20 Okt 2013 - rif

rif
Persekutuan Riverside Indonesia
join
us
Go to content

Main menu:

Khotbah > 2013
Kebesaran di Kerajaan
20 Oktober 2013

Kita hidup dalam generasi yang sangat bangga dan egois. Ini bukan sesuatu yang baru, di zaman Alkitab, khususnya di kekaisaran Rum, kebanggaan dianggap sebagai kebajikan dan kerendahan hati sebagai kelemahan. Namun ketika orang semua hanya mementingkan diri, maka akibatnya adalah kehancuran semua hubungan.

Dan kita tahu bahwa materialisme dalam dunia bisnis didasarkan kebanggaan, promosi diri dan motivasi kesuksesan, pembangunan diri, mencari lebih banyak kekayaan dan lebih banyak penghargaan diri. Semuanya dibangun atas mendorong diri sekuat mungkin dan ambisi untuk sukses duniawi. Anda selalu berpikir: Saya layak mendapatkan lebih dari apa yang saya dapatkan sekarang dan itu berlangsung terus menerus.

Namun Alkitab membicarakan kebanggaan dengan jelas. “Hati yang sombong adalah dosa,” dikatakan di Amsal 21:4. “Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi Tuhan,” tertulis di Amsal 16:5. “Takut akan Tuhan ialah membenci kejahatan, kesombongan dan kecongkakan,” dikatakan di Amsal 8:13. Bahkan kebanggaan di Roma 1:30 adalah tanda orang yang pikirannya terkutuk. Dan 1 Timotius 3:6 mengatakan, “kebanggaan datang dari Iblis.”

Bahkan Alkitab mengatakan di Yakobus 4 bahwa “Allah menentang orang yang congkak.” Yesaya 23:9 mengatakan bahwa Tuhan menghina semua orang yang sombong. Di Keluaran 18:11, orang sombong akan ditaklukan. Mazmur 18:27 mengatakan, orang congkak akan direndahkan. Mereka akan dihina, kata Daniel 4:37. Mereka akan dicerai-beraikan, kata Lukas 1:51. Mereka akan dihukum, kata Maleakhi 4:1.

Di sisi lain, kerendahan hati ditinggikan sebagai kebajikan di Alkitab. Dan kita juga perlu mengerti dan melakukan hal itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Mikha 6:8 mengatakan, “Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai belas kasihan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Mazmur 138:6 mengatakan, “Meskipun Tuhan itu tinggi, namun Ia menghargai orang yang hina.” Mazmur 10:17 mengatakan, “Keinginan orang-orang yang tertindas telah Kaudengarkan, ya Tuhan.” Allah meninggikan kerendahan hati.

Sekarang pelajaran penghormatan melalui kerendahan hati, dan kemuliaan melalui penderitaan, kita semua harus belajar dan itu termasuk para murid. Inilah intinya teks kita pagi ini di Matius 20:20-28. Murid-murid ingin mempromosikan diri, ingin menjadi orang spesial, ingin diakui dan dihormati. Dan Tuhan ingin mengoreksi hal itu. Sayangnya ajaran Yesus itu jauh lebih baik dari pada cara mereka mempelajari hal itu. Bahkan Dia perlu mengulangi pelajaran yang sama beberapa hari kemudian setelah mengajarkannya disini waktu sedang menuju ke Yerusalem.

Sekarang ingatlah bahwa murid-murid itu telah meninggalkan semua milik mereka dan mengikuti Yesus. Namun mereka percaya bahwa apapun yang mereka meninggalkan akan dikembalikan berlipat ganda ketika Dia mendirikan Kerajaan-Nya. Jadi mereka sedang menunggukan waktunya kedatangan Kerajaan Yesus dan waktu Dia akan mengembalikan kepada mereka seratus kali lipat apa yang mereka telah tinggalkan.

Dan Tuhan bahkan menguatkan janji itu di Matius 19:28-29, “Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. 29 Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.”

Nah ini menambahkan kepada kecenderungan materialistis mereka. Itu bukan maksudnya, namun hanya itulah yang mereka dengar. Ketika Yesus membicarakan penderitaan, mereka tidak menangkap hal itu, itu masuk telinga satu dan keluar telinga lain. Dan Yesus baru selesai memberikan deskripsi luas tentang kematian-Nya di ayat 17 sampai 19. Dia sudah membicarakan itu di bab 16 dan 17, dan sekarang di Matius 20 Dia mengulangi lagi untuk ketiga kalinya bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem untuk menderita dan mati.

Iya, ada Kerajaan, namun cara masuk ke Kerajaan itu adalah melalui penderitaan. Kerendahan hati mendahului kehormatan, seperti dikatakan di Amsal 15:33. Dan Yesus juga telah memberitahu mereka di Matius 10 bahwa jika Anda tidak rela kehilangan nyawa, janganlah mengikuti Dia. Kemudian di bab 16, Dia sekali lagi mengatakan untuk memikul salibnya dan mengikuti-Nya dan itu berarti kematian.

Dan Yesus mementingkan kerendahan hati di Matius 18:4 ketika Ia berkata, “barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” Dan Ia mencoba menyampaikan pesan itu kepada orang muda di Matius 19:21, “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." Namun orang itu menolaknya.

Dan di Matius 19:27 Petrus masih menanyakan, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Dan sekarang 2000 tahun kemudian kita masih memiliki egoisme yang sama seperti yang dimiliki para murid. Yesus masih membicarakan penderitaan. Dia masih mengatakan, “Pikullah salibmu.” Dia tetap mengatakan kerendahan hati mendahului kemuliaan. Yesus masih minta kita untuk menyerahkan segala harta milik kita untuk melakukan keinginan Yesus tidak peduli biayanya.

Orang-orang sekarang melihat anugerah sebagai makanan gratis. Mereka memandang kasih karunia itu seolah-olah itu tiket gratis ke gudang ilahi dimana mereka dapat mengambil apa juga yang mereka ingini. Mereka pikir bahwa keinginan Allah seluruhnya adalah untuk memberikan mereka kesehatan, kemakmuran, kebahagiaan, kebijaksanaan, kenyamanan dan kepuasan. Dan penyelesaian setiap masalah diantara manusia itu dianggap disebabkan harga diri yang terlalu rendah.

Jadi marilah kita memeriksa ulang ide bahwa kerendahan hati mendahului kemuliaan. Ada dua pokok dalam teks ini, bagaimana tidak menjadi besar di ayat 20-25; dan bagaimana menjadi besar di ayat 26-28. Yesus mulai dengan empat cara duniawi untuk menjadi besar yang salah, dua dengan contoh dan dua dengan ajaran Tuhan kita. Yesus mengatakan, “Kerajaanku bukan dari dunia ini.” Jadi prinsip-prinsip dunia ini tidak akan bisa dipakai di dalam Kerajaan-Nya. Jadi marilah kita melihat cara-cara tidak menjadi besar di Kerajaan Allah.

Nomor satu: mainan kuasa politik. Dunia mengatakan jika Anda ingin sesuatu, itu semua bergantung kepada siapakah yang Anda kenal, benar? Anda memanipulasi orang dan keadaan untuk mencari jalan dengan mereka yang berkuasa supaya mereka menarik Anda keatas. Lihatlah mainan kuasa politik di Matius 20:20. “Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan- Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya.”

Markus 10:35-41 adalah teks komparatif, dan itu menceritakan kejadian yang sama namun ibunya tidak disebut. Yang dinamakan disitu adalah Yakobus dan Yohanes. Jadi janganlah kita ambil kesimpulan bahwa ibunya yang ingin hal itu, atau mereka hanya ikut-ikutan saja. Mereka datang bertiga. Fokus Matius adalah ibu, namun fokus Markus adalah Yakobus dan Yohanes. Permintaan itu datang dari ketiga-tiganya.

Dan Yesus mengatakan di ayat 21, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Mereka mencari kemuliaan diri, promosi dan penghargaan. Sebenarnya mereka mencari pujian orang. Mereka berani, nama mereka adalah “Anak-anak Guntur”, dan mereka berani menuntut.

Dan mereka datang kepada Yesus dengan mainan kuasa politik. Ibunya anak-anak Zebedee adalah adiknya Maria, ibu Yesus. Dan mereka ingin memakai hubungan keluarga itu dimana mereka adalah setengah sepupu sebagai keuntungan tersembunyi. Jadi karena ibu mereka adalah kakak adik, mereka memikir ada keuntungan. Inilah main politik dan manipulasi.

Dan di Markus 10 dikatakan bahwa ibu itu tidak mau menanyakan dulu keinginannya. Dia ingin supaya Yesus berjanji untuk memberikan itu sebelum Dia menanyakan pertanyaannya. Seperti kanak-kanak, pernahkan anak Anda melakukan hal seperti itu? Mereka sangat mengingini hal itu sehingga mereka mencoba Dia berjanji sesuatu yang mereka pikir Dia tidak akan melakukan itu jika Dia tahu. Tentu mereka tidak sadar bahwa Dia mahatahu.

Namun gereja masih menderita dari orang-orang yang ingin mendapat keunggulan, yang ingin mencari kedudukan tertinggi sama seperti orang Farisi dulu di tempat ibadah mereka. Selalu akan ada orang yang mementingkan diri. Namun Tuhan kita sama sekali menolak mainan kuasa politik apapun juga. Bukan begitu caranya mendapat kedudukan pemberkatan dan penghormatan di dalam Kerajaan.

Jalan kedua yang salah untuk mendapat kehormatan ada di ayat 22-24 yang dinamakan ambisi. “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta.” Tempat kemuliaan tertinggi disediakan bagi mereka yang mengalami tempat-tempat terdalam dari penderitaan. Siapakah yang akan menerima upah tertinggi di surga? Firman Tuhan mengatakan: mereka yang untuk Yesus Kristus mengalami penderitaan paling banyak.

Mereka yang diperhadapkan dunia yang bermusuhan dan membayar terbanyak dalam hal penyangkalan diri dan dedikasi untuk tujuan-Nya, merekalah yang akan menerima kemuliaan yang besar. Jadi saat kita menderita, bukan menderita karena kesakitan atau karena kita sendiri tidak hati-hati atau karena dosa kita, namun saat kita menderita karena tujuan Injil, kita membangun warisan kemuliaan yang lebih besar di surga.

Namun Yesus mengatakan, “kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” Jika Anda ingin duduk disebelah Aku, Anda harus menderita penderitaan yang sama yang akan Ku-alami. Nah cawan adalah suatu lambang Perjanjian Lama yang berarti mengambil seluruhnya, mengalami semuanya. Ini mengingat Yesaya yang berbicara tentang cawan murka Allah. Kristus minum keseluruhannya, itulah cawan penderitaan yang pahit.

Di akhir ayar 22, “Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat.” Itu keyakinan yang berlebihan. Jika Anda memikir Anda bisa melakukan itu dengan kekuatan sendiri, Anda akan gagal. Itu sama dengan Petrus yang mengatakan di Matius 26:33, “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Dan tahukah Anda apa yang terjadi? Sebelum ayam berkokok, dia menyangkal Tuhan tiga kali.

Matius 26:56 mengatakan, “Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.” Mereka tidak dapat menangani itu. Kemudian di ayat 23, Juruselamat yang selalu lemah lembut, merespon kepada mereka secara halus, Dia mengatakan, “Cawan-Ku memang akan kamu minum.” Kamu akan menyicipinya. Dan Dia tahu mereka akan setia. Kisah Para Rasul 12 mengatakan bahwa Yakobus adalah martir pertama yang dibunuh.

Dan Yohanespun setia dan dia menjadi martir hidup pertama, dibuang ke pulau Patmos selama sisa hidupnya. Mereka memang minum cawan itu. Mereka tidak meminumnya semua seperti yang dilakukan Yesus, namun mereka merasakan cawan yang sama. Mereka tahu persekutuan penderitaan-Nya. Mereka sanggup karena kuasa Roh Kudus. Tahukah Anda bahwa mereka tidak pernah sanggup melakukan itu kecuali sesudah Roh Kudus datang yang mengisi mereka dengan kekuatan rohani internal.

Marilah kita melihat apa yang dikatakan di ayat 24, “Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu.” Itu bukan karena mereka saleh, mereka marah karena Yakobus dan Yohanes melakukan itu sebelum mereka bisa melakukan itu. Bacalah Lukas 22:24-27, mereka semua saling membantah siapakah yang terbesar diantara mereka.

Kemudian di ayat 25, “Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi.” Itulah cara manusia untuk mencari ketinggian dengan menjalankan kuasa seperti diktator. Kemudian ada cara lain mencari keunggulan dengan kontrol karismatik. Ayat 25 teruskan, “dan pembesar-pembesar menjalankan otoritasnya atas mereka,” yaitu karisma, kemampuan untuk berbicara memberikan mereka kuasa untuk merubah dan menarik orang.

Sekarang saat kita melihat ayat 26, patokannya berbeda. Dan Anda mendengar Yesus berkata, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu.” Apakah boleh kita ingin menjadi besar dan mencari upah? Faktanya adalah Yesus mengatakan itu baik. Matius 16:27 mengatakan, “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.”

Jadi tidak ada salahnya untuk mencari hal itu, namun yang salah adalah ketika kita mencarinya untuk alasan keliru. Jika Anda menginginkan kebesaran berdasarkan cara Allah, Anda akan mencarinya mengikuti jalan yang telah ditentukan-Nya. Dan itulah jalan penderitaan. Jadi jika Anda mencari kemuliaan di jalan itu, dengan sendirinya cara itu melalui pencarian dengan kerendahan hati. Mengerti?

Nah ada juga yang mencari kemuliaan dengan menghindari kesakitan. Ya hanya Allah saja dapat melihat alasannya kita melakukan apa yang kita lakukan, Jadi tidak ada salahnya dengan menginginkan itu. Saya ingin memberikan keseluruhan yang ada untuk melayani Kristus. Saya ingin untuk memberikan kepada-Nya kemuliaan semaksimal mungkin. Saya ingin memenuhi berkat rohaniku. Saya ingin supaya potensi saya maksimal untuk Allah.

Lihatlah pada akhir ayat 26, Dia mengatakan, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” Prinsip sederhana di Alkitab adalah Anda tidak bisa menjadi pemimpin sebelumnya Anda membuktikan Anda bisa melayani. Anda tidak bisa diberi tanggung jawab untuk memimpin sampai Anda telah menunjukkan kerendahan hati seorang hamba. Jadi orang-orang yang mau menjadi pemimpin harus datang dengan kemauan sendiri untuk melayani diantara kita, dan seandainya Allah menyetujui pelayanan Anda, Dia sendiri akan mengangkat Anda menjadi pemimpin.

Nah, kata untuk hamba disini adalah diakonos. Kita mendapat kata “diaken” dari situ. Itu perkataan untuk pekerjaan rendah. Biasanya diakonos itu dipanggil untuk membersihkan halaman belakang, untuk membuang sampah, dan untuk memberi makanan. Ini membicarakan seseorang yang pendidikannya tidak tinggi dan belum dilatih banyak, hanya seseorang yang mau melayani.

Kemudian di ayat 27, “Dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu.” Kita tidak mengerti banyak tentang hal itu karena kita tidak ada budak. Namun mereka mengerti sekali. Mereka tahu apa artinya melayani dalam keadaan buruk sekali. Namun bagi mereka itu menjadi demonstrasi grafis bagaimana besarnya haruslah komitmen mereka untuk melayani satu sama lain untuk mendapat tempat kebesaran benar.

Biaya menjadi besar adalah pelayanan yang rendah hati dan yang tidak mementingkan diri. Ini penting untuk dimengerti orang-orang di dalam pelayanan supaya mereka tidak takut tempat-tempat yang sukar dan malah mencarinya. Dan biaya kebesaran mungkin penganiayaan, mungkin kematian. Dan bagi beberapa orang jalan benar kepada kemuliaan ditandai kesendirian, ada rasa nyata terpisah dari adegan sosial. Ada biaya yang harus dibayar untuk kebesaran.

Ada kelelahan juga. Keletihan adalah biayanya mendorong melampaui keadaan biasa- biasa saja. Dan kritik adalah bagian lain dari kesakitan. Anda bisa saja mengalami salahpengertian dan disalahpahami, di salahhakimi, dievaluasi salah dan dituduh salah. Dan untuk menangani hal itu tanpa pembelaan diri dan tanpa pembenaran diri, itu berarti Anda menanggung beban itu diantara Anda dan Tuhan dan mungkin seseorang yang dekat kepadamu. 2 Korintus 4:17 mengatakan, “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.”

Tuhan Yesus Kristus telah mengalami penghinaan terbesar yang ada. Allah menjadi manusia. Yang berdaulat di alam semesta, yang berdaulat dari kekekalan datang untuk menjadi korban dosa. Itulah penghinaan terbesar dari segala-galanya. Dan karena itu Dia terbesar di dalam Kerajaan. Dia terbesar dan paling ditinggikan karena Dia paling direndahkan.

Kebanyakan raja-raja menuntut untuk dilayani. Raja ini datang untuk melayani. Jadi teks ini mencapai puncak yang indah karena Tuhan Yesus bukan saja teladan kita, namun Dia adalah penebusan kita. Dia adalah tebusan kita yang membeli kita dari dosa. Kebesaran di Kerajaan, kapasitas untuk kemuliaan di Kerajaan adalah dalam proporsi langsung dengan pemberian kerendahan hati dan pelayanan yang tidak mementingkan diri.

Dan jika kehidupan rohani Anda seperti seharusnya, maka Anda akan mencari kemuliaan kekal itu dan Anda akan menginginkan itu dengan segenap hatimu yang akan menyebabkan Anda akan melayani Kristus dengan segenap hati dan akan mengambil jalan yang benar meskipun itu berarti ada kesakitan atau penderitaan yang akan membawa kemuliaan kekal itu. Marilah kita berdoa.
 
© 2016 Riverside Indonesian Fellowship | Hak cipta terjamin.
Back to content | Back to main menu