan disiplin di dalam gereja untuk melawan dosa supaya gereja bisa mengikuti pola pengudusan. Jadi marilah kita mempelajari beberapa unsur disiplin malam ini. Pertama, marilah kita melihat tempat untuk mendisiplin, di ayat 17 dua kali dia menyebut gereja. Dengarkanlah; ini ketiga kalinya kata ini dipakai di Matius, yang pertama di Matius 16. Ini tidak mengacu kepada gereja yang didirikan waktu Pentakosta. Perkataan ini hanya berarti kumpulan umat Allah.

Ada beberapa komentator yang merasa ini mengacu kepada tempat ibadah Yahudi, namun itu tidak benar. Tidak ada tempat dimanapun di Perjanjian Baru dimana Yesus memberi peraturan ibadah di tempat ibadah Yahudi. Dia tidak ingin merubahkan peraturan ibadah di tempat ibadah Yahudi. Dia ingin mendirikan umat-Nya tersendiri dan gereja-Nya tersendiri. Dan selanjutnya, ayat 18-20 tidak berhubungan dengan tempat ibadah Yahudi, karena di dalam tempat ibadah Yahudi tidak ada orang yang berkumpul di dalam nama Yesus dan Dia tidak berada ditengah mereka.

Di umat-Nya yang ditebus Dia ingin melihat orang kudus dan murni tanpa cacat. Jadi disiplin terjadi dalam persekutuan umat yang ditebus. Sejajar dengan pikiran itu Paulus di 1 Korintus 6:1 menyalahkan orang-orang Korintus karena dosa menuntut satu sama lain. Dia mengatakan, “Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang- orang kudus?” Dengan kata lain, kenapa Anda membawa perselisihan dan masalah Anda dihadapan orang-orang yang tidak percaya? Itu pengadilan orang-orang yang belum lahir baru dan bukan pengadilan orang kudus.

Dengan kata lain, gereja orang percaya adalah pengadilan tertinggi jadi semua disiplin gereja harus dilakukan di dalam persekutuan orang percaya. Mungkin itu terjadi di dalam keluarga Anda sendiri, karena itu sebagian dari umat Allah yang ditebus yang menjadi gereja. Mungkin itu dalam pemahaman Alkitabiah Anda atau persekutuan Anda. Namun itu harus terjadi diantara umat Allah yang ditebus dan tidak ada pengadilan yang lebih tinggi dari itu. Dan pemimpin rohani dari jemaat itu harus ikut campur.

Marilah kita melihat tujuan disiplin. Ayat 15 mengatakan, “Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.” Tujuan mendisiplin adalah untuk memulihkan kembali kepada kekudusan. Amsal 11:30 mengatakan, “Hasil orang bijak adalah memenangkan jiwa orang.” Di Galatia 6:1 Paulus mengatakan, “kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut.” Di Yakobus 5:19-20, “Saudara- saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada orang yang membuat dia berbalik, 20 ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut.”

Nah ini selalu tujuan disiplin, itu bukan untuk membuang orang keluar. Itu bukan untuk menjadi benar diri melawan ketidakbenaran mereka. Itu bukan untuk berotoritas dengan kuasa dengan cara yang tidak alkitabiah. Tujuan disiplin itu adalah untuk membawa mereka kembali. Nah perhatkanlah di ayat 15, perkataan “mendapat kembali,” atau beruntung. Ini perkataan dunia bisnis misalnya untuk membicarakan mencari kekayaan. Keuntungan dalam arti harta, barang atau komoditas.

Jadi Allah memandang saudara yang berdosa sebagai kehilangan sesuatu yang berharga dan ini sebenarnya hati Allah dimana Dia tidak dapat melepaskan satu jiwa karena setiap jiwa sangat berharga bagi-Nya. Dan gereja harus memiliki sikap yang sama dimana kita tidak boleh membiarkan orang itu melayang lepas begitu saja dan mengatakan ah, saya tidak tahu mereka dimana, namun saya sebenarnya tidak mau ikut campur. Saya pikir mereka sudah jatuh dalam dosa. Ada yang berharga yang kehilangan. Dan setelah dipulihkan kita yang beruntung.

Marilah saya memberi Anda prinsip ketiga, orang yang harus memulihkan itu adalah Anda sendiri! Mari kita melihat ayat 15 kembali, “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.”Jadi Allah berbicara dengan siapa (melalui Matius)? Anda. Anda mengatakan saya? Ah, saya tidak mampu melakukan itu. Saya bukan tipe-nya orang yang menghadapi orang lain, saya terlalu mengasihi. Allah mengatakan, ini semua mengenai setiap orang diantara Anda, bukan masalah pendeta saja, bukan masalah badan gereja saja. Disiplin adalah bagi setiap orang di gereja termasuk mereka yang memimpin gereja (Diaken dan Core Group).

Dan jika Anda tidak peduli, maka Anda tidak mementingkan hal-hal yang dipentingkan Allah. Jika Anda membiarkan Anda merasakan belas kasihan palsu, ketidakpedulian, rasa benar diri, menghina orang, memandang rendah mereka karena mungkin dosa mereka melawan Anda dan Anda senang mereka sudah pergi atau kesombongan atau menjadi pengecut atau terlalu sibuk atau apa saja yang menghalang kesetiaan Anda dalam pekerjaan Kristus dalam menghadapi saudaramu yang berdosa, Anda sudah gagal. Jika saya mengabaikan pemulihan domba yang kesasar, saya sendiri juga kesasar dengan ketidaktaatanku.

Lihatlah kata kerja utama di ayat 15, “Pergilah dan tegorlah dia.” Apa yang harus ditegor? Pergilah dan tegorlah bahwa dia ada didalam dosa. Lihat ayat 16, “Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah ….”Ayat 17, “Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat.” Allah mengatakan pergilah dan tegorlah dia. Jika ia tidak mau mendengar, bawalah beberapa orang dan tegorlah dia lagi. Jika dia tetap tidak mau mendengar, sampaikanlah itu kepada seluruh jemaat dan biarlah seluruh jemaat menegor dia.

Kita perlu banyak orang yang mau menegakkan kekudusan. Kita perlu menjadi pelayan- pelayan kudus yang menjadi senjata besar didalam tangan Allah. Dan ini bukan berarti bahwa ini dilakukan dengan kesombomgan rohani, tidak, ini berarti Anda melakukan itu dengan hati yang peduli dan perasaan sayang dan kasih. Dan itu bergantung kepada Anda sendiri, Anda harus rela.

Tahukah Anda, jika Anda melihat orang tua yang tidak pernah mendisiplin anak, Anda melihat orang tua yang tidak mengasihi anak itu. Anda membenci anakmu jika Anda tidak mendisiplin anakmu dan mencocokkan anakmu. Hal yang sama terjadi di bidang spiritual. Allah mengatakan janganlah benci sesamamu manusia dalam hati dengan tidak menegor dosanya dan memperhadapkan dia dengan kejahatannya. Mengapa? Jika Anda mengasihinya, Anda ingin menahannya dari konsekuensi dosa dan Anda ingin memulihkannya ke tempat penuh berkat, kan?

Keinginan untuk menghadap dosa datang dari semangat bagi Allah. Di Yohanes 2:13, Yesus datang ke Perayaan Pelewatan di Yerusalem dan didapati-Nya di Bait Suci pedagang-pedagang yang menjual lembu, domba dan merpati, dan penukar uang yang menipu orang. Dan dikatakan di ayat 15, “Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.” Dan mengatakan di ayat 16, “jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." Yesus ingin sekali supaya rumah Allah adalah kudus, bagaimana dengan Anda?

Daud mengatakan di Mazmur 69:9, “sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.” Dengan kata lain, Allah saat Engkau tidak dipermuliakan, saya memiliki semangat begitu besar, keinginan begitu besar untuk kemuliaan-Mu, ketika Engkau dipermalukan, saya merasa sengsara. Sekarang kemauan untuk menghadapi dosa timbul dari semangat untuk nama Allah dam reputasi Allah dan kemuliaan Allah.

Yesus mengatakan Saya tidak bisa membiarkan rumah-Nya menjadi tempat pencuri, Saya tidak bisa membiarkan dosa di rumah-Nya, Saya harus mengusir itu. Bait Suci bukan ruman-Nya lagi. Anda di gereja sekarang adalah rumah Allah, benar? Perkumpulan orang percaya adalah tempat kudus dimana Allah berdiam. Dan kita harus memiliki hati Kristus yang tidak dapat membiarkan ketidakkudusan di dalam gereja-Nya sama seperti Dia tidak dapat membiarkan hal itu di dalam Bait Suci Bapa-Nya di Yerusalem. Kita tidak mungkin ada kemauan untuk menghadapi dosa kecuali itu timbul dari semangat bagi Allah.

Darimana datangnya semangat untuk Allah? Supaya menjadi pelayan kekudusan demi kemurnian gereja harus ada kesucian pribadi. Ada tiga hal yang diperlukan, kemauan, semangat bagi Allah dan kesucian pribadi. Anda tidak mungkin dipenuhi semangat bagi gereja Allah, Anda tidak akan dipenuhi keinginan nama-Nya, kecuali Anda berjalan dalam kekudusan itu.

Lihatlah bersama ke Matius 7. Meskipun bagian ini pada permulaannya berada di dalam konteks yang berbeda, prinsipnya yang perlu diulangi di teks kita. Matius 7:3-5 mengatakan, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? 4 Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. 5 Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Jadi apa yang dikatakan Allah? Sebelumnya kita dapat menghadapi orang lain tentang dosa mereka, kita harus berurusan dulu dengan dosa kita sendiri. Ketika gereja keluar untuk menegakkan kekudusan dan menegakkan kesucian, pada saat gereja keluar untuk menghadapi dosa, dengan kebajikan ke arah itu, akan terjadi proses pemurnian diri. Dan hasil akhir adalah bahwa disiplin yang diperlukan akan berkurang meskipun gereja lebih berkomitkmen untuk melakukannya. Apakah Anda mengerti hal ini?

Karena ketika kita menuju ke arah itu, kita diharuskan untuk memurnikan diri. Ini pelayanan yang sulit, namun semuanya tidak gampang. Kita mendengar banyak tentang mengajar dan berkhotbah, mempersiapkan, melayani, menyanyi di koor, menolong disana- sini, memimpin disana-sini, namun dimanakah pelayanan kekudusan? Tuhan kita memanggil mereka di gereja. Minggu depan kita akan melihat bagaimana mereka bekerja. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu